Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Organisme khususnya pada golongan hewan tertentu memiliki kemampuan
untuk memperbaiki kerusakan - kerusakan yang terjadi pada bagian tubuh secara
ekstensif pada kondisi alamiah maupun akibat dari

percobaan. Peristiwa

regenerasi merupakan peristiwa yang sangat penting bagi organisme

karena

merupakan proses yang esensial selama perjalanan hidup organisme. Adanya


bagian tubuh yang lepas akibat penuaan atau kecelakaan dengan proses regenerasi
bagian tubuh yang lepas akan diganti kembali dengan jaringan baru kembali. Dan
juga pada beberapa organisme proses regenerasi merupakan hal yang sangat
penting dalam reproduksi secara aseksual (Philip, 1978).
Menurut Morgan dalam Browder (1984), ia mengenal dua mekanisme
primer untuk pembentukan kembali bagian-bagian tubuh yang hilang. Regenerasi
terdiri dari dua macam yaitu morfalaksis yaitu suatu proses perbaikan yang
melibatkan reorganisasi bagian tubuh yang masih tersisa untuk memulihkan
kembali bagian tubuh yang hilang. Epimorfis yaitu rekonstruksi bagian-bagian
yang hilang melalui proliferasi dan diferensiasi jaringan dari permukaan luka.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana macam-macam regenerasi yang terjadi pada organisme ?
2.
Bagaimana mekanisme terjadinya regenerasi pada hewan tertentu ?
3.
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya regenerasi ?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan makalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui macam-macam regenerasi yang terjadi pada organisme.
2. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya regenerasi pada hewan tertentu.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya regenerasi.

BAB II
KAJIAN TEORI
1

A. Pengertian Regenerasi

Hewan ternyata mampu melakukan perbaikan jaringan akibat terjadinya


luka. Proses perbaikan mungkin dilakukan pada luka kecil atau pada
penghancuran sebagian jaringan dari tubuh hewan tersebut, atau luka yang
mungkin melibatkan kehilangan organ atau bagian yang lebih besar dari tubuh.
Hal ini kadang-kadang dapat diperbaharui, dan apabila hal ini terjadi maka proses
ini disebut sebagai regenerasi (Surjono, 2001), sedangkan menurut Yasin (1984),
regenerasi adalah memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas kembali
seperti semula. Kerusakan itu bervariasi. Ada yang ringan, seperti luka dan
memar; ada yang sedang, yang menyebabkan ujung sebagian tubuh terbuang; dan
yang berat, yang menyebabkan suatu bagian besar tubuh terbuang (Yatim, 1984).
Regenerasi yang terjadi pada hewan tentunya tidak selalu sama, hal ini bisa
dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran dari hewan tersebut, serta bagian tubuh yang
mengalami regenerasi. Semakin besar individu tersebut dan bagian yang luka atau
terpotong semakin banyak maka regenerasinya akan semakin lama.
B. Macam-Macam Regenerasi
Menurut Surjono (2001), regenerasi yang terjadi pada hewan dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Regenerasi epimorfosis, yaitu jika suatu potongan tubuh sekecil 1/200
bagian tubuhnya masih dapat melakukan regenerasi mejadi satu individu
hewan yang lengkap. Dalam kasus ini jelas bahwa proses regenerasi bukan
merupakan proses penambahan bagian yang hilang melainkan pembentukan
kembali tubuh yang telah hilang dengan suatu masa tubuh yang baru.
2. Regenerasi morfolaksis, yaitu regenerasi yang melibatkan penambahan
masa dan pembentukan kembali seluruh bentuk individu.
Sedangkan menurut Browder (1984), ada dua mekanisme primer dalam
proses regenerasi yaitu :
1. Regenerasi

morfalaksis,

suatu

proses

perbaikan

yang

melibatkan

reorganisasi bagian tubuh yang masih tersisa atau jaringan lama.


2. Regenerasi epimorfosis, merupakan rekontruksi bagian yang hilang melalui
2

proliferasi dan deferensiasi jaringan baru dari permukaan luka.


C. Mekanisme Regenerasi
1. Mekanisme Regenerasi pada Planaria

Planaria adalah termasuk cacing pipih yang tempat hidupnya di air yang
banyak mengandung oksigen. Sama halnya hewan air lainnya ia tergolong pada
Invetebrata. Hewan ini dapat juga djadikan bioindikator untuk mengetahui tingkat
kualitas air. Karena pada air yang tercemar planaria tidak dapat hidup. Cacing
planaria berbentuk pipih yang bisa memanjang dan mengerut. Jika planaria bagian
tubuhnya dipotong akan mengalami regenerasi (Jasin, 1984).

Gambar 2.1 Regenerasi Planaria, pemotongan pada bagian tubuh


Planaria yang dapat melakukan regenerasi
(Sumber : Gentile et al, 2011)
Mekanisme regenerasi pada planaria dimulai dari penutupan dan
penyembuhan luka. Luka akan tertutup oleh kontraksi otot pada dinding tubuh.
Proses ini akan memakan waktu 10 menit. Epitel akan mengobati luka dengan
aktif menyebar pada luka dan proses ini akan memakan waktu selama 20 menit.
Ketika terjadi penyembuhan luka, akan terbentuk blastema. Blastema merupakan
kumpulan dari sel-sel yang belum terdiferensiasi yang akan berdirensiasi saat ada
bagian tubuh yang hilang atau rusak. Sel-sel dari blatema disebut neoblast.
Neoblast merupakan sel-sel embrionik seperti stem sel yang ditemukan di seluruh
tubuh dan menunggu tugas untuk melakukan regenerasi. Ketika pemotongan
terjadi neoblast akan segera menuju luka akibat pemotongan tersebut untuk
membentuk blastema. Hal ini membuktikan bahwa neoblast dapat bermigrasi dari
bagian yang lebih jauh.
Pada dasarnya sel-sel dari blastema dapat melakukan mitosis dengan cepat.
Pada hewan yang berada pada suhu 22-24C, blastema akan terbentuk selama 1-2

hari dan akan terlihat selama 3-4 hari berupa area yang tidak berpigmen. Waktu
kejadian tersebut tergantung dari suhu, ketika suhu rendah maka akan semakin
lama terlihat. Pada 22-24C , proses diferensiasi terjadi dengan cepat dan pada 4-6
hari dapat terlihat struktur yang telah mengalami diferensiasi pada area regenerasi.
Setelah 2-3 minggu, regenerasi telah selesai dilakukan dan adanya pembentukan
kembali proporsi tubuh yang normal (Tyler, 2000).
Planaria adalah hewan

yang memiliki kemampuan regenerasi yang

mengagumkan. Planaria dapat dipotong secara melintang atau memanjang, dan


masing - masing potongan tubuh akan melakukan regenerasi terhadap bagian
bagian tubuh yang hilang. Bagian tubuh yang mungkin dibentuk kembali adalah
kepala, ekor, atau bagian tengah dari faring. Apabila dilakukan pemotongan,
sebuah blastema regenerasi akan terbentuk pada permukaan potongan dan bagian
yang hilang akan tumbuh dari blastema tersebut. Bagian - bagian yang lain akan
direorganisasi dengan cara pengurangan skala sehingga individu yang dihasilkan
dari regenerasi ini akan berukuran lebih kecil dari aslinya. Dengan demikian
regenerasi pada hewan ini merupakan gabungan dari cara epimorfis dan
morfalaksis.

Gambar 2.2 Regenerasi pada


pemotongan tubuh Planaria
(Sumber: Sari, 2006)
Tipe regenerasi pada planaria adalah epimorfis, tetapi ada sedikit konstribusi
proses morfalaksis karena beberapa penelitian mengindikasikan bahwa proses
morfalaksis mungkin berperan penting dalam proses regenerasi planaria. Pada
Planaria telah diteliti bahwa sel-sel yang berasal dari parenkim (berasal dari lapis
benih mesoderm), selain menumbuhkan alat derivate mesodermal (yakni otot dan
parenkim), juga sanggup menumbuhkan jaringan saraf dan saluran pencernaan
(masing-masing berasal dari lapis benih ectoderm dan endoderm).

2. Mekanisme Regenerasi pada Ekor Cicak


Ekor cicak memiliki bentuk yang panjang dan lunak yang memungkinkan
untuk bisa memendek dan menumpul. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor
tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator. Regenerasi tersebut
diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi. Autotomi adalah proses adaptasi yang
khusus membantu hewan melepaskan diri dari serangan musuh. Jadi, autotomi
merupakan perwujudan dari mutilasi diri. Cicak jika akan dimangsa oleh
predatornya maka akan segera memutuskan ekornya untuk menyelamatkan diri.
Ekor yang putus tersebut dapat tumbuh lagi tetapi tidak sama seperti semula
(Strorer, 1981).
Ekor cicak yang dipotong sel epidermisnya menyebar menutupi permukaan
luka dan membentuk tudung epidermis apikal. Semua jaringan mengalami
diferensiasi membentuk sel kerucut yang disebut blastema regenerasi di bawah
tudung. Berakhirnya periode proliferasi, sel blastema mengadakan rediferensiasi
dan memperbaiki ekornya. Ketika salah satu anggota badan terpotong hanya
bagian tersebut yang disuplai darah dan dapat bergenerasi. Hal inilah yang
memberi pertimbangan bahwa bagian yang dipotong selalu bagian distal
(Kalthoff, 1996).

Gambar 2.3 Proses regenerasi pada ekor Cicak


(Sumber : Daniels et al, 2003)
Proses perbaikan pertama pada regenerasi ekor cicak adalah penyembuhan
luka dengan cara penumbuhan kulit di atas luka tersebut. Kemudian tunas-tunas
sel yang belum berdiferensiasi terlihat. Tunas ini menyerupai tunas anggota tubuh
pada embrio yang sedang berkembang. Ketika waktu berlalu sel-sel dari anggota
tubuh yang sedang regenerasi akan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang
dan jaringan epidermis yang menjadikan ekor fungsional.

Gambar 2.4 Tunas ekor pada Tokek (Gekko gecko)


(Sumber: www.google.com, tanpa tahun)
Proses regenerasi ini secara mendasar tidak ada perusakan jaringan otot,
akibatnya tidak ada pelepasan sel-sel otot. Sumber utama sel-sel untuk
beregenerasi adalah berasal dari ependima dan dari berbagai macam jaringan ikat
yang menyusun septum otot, dermis, jaringan lemak, periosteum dan mungkin
juga osteosit vertebrae. Sumber sel untuk regenerasi pada reptile berasal dari
beberapa sumber yaitu ependima dan berbagai jaringan ikat (Manylov, 1994).

3. Mekanisme Regenerasi pada Kaki Salamander


Satu kaki salamander ini dipotong dekat pangkal lengan, kemudian
terjadilah proses berikut:
a. Darah mengalir menutupi permukaan luka, luka beku, membentuk scab
yang sifatnya melindungi.
b. Epitel kulit menyebar di permukaan luka, di bawah scab. Sel epitel itu
bergerak secara amoeboid. Butuh waktu dua hari agar kulit itu lengkap
menutupi luka. (Pada Invertebrata otot bawah kulit ikut berkerut untuk
mempercepat epitel menutup luka.)
c. Dedifferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda
kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.
Matriks tulang dan tulang rawan melarut, sel selnya lepas dan bersebar di
bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi, dan sel - selnya
berdiferensiasi semuanya. Akhirnya, tak dapat lagi dibedakan mana sel yang
berasal dari tulang, tulang rawan, atau jaringan ikat. Disusul sel - sel otot
berdiferensiasi,

serat

myofibril

hilang,

inti

membesar,

sitoplasma

menyempit.
Gambar 2.5 Tahapan regenerasi pada kaki Salamander

(Sumber: Whited dan Tabin, 2009)


d. Pembentukan Blastema, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas
luka. Scab mungkin sudah lepas pada waktu ini. Blastema berasal dari
penimbunan

sel-sel

dedifferensiasi.

Ada

juga

pendapat

yang

mengemukakan, bahwa blastema berasal juga dari sel-sel satelit


pengembara, yang selalu ada di berbagai jaringan, terutama di dinding
kapiler darah. Sel - sel pengembara ini nanti akan berproliferasi membentuk
blastema. Namun dengan memakai tracer radioaktif dapat kini diketahui,
bahwa sel - sel blastema berasal dari segala jenis jaringan yang
berdedifferensiasi sekitar amputasi.
e. Proliferasi sel - sel dedifferensiasi secara mitosis. Proliferasi ini serentak
dengan proses dediferensiasi, dan memuncak pada waktu blastema dalam
besarnya yang maskimal, dan waktu itu tak membelah lagi.
f. Redifferensiasi sel - sel dedifferensiasi, serentak dengan berhentinya
proliferasi sel - sel blastema itu.

Gambar 2.6 Regenerasi pada kaki Salamander


(Sumber : Daniels et al, 2003)
4. Mekanisme Regenerasi pada Ikan
Pada kelompok ikan regenerasi terjadi sangat terbatas. Sirip-sirip ikan dapat
mengalami regenerasi apabila rusak atau terpotong, tetapi ekor ikan (bagian sirip
juga) tidak dapat mengalami regenerasi. Regenerasi melibatkan proses histologis
yang sangat kompleks pada ujung tumpul bekas pemotongan kemudian menuju
ke pembentukan blastema regenerasi. Pada luka bekas pemotongan, beberapa
lapis sel mungkin terjepit, sobek bahkan hancur. Beberapa lapis sel yang lain akan
mati karena berada pada kondisi lingkungan yang tidak biasanya. Dengan
demikian permukaan luka selanjutnya akan tertutup oleh sisa-sisa yang mati

tersebut. Pada kelompok hewan yang memiliki sistem pembuluh darah, darah dari
pembuluh yang terluka akan mengalir ke luar dan mengalami koagulasi
(penjendalan) yang menutup luka yang terjadi.
Perbaikan kerusakan ekor ikan terdiri dari beberapa tahap, tahap pertama
adalah penyembuhan luka melalui penutupan permukaan yang rusak, tahap kedua
adalah pertumbuhan ekor yang rusak hingga mencapai ukuran semula, dan tahap
ketiga adalah diferensiasi jaringan-jaringan yang baru terbentuk (Tenzer, 2000).
Tahap pertama adalah penutupan luka dengan sel-sel epitel . Epitel kulit
akan menyebar ke permukaan luka dan melakukan penetrasi ke bagian bawah
jendalan darah, kemudian melekat pada jaringan ikat. Penyebaran ini umumnya
berkaitan dengan sifat amoeboid epitel dan bukan karena adanya pembelahan sel
epitel itu sendiri, karena hingga saat ini tidak dijumpai pembelahan mitosis.
Kemampuan epitel menyebar hingga menutup luka ini sangat tergantung pada
epitel hewan yang beregenerasi dan besarnya luka yang harus ditutupi, disamping
juga faktor lingkungan seperti suhu lingkungan. Pada invertebrata, penutupan luka
didukung oleh kontraksi lapisan otot sub epidermis.
Tahap kedua adalah terjadinya dediferensiasi jaringan yang mengalami luka.
Matrik intraselular dari tulang rawan akan melarut dan sel - selnya menyebar
dengan bebas dibawah luka yang telah tertutup epitel . Jaringan ikat juga
mengalami disintegrasi sehingga secara morfologis sukar dibedakan dari sel hasil
disintegrasi tulang rawan. Sel sel otot juga mengalami dediferensiasi.Miofibril
menghilang dan perbandingan plasma dengan inti sel meningkat dengan cepat.
Semua sel menjadi serupa dengan sel sel embrional

diikuti dengan

meningkatnya enzim proteolitik terutama katepsin dan dipeptidase yang


menyebabkan peningkatan asam amino bebas di daerah luka. Disamping itu juga
terjadi perubahan pada aktivitas glikolisis anaerob menggantikan oksidasi yang
terjadi pada daerah luka, sehingga tejadi akumulasi asam laktat pada jaringan dan
berakibat menurunkan pH dari keadaan normal 7,2 menjadi 6,6 pada waktu
blastema terbentuk.
Tahap ketiga adalah pembentukan tunas regenerasi atau blastema. Sel yang
belum terdirerensiasi terakumulasi dibawah epidermis menutupi luka, dan
bersama-sama mereka membentuk tunas regenerasi. Disini ada dua pendapat yang

10

berbeda mengenai asal-usul blastema ini. Teori pertama menyatakan bahwa sel-sel
yang membentuk blastema ini berasal dari sel - sel yang ada di sekitar daerah itu
sendiri, yaitu dari jatingan-jaringan yang bergabung menutup permukaan luka.
Kecuali sel epitel yang menutup luka adalah sel lain yang berasa dari sel yang
mengalami dediferensiasi jaringan ikat, tulang, otot, dan lain-lain. Teori kedua
menyatakan bahwa sel-sel yang telah mengalami diferensiasi di sekitar luka tidak
melakukan apa-apa dalam pembentukan blastema (kecuali epitel yang sudah
berperan dalam penutupan permukaan luka). Blastema dibentuk dari sel-sel yang
melakukan migrasi ke bagian yang beregenerasi dari jarak yanga cukup jauh
dengan cara gerakan amuboid atau mengikuti aliran darah. Sel ini adalah sel
khusus merupakan cadangan sel yang khusus untuk memperbaiki

luka atau

regenerasi.
Sementara sel-sel mengalami dediferensiasi, sel pada bagian luka akan
mulai melakukan proliferasi dan pembelahan secara mitosis. Mitosis yang terjadi
sangat cepat seingga dalam waktu dekat bersama-sama sel yang sudah mengalami
dediferensiasi akan dibentuk suatu massa sel pada permukaan luka dan
terbentuklah

blastema

regenerasi

yang

kemudian

tumbuh

memanjang.

Pertumbuhan paling cepat terjadi pada tahap awal dan seterusnya akan menurun
sesuai dengan kecepatan normal pembelahan sel. Selama blastema, regenerasi
tumbuh, ada perubahan fisiologis yang terjadi

yaitu menurunnya enzim

proteolitik dan pH kembali ke arah pH normal. Oksidasi selesai dan asam laktat
akan hilang. Perkembangan organ yang mengalami regenerasi kemudain
mengalami rediferensiasi dan mengikuti cara seperti yang terjadi pada
organogenesis biasa hingga terbentuk organ secara sempurna.

Gambar 2.7 Regenerasi pada Ekor Ikan Common crap


(Sumber : Shao, et al., 2009)

11

Gambar 2.8 Regenerasi pada Ekor Ikan Gatul Minggu ke-3


Setelah Pemotongan
(Sumber : Dokumen Pribadi)
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Regenerasi
Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain temperatur, sistem
syaraf, asupan makanan, dan faktor umur. Kemampuan untuk melakukan
regenerasi dari masing-masing hewan sangat tergantung pada hewan itu tersendiri.
Derajat diferensiasi dari sel-selnya atau stadium ontogenesis yang dialami oleh
hewan yang bersangkutan atau faktor-faktor lainnya. Kemampuan regenerasi
tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan di mana hewan itu berada.
Laju kecepatan regenerasi secara alami dipengaruhi atau sangat tergantung
pada suhu lingkungan, seperti halnya yang terjadi pada kebanyakan proses biologi
lainnya. Peningkatan suhu sampai titik tertentu dapat meningkatkan proses
regenerasi.Kenaikkan

temperatur

akan

mempercepat

proses

regenerasi.

Regenerasi akan lebih cepat pada suhu 29,70 C(Soeminto, 2004). Contohnya pada
planaria dimana regenerasi terjadi pada duhu 3oC,

dari enam individu yang

dipelihara pada suhu ini hanya satu yang mampu beregerasi dengan membentuk
kepala baru yang abnormal dan matanya akan terbentuk dengan lengkap setelah
enem bulan. Regenerasi akan terjadi dengan cepat pada suhu 29,7 oC, pada saat itu
regenerasi akan terjadi dalam waktu 4,6 hari. Pada suhu 31,5 oC kepala baru akan
terbentuk pada hari ke 8,5 hari. Hal itu menujukkan bahwa pada suhu 31,5 oC
terlalu tinggi untuk regenerasi. Pada suhu 32oC akan mengakibatkan kematian.
Makanan ternyata tidak terlalu mempengaruhi proses regenerasi, meskipun
sedang berpuasa, ia dapat melalukan regenerasi dengan menggunakan bahanbahan yang telah ada di dalam tubuhnya sendiri. Pemuasaan hewan-hewan
tersebut tidak menghentikan kegiatan regenerasi yang harus terjadi. Contohnya

12

tikus dapat melakukan regenerasi pada hatinya, salamander dan cicak dapat
melakukan regenerasi pada kaki-kakinya, hydra atau planaria meregenerasi
bagian-bagian tubuhnya yang hilang.
Sistem saraf tampaknnya memiliki pengaruh spesifik terhadap proses
regenerasi. Saraf memberi pengaruh pada saat awal regenerasi, dan begitu proses
regenerasi sampai pada tahap diferensiasi, maka pengaruh saraf tidak diperlukan
lagi. Artinya regenerasi berjalan terus meskipun saraf yang ada pada jaringan itu
dihilangkan. Pada amfibia, regenerasi pada tahap awal tidak menghadirkan syaraf
pada bagian yang luka. Apabila syaraf-syaraf yang luka dari kaki kadal air ikut
rusak selama pemotongan maka proses regenerasi akan terhenti, dan blastema
mungkin tidak tumbuh atau bahkan mengalami resorpsi.
Faktor umur juga memepengaruhu proses terjadinya regenerasi, dimana
semakin tua hewan tersebut maka daya regenerasi yang dimilikinya akan semakin
berkurang dan juga apabila umur hewan tersebut muda maka proses regenerasi
akan terjadi dengan cepat (Soeminto, 2004). Menurut Yatim (1990), regenerasi
juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu akan
meningkatkan regenerasi.
2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat memeperhatikan aspek makanan.
Makanan yang cukup dapat membantu memepercepat proses regenerasi.
3. Sistem syaraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel
sekitar luka. Hal ini dapat dibuktikan dengan radiasi seluruh bagian tubuh
terkecuali bagian yang terpotong, maka akan terjadilah regenerasi dan faktor
yang menentukan macam organ yang diregenerasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Regenerasi merupakan suatu proses penting pada mahluk hidup yang
digunakan untuk menumbuhkan/menyembuhkan bagian anggota tubuh
yang rusak atau bahkan hilang.
2. Regenerasi terdiri dari dua macam yaitu morfalaksis dan epimorfis.

13

3. Regenerasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah


temperature atau suhu, makanan, system saraf.
B. Saran
Sebaiknya dalam penyusunan makalah ini lebih banyak lagi
sumber yang dimasukkan supaya informasi yang diperoleh pembaca dapat
lebih beragam, selain itu perlu penambahan gambar yang lebih lengkap lagi.

13

14

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. Tanpa tahun. Regenerative Medicine. Online,
(http://www.foregen.org/science_of_regeneration) diakses pada tanggal 18
November 2015
Browder, L. W. 1984. Development Biology. Second Edition. USA: Saunders
College Publishing Holt-Saunders
Daniels, C. B., Lewis, B. C., Tsopelas, C., Munns, L. S., Orgeig, S., Baldwin, M.
E., Stacker, S. A., Achen, M. G., Chatterton, B. E., Cooter, R.D. 2003.
Regenerating Lizard Tails: A New Model For Investigating
Lymphangiogenesis. Australia: The FASEB Journal
Gentile, L., Cebria, F., Bartscherer, K. 2011. The Planarian Flatworm: An In Vivo
Model For Stem Cell Biology and Nervous System Regeneration. UK:
Disease Models & Mechanisms Volume 4: 12-19
Jasin, M., (1984), Sistematik Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Surabaya:
Sinar Jaya
Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc,
New York
Manylov, O.G.1994. Regeneration in Gastrotricha I Light Microscopical
Observation on The Regeneration in Turbanella sp. Russia : St. Petersburg
State University.
Phillip, G. 1978. Biology of Developmental System. Holt, Rinehart and Winston,
New York: San Francisco
Sari, Noviani D. A. 2006. Skripsi: Pertumbuhan Planaria yang Diperlakukan
dengan Regenerasi Buatan Di Sungai Semirang Ungaran. Semarang:
FMIPA Universitas Negeri Semarang
Shao, J., Qian, X., Zhang, C. and Xu, Z. 2009. Fin Regeneration From Tail
Segment With Musculature, Endoskeleton and Scales. JOURNAL OF
EXPERIMENTAL ZOOLOGY (MOL DEV EVOL) (312B): 1-8
Soeminto. 2004. Struktur dan Perkembangan Hewan II. Purwokerto: Universitas
Jenderal Soedirman

14

15

Storer, K. dan Usinger, W. 1981. Elements of Zoology. New York: Mc-Graw-hill


Book Company Inc.
Surjono, Tien Wiati. 2001. Perkembangan Hewan. Jakarta : Universitas Jambi
Tenzer, A dkk. (2000). Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. JICA UM
Malang : Malang
Whited, Jessica L., Tabbin, Clifford J. 2009. Limb Regenration Revisited.
Harvard: Journal Of Biology Volume 8 No. 5
Yatim, Wildan. 1984. Embriologi. Bandung: Tarsito.
Yatim, Wildan. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Penerbit Transito