Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Pleksus brakhialis merupakan saraf-saraf yang keluar dari vertebra servikalis dan menuju
ke pundak dan tangan. Terdapat lima saraf yang mencakup dalam pleksus brachialis berupa
C5, C6, C7, C8, dan T1.
Data mengenai insiden trauma pleksus brachialis sulit diketahui dengan pasti, Goldie dan
Coates melaporkan 450-500 kasus cedera supraklavikular tertutup terjadi setiap tahun di
Inggris. Pada laporan yang lain, Narakas membuat suatu pedoman "seven seventies " dengan
mengacu pada pengalaman menangani 1068 pasien selama 18 tahun yang salah satunya berisi
70% kecelakaan pengendara sepeda motor dengan trauma multipel akan berimplikasi 70%
diantara berupa cedera supraklavikuler, 70% cedera supraklavikuler merupakan avulsi saraf
yang melibatkan C7, C8, T1
Data epidemiologi cedera pleksus brachialis pada populasi multitrauma tercatat sebanyak
54 dari 4538 (1.2%) pasien yang terdapat pada berbagai fasilitas trauma regional. Pasien
didominasi laki-laki usia muda. Penyebab tersering berupa kecelakaan motor namun hanya
0.67%

dari kecelakaan ini yang kemudian menyebabkan keadaan cedera pleksus.

Sebaliknya, 4.2% korban kecelakaan roda dua dan 4.8% korban kecelakaan snow mobile
menderita cedera pleksus. Cedera pada supraklavikula terjadi pada 62% pasien dan 38%
pasien memiliki cedera infraklavikula. Cedera supraklavikula nampaknya lebih berat
dibandingkan cedera infraklavikula, dikarenakan adanya resiko neuropraksi pada 50% kasus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1.Definisi Basalioma
Cedera plexus brachialisadalah cedera jaringan saraf yang berasal dari C5-T1.Plexus
brachialis adalah persarafan yang berjalan dari leher ke arah axilla yang dibentuk oleh ramus
ventral saraf vertebra C5-T1. Cedera pada plexus brachialis dapat mempengaruhi fungsi saraf
motorik dan sensorik pada membrum superium
ANATOMI PLEKSUS BRAKHIALIS

Pleksus brakhialis merupakan serabut saraf yang berasal dari ramus anterior radiks saraf
C5-T1. C5 dan C6 bergabung membentuk trunk superior, C7 membentuk trunk medial, dan
C8 dan T1 bergabung membentuk trunk inferior.Trunkus berjalan melewati klavikula dan
disana membentuk divisi anterior dan posterior. Divisi posterior dari masing-masing dari
trunkus tadi akan membentuk fasikulus posterior. Divisi anterior dari trunkus-trunkus
superior dan media membentuk membentuk fasikulus lateral. Divisi anterior dari trunkus
inferior membentuk fasikulus medial. Kemudian fasikulus posterior membentuk n. radialis
dan n. axilaris. Fasikulus lateral terbagi dua dimana cabang yang satu membentuk n.
muskulokutaneus dan cabang lainnya bergabung dengan fasikulus media untuk membentuk
n. medianus. Fasikulus media terbagi dua dimana cabang pertama ikut membentuk n.
medianus dan cabang lainnya menjadi n. ulnaris

II.2.

Epidemiologi
Di

Amerika

Serikat

sebesar

1-2

kasus

per

1000

kelahiran.Terdapat

macam obstetrical brachial plexus injury: Erbs palsy adalah yang paling sering terjadi,
insidennya sekitar 90% kasus, total plexus injury sebesar 9% kasus, dan Klumpkes
palsy sebesar 1% kasus. Insiden ini semakin menurun setiap tahunnya. Dari berbagai analisis,
didapati bahwa kejadian shoulder dystocia memiliki resiko 100 kali lebih besar
terjadinya obstetrical brachial plexus injury, sedangkan forceps delivery memiliki resiko 9
kali lebih besar, dan bayi besar dengan berat >4,5 kg memiliki resiko 4 kali lebih besar untuk
terjadinya cedera. Setidaknya 46% kejadian obstetrical brachial plexus injury memiliki satu
atau lebih faktor resiko, sedangkan 54%-nya tidak ditemukan adanya faktor resiko.
Informasi mengenai insiden cedera brachial plexuscukup sulit untuk ditemukan.Sampai
saat ini tidak ada data epidemiologi yang mencatat insiden cederabrachial plexus per setiap
3

negara di seluruh dunia.Tetapi, menurut Office of Rare Disease of National Institutes of


Health, brachial plexus injury termasuk dalam penyakit yang jarang terjadi.Kejadiannya
kurang dari 200.000 jiwa per tahun dihitung pada populasi di Amerika Serikat.Sebagian besar
korbannya adalah pria muda yang berusia 15-25 tahun.

II.3.Etiologi
Saraf-saraf yang mencakup pleksus brakhial berjalan dibawah kulit leher dan aksilla,
sehingga rentan terhadap trauma. Ketika leher dan tangan terkena pada saat trauma (misalnya
pada kecelakaan mobil, motor, dan saat jatuh) maka saraf-saraf tersebut tertarik dan robek
satu sama lain. Jika kekuatan dorongan sangat hebat maka saraf dapat tertarik keluar dari
tempat asalnya yaitu medulla spinalis.
Selain itu penyebab cedera pleksus brachialis

juga dibedakan berdasarkan mekanisme

trauma, antara lain:

Cedera akibat traksi traumatic traction injuries merupakan penyebab yang terbanyak
cedera pleksus brakhialis yang disebabkan oleh dislokasi pundak atau tangan ke arah
bawah karena adanya tarikan yang kuat, seringkali disertai fleksi lateral leher pada arah
yang berlawanan. Hal ini biasanya terjadi kecelakaan kendaraan bermotor khususnya
motor.

Trauma penetrasi pada pundak atau leher- luka trauma akibat tusukan pisau, laserasi kaca,
atau luka tembak pada regio supra-atau infraklavikula menyebabkan kontusio atau
robeknya pleksus brachialis. Karena letak pembuluh darah subklavia dan jugular
eksternal yang lebih proksimal maka dapat pula terkait dengan cedera pembuluh darah.

Kelemahan yang terkait dengan kelahiran-cedera pada pleksus brachialis yang terjadi
akibat dengan kelahiran. Hal ini umumnya terkait dengan berat bayi besar dan distosia
4

bahu, bayi lahir normal dengan presentasi bokong, ataupun pada persalinan dengan
partus.

Penyebab yang jarang antara lain trauma tumpul pada bahu, lesi kompresi, radiasi, dan
neoplasma.

II.4.

Patofisiologis
Bagian cord akar saraf dapat terjadi avulsi atau pleksus mengalami traksi atau

kompresi. Setiap trauma yang meningkatkan jarak antara titik yang relatif fixed pada
prevertebral fascia dan mid fore arm akan melukai pleksus.
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang akan merusak pembuluh
darah. Kompresi yang berat dapat menyebabkan hematome intraneural, dimana akan
menjepit jaringan saraf sekitarnya.

II.5.

Gambaran Klinis
Gejala yang timbul umumnya unilateral berupa kelainan motorik, sensorik dan

bahkan autonomik pada bahu dan/atau ekstremitas atas. Gambaran klinisnya mempunyai
banyak variasi tergantung dari letak dan derajat kerusakan lesi. Lesi pleksus brakhialis dapat
dibagi atas pleksopati supraklavikular dan pleksopati infraklavikular

Pleksopati supraklavikuler
Pada Pleksopati supraklavikuler lesi terjadi ditingkat radiks saraf, trunkus saraf atau
kombinasinya. Lesi ditingkat ini dua hingga tujuh kali lebih sering terjadi dibanding lesi
infraklavikuler.
1. Lesi tingkat radiks
Pada lesi pleksus brakhialis ini berkaitan dengan avulsi radiks. Gambaran klinis sesuai
dengan dermatom dan miotomnya. Lesi di tingkat ini dapat terjadi partial paralisis dan
hilangnya sensorik inkomplit, karena otot-otot tangan dan lengan biasanya dipersyarafi oleh
beberapa radiks.
Presentasi klinis pada lesi radiks :
Radiks saraf Penurunan Refleks
C5
Biseps brakhii
C6
Brakhioradiialis

Kelemahan
Fleksi siku
Ekstensi

C7
C8
T1

tangan
Ekstensi siku
Fleksi jari2 tangan
Abduksi jari2 tangan

Triceps brakhii
-

Hipestesi/kesemutan
Lateral lengan atas
pergelangan Lateral lengan bawah
Jari tengah
Medial lengan bawah
Medial siku

Presentasi klinis diatas adalah untuk membantu penentuan level lesi radiks, sedangkan
kelemahan otot yang lebih lengkap terjadi sesuai miotom servikal berikut ini :
C5

: Rhomboideus, deltoid, biseps brachii, supraspinatus, infraspinatus, brachialis,

brachioradialis, supinator dan paraspinal


C6 : Deltoid, biseps brachii, brachioradialis, supraspinatus, infraspinatus, supinator, pronator
teres, fleksor carpi radialis, ekstensor digitorum komunis dan paraspinal
7

C7

: Pronator teres, fleksor carpi radialis, ekstensor digitorum komunis, triceps brachii dan

paraspinal
C8/T1 : Triceps brachii, fleksor carpi ulnaris, fleksor digitorum profundus, abduktor digiti
minimi, pronator kuardatus, abduktor pollicis brevis dan parapinal
2. Sindroma Erb-Duchenne
Lesi di radiks servikal atas (C5 dan C6) atau trunkus superior dan biasanya terjadi akibat
trauma. Pada bayi terjadi karena penarikan kepala saat proses kelahiran dengan penyulit
distokia bahu, sedangkan pada orang dewasa terjadi karena jatuh pada bahu dengan kepala
terlampau menekuk kesamping. Presentasi klinis pasien berupa waiters tip position dimana
lengan berada dalam posisi adduksi (kelemahan otot deltoid dan supraspinatus), rotasi
internal pada bahu (kelemahan otot teres minor dan infraspinatus), pronasi (kelemahan otot
supinator dan brachioradialis) dan pergelangan tangan fleksi (kelemahan otot ekstensor karpi
radialis longus dan brevis). Selain itu terdapat pula kelemahan pada otot biseps brakhialis,
brakhialis, pektoralis mayor, subscapularis, rhomboid, levator scapula dan teres mayor.
Refleks bisep biasanya menghilang, sedangkan hipestesi terjadi pada bagian luar (lateral) dari
lengan atas dan tangan.
3. Sindroma Klumpkes Paralysis
Lesi di radiks servikal bawah (C8, T1) atau trunkus inferior dimana penyebab pada bayi
baru dilahirkan adalah karena penarikan bahu untuk mengeluarkan kepala,sedangkan pada
orang dewasa biasanya saat mau jatuh dari ketinggian tangannya memegang sesuatu
kemudian bahu tertarik. Presentasi klinis berupa deformitas clawhand (kelemahan otot
lumbrikalis) sedangkan fungsi otot gelang bahu baik. Selain itu juga terdapat kelumpuhan
pada otot fleksor carpi ulnaris, fleksor digitorum, interosei, tenar dan hipotenar sehingga
8

tangan terlihat atrofi. Disabilitas motorik sama dengan kombinasi lesi n. Medianus dan
ulnaris. Kelainan sensorik berupa hipestesi pada bagian dalam/ sisi ulnar dari lengan dan
tangan.
4. Lesi di trunkus superior
Gejala klinisnya sama dengan sindroma Erb di tingkat radiks dan sulit dibedakan. Namun
pada lesi di trunkus superior tidak didapatkan kelumpuhan otot rhomboid, seratus anterior,
levator scapula dan saraf supra - & infraspinatus. Trdapat gangguan sensorik di lateral
deltoid, aspek lateral lengan atas dan lengan bawah hingga ibu jari tangan.
5. Lesi di trunkus media
Sangat jarang terjadi dan biasanya melibatkan daerah pleksus lainnya (trunkus superior
dan/atau trunkus inferior) Gejala klinis didapatkan kelemahan otot triceps dan otot-otot yang
dipersyarafi n. Radialis (ekstensor tangan), serta kelainan sensorik biasanya terjadi pada
dorsal lengan dan tangan.
6. Lesi di trunkus inferior
Gejala klinisnya yang hampir sama dengan sindroma Klumpke di tingkat radiks. Terdapat
kelemahan pada otot-otot tangan dan jari-jari terutama untuk gerakan fleksi, selain itu juga
kelemahan otot-otot spinal intrinsik tangan. Gangguan sensorik terjadi pada aspek medial dari
lengan dan tangan.
7. Lesi Pan-supraklavikular (radiks C5-T1 / semua trunkus)
Pada lesi ini terjadi kelemahan seluruh otot ekstremitas atas, defisit sensorik yang jelas
pada seluruh ekstremitas atas dan mungkin terdapat nyeri. Otot rhomboid, seratus anterior

dan otot-otot spinal mungkin tidak lemah tergantung dari letak lesi proksimal (radiks) atau
lebih ke distal (trunkus)
Pleksopati Infraklavikuler
Pada pleksopati infraklavikuler terjadi lesi ditingkat fasikulus dan/atau saraf terminal. Lesi
infraklavikuler ini jarang terjadi dibanding supraklavikuler namun umumnya mempunyai
prognosis lebih baik. Penyebab utama terjadi pleksopati infraklavikuler biasanya adalah
trauma dapat tertutup (kecelakaan lalu lintas) maupun terbuka (luka tembak). Mayoritas
disertai oleh kerusakan struktur didekatnya (dislokasi kaput humerus, fraktur klavikula,
scapula atau humerus).
Gambaran klinis sesuai dengan lesinya :
1. Lesi di fasikulus lateral
Dapat terjadi akibat dislokasi tulang humerus. Lesi disini akan mengenai daerah yang
dipersyarafi oleh n. Muskulocutaneus dan sebagian dari n. Medianus. Gejala klinisnya yaitu
kelemahan otot fleksor lengan bawah dan pronator lengan bawah, sedangkan otot-otot
intrinsik tangan tidak terkena. Kelainan sensorik terjadi di lateral lengan bawah dan jari 1
III tangan.
2. Lesi di fasikulus medial
Disebabkan oleh dislokasi subkorakoid dari humerus. Kelemahan dan gejala sensorik
terjadi dikawasan motorik dan sensorik n. Ulnaris. Lesi disini akan mengenai seluruh fungsi
otot intrinsik tangan seperti fleksor, ekstensor dan abduktor jari-jari tangan, juga fleksor ulnar
pergelangan tangan. Secara keseluruhan kelaianan hampir menyerupai lesi di trunkus inferior.

10

Kelainan sensorik terlihat pada lengan atas dan bawah medial, tangan dan 2 jari tangan
bagian medial.
3. Lesi di fasikulus posterior
Lesi ini jarang terjadi. Gejala klinisnya yaitu terdapat kelemahan dan defisit sensorik
dikawasan n. Radialis. Otot deltoid (abduksi dan fleksi bahu), otot-otot ekstensor lengan,
tangan dan jari-jari tangan mengalami kelemahan. Defisit sensorik terjadi pada daerah
posterior dan lateral deltoid, juga aspek dorsal lengan, tangan dan jari-jari tangan.

II.6.

PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan ptosis, enoftalmus, , anhidrosis, and miosis atau
Horner syndrome menunjukkan adanya lesi pleksus letak rendah komplit, karena ganglion
simpatik T1 berada pada ujung proksimal pleksus brakhialis. [1]

Gambar menunjukkan pasien dengan ptosis dan miosis pada mata kanan.
Edema pada bahu dapat luas. Menurunnya atau hilangnya nadi menunjukkan adanya
cedera pembuluh darah. Fraktur klavikula seringkali dapat diraba. Inspeksi dan palapasi
dengan cermat pada tulang aksial dapat menunjukkan adanya cedera yang menyertai.
Pemeriksaan pada setiap saraf servikal perlu dilakukan untuk melihat fungsi motorik dan
sensorik segera setelah kondisi pasien memungkinkan.
Sebagai bahan pertimbangan pada keadaan tertentu diperlukan pemeriksaan
neurologis. Pemeriksaan sensoris berupa deep pressure sensation mungkin merupakan
penanda utama pada kontinuitas saraf dengan pasien gejala tidak ada fungsi motor atau
11

sensasi lain. Pemeriksaan ini berupa cubitan pada dasar kuku dan menarik jari pasien ke sisi
luar. Jika terdapat sensasi terbakar menunjukkan adanya kontinuitas pada saraf yang
diperiksa. Namun jika tidak ada, maka pemeriksaan ini tidak berguna untuk menentukan
keadaan neuropraksia karena dapat bertahan lebih dari 6 bulan.
Lokasi tes deep pressure spinal nerve
Ibu jari
C6
Jari tengah
C7
Kelingking
C8

Nerve
Median nerve
Median nerve
Ulnar nerve

Affected cord
Lateral cord
Lateral cord
Medial cord

Pemeriksaan sensasi dan gerakan pergelangan tangan dan jari untuk menilai sarafsaraf median, ulnar, radial dapat membantu mengetahui letak lesi pleksus brachialis.
Pemeriksaan motorik berguna karena terdapat variasi tertentu pada saraf-saraf spinal diantara
medulla dan merupakan pola inervasi abnormal yang terbanyak. Variasi ini menjadi tantangan
tersendiri dalam mengidentifikasi level yang terkena/terlibat. C4 dapat berperan pada
percabangan dari pleksus lebih dari 60%. Jika C4 memiliki peran signifikan pada pleksus,
maka pleksus dinamakan prefiks/ prefixed. Ketika pemeriksaan motorik dilakukan, patut
diingat bahwa kebanyakan otot manusia berperan pada multipel level servikal.
Saraf servikal
C5
C6

Tes fungsi motorik


Abduksi, ekstensi, dan rotasi ekternal bahu, beberapa fleksi siku
Fleksi siku, pronasi dan supinasi telapak tangan, beberapa ekstensi

C7

pergelangan tangan
Hilangnya fungsi ekstremitas secara difus tanpa paralisis sempurna
kelompok otot tertentu, ekstensi siku, yang secara konsisten mempersarafi

C8

otot latisimus dorsi


Ektensor dan fleksor jari tangan, fleksor pergelangan tangan, intrinsik

T1

tangan
Intrinsik tangan

II.7.

Pemeriksaan Penunjang

Radiografi

12

Adanya cedera saraf tepi biasanya disertai dengan cedera tulang dan jaringan iikat sekitar
yang dapat dinilai dengan pemeriksaan radiografi. Pada kasus cedera traumatik, penggunaan
X-foto dapat membantu menilai adanya dislokasi, subluksasi atau fraktur yang dapat
berhubungan dengan cedera pleksus tersebut.
Pemeriksaan radiografi :
1. Foto vertebra servikal untuk mengetahui apakah ada fraktur pada vertebra
servikal
2. Foto bahu untuk mengetahui apakah ada fraktur skapula, klavikula atau
humerus.
3. Foto thorak untuk melihat diposisi skapulothorak serta tinggi diafragma pada
kasus paralisa saraf phrenicus.
Adanya benda asing seperti peluru juga dapat terlihat. Sedangkan pada kasus cedera pleksus
brakhialis traumatik yang berat. Narakas, melaporkan bahwa umumnya terdapat trauma
multipel pada kepala atau muskuloskletal lainnya.
CT scan dapat digunakan untuk menilai adanya fraktur tersembunyi yang tidak dapat dinilai
oleh x-foto. Sedangkan myelografi digunakan pada lesi supraklavikular berat, yang berguna
untuk membedakan lesi preganglionik dan postganglionik. Kombinasi CT dan myelografi
lebih sensitif dan akurat terutama untuk menilai lesi proksimal (avulsi radiks). MRI dapat
memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai jaringan ikat sekitar lesi dan penilaian
pleksus brakhialis ekstraforaminal normal atau tidak normal.

Elektrofisiologi

Hasil pemeriksaan kecepatan hantar syaraf untuk Compound Muscle Action Potentials
(CMAP) didapatkan amplitudo yang rendah setelah hari ke-9.

13

SNAPs (Sensory Nerve Action Potentials) berguna untuk membedakan lesi preganglionic
atau lesi postganglionic. Pada lesi postganglionic, SNAPs tidak didapatkan tetapi positif pada
lesi preganglionic.
EMG (Elektromiografi) dengan jarum pada otot dapat tampak fibrilasi, positive sharp wave
(pada lesi axonal), amplitudo dan durasi. Dimana denervasi terlihat setelah minggu ke-2.
II.7.

Penatalaksanaan
Pembedahan

adalah

pilihan

untuk adultbrachial

plexus

injury, baik

pada closed maupun open injury. Setidaknya ada 4 hal yang mempengaruhi dalam
pengambilan keputusan pembedahan:
1. Donor saraf yang digunakan (supraclavicular, infraclavicular dissection, dan donor
nerve dissection)
2. Strategi rekonstruktif (fungsi pergerakan yang menjadi prioritas rekonstruktif)
3. Teknik pembedahan
Setidaknya terdapat 5 teknik pembedahan untuk brachial plexus injury:
Nerve transfer
Nerve transfer mengambil saraf lain atau cabang saraf yang kurang penting untuk
ditransfer

pada

saraf

krusial

yang

mengalami

kerusakan

dengan

tujuan

mengembalikan fungsinya dengan caradirect suturingatau nerve grafting pada sisi


distal. Nerve transferdapat diambil dari saraf proksimal (extraplexus dan intraplexus

nerve transfer) atau saraf distal (closed-target nerve transfer).


Functioning free muscle transplantation
Functioning
free
muscle
transplantation adalah
menggunakan microvascular

anastomoses untuk

transfer

otot

revaskularisasi

dan

penyambungan microneural pada recipient motor nerve dengan tujuan reinervasi.


Neurolysis
Neurolysis merupakan suatu prosedur melepaskan neuroma (constrictive scar
tissue) di sekitar saraf. Bila neuroma besar, harus dieksisi dan saraf dilekatkan
kembali dengan teknik end-to-end atau nerve grafts.
Neurolysis diindikasi pada kasus neuropraxia atau konduksi blok yang tidak membaik
secara spontan. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh perineural fibrosis yang dipicu
oleh hematoma post-traumatik maupun stretch injuries. Saraf terdiri dari banyak
14

fiber(axon).Ketika terjadi cedera saraf, fiber-fiber ini berusaha menyebar keluar


supaya tersambung, kadang-kadang, fiber ini dapat membentuk gumpalan sehingga

terjadi jaringan parut pada saraf.


Nerve repair
Prosedur nerve repair berarti menjahit antara ujung dan ujung saraf yang terputus
yang dikerjakan di bawah mikroskop. Saraf tidak akan pernah kembali secara
sempurna jika telah terpotong. Kesembuhan maksimal hanya terjadi sekitar

80%.Pertumbuhan saraf sekitar 1 mm setiap harinya.


Nerve grafting
Bila gap antara saraf terlalu besar, sehingga tidak mungkin dilakukan tarikan.Saraf
yang

sering

dipakai

adalah n.

suralis,

n.

cutaneous

antebrachial

lateralis dan medialis, dan cabang terminal sensoris n. interosseus posterior.


1. Waktu pembedahan yang tepat (primary atau secondary repair)
Immediate atau early surgery
Pada kasus open injury di bagian leher oleh pisau atau benda tajam lainnya
menyebabkan defisit motorik maupun sensorik dan kecurigaan adanya avulsi saraf.
Eksplorasi dan immediately nerve repair beberapa hari setelah trauma sangat
diindikasikan. Golden
minggu,

time untuk supraclavicular

sedangkan infraclavicular

penetrating

penetrating

lesions adalah

lesions selama

minggu.

Setelah golden time, biasanya dibutuhkan nerve grafts setelah neuroma resection.
Secondary nerve repair: delayed repair
Terdapat 3 tipe secondary repair:
Early delayed repair (nerve repair dalam waktu 1 bulan untuk diagnosis open
injury atau 5 bulan untuk closed injury).
Untuk kasus closed brachial plexus injury, tujuan utama delayed repair untuk
menegakkan diagnosis, termasuk mencari derajat, letak, dan luas lesi. Managemen
untuk kasus ini terdiri dari 3 tahap:
Stage 1
: stabilization stage selama 1 bulan pertama, temasuk stabilisasi
tanda-tanda vital, fracture tulang, dan dislokasi sendi.
Stage 2
: diagnostic stage pada bulan ke-2, termasuk pemeriksaan klinis
dan investigasi untuk menegakkan diagnosis, mulainya fisioterapi dengan stimulasi

15

elektrik untuk mencegah soft tissue swelling, kekuan sendi, dan atrofi otot. Selain itu,
pada tahap ini juga dilakukan psychological education sebelum operasi.
Stage 3
: pada bulan ke-3 hingga ke-5 perawatan. Jika tidak ada tanda

tanda perbaikan fungsi saraf pada 3 bulan pertama, maka diindikasikan operasi.
Late delayed repair (nerve repair lebih dari 6 bulan setelah trauma)
Dalam waktu 6 bulan setelah trauma, telah terjadi denervasi saraf sehingga
disarankan nerve repair yang diikuti oleh local muscle transfer atau functioning free

muscle transplantation.
Late repair (nerve repair lebih dari 1 tahun setelah trauma)
Pada kasus kronik, 1 tahun setelah trauma, otot telah sangat lama mengalami
denervasi sehingga atrofi dan telah digantikan oleh jaringan konektif dan
lemak.Sekalipun dilakukan operasi, hasilnya tetap buruk dan sia-sia.Fisioterapi hanya
mencegah terjadinya atrofi otot lebih jauh tetapi tidak memperbaiki otot yang telah
rusak. Operasi pilihan untuk kasus kronik seperti ini adalah functioning free muscle
transplantation atau banked nerve grafts dari ipsilateral atau contralateral nerve
transfer, yang diikuti oleh secondary functioning free muscle transplantation.[35][40][41]
Perbedaan derajat dan perbedaan level cedera membutuhkan strategi rekonstruksi

yang berbeda. Hampir 70% cederaplexus brachialistermasuk dalamclosed injury yang


menyebabkan avulsi saraf spinal. Ini adalah lesi yang tidak dapat diperbaiki.Nerve
transfer danfunctioning free muscle transplantation menjadi satu-satunya pilihan jika terjadi
avulsi pada cederaplexus brachialis
II.10. Prognosis
Prognosis lesi pleksus brakhialis bervariasi tergantung pada patofisiologi yang
mendasari, meliputi tempat dan derajat kerusakan saraf dan kecepatan mendapat terapi.
Proses regenerasi saraf terjadi kira-kira 1-2 mm/hari atau 1 inci/bulan, sehingga mungkin
diperlukan beberapa bulan sebelum tanda pemulihan dapat dilihat.
Neuropraksia merupakan tipe kerusakan yang paling ringan dan mempunyai prognosis
yang paling baik, dimana perbaikan spontan dapat terjadi beberapa minggu hingga bulan (3-4
16

bulan setelah cedera). Pada tipe aksonotmesis, perbaikan diharapkan dapat terjadi dalam
beberapa bulan dan biasanya komplit kecuali terjadi atrofi motor endplate dan reseptor
sensorik sebelum pertumbuhan akson mencapai organ-organ ini. Perbaikan fungsi sensorik
mempunyai prognosis lebih baik dibandingkan motorik karena reseptor sensorik dapat
bertahan lebih lama dibandingkan motor endplate (kira-kira 18 bulan). Sedangkan
neurotmesis, regenerasi dapat terjadi namun fungsional sulit kembali sempurna. Faktor-faktor
yang mempengaruhi keluaran yaitu luasnya lesi jaringan saraf, usia (dimana usia tua
mengurangi proses pertumbuhan akson), status medis pasien, kepatuhan dan motivasi pasien
dalam menjalani terapi.
Untuk lesi pleksus brakhialis yang berat, hasil yang memuaskan dapat terjadi pada lebih
dari 70% pasien postoperatif setelah perbaikan primer dan 48% setelah graft saraf. Kira-kira
50-85% pasien dengan TOS non-neurogenik mengalami perbaikan dengan latihan.
Prognosis lesi pleksus brakhialis pada daerah supraklavikular kurang memuaskan
dibanding daerah infraklavikular, oleh karena biasanya disertai dengan adanya avulsi radiks.
Pada neonatus dengan lesi pleksus brakhialis bila terdapat sedikit kontraksi pada bulan
pertama dan kontraksi pada bulan kedua maka kita dapat mengharapkan pemulihan spontan
yang komplit. Jika kontraksi belum terlihat pada bulan ketiga biasanya pemulihan tidak akan
mencapai fungsi normal sepenuhnya.

17

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas pasien
Nama

: Ny. Ika Tari

Usia

: 29 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Owo ampel waluhan, Jember

Agama

: Islam

Bangsa / Suku

: jawa

Tanggal Pemeriksaan : 11 February 2015


3.2 Keluhan utama
Tangan Kanan tidak Dapat Digerakan
3.3 Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh tangan Kanan tidak dapat digerakan setelah KLL. Pasien Mengalami
KLL pada tahun 2013 dan mengalami patah pada tangan kanan dan dislokasi pada bahu
kanan. Namun setelah KLL pasien mengaku seluruh tangan kanan tidak dapat digerakan dan
18

pasien pergi berobat ke Rs.dr soetomo. Di rs dr soetomo tangan pasien di operasi dan pasien
merasa mulai bisa menggerakan tangan meski sedikit
3.4 Riwayat penyakit dahulu
Pasien tidak pernah menderita gejala penyakit serupa sebelumnya.
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, alergi disangkal.

3.5 Riwayat pemberian obat


Pasien di operasi di rs balung dan di rs. Dr.soetomo
3.6 Pemeriksaan fisik (11 Desember 2014)
A. Pemeriksaan Umum
1. Keadaan Umum

: Cukup

2. Kesadaran

: Compos mentis

3. Vital Sign
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5 C

B. Pemeriksaan Khusus
1. Kulit

: Ptechia (-), Purpura (-)

2. Kepala
a. Mata
Konjungtiva

: Anemis -/-, perdarahan -/-

Sklera

: ikterus -/19

Palpebra

: oedem -/-, Ptosis +

Pupil

: refleks cahaya +/+, an isokor 2mm/4mm

b. Telinga
Lubang telinga

: Sekret -/-, Darah -/-

Bentuk

: Normal/Normal

Lubang

: Normal/Normal

Pendengaran

: Normal/Normal

c. Hidung
Sekret (-), perdarahan (-), massa (-)
d. Mulut
Bibir

: tidak sianosis, mukosa tidak pucat

Lidah

: tidak ada deformitas

e. Leher
KGB

: tidak ada pembesaran

Tiroid

: tidak ada pembesaran

f. Thorax
Paru
Inspeksi

: Simetris, tidak ada retraksi

Palpasi

: Fremitus raba normal


20

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi

: Ves +/+ Rh -/- Wh -/-

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: redup

Auskultasi

: S1 S2 tunggal

g. Abdomen
Inspeksi

: Cembung

Auskultasi

: BU (+) Normal

Palpasi

: Soepel

Perkusi

: Tympani

h. Ekstremitas
Akral Hangat

Oedem -

i. Status Lokalis
Regio Crusris D :
L: scar + , Oedem -, Deformitas
F: krepitasi
M; Rom : Terbatas

21

Status Neurologis
1.Gcs : 4-5-6
2.Pupil : diameter 2mm/4mm ,RC:+/+ .anisokor
3.Motorik : 111 555
555 555
4.sensorik : DBN
5.Otonom : DBN
3.7 Diagnosa
Plexus Brachialis injury
3.8 Differensial diagnosa
Spinal cord Injury
3.9 Penatalaksanaan

Functioning free muscle transplantation

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.

Foster, M., Traumatic Brachial Plexus Injuries. 2011, emedicine. p. 1-4.


Brachial Plexus Birth Palsy: A 10-Year Report on the Incidence and Prognosis.
Journal of Pediatrics Orthopaedics, 1984. 4(6).
Dorsi, M., W. Hsu, and A. Belzberg, Epidemiology of brachial plexus injury in the
pediatric multitrauma population in the United States. Journal of Neurosurgery, 2010.
5.
22

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Rajiv, M., Epidemiology of Brachial Plexus Injuries in a Multitrauma Population.


Neurosurgery, 1997. 40(6): p. 1182-89.
Snell, R., Ekstremitas superior, in Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, J.
Oswari, Editor. 1998, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. p. 132-253.
Moore, K. and A. Agur, Essential Clinical Anatomy ed. 3. 2007, Baltimore: Lippincott
Williams & Wilkins.
Junqueira, L. and J. Carneiro, Basic Histology Text and Atlas, ed. 11. 2005, New York:
McGraw-Hill Medical.
Gartner, L. and J. Hiatt, Color Text Book of Histology, ed. 3. 2007, Philadelphia:
Saunders Elsevier.
Wood, M. and P. Murray, Current Concepts in the Surgical Management of Brachial
Plexus Injuries. 2006, www. DCMSonline.org. p. 31-4.
Foster, M., Brachial Plexus Injury Traumatic. 2009, emedicine.
Grant, G., R. Goodkin, and M. Kliot, Evaluation and treatment of traumatic
peripheral nerve injuries, in Neurosurgical Operative Atlas Spine and Peripheral
Nerves, B. Brandenburg, Editor. 2007, Thieme Medical Publisher: New York. p. 88894.
Yoshikawa, T., et al., Brachial Plexus Injury: Clinical Manifestations, Conventional
Imaging Findings, and the Latest Imaging Techniques. Radiographics, 2006. 26: p.
133-44.
Van, H., et al. MRI of the brachial plexus. Volume, 84-90
Bhandari, P., et al., Current trends in the management of brachial plexus injuries.
Indian Journal of Neurotrauma, 2008. 5(1): p. 21-5.
Aulina, S. and A. Pratiwi, Rehabilitasi pada nyeri dalam nyeri neuropatik 2001:
Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI.
Weiss, L. and J. Silver, Brachial Plexopathies in Easy EMG. 2004, Eidenburgh:
Butterworth Heinemann.
Kaye, V., Traumatic Brachial Plexopath. 2008.
Murad, G., S. Yamada, and R. Lonser, Brigde Bypass Coaptation for Upper Trunk
Cervical Nerve Root Avulsion, in Neurosurgical Operative Atlas Spine and Peripheral
Nerves, B. Brandenburg, Editor. 2007, Thieme Medical Publisher: New York. p. 396401.

23