Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Fiqh
Menurut bahasa, fiqih berasal dari kata faqaha yang berarti memahami dan
mengerti. Sedangkan menurut istilah syarI, ilmu fiqih dimaksudkan sebagai ilmu yang
berbicara tentang hukum-hukum syari amali (praktis) yang penetapannya diupayakan
melalui pemahaman yang mendalam terhadap dalil-dalil yang terperinci.
Secara definitif, fiqih berarti ilmu tentang hukum-hukum syari yang bersifat amaliah
yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili. Dalam definisi ini fiqih diibaratkan
dengan ilmu karena fiqih itu tidak sama dengan ilmu seperti disebutkan diatas, fiqih itu
bersifat dzanni. Fiqih adalah apa yang dapat dicapai oleh mujtahid dengan dzannya,
sedangkan ilmu tidak bersifat dzanni seperti fiqih. Namun karena dzanni ini kuat, maka ia
mendekati kepada ilmu. Karenanya ilmu definisi ini ilmu digunakan juga untuk fiqih.

2.2. Sejarah Perkembangan Fiqih Islam


Pertumbuhan fiqih atau Hukum Islam dari awal sampai sekarang dapat dibedakan
menjadi beberapa periode, Namun disini hanya akan kita bahas 3 priode saja yaitu :

a). Priode Perkembangan Fiqih pada masa Rosulullah


Periode ini dimulai sejak diangkatnya Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi danRasul
sampai Nabi Muhammad SAW wafat. Periode ini sangat singkat sekali, hanya sekitar 23
tahun. Akan tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan ilmu fiqh.
MasaRasulullah inilah yang mewariskan sejumlah nash-nash hukum baik dari Al-Quran
maupunAl-Sunnah, mewariskan prinsip-prinsip hukum islam baik yang tersurat dalam dalildalil kullimaupun yang tersirat pada Al-Quran dan Al-Sunnah.Periode Rasulullah ini dibagi
menjadi dua masa yaitu : masa Mekkah dan masaMadinah. Pada masa Mekkah, diarahkan
untuk memperbaiki akidah, karena akidah yang benar inilah yang menjadi pondasi dalam
hidup. Oleh karena itu, dapat kita pahami apabilaRasulullah pada masa itu memulai
dawahnya dengan mengubah keyakinan masyarakat yangmusyrik menuju masyarakat yang
berakidah tauhid, membersihkan hati dan menghiasi diridengan Akhlakul Karimah, Masa
Mekkah ini dimulai pada saat diangkatnya nabi MuhammadSAW menjadi Rasul sampai
beliau hijrah ke Madinah yaitu dalam waktu kurang lebih selama12 tahun.
Setelah hijrah, barulah turun ayat-ayat yang mewahyukan perintah untuk
melakukan puasa, zakat dan haji diturunkan secara bertahap. Ayat-ayat ini diwahyukan
ketika munculsebuah permasalahan, seperti kasus seorang wanita yang diceraikan secara
sepihak oleh suaminya, dan kemudian turun wahyu dalam surat Al-Mujadilah.Pada zaman
Rasulullah-pun ternyata Ijtihad itu dilakukan oleh Rasulullah dan jugadilakukan oleh para

sahabat, bahkan ada kesan Rasulullah mendorong para sahabatnya untuk berijtihad seperti
terbukti dari cara Rasulullah sering bermusyawarah dengan para sahabatnyadan juga dari
kasus Muadz bin Jabal yang diutus ke Yunan. Hanya saja Ijtihad pada zamanRasulullah ini
tidak seluas pada zaman sesudah Rasulullah, karena banyak masalah-masalah yang
ditanyakan kepada Rasulullah kemudian langsung dijawab dan diselesaikan oleh Rasulullah
sendiri. Disamping itu Ijtihad para sahabat pun apabila salah, Rasulullah mengembalikannya
kepada yang benar. Seperti dalam kasus Ijtihad Amar bin Yasir yang berjunub (hadast besar)
yang kemudian berguling-guling dipasir untuk menghilangkan hadast besarnya. Cara ini
salah, kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang berjunub tidak menemukan air
cukup dengan tayamum.Ijtihad Rasulullah dan pemberian izin kepada para sahabat untuk
berijtihadmemberikan hikmah yang besar karena :
Memberikan contoh bagaimana cara beristinbat (penetapan hukum) dan memberi
latihan kepada para sahabat bagaimana cara penarikanhukum dari dalil-dalil yang kulli, agar
para ahli hukum Islam (para Fuqaha) sesudah beliaudengan potensi yang ada padanya bisa
memecahkan masalah-masalah baru dengan mengembalikannya kepada prinsip-prinsip yang
ada dalam Al-Quram dan Al-Sunnah..
b). Priode Perkembangan Fiqih pada masa Shohabat
Periode sahabat ini dimulai dari wafatnya Rasulullah SAW sampai akhir abad pertama
hijrah. Pada masa sahabat, Islam telah menyebar luas misalnya ke negeri Persia, Irak,Syam
dan Mesir. Negara-negara tersebut telah memiliki kebudayaan yang tinggi, mempunyaiadatadat kebiasaan tertentu, peraturan-peraturan dan ilmu pengetahuan. Bertemunya
Islamdengan kebudayaan di luar Jazirah Arab ini mendorong pertumbuhan Fiqh Islam
pada periode-periode selanjutnya. Bahkan juga mendorong ijtihad para sahabat. Seperti
misalnyakasus Usyuur (bea cukai barang-barang impor), kasus mualaf dan lain-lain pada
zaman Umar bin Khatab.Adapun cara berijtihad para sahabat adalah pertama-tama dicari
nash-nya dalam Al-Quran, apabila tidak ada, dicari dalam Hadist, apabila tidak ditemukan
baru berijtihad dengan bermusyawarah di antara para sahabat. Inilah bentuk Ijtihad jamai.
Apabila mereka bersepakat terjadilah ijma sahabat. Keputusan musyawarah ini kemudian
menjadi pegangan seluruh umat secara formal. Khalifah Umar bin Khatab misalnya
mempunyai dua caramusyawarah, yaitu : Musyawarah yang bersifat khusus dan
musyawarah yang bersifatumum. Musyawarah yang bersifat khusus beranggotakan para
sahabat Muhajirin danAnshor, yang bertugas memusyawarahkan masalah-masalah yang
berkaitan dengankebijaksanaan pemerintah. Adapun musyawarah yang bersifat umu dihadiri
oleh seluruh penduduk Madinah yang dikumpulkan di Mesjid, yaitu apabila ada masalah
yang sangat penting.Walaupun demikian tidaklah menutupi kemungkinan adanya ijtihad
para sahabatdalam masalah-masalah yang sifatnya pribadi, tidak berkaitan secara langsung
dengan kemaslahatan umum. Mereka menanyakan masalahnya kepada salah seorang sahabat
Nabidan diberikan jawabannya. Dalam masalah-masalah ijtihadnya termasuk dalam hal-hal
yang belum ada nash-nya para sahabat berijtihad. Metode yang digunakan pada masa
sahabatdalam berijtihad melalui beberapa cara diantaranya :
1.
Dengan semata pemahaman lafaz yaitu memahami maksud yang terkandung
dalamlahir lafaz. Umpamanya bagaimana hukum membakar harta anak yatim.

2.

Ketentuanyang jelas dalam Al Quran hanya larangan memakan harta anak yatim
secara aniaya,sedangkan hukum membakarnya tidak ada. Karena semua orang itu
tahu bahwamembakar dan memakan harta itu sama dalam hal mengurangi atau
menghilangkanharta anak yatim, maka keduanya juga sama hukumnya yaitu haram.
Cara inikemudian disebut penggunaan metode mafhum.
Dengan cara memahami alasan atau illat yang terdapat dalam suatu kasus
(kejadian)yang baru, kemudian menghubungkannya kepada dalil nash yang memiliki
alasan atauillat yang sama dengan kasus tersebut. Cara ini kemudian disebut metode
qiyas.

Jadi, pada masa sahabat ini sudah ada tiga sumber hukum yaitu Al-Quran,
Alsunnahdan Ijtihad sahabat. Ijtihad terjadi dengan ijtihad jamai dalam masalah-masalah
yang berkaitan dengan kemaslahatan umum dan dengan ijtihad fardhi dalam hal-hal yang
bersifat pribadi. Untuk bentuk ijtihad fardhi, ada kemungkinan terjadi perbedaan pendapat
dikalangan para sahabat, disebabkan :
1.
2.
3.

Tidak semua ayat Al-Quran dan Sunnah itu qathi dalalahnya atau penunjukkannya.
Hadist belum terkumpul dalam satu kitab dan tidak semua sahabat hafal hadist.
Lingkungan di mana para sahabat berdomisili tidaklah sama, keperluankeperluannya berbeda dan penerapan juga berlainan
Ada 3 keistimewaan yang menonjol pada masa Khulafaur Rasyidin, yaitu:

4.

5.
6.

Kodifikasi ayat-ayat al-Quran serta menyebarkannya yang dimaksudkan


untuk mempersatukan umat Islam dalam satu wajah tentang bacaan al-Quran agar
tidak ada perbedaan yang berakibat perpecahan.
Pertumbuhan tasyri dengan rayu sebagai motivasi besar terhadap para fuqaha
untuk menggunakan rasio sebagai sumber ketiga yaitu qiyas.
Pengaturan peradilan.

Adapun peninggalan-peninggalan masa sahabat yang ada hubungannya dengan fiqih


ialah:
1. Penjelasan-penjelasan yang bersifat yuridis terhadap nash-nash hukum al-quran
danas-sunah. Penjelasan-penjelasan yang demikian itu terjadi ketika sahabat
membahasnash-nash hukum untuk di terapkan kepada kejadian-kejadian lalu
timbul pendapat- pendapat tentang pengertian dan maksud sebenarnya dari nashnash. Dalammelahirkan pendapat-pendapat itu mereka bersandar pada bakat
serta kemampuanmereka dalam bidang bahasa , pada bakat serta kemampuan
mereka dalam penetapanhukum dan pada pengetahuan mereka, tentang hikmah
diturunkannya syariat sertasebab sebab turunnya al;qurandan di datangkannya
al-hadits. Dari kumpulan pendapat-pendapat itu terbentuklah syarah atau
penjelasan yang bersifat yuridisterhadap nash-nash hukum, Penjelasan tersebut
dianggap sebagai landasan terpercayadalam menafsirkan nash-nash tersebut dan
untuk menjelaskan keumumannya dan nashserta cara-cara penerapannya.

2. Fatwa-fatwa hasil ijtihad yang di berikan oleh tokoh-tokoh sahabat, terhadap


kejadian-kejadian yang tidak ada nashnya. Cara mujtahid dikalangan sahabat itu
apabila tidak mendapatkan nash dalan al-quran atau as-sunah tentang hukum
sesuatu kejadian yangdiajukan. Mereka berijtihad untuk menemukan hukum
dengan berbagai jalan istinbath.
3. Terpecahnya umat menjadi 3 golongan yaitu Khawarij, Syiah, dan Jumhur
Musliminatau Ahlu Sunnah Wal Jamaah
c). Priode Perkembangan Fiqih pada masa Tabiin
Periode Tabiin dimulai setelah lepas kekuasaan Ali sebagai khalifah dan
kemudiantampuk kekuasaan dipegang oleh pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan yang
berakhir padaawal abad 2 H, seiring dengan berakhirnya dinasti Umayah. Tokoh-tokoh fiqh
pada masa iniadalah murid-murid dari sahabat Nabi seperti yang telah disebutkan
diatas.Pada periode ini, metode penggalian hukum bertambah banyak, baik corak
maupunragamnya. Dengan demikian bertambah banyak pula kaidah-kaidah istinbat hukum
dan teknis penerapannya. Sebagai contoh Imam Abu Hanifah dalam memutuskan perkara
membatasiijtihadnya dengan menggunakan al-Quran, Hadis, fatwa-fatwa sahabat yang telah
disepakatidan berijtihad dengan menggunakan penalarannya sendiri, seperti istihsan. Abu
Hanifah tidak mau menggunakan fatwa ulama pada zamannya. Sebab ia berpandangan
bahwa merekasederajat dengan dirinya. Imam Maliki setelah al-Quran dan Hadits - lebih
banyak menggunakan amal (tradisi) ahli madinah dalam memutuskan hukum, dan
maslahahmursalah. Demikian pula imam-imam yang lain.
Pada periode inilah ilmu Ushul Fiqih dibukukan. Ulama pertama yang
merintis pembukuan ilmu ini adalah Imam Syafii, ilmuan berkebangsaan Quraish. Ia
memulai menyusun metode-metode penggalian hukum Islam, sumber-sumbernya serta
petunjuk- petunjuk Ushul Fiqh. Dalam penyusunannya ini, Imam Syafii bermodalkan
peninggalan hukum-hukum fiqih yang diwariskan oleh generasi pendahulunya, di samping
juga rekaman hasil diskusi antara berbagai aliran fiqih yang bermacam-macam, sehingga ia
memperoleh gambaran yang konkrit antara fiqih ahli Madinah dan fiqih ahli Irak.
Berbekal pengalaman beliau yang pernah nyantri kepada Imam Malik (ulama
Madinah), Imam Muhammad bin Hasan (ulama Irak dan salah seorang murid Abu
Hanifah)serta fiqih Makkah yang dipelajarinya ketika berdomisili di Makkah menjadikannya
seorangyang berwawasan luas, yang dengan kecerdasannya menyusun kaidah-kaidah yang
menjelaskan tentang ijtihad yang benar dan ijtihad yang salah. Kaidah-kaidah inilah yang
dikemudian hari dikenal dengan nama Ushul Fiqih. Oleh sebab itu Imam Syafii adalah
orang pertama yang membukukan ilmu Ushul Fiqih, yang diberi nama al-Risalah.
Namundemikian terdapat pula pendapat dari kalangan syiah yang mengatakan bahwa
ImamMuhammad Baqir adalah orang pertama yang membukukan ilmu Ushul Fiqih
Peninggalan pada masa tabiin diantaranya adalah :
1.

Berkembangnya beberapa pusat studi Islam, menurut Manna' al-Qatthan telah


melahirkandua tradisi besar dalam sejarah pemikiran Islam. Keduanya adalah tradisi
pemikiran AhluRoy dan tradisi pemikiran ahlul Hadits. Menurutnya, mereka yang

2.
3.
4.
5.

tergolong Ahlu Roydalam menggali ajaran Islam banyak menggunakan rasio (akal).
Sedangkan mereka yangtergolong ahlul Hadits cenderung memarjinalkan peranan
akal dan lebih mengedapankanteks-teks suci dalam pengambilan keputusan agama
(hlm. 289-290).
Perkembangan Fiqih sudah sampai pada titik sempurna pada masa ini.
Lahirnya ulama-ulama besar ahli fiqih dan ahli ilmu yang lain.
Madzhab fiqih pada masa ini sudah berkembang dan yang paling masyhur adalah
4madzhab.
dibukukannya ilmu-ilmu penting dalam islam. Diantaranya,
1.
Madzhab abu hanifah : kutub dzohir al Riwayah yang diriwayatkan dari
oleh Muhammad bin al Hasan dari Abu Yusuf dari imam Abu Hanifah,
kemudiandikumpulkan menjadi kitab al Kafi oleh al Hakim as Syahid
2.
Madzhab Imam Malik : al Mudawwanah yang diriwayatkan oleh Sahnun dari
IbnuQosim dari imam Malik Madzhab imam Syafii : kitab al Um yang
diimlakkan oleh imam kepada muridnyadi Mesir. Madzhab imam Ahmad :
kitab al Jami al Kabir yang dikarang oleh Abu Bakar al Khollal setelah
mengumpulkannya dari para murid imam Ahmad.
Beberapa fenomena yang berkembang pada waktu itu, diantaranya :

1.
2.
3.
4.

Kaum muslimin terpecah menjadi beberapa firqah karena motif politik.


Ulama-ulama muslimin telah menyebar ke beberapa negara besar islam.
Tersiar riwayat hadist yang sebelumnya hal tiu dilarang dan belum dibukukan.
Terdapat manipulasi hadist karena motif politik

2.3 Periode Keemasan


Dimulai pada abad ke- 2 sampai pertengahan abad ke- 4 H. Ciri ciri periode ini
adalah semangat Ijtihad yang tinggi seperti periode sebelumnya. Yang membedakan adalah
meluasnya kebudayaan, gerakan ilmiah diberbagai daerah, pembukuan Hadits, dan
bertambahnya hufadz Quran dan perhatian untuk menunaikanya didorong oleh besarnya
dukungan pemerintah untuk memmajukan berbagai bidang ilmu.
Diawal periode ini pertentangan Ahlul Hadits dengan Ahlurayi sangat tajam hingga
mendorong semangat Ijtihad masing masing aliran. Semangat itu juga mendorong lahirnya
madzhab Syafii, Maliki, Hanafi, Hambali. Fiqh Taqdiri atau Hipotesis ( membahas
persoalan yang diperkirakan akan terjadi ) mulai marak.
Pertentangan dua golongan itu mereda setelah golongan Ahlurayi berusaha
membatasi, mensistemisai, dan menyusu kaidah rayu yang dapat dipakai mengistimbatkan
hukum sehingga Ahlul Hadits menerima rayu menurut pengertian Ahlurayu dan menerima
rayu sebagai salah satu cara menggali hukum. Selain itu, kedua golongan itu juga saling
mengenal.
Periode ini juga memulai penyusunan kitab fiqh dan ushul fqh seperti al-Muwatha
dan ar-Risalah. Selain itu teori ushul fiqh juga mulai bermunculan.

2.4 Periode Tahrir, Takhrij, dan Tarjih dalam Madzhab


Dimulai pertengahan abad ke- 4 sampai pertengahan abad ke- 7 H. Tahrir, Takhrij, dan
Tarjih adalah upaya tiap tiap madzhab mengomentari, menjelaskan,dan mengulas pendapat
imam madzhab.
Diperiode ini hampir tidak ada mujtahid mandiri sehingga muncul fanatik buta. Selain
itu juga muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad ditutup karena :
1.

Dorongan penguasa pada hakim untuk memakai madzhab pemerintah saja.

2.

Sikap fanatik buta, kebekuan berfikir, dan taqlid tanpa analisis.

3.

Gerakan pembukuan tiapmadzhab sehingga mempermudah memilih madzhab yang


mendorong untuk taqlid.
1.

Periode kemunduran

Dimulai pertengahan abad ke- 7 H sampai munculnya majalah al-Ahkam alAddliyyah


( hukum perdata kaerajaan turki Usmani ) pada 26 Syaban 1293 H. Ada tiga hal yang
menonjol pada periode ini.
1.

Banyak pembukuan fatwa. Buku buku yang disusun disistematisasikan sesuai


dengan kitab fiqh.

2.

Produk produk fiqh diatur kerajaan.

3.

Muncul gerakan kodifikasi fiqh islam sebagai madzhab resmi pemerintahan.

2.6 Periode Pengodifikasian Fiqh


Dimulai sejak munculnya majalah al Ahkamul Adliyyah hingga sekarang.
Ciri ciri yang mewarnai periode ini adalah :
1.

Muncul upaya pengkodifikasian yang sesuai dengan tuntutan dan situasi zaman.

2.

Ada upaya kodifikasi yang tak terikat pada madzhab.

3.

Muncul pendapat bahwa pendapat dari berbagai madzhab ialah satu kesatuan yang
tidak bisa dipisah.

2.7 Sejarah Munculnya Madzhab


Sudah kita ketahui sebelumnya, pada zaman Khulafaur Rasyidin wilayah islam meluas
dan umat islam terdiri dari banyak etnis dan budaya. Persoalan hukum islam pun makin
kompleks. Para sahabat juga bertebaran ke berbagai pelosok negeri dengan metode fatwanya
masing masing. Mereka berijtihad dengan carsnya masing masing. Fatwanya juga diikuti

murid muridnya sehingga jumlah pengikut sahabat dengan fatwa masing masing makin
banyak dan membentuk aliran aliran.
Seiring dengan berkembangya zaman, masing masing aliran itu berkembang kualitas
dan kuantitasnya sehingga menjadi sempurna. Kemudian aliran aliran itulah yang disebut
sebagai madzhab. Diantara madzhab itu ada yang masih eksis dan ada juga yang hilang
karena tidak mempunyai pengikut.
2.8 Implementasi Fiqh Dalam Kehidupan
Dalam keterangan di atas telah diterangkan, bahwa antara sahabat satu dengan sahabat
lain dalam memecahkan persoalan hukum mempunyai ikhtilaf. Ikhtilaf itu disebabkan
karena metode yang mereka gunakan berbeda, selain itu juga karena kondisi umat yang
berbeda pula ( sosial, etnis,dan budaya ).
Ikhtilaf, dapat dapat dibagi ke dalam dua kategori utama :
1.

Ikhtilaf yang kontradiktif ( ikhtilaf tadaddi ), yaitu ketetapan ketetapan hukum


yang sepenuhnya berbertentangan dan secara logis tidak dapat dipertemukan.
Misalnya, ketetapan hukum dimana sebuah madzhab menyatakanya sebagai haram
dan madzhab yang lainya menyatakan halal.

2.

Ikhtilaf yang bervariasi ( ikhtilaf tanawwu ), yaitu ketetapan ketetapan hukum


yang bertentangan yang variasi variasinya bisa diterima secara logis dan bisa
dipertemukan. Misalnya, variasi posisi duduk Rosulullah SAW ketika shalat, dan ada
perbedaan mengenai posisi duduk yang dikemukakan oleh masing masing
madzhab.
Adapun dampak negatif dari ikhtilaf itu adalah, tidak jarang ikhtilaf ikhtilaf itu sering

kali menjadi mala petaka memicu terjadinya perpecahan antar umat islam yang kian
membuat citra buruk bagi umat islam dimata dunia.
Namun demikian, ikhtilaf itu juga membawa dampak positif yang luar biasa besarnya
bagi keluasan ilmu fiqh. Tidak bisa dibayangkan bila antara sahabat tidak ada ikhtilaf maka
ilmu fiqh akan gersang, kehilangan hasil hasil ijtihadnya yang amat diperlukan umat islam
selanjutnya. Sebab Sebab Islam tidak stagnan diam di dalam jazirah Arab, takan tetapi
menyebar luas hingga ke pinggiran benua Eropa, masuk menjelajah jauh ke dalam rimba
Afrika, berlayar jauh hingga nusantara, melewati pegunungan tinggi hingga negeri Cina.
Syariah Islam bertemu dengan beragam budaya, adat istiadat, tata aturan masyarakat,
tsaqafah, tradisi dan sekian banyak falsafah kehidupan umat manusia. Kelenturan hukum

syariah menjadi syarat mutlak. Ternyata perbedaan pandangan di kalangan shahabat telah
menjawab semuanya.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa hukum islam / fiqih akan selalu
berkembang dari zaman ke zaman. Baik dari zaman rasulullah, sahabat dan sampai
sekarang. Ayat-ayat hukum pada umumnya berupa prinsip-prinsip saja yang harus
dikembangkan lebih lanjut. Disaat rasulullah masih hidup, tugas untuk mengembangkan dan
menafsirkan ayat terletak pada diri beliau melalui sunnahnya. Namun setelah wafat ilmu
fiqih masih terus berkembang pada zaman sahabat, mujtahid dan sampai sekarang.
Meskipun pernah mengalami kemunduran beberapa abad yang lalu.
Demikian dengan mempergunakan Al quran dan Assunnah setiap masalah yang timbul
bisa teratasi untuk pada masa sekarang. Jika suatu masalah tidak ada dalam Quran dan
Assunnah maka para mujtahid akan mengiaskan atau berpendapat yang sesuai dengan
kaidah Al Quran dan Sunnah.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Abdullah, Sulaiman.1996. Dinamika Qiyas dalam Pembaharuan Hukum


Islam.jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

2.

Ali, M. Daud. 2004. Hukum Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

3.

Anwar, Syahrul, ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, ( Bogor : Ghalia Indah, 2010 )

4.

Beik, Hudhari, Tarikh al Tasyri al Islam, ( Semarang : Darul Ikhya, 1980)

5.

Bilal, Abu Ameenah Philips, Analisis Historis atas Madzhab, Doktrin dan
Kontribusi, ( Bandung : Nuansa, 2005 )

6.

Bisri Syamsuri, Miftahul Ushul, ( Jombang : PP. Bahrul Ulum,tth. )

7.

Djafar Amir, Ushul Fiqh ( Semarang : Toha Putra, 1968 )

8.

Ibrahim Lubis, Mei 2012,


http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/05/pengertian-ilmu-fiqih.html

9.

Mudrika Blogs, April 2010, http://driexx.blogspot.com/2010/04/perkembanganfiqih-pada-sahabat.html.

10.

Rahmat Syafei, Ilmu Ushul Fiqh,( Bandung : Pustaka Setia, 1999)

11.

Rasyad Hasan Khalil,Sejumlah legalisasi Hukum Islam, ( Jakarta : Sinar Grafika


Offset, 2009)