Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Guru adalah pengelola kegiatan proses belajar mengajar dimana dalam hal ini guru
bertugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa agar bisa mencapai tujuan belajar.
Guru harus bisa mentransfer pengetahuannya kepada siswa selain itu guru harus
mematuhi aturan etika dimana etika menyangkut pada sopas santun dan normanorma yang berlaku. Makalah ini membahas tentang profesionalisasi dan etika
prosefi guru, dimana nantinya seorang guru harus mempunyai sikap yang positif agar
bisa ditiru oleh peserta didik.
B. Rumusan Masalah
1. Pesan guru sedunia untuk profesionalisasi
2. Pengembangan keprofesian guru
3. Pengembagan-diri meneju guru profesional
4. Profesionalisasi dan etika profesi guru
5. Profesionalisasi guru dimancanegara
6. Pernyataan PGRI untuk martabat guru
7. Reformasi pendidikan
8. Komunitas pembelajaran
C. Tujuan
Agar dapat menambak wawasan dan pengetahuan tentang profesionalisasi dan etika
profesi guru

BAB II PEMBAHASAN

A. Pesan Guru Sedunia Untuk Profesionalisasi


1. Pesan Guru sedunia
Secara organisatoris, guru indonesia menjadi bagian dari guru sedunia.
Karena itu uraian berikut ini sangat bermakna untuk membedah harapan kita
menghadirkan guru indonesia ynag menjadi profesional diruang kelas dalam
rangka menyiapkan generasi muda yag bermutu pada masa depan. Merekalah
yang akan menjadi generasi muda yang siap bersaing pada era globalisasi. Yaitu
yang berkaitan dengan hasil konggres dunia ke-5 education international yang
dilaksanakan di hotel estrel, berlin, dari tanggal 22 sampai dengan 26 juli 2007
Kongres ini diikuti lebih dari 1.686 peserta mewakili 331 organisasi guru
dari mancanegara, dengan keanggotaan lebih dari 30 juta orang. Tema kongrea
adalah educators joining together for quality education and social jistice
tema ini terdiri dari empat subtema. Pertama, pendidik semua orang terlibat dalam
menentukan perbaikan mutu pendidikan terutama afiliasi education international
(EI) dengan semua anggotanya. Kedua, joining together- merefleksi pada
partisipasi semua anggota dalam unitas pendidikan dan kebutuhanuntuk
bekerjasama antarorganisasi afiliasi dalam solidaritas unutk mencapai tujuan
pendidikan. Ketiga, penyedian pendidikan berkulitas bagi semua adalah salah satu
tujuan kebijakan pimpinan EI dan organisasi afiliasinya. Keempat, mencapai
keadilan sosial bagi semua adalah kunci tujuan kebijakan EI
2. Guru Pahlawan Setiap Hari
Acara kongres ini dibuka oleh horst kholer, presiden republik Federal
Jerman. Pada kesempatan itu horst kohler mengamanatkan beberapa hal. Pertama,
pendidikan merupakan hak asasi manusia. Kedua, pendidikanharus mampu
membekali siswa agar mandiri dan dapat menjalani kehidupan masa depan secara
baik. Ketiga, diseluruh dunia menjalani kehidupan masa depan secara baik.
Ketiga, diseluruh dunia, lebih dari 80 juta anak usia sekolah yang sama sekali
belum mengenyam pendidikan. Keempat, sejalan dengan tujuan pembangunan
milenium pada tahun 2015 semua anak usia sekolah harus dipenuhi hak-haknya
unutk memasuki bangku sekolah. Kelima, inisiatif unutk mencapai tujuan itu
mengharuskan keterlibatan gurur secara penuh unutk mewujudkannya. Keenam,
setiap hari guru menjadi pahlawan, karena keterlibatan guru secara penuhlah yang

memungkinkan anak didik menjadi manusia masa depan yang mampu menjalani
kehidupan secara baik.
3. Resolusi Kongres
Resolusi kongres adalah produk pemikiran untuk menentukan kebijakan
atau membuat keputusan mengenai isu yang muncul, khususnya dibidang
pendidikan dan keguruan secara internasional. Resolusi merupakan ekspresi
formal atas pendapat atau keinginan yang disepakati bersama oleh anggota .
resolusi juga bermakna sebuah deklarasi pendapat yang menjadi rencana tindakan.
Resolusi memuat usulan kebijakan baru atau mengembangkan kebijakan yang ada
secara kekinian. Resolusi memuat pendapat atas situasi kekinian atau situasi yang
sedang berlangsung yang akan menjadi dasar tidakan
4. Deskripsi Tujuan
1) Tujuan kesatu
Mewujudkan hak semua warganegara atas pendidikan yang berlangsung
melalui pendanaan dan pengaturan negara atas sistem pendidikan. EI akan
mendorong

pelaksanaan

dan

pendanaan

pendidikan

semua

oleh

pemerintah
2) Tujuan kedua
Peningkatan kesejahteraan dan status guru serta tenaga kependidikan
melalui penerapan yang efektif atas hak asasi dan hak berorganisasi, serta
kebebasan profesionalanggotannya. Promosi dan penguatan hak asasi dan
hak berserikat itu dimaksudkan untuk meningkatkan status profesional dan
otonomi guru dan tenaga kependidikan.
3) Tujuan ketiga
Menghilangkan segala bentuk diskriminasi dalam bidang pendidikan
berbasis gender, ras, status perkawinan, kekurang mampuan, orientasi
seksual, usia, agama, afiliasi politik, status sosial dan ekonomi, suku
bangsa, adat istiadat, serta dorongan pemahaman, toleransi, dan
penghargaan atas keragaman budaya komunitas. EI menentang segala
bentuk diskriminasi dan mendorong peran dan status perempuan dibidang
pendidikan.
4) Tujuan keempat
Mendorong demokrasi, pembangunan berkelanjutan, perdagangan yang
fair, layanan sosial dasar, kesehatan dan keamanan, melalui solidaritas dan
kerjasama di antara organisasi, gerakan organisasi kekaryaan internasional
dan masyarakat madani.
5) Tujuan kelima

Penguatan EI melalui kesertaan dalam semua organisasi yang berafiliasi


dalam kehidupan EI, dan Mendorong kesatuan dibidang pendidikan.
Tujuan ini diwujudkan melalui kerjasama pembangunan.
5. Ringkasan Resolusi
1) Peran strategi guru dan tenaga kependidikan
2) Gender dan kesetaraan imbalan guru wanita dan pria
3) Staf pengajar perguruan tinggi
4) Joining together untuk membangun gerakan organisasi yang efektif
5) Pendidikan berkualitas kini dan ke depan
6) Pendidikan vokasional dan pelatihan
7) Manajemen sistem pendidikan
8) Keadilan sosial bersatu untuk keadilan sosial yang lebih besar
9) Status guru
10) Pelatihan guru
B. Pengembangan Keprofesian Guru
1. Pengertian Profesi dan Pengembangan Profesi
Menurut Martinis Yamin (2006: 2-3) menyatakan profesi merupakan seseorang
yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, tehnik, dan prosedur
berlandaskan intelektualitas. Dengan demikian profesi merupakan makna, bahwa
profesi yang disandang oleh tenaga kependidikan atau guru, adalah suatu pekerjaan
yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, keahlian, dan
ketelatenan untuk menciptakan anak memiliki perilaku suatu sesuai dengan yang
diharapkan.
Menurut Sudarwan Danim (2002: 21) menyatakan bahwa secara terminologi,
profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan
tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental bukan pekerjaan
manual. Kemampuan mental yang dimaksudkan disini adalah adanya persyaratan
pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis.
Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan
pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk meningkatkan mutu, baik bagi proses
belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya. Macam kegiatan
guru yang termasuk kegiatan pengembangan profesi adalah:
(1) mengadakan penelitian dibidang pendidikan,
(2) Menemukan teknologi tepat guna dibidang pendidikan,
(3) Membuat alat pelajaran/peraga atau bimbingan,
(4) Menciptakan karya tulis,
(5) Mengikuti pengembangan kurikulum (Zainal A & Elham R, 2007: 155).
Pengembangan profesi seperti yang dimaksud dalam petunjuk teknis jabatan
fungsional guru dan angka kreditnya, adalah kegiatan guru dalam rangka
pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk peningkatan
4

mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan
lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi
pendidikan . Unsur Pengembangan profesi sifatnya wajib bagi guru yang telah
menduduki pangkat/jabatan guru Pembina, hal ini dikarenakan pangkat jabatan guru
Pembina diharapkan tumbuh daya analisis, kritis serta mampu memecahkan masalah
dalam lingkup tugasnya.
Ada tiga pilar pokok yang ditunjukkan untuk suatu profesi, yaitu pengetahuan,
keahlian, dan persiapan akademik. Pengetahuan adalah segala fenomena yang
diketahui yang disistematisasikan sehingga memiliki daya prediksi, daya kontrol,
dan daya aplikasi tertentu. Pada tingkat yang lebih tinggi, pengetahuan bermakna
kapasitas kognitif yang dimiliki oleh seseorang melalui proses belajar. Keahlian
bermakna penguasaan substansi keilmuwan yang dapat dijadikan acuan dalam
bertindak. Keahlian juga bermakna kepakaran dalam cabang ilmu tertentu untuk
dibedakan dengan kepakaran lainnya. Persiapan akademik mengandung makna
bahwa untuk mencapai derajat profesional atau memasuki jenis profesi tertentu
diperlukan persyaratan pendidikan khusus, berupa pendidikan prajabatan yang
dilaksanakan pada lembaga pendidikan formal, khususnya jenjang perguruan tinggi
(Sudarwan Danim, 2002: 22).
2. Karakteristik, Ciri dan Syarat Profesi
1.

Karakteristik Profesi

Sesuatu pekerjaan itu dapat dipandang sebagai suatu profesi apabila minimal telah
memadai hal-hal sebagai berikut:
a) Memiliki cakupan ranah kawasan pekerjaan atau peyanan khas, definitif dan
sangat penting dibutuhkan masyarakat.
b) Para pengemban tugas pekerjaan atau pelayanan tersebut telah memiliki
kawasan, pemahaman dan penguasaan pengetahuan serta perangkat teoritis
yang relevan secara luas dan mendalam, menguasai perangkat kemahiran
teknis kerja pelayanan memadai persyaratan standarnya, memiliki sikap
profesi dan semangat pengabdian yang positif dan tinggi, serta kepribadian
yang mantap dan mandiri dalam menunaikan tugas yang diembannya dengan
selalu mempedomani dan mengindahkan kode etika yang digariskan institusi
( organisasi ) profesinya.
c) Memiliki sistem pendidikan yang mantap dan mapan berdasarkan ketentuan
persyaratan standarnya bagi penyiapan maupun pengembangan tenaga
pengemban tugas pekerjaan profesional yang bersangkutan, yang lazimnya
5

diselenggarakan pada jenjang pendidikan tinggi berikut lembaga lain dan


organisasi profesinya yang bersangkutan.
d) Memiliki perangkat kode etik profesional yang telah disepakati dan selalu
dipatuhi serta dipedomani para anggota pengemban tugas pekerjaan atau
pelayan profesional yang bersangkutan.
e) Memilki organisasi profesi yang
mengembangkan

kemampuan

menghimpun,

profesional,

membina,

melindungi

dan

kepentingan

profesional serta memajukan kesejahteraan anggotanya dengan senantiasa


mengindahkan kode etikanya dan ketentuan organisasinya.
f) Memiliki jurnal dan sarana publikasi profesional lainnya yang menyajikan
berbagai karya penelitian dan kegiatan ilmiah sebagai media pembinaan dan
pengembangan para anggotanya serta pengabdian kepada masyarakat dan
khazanah ilmu pengetahuan yang menopang profesinya.
g) Memperoleh pengakuan dan penghargaan yang selayaknya baik secara social
( masyarakat) dan secara legal ( dari pemerintah yang bersangkutan atas
keberadaan dan kemanfaatan profesi termajsud).
2. Syarat-syarat Profesi
Robert. W. Richey ( Arikunto, 1990 : 235) mengemukakan ciri-ciri dan syarat-syarat
profesi sebagai berikut :
a) Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal dibandingkan
dengan kepentingan pribadi.
b)
Seorang pekerja professional, secara aktif memerlukan waktu yang
panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan
khusus yang mendukung keahliannya.
c) Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu
mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.
d) Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap dan cara
kerja.
e) Membutuhkan suatu kegiatan yang sangat tinggi.
f) Adanya organisasi yang dapat meninggalkan standar pelayanan, disiplin diri
dalam profesi, serta kesejahteraan anggotanya.
g) Memberikan kesempatan untuk memajukan, spesialisasi, dan kemandirian.
h) Memandang profesi suatu karier hidup ( alive career) dan menjadi seorang
anggota yang permanen.
3. Cirri-ciri dan Syarat- syarat Profesi Guru
Ciri-ciri dan syarat-syarat di atas dapat digunakan sebagai criteria atau tolok ukur
keprofesionalan guru. Selanjutnya criteria ini akan berfuingsi ganda, yaitu untuk :

a) Mengukur sejauh mana guru-guru di Indonesia telah memenuhi criteria


profesionalisasi.
b) Dijadikan titik tujuan yang akan mengarahkan segala upaya menuju
profesionalisasi guru.
3. Pengembangan Profesi Keguruan
1. Tanggung Jawab Guru
Paling sedikit ada enam tugas dan tanggung jawab guru dalam mengembangkan
profesinya, yakni :
a.
Guru bertugas sebagai pengajar.
b. Guru bertugas sebagai pembimbing.
c.
Guru bertugas sebagai administrator kelas.
d. Guru bertugas sebagai pengembang kurikulum.
e.
Guru bertugas untuk mengembangkan profesi.
f.
Guru bertugas untuk membina hubungan dengan masyarakat.
Tugas dan tanggung jawab di atas merupakan tugas pokok profesi guru. Guru
sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan
melaksanakan pelajaran. Tugas dan tanggung jawab guru sebagai pembimbing
memberi tekanan kepada tugas memberikan bantuan kepada siswa dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya. Tugas dan tanggung jawab sebagai
administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanaan
bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya. Tanggung jawab
mengembangkan kurikulum membawa implikasi bahwa guru dituntut untuk selalu
untuk mencari gagasan-gagasan baru, penyempurnaan praktik pendidikan,
khususnya dalam praktik pengajaran. Tanggung jawab mengembangkan profesi pada
dasarnya ialah tuntutan dan panggilan dan untuk selalu mencintai, menghargai,
menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggungf jawab profesinya. Tanggung jawab
dalam membina hubungan dengan masyarakat berarti guru harus dapat berperan
menempatkan sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat serta sekolah sebagai
pembaharu masyarakat.
2. Peran dan Tugas Guru
Sepanjang sejarah perkembangannya, rumusan profil tenaga pengajar ( Guru)
ternyata bervariasi, tergantung kepada cara mempersepsikan dan memandang apa
yang terjadi peran dan tugas pokoknya :
a) Guru sebagai pengajar.
b) Guru sebagai pengajar dan juga sebagai pendidik.
c) Guru sebagai pengajar, pendidik, dan juga agen pembaharuan dan
pembangunan masyarakat.
d) Guru yang berkewenangan berganda sebagai pendidik professional dengan
bidang keahlian lain selain kependidikan.
7

4. Kegiatan Guru Yang Termasuk Pengembangan Profesi


Menurut Danim (2011:94) dalam mengembangkan profesi guru dapat dilakukan
melalui berbagai strategi dalm bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat) maupun
bukan diklat, antara lain:
1. Pendidikan dan pelatihan
a) In-house training (IHT). Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang
dilaksanakan secara internal dikelompok kerja guru, sekolah, atau tempat
lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Strategi pembinaan
melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian kemampuan
dalam meningkatkan kompetensi dan karier guru tidak harus dilakukan
secara eksternal, tetapi dapat dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi
yang belum dimiliki oleh guru lain. Dengan srategi ini diharapkan dapat
menghemat waktu dan biaya.
b) Program magang. Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan
didunia kerja atau industri yang relevan dalam rangka meningkatkan
kompetensi profesional guru. Program magang ini diperuntukan bagi guru
dan dapat dilakukan selama periode tertentu, misalnya, magang disekolah
tertentu untuk belajara menejemen kelas atau menejemen sekolah efektif.
Program magang dipilih sebagai alternatif pembinaan dengan alasan bahwa
keterampilan tertentu yang memerlukan pengalaman nyata.
c) Kemitraan sekolah. Pelatihan melalui kemiraan sekolah dapat dilaksanakan
antara sekolah yang baik dan kurang baik, antara sekolah negeri dan swasta.
Jadi pelaksanaannya dapat dilakukan di sekolah atau di tempat mitra sekolah.
Pembinaan lewat mitra sekolah diperlukan dengan alasan bahwa beberapa
keunikan atau kelebihan yang dimiliki mitra, misalnya, dibidang menejemen
sekolah atau kelas.
d) Belajar jarak jauh. Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan
tanpa menghadirkan instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat
tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan melalui internet dan sejenisnya.
Pembinaan lewat belajar jarak jauh dilakukan dengan pertimbangan bahwa
tidak semua guru terutama di daerah terpencil.
e) Pelatihan berjenjang dan khusus. Pelatihan jenis ini dilaksanakan di lembagalembaga pelatihan yang diberi wewenang, dimana program disusun secara
berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut, dan tinggi. Jenjang
pelatihan disusun berdasarkan tingkat kesulitan dan jenis kompetensi.
8

Pelatihan khusus (spesialisasi) disediakan berdasarkan kebutuhan khusus


atau disebabkan adanya perkembangan baru dalam keilmuan tertentu.
f) Kursus singkat di perguruan tinggi atau lembaga pendidikan lainnya. kursus
singkat dimaksud untuk melatih meningkatkan kemampuan guru dalam
beberapa kemampuan melakukan penelitian tindakan kelas, menyusun karya
ilmiah, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
g) Pembinaan internal oleh sekolah. Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh
kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki kewenangan membina, melalui
rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugas-tugas internal tambahan,
dan diskusi dengan teman sejawat.
h) Pendidikan lanjut. Pembinaan profesi guru melalui pendidikan lanjut juga
merupakan alternatif bagi peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru.
Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut ini dapat dilaksanakan dengan
memberikan tugas belajar baik dalam maupun luar negeri bagi guru yang
berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan menghasilkan guru-guru
pembina yang dapat membantu guru-guru lain dalam upaya pengembangan
2.

profesi.
Non-pendidikan dan pelatihan
a) Diskusi masalah pendidikan. Diskusi ini diselenggarakan secara berkala
dengan topik diskusi sesuai dengan masalah yang dialami di sekolah.
b) Seminar. Pengikutsertaan guru dalam kegiatan seminar dan pembinaan
publikasiilmiah juga dapat menjadi model pembinaan berkelanjutanbagi
peningkatan keprofesian guru. Kegiatan ini memberikan peluang kepada
guru untuk berinteraksi secara ilmiah dengan kolega seprofesinya berkaitan
dengan hal-hal terkini dalam hal upaya peningkatan kualitas pendidikan.
c) Workshop. Kegiatan ini dilakukan untuk menghasilkan produk yang
bermanfaat

bagi

pembelajaran,

peningkatan

kompetensi

maupun

pengembangan karirnya. Workshop dapat dilakukan misalnya dalam kegiatan


menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan silabus, penulisan
rencana pembelajaran.
d) Penelitian. Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian tindakan
kelas, penelitian eksperimen, ataupun jenis lain dalam rangka peningkatan
mutu pembelajaran
e) Penulisan buku/bahan ajar. Bahan ajar yang ditulis oleh guru dapat berbentuk
diktat, buku pelajaran, ataupun buku dalam bidang pendidikan.

f) Pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang dibuat oleh guru


dapat berbentuk alat peraga, alat praktikum sederhana, maupun bahan ajar
elektronik atau pembelajaran.
g) Pembuatan karya teknologi/karya seni. Karya teknologi/seni yang dibuat
guru dapat berupa karya yang bermanfaat untuk masyarakat atau kegiatan
pendidikan serta karya seni yang memiliki nilai estetika yang diakui oleh
masyarakat.
C. Pengembangan-Diri Menuju Guru Profesional
1. Konsep Profesi
Profesi sebagai kata benda berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian tertentu. Profesional sebagai kata sifat berarti memerlukan kepandaian
khusus untuk melaksanakannya. Secara etimologi, profesi berasal dari istilah bahasa
Inggris profession atau bahasa Latin profecus yang artinya mengakui, pengakuan,
menyatakan mampu atau ahli dalam melaksanakan pekerjaan tertentu (Sudarwan
Danin, 2002:20). Mengutip pendapat Ornstein dan Levine, Soetjipto (2004;15)
mengemukakan bahwa profesi adalah memerlukan bidang ilmu dan keterampilan
tertentu diluar jangkauan khalayak ramai (tidak semua orang dapat melakukannya)
dan memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang. Selanjutnya Nana
Sudjana (Uzer Usman, 2001:14) pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan
yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan
bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh
pekerjaan lain. Dari beberapa pendapat para ahli diatas tentang pengertian profesional,
maka dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa profesi adalah orang yang terdidik
dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.
2.

Beberapa Kriteria Menjadi Guru Profesional


Menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru

pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat
dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan.
Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang
bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa.Ada beberapa
kriteria untuk menjadi guru profesional:

10

a. Memiliki skill/keahlian

dalam

mendidik

atau

mengajar

Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang
memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan
dan jam terbang yang memadai. Dalam kontek diatas, untuk menjadi guru
seperti yang dimaksud standar minimal yang harus dimiliki adalah:
a) Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
b) Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
c) Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
d) Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
e) Kemampuan mengorganisir dan problem solving
f) Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik
b. PersonalitiGuru
Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing,
membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan
ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari
contonya. Guru (digugu dan ditiru) otomatis menjadi teladan. Melihat peran
tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan
personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru
bukan hanya mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.
c.

Memposisikan

profesi

guru

sebagai The

High

Class

Profesi

Di negeri ini sudah menjadi realitas umum guru bukan menjadi profesi
yang berkelas baik secara sosial maupun ekonomi. Hal yang biasa, apabila
menjadi Teller di sebuah Bank, lebih terlihat high class dibandingkan guru. jika
ingin menposisikan profesi guru setara dengan profesi lainnya, mulai di blow up
bahwa profesi guru strata atau derajat yang tinggi dan dihormati dalam masyarakat.
Karena mengingat begitu fundamental peran guru bagi proses perubahan dan
perbaikan di masyarakat. Kita perlu berguru dari sebuah negara yang pernah porak
poranda akibat perang. Namun kini telah menjelma menjadi negara maju yang
memiliki tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi yang sangat tinggi. Jepang
merupakan

contoh

bijakuntukkitatiru.

Semua orang terkesima dengan kemajuan yang dicapai Jepang. Dan tidak bisa
dipungkiri, semua perubahan dan kemajuan yang dicapai, ada dibalik sosok Guru
yang begitu dihormati dinegeri tersebut.
d. Program Profesionalisme Guru
11

a)
b)
c)
d)
e)

Pola rekruitmen yang berstandar dan selektif.


Pelatihan yang terpadu, berjenjang dan berkesinambungan (long life eduction).
Penyetaraan pendidikan dan membuat standarisasi mimimum pendidikan.
Pengembangan diri dan motivasi riset.
Pengayaan kreatifitas untuk menjadi guru karya (Guru yang bisa menjadi

guru).
f) Peran Manajeman Sekolah
g) Fasilitator program Pelatihan dan Pengembangan profesi.
h) Menciptakan jenjang karir yang fair dan terbuka.
i) Membangun manajemen dan sistem ketenagaan yang baku.
3. Membangun
sistem
kesejahteraan
guru
berbasis

prestasi.

Syarat-syarat Profesional
Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia I pada tahuan 1988 (Made Pidarta,
2000:266) menentukan syarat-syarat suatu pekerjaan profesional sebagai berikut :
1) atas dasar panggilan hidup yang dilakukan sepenuh waktu serta untuk jangka
waktu yang lama
2) telah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus
3) dilakukan menurut teori, prinsip, prosedur, dan anggaan-anggapan dasar yang
4)
5)
6)
7)
8)

sudah baku sebagai pedoman dalam melayani klien


sebagai pengabdian kepada masyarakat, bukan mencari keuntungan finansial
memiliki kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif dalam melayani klien
dilakukan secara otonom yang bisa diuji oleh rekan-rekan seprofesi
mempunyai kode etik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, dan
pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang membutuhkan
Muchlas Samani dkk (2003:3-4) mengemukakan syarat-syarat profesi

meliputi:
1) memiliki fungsi yang signifikan dalam kehidupan masyarakat dimana profesi
berada
2) memerlukan keahlian dan keterampilan tertentu yang tidak dapat dijangkau oleh
masyarakat awam pada umumnya
3) keahlian yang diperlukan dikembangkan berdasarkan disiplin ilmu yang jelas dan
sistematik
4) memerlukan pendidikan atau pelatihan yang panjang, sebelum seseorang mampu
memangku profesi tersebut
5) memiliki otonomi dalam membuat keputusan yang terkait dengan ruang lingkup
tugasnya
6) memiliki kode etik jabatan yang menjelaskan bagaimana profesi itu harus
dilaksanakan oleh orang-orang yang memegangnya

12

7) memiliki organisasi profesi yang merupakan tempat pemegang profesi berasosiasi


dan mengembangkan profesi tersebut.
Bila kita bandingkan persyaratan yang dikemukakan oleh beberapa ahli
tersebut, dapatlah disimpulkan pernyataannya hampir sama dan saling melengkapi.
Dengan demikian bahwa persyaratan profesi yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1) Pilihan terhadap jabatan itu didasari oleh motivasi yang kuat dan merupakan
panggilan hidup orang bersangkutan
2) Telah memiliki ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus yang bersifat
dinamis dan terus berkembang
3) Ilmu, pengetahuan, dan keterampilan khusus tersebut diatas diperoleh melalui
studi dalam jangka waktu lama.
4) Punya otonomi dalam bertindak ketika melayani klien.
5) Mengabdi kepada masyarakat atau berorientasi kepada layanan sosial, bukan
untuk mendapatkan keuntungan finansial semata.
6) Tidak mengadvertensikan keahliannya untuk mendapatkan klien.
7) Menjadi anggota organisi profesi.
8) Organisasi tersebut menentukan persyaratan penerimaan anggota, memmbina
profesi anggota, mengawasi prilaku anggota, memberi sanksi, dan
memperjuangkan kesejahteraan anggota.
9) Memiliki kode etik profesi.
10) Punya kekuatan dan status yang tinggi sebagai eksper yang diakui oleh
masyarakat
11) Berhak mendapat imbalan yang layak.
Jika syarat tersebut diatas dijadikan acuan, sepertinya tidak semua jenis
pekerjaan atau jabatan dapat dikategorikan sebagai profesi
4. Strategi Menjadi Guru Profesional
Pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang sedang tumbuh. Walaupun ada
yang berpendapat bahwa guru adalah jabatan semi profesional, namun sebenarnya
lebih dari itu.
Usaha profesionalisasi merupakan hal yang tidak perlu ditawar-tawar lagi
karena uniknya profesi guru. Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi seperti
kompetensi profesional, personal, dan sosial. Seseorang dianggap profesional apabila
mampu mengerjakan tugasnya dengan selalu berpegang teguh pada etika kerja,
independent (bebas dari tekanan pihak luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien
dan inovatif serta didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan prima yang didasarkan
13

pada

unsur-unsur ilmu atau teori yang sistematis, kewenangan profesional,

pengakuan masyarakat dan kode etik yang regulatif. Pengembangan wawasan dapat
dilakukan melalui forum pertemuan profesi, pelatihan ataupun upaya pengembangan
dan belajar secara mandiri.
Sejalan dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan
profesionalismenya

melalui

berbagai

kegiatan

yang

dapat

mengembangkan

kemampuannya dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain dalam


upaya menjadikan peserta didik memiliki keterampilan belajar, mencakup
keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to know),keterampilan dalam
pengembangan jati diri (learning to be), keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas
tertentu (learning to do), dan keterampilan untuk dapat hidup berdampingan dengan
sesama secara harmonis (learning to live together).
Berangkat dari makna dan syarat-syarat profesi sebagaimana dijelaskan pada
bagian terdahulu, maka dalam rangka pengembangan profesionalisme guru secara
berkelanjutan dapat dilakukan dengan berbagai strategi antara lain :

1.

Berpartisipasi didalam pelatihan atau in servie training.


Bentuk pelatihan yang fokusnya adalah keterampilan tertentu yang dibutuhkan

oleh guru untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Pelatihan ini cocok
dilaksanakan pada salah satu bentuk pelatihan pre-service atau in-service. Model
pelatihan ini berbeda dengan pendekatan pelatihan yang konvensional, karena
penekanannya lebih kepada evaluasi performan nyata suatu kompetensi tertentu dari
peserta pelatihan.
2. Membaca dan menulis jurnal atau makalah ilmiah lainnya.
Dengan membaca dan memahami banyak jurnal atau makalah ilmiah lainnya
dalam bidang pendidikan yang terkait dengan profesi guru, maka guru dengan
sendirinya dapat mengembangkan profesionalisme dirinya. Selanjutnya untuk dapat
memberikan kontribusi kepada orang lain, guru dapat melakukan dalam bentuk
penulisan artikel/makalah karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi pengembangan
profesionalisme guru yang bersangkutan maupun orang lain.

14

3. Berpartisipasi di dalam kegiatan pertemuan ilmiah.


Pertemuan ilmiah memberikan makna penting untuk menjaga kemutakhiran
(up to date) hal-hal yang berkaitan dengan profesi guru. Tujuan utama dari kegiatan
pertemuan ilmiah adalah menyajikan berbagai informasi dan inovasi terbaru di dalam
suatu bidang tertentu. Partisipasi guru pada kegiatan tersebut akan memberikan
kontribusi

yang

berharga

dalam

membangun

profesionalisme

guru

dalam

melaksanakan tanggung jawabnya.


4. Melakukan penelitian seperti PTK.
Penelitian tindakan kelas yang merupakan studi sistematik yang dilakukan
guru melalui kerjasama atau tidak dengan guru lain dalam rangka merefleksikan dan
sekaligus meningkatkan praktek pembelajaran secara terus menerus juga merupakan
strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme guru. Berbagai kajian yang
bersifat reflektif oleh guru yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan dalam melaksanakan
tugasnya, dan memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran berlangsung akan
bermanfaat sebagai inovasi pendidikan. Dalam hal ini guru diberdayakan untuk
mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri dengan penuh percaya diri.
Jika proses ini berlangsung secara terus menerus, maka akan berdampak pada
peningkatan profesionalisme guru.
5. Partisipasi di dalam organisasi/komunitas profesional.
Ikut serta menjadi anggota orgnisasi profesional juga akan meningkatkan
profesionalisme seorang guru. Organisasi profesional biasanya akan melayani
anggotanya untuk selalu mengembangkan dan memelihara profesionalismenya
dengan membangun hubungan yang erat dengan masyarakat. Dalam hal ini yang
terpenting adalah guru harus pandai memilih suatu bentuk organisasi profesional yang
dapat memberi manfaat utuh bagi dirinya melalui bentuk investasi waktu dan tenaga.
Pilih secara bijak organisasi yang dapat memberikan kesempatan bagi guru untuk
meningkatkan profesionalismenya.
6. Kerjasama dengan tenaga profesional lainnya di sekolah
Seseorang cenderung untuk berpikir dari pada keluar untuk memperoleh
pertolongan atau informasi mutakhir akan lebih mudah jika berkomunikasi dengan
15

orang-orang di dalam tempat kerja yang sama. Pertemuan secara formal maupun
informal untuk mendiskusikan berbagai isu atau permasalahan pendidikan termasuk
bekerjasama berbagai kegiatan lain (misalnya merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi program-program sekolah) dengan kepala sekolah, orang tua peserta
didik (komite sekolah), guru dan staf lain yang profesional dapat menolong guru
dalam memutakhirkan pengetahuannnya. Berpartisipasi di dalam berbagai kegiatan
tersebut

dapat

menjaga

keaktifan

pikiran

dan

membuka

wawasan

yang

memungkinkan guru untuk terus memperoleh informasi yang diperlukannya dan


sekaligus membuat perencanaan untuk mendapatkannya. Semakin guru terlibat dalam
prolehan informasi, maka guru semakin merasakan akuntabel, dan semakin guru
merasakan akuntabel maka ia semakin termotivasi untuk mengembangkan dirinya.
D. Profesionalisasi Dan Etika Profesi Guru
1. Pengertian Profesionalisasi
Profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualitas atau kemampuan para
anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari
penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu. Profesionalisasi
mengandung makna dua dimensi utama, yaitu peningkatan status dan peningkatan
kemampuan praktis. Aksentasinya dapat dilakukan melalui penelitian, diskusi antar
rekan seprofesi, penelitian dan pengembangan, membaca karya akademik terkini, dsb.
Kegiatan belajar mandiri, mengikuti pelatihan, penataran, studi banding, observasi
praktikal, dan lain-lain menjadi bagian integral upaya profesionalisasi.
2. Profesionalisasi Guru dan Kompetensinya
Bila diperhatikan karakteristik suatu pekerjaan yang bersifat profesional seperti telah
dikemukakan sebelumnya, maka akan tampak bahwa profesi guru tidak mungkin
dapat dikenakan kepada sembarang orang yang dipandang oleh masayarakat umum
sebagai guru. Guru dalam melaksanakan tugasnya harus mempunyai kemampuan
dasar yang disebut kompetensi. Menurut Sudjana (1998), kompetensi tersebut terdiri
dari tiga bidang, yaitu:
a. Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual yang dimiliki oleh guru.
b. Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap
berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya.
c.
Kompetensi perilaku/performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai
keterampilan dan berperilaku.
3. Profesi Panggilan Jiwa
Sebelum era sekarang, telah lama sekali profesi guru di Indonesia dipersepsi
oleh masyarakat sebagai "profesi kelas dua" idealnya, pilihan seseorang menjadi
16

guru adalah "panggilan jiwa" untuk memberikan pengabdian pada sesama


manusia untuk mendidik, mengajar, melatih yang diwujudkan melalui proses
belajar mengajar serta pemberian bimbingan dan pengarahan kepada siswa agar
mencapai kedewasaan masing-masing. dalam kenyataan dilapangan profesi guru
tidaklah sekedar panggilan jiwa, tetapi juga memerlukan seperangkat keterampilan
dan kemampuan khusus.
Guru adalah profesi terhormat. Howard M. Vollmer dan Donald L. Mills
(1996) mengatakan bahwa profesi guru adalah jabatan yang memerlukan
kemampuan itelektual yang khusus, yang diperoleh dari latihan dam kegiatan
belajar yang bertujuan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam
melayani atau memberikan advis pada orang lain dengan memperoleh upah atau
gaji dalam jumlah tertentu. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan keprofesionalan guru.
Guru Profesional memilik area khusus untuk berbagi minat, tujuan dan nilainilai profesional serta kemanusian mereka. Dengan sikap dan sifat semacam itu,
Guru profesional memilik kemampuan profesionalisasi secara terus menerus,
memotivasi diri, mendisiplinkan dan meregulasi diri, mengevaluasi diri,
mengembangkan diri, berempati serta menjalin hubungan yang efektif.
Dulu orang jika ingin menjadi guru pasti banyak orang yang tidak setuju,
sehingga banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di luar jalur pendidikan
atau keguruan. Tetapi sejak ada perhatian dari pemerintah tentang nasib \guru,
melalui program-program yang menyejahtrahkan guru, baik PNS maupun Honore
seperti program sertifiaksi dan lain sebaganinya.
4. Kode Etik Guru
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian,
pasal 28 Undang-Undang ini dengan jelas menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil
mempunyai kode etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan didalam
dan

diluarkedinasan.

Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI XIII,Basumi sebagai ketua umum PGRI
menyatakan bahwa kode atik guru indonesia merupakan landasan moral dan pedoman
tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggalilan pengabdiannya
bekerja sebagai guru (PGRI, 1973). Dari pendapat ketua umum PGRI ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa dalam kode etik guru indonesia terdapat dua unsur pokok yakni:
(1)

sebagai

landasan

moral.

(2)

sebagai

pedona

tingkah

laku.

Dari uraian tersebut kelihatan, bahwa kode etik suatu profesi adalah norma17

norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan
tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma-norma tersebut berisi
petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan
profesinya dan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa yang tidak
boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, melainkan juga menyangkut tingkah
laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di dalam
masyarakat.
5. Adapun kode etik guru Indonesia
1. hubungan guru dengan peserta didik
a) Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik,
mengajar,membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
proses dan hasil pembelajaran.
b) Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan
mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan
anggota masyarakat.
c) Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara
individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.
d) Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya
untuk kepentingan proses kependidikan.
e) Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha
menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang
menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi
peserta didik.
f) Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih
sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas
kaidah pendidikan.
g) Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang
dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.
h) Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk
membantu

peserta

didik

dalam

mengembangkan

keseluruhan

kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.


i) Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali
merendahkan martabat peserta didiknya.
j) Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
k) Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan
l) Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh
perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

18

m) Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya


dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar,

menimbulkan

gangguan kesehatan,dan keamanan.


n) Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasanalasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum,
kesehatan, dan kemanusiaan.
o) Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya
kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial,
kebudayaan, moral, dan agama. Guru tidak boleh menggunakan hubungan
dan tindakan profesional dengan peserta didiknya untuk memperoleh
keuntungan-keuntungan pribadi.
2. Hubungan guru dengan pemerintah
a) . Guru memiliki komitment kuat untuk melaksanakan program pembangunan
bidang pendidikan sebagaimana di tetapkan dalam UUD 1945, UU tentang
Sistem Pendidikan Nasional, UU Tentang Guru Dan Dosen, dan ketentuan
perundang undangan lainya.
b) . Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang
berbudaya.
c) . Guru berusaha menciptakan, memilihara dan meningkatkan rasa persatuan
dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945
d) . Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah
atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.
e) . Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat
pada kerugian Negara.
3. Hubungan guru dengan orang tua
a) Guru berusaha membina hubungan kerja sama yang efektif dan efisien
dengan orangtua/wali siswa dalam melaksanakan proses pendidikan.
b) Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif
mengenai perkembangan peserta didik.
c) Guru merahasikan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang
bukan orangtua/walinya, Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk
beradaptasi dan berpartisipasi dalamn memajukan dan meningkatkan kualitas
pendidikan.
19

d) Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai


kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.
e) Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi dengan
kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
f) Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan
orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi
4. Hubungan Guru dengan Masyarakat
a) Guru menjalain kumunikasai dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan
efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan
b)

pendidikan.
Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan

meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.


c) Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
d) Guru bekerja sama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan
e)

prestise dan martabat profesinya.


Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan
masyarakat

berperan

aktif

dalam

pendidikan

dan

meningkatkan

kesejahteraan peserta didiknya.


f) Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai
agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan
masyarakat.
g) Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada
masyarakat.
h) Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan
bermasyarakat.
5. Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Guru memelihara dan meningkatkan kinerja,prestasi, dan reputasi sekolah.


Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan
Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan di luar sekolah .
Guru menghormati rekan sejawat.
Guru saling membimbing antar sesama rekan sejawat.
Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan

kesejawatan dengan standard an kearifan professional.


h) Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk
tumbuh secara professional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan
tuntunan profesionalitasnya.

20

i) Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapatpendapat professional berkaitan dengan tugas-tugas pendidikan 5dan
j)

pembelajaran.
Guru membasiskan diri pada nilai-nilai agama,moral, dan kemanusiaan

dalam setiap tindakan professional dengan sejawat.


k) Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat
meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugastugas professional pendidikan dan pembelajaran.
l) Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dan kaidahkaidah agama,moral,kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
m) Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru berkaitan
dengan kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.
n) Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang
akan merendahkan martabat pribadi dan professional sejawatnya.
o) Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas
dasar
p)

pendapat

siswa

atau

masyarakat

yang

tidak

dapat

di

pertanggungjawabkan
Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk

pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.


q) Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau
tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.
6. Hubungan Guru dengan Profesi
a) Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
b) Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan
dan bidang studi yang diajarkan.
c) Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.
d) Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam
menjalankan

tugas-tugas

profesional

dan

bertanggungjawab

atas

konsekuensinya.
e) Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
f)
Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang
g)

akan merendahkan martabat profesionalnya.


Guru tidak boleh menerima janji,pemberian, dan pujian yang dapat

h)

mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan profesionalnya.


Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari
tugas-tugas dan tanggungjawab yang muncul akobat kebijakan baru dan di
bidang pendidikan dan pembelajaran.

21

7. Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinya


a) Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif
dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan
kependidikan.
b) Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang
memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan.
c) Guru aktif mengembangkan organisasai profesi guru agar menjadi pusat
informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan
masyarakat.
d) Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam
menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas
e)

konsekuensinya.
Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk
tanggungjawab,inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan

profesional lainnya.
f) Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang
g)

dapat merendahkan martabat dan eksistensi organisasi profesinya.


Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk

h)

memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.


Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotan sebagai organisasi
profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

E. Profesionalisasi Guru Di Mancanegara


1. Pengembangan Profesi Guru di Finlandia
Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia.
Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai
dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri
semua guru di seluruh dunia.
Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional
yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur
kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya,
Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam
pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua
22

siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara
lainnya. Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa
dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang
agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan
jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan
dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50
jam perminggu
Negara filandia merupakan negara yang berhasil meningkatkan kualitas
pendidikan nomor 1 di dunia hal ini Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik
dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat
dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik
biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan
hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang
masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!
Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas
seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula. Ini
memberi gambaran bahwa di finlandia profesi guru merupakan profesi yang paling
terhormat dan begengsi.
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan serta pelatihan guru yang
berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan
kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk
menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang
mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat
penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing
itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita
cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada

23

usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan


tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Dengan sistem seperti ini Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri,
bahkan sejak Pra-TK. Ini membantu siswa belajar bertanggung jawab atas pekerjaan
mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan
kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus
selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan
berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih
banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak
belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang
siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak
komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak
menyenangkan, sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di
Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk
dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan
tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
mereka, jika kita mengatakan Kamu salah pada siswa, maka hal tersebut akan
membuat siswa malu. Dan jika meremeka malu maka ini akan menghambat mereka
dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan
siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar
bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru
memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
24

Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru


yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung
jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru di
Finlanda, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar
ucapan guru yang sangat bertanggungjawab. Pertanyaan yang harus di jawab dengan
nurani pernakah kita guru di Indonesia beranggapan seperti itu.
2. Pengembangan Profesi Guru Di Singapura
Di Singapura, yang berhasil menjadi guru, lalu tidak harus santai-santai. Guru
dituntut produktif, kreatif dan berkembang. Setiap sekolah mempunyai teachers
assessment (penilaian guru). Jika kepala sekolah sudah menyatakan seorang guru
tidak mampu bekerja dan diberhentikan, maka selesai sudah profesi guru bagi orang
tersebut. Karena orang tersebut tidak akan pernah di terima kerja sebagai guru di
sekolah manapun di Singapura. Bayangkan, hanya sekali kesempatan menjadi guru.
Jika sudah diberhentikan orang tersebut dapat mencari profesi lain selain guru. Dari
wawancara dengan seorang guru bernama miss Anita, keturunan India, dia
menyatakan, bahwa bekerja menjadi guru di Singapura harus profesional, tidak bisa
seenaknya sendiri. Dulu saya pikir ini terlalu ketat buat guru, ternyata setelah
menjalaninya, manajemen yang sistematis dan teratur malah memantik kami untuk
lebih kreatif dan profesional, sudah bukan merupakan tekanan lagi.
Ada hal yang luar biasa yang berkaitan dengan profesi guru di sana. Pertama,
GAJI GURU. Saat ini besarnya gaji guru negeri Singapura per bulannya sekitar 6.000
dollar Singapura (1 dollas Singapura = 6.700 rupiah). Sedangkan untuk guru sekolah
swasta bervariatif, namun yang paling rendah sekitar 1.800 dollar Singapura.
Setiap guru baru maupun guru lama berhak mendapatkan jatah 100 jam
pelatihan yang diadakan oleh pemerintah. Yang lebih hebat lagi, kepala sekolahlah
yang diminta merancang topik atau materi pelatihan untuk guru-gurunya. Usulan
materi itu disetor ke dinas pendidikannya dan dari situlah dirancang pelatihan secara
nasional.
Dari hasil wawancawa dengan seorang kepala sekolah di Singapura tentang
bagaimana caranya dia merancang topik pelatihan untuk guru-gurunya. Kepala
sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya mempunyai semacam mapping
kompetensi gurunya. Saya mempunyai data materi pelatihan apa saja yang pernah
25

diikuti oleh setiap orang guru. Kita punya petanya. Dan juga evaluasi pemahaman
setiap guru terhadap materi pelatihan. Jika setelah kita evaluasi seorang guru masih
lemah terhadap satu atau dua materi pelatihan maka saya akan ikutkan lagi pelatihan
dengan topik tersebut. Kemudian kita juga meminta masukan dari guru sebagai self
asessment, materi atau topik apa saja yang mereka ingin perdalam atauu yang ingin
mereka ketahui sebagai sesuatu yang baru. Itu semua saya rancang dan saya serahan
sebagai usulan kepada dinas pendidikan. Mereka nanti menyusun dan menjadwalkan
pada waktu yang ditentukan. Kepala sekolah tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa
setiap guru yang aktif mengajar di sekolah tersebut akan mendapat pelatihan 100 jam
setiap tahun dengan topik yang berbeda-beda.
Dari hasil wawancawa dengan seorang guru matematika tingkat secondary di
sekolah Huamin School tentang pelatihan guru apa yang akan diikut pada semester
depan. Dengan serius dia menjawab, materi yang akan diikuti adalah Management
Desk, artinya bagaimana mengatur meja kerja agar bersih, enak dilihat, malah
menimbulkan kreatifitas, dan lain-lain. Betapa mereka menghargai ilmu, apapun itu
topiknya. Mereka tidak sombong. Ketika ditanya apa ada materi yang anda rasa tidak
penting untuk pekerjaan guru. Mereka menjawab, tidak ada materi yang tidak penting.
Semua kami anggap penting. Kami ingin terus mencari ilmu pada apa saja yang kami
belum tahu dan itu masalah buat kami.
3. Pengembangan Profesi di Cina
a) Sistem Pendidikan China
Ada sebuah hadist mengenai pendidikan yaitu
Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Dalam hadist ini muncul satu negara, yaitu
negeri Cina. Dari hadist ini timbul pertanyaan, ada apa dengan pendidikan cina
sehingga dapat dijadikan panutan untuk negeri lain.
Sikap orang Cina yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya telah
melahirkan sebuah filofis orang Cina mengenai pendidikan dan pendidikan ini telah
lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai pada masuknya bangsa asing ke
Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di China.. Permulaan
pendidikan Cina kuno mencampai puncak dimulai pada Dinasti Han, dimana ajaran
Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Cina,
yang sebelumnya ajaran ini dibrangus oleh penguasa sebelumnya.
26

Masyarakat Cina yang menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat, bahkan


menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan. Anggapan ini membuat pendidikan di
Cina mengiringi kembalinya popularitas aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam
masyarakat Cina. Pada masa Dinasti Han banyak melahirkan para sarjana-sarjana
yang kelak akan memimpin negara dan telah membuat Dinasti Han sebagai salah satu
dinasti yang besar dalam sejarah Cina. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh
bekas pengikut-pengikut Kung Fu Tse ini telah melahirkan sebuah golongan yang
terkenal dalam sejarah Cina dan menentukan perjalanan kekuasaan Dinasti Han, yaitu
Kaum Gentry. Kaum gentry merupakan suatu komunitas orang-orang terpelajar yang
telah menempuh pendidikan dan sistem ujian Negara. Sistem pendidikan yang
diterapkan oleh pihak pemerintahan pada saat itu pada awalnya bertujuan untuk
mencari calon-calon pejabat pemerintahan yang beraliran konfusius. Jenjang
pendidikan didasarkan atas tingkatan daerah administrative pemerintahan. Setiap
distrik memiliki sekolah-sekolah, sampai pada akademi di ibukota kerajaan. Setiap
jenjang tersebut diharuskan melewati system ujian yang terbagi ke dalam tiga tahapan.
System ujian ini dinilai sangat berat, dikarenakan dari banyak orang yang ikut ujian
ini hanya beberapa yang berhasil lulus.
Kekaisaran dinasti han telah memberikan dasar-dasar pada sistem ujian di
daratan Cina, walaupun selanjutnya ada perubahan dan penambahan. Sistem
pendidikan ini juga membawa perubahan pada stratifikasi masyarakat dan pola
prestise dalam masyarakat. System pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan
pelajar secara alami membentuk kelas baru, yang pada akhirnya menggeser posisi
bangsawan dalam stratifikasi masyarakat Cina. Dan pola prestise dalam masyarakat,
dimana masyarakat tidak lagi sepenuhnya memandang orang dari kepemilikan harta
atau keturunananya, tetapi masyarakat memandang seseorang dari jenjang pendidikan
yang telah ditempunya. Disamping itu, kaum gentry ini diberikan penghormatan dan
penghargaan berupa hak-hak istimewa dari pemerintahan dan masyarakat.
b) Kebijakan Pemerintah Cina Dalam Bidang Pendidikan.
Pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dalam membangun suatu
masyarakat bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat mengembangkan
masyarakatnya menjadi masyarakat dan bangsa yang maju. Karena melalui
pendidikan akan dapat dikembangkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai
27

dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ingin dikembangkanya. Semua


keberhasilan itu, tidak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh para pemimpin Cina
dalam melakukan reformasi dalam berbagai aspek kehidupan di Cina, terutama dalam
dunia pendidikan.
Cina, dalam beberapa tahun terakhir, berhasil membuat prestasi yang sangat
mengagumkan, yaitu merubah kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, yang tadinya
hanya sebagai negara berkembang, yang hanya mampu menyediakan kebutuhan dasar
masyarakatnya, kemudian berubah dan masuk ke tahap awal menjadi masyarakat
yang makmur. Perubahan yang dialami Cina merupakan perubahan yang sangat
berarti. Perkembangan ekonomi dan kemajuan yang dialami Cina sangat dikagumi
dunia dan dihormati oleh banyak kalangan. Keyakinan mereka membangun bangsa
melalui sektor pendidikan terlihat dari upaya ekspansi yang berkelanjutan yang
dilakukan sejak tahun 1980 sampai awal tahun 1990. Selama periode ini, pendidikan
terus mengalami kemajuan secara cepat, dan banyak inovasi yang historis selama
dekade tersebut.
Kemajuan dunia pendidikan yang terjadi di akhir 90-an dan awal 2000 di Cina
tidak lepas dari peran dari seorang birokrat yang memiliki visi dan komitmen yang
kuat terhadap dunia pendidikan. Li Lanqing, yang pada tahun 1993 di angkat menjadi
Wakil Perdana Menteri Cina, sekaligus ditugasi untuk menangani masalah pendidikan
di negeri tirai bambu tersebut, adalah orang yang dianggap berhasil melaksanakan
tugasnya mendorong kemajuan Cina melalui reformasi dalam bidang pendidikan. Li
Lanqing sebenarnya bukan tokoh yang berlatar belakang bidang pendidikan.
Pada tahun 1993, tercatat, guru memiliki gaji yang rendah dan disadari, kondisi
ini akan berpengaruh terhadap kinerja dan profesionalitas guru dalam melaksanakan
tugasnya. Bagaimana dapat menuntut guru melaksanakan tugas dengan optimal, kalau
dirinya menghadapi masalah dengan kesejahteraan diri dan keluarganya. Pada tahun
1989, dana dari negara untuk pendidikan hanya 9,4 milyar yuan. Dengan dana sebesar
itu, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan dunia pendidikan, yang
harus melayani masyarakat lebih dari satu milyar orang. Li Lanqing memandang
bahwa yang bertanggung jawab menyediakan pendidikan yang layak adalah
pemerintah. Pendidikan dasar, khususnya untuk wajib belajar, sangat tergantung pada
alokasi dana dari pemerintah. Demikian juga dengan pembiayaan pengembangan
28

infrastruktur untuk pendidikan keterampilan dan pendidikan tinggi, sangat bergantung


pada dukungan dana dari pemerintah. Hanya permasalahannya adalah semua itu harus
diatur dengan undang-undang.
Beberapa inovasi lain telah digulirkan Cina adalah, diberlakukannya wajib
pendidikan dasar 9 tahun dan penghapusan buta huruf bagi anak muda dan setengah
baya. Inovasi ini berhasil meningkatkan tingkat pendidikan nasional secara berarti.
Pendidikan tinggi dikembangkan secara cepat dengan beberapa perubahan awal,
diantaranya pembelajaran dikembangkan dengan menekankan pada peningkatan
kualitas siswa, seperti mengembangkan karakter siswa sebagaimana penguasaan
pengetahuan (kognisi). Penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan juga telah
berhasil mendorong mempercepat moderinisasi. Kompensasi, kesejahteraan dan status
sosial guru telah banyak dikembangkan, dan membuat profesi tersebut mendapat
respek dan penghormatan dari masyarakat. Pendidikan swasta berkembang dengan
cepat. Hal ini ditandai dengan banyak jenis sekolah dibangun. Pertukaran pendidikan
dan kerja sama dengan negara lain secara aktif dan luas telah memperkuat daya
saing/kompetisi di dunia.
Pada dekade terakhir, sejumlah permasalahan besar telah terpecahkan. Total
dana pendidikan nasional telah mencapai rata-rata 20% per tahun, dan mencapai 548
milyar yuan pada tahun 2002, lima kali lebih banyak dibanding tahun 1993. Di akhir
abad 20, wajib pendidikan dasar 9 tahun telah mendekati universal dan remaja dan
orang-orang setengah baya telah bebas dari buta huruf, sementara pendidikan
menengah telah meningkat dengan sangat pesat. Sejak tahun 1999, institusi
pendidikan tinggi telah mengerahkan banyak siswa setiap tahunnya hingga tahun
2002. Terdapat 16 juta siswa di jenis pendidikan tinggi yang berbeda. Berdasarkan
statistik UNESCO terakhir skala pendidikan tinggi Cina adalah terbesar di dunia.
Selama sepuluh tahun perubahan dan pengembangan secara keseluruhan telah
menciptakan suatu pemandangan pendidikan baru di Cina.
Untuk mengembangkan pendidikan karakter tersebut, maka Li Lanqing
melakukan reformasi pada kurikulum, buku teks, dan sistem evaluasi dan testing.
Kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak;
kurikulum diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi yang dimiliki anak agar
berkembang secara optimal, melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada siswa
29

melalui diskusi, mendorong pada pengembangan berfikir inovatif, dan pembelajaran


yang berkualitas.
Untuk mengembangkan kompetensinya, guru di Cina dituntut harus mempunyai
beberapa kemampuan yakni:
1.Kemampuan menguasai bahan.
2.Kemampuan mengelola program belajar mengajar.
3.Kemampuan mengelola kelas.
4.Kemampuan menggunakan media.
5.Kemampuan menguasai landasan-landasan pendidikan.
6.Kemampuan menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran.
7.Kemampuan mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
8.Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah.
9.Kemampuan memahami prinsip-prinsip guna keperluan pengajaran.
Untuk mencapai kemampuan-kemampuan tersebutut, guru dicina diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kompetensinya baik secara
individu maupun secara kelompok. Pemerintah cina sangat merespon jika ada guru
yang berhasil melakukan inovasi dalam bidang pendidikan, pemerintah tidak
tanggung-tanggung akan memberikan kesempatan tambahan penghasilan bagi guru
yang berprestasi.
Berikut dalam makalah ini penulis mencoba membagi informasi mengenai
pretasi Cina khusunya daam bidang matematika yang merupakan gambaran betapa
tingginya kualitas pendidikan di Negara itu.
Sejak

pertama

kali

mengikuti

Olimpiade

Matematika

Internasional

(International Mathematical Olympiad) tahun 1985 di Joutsa, Finlandia sampai


dengan IMO tahun 2008 di Madrid, Spanyol, siswa-siswa sekolah menengah dari
Cina telah berhasil mengumpulkan 101 medali emas, 26 perak dan 5 perunggu.
Bandingkan dengan Indonesia yang sampai sekarang baru berhasil mendapat 3 medali
perak dan 12 perunggu sejak pertama kali ikut IMO tahun 1988 diCanbera Australia.

30

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan siswa-siswa Cina menjadi sangat luar
biasa dalam IMO? Yang paling utama adalah sistem pendidikan di Cina yang dapat
membuat siswa sangat tertarik dengan matematika dan dapat mengidentifikasi siswasiswa yang potensial dalam bidang tersebut. Dalam hal inilah Cina sangat unggul.
Guru-guru matematika di Cina tidak memerlukan banyak pelatihan dalam
pengembangan profesinya, tetapi mereka sangat spesialis dan mau bekerja keras
dalam mendalami profesinya. Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah banyak
sekali guru matematika di Cina yang menggemari dan menggeluti kompetisi
matematika. Cina mempunyai jaringan pelatih khusus untuk kompetisi matematika di
seluruh negeri yang dapat mengidentifikasi dan membimbing siswa-siswa yang
berbakat matematika.
Setiap tahun lebih dari 10 juta siswa sekolah menengah di Cina yang
berpartisipasi dalam kompetisi matematika. Menurut Zuming Feng (team leader tim
IMO Amerika Serikat) yang dilahirkan dan dibesarkan di Cina sebelum berimigrasi ke
Amerika Serikat, di Cina terdapat banyak sekali guru matematika sekolah menengah
di Cina yang mengabdikan profesinya khususnya dalam kompetisi matematika.
Kemampuan matematika yang mendalam juga menjadi syarat dalam ujian
masuk perguruan tinggi di Cina. Soal ujian tersebut selalu terdiri dari tiga atau lima
soal matematika yang berbentuk pembuktian. Sebagai akibatnya siswa-siswa Cina
sudah terbiasa menghadapi soal-soal matematika level olimpiade. Faktor terakhir
adalah sistem pembinaan yang sangat keras untuk menghadapi IMO. Meskipun tidak
melalui model pelatihan jangka panjang, siswa-siswa yang mewakili Cina di IMO
paling sedikit harus melewati sepuluh tes yang selevel dengan IMO.
Keberhasilan dalam bidang matematika diatas, bukan merupakan satu-satunya
prestasi yang ditorehkan oleh negara tirai bambu, akan tetapi masih banyak prestasiprestasi lain yang di torehkan cina dalam bidang pendidikan. Keberhasilan tersebut
tidak lepas dari kerja keras semua elementerkait terutamadan juga tenaga pengajar
dalam hal ini guru, sangat menyadari aka guru yang menyadari akan tugas dan
tanggung jawabnya serta berusaha mengembangkan kompetensi yang di milikinya.

4. Pengembangan Profesi Guru di Jepang


31

Salah satu agenda reformasi pendidikan di jepang adalah peningkatan kualitas


tenaga pendidik di tingkat pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam
rencana reformasi yang di susun National Comission of Edicational Reform (NCER)
yang di tuangkan dalam The Raibow Plan Pada tahun 2001, Poin ke-5 menyatakan
bahwa tenaga guru yang profesional dihasilkan melalui beberapa cara, diantaranya
dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru
yang berprestasi, juga suasana kerja ysng kondusif untuk meningkatkan etos kerja
guru, dan pelatihan bagi guru yang kurag cakap dibidangnya.
Sebagai bentuk pelaksanaan keputusan tersebut, Central Educational council
mengeluarkan kebijakan berupashin kyouka seido (sistem evaluasi guru yang baru)
pada tahun 2002 dan kyouinmenkyou koushin seido (pembaharuan sertifikasi
mengajar) Pada tahun 2006. Menteri pendidikan , olahraga, Budaya, sains dan
teknologi (MEXT) Selanjutnya menyusun peraturan pelaksanaannya, dan pada tahun
2005 sekitar 88% prefektur telah telah menerapkannya (Hayo, 2006).
Ada dua poin yang tersirat dalam kedua kebijakan tersebut yaitu, perlinya
mengembangkan sistem evaluasi guru dan uji kelayakan terhadap sistem sertifikasi
yang selama ini berjalan. Kebijakan ini sekalipun mendapa protes dari kalangan
pendidik terutama yang tergabung dalam Teacher Union, tetapi evaluasi guru telah
diterapkan di hampir semua prefektur. Sedangkan kebijakan pembaruan lisensi
mengajar masih dalam tahap sosialisasi. Pengaruh dalam bidang pengelolaan tenaga
kependidikan utamanya terlihat dalam kebjakan evaluasi guru, sertifikasi guru, sistem
penggajian guru, dan kualifikasi tenaga pendidikan yang menjadi semakin ketat.
Untuk menjamin bahwa guru-guru memiliki kemampuan dasar yang standar
sebagai tenaga pengajar, dan sebagai bentuk pertanggungjawaban akan kualitas
pendidikan yang terjamin kepada pihak konsumen, maka sertifikasi guru di
berlakukan di berbagai negara sejak bebrapa dekade yang lalu.

Pentingnya sertifikasi guru di jepang mencuat pada masameiji saat di keuarkannya


UU tentang tentang tenaga kependidikan pada tahun 1849 (Law for certifikation of
education Personnel). Perundingan ini mengalami revisi beberapa kali hingga pada
tahun 1988. Kobayashi (1993) menjelaskan bahwa perundangan ini menunjukan
bahwa pemerintahan yang bersifat sentralistik masih berpengaruh kuat di bidang
32

pendidikan. Kebijakan tentang pengembangan guru diatur secara hukum oleh


kemetrian pendidikan dan dilaksanakan secara top-down oleh lapisan administratur di
bawahnya.
Penerapan kebijakan evaluasi guru yang dibebankan kepada Kyouikuiinkai atau the
Board of education yang da disetiap prefektur, dan pemantauan langsung oleh MEX,
menyebakan kebijakan ini di anggap tidak mengakar. Evaluasi guru di perlukan
sebagai parameter untuk mengukur pencapauan prestasi kerja guru, sekaligus sebagai
titik tolak pengembangan program pendidikan guru selanjutnya. Evaluasi guru jua
merupakan bagian dari siklis keprofesionalan seseorang ketika dia memutuskan untuk
menerjuni profesi guru. Terlepas dari tujuan aslinya untuk meningkatkan
kualitaspendidikan disekolah, kebijakan evaluasi guru juga diwarnai unsur politik
yang melbatkan birokrat dan pertikaian patai.
1) Berikut model dan pendekatan Evaluasi guru di jepang
Penilaian dalam sistem evaluasi guru yang lama (kinmuhyoutei) dilakukan
berdasarkan hasil penilaian atasan atau kepala sekolah saja, sehingga keobjektivan
dan kebenaran penilaian tidak dapat dipertanggung jawabkan. Olehnya itu banyak
pihak yang menentag metode ini termasuk teacher union.
Sistem evaluasi guru yang baru memilikim karakteristik yaitu penilaian
didasarkan pada dua komponen, Self-evaluation (jikohyouka) atau evaluasi mandiri
dan penilaian dari kepala sekolah. Penilaian mandiri bertujuan untuk mendorong guru
untuk memiliki komitmen terhadap rencana dan tujuan yang di tuliskannya, sekaligus
untuk membantu guru memahami letak kekurangan dan kelebihan atau potensi dirinya
yang perlu di perbaiki atau dikembangkan. Adapun penilaian terhadap kualitas guru
oleh kepala sekolah dan wakilnya berimbas kepada penentuan gaji, pengembangan
karir dan juga moral guru. Yaitu bahwa guru-guru yang mendapatkan penilaian kurang
baik akan berusaha untuk memperbaiki diri dan kualitas kerjanya.
Berdasarkan laporan dari komite pemeriksa sistem evaluasi guru prefektur
nagano, disebutkan bahwa ada beberapa poin yang ditentukan sebagai target penilaian
Yaitu:
a. Penilaian berdasarkan kualifikasi akademik guru, dan kegiatan mengajar di dalam
kelas berdasarkan petunjuk pengajaran yang dikeluarkan MEXT
33

b.Pembimbingan dan pembinaan kepada siswa berupa pengarahan tentang


perkebangan siswa dan kebiasaan sehari-hari serta penaganan kelas. Dalam hal ini
setiap guru diharuskan untuk memahami jiwa anak, sikap, prilaku dan perkembangan
jasmani dan rohaninya, serta mampu mengarahkannya kepada kebiasaan belajar dan
semangat hidup.
c.Kemampuan mengrahkan siswa berdasarkan kemampuannya, bakat dan kemampuan
akademiknya, baik secara pribadi maupun bekerja sama dengan keluarga anak.
d.Kemampuan membina anak untuk bekerja sama dalam kegiata atau event khusus
diluar jam pelajaran disekolah.
e.Peran guru dalam menjemen sekolah, kemampuan bekerja sama dengan teman
sejawat, memahami dan berusaha untuk mencapai tujuan sekolah.
f.Kemampuan guru untuk membina kerja sama dengan orang tua murid dan
komponen masyarakat.
g.Semangat dan motivasi guru untuk mengembangkan diri dan meningkatkan potensi
melalui kegiatan penelitian dan training.
2). Sertifikasi guru di jepang
Berbeda dengan diIndonesi, sertifikasi guru di jepang melalui sistem
perkuliahan dengan kurikulum baku dan tes Sedangkan di Indonesia, Pemerintah
dengan maksud menekan anggaran dan memudahkan para guru untuk memperoleh
sertifikat menerapkan sistem portofolio.
Berdsarkan peraturan sertfikasi tenaga pendidik tahun 1998, setiap calon guru
harus menjalani pendidikan guru di universitas atau sekolah tinggi yang telah
diakreditas Oleh MEXT. Pada tahu 2003 terdapat 85 % Universitas diepang telah
memperoleh akreditasi untuk menyelenggarakan pendidikan guru.
Tahun 2003 sebanyak 60% guru SD adalah lulusan pendidikan keguruan yang
dikelola oleh universitas, akademi atau sekolah tingi, sedangkan 60% guru SMP dan
80% guru SMA adalah lulusan universitas non kependidikan.
F. Pernyataan PGRI Untuk Martabat Guru
1. Gerakan Guru Menuju Profesionalitas

34

Konsep pendidikan kekinian memposisikan mengajar sebagai hak bukan


kewajiban guru, sementara belajar merupakan hak bukan kewajiban siswa.
Statement umum untuk adalah The right to teach and the right to learn.Statement
ini membangkitkan kesadaran bahwa guru dan siswa adalah inti proses pendidikan dan
pembelajaran, selebihnya adalah supporting system. Jika guru dan sisiwa tidak mau
menunaikan hak-haknya, dunia pendidikan persekolahan akan mengalami lumpuh total,
dan siapa pun nyaris tidak bisa menggantikan fungsi guru dalam makna sebenarnya.
Oleh karena mengajar adalah hak guru, maka perlindungan profesi,
perlindungan hukum, da efisiensi manajemen, serta system remunerasi dan
kesejahteraan harus terjamin. Sejalan dengan itu, sarana pendidikan dan pembelajaran
wajib dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat sebagai organisasi penyelenggara demi
perwujudan hak untuk mengajar dan hak untuk belajar. Pemenuhan atas hak-hak
adalah prasyarat perbaikan mutu pendidikan.
Untuk mengambil pengalaman di Indonesia, dimana organisasi profesi guru
dengan keanggotaan terbesar disebut PGRI. PGRI adalah organisasi yang bersifat :
1.

Unitaristik tanpa memandang perbedaan ijazah, tempat kerja, kedudukan, suku,

laki/perempuan, agama dan asal usul,


2.

Independen yang berlandaskan pada prinsip kemandirian organisasi dengan

mengutamakan kemitrasejajaran dengan berbagai pihak, dan


3.

Tidak berpolitik praktis yang tidak terikat dan atau mengikatkan diri pada

kekuatan organisasi/partai politik manapun.


PGRI memiiki dan melandasi kegiatannya pada semangat demokrasi, kekeluargaan,
keterbukaan, dan tanggung jawab etika, moral, sertahukum. Sementara jati diri PGRI
adalah

sebagai

organisasi

perjuangan,

organisasi

profesi,

dan

organisasi

ketenagakerjaan.
PGRI memiliki jaringan yang luas dengan keanggotaan yang sangat banyak.
Dengan keanggotaannya yang besar itu, PGRI sangat terbuka dalam beberapa hal.
Pertama, melakukan tekanan pada eksekutif dan legislaitif, termasuk kepada partai
untuk secara sungguh-sungguh memperjuangkan pembangunan pendidikan dan
memperbaiki kesejahteraan guru. Kedua, melakukan sosialisasi,penyadaran dan
transformasi politik pendidikan kepada sisiwa dan masyarakat agar semua pihak
35

membangun kesadaran untuk membangun pendidikan dan mengembangkan SDM


secara sungguh-sungguh. Ketiga, member pencerahan kepada siswa dan seluruh lapisan
masyarakat untuk dapat menentukan pilihannya pada pemilu, misalnya untuk anggota
DPR, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati/Wali
Kota dan Wakil Bupati/Wakil Wali Kota,setidaknya pada tingkat criteria. Semua ini
dapat dan sah mereka lakukan, tanpa harus menjadi partisipan.
PGRI adalah organisasi yang independen. Kata independen (independent), tidak identik
netral, apalagi natural. Kata netral bermakna tidak berpihak, sementara independen
bermakna hak untuk memutuskan dan menentukan nasib sendiri, tanpa diintervensi
oleh pihak ketiga. PGRI tidak identik dengan guru, karena keanggotaannya terdiri dari
anggota biasa, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan. Pengurus PGRI pun
bervariasi, mulai dari guru aktif, guru PNS, guru non-PNS, pensiunana,birokrat
pendidikan, pakar pendidikan, dan sebagainya. Ada 2 syarat utama bagi PGRI untuk
dapat berperan aktif dalam kerangka gerakan politik pendidikan. Pertama, disiplin
organisasi dan kemampuan menunjukan kemaslahatan organisasi dari para pengurus
dimata anggotanya. Kedua, elit PGRI tidak segera ingin memperoleh hasil instan atas
perjuangannya.
UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas telah ditandatangani oleh diundangkan
tanggal 8 Juli 2003. Bebrapa pasal dari UU Sisdiknas tidak hanya menjanjikan mutu
pendidikan di Indonesia, melainkan masyarakat menunggu apakah Pemerintah dan
Pemda memiliki komitmen yang konsisten untuk mematuhi UU yang telah
dilegitimasioleh rakyat itu. Menyertai komitmen itu, jika demikian realitasnya kelak
perlu dipenuhi prasyarat pengembangan manajemen kelembagaan pendidikan. Pertama,
pemahaman posisi diri, berupa kekuatan-kekuatan, kelemahan-kelemahan, peluangpeluang dan ancaman-ancaman untuk menciptakan kesesuaian antara institusi dengan
lingkungan dan keseimbangan antara atmosfir institusi dengan lingkungan.
Kedua, kemampuan mengakomodasi dinamika lingkungan (politik, sosial,
ekonomi, teknologikal,dan ekosistem lembaga pendidikan). Ketiga, penguasaan
dimensi-dimensi

srategik,

berupa

relasi

antara

lembaga

pendidikan

dengan

lingkungannya. Keempat, pembuatan keputusan strategik, berupa kemampuan


membuat pilihan-pilihan keputusan optimal atau keputusan terbaik yang mengintegral
dengan kebutuhan institusi dan pemecahan strategiknya. Kelima, pembelajaran
36

strategik, dimana proses institusional belajar dari sukses dan kegagalan untuk tujuan
mendesain perencanaan dan manajemen strategik ke depan.
Keenam, manajemen strategik, yaitu jaminan bahwa perhatian dan fokus kerja
diinstitusi diterapkan untuk memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
Ketujuh, perencanaan strategik, yaitu proses formal yang didesain untuk membantu
organisasi mengidentifikasi dan memelihara sinergi optimal dengan lingkungannya.
Kedelapan, berpikir strategik, berupa pilihan-pilihan alur berpikir melalui proses
membuka pemikiran. Pemikiran institusional untuk sebuah rentan alternatif dan
keputusan yang mampu secara kuat menautkan dimensi-dimensi institusi, sumbersumber dan lingkungannya. Kesembilan, strategi, yaitu siasat kerja dari setiap tindakan
dan arahan untuk menjamin relasi yang optimum antara institusi dengan
lingkungannya.
Pada beberapa kesempatan pertemuan tingkat nasional PGRI mengeluarkan
beberapa pernyataan atas fenomena nasional, politik dan pemilu, pendidikan nasional,
otonomi daerah, kesejahteraan guru, dan lain-lain. Meski PGRI bukanlah organisasi
politik, pernyataan ini sangat kuat nuansa politiknya. Nuansa politik atas pernyatanpernyataan tersebut adalah sah, karena praktik politik sesungguhnya milik semua orang.
Pernyataan politik PGRI yang disajikan di bawah ini ada yang bersifat pengulangan
sebagai satu bentuk konsistensi sikap organisasi ini atas fenomena yang ada di sekitar
kita. Isi bab ini hanya untuk catatan sejarah, sebab UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen yang menjadi salah satu inti gugatan ini telah di syahkan pada tanggal 30
Desember 2005.
2. Pernyataan Kongres
Pernyataan kongres PGRI ke XIX diselenggarakan tanggal 8 sampai dengan 12
juli 2003 di Semarang yang dihadiri oleh 1024 orang utusan dan peninjau dari 28
Provinsi dan 278 Kabupaten/Kota setelah memperhatikan dan mengkaji aspirasi yang
berkembang dalam siding-sidang pleno maupun komisi, dengan dilandasi oleh jiwa,
semangat, dan nilai-nilai kejuangan PGRI serta visi dan misi PGRI.
3. Pernyataan Konpus
Konferensi Pusat (Konpus) 1 PGRI Masa Bakti XIX sebagai forum tertinggi di
bawah Kongres, berlangsung dari Tanggal 29 Februari 2004 sampai dengan 2 Maret
37

2004 di Hotel Ina Wisata, Jakarta, dihadiri oleh sebanyak 112 orang peserta/ utusan dari
30 Provinsi di Indonesia merupakan wahana untuk kerja para guru dalam
memperjuangkan hak dan mengangkat martabatnya secara demokratis dan edukatif.
4. Rekomendasi Rapim PGRI
Rapat Kerja Pimpinan PGRI diselenggarakan tanggal 7 sampai dengan 9
September 2004 di Jakarta yang dihadiri oleh 95 orang peserta terdiri atas para Anggota
Pengurus Besar, Dewan Penasehat, Ketua Pengurus PGRI Propinsi, dan Pengurus
YPLP-PGRI propinsi setelah memperhatikan dan mengkaji paparan dari para nara
sumber dan aspirasi yang berkembang dalam sidang pleno dan komisi dengan dilandasi
oleh jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan PGRI serta visi misi PGRI.
G. Reformasi Pendidikan
1. Membangun Manusia Seutuhnya
Inisiatif membangun manusia Indonesia yang berkualitas meniscayakan
komitmen pada pembangunan pendidikan dan pengembangan SDM pada umumnya
sebagai kunci utama. Rendahnya mutu SDM dan daya saing ekonomi, kenyamanan
investasi yang tidak kondusif, praktik-praktik distorsi kekuasaan masih dominan,
prestasi belajar siswa yang belum menggembirakan, dan daya kritis masyarakat belum
bangkit merupakan bagian dari fenomena kekinian di sekitar kita.
Tidak ada kata terlambat untuk merumuskan kebijakan pembangunan yang
memenuhi kriteria kebajikan bagi kemaslahatan umat. UUD Negara RI Tahun 1945
mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sisdiknas
yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan
undang-undang.
Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Adapun tujuan
pendidikan nasional versi UU No. 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

38

UU Sisdiknas mengamanatkan beberapa prinsip penyelenggaraan pendidikan


nasional. Pertama, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, menilai
keagamaan,

nilai

kultural,

dan

kemajemukan

bangsa.

Kedua,

pendidikan

diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan
multimakna. Ketiga, pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Keempat,
pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Kelima,
pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan
pendidikan.
2. Reformasi Pendidikan
Reformasi pendidikan meniscayakan sebuah komitmen politik. Reformasi
pendidikan menuntut strategi yang efektif, dimana ia menuntut perencanaan,
pelaksanaan, kriteria keberhasilan, dan pengawasan yang ketat dan bermakna. Pada
spektrum lebih luas, David D. Curtis (2000) mengemukakan, ada empat strategi
mayor dalam reformasi pendidikan, yaitu akuntabilitas berbasis standar (standardsbased accountability), reformasi sekolah secara menyeluruh (whole-school reform),
strategi pasar (market strategies), dan pembuatan keputusan yang bersifat demokratis
(shared decision-making). Ketiganya memiliki tautan yang erat.
3. Kapasitas Bermutu

Setiap sekolah harus mampu membangun keunggulan sesuai dengan potensi


internal dan akses eksternalnya. Sekolah sendiri harus memiliki kapasitas untuk
berubah. Inisiatif untuk meningkatkan mutu pun, meniscayakan kapasitas yang kuat
untuk itu. Kapasitas sebagaimana dimaksudkan di atas merupakan kombinasi antara
aspek individu dengan aspek kelembagaan. Menurut Diane Massel (1998), ada tujuh
elemen kapasitas untuk meningkatkan mutu pendidikan persekolahan, yaitu :
(1) pengetahuan dan keterampilan guru,
(2) motivasi siswa,
39

(3) materi kurikulum,


(4) kualitas dan tipe orang-orang yang mendukung proses pembelajaran di
kelas,
(5) kuantitas dan kualitas interaksi para pihak pada tingkat organisasi sekolah,
(6) sumber-sumber material, dan
(7) organisasi dan alokasi sumber-sumber sekolah di tingkat lembaga.
Untuk mencapai hal ini mungkin ditemukan sejumlah kendala mayornya, yang
oleh Eugene Schaffer dkk. (1997) diidentifikasikan sebagai berikut :
(1) kemampuan keuangan yang tidak memadai,
(2) kepemimpinan kepala sekolah yang tidak kompeten,
(3) komitmen guru yang rendah,
(4) persepsi negatif dari masyarakat,
(5) penataan staf,
(6) kurikulum,
(7) konflik politik dan rasial,
(8) keterbatasan fasilitas, dan
(10) komunikasi yang tidak kondusif.

Meski uang bukanlah daya dukung yang mampu menyelesaikan semua


persoalan, sumber-sumber keuangan dan besarnya dana pada umumnya menjadi
kendala dan sumber frustasi khusus bagi para pembaru. Keuangan sekolah secara
tradisional berbasis pada masukan yang bervariasi, dan tetap tidak ada garansi bahwa
aliran dana akan terus lancar mendukung usaha-usaha reformasi pendidikan. Dilihat
dari konteks pendidikan persekolahan, ada enam strategi yang dapat diterapkan di
sini. Pertama, membangun komitmen untuk memberi porsi penganggaran yang lebih
besar atau setidaknya secara nisbi memadai bagi keperluan penyelenggaraan
pendidikan yang bersifat reformatif. Kedua, memberi peluang kepada sekolah untuk
40

secara diskresi atau keleluasaan lebih luas mengatur keuangan secara lebih besar,
termasuk kewenangan menentukan sumber dan besarnya masukan tambahan dari luar
sektor pemerintah, dengan tidak memupus harapan anak didik untuk bersekolah.
Ketiga, menautkan kompensasi terhadap guru dengan tujuan reformasi, atau dengan
kata lain, menerapkan sistem prestasi (merit system) bagi guru ke dalam skema
reformasi pendidikan. Keempat, penerapan insentif kepada sekolah secara berbasis
pada kinerjanya. Kelima, penerapan kaidah-kaidah akuntabilitas untuk setiap ite
pembelajaran. Keenam, membangun prakarsa dana luncuran atau prakarsa yang
menghasilkan sejumlah uang (revenue generating) demi sustainabilitas reformasi
pendidikan.

4. Politik Pendaerahan Pendidikan


Desentralisasi manajemen pemerintahan, yang oleh kita populer disebut sebagai
kebijakan otoda, suka atau tidak suka, dinyatakan atau tidak dinyatakan secara resmi,
sesungguhnya akan mendorong gerakan swastanisasi atau provatisasi aneka tatanan
ekonomi dan pranata formal lain. Istilah swastanisasi atau privatisasi ini secara
sederhana antara lain dapat ditafsirkan sebagai pengalihan tugas pokok, fungsi, dan
tanggung jawab negara kepada masyarakat. Sementara dilihat dari perspektif struktur,
desentralisasi mengandung makna pemangkasan ini birokrasi yang sentralistik dengan
cara melimpahkan kewenangannya ke titik-titik paling dekat dengan masyarakat
sebagai subjek utama pembangunan, dalam hal ini di tingkat kabupaten atau kota.
Secara kualitatif, sumberdaya institusi pendidikan dapat diklasifikasi ke dalam
tiga kategori, yaitu SDM, sumberdaya material, dan sumberdaya fasilitatif.
Sumberdaya fasilitatif bermakna struktur organisasi institusi pendidikan yang telah
ditata, yang masing-masingnya diharapkan dapat menfasilitasi tugas pokok dan fungsi
unit struktur itu. Sumberdaya lainnya adalah yang mungkin diakses dimasyarakat,
baik yang ada disektor pemerintah swasta, maupun sumberdaya alam pada umumnya.
Pada tataran eksekutif institusi pendidikan, inisiatif menciptakan kondisi hubungan
sinergis-kolegial dalam tubuh masyarakat pendidikan akan menjelma secara riil,
manakala di dalam bekerja mereka lebih mengutamakan pendekatan pemberdayaan
(empowering) ketimbang otoritas.

41

Pemberdayaan merupakan prasyarat bagi perubahan budaya kerja, termasuk


perubahan kinerja dan perilaku praktikal edukasional. Perubahan budaya dimaksud
menyangkut budaya manajemen, budaya peran, budaya tugas, dan budaya individu.
Budaya manajemen merujuk pada kapasitas manajerial seorang eksekutif untuk
bekerja dengan dan melalui orang lain secara efektif, efisien, dan akuntabel. Budaya
peran bermakna apakah seseorang atau satu unit kerja telah mampu bergerak sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya. Budaya tugas mengandung makna apakah
komunikasi vertikal dan horizontal, termasuk koordinasi, telah berjalan secara
sinergis. Budaya individu merujuk pada apakah seseorang telah mampu memainkan
perannya tanpa harus selalu dipandu oleh prakarsa struktur.
Orientasi penataan struktur organisasi harus berpijak pada substansi tugas
secara ketat, sehingga tidak terjadi duplikasi, atau sebaliknya lingkup tugasnya terlalu
kecil. Karenanya, penataan struktur itu bukan berbasis pada konsiderasi untuk
menempatkan pejabat pada lembaga asal, karena belas kasihan agar pejabat lama
tidak kehilangan posisi, apalagi sebatas bagi-bagi kekuasaan.
Kultur sentralisasi manajemen pendidikan yang berjalan hampir sepanjang
sejarah pendidikan di Indonesia hingga era Otoda telah menyebabkan rendahnya
kapasitas individu secara orang perorang atau kelompok untuk memberdayakan
dirinya.
Kondisi yang sama juga nampak pada budaya manajemen, budaya peran,
budaya tugas, dan budaya individu. Budaya individu atau kelompok yang
dimaksudkan di sini merujuk apakah seseorang akademisi atau sekelompok tenaga
kependidikan telah mampu memainkan perannya tanpa harus selalu dipandu oleh
pejabat yang menduduki posisi ini.
Pendaerahan pendidikan adalah sebuah kebijakan politik, bukan hanya karena
keputusan itu diambil oleh wakil-wakil rakyat dan eksekutif, melainkan juga sebagai
bentuk pemberdayaan masyarakat setempat dalam kerangka membangun pendidikan.
Kebijakan politik pendaerahan pendidikan berimplikasi pula pada tatanan
pengelolaan pendidikan di tingkat sekolah. Institusi persekolahan akan terdorong
untuk bekerja makin otonom, dengan menerapkan pola kerja yang disebut MBS.
Dengan demikian, MBS merupakan satu bentuk reformasi pendidikan di tingkat lokal.

42

Stiegelbauer (1991) mengemukakan kendala-kendala pembaruan pendidikan di


tingkat lokal dengan model MBS adalah:
(1) waktu, pelatihan, dan bantuan teknis yang tidak memadai
(2) kesulitan merangsangkepedulian dan adaptasi terhadap perubahanperubahan yang kurang mengenakkan
(3) adanya isu-isu yang belum terealisasikan yang melibatkan kepemimpinan
administratif di satu sisi dan perluasan kekuasaan partisipan di sisi lain
(4) hambatan-hambatan melibatkan akademisi dalam pengambilan keputusan
(5) keengganan para administrator di semua jenjang birokrasi
(6) pembatasan dari banyak pihak dan peraturan dari pusat.
Dalam kaitan ini sekolah-sekolah harus dipersiapkan untuk berkembang mandiri
secara bertahap. Inisiatif ke arah ini pun mengalami banyak kendala. Antara lain:
(1) manajemen sekolah yang relatif lemah
(2) hubungan sekolah dengan masyarakat yang tidak intens dan kondusif
(3) keengganan birokrat pendidikan melimpahkan sebagian kewenangannya,
dan
(4) supervisi pengajaran secara internal belum optimum.
H. Kominitas Pembelajaran
1. Jika Binatang Secerdas Manusia
Rasa haus, kelelahan, gairah atas lawan jenis, mengantuk, kedinginan,
kepanasan, dan sejenisnya pada diri manusia dan binatang. Ketikan hal itu itu
dimiliki bersama oleh dua jenis makhluk hidup yang berbeda, maka sejatinya
perbedaan manusia dengan binatagn ada pada nalar otaknya. Mungkin juga
nalar emosi, keterampilan, dan efeksi. Manusia bisa menaklukkan binatang
yang raksasa tubuh dan energinya, hanya kerena akal atau nalar otaknya.
Bayangkan ketika binatang sekuat dan seganas singa dan harimau
memiliki kecerdasan atau nalar otak seperti manuasia pasti manusia akan
terlibas. Karena nalar harimau dan singa begitu gampang ditipu dengan
perangkap itu sebabnya jika ingin memanusiakan manusia prioritaskan
membenahi otak, keterampilan, efeksi, dan emosinya.
43

2. Guru Sebagai komunitas belajar


Kata pembelajar merujuk pada subjek yang belajar dan secara konsisten
melakukan perbuatan belajar itu. Belajar merupakan proses bernilai tambah
dilihat dari metamoforsis perilaku. Mengikuti pengalaman didunia biologi ,
metamoforsis bermakana perubahan menuju kesempurnaan atau keutuhan
bentuk.
Guru sebagai Komunitas pembelajar dapat diberi makna sebagai berikut ini.
a. Berusaha mengenali hakikat dan kesejatian dirinya, potensi dan bakat bakat
terbaiknya.
b. Berusaha menjadikan apa yang dia ketahui , dia alami, dan dia dengar sebagai
nilai tambah untuk berbuat lebih arif.
c. Berusaha untuk tidak cepat dan tidak pernah puas atas capaian terbaik sekalipun
dalam sejarah hidupnya.
d. Berusahan menjunjung tiinggi citra diri, harkat dan martabat, serta membangun
citra diri hingga benar benar mengesankan sebagai pembimbing, pendidik,
pengajar dan pelatih sejati.
e. Berusaha secara optimal untuk mengkualisasikan segenap potensi diri,
mengekspresikan dan menyatakan dirinya secara penuh dan utuh menjadi
dirinya, bukan menjadi orang lain
f. Berusaha untuk tumbuh dan berkembang dari dependen menjadi independen,
untuk

kemudian

menjadi

interdpenden

dan

berinterdependen

dan

berinterkoneksi atau bersinergi dengan subjek lain secara produktif, bermakan


dan saling menyenangkan.
Tugas guru, karenanya, bagaiman melakukan reformasi atau pembaruan
mental agar menjadi komunitas pembelajar dan ikut membentuk lingkungan
belajar itu sendiri menjadi sesuai dengan yang diinginkan. Ketika kesadaran diri
sebagai komunitas pembelajar telah menyentuh tataran mental dan kalbu
sebagai guru, godaan apapun yang mengarah kepada deprofesionalisasi profesi
akan sangat sulit menembusnya.
Membangun kesadaran guru sebagai komunitas pembelajar sangat
mungkin memakan waktu lama. Hal ini disebabkan karena sifatnya menyentuh
tataran nurani guru paling dalam.
44

Penjelmaan guru sebagai komunitas pembelajar merupakan kunci pembentukan


sekolah sebagai lingkungan belajar yang sesungguhnya. Usaha untuk
membangun sekolah sebagai lingkungan belajar sejati ini agaknya harus
bergerak dari guru tidak mau belajar lagi, dikondisikan agar tumbuh kesadaran
belajar, dan menjadikan belajar sebagai sebuah kebutuhan.
Guru - guru

yang telah sampai pada kondisi menjadikan belajar untuk

mengajar dan belajar dari pengalaman mengajar

memiliki potensi

untuk

memperoleh ganjaran yang sesuai. Pemberian hadiah bagiguru yang berprestasi,


penghargaan tinggi atas karya ilmiah/karya pengembangan profesi, pemberian
hadiah kepada guru- guru yang mampu menunjukan hasil terbaik dalam proses
pembelajaran, dan lain lain adalah bentuk riil dari ganjaran itu. Ketika
memasuki fase sadar belajar, ketika itu pula guru telah menjadi komunitas
pembelajar, ciri utamanya adalah:
a. Merasa malu jika tidak belajar untuk hidup dan memperdalam bahan ajar untuk
kepentingan anak didiknya.
b. Merasa bersalah jika menghindari sajian materi tertentu dalam kurikulum
karena tidak dimengerti.
c. Lebih mengutamakan berdiskusi soal bahan ajar ketimbang diskusi dengan
topik lain tak kala berada dikantor sekolah.
d. Lebih mengandalkan kemampuan diri ketimbang memberi tugas semata.
e. Tidak cepat merasa puas atas capaian daya serap anak dalam belajar.
f. Menjadikan belajar sebagai kebutuhan utama sebagai pengajar.
Membangun mental guru dari tidak lazim atau malas belajar (merangsang
diri untuk terus tumbuh secara profesional) kemental rajin belajar atau
bermental sebagai komunitas pembelajar demi pencapaian proses dan hasil
pembelajaran disekolah secara optimal, tidak cukup dengan mengandalkan
perubahan internal dari

mereka

secara orang seorang. Pengorganisasian

lingkungan belajar di masyarakat, hingga menajadi kondusif sebagai wahana


pembelajaran umum pun merupakan keniscayaan bagi terbangunnya ingkungan
belajar itu. Karenanya lingkungan belajar guru, siswa dan masyarakat
seumumnya yang diharapkan adalah yang menjelma seperti berikut ini.
Lingkungan pendidikan persekolahan

45

a. Terciptanya disiplin sekolah yang mendorong terbentuknya disiiplin belajar


guru dan anak.
b. Guru menjadi kunci utama layanan pendidikan dan pembelajaran, termasuk
pengembangan.
c. Kesehatan, keamanan, kenyamanan, belajar terjamin di lingkungan sekolah;
termasuk jaminan kesejahteraan.
d. Tersedia buku dan sarana pembelajaran yang lengkap, termasuk jaringan
teknologi informasi bagi keperluan pendidikan dan pembelajaran.
e. Keteladanan guru sebagai masyarakat terpelajar.
f. Kinerja profesional guru yang terandalkan, dan guru mampu memberi sugesti
kepada subyek didiknya.
g. Kinerja sumber daya tatalaksana dan teknikal yang optimal.
h. Penetapan kriteria prestasi dan hukuman bagi guru dalam melakukan tugastugas pembelajaran.
i.

Bahan ajar sebagai fokus utama diskusi guru secara antar rekan.

Linkungan rumah tangga


a. Sebagai orang tua, guru menjadi komunitas belajar atau pembaca.
b. Sebagai orang tua, guru menemani anaknya sendiri dalam belajar,bukan
sekedar menyuruh anaknya belajar.
c. Guru memiliki jadwal belajar untuk menyiapkan bahan ajar dan memeriksa
tugas-tugas anak didiknya, termasuk anaknya sendiri.
d. Sebagai orang tua, guru memantau kegiatan belajar anaknya sendiri dan
merefleksi kegiatan belajar anak didiknya.
e. Sebagai orang tua, guru memantau kemajuan belajar anaknya sendiri.
f. Tersedia ruang belajar khusus bagi guru dan anak-anaknya.
g. Tersedia perpustakaan pribadi atau perpustakaan keluarga dengan beragam
koleksi.
h. Buku dan sumber informasi lain menjadi barang konsumsi guru sebagai kepala
keluarga.
Lingkugan jaring-jaring kemasyarakatan
a. Keteladanan dan figuritas perilaku masyarakat umum sebagai komunitas
belajar.
b. Suasana edukatif, dewasa, toleransi, saling menghargai, dan keterpelajaran di
masyarakat.
46

c. Komitmen jaring-jaring kemasyarakatan menyediakan sumber daya belajar,


semisal perpustakaan, taman bacaan, sentra infrmasi,dan jaringan komunikasi.
d. Pelembagaan sikap dan sistem meritokrasi atau pendekatan prestasi di
masyarakat, termasuk dalam kerangka rekrutmen.
e. Masyarakat memiliki gairah membangun pranata pendidikan, baik formal
maupun nonformal dengan standar mutu yang sama dengan lembaga sejenis
dimanapun.
f. Tersedia wahana penampunganbagi anak anak putus sekolah atau anak
anak yang memilih pendidikan alternatif.
g. Lembaga pemerintahan memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan
misalnya, dibidang pendanaan dan penyediaan fasilitas.
Dilihat dari persepektif pendidikan sekolah, penjelmaan guru sebagai komunitas
pembelajar bermakna terbangunnya lingkungan sekolah yang kondusif bagi
peningkatan mutu proses dan produk pembelajaran secara utuh danbermutu.
Mutu dimaksud berkaitan dengan masukan, proses, keluaran, dan daya guna
lulusan dimasyarakat. Pada tataran yang lebih luas, lingkungan birokrasi
pendidikan, pengawas dan kepala sekolah sebagai administrator/manajer
bertanggung jawab agar guru terus tumbuh dan berkembang menjadi komunitas
pembelajar. Terbentuknya guru menjadi komunitas pembelajar akan membuat
mereka terhindar dari perilaku berkinerja dibawah standar ideal.
3. Lima Pilar
Bagi sebagian besar guru, membangun kebiasaan diri untuk menjadi
komunitas pembelajar mungkin merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Hanya
guru-guru berprestasi dan sungguh sungguh mencintai profesinyalah yang akan
menjelma sebagai pribadi atau komunitas pembelajar. Sebagai komunitas
pembelajar, guru guru belajar dari banyak hal, misalnya dari pengalaman
keberhasilan atau kegagalan orang lain, dan pengalaman diri sendiri yang
bersifat sukses atau yang bersifat gagal. Juga dari buku buku, jurnal, majalah,
koran, hasil hasil penilitian, hasil observasi, hingga yang bersifat spontan.
Untuk menjadi komunitas pembelajar, setidaknya guru harus menjunjung tinggi
lima pilar utama dalam perilaku keseharian.

47

a. Rasa ingin tahu. Inilah yang merupakan awal mula dari seorang atau
sekelompok guru untuk menjadi insan berpengetahuan . guru yang memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi adalah pembelajar sejati.
b. Optimisme. Inilah modal dasar seseorang atau sekelompok guru untuk tidak
mudah menyerah dengan aneka keadaan lingkungan masyarakat dan lingkungan
sekolah yang sering digambarkan sebagai buram. Adakalanya, bahkan mungkin
banyak yang terjadi, karena tampil pesimis, guru tiba tiba menghentikan usaha
atau perjuangannya untuk berhasil mengemban tugas tugas profesi ketika
sesungguhnya keberhasilan itu sudah amat dekat untuk dicapai, misalnya
perbaikan proses dan hasil belajar siswa.
c. Keikhlasan. Guru guru yang ikhlas dalam menjalankan tugas tugas
keprofesian nyaris tidak mengenal lelah, demi pendidikan dan pembelajaran
anak didiknya. Dia selalu bergairah pada setiap keadaan. Banyak siasat, strategi
atau akal baru yang bakal muncul ketika guru berpikir, dan memutuskan untuk
berbuat bagi anak didiknya. Muncul juga energi kedua dari diri guru, ketika
dia sudah mulai merasa kelelahan takkala masih diperlukan waktu cukup
panjang dan energi cukup besar untuk menyelesaikan tugas pekerjaan.
d. Konsistensi. Barangkali masih banyak guru yang bekerja dalam format keras
kerak, yang tersiram air sedikit saja menjadi lembek, tergoda dengan hal
hal baru lalu meninggalkan keputusan yang telah dibuat dan tengah di
jalankan, dan sebagainya. Sehabis mengikuti penataran mereka begitu
bersemangat, namun dalam sekejap semangat itu hilang, semangat mereka pun
menurun tajam , ketika mengalami kesulitan untuk naik pangkat keglongan
tertentu.
e. Pandangan visioner. Pandangan jauh kedepan, melebihi batas batas pemikiran
guru kebanyakan. Guru guru yang termasuk kelompok ini jarang sekali
tergoda untuk melakukan apa saja demi hasil yang instan, mengejar target
jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
4. Kota Pelajar
Di banyak tempat di Indonesia ada kemauan untuk membangun
lingkungan belajar yang mencerminkan keterpelajaran, lebih khusus lagi di
sebut kota pelajar. Secara leksikal definisi atas frasa kota pelajar sangat
mungkin tidak akan di temukan dalam kamus atau ensiklopedi di manapun.
Istilah kota pelajar itu lebih berupa sebuah predikat atau lebel yang
48

ditempelkan

untuk

sebuah

kota

ketimbang

definisi

dalam

makna

sesungguhnya.
Di kota pelajar itu tersedia sarana prasana pendukung. Seperti sekolah
untuk berbagai jenis dan jenjang dengan jaminan mutunya, toko buku, sentra
sentra informasi, akses jaringan internet, pemondokan yang murah dan tersedia
di sekitar sentra pendidikan, transportasi yang lancar, biaya hidup relatif murah.
Ketika Yogyakarta pertama kali menyandang predikat sebagai kota pelajar,
cenderung menutup kota lain untuk mendapatkan predikat atau atau label yang
sama.
Citra positif masyarakat atau nilai-nilai positif pendidikan dan instusi
persekolahan harus mampu tampil optimal secara mutu,dengan cara
membangun profesionalitas tenaga kependidikan,menyediakan sarana dan
prasarana yang memadai,dan dapat menampilkan kinrja total selayaknya yang
ditampilkan oleh institusi kemajuan pendidikan di daerah maju.
Pada tataran yang lebih luas,prakarsa membangun kota sebagai kota pelajar :
Terbentuk masyarakat sebagai masyarakat belajar, mutu proses pendidikan
formal yang terandalkan, dukungan kuat dari pemerintah di bidang pendanaan
& penyederhanaan prosedur kerja.
1) Terbentuk masyarakat sebagai masyarakat belajar, mutu proses pendidikan
formal yang terandalkan, dukungan kuat dari pemerintah di bidang pendanaan
& penyederhanaan prosedur kerja.
2) Tersedia sumber
bermutu;kemampuan

daya manusia,sarana&prasarana
pemerintah

dan

masyarakat

pemerataan, relevansi, efektifitas, efisiensi, akuntabilitas.

49

pembelajaran yang
dalam

mewujudkan

BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan
Suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu
yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan
umum. Atas dasar pengertian ini ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan
pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus
dalam melaksanakan profesinya
Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan
pengetahuan, teknologi dan ketrampilan untuk meningkatkan mutu, baik bagi proses
belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di simpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.Dalam melaksanakan tugasnya, para guru di finlandia sangat menjujung tinggi
profesionalime. Mereka selalu berusaha mengajarkan siswanya untuk bertanggungjawab
terhadap tugas belajarnya. Guru di Finlandia tidak mengharuskan siswanya menjawab
dengan benar soal yang diberikan oleh gurunya, yang terpenting mereka
bertanggungjawab terhadap tugas belajarnya.
2.Di Singapura kepala sekolah di berikan kesempatan untuk merancang topik pelatihan
bagiguru-gurunya. Selain itu setiap guru baru maupun guru lama berhak mendapatkan
jatah 100 jam pelatihan yang diadakan oleh pemerintah.
3.Untuk mengembangkan kompetensinya, guru di Cina dituntut harus mempunyai
beberapa kemampuan yakni: Kemampuan menguasai bahan, Kemampuan mengelola
program belajar mengajar, Kemampuan mengelola kelas, Kemampuan menggunakan
media, Kemampuan menguasai landasan-landasan pendidikan, Kemampuan menilai
prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran, Kemampuan mengenal fungsi dan
program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, Kemampuan menyelenggarakan
administrasi sekolah, Kemampuan memahami prinsip-prinsip guna keperluan
pengajaran.
Kata pembelajar merujuk pada subjek yang belajar dan secara konsisten
melakukan perbuatan belajar itu. Belajar merupakan proses bernilai tambah dilihat dari
metamorfosis perilaku. Mengikuti pengalaman di dunia biologi, metamorfosis bermakna
perubahan menuju kesempurnaan atau kebutuhan bentuk. Jadi, metamorfosis perilaku
50

yang dimaksudkan disini adalah sebuah tatanan tindak-tanduk manusia menuju


kesejatiannya sebagai makhluk insani.

DAFTAR PUSTAKA
51