Anda di halaman 1dari 7

MATERI SISTEM RESPIRASI

TBC
1. Definisi
Kanker adalah pertumbuhan sel abnormal yang cenderung menyerang
jaringan disekitarnya dan menyebar ke organ tubuh lain yang letaknya jauh.
Kanker terjadi karena profilerasi sel tak terkontrol yang terjadi tanpa batas
dan tanpa tujuan bagi pejamu. Istilah kanker menagcu pada lebih dari 100
bentuk penyakit. Meskipun setiap kanker memiliki ciri unik, kanker muncul
melalui beberapa proses yang sama yang pada akhirnya bergantung pada
perubahan genetik secara krusial. (elizabeth, 2008)
Karakteristik Neoplasma
Jinak ( Benigna)
a. Pertumbuhan lambat
b. Biasanya berkapsul
c. Ekspansif : tidak menginfiltrasi
jaringan penunjang
d. Tidak menyebar tapi terlokalisasi
e. Tidak

cenderung

kambuh

Ganas ( Maligna)
Pertumbuhan cepat
Jarang berkapsul
Menginfiltrasi jaringan penunjang
Menyebar melalui limfe, darah, atau

akibat sekunder dari organ lain


jika Cenderung untuk kambuh

dilakukan operasi
f. Menyebabkan kerusakan jaringan Menyebabkan kerusakan hebat pada
minimal
jaringan
g. Tidak menyebabkan cachexia
Menyebabkan cachexia dan anemia
h. Tidak menyebabkan kematian, Selalu menyebabkan kematian jika tidak
kecuali letaknya pada organ vital

dilakukan pembedahan sebelum terjadi


metastasis

2. Etiologi
a. Merokok
Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling
penting, yaitu 85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005).
b. Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok
pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam
ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian
telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi
mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua
kali (Wilson, 2005).
c. Polusi udara

d.

e.

f.

g.

Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi
pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian
akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan
dibandingkan dengan daerah pedesaan.
Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium,
nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker
paru (Amin, 2006).
Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap
betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko
terkena kanker paru (Amin, 2006).
Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih
besar terkena penyakit ini.
Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga
dapat menjadi risiko kanker paru (Stoppler, 2010).

3. Manifestasi Klinis
a. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi
pada bronkus.
b. Tanda dan gejala tergantung pada lokasi, ukuran tumor, derajat obstruksi,
dan keberadaan metastasis.
c. Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor.
Batuk

mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi

berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan


purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
d. Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan
tumor yang mengalami ulserasi.
e. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.
f. Demam yang terjadi berulang mungkin terjadi pada beberapa pasien.
g. Nyeri dada, kekakuan, suara serak, disfagia, edema pada leher dan kepala,
dan gejala-gejala infusi pleural atau perikardial yang terlihat jika tumor
menyebaar pada struktur yang berdekatan dan pada nodus limfe.
h. Tempat metastasis yang umum adalah nodus limfe, tulang, otak, paru
kolateral, dan kelenjar adrenal.

i.
4. Klasifikasi
j.

Type

k.

m.

Sel Kecil

1.

(oat cell) 20%

2.

3.
4.

2.
n.

Bukan sel

kecil :
1. Epidermoid (sel

3.

skuamosa) 30%
4.
5.

6.

1.
1. Adenokarsinoma
30-35%

2.
3.

Karakteristik

l.
Pengobatan
a) Kemoterapi
Lokasi tumor di tengahkombinasi.
b) Surgical resectability
tengah (80%),
tidak memuaskan
berkembang cepat, dan
c)
Paliatif endobronchial
sering berbentuk
laser terapi untuk
maligna.
mengurangi obstruksi.
Banyak bermetastasis
d)
Radiasi tidak
melalui limfe dan sistem
dianjurkan untuk
sirkulasi.
keadaan metastasis.
Berhubungan dengan
sindrom paraneoplastik
Prognosis jelek, dapat
bertahan hidup biasanya
tidak lebih dari 2 tahun
dengan pengobatan
Sering kali terlokalisasi
a) Prosedur pembedahan
di tengan atau cabang
bronkus segmental.
baik untuk stadium I
Pada lokasi perifer,
atau II.
cavitas dapat terbentuk
b) Kemoterapi dan terapi
di jaringan paru-paru.
radiasi dapat
Berhubungan erat
dengan rokok.
digunakan untuk
Berkembang lambat,
gejala paliatif
kurang invasif,
metastasis sering kali
terbatas di rongga
toraks, termasuk nodus
limfe regional, pleura,
dan dinding dada
Biasanya berhubungan
dengan gejala obstruksi
dan pneumonia, pasien
mengeluh nyeri dada,
batuk, dispnea, dan
hemoptisis.
Tumor terletak di daerah a) Prosedur pembedahan
perifer.
baik untuk stadium I
Berkembang lambat
atau II
Penyebaran secara
b) Penyakit sedang

2. Sel besar 11%

hematogen
4. Frekuensi tinggi
metastasis ke otak, letak
lain termasuk adrenal,
hati, tulang, dan ginjal.
5. Tipe predominan pada
yang bukan perokok dan
sering pada wanita
6. Sering timbul dalam
fibrotik paru-paru
1.
Perifer, lesi subpleura
dengan nekrotik
2.
Sering kali berbentuk tumor
bermassa lebih besar
daripada adenokarsinoma
3.
Berkembang lambat
4.
Prognosis buruk

merespon baik
terhadap kemoterapi
c) Terapi radiasi
digunakan untuk
paliatif pulmonari dan
metastasis penyakit

a) Prosedur
pembedahan baik
untuk stadium I atau
II
b) Kemoterapi
mempunyai
keuntungan terbatas.
c) Terapi radiasi paliatif.

o.
5. Pemeriksaan Diagnostik
1) Radiologi.
a. Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
p. Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi
adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi.
Dapat menyatakan massa udara

pada bagian hilus, effuse pleural,

atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.


b. Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2) Laboratorium.
a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
q. Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
r. Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi.
c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
s. Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum
pada kanker paru).
3) Histopatologi.
a. Bronkoskopi.

t. Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan


sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
b. Biopsi Trans Torakal (TTB).
u. Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer
dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
c. Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
d. Mediastinosopi.
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang
terlibat.
e. Torakotomi.
v. Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila
bermacam macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya
gagal mendapatkan sel tumor.
4) Pencitraan.
a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
b. MRI, untuk mendeteksi kelainan fungsi tubuh.
w.
5) Pemeriksaan Penunjang
x.
y.
6) Komplikasi
1

7) Patofisiologi
z.
aa. Mycobacterium Tuberculosa (dari droplet)
ab.
ac. alveolar
ad.
ae. respon radang
af.
ag. neutrophil (leukosit)
ah.
ai. makrofag
aj.
ak. bakterimia tumbuh dan berkembang biak di sitoplasma makrofag
al.
am.

meluashematogen
focus ghon/kompleks ghon

an.
ao.
ap. GI

Limfa

Orofaring

alveoli

Paru

Kulit
aq.
ar.

limfadenofati
pneumonia

at.
au.

vena

radang **

arteri pulmonalis

paru otak ginjal tulang TB milier

av.

aw.
ax. meningitis
ay.
az.
ba.

perkijuan

pleuritis efusi

as.
pleura
klasifikasi nyeri
dada
mengganggu perfusi dan difusi O2

spondilitis tuberculosa pada vertebra


suplai oksigen berkurang
gangguan pertukaran gas
bb.
bc.

bd.
be.

radang **

pecah pembuluh darah

bronkus
bf.
di kavitas/ ulkus dinding bronkus
jaringan
bg.
bh.
hemoptisis (batuk darah)
bi.

penyempitan lumen
dan tertutup

atelektasis
bj.

sesak

bl.

badan

napas (dyspnea)
bk.
lemas

bm.
bn.
nsi aktivitas
8) Diagnosa Keperawatan
bo.
bp.
9) Intervensi Keperawatan
bq.
10) Penanggulangan
br.
bs.Non-Farmakologi :
bt.
11) Pencegahan

intolera