Anda di halaman 1dari 23

F.

Pelaksanaan Penanganan Anak Gizi Kurang dan Gizi Buruk Rawat Jalan
Bulan Desember
Tabel 11
Penanganan Anak Gizi Kurang dan Gizi Buruk Rawat Jalan Bulan Desember
Tenaga Pelaksana
Dokter (tidak ada)

Peran: -

Perawat (ada)

Peran:
1. Pemeriksaan suhu badan
2. Pemeriksaan denyut nadi

Ahli Gizi (ada)

Peran: Menyusun siklus menu diet

Tenaga Promosi Kesehatan (ada)

Peran:
1. Konseling
2. Pemeriksaan antropometri

Bidan di Desa (tidak ada)

Peran: -

Kader (tidak ada)

Peran: -

Anggota PKK (tidak ada)

Peran: -

Perangkat Desa (tidak ada)

Peran: -

Tukang masak (ada)

Peran:
Mengolah makanan sesuai dengan
siklus menu
Waktu dan frekuensi pelaksanaan

Dimulai pada tanggal 21 Desember 2015 dan berlangsung selama 30 hari,


pada pukul 08.00 WITA s/d selesai
Alur Pelayanan Penanganan Anak Secara Rawat Jalan
Pendaftaran (Ya)

Lokasi: Tiap posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pantoloan


Waktu: Alat: Buku, pulpen, dan buku data pengukuran antropometri
Jumlah bayi/balita: 18 orang
Proses: Balita yang datang ke posyandu dan kemudian dirujuk ke Puskesmas
Pantoloan dan dibawa ke tempat perawatan rawat jalan (CFC).
Pemeriksaan Antropometri (Ya)
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 21 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: Staturmeter, timbangan digital
Jumlah bayi/balita: 5 orang
Proses:
Adapun proses yang dilakukan dalam pemeriksaan antropometri adalah:
1. Mengisi identitas anak meliputi nama orang tua, nama anak dan umur anak
2. Melakukan penimbangan berat badan dengan timbangan
3. Melakukan pengukuran tinggi badan dengan Land Board
4. Menentukan status gizi berdasarkan TB/PB
Pemeriksaan Klinis
Tidak dilakukan pemeriksaan klinis

Pemberian Konseling (Ya)


Ibu 1
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 23 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: pulpen, catatan status gizi anak
Proses:
Hal pertama yang dilakukan adalah memberi salam, memperkenalkan diri,
menanyakan identitas. Untuk anak yang bernama Haniftah memiliki berat
badan berada dibawah garis normal dan nafsu makan yang tidak baik oleh
karena itu diharapkan ibu dapat meningkat berat badan dengan memperhatikan
asupan makanan dan memperbaiki pola asuh anak. Selain itu memberikan
motivasi pada ibu bahwa keadaan anaknya bisa dipulihkan apabila ibu dengan
sungguh-sungguh memperhatikan pemberian asupan makanan yang bergizi
karena makanan yang bergizi bukan berarti harus mahal.
Ibu 2
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 23 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: pulpen, catatan status gizi anak
Proses:
Hal pertama yang dilakukan adalah memberi salam, memperkenalkan diri,
menanyakan identitas. Untuk anak yang bernama Fair memiliki berat badan
berada dibawah garis normal oleh karena itu diharapkan ibu dapat meningkat
berat badan dengan memperhatikan asupan makanan dan memperbaiki pola
asuh anak. Selain itu memberikan motivasi pada ibu bahwa keadaan anaknya
bisa dipulihkan apabila ibu dengan sungguh-sungguh memperhatikan
pemberian asupan makanan yang bergizi karena makanan yang bergizi bukan

berarti harus mahal.


Ibu 3
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 23 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: pulpen, catatan status gizi anak
Proses:
Hal pertama yang dilakukan adalah memberi salam, memperkenalkan diri,
menanyakan identitas. Untuk anak yang bernama Nazriel memiliki berat
badan berada dibawah garis normal oleh karena itu diharapkan ibu dapat
meningkat berat badan dengan memperhatikan asupan makanan dan
memperbaiki pola asuh anak. Selain itu memberikan motivasi pada ibu bahwa
keadaan anaknya bisa dipulihkan apabila ibu dengan sungguh-sungguh
memperhatikan pemberian asupan makanan yang bergizi karena makanan
yang bergizi bukan berarti harus mahal.
Ibu 4
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 23 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: pulpen, catatan status gizi anak
Proses:
Hal pertama yang dilakukan adalah memberi salam, memperkenalkan diri,
menanyakan identitas. Untuk anak yang bernama Bayu memiliki berat badan
berada dibawah garis normal oleh karena itu diharapkan ibu dapat meningkat
berat badan dengan memperhatikan asupan makanan dan memperbaiki pola
asuh anak. Selain itu memberikan motivasi pada ibu bahwa keadaan anaknya
bisa dipulihkan apabila ibu dengan sungguh-sungguh memperhatikan
pemberian asupan makanan yang bergizi karena makanan yang bergizi bukan

berarti harus mahal.


Ibu 5
Lokasi: Puskesmas Pantoloan ruang CFC
Waktu: 23 Desember 2015, Pukul 09.00 WITA
Alat: pulpen, catatan status gizi anak
Proses:
Hal pertama yang dilakukan adalah memberi salam, memperkenalkan diri,
menanyakan identitas. Untuk anak yang bernama Gilang memiliki berat badan
berada dibawah garis normal oleh karena itu diharapkan ibu dapat meningkat
berat badan dengan memperhatikan asupan makanan dan memperbaiki pola
asuh anak. Selain itu memberikan motivasi pada ibu bahwa keadaan anaknya
bisa dipulihkan apabila ibu dengan sungguh-sungguh memperhatikan
pemberian asupan makanan yang bergizi karena makanan yang bergizi bukan
berarti harus mahal.
Pemberian Paket Obat Gizi dan Makanan Untuk Pemulihan Gizi
Bayi/ Balita 1: Haniftah
Obat: Obat Truvit
Makanan untuk pemulihan gizi:

Jenis Pemberian: lunak

Waktu pemberian jenis makanan: pagi

Penerimaan makanan: diterima dengan baik

Bayi/ Balita 2: Fair


Obat: Obat Truvit
Makanan untuk pemulihan gizi:

Jenis Pemberian: lunak

Waktu pemberian jenis makanan: pagi

Penerimaan makanan: diterima dengan baik

Bayi/ Balita 3: Nazriel


Obat: Obat Truvit
Makanan untuk pemulihan gizi:

Jenis Pemberian: lunak

Waktu pemberian jenis makanan: pagi

Penerimaan makanan: diterima dengan baik

Bayi/ Balita 4: Bayu


Obat: Obat Truvit
Makanan untuk pemulihan gizi:

Jenis Pemberian: lunak

Waktu pemberian jenis makanan: pagi

Penerimaan makanan: diterima dengan baik

Bayi/ Balita 5: Gilang


Obat: Obat Truvit
Makanan untuk pemulihan gizi:

Jenis Pemberian: lunak

Waktu pemberian jenis makanan: pagi

Penerimaan makanan: diterima dengan baik

Kunjungan Rumah
Tidak dilakukan kunjungan rumah
Rujukan

Tidak dilakukan rujukan karena tidak ditemukan kasus dengan komplikasi


Drop Out
Tidak dilakukan drop out, karena tidak ada balita yang pindah alamat atau
meninggal
Anak yang telah pulih keadaan gizinya
Tidak dapat diketahui anak yang telah pulih keadaan gizinya karena
keterbatasan waktu.
Sumber: Data Primer, 2015
1. Penanganan Anak Gizi Kurang dan Gizi Buruk Rawat Jalan
Berdasarkan hasil pengatakan bahwa tenaga kesehatan yang terlibat dalam
penyelenggaraan CFC di Puskesmas Pantoloan yaitu terdapat perawat, tenaga
promosi kesehatan (promkes) dan ahli gizi. Pada saat wawancara perawat dan
ahli gizi tidak berada saat pelaksanaan CFC karena berhalangan hadir. Hal
tersebut tidak sesuai Kemenkes (2011) menyatakan bahwa Tenaga pelaksana
adalah tim pelaksana yang terdiri dari dokter, ahli gizi (TPG), perawat, tenaga
promosi kesehatan (promkes) dan bidan desa/kelurahan. Dalam pelaksanaan
rawat jalan masyarakat yang dibantu oleh Kader Posyandu, anggota PKK dan
perangkat desa.
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa waktu dan frekuensi pelaksanaan
CFC dilakukan selama 30 hari. Hasil ini tidak sesuai dengan Kemenkes RI
(2011) menjelaskan bahwa waktu dan frekuensi pelaksanaan CFC dilakukan
pada bulan pertama, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap minggu, bulan
ke 4 sampai ke 6, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap 2 minggu. Anak
yang belum dapat mencapai status gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD, dan tidak
ada edema) dalam waktu 6 bulan,dapat melanjutkan kembali proses pemulihan,
dengan ketentuan, jika: Masih berstatus gizi buruk, rujuk ke RS atau Puskesmas
Perawatan atau Pusat Pemulihan Gizi (PPG). Sudah berstatus gizi kurang, maka
dilanjutkan denganprogram pemberian makanan tambahan dan konseling.
2. Alur Penanganan Pelayanan Anak Gizi secara Rawat Jalan

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa pendaftaran CFC yang dilakukan


oleh petugas kesehatan yang berada di posyandu. Balita yang mengalami gizi
kurang akan dirujuk ke Puskesmas Pantoloan dan di bawa ke ruang CFC untuk
mendapatkan penangan. Pada pelaksanaan CFC, penimbangan dan pengukuran
berat badan dilakukan setiap minggu untuk melihat perkembangan status gizi
anak gizi kurang. Selain itu, dilakukan pemeriksaan antropometri dan tidak
dilakukannya pemeriksaan klinis.
Pemberian Konseling juga dilakukan pada ibu-ibu yang anaknya
mengikuti CFC. Konseling dilakukan dengan melihat kondisi anak-anak yang
mengalami gizi kurang dan telah dilakukan pemeriksaan antropometri.
Pemberian konseling dilakukan pada lima ibu-ibu yang anaknya mengalami gizi
kurang.
Pemberian obat gizi yang diberikan CFC adalah taburia tetapi jarang
diberikan dan obat truvit untuk meningkatkan nafsu makan anak. Hal tersebut
telah sesuai dengan masalah gizi anak tersebut. Pemberian makanan lokal
diberikan setiap hari pada pelaksanaan CFC yang diberikan pada waktu pagi
hari. Makanan yang diberikan berupa makanan lokal yang bahannya mudah di
dapatkan, adapun contoh makanan yang diberikan yaitu nasi, sup kacang merah
dan bubur manado. Makanan di berikan disesuaikan dengan porsi masingmasing anak. Pemberian makanannya di bantu oleh ibu agar anak tersebut mau
menghabiskan makanannya.
Pada kegiatan CFC tidak diadakan kunjungan rumah karena keterbatasan
tenaga kesehatan. Selain itu tidak diadakan rujukan pada kegiatan CFC karena
tidak ada yang mengalami tanda-tanda komplikasi.
Pada penyelanggaraan CFC terdapat 18 orang yang aktif mengikuti
kegiatan ini. Namun, yang dari hasil pengamatan yang dilakukan dari 5 anak
yang berat badannya berada dibawah garis normal yaitu Haniftah, Fair, Nazriel,
Bayu dan Gilang. Dalam penanganan ini belum diketahui anak yang telah pulih
keadaan gizinya karena keterbatasan waktu.

Hasil ini tidak sesuai dengan Kemenkes (2011) menjelaskan bahwa alur
pelayanan pemulihan gizi buruk secara rawat jalan adalah dilakukan dengan
tahapan pendaftran, pemeriksaan Antropometri, pemeriksaan klinis, pemberian
konseling, pemberian paket obat gizi dan makanan untuk pemulihan gizi,
kunjungan rumah, rujukan dan drop out hingga ditemukan anak yang telah pulih
keadaan gizinya.

Gambar 14. Konseling

G. Makanan Untuk Pemulihan Gizi Bulan Desember


Jenis-jenis makanan yang diberikan untuk pemulihan gizi dapat dilihat
berdasarkan tabel berikut :
Tabel 12
Jenis Makanan untuk Pemulihan Gizi Hari I
Anak

Prinsip

Haniftah

Pemulihan

Fahir

Pemulihan

Moh.
Nazril

Pemulihan

Jenis
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh

Jumlah

Frekuensi

Cara
Pemberian

Cara
Menyimpan

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

Nasi +
sop
kacang
Gilang
Pemulihan
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
Bayu
Pemulihan
merah +
telur
puyuh
Sumber : Data Primer, 2015

piring

1x

Disuap oleh
ibunya

piring

1x

Disuap oleh
ibunya

Tabel 13
Jenis Makanan untuk Pemulihan Gizi Hari II
Anak

Prinsip

Haniftah

Pemulihan

Fahir

Pemulihan

Moh.
Nazril

Pemulihan

Gilang

Pemulihan

Jenis
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang

Jumlah

Frekuensi

Cara
Pemberian

Cara
Menyimpan

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

piring

1x

Disuap oleh
ibunya

merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
Bayu
Pemulihan
merah +
telur
puyuh
Sumber : Data Primer, 2015

piring

1x

Disuap oleh
ibunya

Tabel 14
Jenis Makanan untuk Pemulihan Gizi Hari III
Anak

Prinsip

Haniftah

Pemulihan

Fahir

Pemulihan

Moh.
Nazril

Pemulihan

Jenis
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
merah +
telur
puyuh

Jumlah

Frekuensi

Cara
Pemberian

Cara
Menyimpan

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

Nasi +
sop
kacang
Gilang
Pemulihan
merah +
telur
puyuh
Nasi +
sop
kacang
Bayu
Pemulihan
merah +
telur
puyuh
Sumber : Data Primer, 2015

piring

1x

Disuap oleh
ibunya

1 piring

1x

Disuap oleh
ibunya

Berdasarkan hasil wawancara dengan penanggung jawab CFC, porsi


makanan setiap anak tidak dibedakan menurut IMT, tetapi diberikan sesuai
dengan kemampuan makan dari anak tersebut, tetapi jika jumlah makanan anak
hanya sedikit, makanan diberikan lagi untuk dibawa pulang ke rumah untuk
mengantisipasi agar jumlah yang dikonsumsi anak tetap cukup dan kebutuhannya
terpenuhi.
Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa jenis makanan untuk pemulihan
gizi sebagian besar bersumber dari protein. Hal ini telah sesuai dengan teori
seperti yang dikemukakan oleh Ditjen Bina Gizi Ibu dan Anak (2011) bahwa
makanan tambahan balita ini diutamakan berupa sumber protein hewani maupun
nabati (misalnya telur/ikan/daging/ayam, kacang-kacangan atau penukar) serta
sumber vitamin dan mineral yang terutama berasal dari sayur-sayuran dan buahbuahan setempat. Selain itu, juga dapat dilihat bahwa makanan yang diberikan
adalah makanan dalam bentuk makanan lokal. Hal ini juga telah sesuai dengan
teori dari Ditjen Bina Gizi Ibu dan Anak (2011) bahwa makanan tambahan
pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan atau makanan lokal. Jika bahan
makanan lokal terbatas, dapat digunakan makanan pabrikan yang tersedia di
wilayah setempat dengan memperhatikan kemasan, label dan masa kadaluarsa
untuk keamanan pangan. Prinsip dan frekuensi pemberian makanan jelas, tetapi

tidak dilakukan proses penyimpanan karena makanan diberikan hanya satu kali
sehari yang jumlahnya telah disiapkan untuk jumlah anak yang terdaftar di CFC.

Gambar 15. Makanan untuk pemulihan gizi bulan Desember

B. Analisis Pemantauan dan Evaluasi Anak Gizi Kurang dan Gizi Buruk
Rawat Jalan Bulan Desember
1. Pemantauan anak gizi kurang dan gizi buruk rawat jalan
Tabel 15
Cara Pemantauan Anak Gizi Kurang dan Gizi Buruk
Anak I (Hanifta)
Cara Pemantauan
Status Gizi:
Pengukuran berat badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital,
sedangkan pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama 1 putaran CFC
menggunakan staturemeter.
Konsumsi Makanan:
Konsumsi makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak, apakah
mencukupi kebutuhannya atau tidak.
Pemeriksaan Klinis:
Tidak dilakukan pemeriksaan

Anak II (Fahir)
Cara Pemantauan
Status Gizi:
Pengukuran berat badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital,
sedangkan pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama 1 putaran CFC
menggunakan staturemeter
Konsumsi Makanan:
Konsumsi makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak, apakah
mencukupi kebutuhannya atau tidak.
Pemeriksaan Klinis:
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anak III (Moh. Nazril)
Cara Pemantauan
Status Gizi:
Pengukuran berat badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital,
sedangkan pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama 1 putaran CFC
menggunakan staturemeter.
Konsumsi Makanan:
Konsumsi makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak, apakah
mencukupi kebutuhannya atau tidak.
Pemeriksaan Klinis:
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anak IV (Gilang)
Cara Pemantauan
Status Gizi:
Pengukuran berat badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital,
sedangkan pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama 1 putaran CFC
menggunakan staturemeter.
Konsumsi Makanan:
Konsumsi makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak, apakah
mencukupi kebutuhannya atau tidak.
Pemeriksaan Klinis:
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anak V (Bayu)
Cara Pemantauan

Status Gizi:
Pengukuran berat badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital,
sedangkan pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama 1 putaran CFC
menggunakan staturemeter.
Konsumsi Makanan:
Konsumsi makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak, apakah
mencukupi kebutuhannya atau tidak.
Pemeriksaan Klinis:
Tidak dilakukan pemeriksaan
Sumber : Data Primer, 2015
Berdasarkan tabel terlihat bahwa cara pemantauan status gizi untuk berat
badan dilakukan setiap 10 hari menggunakan timbangan digital. Hal ini tidak
sesuai dengan teori seperti yang terlihat pada buku panduan pelayanan anak gizi
buruk oleh Kemenkes RI (2011) bahwa penimbangan berat badan dilakukan
setiap minggu. Pengukuran tinggi badan dilakukan 1 kali selama putaran CFC
berlangsung yaitu 30 hari menggunakan alat staturemeter. Hal ini telah sesuai
dengan teori dari Kemenkes RI dalam buku panduan pelayanan anak gizi buruk
(2011) bahwa pengukuran panjang/tinggi badan dilakukan setiap bulan.
Tabel 16
Indikator Input, Proses dan Output
Indikator (Terlampir Laporan Puskesmas)
Indikator Input :
Ketersediaan
Makanan pemulihan
Makanan pemulihan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk 18 anak.
jika konsumsi anak dianggap kurang, maka makanan yang ada akan diberikan lagi
untuk dibawa pulang ke rumah agar konsumsi anak tetap cukup. Jenis menu yang
ada di CFC ada 3 yaitu nasi campur sop kacang merah dan telur puyuh, bubur
campur buncis, wortel, tahu dan ayam, terakhir adalah bubur manado.
Obat
Obat yang tersedia pada program CFC adalah Truvit. Obat ini merupakan
obat penambah nafsu makan anak yang diberikan 1 sendok untuk masing-masing
anak dengan frekuensi pemberian satu hari sekali sesudah makan. Truvit
mengandung Vitamin A 2000 IU, Vitamin B1 1,0 mg, Vitamin B2 0,5 mg, Vitamin

B6 1,0 mg, Vitamin B12 1 mcg, Vitamin C 10 mg, Vitamin D 400 IU, CaPantothenate 5 mg, Ca-Gluconate 50 mg, DHA 8,0 mg Lycine HCL (Bovin) 100
mg dan Colostrum Bovine 100 mg.
Tenaga
Tenaga yang ada di CFC berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 orang
penanggung jawab program yang merupakan tenaga promosi kesehatan yang
menerima pelatihan CFC sejak tahun 2011 sehingga sedikit paham dengan ilmu
gizi, 1 orang tenaga promosi kesehatan dan satunya lagi tukang masak.
Alat Antropometri
Alat antropometri yang tersedia dalam program CFC adalah alat untuk
mengukur berat badan yaitu timbangan digital dan baby scale, akan tetapi baby
scale tidak digunakan karena rusak. Selain alat untuk mengukur berat badan, juga
tersedia alat pengukur tinggi badan yaitu staturemeter.
Media Konseling
Konseling dilakukan 3 kali dalam seminggu. Media konseling yang
digunakan adalah food model, tetapi alat ini jarang digunakan karena
mengumpulkan semua orang tua anak dan langsung memberikan konseling sedikit
sulit. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aktifitas orang tua di rumah mereka.
Disamping itu, anak-anak yang ikut program CFC mulai rewel sehingga orang tua
yang mengantar memilih untuk cepat pulang, sehingga program konseling dalam
CFC hanya berupa penyampaian singkat kepada ibu-ibu yang dianggap memiliki
waktu luang berupa bagaimana cara memasak yang baik dan benar serta bahan apa
saja yang mudah didapatkan di daerah tersebut dan tidak menguras kantong namun
bernilai gizi tinggi.
Indikator Proses
Terlaksananya proses screening
Proses screening dilaksanakan oleh pihak penyelenggara CFC dengan
melihat data dari posyandu berdasarkan data anak yang mengalami BGM dan
berat badan tidak naik selama 2 sampai 3 kali berturut-turut ketika dilakukan
penimbangan.
Kunjungan rumah
Kunjungan rumah hanya dilakukan ketika ditemukan anak dengan status
gizi buruk. Anak dengan status gizi kurang tidak dilakukan kunjungan rumah
tetapi orang tua dari anak yang bersangkutan diminta untuk datang langsung ke
program CFC untuk melakukan pemulihan status gizi.
Kelengkapan pencatatan laporan
Pencatatan laporan anak yang mengikuti program CFC selama tahun
2015 lengkap, mulai dari putaran pertama sampai di putaran 5, hanya saja bulan

dilakukannya program CFC di setiap putaran tidak tertulis.


Tidak terlambat melakukan rujukan
Rujukan dilakukan ketika ditemukan anak dengan kasus gizi buruk,
sedangkan kasus gizi kurang hanya dilakukan pemulihan di tempat pelaksanaan
Program CFC. Pada putaran CFC kali ini tidak terdapat anak dengan status gizi
buruk sehingga tidak ada proses rujukan.
Drop Out
Pada putaran ini peserta berjumlah 18 anak. Berdasarkan hasil pencatatan
laporan, diketahui bahwa partisipasi peserta cukup baik, karena tidak ada yang
drop out dari kegiatan.
Kehadiran anak pada jadwal buka penanganan rawat jalan
Kehadiran keseluruhan anak selama program CFC berlangsung dapat
dikatakan cukup baik karena hanya ada 1 sampai 2 ibu yang kehadirannya tidak
mencapai 100% dan waktu tidak ikut kegiatan hanya 1 hari.
Indikator Output
Semua anak gizi buruk yang sesuai kriteria mengikuti rawat jalan
Pada putaran program CFC kali ini tidak terdapat anak dengan kasusu
gizi buruk, semua anak dengan jumlah 18 orang berstatus gizi kurang dan
semuanya mengikuti program CFC untuk pemulihan status gizi mereka menjadi
status gizi baik/normal.
Peningkatan status gizi anak yang mengikuti rawat jalan
Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah anak yang mengikuti program
CFC pada putaran terakhir tahun 2015 di bulan Desember adalah 18 anak.
Berdasarkan data BB/U terdapat 5 anak yang status gizinya pulih atau normal
dengan persentase 27,78%, 12 anak masih dalam status gizi kurang dengan
persentase 66,67%. Namun, semua anak yang berstatus gizi kurang mengalami
peningkatan berat badan setelah mengikuti program CFC dan 1 anak (5,55%)
dengan status gizi buruk dan mengalami penurunan berat badan.
Berdasarkan data TB/U, terdapat 12 anak (66,67%) dengan status tinggi
badan normal dan 6 anak (33,33%) dengan status pendek, sedangkan menurut
BB/TB, terdapat 15 anak (83,33%) denggan status gizi normal dan 3 anak
(16,67%) dengan status kurus. Berdasarkan keterangan, anak dengan status kurus
ini sedang mengalami sakit, namun untuk jenis penyakitnya tidak diketahui
karena tidak dituliskan dalam pencatatan laporan.
Sumber : Data Primer, 2015
2. Evaluasi

Berdasarkan data yang diperoleh dari penyelenggara CFC, diketahui


bahwa data evaluasi yang diperoleh dari pihak penyelnggara CFC adalah data
tentang status gizi anak pada saat sebelum dan sesudah mengikuti program
CFC. Perhitungan status gizi anak berdasarkan BB/U, TB/U dan BB/TB yang
semua hasil pengukurannya dibandingkan dengan Z-score. Indikator BB/U
digunakan untuk mengetahui apakah anak masuk dalam kategori gizi kurang,
normal atrau lebih. Indikator TB/U digunakan untuk mengetahui status tinggi
badan anak apakah masuk dalam kategori pendek, normal atau tinggi,
sedangkan indikator BB/TB untuk mengetahui apakah anak masuk kategori
kurus, normal atau obesitas.
Data mencakup hasil evaluasi program CFC selama tahun 2015
sebanyak 5 kali putaran dengan jumlah peserta yang fluktuasi. Pada putaran
awal peserta berjumlah 20 anak, putaran ke dua 27 anak, ke tiga dan ke empat
25 anak dan putaran terakhir sebanyak 18 anak. Data tidak menjelaskan apa
saja input yang ada di dalam pelaksanaan kegiatan, bagaimana proses proses
pelaksanaan kegiatan serta cara pemantauannya pemantauannya, tetapi hanya
menunjukkan status gizi anak sebelum dan sesudah mengikuti program CFC.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada proses screening di posyandu sebagian telah sesuai dengan teori namun
pada proses screening ini tidak dilakukan konseling terhadap ibu yang
memiliki anak dengan status gizi kurang atau gizi buruk.
2. Pada alur pemeriksaan atau penemuan kasus untuk penangan gizi kurang, gizi
buruk tanpa komlikasi dan gizi buruk dengan komplikasi belum telah sesuai
dengan teori yang ada namun pada pemeriksaan status gizi tidak dilakukan
pengukuran LiLa dan panjang badan atau tinggi badan anak.
3. Alur pelayanan anak gizi buruk telah sesuai dengan teori dimana anak yang
gizi buruk diberikan penanganan dengan pemberian obat (vitamin), makanan
untuk pemulihan gizi dan dilakukannya kunjungan rumah. Selainitu, anak
yang gizi buruk tanpa komplikasi di rawat jalan sedangkan anak dengan gizi
buruk dengan komplikasi dirujuk ke Rumah Sakit agar mendapatkan
penanganan lebih lanjut.
4. Pemeriksaan anak gizi buruk dengan komplikasi dilakukan di Posyandu dan
dilanjutkan ke Puskesmas dengan cara pemeriksaan antropometri (TB dan
BB) dan pemeriksaan klinis dan memeriksakan kedokter. Dokter akan
membuat surat rujukan ke rumah sakit agar anak dapat dirawat inap di rumah
sakit. Setelah kesehatan gizi anak mulai membaik, anak dikembalikan ke
Puskesmas untuk di rawat jalan di CFC kemudian dikembalikan ke Rumah
Tangga untuk kemudian setiap bulan di bawa ke Posyandu untuk di Pantau
pertumbuh ananak
5. Persiapan sarana pendukung sarana pelaksanaan CFC yaitu timbangan, land
board, buku pedoman pergizi, PMT pemulihan. Tetapi tidak terdapat media
KIE dan formulir pencatatan dan pelaporan. Selain itu, tidak adanya
pertemuan antara pihak tingkat desa/kelurahan dan pihak tenaga kesehatan.
pelatihan yang di selenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kota Palu. Tenaga

kesehatan dan kader posyandu yang berikan pelatihan berasal dari wilayah
Puskesmas Pantoloan.
6. Dalam pelaksanaan penanganan anak gizi kurang dan gizi buruk tenaga
kesehatan yang terlibat dalam penyelenggaraan CFC di Puskesmas Pantoloan
yaitu terdapat perawat, tenaga promosi kesehatan (promkes) dan ahli gizi.
Selain itu, pada alur pelayanan penanganan anak secara rawat jalan yaitu
dilakukannya pendaftaran, pemeriksaan antropometri pemberian konseling
dan pemberian obat gizi dan makanan untuk pemulihan. Tetapi tidak
ditemukan kunjungan rumah oleh petugas, rujukan dan drop out yang
mengikuti program CFC. Namun, penanganan ini belum diketahui anak yang
telah pulih keadaan gizinya.
7. Jenis makanan pemulihan sebagian besar bersumber dari protein dengan
prinsip pemulihan, jumlah makan anak rata-rata 1 piring dengan frekuensi
pemberian 1 kali sehari serta cara pemberiannya dengan disuap langsung oleh
ibunya.
8. Cara pemantauan anak gizi kurang yaitu dengan pengukuran status gizi
meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan. Pemantauan konsumsi
makanan dilihat dari jumlah makanan yang dikonsumsi apakah mencukupi
kebutuhannya atau tidak, sedangkan pemantauan pada pemeriksaan klinis
tidak dilakukan pada anak dengan status gizi kurang.
B. Saran
1. Untuk institusi, sebaiknya jadwal praktikum CFC mendatang dapat diatur
dengan baik agar pembuatan laporannya tidak terburu-buru dan mahasiswa
dapat mengatur waktu dengan baik.
2. Untuk pihak instansi, sebaiknya data pencatatan pelaporan dilengkapi agar
mahasiswa yang melakukan praktikum mendatang tidak kewalahan lagi
dalam masalah data
3. Untuk asisten, diharapkan lebih membimbing praktikannya agar praktikan
tidak bingung pada saat melaksanakan praktikum di CFC.

4. Untuk praktikan, sebaiknya lebih banyak belajar dan menguasai materi


sebelum turun ke lapangan agar pada saat praktikum tidak kebingungan dan
tahu apa yang harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Balitbang Kemenkes RI, 2013, Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS, Balitbang
Kemenkes RI, Jakarta.
Balitbang Kemenkes RI, 2013, Riset Kesehatan Dasar Provinsi Sulawesi Tengah.
Balitbang Kemenkes RI, Jakarta.
Depkes R.I., 2008, Pedoman Pelaksanaan Respon Cepat Penanggulangan Gizi
Buruk.
Ditejen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, 2011, Panduan Penyelenggaraan
Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang,
Kemenkes RI.
Kemenkes RI dalam InfoDATIN Gizi, 2015, Situasi dan Analisis Gizi, Kemenkes RI,
Jakarta.
Kemenkes RI, 2011, Materi Dasar: Kebijakan Tatalaksana Anak Gizi Buruk,
Direktorat Bina Gizi, Jakarta.
Kemenkes RI., 2011, Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, Direktorat
Bina Gizi, Jakarta.
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Kepmenkes. 2010. Standar Antropometri penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Lee, R and Nieman D. Principles of nutritional Assessment. 3rd Edition, 2001.
Nency, Y., 2005, Gizi Buruk, Ancaman Generasi Yang Hilang, Inpvasi Edisi Vol.
5/XVII/ November 2005, Inovasi Online.
Tim Pergizi, 2012, Pedoman Pergizi Penatalaksanaan Anak Balita Gizi Buruk dan
Gizi Kurang di Pos Pergizi Atau Pos Gizi, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Gizi dan Makanan, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Kementrian Kesehatan.
WHO. 2009. WHO child growth standards and the identification of severe acute
malnutrition
in
infants
and
children.
http://www.who.int/nutrition/publications/severemalnutrition/9789241598163
_eng.pdf. Diakses tanggal 21 Januari 2016.