Anda di halaman 1dari 3

Kompas.com memberitakan kabut asap yang melanda Pekanbaru dan Batam.

Di Pekanbau jarak pandang


hanya 200 m . Di Batam kabut asap mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Hang Nadim. Detik.
Com juga merilis berita dengan judul Diserang Kabut Asap, Bandara Pekanbaru Lagi-lagi Lumpuh Pagi ini
(//detik.id/Vpippy). Di Aceh, Sumbar dan Medan tak luput dari selimut kabut asap. Tentu saja di Jambi yang
hampir sepekan warga terganggu aktivitasnya akibat kabut asap menghiasi berita di media lokal dan
nasional (baca disini)
Harian lokal Aceh, habadaily.com memberitakan bahwa Empat Kabupaten Kota di Aceh dilanda kabut asap
kiriman dari tiga provinsi di Indonesia. Asap diperkirakan berasal dari Jambi, Pekan Baru dan Palembang.
Daerah yang telah terkena dampak Lhokseumawe, Aceh Timur, Takengon dan Banda Aceh. Dari
Sumbar, antaranews.com memberitakan kabut asap semakin pekat dimana sumber asap berasal dari
wilayah selatan Sumatera. Adapun di Medan, jppn.commemberitajan bahwa kabut asap sampai
menggangu penerbangan di bandara Internasional Kuala Namu.
Berita-berita tersebut sangat muncul berdasarkan realitas yang ada di lapangan dan sangat terkait dengan
hasil pantauan hotspot dari sumber penyedia data yang berasal dari situs
SiPongihttp://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/main. Hasil penelusuran sederhana dari situs yang dikelola
bersama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika (BMKG), Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan jelas menampilkan kondisi yang menguatkan kondisi kabut asap
di wilayah Indonesia.

Grafik jumlah hotspot per Provinsi 2 September 2015 (hasil olahan dari data titik panas dari Satelit Terra dan Aqua confidence > 80 dari
situs SiPongi)

Grafik jumlah hotspot di Provinsi Riau 2 September 2015 (hasil olahan dari data titik panas dari Satelit Terra dan Aqua confidence > 80
dari situs SiPongi)

Pada Gambar 2 terlihat bahwa hotspot menumpuk sangat rapat di Pulau Sumatera. Dari total 431 hotspot
yang terpantau di seluruh wilayah Indonesia pada Rabu, 3 September 2015 (dari satelit Terra dan Aqua
dengan confidence > 80), sebanyak 341 atau 79% berada di Pulau Sumatera. Sebaran hotspot per provinsi
dapat dilihat pada Gambar 3. Adapun sebaran hotspot di Wilayah Riau, wilayah yang terdampak parah di
Sumatera, bisa dilihat pada Gambar 4.

Dari Gambar 3, hotspot terbanyak terpantau di Provinsi Jambi (118 hotspot), sama seperti pada kondisi dua
hari yang lalu. Provinsi lainnya yang terpantau hotspot dalam jumlah besar adalah Riau, Sumatera Selatan
dan Kalimantan Tengah. Untuk Provinsi Riau, dari 88 hotspot yang terpantau sebagian besar berasal dari
daerah dekat Pekabnaru yaitu Pelalawan, dan Indragiri Hilir.
Kondisi kabut asap di beberapa wilayah bahkan sudah sampai pada kondisi
berbahaya. Kompas.com memberitakan bahwa kondisi cuaca di hampir seluruh Riau sudah masuk kategori
tidak sehat. Dari pembacaan 10 alat pencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tersebar di
beberapa wilayah Riau, enam di antaranya berada pada kategori Berbahaya dengan angka polutan di atas
300. Enam wilayah itu adalah Rumbai dan Panam (Pekanbaru), Petapahan-Kampar, Minas-Siak, serta
Bangko dan Libo-Rokan Hilir.
Mengingat musim kemarau masih akan terus berlangsung, dan dampak kebakaran hutan dan lahan semakin
parah, pemerintah baik pada tingkat daerah maupun pusat harus segera bertindak. Jangan menunggu kabut
asap melintas batas negara hingga ke negara tetangga baru pemerintah bergerak. Jangan menunggu dunia
Internasional kembali berteriak kemudaian baru bertindak. Masyarakat di daerah sudah bergerak saling
membantu sesame dari ancaman semakin memburuknya kondisi kesehatan dan aktivitas yang terhenti
akibat kabut asap. Kerugian materi terus bertambah dan kesehatan warga makin memburuk. Darurat kabut
asap harus segera ditangani mengingat meluasnya dampak bencana maupun kerugian yang sudah semakin
besar.
Mari kita saling mengingatkan dengan apapun yang kita bisa. Untuk warga yang terpapar kabut asap, tidak
ada salahnya mengikuti panduan dibawah ini, agar bisa bertahan dalam kondisi terburuk di tempat masingmasing.