Anda di halaman 1dari 4

CEKAMAN BIOTIK

Pendahuluan
Selama masa hidupnya, tanaman sering terpapar kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan
dan seringkali menimbulkan cekaman pada tanaman. Tanaman tidak hanya mengalami cekaman abiotik
yang dapat disebabkan oleh perubahan iklim global seperti yang terjadi di saat ini tetapi juga mengalami
cekaman biotik yang seringkali menjadi lebih parah akibat campur tangan manusia (misalnyateknik
budidaya yang kurang tepat). Kekeringan, kekurangan air, kelebihan air (tergenang), salinitas, dan suhu
tinggi merupakan contoh-contoh cekaman abiotik yang berdampak negatif bagi tanaman. Sedangkan
serangan patogen (seperti bakteri, virus, fungi); gulma; herbivora; dan adanya interaksi antar tanaman
budidaya (kompetisi) yang berlebihan merupakan contoh cekaman biotik. Ketika terjadi cekaman biotik
tanaman akan merespon secara struktural dan biokimia sebagai bentuk pertahanan terhadap cekaman.
Hasil dan Pembahasan
Respon Tanaman Ketika Terserang Patogen
Biasanya patogen masuk ke tanaman melalui luka yang ada di bagian tanaman atau melalui
stomata. Infeksi patogen dapat mengakibatkan rusaknya penutupan stomata. Tanaman akan memberikan
respon saat terserang oleh patogen. Respon tanaman saat terserang oleh patogen dibedakan menjadi dua
cara yaitu : (1) adanya sifat-sifat struktural pada tanaman yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan akan
menghambat patogen untuk masuk dan menyebar di dalam tanaman, dan (2) respon biokimia yang berupa
reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tanaman sehingga patogen dapat mati atau
terhambat pertumbuhannya.
Struktur penghalang yang terdapat di dalam tanaman antara lain lapisan lilin, kutin, suberin, lignin,
polisakarida dinding sel,dan glikoprotein dinding sel. Sebelum patogen menginfeksi tanaman, patogen
harus dapat melewati penghalang yang terdapat di tanaman. Penghalang ini dapat berupa dinding sel yang
biasanya disusun oleh lapisan lignin, kutikel, dan berhubungan dengan lapisan pektin dinding sel dan
menutupi seluruh bagian permukaan tanaman. Unsur utama adalah kutin yaitu suatu polimer asam
hidroksifat yang tidak larut dan melekat di dalam lapisan jilin. Bagian di bawah permukaan dari tanaman
dan luka pada bagian aerial tanaman dilindungi oleh suberin. Suberin merupakan suatu campuran polimer
fenolik dan bahannya berasal dari lipid yang diikat di karbohidrat dinding sel.
Dinding sel tanaman mengandung enzim glikoprotein yang khususnya peroksidase dan glicosil
hydrolase memainkan peranan dalam pertahanan tanaman. Peroksidase terlibat dalam biosintesis lignin dan
dalam pembentukan jembatan. isoditirosinekstensin. Glikosil hidrolase merupakan komponen umum
dinding sel, dan bertanggung jawab untuk melepaskan elisitor dari cendawan atau dinding sel tanaman
untuk inaktifasi elisitor. Pembentukan peroksidase akan meningkat ketika ada patogen atau herbivora yang
menyerang tanaman. Gambar 1 menunjukkan aktivitas enzim peroksidase pada tanaman padi resisten dan
rentan wereng coklat. Aktivitas enzim peroksidase meningkat setelah 1 hari investasi wereng coklat.
Dibandingkan dengan tanaman padi rentan, aktivitas peroksidase pada tanaman padi resisten terlihat lebih
tinggi.
Menurut Pareek et al (2010), patogen yang menyerang tanaman dibedakan menjadi 2 macam
berdasarkan cara hidupnya, yaitu biotrof (hemibiotrof) dan necrotrof. Patogen biotrof hidup di dalam sel
tanaman dan menjaga inang agar tetap hidup dan menyerap nutrisi dari jaringan tanaman yang masih aktif
(hidup). Contoh patogen biotrof adalah Pseudomonas syringae dan Hyaloperonospora Arabidopsidis.
Untuk mengendalikan patogen jenis ini, tanaman menginduksi program (kematian sel) yang dapat
memusnahkan sel yang berdekatan langsung dengan patogen tersebut dan membatasi penyebarannya.

Sedangkan patogen necrotrof masuk ke dalam tanaman dan membunuh inangnya serta mengambil nutrisi
dari jaringan yang sudah mati. Contoh patogen necrotrof adalah Alternaria brassicicolaand Botrytis cinerea.
Sumber : Alagar et al., 2010.

Resisten

Rentan

Gambar 1. Aktivitas Enzim Peroksidase pada Tanaman Padi Resisten dan Rentan Wereng Coklat. Garis
Vertikal Menunjukkan Standar Deviasi dari Tiga Ulangan.
Selain mekanisme di atas, serangan patogen juga menyebabkan tersintesisnya ROS (Reactive
Oxygen Species) yang kebanyakan dalam bentuk superoksida dan hirogen peroksida. ROS berfungsi
sebagai pengkode gen ketahanan tanaman ketika terjadi cekaman biotik. Menurut Rejeb et al (2014),
meskipun ROS dikenal berbahaya dan merusak tanaman, dalam tingkat yang rendah ROS berfungsi
meregulasi ketahanan tanaman. ROS mengirim sinyal dari satu sel ke sel tanaman lain melalui Respiratory
Burst Oxidase Homologue D (RBOHD) dan berperan sebagai pembawa pesan kedua dengan memodifikasi
struktur protein dan mengaktivasi gen ketahanan tanaman.
Pengaruh Serangan Patogen terhadap Hormon Tanaman
Respon tanaman ketika terjadi serangan patogen biotrof adalah dengan menginduksi hormon asam
salisilat. Akan tetapi induksi asam salisat secara konstan dapat menyebabkan kematian sel tanaman dan
dapat menurunkan tinggi tanaman seperti yang terjadi pada tanaman Arabidopsis (Pareek et al., 2010).
Sedangkan respon tanaman ketika terjadi serangan patogen necrotof adalah dengan menginduksi hormon
asam jasmonat dan etilen. Kedua hormon ini juga berperan dalam perkembangan tanaman. Interaksi antara
asam jasmonat dan etilen ketika terjadi cekaman biotik adalah interaksi yang sinergis. artinya kedua
hormon ini sama-sama mengalami peningkatan ketika terjadi serangan patogen. Sedangkan ketahanan
tanaman terhadap patogen biotrof berkorelasi negatif dengan ketahanan tanaman terhadap patogen
necrotrof dan sebaliknya.
Tabel 1. Kandungan Asam Salisilat Lima Galur Melon Sebelum
Tabel 1 menunjukkan kadar
Inokulasi dan Setelah Inokulasi Menggunakan Fom Isolat
asam salisilat pada tanaman melon
MEKP 3.2
sebelum inokulasi Fom (Fusarium
oxysporum f.sp. melonis) dan setelah inokulasi. Kandungan asam salisilat terbukti meningkat setelah 4
hari inokulasi Fom. Akan tetapi kandungan asam salisilat yang tinggi pada galur M-8 tidak menjamin
ketahanan tanaman (dalam kasus ini M-8 rentan). Hal ini dikarenakan galur-galur tersebut termasuk galur

yang sensitif terhadap asam salisilat. Selain itu, diduga kedua galur tersebut tidak mampu mengaktifkan
senyawa antioksidan untuk memperbaiki kerusakan sel akibat respon hipersensitif yang diaktifkan saat
terdapat serangan patogen (Sujatmiko et al.,
2012).
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Cekaman biotik yang terjadi karena
kompetisi antar tanaman budidaya, gulma,
maupun
patogen
menyebabkan
Sumber : Sujatmiko et al., 2012.
pertumbuhan dan hasil tanaman menjadi
terhambat. Pada bercak daun, hawar Tabel 2. Pengaruh Sistem Penanaman terhadap Hasil Umbi Ubi kayu
bakteri dan penyakit lainnya yang
menyebabkan kerusakan jaringan daun
atau defoliasi daun dapat menurunkan
fotosintesis tanaman. Hal ini karena
luasan permukaan daun yang digunakan
untuk fotosintesis berkurang. Selain
itu patogen yang masuk melalui
stomata
daun
menyebabkan
perubahan pada lubang stomata Sumber : Suwarto et al., 2005.
sehingga laju aliran CO2 menjadi
terhambat. Hal ini tentu saja dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan menurunkan hasil tanaman.
Tabel 2 menunjukkan produktivitas ubi kayu yang ditumpangsarikan dengan tanaman jagung pada jarak
tanam 100 cm x 100 cm. Produktivitas ubi kayu tumpangsari cenderung berbeda nyata dengan monokultur.
Selain itu peningkatan produktivitas ubi kayu tumpangsari juga tidak signifikan setiap bulannya.Tabel 2
menunjukkan bahwa penanaman dengan sistem tumpangsari harus memperhatikan berbagai hal aspek
seperti pengaturan jarak tanam yang tepat, populasi tanaman, umur panen tiap-tiap tanaman, dan arsitektura
tanaman agar tidak menimbulkan cekaman biotik bagi tanaman budidaya.
Kesimpulan
Cekaman biotik yang terjadi pada tanaman dapat disebabkan oleh berbagai makhluk hidup seperti
gulma, patogen, herbivora, dan interaksi (kompetisi) antar tanaman budidaya. Dalam menghadapi cekaman
biotik, tanaman mempunyai mekanisme struktural dan biokimia terhadap cekaman sebagai bentuk
pertahanan. Struktur penghalang yang terdapat di dalam tanaman antara lain lapisan lilin, kutin, suberin,
lignin, polisakarida dinding sel,dan glikoprotein dinding sel. Saat patogen menyerang, enzim peroksidase
disintesis di dinding sel sebagai bentuk respon tanaman terhadap serangan patogen. Selanjutnya ROS juga
tersintesis dan berperan sebagai pembawa sinyal untuk mengaktifkan gen ketahanan tanaman. Hormon
endogen tanaman juga akan meningkat ketika terjadi serangan patogen. Asam salisilat disintesis tanaman
dalam menghadapi patogen biotrof, sedangkan asam jasmonat dan etilen disintesis tanaman ketika
menghadapi patogen necrotrof. Cekaman biotik dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan
menurunkan hasil tanaman.
Daftar Pustaka
Alagar, M., Suresh, S., Samiyappan, R., dan Saravanakuma, D. 2007. Reaction of Resistant And
Susceptible Rice Genotypes Against Brown Planthopper (Nilaparvata lugens). Phytoparasitica. 35
(4) : 346 356.
Pareek, A., Sopory, S. K., Bohnert, H. J., dan Govindjee. 2010. Abiotic Stress Adaptation in Plants,
Physiological, Molecular and Genomic Foundation. Belanda : Springer.

Rejeb, B. I., Pastor, V., dan Mani, B. M. 2014. Plant Responses to Simultaneous Biotic and Abiotic Stress :
Molecular Mechanisms. Plants. 3 : 458 475.
Sujatmiko, B., Sulistyaningsih, E., dan Murti, H. R. 2012. Studi Ketahanan Melon (Cucumis melo L.)
terhadap Layu Fusarium Secara In-Vitro dan Kaitannya dengan Asam Salisilat. Ilmu Pertanian. 15
(2) : 1 18.
Suwarto, Yahya, S., Handoko, dan Chozin, M. A. 2005. Kompetisi Tanaman Jagung dan Ubikayu dalam
Sistem Tumpangsari. Bul. Agron. 33 (2) : 1 7.