Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Manusia mempunyai beberapa rongga di sepanjang atap dan bagian
lateral rongga hidung. Rongga-rongga ini diberi nama sinus yang kemudian diberi
nama sesuai dengan letaknya yaitu sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus sfenoidalis
dan sinus ethmoidalis.
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter
sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan
tersering di seluruh dunia.
Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga
sinusitis sering juga disebut rhinosinusitis. Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi
yang sering juga ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya.
Rhinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga
penting bagi dokter umum atau dokter spesialis untuk memiliki pengetahuan yang
baik mengenai definisi, gejala, dan metode diagnosis dari penyakit rhinosinusitis.
Menurut American Academy of Otolaryngology - Head & Neck Surgery
(1996), istilah sinusitis lebih tepat diganti dengan rinosinusitis karena dianggap lebih
akurat dengan alasan secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa
hidung, sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis dan gejala-gejala obstruksi
nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis ataupun sinusitis serta sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala sehingga terbentuk rongga yang
letaknya di sekitar hidung dan bermuara ke dalam rongga hidung.
Terjadinya rhinosinusitis dapat diakibatkan oleh virus, bakteri maupun jamur.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hampir 70% kasus ditemukan
Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, dan Streptococcus group A.
Selain itu dapat juga disebabkan peradangan di sekitar sinus paranasal seperti radang

mukosa hidung (yang menjalar melalui ostium sinus), radang tenggorok (menjalar
melalui adenoid dan tonsil) atau infeksi gigi-geligi.
Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap rhinosinusitis ini menjadi penting
karena hal diatas. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi,
mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan
operasi.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui anatomi, fisiologi,
definisi,

etiologi,

epidemiologi,

patofisiologi,

penatalaksanaan, dan komplikasi dari rhinosinusitis.

manifestasi

klinis,

diagnosis,

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Anatomi hidung luar
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar
menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar
dibedakan atas tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat
digerakkan; di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; dan
yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bentuk hidung
luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
1) pangkal hidung (bridge),
2) batang hidung (dorsum nasi),
3) puncak hidung (hip),
4) ala nasi,
5) kolumela,
6) lubang hidung (nares anterior).
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari:
1) tulang hidung (os nasal)
2) prosesus frontalis os maksila
3) prosesus nasalis os frontal;
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang
terletak di bagian bawah hidung, yaitu
1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (ala mayor)
3) tepi anterior kartilago septum.

II.2 Anatomi hidung dalam


Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. internum
di sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari
nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior,
konka media, dan konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung
dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut
meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior.

Gambar 1. Anatomi Hidung Dalam

II.2.1 Septum nasi


Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian
posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh
kartilago septum (kuadrilateral) , premaksila dan kolumela membranosa;

bagian posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila , Krista palatine
serta krista sfenoid.
II.2.2 Kavum nasi
Kavum nasi terdiri dari:
1. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus
horizontal os palatum.
2. Atap hidung
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os
nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os
sphenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa
yang dilalui oleh filament-filamen n.olfaktorius yang berasal dari
permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas
septum nasi dan permukaan kranial konka superior.
3. Dinding Lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os
maksila, os lakrimalis, konka superior dan konka media yang
merupakan

bagian

dari

os

etmoid,

konka

inferior,

lamina

perpendikularis os platinum dan lamina pterigoideus medial.


4. Konka
Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka. Celah
antara konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior,
celah antara konka media dan inferior disebut meatus media, dan di
sebelah atas konka media disebut meatus superior. Kadang-kadang
didapatkan konka keempat (konka suprema) yang teratas. Konka

suprema, konka superior, dan konka media berasal dari massa lateralis
os etmoid, sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri yang
melekat pada maksila bagian superior dan palatum.
II.2.3 Meatus superior
Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara
septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Kelompok sel-sel
etmoid posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau
beberapa ostium yang besarnya bervariasi. Di atas belakang konka superior
dan di depan korpus os sfenoid terdapat resesus sfeno-etmoidal, tempat
bermuaranya sinus sfenoid.
II.2.4 Meatus media
Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih
luas dibandingkan dengan meatus superior. Di sini terdapat muara sinus
maksila, sinus frontal dan bagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian
anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral
terdapat celah yang berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai infundibulum.
Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit yang menghubungkan
meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris.
Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang
berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus.

Di atas

infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh
salah satu sel etmoid. Ostium sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid
anterior biasanya bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid
anterior biasanya bermuara di bagian anterior atas, dan sinus maksila
bermuara di posterior muara sinus frontal. Adakalanya sel-sel etmoid dan
kadang-kadang duktus nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di depan
infundibulum.

II.2.5 Meatus Inferior


Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus, mempunyai
muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di
belakang batas posterior nostril.
II.2.6 Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan
nasofaring, berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum.
Tiap nares posterior bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis
palatum, bagian dalam oleh os vomer, bagian atas oleh prosesus vaginalis os
sfenoid dan bagian luar oleh lamina pterigoideus.
II.2.7. Sinus Paranasal
Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas
sinus maksila, etmoid, frontalis dan sphenoid. Sinus maksilaris merupakan
sinus paranasal terbesar di antara lainnya, yang berbentuk piramid yang
irregular dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya
menghadap ke arah apeks prosesus zygomatikus os maksilla.

II.3 Kompleks ostiomeatal (KOM)


Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang
berupa celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal
gambaran KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina
papirasea. Struktur anatomi penting

yang membentuk KOM adalah prosesus

unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan
ressus frontal.

Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret
yang keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit
infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung. Sedangkan pada sinus frontal sekret
akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan
sinus frontal.

Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung menuju ke

infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka
media.

Gambar 2. Kompleks Ostio Meatal

II.4 Perdarahan hidung


Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid
anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna,
di antaranya adalah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di
belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan
dari cabang cabang a.fasialis.

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang


a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang
disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial
dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis
(perdarahan hidung) terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya .Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke
v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak
memiliki katup, sehingga merupakanfaktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran
infeksi hingga ke intracranial.
II.5 Persarafan hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari
n.oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan
sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum
selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau
otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari
n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan
serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak
di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.
Nervus olfaktorius : saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan
bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada
mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

10

II.6 Fisiologi hidung


Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka
fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah :
1) Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning),
penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan
mekanisme imunologik lokal;
2) Fungsi Penghidu. Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan
pengecap dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka
superior, dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai
daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas
dengan kuat.
3) Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses
berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang;
4) Fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi
terhadap trauma dan pelindung panas;
5) Refleks nasal. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan
nafas terhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur,
lambung, dan pankreas

11

II.6.1 Sistem Mukosiliar Hidung

Gambar 3. Sistim Mukosiliar / Mucociliary Clearance

Transportasi mukosiliar atau TMS adalah suatu mekanisme mukosa hidung untuk
membersihkan dirinya dengan cara mengangkut partikel-partikel asing yang
terperangkap pada palut lender ke arah nasofaring. Merupakan fungsi pertahanan
local pada mukosa hidung. Transpor mukosiliar disebut juga clearance mucosiliar
atau sistem pembersih mukosiliar sesungguhnya.
Transportasi mukosiliar terdiri dari dua sistem yang bekerja simultan, yaitu
gerakan silia dan palut lendir. Ujung silia sepenuhnya masuk menembus gumpalan
mukus dan bergerak ke arah posterior bersama dengan materi asing yang
terperangkap di dalamnya ke arah nasofaring. Aliran cairan pada sinus mengikuti pola
tertentu. Transportasi mukosiliar pada sinus maksila berawal dari dasar yang
kemudian menyebar ke seluruh dinding dan keluar ke ostium sinus alami. Kecepatan
kerja pembersihan oleh mukosiliar dapat diukur dengan menggunakan suatu partikel
yang tidak larut dalam permukaan mukosa. Lapisan mukosa mengandung enzim

12

lisozim (muramidase), dimana enzim ini dapat merusak bakteri. Enzim tersebut
sangat mirip dengan immunoglobulin A (Ig A), dengan ditambah beberapa zat
imunologik yang berasal dari sekresi sel. Imunoglobulin G (IgG) dan Interferon dapat
juga ditemukan pada sekret hidung sewaktu serangan akut infeksi virus. Ujung silia
tersebut dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan mukus kemudian
menggerakkannya ke arah posterior bersama materi asing yang terperangkap ke arah
faring. Cairan perisiliar yang di bawahnya akan di alirkan kearah posterior oleh
aktivitas silia, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti. Transportasi
mukosiliar yang bergerak secara aktif ini sangat penting untuk kesehatan tubuh. Bila
sistem ini tidak bekerja secara sempurna maka materi yang terperangkap oleh palut
lender akan menembus mukosa dan menimbulkan penyakit. Kecepatan dari TMS
sangatlah bervariasi, pada orang yang sehat adalah antara 1 sampai 20 mm / menit.
Karena pergerakan silia lebih aktif pada meatus inferior dan media maka gerakan
mukus dalam hidung umumnya ke belakang, silia cenderung akan menarik lapisan
mukus dari meatus komunis ke dalam celah-celah ini. Sedangkan arah gerakan silia
pada sinus seperti spiral, dimulai dari tempat yang jauh dari ostium. Kecepatan
gerakan silia bertambah secara progresif saat mencapai ostium, dan pada daerah
ostium silia tersebut berputar dengan kecepatan 15 hingga 20 mm/menit.
Pada dinding lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabung
dengan sekret yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior di dekat
infundibulum etmoid, kemudian melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan
dialirkan ke arah nasofaring. Sekret yang berasal dari sinus etmoid posterior dan
sfenoid akan bergabung di resesus sfenoetmoid, kemudian melalui posteroinferior
orifisium tuba eustachius menuju nasofaring. Dari rongga nasofaring mukus turun
kebawah oleh gerakan menelan.

13

Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda pada setiap bagian hidung. Pada
segmen hidung anterior kecepatan gerakan silianya mungkin hanya 1/6 segmen
posterior, sekitar 1 hingga 20 mm / menit.

II.8 Anatomi Sinus Paranasal


Sinus paranasal merupakan salah salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di
dalam tulang. Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal, empat buah pada masingmasing sisi hidung ; sinus frontalis kanan dan kiri, sinus etmoid kanan dan kiri
(anterior dan posterior), sinus maksila, yang terbesar, kanan dan kiri disebut Antrum
Highmore dan sinus sfenoidalis kanan dan kiri. Semua rongga sinus ini dilapisi oleh
mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara
di rongga hidung melalui ostium masing-masing.

Gambar 4. Sinus Paranasal

Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok yaitu bagian
anterior dan posterior. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media, atau di
dekat infundibulum, terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan sel-sel anterior sinus

14

etmoid. Kelompok posterior bermuara di berbagai tempat di atas konka media terdiri
dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sphenoid. Garis perlekatan konka media
pada dinding lateral hidung merupakan batas antara kedua kelompok. Proctor
berpendapat bahwa salah satu fungsi penting sinus paranasal adalah sebagai sumber
lendir yang segar dan tak terkontaminasi yang dialirkan ke mukosa hidung.
Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang berisi
udara yang berkembang dari dasar tengkorak hingga bagian prosesus alveolaris dan
bagian lateralnya berasal dari rongga hidung hingga bagian inferomedial dari orbita
dan zygomatikus. Sinus-sinus tersebut terbentuk oleh pseudostratified columnar
epithelium yang berhubungan melalui ostium dengan lapisan epitel dari rongga
hidung. Sel-sel epitelnya berisi sejumlah mukus yang menghasilkan sel-sel goblet.
II.8.1 Sinus maksila
Sinus maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal yang
terbesar. Merupakan sinus pertama yang terbentuk, diperkirakan pembentukan sinus
tersebut terjadi pada hari ke 70 masa kehamilan. Saat lahir sinus maksila bervolume
6-8 ml, yang kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran
maksimal yaitu 15 ml pada saat dewasa.
Pada waktu lahir sinus maksila ini mulanya tampak

sebagai cekungan

ektodermal yang terletak di bawah penonjolan konka inferior, yang terlihat berupa
celah kecil di sebelah medial orbita. Celah ini kemudian akan berkembang menjadi
tempat ostium sinus maksila yaitu di meatus media. Dalam perkembangannya, celah
ini akan lebih kea rah lateral sehingga terbentuk rongga yang berukuran 7 x 4 x 4
mm, yang merupakan rongga sinus maksila.

Perluasan rongga

tersebut akan

berlanjut setelah lahir, dan berkembang sebesar 2 mm vertical, dan 3 mm


anteroposterior tiap tahun. Mula-mula dasarnya lebih tinggi dari pada dasar rongga
hidung dan pada usia 12 tahun, lantai sinus maksila ini akan turun, dan akan

15

setinggi dasar hidung dan kemudian berlanjut meluas ke bawah bersamaan dengan
perluasan rongga. Perkembangan sinus ini akan berhenti saat erupsi gigi permanen.
Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun.
Sinus maksila berbentuk piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa
nasalis dan puncaknya ke arah apeks prosesus zigomatikus os maksila. Dinding
anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina,dinding
posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah
dinding lateral rongga hidung. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh
lamina vertikalis os palatum, prosesus unsinatus os etmoid, prosesus maksilaris konka
inferior, dan sebagaian kecil os lakrimalis. Dinding superiornya ialah dasar orbita dan
dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila
berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris
melalui infundibulum etmoid. Menurut Morris, pada buku anatomi tubuh manusia,
ukuran rata-rata sinus maksila pada bayi baru lahir 7-8 x 4-6 mm dan untuk usia 15
tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. Antrum mempunyai hubungan dengan
infundibulum di meatus medius melalui lubang kecil, yaitu ostium maksila yang
terdapat di bagian anterior atas dinding medial sinus. Ostium ini biasanya terbentuk
dari membran. Jadi ostium tulangnya berukuran lebih besar daripada lubang yang
sebenarnya. Hal ini mempermudah untuk keperluan tindakan irigasi sinus.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah :
1) Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas , yaitu
premolar (P1 dan P2) , molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring
(C) dan gigi molar (M3) , bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke dalam
rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Gigi premolar kedua dan gigi
molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat dengan dasar sinus. Bahkan kadangkadang tumbuh ke dalam rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja.
Proses supuratif yang terjadi di sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa

16

sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi ini dapat
menimbulkan hubungan dengan rongga sinus yang akan mengakibatkan
sinusitis.
2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
3) Os sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus, sehingga drainase
hanya tergantung dari gerak silia, dan drainase harus melalui infundibulum
yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan
pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi
drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
II.8.2 Sinus frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke emapat
fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid.
Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan
mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun.
Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi , dan seringkali juga sangat
berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus dan pasangannya, kadang-kadang juga ada
sinus yang rudimenter. Bentuk sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris,
satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis
tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan
kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang. Ukuran rata-rata sinus frontal :
tinggi 3 cm, lebar 2-2,5 cm, dalam 1,5-2 cm, dan isi rata-rata 6-7 ml. Tidak adanya
gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen
menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif
tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah
menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di
ressus frontal yang berhubungan dengan infundibulum etmoid

17

II.8.3 Sinus etmoid


Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhirakhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinussinus lainnya.
Sel-sel etmoid, mula-mula terbentuk pada janin berusia 4 bulan, berasal dari
meatus superior dan suprema yang membentuk kelompok sel-sel etmoid anterior dan
posterior. Sinus etmoid sudah ada pada waktu bayi lahir kemudian berkembang
sesuai dengan bertambahnya usia sampai mencapai masa pubertas. Pada orang
dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior.
Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm, dan lebarnya 0,5 cm di
bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior, volume sinus kira-kira 14 ml.
Sinus etmoid berongga rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang
tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara
konka media dan dinding medial orbita. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi
menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius, dan sinus etmoid
posterior yang bermuara di meatus superior. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior
ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus
frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior
terdapat suatu penyempitan infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila.
Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis
frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan
membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid
posterior berbatasan dengan sinus sphenoid.

18

II.8.4 Sinus sfenoid


Sinus sfenoid

terbentuk pada janin berumur 3 bulan sebagai pasangan

evaginasi mukosa di bagian posterior superior kavum nasi. Perkembangannya


berjalan lambat, sampai pada waktu lahir evaginasi mukosa ini belum tampak
berhubungan dengan kartilago nasalis posterior maupun os sfenoid. Sebelum anak
berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil, namun telah berkembang sempurna pada
usia 12 sampai 15 tahun. Letaknya di dalam korpus os etmoid dan ukuran serta
bentuknya bervariasi. Sepasang sinus ini dipisahkan satu sama lain oleh septum
tulang yang tipis, yang letakya jarang tepat di tengah, sehingga salah satu sinus
akan lebih besar daripada sisi lainnya.
Letak os sfenoid adalah di dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid
posterior. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid.
Ukurannya adalah tinggi 2 cm, dalamnya 2,3 cm, dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya
berkisar dari 5 sampai 7,5 ml. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus
bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan
tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. Batas-batasnya adalah : sebelah
superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya adalah
atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis
interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan
dengan fosa serebri posterior di daerah pons.
II.9 Fisiologi sinus paranasal
Sinus paranasal secara fisiologi memiliki fungsi yang bermacam-macam.
Bartholini adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa ronga-rongga ini
adalah organ yang penting sebagai resonansi, dan Howell mencatat bahwa suku
Maori dari Selandia Baru memiliki suara yang sangat khas oleh karena mereka tidak
memiliki rongga sinus paranasal yang luas dan lebar. Teori ini dipatahkan oleh
Proetz , bahwa binatang yang memiliki suara yang kuat, contohnya singa, tidak

19

memiliki rongga sinus yang besar. Beradasarkan teori dari Proetz, bahwa kerja dari
sinus paranasal adalah sebagai barier pada organ vital terhadap suhu dan bunyi yang
masuk. Jadi sampai saat ini belum ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus
paranasal . Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsi
apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka.
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain adalah:
(1) Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak didapati
pertukaran udara yangdefinitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran
udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas,
sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus.
Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak
mukosa hidung.
(2) Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas , melindungi orbita dan
fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya,
sinus-sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang
dilindungi.
(3) Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak
bermakna.

20

(4) Membantu resonansi suara


Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat , posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Tidak ada korelasi
antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
(5) Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya
pada waktu bersin atau membuang ingus.
(6) Membantu produksi mukus.
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang
turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius,
tempat yang paling strategis.

II.10 Rhinosinusitis
II.10.1 Definisi
Rinosinusitis adalah suatu proses inflamasi yang melibatkan mukosa hidung
dan sinus paranasal, merupakan salah satu masalah kesehatan yang mengalami
peningkatan secara nyata dan memberikan dampak bagi pengeluaran finansial
masyarakat. Rinitis dan sinusitis umumnya terjadi bersamaan, sehingga terminologi
saat ini yang lebih diterima adalah rinosinusitis. Rinosinusitis dibagi menjadi
kelompok akut, subakut dan kronik. Rhinosinusitis ditandai dengan adanya dua atau
lebih gejala, salah satunya termasuk hidung tersumbat/obstruksi/kongesti atau pilek
(secret hidung anterior/posterior):
-

Nyeri Wajah

21

Hilangnya penghidu

Dan salah satu dari temuan nasoendoscopy:


-

Polip
Secret mukopurulen dari meatus medius
Edema/obstruksi mukosa di meatus medius

Gambaran tomografi computer:


-

Perubahan mukosa di kompleks osteomeatal

Sesuai anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi rhinosinusitis maksila,
rhinosinusitis etmoid, rhinosinusitis frontal, dan rhinosinusitis sphenoid. Bila
peradangan ini mengenai beberapa sinus disebut multisinus, sedangkan bila mengenai
semua sinus paranasal disebut panrhinosinusitis. Dari ke empat rhinosinusitis
paranasal itu, sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terinfeksi.

II.10.2 Etiologi
Beberapa faktor etiologi rhinosinusitis antara lain ISPA akibat virus,
bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip
hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, tonsil, infeksi
gigi, serta kelainan imunologi.
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab
rhinosinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan
sumbatan dan menyembuhkan rhinosinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis
dengan foto polos leher posisi lateral.
Faktor lain yang berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan
kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan

22

mukosa dan merusak silia. Berikut nama bakteri, virus dan jamur yang sering
menginfeksi antara lain:
a. Bakteri: Streptococcus pneumonia, Haemophillus influenza, Streptococcus
grup A, Staphylococcus aureus, Neisseri Klebsiela, Pseudomonas, Moraxella
cataralis.
b. Bakteri anaerob: Fusobakteri
c. Virus: Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus
d. Jamur: Rhizopus, Rhizomucor, Mucor, Absidia, Cunninghamela, Aspergilus,
Fusarium
II.10.3 Klasifikasi
Secara klinis rhinosinusitis dibagi atas:
a. Rhinosinusitis akut, bila infeksi beberapa hari sampai 4 minggu.
b. Rhinosinusitis subakut, bila infeksi antara 4 minggu sampai 3 bulan.
c. Rhinosinusitis kronis, bila infeksi lebih dari 3 bulan.
Berdasarkan penyebabnya rhinosinusitis dibagi atas:
a. Rhinogenik (penyebab kelainan adalah masalah di hidung), segala sesuatu
yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan rhinosinusitis.
Contohnya rhinitis akut (influenza), poli, dan septum deviasi.
b. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi),

yang

sering

menyebaban rhinosinusitis infeksi adalah pada gigi graham atas (premolar dan
molar). Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pneumonia, Hemophilus
influenza, Streptococcus viridians, Staphylococcus aureus, Branchamella
catarathis.

II.10.4 Patofisiologi
Pada dasarnya patofisiologi dari rhinosinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor
utama, yaitu obstruksi drainase sinus (sinus ostia), kerusakan pada fungsi silia, dan

23

kualitas sekresi nasal. Pertama, berkurangnya ukuran ostium dan membuat


berkurangnya kandunga oksigen didalam sinus, dimana dapat mengundang kuman
kedalam situasi tersebut sehingga terjadi infeksi. Hipoksia dapat juga mengurangi
system inun dari fungsi polimorfonuklear,

produksi immunoglobulin, dan

mucocilliary clearance.
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar di dalam kompleks osteo meatal (KOM). Disamping itu
mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga
mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan
lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi didalam
sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus
menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri
patogen.

Gambar 8. Patogenesis Sinusitis

24

Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir
sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan
menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi
manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa,
dimana stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab
menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, dimana mukosa yang sembab makin
membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai,
sehingga terjadilah polip.
Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini, yang
menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan :
1.
Jaringan submukosa di infiltrasi oleh serum, sedangkan permukaannya kering.
2.

Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa.


Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan
pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan

3.

epitel.
Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui
epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan bakteri, debris,
epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah
bercampur dengan sekret. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit, kemudian

4.

5.

menjadi kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum.
Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya
pengeluaran leukosit memakan waktu 10 14 hari.
Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe
purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih
mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum
menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi
permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di bawahnya dapat
memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang.

25

II.10.5 Gambaran Klinis


a. Rhinosinusitis akut
Rhinosinusitis maksilaris: faktor predisposisi lokal yang paling sering
ditemukan yaitu alergi hidung kronik, benda asing dan deviasi septum
nasi. Deformitas rahang wajah, terutama palaktoskisis dapat
menimbulkan masalah pada anak. Anak-anak cenderung menderita
infeksi nasofaring atau sinus kronik dengan angka insidensi yang lebih
tinggi. Sedangkan gangguan gigi geligi bertanggung jawab atas sekitar
10% infeksi rhinosinusitis maksilaris akut.

Gejala Rhinosinusitis

Gambaran

Terapi
maksilaris
Radiologi
Demam
Mula-mula
berupa Antibiotic spectrum
Malaise
penebalan mukosa, luas, dekongestan,
Nyeri kepala
diikuti topical
steroid,
Wajah terasa bengkak, selanjutnya
penuh dan gigi terasa opasifikasi
nyeri

pada

gerakan lengkap

sinus analgetik.
akibat

mukosa
yang
kepala mendadak
Nyeri pipi khas yang bengkak atau akibat
tumpul dan menusuk
akumulasi
cairan
Nyeri palpasi dan
yang memenuhi sinus
perkusi
Batuk iritatif dan akhirnya terbentuk air
fluid level
nonproduktif

Rhinosinusitis
maksilaris

dengan

asal gigi geligi yaitu


dengan
gigi,
irigasi
koreksi
gigi

ekstraksi
antibiotic,
sinus

dan

gangguan

26

Rhinosinusitis etmoidalis
Gejala: nyeri tekan diantara kedua mata dan diatas jembatan hidung,
drainase dan sumbatan hidungnya. Pada anak dinding lateral labirin
etmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dank arena itu
cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita.
Terapi: pemberian antibiotic sistemik, dekongestan hidung, dan obat
semprot atau tetes vasokonstriktor topical. Komplikasi atau perbaikan

yang tidak memadai merupakan indikasi untuk etmoidektomi.


Rhinosinusitis frontalis
Gejala: nyeri berlokasi diatas alis mata, biasanya pada pagi hari dan
memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda
hingga menjelang malam. Pasien biasanya mengatakan bahwa dahi
terasa nyeri bila disnetuh dan mungkin terdapat pembengkakan
supraorbital.
Terapi: pemberian

antibiotic,

dekongestan

dan

tetes

hidung

vasokonstriktor
Rhinosinusitis sfenoidalis
Gejala: nyeri kepala yang mengarah ke vertex cranium.

b. Rhinosinusitis Kronis
Gambaran klinis yang didapat berupa gejala sistemik dan lokal. Gejala
sistemik adalah demam dan merasa lesu.gejala lokal pada hidung yaitu
terdapat secret hidung yang kental dan kadang-kadang berbau dan dirasakan
mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung tersumbat rasa nyeri di salah satu
sinus yang terkena serta kadang-kadang dirasakan juga di tempat lain karena
nyeri alih. pada rhinoskopi anterior akan tampak mukosa konka hiperemis dan
edema tampak mukopus di meatus medius. Pada rhinoskopi posterior terdapat
post nasal drip

II.10.6 Penegakkan Diagnosis

27

Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan

anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

pemeriksaan penunjang. Berdasarkan beratnya penyakit, rhinosinusitis dapat dibagi


menjadi ringan, sedang dan berat sesuai dengan klasifikasi VES. Sedangkan
berdasarkan lamanya penyakit rhinosinusitis dibagi menjadi akut dan kronik.
Berdasarkan VES yang dikatakan akut adalah bila gejala berlangsung <12 minggu,
sedangkan kronik bila gejala berlangsung >12 minggu termasuk rinosinusitis kronik
eksaserbasi akut.

Rhinosinusitis Akut
Rhinosinusitis akut umumnya dimulai dari infeksi saluran pernafasan
atas oleh virus yang melebihi 10 hari. Organisme yang umum menyebabkan
rhinosinusitis akut termasuk Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza
dan Moraxella catarrhalis. Diagnosis dari rhinosinusitis akut dapat ditegakkan
ketika infeksi saluran napas atas oleh virus tidak sembuh salama 10 hari atau
memburuk setelah 5-7 hari.
Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan
infeksi virus, terdapat transudasi di rongga-rongga sinus, mula-mula serous
yang biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Selanjutnya
diikuti oleh infeksi bakteri , yang bila kondisi ini menetap, sekret yang
terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan
multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen.
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama rhinosinusitis akut ialah
hidung tersumbat disertai nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulen,
yang sering sekali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat juga disertai
gejala sistemik seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di
daerah sinus yang terkena, merupakan ciri khas sinusitis akut, serta kadangkadang nyeri juga dirasakan di tempat lain (reffered pain). Nyeri pipi, gigi,
dahi dan depan telinga menandakan sinusitis maksila. Nyeri di antara atau di

28

belakang kedua bola mata dan pelipis menandakan sinusitis etmoid. Nyeri di
dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid,
nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid.
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasal drip
yang menyebabkan batuk dan sesak pada anak.
Pada rinoskopi anterior tampak pus keluar dari meatus superior atau
nanah di meatus medius pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis
etmoid anterior, sedangkan pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis
sfenoid tampak pus di meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak pus
di nasofaring (post nasal drip). Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang
sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi waters, PA dan
lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan
udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.

Gambar 8. Pemeriksaan Radiologi untuk Sinus Paranasal


Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan
mengambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. Lebih baik lagi
bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. Dalam interpretasi
biakan hidung, harus hati-hati, karena mungkin saja biakan dari sinus
maksilaris dapat dianggap benar, namun pus tersebut berlokasi dalam suatu

29

rongga tulang. Sebaiknya biakan dari hidung depan, akan mengungkapkan


organisme

dalam

vestibulum

nasi

termasuk

flora

normal

seperti

Staphilococcus dan beberapa kokus gram positif yang tidak ada kaitannya
dengan bakteri yang dapat menimbulkan sinusitis. Oleh karena itu, biakan
bakteri yang diambil dari hidung bagian depan hanya sedikit bernilai dalam
interpretasi bakteri dalam sinus maksilaris, bahkan mungkin memberi
informasi yang salah. Suatu biakan dari bagian posterior hidung atau
nasofaring akan jauh lebih akurat, namun secara teknis sangat sulit diambil.
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila
melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus
maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk
terapi.
B

Rhinosinusitis Kronis
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Selama
eksaserbasi akut, gejala mirip dengan sinusitis akut namun diluar masa itu,
gejala berupa suatu perasaan penuh pada wajah dan hidung, dan hipersekresi
yang seringkali mukopurulen.

Kadang-kadang hanya satu atau dua dari

gejala-gejala dibawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk
kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara
tuba eustachius, gangguan ke paru seperti bronkitis (sino-bronkitis),
bronkiektasi, dan yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan
sulit diobati. Pada anak mukopus yang tertelan dapat menyebabkan
gastroenteritis. Hidung biasanya sedikit tersumbat, dan tentunya ada gejalagejala faktor predisposisi, seperti rinitis alergika yang menetap, dan keluhankeluhannya yang menonjol. Pasien dengan sinusitis kronik dengan polip nasi
lebih sering mengalami hiposmia dan lebih sedikit mengeluhkan nyeri atau
rasa tertekan daripada yang tidak memiliki polip nasi. Bakteri yang memegang
peranan penting dalam patogenesis rinosinusitis kronik masih kontroversial.
Organisme

yang

umum

terisolasi

pada

sinusitis

kronik

termasuk

30

Staphylococcus

aureus,

bakteri

anaerob

dan

gram

negatif

seperti

Pseudomonas aeruginosa.
II.10.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:
1. Transluminasi (diafanoskopi)
Dilakukan dikamar gelap, memakai sumber cahaya penlight yang dimasukkan
ke dalam mulut dan bibir dikatupkan.Pada sinus normal tampak gambaran
bulan sabit terang di infraorbita. Pada sinus tampak suram.
2. Pemeriksaan radiologi
Posisi rutin yang dipakai adalah posisi Caldwell, Waters dan lateral. Posisi
Caldwell untuk menilai sinus frontal, yakni dengan cara menengadahkan
kepala pasien sehingga membentuk 15o pada garis OML (orbito meatal line).
Posisi Waters adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak
di bawah antrum maksila, yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien
sehingga terbentuk sudut 37o pada garis OML (orbito meatal line). Posisi ini
terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid.
Posisi Waters dinilai dengan menggunakan skor derajat kejernihan radiologi.
Hasil skoring posisi Waters sebagai berikut :
Skor 0 sampai dengan skor 2 = positif
Skor 3 sampai dengan skor 4 = negatif

Skor
0
1
2
3
4

Keterangan
Seluruh rongga berkabut padat
Tepi rongga berkabut (menebal luas), tetapi daerah radiolusen < sekitar 25 %
Tepi rongga berkabut (menebal > 4 mm), tetapi daerah radiolusen masih > 25 %
s/d < 50 %
Tepi rongga berkabut (menebal < 4 mm), daerah radiolusen > sekitar 50 %
Rongga sinus maksilaris seluruhnya radiolusen
Tabel 2. Skor derajat kejernihan radiologi posisi Waters

31

Gambar 9. Proyeksi Waters

Gambar 10. Proyeksi Caldwell

Gambar 11. Proyeksi lateral


3. Pungsi sinus
Pungsi sinus dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan untuk terapi.
Kultur dilakukan pada secret yang keluar dari pungsi ini.
4. Endoskopi (sinoskopi)

32

Sinoskopi sinus maksilaris, dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam


sinus, apakah ada secret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista dan
bagaimana keadaan dalam mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Pada
sinusitis kronis akibat perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup
sehingga drainase menjadi terganggu.
5. Pemeriksaan MRI (Magneting Resonance Imaging)
Jarang dilakukan, dan hanya dilakukan pada kasus yang kompleks, misalnya
terdapat komplikasi sinusitis ke jaringan sekitar. Karena MRI lebih bagus
menggambarkan jaringan lunak.
6. Pemeriksaan CT Scan
Merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada
sinus dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak penebalan
mukosa, air fluid level, perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu
atau lebih sinus paranasal, penebalan di dinding sinus dengan sklerotik (pada
kasus-kasus kronik).

Gambar 12. Foto SPN 3 posisi dan endoskopi

33

II.10.8 Penatalaksanaan
A. Rhinosinusitis Akut

34

B. Rhinosinusitis Kronis
-

Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan


tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.

Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas atau yang


sesuai dengan resistensi kuman selama 10 14 hari. Juga diberikan obatobat simptomatis berupa dekongestan. Selain itu dapat pula diberikan
analgetika, anti histamin dan mukolitik.

Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra


Short Wave Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk
memperbaiki vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan
pencucian sinus.

Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis


ethmoid, frontal atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat

35

dilakukan tindakan pencucian sinus cara Proetz.


Pencucian sinus paranasal :
Pada sinus maksila
Dilakukan pungsi sinus maksila dan dicuci 2 kali seminggu dengan
larutan

garam

fisiologis.

Caranya

adalah

dengan

sebelumnya

memasukkan kapas yang telah diteteskan xilokain dan adrenalin ke


daerah meatus inferior. Setelah 5 menit, kapas dikeluarkan, lalu dengan
trokar ditusuk di bawah konka inferior, ujung trokar diarahkan ke batas
luar mata. Setelah tulang dinding sinus maksila bagian medial tembus,
maka jarum trokar dicabut, sehingga tinggal pipa selubungnya berada di
dalam sinus maksila. Pipa itu dihubungkan dengan semprit yang berisi
larutan garam fisiologis, atau dengan balon yang khusus untuk
pencucian sinus itu. Pasien yang telah ditataki plastik di dadanya,
diminta untuk membuka mulut. Air cucian sinus akan keluar dari mulut,
dan ditampung di tempat bengkok.
Tindakan ini diulang 3 hari kemudian. Karena sudah ada lubang
pungsi, maka untuk memasukkan pipa dipakai trokar yang tumpul. Tapi
tindakan seperti ini dapat menimbulkan kemungkinan trokar menembus
melewati sinus ke jaringan lunak pipi ataupun dasar mata, tertusuk
karena arah penusukan salah, timbul emboli udara karena setelah
menyemprot

dengan

air

disemprotkan

udara

dengan

maksud

mengeluarkan seluruh cairan yang telah dimasukkan serta perdarahan


karena konka inferior tertusuk. Lubang pungsi ini dapat diperbesar,
dengan memotong dinding lateral hidung, atau dengan memakai alat,
yaitu busi. Tindakan ini disebut antrostomi, dan dilakukan di kamar
bedah, dengan pasien yang diberi anastesi.
Pada sinus frontal, etmoid dan sfenoid
Pencucian sinus dilakukan dengan pencucian Proetz. Caranya ialah
dengan pasien ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari badan. Ke

36

dalam hidung diteteskan HCL efedrin 0,5-1,5 %. Pasien harus menyebut


kek-kek supaya HCL efedrin yang diteteskan tidak masuk ke dalam
mulut, tetapi ke dalam rongga yang terletak di bawah ( yaitu sinus
paranasal, oleh karena kepala diletakkan lebih rendah dari badan). Ke
dalam lubang hidung dimasukkan pipa gelas yang dihubungkan dengan
alat pengisap untuk menampung lendir yang terisap dari sinus. Pada
pipa gelas itu dibuat lubang yang dapat ditutup dan dibuka dengan ujung
jari jempol. Pada waktu lubang ditutup maka akan terisap lendir dari
sinus. Pada waktu meneteskan HCL ini, lubang di pipa tidak ditutup.
Tindakan pencucian menurut cara ini dilakukan 2 kali seminggu.
-

Jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali dengan pemeriksaan nasoendoskopi, sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik). Jika ada obstruksi
kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah yaitu BSEF atau
bedah konvensional. Jika tidak ada obstruksi, maka evaluasi diagnosis.8

Pembedahan
Radikal
Sinus maksila dengan antrostomi dan operasi Cadhwell-luc.
Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi.
Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian.
Non Radikal
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan
membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.
Pembedahan, dilakukan :
Bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali, sekret masih tetap kental.
Bila pada foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal.
Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan
CT scan.
Macam pembedahan sinus paranasal

37

Sinus maksila
Antrostomi yaitu dengan membuat saluran antara rongga hidung dengan
sinus maksila di bagian lateral konka inferior. Gunanya ialah untuk
mengalirkan nanah dan lendir yang terkumpul di sinus maksila.
Alat yang perlu disiapkan ialah :
o Alat pungsi sinus maksila
o Semprit untuk mencuci
o Pahat untuk memotong dinding lateral hidung
o Alat pengisap
o Tampon kapas atau kain kasa panjang yang diberi salep
Tindakan dilakukan di kamar bedah, dengan pembiusan ( anestesia ),
dan pasien dirawat selama 2 hari.
Perawatan pasca tindakan :
o Pada antrostomi dilakukan pada kedua belah sinus maksila, maka
kedua belah hidung tersumbat oleh tampon. Oleh karena itu pasien
harus bernafas melalui mulut, dan makanan yang diberikan harus
lunak.
o Tampon diangkat pada hari ketiga, setelah itu, bila tidak terdapat
perdarahan, pasien boleh pulang.
Operasi Caldwell-Luc
Operasi ini ialah membuka sinus maksila, dengan menembus tulang
pipi. Supaya tidak terdapat cacat di muka, maka insisi dilakukan di
bawah bibir, di bagian superior (atas) akar gigi geraham 1 dan 2.
Kemudian jaringan di atas tulang pipi diangkat kearah superior,
sehingga tampak tulang sedikit di atas cuping hidung, yang disebut fosa
kanina. Dengan pahat atau bor tulang itu dibuka, dengan demikian
rongga sinus maksila kelihatan. Dengan cunam pemotong tulang lubang
itu diperbesar. Isi sinus maksila dibersihkan. Seringkali akan terdapat
jaringan granulasi atau polip di dalam sinus maksila. Setelah sinus
bersih dan dicuci dengan larutan bethadine, maka dibuat anthrostom.

38

Bila terdapat banyak perdarahan dari sinus maksila, maka dimasukkan


tampon panjang serta pipa dari plastik, yang ujungnya disalurkan
melalui antrostomi ke luar rongga hidung. Kemudian luka insisi dijahit.
Perawatan pasca bedah :
o Beri kompres es di pipi, untuk mencegah pembengkakan di pipi
pasca-bedah.
o Perhatikan keadaan umum pasien seperti nadi, tekanan darah, dan
suhu.
o Perhatikan apakah ada perdarahan mengalir ke hidung atau melalui
mulut. Apabila terdapat perdarahan, maka dokter harus diberitahu.
o Berikan pasien makanan lunak
o Tampon dicabut pada hari ketiga.

Gambar 13. Caldwell Luc Surgery

Sinus ethmoid
Pembedahan untuk membersihkan sinus etmoid, dapat dilakukan dari
dalam hidung (intranasal) atau dengan membuat insisi di batas hidung
dengan pipi (ekstranasal).
Ethmoidektomi intranasal
Alat yang diperlukan ialah :
o Spekulum hidung
o Cunam pengangkat polip

39

o Kuret ( alat pengerok )


o Alat pengisap
o Tampon
Tindakan dilakukan dengan pasien, dibius umum (anastesia). Dapat juga
dengan bius lokal (analgesia). Setelah konka media di dorong ke tengah,
maka dengan cunam sel etmoid yang terbesar ( bula etmoid ) dibuka.
Polip yang ditemukan dikeluarkan sampai bersih. Sekarang tindakan ini
dilakukan dengan menggunakan endoskop, sehingga apa yang akan
dikerjakan dapat dilihat dengan baik. Perawatan pasca-bedah yang
terpenting ialah memperhatikan kemungkinan perdarahan.
Etmoidektomi ekstranasal
Insisi dibuat di sudut mata, pada batas hidung dan mata. Di daerah itu
sinus etmoid dibuka, kemudian dibersihkan.
Sinus frontal
Pembedahan untuk membuka sinus frontal disebut operasi Killian. Insisi
dibuat seperti pada insisi etmoidektomi ekstranasal, tetapi kemudian
diteruskan ke atas alis. Tulang frontal dibuka dengan pahat atau bor,
kemudian dibersihkan. Salurannya ke hidung diperiksa, dan bila tersumbat,
dibersihkan. Setelah rongga sinus frontal bersih, luka insisi dijahit, dan
diberi

perban-tekan. Perban dibuka

setelah

seminggu.

Seringkali

pembedahan untuk membuka sinus frontal dilakukan bersama dengan sinus


etmoid, yang disebut fronto-etmoidektomi.
Sinus sfenoid
Pembedahan untuk sinus sfenoid yang aman sekarang ini ialah dengan
memakai endoskop. Biasanya bersama dengan pembersihan sinus etmoid
dan muara sinus maksila serta muara sinus frontal, yang disebut Bedah
Endoskopi Sinus Fungsional. Cara pemeriksaan ini ialah dengan

40

mempergunakan endoskop, tanpa melakukan insisi di kulit muka.


Endoskop dimasukkan ke dalam rongga hidung. Karena endoskop ini
dihubungkan dengan monitor (seperti televisi), maka dokter juga
melakukan pembedahan tidak perlu melihat kedalam endoskop, tetapi
cukup dengan melihat monitor.
Dengan bantuan endoskop dapat dibersihkan daerah muara sinus, seperti
daerah meatus medius untuk sinus maksila, sinus etmoid anterior dan sinus
frontal.
Endoskop juga dapat dimasukkan ke dalam sinus etmoid anterior dan
posterior untuk membuka sel-sel sinus etmoid. Kemudian dapat diteruskan
ke dalam sinus sfenoid yang terletak di belakang sinus etmoid apabila di
CT scan terdapat kelainan di sinus sfenoid. Sekitar sinus yang sakit
dibersihkan, dilihat juga muara sinus-sinus yang lain. Setelah selesai,
rongga hidung di tampon untuk mencegah perdarahan. Tampon dicabut
pada hari ketiga.

Gambar 14. Functional Endoscopy Sinus Surgery

41

II.10.9 Komplikasi
CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan
derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak, dan kranium.
Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau
berkomplikasi.
a. Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang
tersering. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis
akut, namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita
dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita. Terdapat lima tahapan :

Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat
infeksi sinus ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada
anak, karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus
ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini.

Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif
menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk.

Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang


orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.

Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi
orbita. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan
unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata
yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses
orbita, juga proptosis yang makin bertambah.

Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui


saluran vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu
tromboflebitis septik.

42

Gambar 15.Sinus Cavernosus


Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :
-

Oftalmoplegia.

Kemosis konjungtiva.

Gangguan penglihatan yang berat.

Kelemahan pasien.

Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang


berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga
dengan otak.

b. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam
sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut
sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya.

43

Gambar 16. Mukokel


Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar
dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat
bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan
dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat
menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf di
dekatnya.

Gambar 17. Mukokel sinus maksilaris


Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel
meskipun lebih akut dan lebih berat. Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus
secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan

44

memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.


c. Komplikasi Intra Kranial

Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah


meningitis akut, infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang
saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat
dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat
sistem sel udara ethmoidalis.

Abses dura, adalah kumpulan pus di antara dura dan tabula interna
kranium, sering kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat,
sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang
terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial.

Abses subdural adalah kumpulan pus di antara duramater dan arachnoid


atau permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.

Abses otak, setelah sistem vena, mukoperiosteum sinus dapat terinfeksi,


maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.

Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase
secara bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan
penyebaran infeksi.
d. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis
adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala
sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.
BAB III
KESIMPULAN
Rinosinusitis dapat didefinisikan sebagai inflamasi pada hidung dan sinus
paranasal yang dikarakteristik oleh 2 atau lebih gejala, salah satunya harus berupa

45

hidung tersumbat/obstruksi/kongesti atau nasal discharge (anterior/posterior nasal


drip), nyeri atau tekanan pada wajah, penurunan atau menghilangnya daya
penciuman. Penyakit rinosinusitis selalu dimulai dengan penyumbatan daerah
kompleks osteomeatal, oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi, dan oleh karena
penyebaran infeksi gigi. Dalam beberapa kasus rinosinusitis dapat terjadi karena
adanya peningkatan produksi bakteri pada permukaan rongga sinus.
Pada dasarnya patofisiologi dari rhinosinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu
obstruksi drainase sinus (sinus ostia), kerusakan path silia, dan kuantitas dan kualitas
mukosa. Sinusitis dapat terjadi bila terdapat gangguan pengaliran udara dari dan ke
rongga sinus serta adanya gangguan mukus. Bila terjadi edema di kompleks ostiomeatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak
dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan
ventilasi di dalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif.
Manifestasi klinisnya bisa dilihat dari gejala subyektif dan obyektif. Juga bisa
dinilai dari gejala mayor dan minor. Rhinosinusitis berdasarkan waktu dan kondisinya
bisa diklasifikasikan menjadi akut, sub akut, dan kronik. Diagnosis dilakukan dengan
anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti transluminasi, foto
rontgen 3 posisi, foto waters, dan juga endoskopi. Komplikasi rhinosinusitis bisa
terjadi hingga intrakranial, periorbita dan paru. Penatalaksanaan dan pencegahannya
dilakukan sesuai dengan indikasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Fokkens W, Lund V, Mullol J, et al. European position paper on rhinosinusitis
and nasal polyps. Rhinology, 2012; 50(suppl 23).
2. Soepardi EA, et al. Buku ajar ilmu kesehatan : telinga hidung tenggorok
kepala& leher. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.

46

3. Ballanger. J. J. Infeki Sinus Paranasal. Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok


Kepala dan Leher. Ed 13 (1). Jakarta: Binarupa Aksara. 2004.
4. Endang Mangunkusumo. Sinusitis dalam Kumpulan makalah Simposium
Sinusitis, Jakarta. 2005.
5. Leung, Katial. The Diagnosis And Management Of Acute And Chronic Sinusitis.
2008.