Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT ADVOKASI,KEMITRAAN

DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK MENDUKUNG UPAYAUPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK OLEH : KELOMPOK 4 PRIMA
JUWITA 11211077 II.A DIII KEBIDANAN DOSEN PEMBIMBING : ETY
APRIANTI S,KM STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG 2012-2013 KATA
PENGANTAR Alhamdulillah puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis telah berhasil menyelesaikan tugas makalah kelompok yang berjudul
ADVOKASI,KEMITRAAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
UNTUK MENDUKUNG UPAYA-UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK.
Dalam makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Ibu Ety aprianti S.KM selaku dosen pembimbing
kemudian teman teman yang telah memberikan masukan kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Penulis menyadari bahwa
dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari
sempurna , untuk itu penulis mengaharapkan saran dan kritik untuk
sempurnanya makalah ini dimasa yang akan datang. Akhir kata dengan
kerendahan hati, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
penulis maupun bagi pembaca makalah ini. Padang,25 April 2013 Penulis
DAFTAR ISI KATA
PENGANTARi
DAFTAR ISI.....ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang..1 B.
Rumusan
masalah.1 C.
Tujuan dan
manfaat..1
B. BAB II PEMBAHASAN
A. Avokasi dalam promosi kesehatan2
1. Pengertian advokasi.3
2. Tujuan advokasi...4
3. Prinsip-prinsip advokasi..5
B. Kemitraan dalam promosi
kesehatan6 1. Pengertian
kemitraan...6 2. Tujuan
kemitraan7 3. Prinsipprinsip kemitraan8 4. Modelmodel kemitraan..9 C.
Pemberdayaan

masyarakat 1.
Pengertian pemberdayaan masyarakat10.
2. Tujuan pemberdayaan masyarakat..11
3. Prinsip-prinsip pemberdayaan
masyarakat..11 4. Sasaran pemberdayaan
masyarakat.12 5. Jenis kegiatan gerakan
pemberdayaan20 BAB III
KESIMPULAN..35
DAFTAR
PUSTAKA36
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Istilah Advokasi mulai
digunakan dalam progrom kesehatan masyarakat pertama kali oleh
WHO pada tahun 1984,sebagai salah satu strategi global promosi
kesehatan. Akhir- akhir ini topik advokasibegitu populerdan menjadi
kata yang sering diucapakan maupaun dimuat dalam surat kabar.
Bahkan dengan peran masyarakat yang lebih besar dalam perumusan
kebijakan public,kata ini menjadi jargon yang selalu muncul dimedia
massa. Dalam kaitan dengan promosi kesehatan, apa sebenaranya
kaitan advokasi dengan bidang ini? Apakah advokasi dan promosi
kesehatan saling berkait? Bagaimana kaitan keduanya ? untuk melihat
jauh isu itu, akan dijelaskan pengertian dan tujuan promosi kesehatan
serta berbagai tehnik yang digunakan dalam promosi kesehatan. Selain
itu akan disinggung mengenai penegertian dan tujuan advokasi dengan
minat khusus advokasi dalam promosi kesehatan. Dalam konteks ini
keduatopik tersebut dikaji dan dijelaskan kaitanya serta lebih jauh
diuraikan lebih dalam mengenai advokasi dalam promosi kesehatan. Di
sector kesehatan,dalam konteks pembangunan nasional sasaran
advokasi adalah pimpinan eksekutif,termasuk presiden dan para sector
lain yang terkait dengan kesehatan,dan lembaga legislative. Sedangkan
istilah kemitraan di Indonesia masih relative baru,namun demikian
praktiknya di masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak zaman
dahulu. B. Rumusan Masalah 1) Apa yang dimaksud dengan
advokasi,kemitraan dan pemberdayaan masyarakat ? 2) Apa tujuan
dari advokasi kemitraan dan pemberdayaan masyarakat ? 3) Apa
prinsip dari advokasi,kemitraan dan pemberdayaan masyarakat ? C.
Tujuan dan manfaat 1) Pengertian advokasi,kemitraan dan
pemberdayaan masyarakat 2) Tujuan advokasi,kemitraan dan
pemberdayaan masyarakat 3) Prinsip advokasi,kemitraan dan
pemberdayaan masyarakat BAB II PEMBAHASAN A. Advokasi 1.
Pengertian advokasi Beberapa pengertian advokasi sebagai berikut :
WHO ( 1989) diukutip dalam UNFPA dan BKKBN (2002) menggunkan
advocacy is a combination on individual and social action design to gain
political commitment, policy support, social acceptance and systems
support for particular health goal or programme. Jadi advokasi adalah
kombinasi kegiatan individu dan sosial yang dirancang untuk

memperoleh komitmen politis, dukungan kebijakan, penerimaan sosial


dan sisitem yang mendukung tujuan atau program kesehatan tertentu.
Definisi Chapela 1994 yang dikutip WISE (2001) secara harfiah:
melakakukan advokasi berarti mempertahankan, berbicara
mendukung seseorang atau sesuatu atau mempertahankan ide.
Sedangkan advokator adalah seseorang yang melakukan kegiatan atau
negosiasi yang ditujukan untuk mencapai sesuatu untuk
seseorang,kelompok ,masyarakt tertentu atau secara keseluruhan.
Dalam tulisan Sharma dikutip beberapa penegrtian yang berkait
dengan advokasi misalnya : 1. Advokasi adalah bekerja dengan orang
dan organisasi untuk membuat sesuatu perubahan (CEDPA). 2.
Advokasi adalah proses dimana orang terlibat dalam proses pembuatan
keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. 3. Advokasi terdiri
berbagai strategis ditujukan untuk mempengaruhi pembuatan
keputusan dalam satu organisasi ditingkat lokal, nasional maupun
internasional. Strategis advokasi termasuk lobi, pemasaran sosial, KIE,
pengorganisasian masyarakat maupun berbagai taktik lainya. Kenapa
advokasi penting dalam promosi kesehatan ?dalam mencapai tujuan
kesehatan masyarakat , ditemukanberbagai hambatan seperti
ditemuykan oleh Champon dan Lupton (1994) dikutip dari Wise 2001:
a. Adanya ide politik yang mementingkan luaran ekonomi dengan
menyampingkan kesehatan dan kualitas hidup manusia. b. Hambatan
dari politisi dan birokrasi atau tidak adanya peraturan dan
perundangan yang mendukung promosi kesehatan dan ketiaadaan
partisipasi masyarakat dalam perencanaan program kesehatan. c.
Gencarnya pemasaran produk yang tidak aman dan tidak sehat bagi
masyarakt terutama dengan adanya pengaruh perusahaan
multinasional dengan kekuatan besar. d. Adanya nilai budaya yang
berpengaruh atas nilai, sikap, dan prilaku individual atau masalaj
kesehatan masyarakat. 2. Tujuan advokasi Komitmen politik
Komimen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di tingkat
dan sector manapun sangat diperlukan terhadap permasalahan
kesehatan .pembangunan nasional tidak terlepas dari pengaruh
kekuasaan politik yang sedang berjalan.oleh sebab itu pembangunan di
sector kesehatan juga tidak terlepas dari kondisi dan situasi politik
pada saat ini.Bik kekuasaan eksekutif maupun legislative terhadap
masalah kesehatan masyarakat,ditentukan oleh pemahaman mereka
terhadap masalah-masalah kesehatan. Dukungan kebijakan
Dukungan konkret yang diberikan oleh para pimpinan institusi di
semua tingkat dan semua sector yangterkait dalam rangka
mewujudkan pembanguna sector kesehatan.dukungan politik
tidakakan berarti tanpa di keluarkanya kebijakan yang konkret dari
para pembua keputusan tersebut,oleh sebab itu,setelah adanya
komitmen politik dari para eksekutif maka perlu di tindaklanjuti
dengan advokasi lagi agar di keluarkan kebijakan untuk mendukung

program yang telah memperoleh komitmen politik tersebut. Dukungan


kebijakan ini dapa berupa undang-undang,peraturan pemerintah atau
peraturan daerah,surat keputusan pimpinan institusi baik pemerintah
maupun swasta,instuksi atau surat edaran dari para pemimpin
lembaga institusi dan sebagainya Dukungan masyarakat Dukungan
masyarakat berarti diterimanya suatu program oleh masyarakat.suatu
program kesehatan apapun hendaknya memperoleh dukungandari
sasaran utama program tersebut yakni masyarakat,terutama tokoh
masyarakat.oleh sebab itu apabila suatu program kesehatan telah
memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan,maka langkah
selanjutnya adalah mensosialisasikan program tersebut untuk
memperoleh dukungan mesyarakat.untuk menssosialisasikan program
ini,para petugas tingkat operasional atau local.oleh sebab itu para
petugas tersebut juga memerlukan kemampuan advokasi Dukungan
system Agar suatu program atau kegiatan berjalan dengan baik,perlu
adanya sistim,mekanisme,atau prosedur kerja yang jelas yang
mendukungnya.oleh sebab itu system kerja atau organisasi kerja yang
melibatkan kesehatan perlu dikembangkan.mengingat bahwa masalah
kesehatan merupakan dampak dari berbagai sector,maka program
untuk pemecahannya atau penanggulangannya pun harus bersamasama dengan sector lain.dengan kata lain semua sector pembangunan
yang mempunyai dampak terhadap kesehatan,harus memasukan atau
mempunyai unit atau system yang menangani masalah kesehatan di
dalam struktur organisasinya.uni ini secara internal menangani
masalah masalah kesehatan yang di hadapi oleh karyawannya dan
secara eksernal mengasi dampak institusi tersebut terhadap kesehatan
masyarakat. 3. Prinsip advokasi Tujuan advokasi dari batasan
advokasi,secara inksklusif terkandung tujuan-tujuan yakni : komitmen
politik,dukungan kebijakan,dukungan masyarakat dan dukungan
system. Kegiatan advokasi o Lobi politik Lobi adalah berbincang
bincang secara informal dengan para pejabat untuk menginformasikan
dan membahas masalah dan program kesehatan yang akan
dilaksanakan. o Seminar atau presentasi o Media o Perkumpulan
peminat Argumentasi untuk advokasi B. Kemitraan 1. Pengertian
kemitraan Adalah suatu kerjasama formal antara individuindividu,kelompok-kelompok,aau organisasi-organisasi unuk mencapai
suatu tugas atau tujuan tertentu. Dalan kerjasama tersebut ada
kesepakatan tentang komitmen dan harapan masing-masing,tentang
peninjauan kembali terhadsp kesepaakatan yang telah dibuat dan
saling berbagi,baik dalam resiko maupun dalan keuntungan yang
diperoleh. 1. Adanya interaksi dua pihak atau lebih, dimana kedua
belah pihak merupakan mitra atau partner. 2. Penggabungan dari
berbagai unsur untuk mencapai sesuatu sasaran/ tujuan yang tidak
dapat sepenuhnya dicapai secara efektif dan efisien hanya oleh salah
satu unsur saja. 3. Hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih

berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan


( memberi manfaat ). 4. Upaya melibatkan berbagai komponen baik
sektor, kelompok, masyarakat, lembaga pemerintah atau non
pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama
berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan peran masing-masing. 5.
Suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau organisasi untuk
bekerja sama mencapai tujuan, mengambil dan melaksanakan serta
membagi tugas, menanggung bersama baik yang berupa resiko
maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan masing-masing secara
teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan 6.
Adalah suatu bentuk ikatan bersama antara dua atau lebih pihak yang
bekerjasama untuk mencapai tujuan dengan cara berbagi kewenangan
dan tanggung jawab dalam bidang kesehatan, saling mempercayai,
berbagi pengelolaan, investasi dan sumber daya untuk program
kesehatan, memperoleh keuntungan bersama dari kegiatan yang
dilakukan. 2. Tujuan kemitraan Tujuan khusus kemitraan adalah : 1.
Saling pengertian 2. Saling percaya 3. Saling kedekatan 4. Saling bantu
5. Saling mengharagai 6. Saling Memerlukan 7. Salind mendorong
kemampuan Tujuan umum kemitraan adalah : 1. Meningkatkan
percepatan upaya 2. Efektivitas dan efisiensi dalam berbagai upaya
termasuk upaya kesehatan 3. Prinsip kemitraan a . Saling
menguntungkan (mutual benefit) Saling menguntungkan disini bukan
hanya materi tetapi juga non materi, yaitu dilihat dari kebersamaan
atau sinergisme dalam mencapai tujuan b. Pendekatan berorientasi
hasil Tindakan kemanusiaan yang efektif harus didasari pada realitas
dan berorientasi pada tindakan. Hal ini membutuhkan koordinasi yang
berorientasi hasil dan berbasis pada kemampuan efektif dan kapasitas
operasional yang konkrit c. Keterbukaan (transparansi) Apa yang
menjadi kelebihan dan kekurangan m-amsainsging anggota mitra
harus diketahhui oleh anggota yang lain Transparansi dicapai melalui
dialog (pada tingkat yang setara) dengan menekankan konsultasi dan
pembagian informasi terlebih dahulu. Komunikasi dan transparansi,
termasuk transparansi finansial, membantu meningkatkan
kepercayaan antar organisasi d. Kesetaraan Masing-masing pihak yang
bermitra harus merasa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi,
tidak boleh satu anggota memaksakan kehendak kepada yang lain.
Kesetaraan membutuhkan rasa saling menghormati antar anggota
kemitraan tanpa melihat besaran dan kekuatan. Para peserta harus
saling menghormati mandat kewajiban dan kemandirian dari anggota
yang lain serta memahami keterbatasan dan komitmen yang dimiliki
satu sama lain. Sikap saling menghormati tidak menghalangi masingmasing organisasi untuk terlibat dalam pertukaran pendapat yang
konstruktif e. Tanggung Jawab Organisasi kemanusiaan memiliki
tanggung jawab etis terhadap satu sama lain dalam menempuh tugastugasnya secara bertanggung jawab dengan integritas dan cara yang

relevan dan tepat. Organisasi kemanusiaan harus meyakinkan bahwa


mereka hanya akan berkomitmen terhadap sesuatu kegiatan ketika
mereka memang memiliki alat, kompetensi, keahlian dan kapasitas
untuk mewujudkan komitmen tersebut. Pencegahan yang tegas dan
jelas terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh para pekerja
kemanusiaan harus menjadi usaha yang berkelanjutan f. Saling
Melengkapi Keragaman dari komunitas kemanusiaan adalah sebuah
aset bila dibangun atas kelebihan-kelebihan komparatif dan saling
melengkapi kontribusi yang satu dengan yang lain. Kapasitas lokal
adalah salah satu aset penting untuk ditingkatkan dan menjadi dasar
pengembangang. Ketika memungkinkan, organisasi-organisasi
kemanusiaan harus berjuang untuk menjadikan aset lokal sebagai
bagian integral dari tindakan tanggap darurat dimana hambatan
budaya dan bahasa harus diatasi Model-model Kemitraan dan Jenis
Kemitraan Secara umum, model kemitraan dalam sektor kesehatan
dikelompokkan menjadi dua (Notoadmodjo, 2007) yaitu: 1. Model I
Model kemitraan yang paling sederhana adalah dalam bentuk jaring
kerja (networking) atau building linkages. Kemitraan ini berbentuk
jaringan kerja saja. Masing-masing mitra memiliki program tersendiri
mulai dari perencanaannya, pelaksanaannya hingga evalusi. Jaringan
tersebut terbentuk karena adanya persamaan pelayanan atau sasaran
pelayanan atau karakteristik lainnya. 2. Model II Kemitraan model II
ini lebih baik dan solid dibandingkan model I. Hal ini karena setiap
mitra memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap program
bersama. Visi, misi, dan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan
kemitraan direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi bersama.
Menurut Beryl Levinger dan Jean Mulroy (2004), ada empat jenis atau
tipe kemitraan yaitu: 1. Potential Partnership Pada jenis kemitraan ini
pelaku kemitraan saling peduli satu sama lain tetapi belum bekerja
bersama secara lebih dekat. 2. Nascent Partnership Kemitraan ini
pelaku kemitraan adalah partner tetapi efisiensi kemitraan tidak
maksimal 3. Complementary Partnership Pada kemitraan ini,
partner/mitra mendapat keuntungan dan pertambahan pengaruh
melalui perhatian yang besar pada ruang lingkup aktivitas yang tetap
dan relatif terbatas seperti program delivery dan resource mobilization.
4. Synergistic Partnership Kemitraan jenis ini memberikan mitra
keuntungan dan pengaruh dengan masalah pengembangan sistemik
melalui penambahan ruang lingkup aktivitas baru seperti advokasi dan
penelitian. Bentuk-bentuk/tipe kemitraan menurut Pusat Promosi
Kesehatan Departemen Kesehatan RI yaitu terdiri dari aliansi, koalisi,
jejaring, konsorsium, kooperasi dan sponsorship. Bentuk-bentuk
kemitraan tersebut dapat tertuang dalam: - SK bersama - MOU - Pokja
- Forum Komunikasi - Kontrak Kerja/perjanjian kerja C.
Pemberdayaan masyarakat. 1. Pengertian Pemberdayaan masyarakat
Gerakan pemberdayaan (empowerment) adalah proses pemberian

informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti


perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar sasaran
tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek
knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau
menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek
practice). Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara
untuk menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat
masyarakat mampu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Strategi
ini tepatnya ditujukan pada sasaran primer agar berperan serta secara
aktif. Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya
dalam peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat
hidup, martabat dan derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan
berarti peningkatan kemampuan dan kemandirian masyarakat agar
dapat mengembangkan diri dan memperkuat sumber daya yang
dimiliki untuk mencapai kemajuan. 2. Tujuan Pemberdayaan
masyarakat Individu, keluarga dan masyarakat tahu, mampu dan
mau mempraktekkan serta dapat memelihara, mengatasi serta
meningkatkan kesehatannya secara mandiri Individu, keluarga dan
masyarakat tahu, mampu dan mau berperan serta dalam gerakan
pemberdayaan di wilayahnya. Masyarakat melakukan kegiatan
pembangunan kesehatan melalui pendekatan edukatif Adanya upaya
kesehatan yang bersumberdaya dari potensi yang ada di masyarakat
(dari, oleh dan untuk masyarakat) Adanya informasi tentang hasil
pelaksanaan kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang
upaya pelayanan kesehatan dalam bentuk desa sehat 3. Prinsip
pemberdayaaan masyarakat Pemberdayaan masyarakat pada
prinsipnya menumbuhkan kemampuan masyarakat dari dalam
masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat bukan sesuatu yang
di tanamkan atau dicangkokkan dari luar masyarakat yang
bersangkutan.pemberdayaan masyarakat adalah proses memampukan
masyarakat dari,oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Secaa lebih
terinci prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat,khususnya dibidang
kesehatan dapat di uraikan sebagai berikut: Menumbuhkembangkan
potensi masyarakat Potensi adalah suatu kekuatan dan kemampuan
yang masih terpendam.baik individu,kelompok maupun masyarakat
mempunyai potensi yang berbeda satu dengan yang lainnya.dalam
suatu masyarakat terdapat berbagai potensi,yang pada dasarnya dapat
dikelompokan menjadi dua,yakni : potensi sumber daya manusia
(penduduknya) dan potensi dalam bentuk sumber daya alam atau
kondisi geografis masyarakat setempat. Mengembangkan gotong
royong masyarakat Peran petugas atau provider dalam rangka gotong
royong masyarakat adalah memotivasi dan memfasilitasi,agar gotong
royong tersebut terjadi di masyarakat.agar gotong royong tersebut
tumbuh dari masyarakat sendiri maka pendekatan herus dilakukan
melalui para tokoh masyarakat untuk mau berpatisipasi dan

berkontribusi terhadap kegiatan yang direncanakan bersama.


Menggali kontribusi masyarakat Kontribusi masyarakat
adalahmerupakan bentuk partisipasi masyarakat antara lain ; dalam
bentuk tenaga,pimikiran,atau ide ide,dan,bahan bangunan dan
sebagainya.seorang petugas dan provider kesehatah bersam-sama
dengan tokoh masyarakat setempat harus mampu menggali kontribusi
sebagai bentuk partisipasi masyarakat. Menjalin kemiraan Petugas
atau provider kesehatan adalah memotivasi memfasilitasi masyarakat
untuk menjalin kemitraan dengan pihak-pihak yang lain
Desentralisasi Upaya pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya
memberikan kesempatan kepada masyarakat local untuk
mengenbangkan potensi daerah atau wilayahnya.oleh sebab itu,segala
bentuk pengambilan keputusan harus di serahkan ke tingkat
operasional yakni masyarakat setempat,sesuai kultue masing masing
komunitas. 4. sasaran pemberdayaan masyarakat : 1. Sasaran utama
dari gerakan pemberdayaan adalah individu dan keluarga, serta
kelompok masyarakat, terutama masyarakat yang terkena masalah
maupun beresiko terkena masalah, baik dikota maupun didesa.
Contoh: ditatanan rumah tangga adalah para ibu, ditatanan institusi
pendidikan adalah murid-murid disarana pelayanan adalah petugas
kesehatan. 2. Tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan serta
organisasi profesi 3. Lintas sektor 4. Petugas kesehatan a. Metode
gerakan pemberdayaan Pengorganisasian masyarakat sebagai salah
satu metode pemberdayaan masyarakat yang bersifat komprehensif
perlu dikembangkan di desa-desa/kelurahan-kelurahan/nagari-nagari
secara bertahap. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui
pengembangan daerah-daerah percontohan sesuai dengan program
kesehatan yang didukung (misalnya Desa Siaga untuk KIA). Daerahdaerah Percontohan ini selain dapat digunakan sebagai alat untuk
advokasi guna replikasinya ke daerah-daerah (desa-desa/kelurahankelurahan/nagari-nagari lain), juga dapat digunakan sebagai lahan
kerja lapangan dalam pelatihan petugas. Sebelum petugas kesehatan
melakukan upaya pemberdayaan di masyarakat, terlebih dahulu
dilakukan upaya pemberdayaan petugas kesehatan. Metode yang
paling efektif untuk pemberdayaan petugas adalah pelatihan yang
dilaksanakan secara berselang-seling antara kegiatan di kelas dan
kegiatan di lapangan (interrupted training). Dengan interrupted
training sekaligus dapat diperoleh dua hasil, yaitu petugas-petugas
yang terampil dan adanya daerah percontohan. Pelatihan semacam ini
dapat diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota
terhadap petugas-petugas promosi kesehatan di Puskesmas wilayah
kerjanya, atau oleh Dinas Kesehatan Provinsi terhadap petugas-petugas
promosi kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas di wilayah
kerjanya. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang
interrupted training, berikut ini disajikan contoh pelaksanaan-nya di

bidang KIA. Adapun tahapan proses interupted training tersebut


adalah sebagai berikut: Kegiatan di Kelas (1). Kegiatan yang
dilakukan adalah dinamika kelompok dan pemberian masukan
tentang: (1) Pengertian promosi kesehatan dan strateginya (termasuk
tentang Konsil Kesehatan Kecamatan/K-3), (2) Konsep/pengertian
pember-dayaan masyarakat (community development) dan proses-nya,
(3) Detil tahap pertama penggerakan masyarakat, yaitu Survei Mawas
Diri Oleh Masyarakat (Community Self-Survey), (4) Cara-cara
membimbing/memfasilitasi masyarakat, khususnya dalam Survei
Mawas Diri. Kegiatan di Lapangan (2). Peserta kembali ke tempat
kerjanya di Puskesmas dan Rumah Sakit untuk: (1) Ber-konsultasi &
berkoordinasi dengan Puskesmas, Rumah Sakit, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan pengelola program kesehatan di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota guna memilih satu Desa Siaga Percontohan
yang akan dikembangkan, (2) Berkoordinasi dengan Camat, tokoh
masyarakat, dan LSM setempat untuk membentuk Konsil Kesehatan
Kecamatan (K3) dan mengembangkan desa percontohan, (3)
Berkoordinasi dengan K3 (tokoh masyarakat dan LSM) merekrut
kader (jika belum ada) atau menggerakkan kembali kader (jika sudah
ada) di desa yang bersangkutan, (4) Meminta izin kepada aparat desa
yang bersangkutan untuk mengada-kan pertemuan-pertemuan dengan
kader, guna menyiap-kan pelaksanaan survei mawas diri, dan lain-lain
(5) Memfasilitasi/membimbing kader melaksanakan survei mawas diri,
(6) Bersama kader mengolah hasil survei mawas diri dan menyusun
laporan untuk disajikan kepada masyarakat desa dan di kelas. Survei
ini mencakup tentang masalah dalam hal ibu melahirkan dan bayi yang
baru dilahirkan, penyebab-penyebab terjadinya masalah (tiga
terlambat dari sisi demand), kesiagaan suami, kesiagaan bidan di desa,
kemungkinan dikembangkannya dasolin dan tabulin, sistem transportasi untuk ambulan desa, donor darah, dan lain-lain yang
dipandang perlu. Keterampilan yang diberikan adalah sampai kepada
bagaimana membantu masyarakat mengolah data dan menganalisis
hasil survei. Yaitu kemungkinan memecahkan masalah di bidang
kesehatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir dengan cara-cara yang
ditawarkan (kesiagaan suami, kesiagaan bidan, dasolin, tabulin, amdes,
donor darah, dan lain-lain). Kegiatan di Kelas (3). Kegiatan di kelas
dalam tahap ini berupa: (1) Masing-masing peserta menyajikan hasil
kerja lapangannya yang mencakup baik proses peng-gerakan
masyarakat untuk membentuk K3 dan survei mawas diri maupun
hasil-hasilnya. Dilanjutkan dengan diskusi pleno untuk mengomentari
dan memberi masuk-an guna perbaikannya, (2) Pemberian masukan
berupa metode/teknik penyuluhan dan medianya, serta pemasaran
sosial/marketing public relation (MPR) (3) Pemberian masukan tentang
bagai-mana melatih kader untuk melakukan penyuluhan dan
menggunakan media, (4) Pemberian masukan tentang bagaimana

menyelenggarakan pertemuan/musyawarah desa, (5) Pemberian


masukan tentang proses meru-muskan rencana pemecahan masalah
dan membentuk organisasi-organisasi pengelola (dasolin, tabulin,
amdes, donor darah, dan lain-lain ), dengan kader-kader sebagai
pengelolanya, (6) Pemberian masukan berupa konsep/ pengertian dan
teknik-teknik mengembangkan serta mendayagunakan kemitraan dan
advokasi (jejaring advokasi). Kegiatan di Lapangan (4). Peserta
kembali ke tempat kerjanya dan ke Desa Siaga untuk: (1) Bersama K3
(tokoh masyarakat dan LSM) melatih kader tentang cara-cara
penyuluhan dan penggunaan media, (2) Bersama K3 (tokoh
masyarakat dan LSM) membantu kader melaksa-nakan penyuluhan
kepada ibu-ibu hamil, suami-suami mereka, tetangga, dukun bayi, dan
lain-lain yang terkait (termasuk memasarkan PONED dan PONEK),
(3) Ber-sama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader
memilih bentuk-bentuk pemecahan masalah yang sesuai dan
menyelenggarakan musyawarah-musyawarah desa. Dalam hal ini
diupayakan untuk memadukan sudut pandang profesional dengan
sudut pandang/aspirasi masyarakat, serta saling mengisi antara sumber
daya yang dapat disediakan masyarakat dengan sumber daya yang bisa
diberikan oleh Puskesmas, Rumah Sakit, dan pemerintah umumnya
serta pihak-pihak lain (termasuk dunia usaha), (4) Bersama K3 (tokoh
masyarakat dan LSM) membantu kader mengidentifikasi pihak-pihak
yang dibutuhkan guna mendukung suksesnya pemecahan masalah
(sasaran advokasi/stakeholders), baik dalam hal kebijakan, sarana,
dana maupun sumber daya lain, (5) Bersama tokoh masyarakat dan
LSM mengajak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan advokasi
ke berbagai pihak (stakeholders) yang telah diidentifikasi dan
melakukan langkah-langkah membangun kemitraan. Dalam tahap ini,
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya melaksanakan bina
suasana bekerjasama dengan media massa, untuk mendukung
penyuluhan yang sedang dilaksanakan di tingkat desa Kegiatan di
Kelas (5). Kegiatan di kelas dalam tahap ini berupa: (1) Masing-masing
peserta menyajikan hasil kerja lapangannya yang mencakup baik
proses penggerakan masyarakat untuk penyuluhan, pemecahan
masalah, pengorganisasiannya, dan upaya advokasi maupun hasil-hasil
dari proses tersebut. Dilanjutkan dengan diskusi pleno untuk
mengomentari dan memberi masukan guna perbaikannya, (2)
Pemberian masukan berupa pemantauan dan evaluasi (sistem
informasi) serta upaya-upaya pemeliharaan kelestarian (sustainability)
dari Desa Siaga yang telah dikembangkan. Kegiatan di Lapangan (6).
Peserta kembali ke tempat kerjanya dan ke Desa Siaga untuk: Bersama
K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader mengembang-kan
sistem informasi, pemantauan dan evaluasi. Kegiatan di Kelas (7).
Kegiatan yang dilakukan adalah: (1) Masing-masing peserta
menyajikan hasil kerja lapangannya, dan (2) Penutupan. Kegiatan di

Lapangan (8) Peserta kembali ke tempat kerja-nya masing-masing


untuk secara rutin bersama K3 melakukan pembinaan kelestarian Desa
Siaga melalui bimbingan, supervisi, dan hal-hal lain yang dianggap
perlu sebagai fungsi Puskesmas dan Rumah Sakit. b. Kunci
keberhasilan gerakan pemberdayaan Pemberdayaan akan lebih
berhasil jika dilaksanakan melalui kemitraan serta menggunakan
metode dan teknik yang tepat. Pada saat ini banyak dijumpai
Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di
bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan. LSM ini harus
digalang kerjasamanya, baik di antara mereka maupun antara mereka
dengan pemerintah, agar upaya pember-dayaan masyarakat dapat
berdayaguna dan berhasilguna. Setelah itu, sesuai dengan ciri-ciri
sasaran serta situasi dan kondisi, lalu ditetapkan, diadakan dan
digunakanlah metode dan sarana komunikasi yang tepat. Kunci
keberhasilan gerakan pemberdayaan adalah membuat orang tersebut
memahami bahwa sesuatu (misalnya diare) adalah masalah baginya
dan bagi masyarakatnya. Sepanjang orang yang bersangkutan belum
mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah,
maka orang tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun
lebih lanjut. Manakala ia telah menyadari masalah yang diha-dapinya,
maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang
masalah yang bersangkutan. Perubahan dari tahu ke mau pada
umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan mendramatisasi
masa-lah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa
masalah tersebut bisa dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat
dikemukakan fakta yang berkaitan dengan para tokoh masyarakat
sebagai panutan (misalnya tentang seo-rang tokoh agama yang dia
sendiri dan keluarganya tak per-nah terserang diare karena perilaku
yang dipraktikannya). Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari
mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi
ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan
bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan
mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat
(community organization) atau pembangunan masyarakat (community
development). Untuk itu, sejumlah individu yang telah mau, dihimpun
dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang
dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan
bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Di
sinilah letak pentingya sinkronisasi promosi kesehatan dengan program
kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan diberikan kepada
masya-rakat oleh program kesehatan sebagai bantuan, hendaknya
disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya
juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. c. Kegiatan
gerakan pemberdayaan Dalam melaksanakan gerakan pemberdayaan
masyarakat perlu memperhatikan kondisi, situasi, khususnya sosial

budaya masyarakat setempat serta karateristik masyarakat setempat


yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: a) Masyarakat pembina
( Caring Community ) Yaitu masyarakat yang peduli kesehatan
misalnya : LSM kesehatan, organisasi profesi yang bergerak dibidang
kesehatan. b) Masyarakat setara ( Coping Community ) Yaitu
masyarakat yang karena kondisinya kurang memadai sehingga tidak
dapat memelihara kesehatannya. Misalnya seorang ibu sadar akan
pentingnya memeriksakan kehamilan, tetapi karena keterbatasan
ekonomi dan tidak adanya transportasi ibu tidak pergi ke sarana
pelayanan kesehatan. c) Masyarakat pemula ( Crisis Response
Community) Yaitu masyarakat yang tidak tahu akan pentingnya
kesehatan dan belum didukung oleh fasilitas yang tersedia. Misalnya
masyarakat dilingkungan kumuh dan daerah terpencil Cara
pendekatan gerakan pemberdayaan masyarakat terbagi dua : a)
Makro: Membangun komitmen disetiap jenjang Mengembangkan
masyarakat (critical mass) menyediakan petujuk pelaksnaan dan
biaya operasional monitoring dan evaluasi serta koordinasi b) Mikro :
Menggali potensi yang belum disadari masyarakat. Potensi dapat
muncul dari adanya kebutuhan masyarakat(demand creation) yang
diperoleh melalui pengarahan, pemberian masukan, dialog, kerjasama
dan pendelegasian. Membuat model model percontohan dan prototipe
pengembangan masyarakat, seperti menerapkan pendekatan edukatif
dan manajemen ARRIF (Analisis, Rumusan,Rencana, Intervensi,
Forum komunikasi) Beberapa tolok ukur keberhasilan gerakan
masyarakat dapat disebutkan antara lain : peningkatan perilaku hidup
bersih dan sehat, peningkatan kampnye kesehatan oleh masyarakat dan
peningkatan dana sehat /JPKM Kegiatan pokok gerakan
pemberdayaan masyarakat Melakukan KIE, kampanye dan kegiatan
gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan
kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian individu,
keluarga dan masyarakat dalam memelihara, mengatasi serta
meningkatkan kesehatannya Mengembangkan, mengadakan serta
mendistribusikan media KIE untuk mendukung kegiatan gerakan
pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan kesehatan.
Melakukan kegiatan fasilitasi, bimbingan teknis atau asistensi terhadap
pelaksanaan kegiatan PHBS di masyarakat. Bersama dengan
masyarakat melakukan kegiatan pendekatan edukatif atau penerapan
konsep PKMD penghargaan (insentif), serta peningkatan ekonomi
produktif ( income generating) Melakukan pemantauan dan penilaian
kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya
pelayanan kesehatan. 5. Jenis kegiatan gerakan pemberdayaan
Pemberdayaan Individu Pemberdayaan individu dilakukan oleh setiap
petugas institusi kesehatan terhadap individu-individu yang datang
memanfaatkan pelayanan kesehatan. Selain itu juga terhadap individuindividu yang menjadi sasaran kunjungan (misal-nya dalam upaya

keperawatan kesehatan masyarakat atau usaha kesehatan sekolah).


Tujuan dilakukannya pemberdayaan individu terutama adalah untuk
memperkenalkan perilaku baru kepada individu (yang mungkin juga
merupakan pengganti dari peri-laku yang selama ini dipraktikkan oleh
individu tersebut). Misalnya saja perilaku menimbang balita secara
berkala untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan balita.
Perilaku ini dapat diperkenalkan kepada individu-individu ibu yang
membawa balitanya berobat ke Puskesmas. Kepada setiap ibu, setelah
selesai diberi pelayanan pengobatan untuk balitanya, dapat
disampaikan informasi tentang manfaat menimbang balita secara
berkala, bagaimana mencatat dan menggunakan catatan (yaitu KMS),
dan di mana si ibu dapat melakukan penimbangan yang dimaksud
(yaitu di Posyandu). Ibu yang dikunjungi ke rumahnya, mungkin
karena berhenti memeriksakan kandungannya ke Puskesmas, padahal
seharusnya masih harus melakukan hal itu (drop out). Atau karena
sebab-sebab lain. Seorang Bapak yang dikunjungi ke rumahnya,
mungkin karena yang bersangkutan tidak memberikan kabar sepulang
dari konsultasi tentang jamban. Atau tidak datang mengambil obat
TBC ke Puskesmas. Atau karena sebab-sebab lain. Murid sekolah atau
madrasah atau santri pesantren yang ditangani secara individu,
mungkin karena menderita karies gigi atau gizi kurang, atau masalah
kesehatan lain. Saat kunjungan ini dilakukan proses Pemberdayaan
sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam
hal ini dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi,
konseling, dan bimbingan. Media komunikasi yang digunakan dapat
berupa pilihan atau kombinasi dari: lembar balik, gambar/ foto, dan
skema, atau media lain yang mudah digunakan dan dibawa (jika
dipakai kunjungan). Pemberdayaan Keluarga Pemberdayaan
keluarga dilakukan oleh petugas intitusi kesehatan yang melaksanakan
kunjungan rumah terhadap keluarga. Yaitu keluarga dari individu
pengunjung Puskesmas, atau keluarga-keluarga lain yang berada di
wilayah kerja Puskesmas. Tujuan dilakukannya pemberdayaan
keluarga adalah untuk memperkenalkan perilaku baru (yang mungkin
sebagai pengganti dari perilaku yang selama ini dipraktikkan keluarga
tersebut). Misalnya buang air besar di jamban, mengonsumsi garam
beryodium, memelihara taman obat keluarga, menguras bak mandimenutup persediaan air-mengubur benda-benda buangan yang dapat
menahan/menampung air (3M), mengonsumsi makanan berserat. Pada
saat kunjungan rumah ini semua anggota keluarga dikumpulkan dan
diberikan informasi berkaitan dengan perilaku yang diperkenalkan.
Pemberian informasi dilakukan secara sistematis sehingga anggotaanggota keluarga itu bergerak dari tidak tahu ke tahu, dan dari tahu ke
mau. Bila sarana untuk melaksanakan perilaku yang bersangkutan
tersedia, diharapkan juga sampai tercapai fase mampu melaksanakan
(misalnya: mencuci tangan pakai sabun, BAB di jamban, minum air

yang matang, dll). Metode yang digunakan dapat berupa salah satu
atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi, diskusi kelompok terarah,
dan bimbingan. Media komunikasi yang digunakan juga dapat berupa
pilihan atau kombinasi dari: poster, lembar balik, gambar/foto, dan
skema, atau media lain yang mudah digunakan dan dibawa.
Pemberdayaan Masyarakat Umum Gerakan pemberdayaan juga dapat
dilakukan terhadap sekelompok individu anggota masyarakat, melalui
upaya penggerakan atau pengorganisasian masyarakat (community
organization/community development). Sasarannya dapat berupa
orang dewasa, dapat juga murid-murid sekolah atau santri-santri.
Salah satu hasil dari upaya ini dapat berujud upaya-upaya kesehatan
bersumber masyarakat (UKBM) seperti Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu), Pondok Bersalin Desa (Polindes), Bina Keluarga Balita
(BKB), Warung Obat Desa (WOD), Panti Pemulihan Gizi, Dokter
Kecil, Saka Bhakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren
(Poskestren), Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Percontohan
Kesehatan Lingkungan, Posyandu Usila, Panti Wreda, Pos Upaya
Kesehatan Kerja (Pos UKK), Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa
Masyarakat (TPKJM), Taman Obat Keluarga (Toga), Dana Sehat,
Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), dan lain-lain. Melalui metode yang
sama (yaitu pengorganisasian masyarakat) dapat pula dibentuk Badan
Penyantun Puskesmas (BPP). Yaitu suatu badan yang menghimpun
berbagai potensi masyarakat seperti tokoh masyarakat, LSM, dan
dunia usaha, yang berperan sebagai mitra Puskesmas dalam
pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan. Penggerakan atau
pengorganisasian masyarakat diawali dengan membantu kelompok
masyarakat tertentu untuk mengubah masalah yang dihadapi individuindividu menjadi masalah bersama. Setelah itu, lalu dirumuskan upaya
bersama yang dapat dilaksanakan oleh kelompok untuk mengatasi
masalah tersebut. Tidak jarang, untuk lebih meyakinkan kelompok dan
dalam rangka perencanaan yang baik dalam mengatasi masalah,
kelompok dibantu untuk melakukan survei sederhana (Community Self
Survey atau CSS). Dalam pelaksanaan pemecahan masalah, petugas
kesehatan memberikan bantuan teknis dan sebaiknya juga material
seperti obat, KMS, dan lain-lain. Jika petugas kesehatan tidak mampu
memberikan bantuan material, kiranya, bekerja-sama dengan mitra
potensial terkait. Gerakan pemberdayaan di Rumah Sakit
Pemberdayaan Individu Pasien Terdapat tiga kategori pasien, yaitu (1)
pasien yang sedang sakit akut, (2) pasien yang dalam penyembuhan,
dan (3) pasien dengan penyakit kronis. Selama pasien sakit akut, semua
perhatian dan tenaga pasien serta petugas kesehatan dipusatkan pada
upaya untuk menyelamatkan pasien dari ancaman maut dan dari
penderitaan. Suasana seperti ini tidak tepat untuk melakukan promosi
kesehatan. Namun petugas kesehatan sudah dapat mulai merencanakan
upaya Pemberdayaan yang nanti akan dilakukannya. Pada saat pasien

sudah memasuki masa penyembuhan, umumnya ia sangat ingin


mengetahui seluk-beluk tentang penyakitnya. Walaupun tidak tertutup
kemungkinan adanya pasien yang acuh-tak acuh karena mereka sudah
terbebas dari penya-kitnya. Bagi pasien yang seperti ini, Pemberdayaan
memang harus dimulai dari awal, yaitu dari menciptakan kesadaran
akan adanya masalah. Adapun pasien dengan penyakit kronis dapat
menunjukkan reaksi yang berbeda-beda seperti misalnya agresif,
apatis, atau menarik diri. Hal ini karena penyakit kronis umumnya
memberikan pengaruh fisik dan kejiwaan serta dampak sosial ekonomi
kepada penderita-nya. Kepada pasien yang seperti ini, kesabaran dari
petugas kesehatan sungguh sangat diharapkan, khususnya dalam
pelaksanaan promosi kesehatan atau Pemberdayaan. Tujuan
pemberdayaan terhadap individu-individu pasien adalah agar yang
bersangkutan: 1. Mengembangkan pengertian dan sikap tentang
penyakit yang dideritanya, sehingga tahu apa yang harus dilakukan
dan kemudian terdorong untuk: Membantu mempercepat
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatannya. Misalnya dengan
selalu mengikuti secara tekun anjuran petugas kesehatan Rumah Sakit
dalam pengobatan penyakitnya. Mencegah terserang kembali oleh
penyakit yang sedang dideritanya. Mencegah terjadinya penularan
penyakitnya kepada orang lain. Memberi penjelasan (penyuluhan)
kepada orang lain agar tidak terserang oleh penyakit yang sedang
dideritanya. 1. Mengembangkan pengertian dan sikap tentang pemanfaatan sarana kesehatan secara benar (sesuai dengan kaidah rujukan).
Yaitu jika sakit sebaiknya tidak lang-sung ke Rumah Sakit, melainkan
ke Puskesmas terdekat terlebih dulu. Selanjutnya, Puskesmaslah yang
akan menentukan apakah ia perlu dikirim ke Rumah Sakit atau tidak.
Metode yang digunakan dalam hal ini dapat berupa pi-lihan atau
kombinasi dari: dialog, demonstrasi, konseling, dan bimbingan, yang
dilakukan di samping tempat tidur pasien (bedside health promotion).
Bagi pasien-pasien yang sudah hampir sembuh, metode-metode yang
dipilih dapat dilakukan secara berkelompok dalam satu ruangan.
Media komunikasi yang digunakan dapat berupa pilihan atau
kombinasi dari: lembar balik, gambar/foto, dan skema, atau media lain
yang mudah digunakan dan dibawa (bila digunakan untuk bedside
health promotion). Pemberdayaan Keluarga/Kelompok
Pemberdayaan terhadap keluarga/kelompok ditujukan untuk
mengembangkan pengertian dan kemauan guna mendukung pasien
dalam bentuk: 1. Dukungan moral dan atau material dalam penyembuhan penyakit. 2. Upaya mencegah agar penyakit yang diderita pasien
tidak menular kepada orang lain. 3. Upaya mencegah agar jika pasien
sudah sembuh tidak terserang kembali oleh penyakit yang sama. Jadi
pemberdayaan keluarga/kelompok yang dilakukan di Rumah Sakit ini
dapat pula disebut sebagai Bina Suasana di lingkungan Rumah Sakit.
Pemberdayaan keluarga/kelompok di Rumah Sakit biasanya dilakukan

sebelum atau sesudah keluarga/kelompok itu menjenguk pasien. Yaitu


dengan jalan mengelompokan serta mengumpulkan mereka dalam
ruangan-ruangan, sesuai dengan penyakit pasien yang dijenguknya.
Metode yang digunakan dapat berupa salah satu atau kombinasi dari:
dialog, demonstrasi, diskusi dan bimbingan. Media komunikasi yang
digunakan juga dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: slide, radio
spot, poster, gambar/foto, dan skema, atau media lain. d. Langkahlangkah kegiatan gerakan pemberdayaan di masyarakat Ada 5 (lima)
langkah pokok dalam melakukan kegiatan pemberdayaan di
masyarakat yaitu: 1. Pendekatan kepada tokoh masyarakat 2.
Diagnosis masalah kesehatan oleh masyarakat 3. Perumusan upaya
penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat 4. Pelaksanaan
kegiatan penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat 5.
Pembinaan dan pengembangan. Adapun langkah-langkah secara rinci
tentang pelaksanaan kegiatan pemberdayaan di masyarakat adalah
sebagai berikut: a) Pendekatan kepada tokoh masyarakat Pendekatan
tokoh masyarakat merupakan tahap pertama yang harus dilakukan
sebelum meng-implementasikan suatu program di suatu wilayah
tersebut. Tokoh masyarakat merupakan panutan masyarakat setempat.
Semua yang telah disetujui tokoh masyarakat akan berjalan lancar,
sebaliknya bila para tokoh masyarakat tidak merestui kegiatan
tersebut, jalannya program akan tersendat-sendat. Pendekatan kepada
mereka dapat dilakukan melalui hubungan antar manusia yang baik
dan bersahabat Forum untuk mendekati tokoh masyarakat ini antara
lain melalui kunjungan rumah, pertemuan perorangan, pembicaraan
informal di berbagai kesempatan dan pertemuan dengan kelompok
kecil. Setelah para tokoh masyarakat didekati secara interpersonal,
perlu diadakan pembahasan bersama para tokoh masyarakat tersebut
antara lain melalui pertemuan khusus, misalnya: melalui sarasehan
dengan tokoh masyarakat untuk membahas program yang akan
dilaksanakan di wilayahnya. Dapat juga menggunakan forum
komunikasi yang sudah ada seperti selapanan desa, rembuk desa dan
lain-lain, namun topik pembicaraan adalah program yang kita maksud.
b) Diagnosis masalah kesehatan oleh masyarakat Diagnosis masalah
kesehatan oleh masyarakat merupakan kegiatan untuk mengenali
keadaan dan masalah mereka sendiri, serta potensi yang mereka miliki
untuk mengatasi masalah tersebut. Caranya dengan melakukan survei
mawas diri (SDM). Melalui kegiatan SDM masyarakat diajak untuk
mengenali permasalahan kesehatan yang mereka hadapi sehingga
memperoleh gambaran masalah kesehatan menurut apa yang
dirasakan dan disepakati keluarga serta dapat mengenali potensi yang
ada disekeliling mereka. Pengenalan masalah kesehatan dapat
dilakukan dengan berbagai cara misalnya : Mengajak wakil keluarga
untu melihat langsung cara hidup bersih dan sehat yang dilakukan oleh
keluarga desa yang lebih maju dari desa mereka. Melalui foto atau

gambar Menggunakan alat bantu pemantauan keadaan keluarga.


Macam data yang dikumpulkan Data yang yang dikumpulkan adalah
data umum, data khusus serta data perilaku. Data umum yaitu data
tentang potensi desa (merupakan data sekunder, dapat diperoleh dari
data statistik desa) Data khusus yaitu tentang identitas keluarga,
keadaan kesehatan (misalnya diare, batuk pilek, malaria, Tb. Paru dan
lain-lain) Data perilaku, sehubungan dengan masalah kesehatan yang
ada misalnya tentang diare. Maka data perilaku yang dimaksud adalah
pengetahuan masyarakat tentang diare, penyebabnya, cara
pencegahannya dan kebiasaan masyarakat yang berhubungan dengan
diare dan lain-lain. Atas dasar hal tersebut diatas, petugas membantu
membuat diagnosis masalah kesehatannya, membantu mencarikan cara
yang tepat agar mempermudah mereka mengenali dan menggali
potensi yang mereka miliki. Hasil SDM setelah direkapitulasi dibawa ke
forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Dalam MMD ini
diundang para pemimpin baik formal maupun informal, para tokoh
masyarakat dan anggota masyarakat. Dalam pertemuan ini
disampaikan temuan dari survei mawas diri untuk dibahas bersama
upaya mengatasinya. Langkah-langkah pembahasan pada musyawarah
masyarakat desa adalah sebagai berikut : Pemaparan temuan
serangkaian masalah kesehatan dan sederetan potensi/sumber daya
setempat yang mungkin bisa digunakan untuk menanggulanginya.
Memandu peserta musyawarah untuk menggali tenaga, dana, material
atau pemikiran inovatif lainnya. Atas dasar prioritas masalah yang
telah disusun dan potensi masyarakat yang tergali, dibuat rencana
kegiatan penanggulangan masalah, lengkap dengan jadwal
kegiatannya. c) Perumusan upaya penanggulangan masalah kesehatan
oleh masyarakat dan perencanaan Perumusan upaya penanggulangan
masalah kesehatan oleh masyarakat atas dasar musyawarah ini
merupakan kekuatan politis yang tangguh untuk menggali dan
meningkatkan peran masyarakat, serta menjamin kelestarian program.
Peran petugas dalam musyawarah masyarakat ini adalah memandu
jalannya musyawarah agar berjalan lancar dan mencapai tujuan. d)
Pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan oleh
masyarakat. Pelaksanaan kegiatan penaggulangan masalah kesehatan
oleh masyarakat, merupakan rangkaian penerapan kegiatan sebagai
penjabaran dari perumusan upaya penaggulangan yang telah disusun
menjadi suatu rencana kegiatan, yang dilaksanakan untuk mengatasi
masalah kesehatan. Rangkaian kegiatan ini dapat berjangka waktu
pendek, sedang dan lama. Namun minimal 1 tahun berjalan harus
diadakan penilaian. Jenis kegiatan bervariasi mulai dari yang sangat
sederhana sampai yang rumit, semua tergantung pada kesepakatan
yang diambil dalam musyawarah masyarakat. Pelaksanaan kegiatan
penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat dibagi menjadi 4
tahap yaitu : 1) Tahap persiapan (P1) Mempersiapkan tenaga

pelaksana yaitu tenaga pembangunan desa yang sudah dipilih


sebelumnya dan sudah melaksanakan SDM dengan pelatihan, orientasi,
lokakarya dan lain-lain, pelatihan yang diselengarakan harus praktis,
mengutamakan latihan keterampilan. Metode yang banyak digunakan
dalam pelatihan antara lain demonstrasi, bermain peran/permainan
simulasi, diskusi kelompok. Lamanya pelatihan tergantung jenis
kegiatan yang akan dilaksanakan. Disamping pelatihan atau orientasi
upaya untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan keterampilan
petugas dan masyarakat dapat melalui cara-cara sebagai berikut :
Diskusi kelompok terarah (DKT), bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, kemauan, keterampilan keluarga/masyarakat dalam
menggali dan mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.
Kunjungan rumah (memberikan informasi yang lebih rinci).
Penyuluhan massa, menciptakan kesadaran dan membentuk opini yang
mendukung 2) Tahap pelaksanaan (P2) Sesudah tenaga pelaksana
dilatih, diharapkan mampu melaksanakan kegiatan yang telah disusun,
sehingga secara bertahap dapat mengatasi masalah kesehatan yang
mereka hadapi, sekaligus, membuktikan apakah rencana yang
mereka susun sudah tepat. Namun demikian petugas perlu memantau
bila ternyata ada kekeliruan bisa segera diperbaiki. Peran petugas
adalah memberikan bimbingan teknis secara teratur dan
berkesinambungan 3) Tahap menilai kegiatan yang sudah dilaksanakan
Penilaian merupakan suatu hal yang penting dalam proses perubahan.
Masyarakat harus dapat melihat sampai dimana rencana kegiatan yang
telah mereka susun sudah terlaksana. Apakah ada hal-hal yang perlu
penyempurnaan atau perbaikan. Pada tahap ini diharapkan
masyarakat melakukan penilaian yang mereka susun. Penilaian
dilakukan secara sederhana dan praktis. e) Pembinaan dan
pengembangan. Langkah terakhir dari serangkaian kegiatan
pemberdayaan masyarakat adalah pembinaan dan pengembangan
program. Setiap pelaksanaan program harus dibina agar mantap
jalannya. Setelah mantap harus dikembangkan, agar tidak jenuh dan
makin maju tingkat pencapaiannya. Pemantapan dan pembinaan juga
bermaksud memantapkan dan mambina pengetahuan, sikap,
keterampilan dan motivasi para tenaga pembangunan desa,
masyarakat dan keluarga sendiri di bidang kesehatan. Pembinaan
dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : Supervisi Banyak
hasil penilaian mengungkapkan bahwa supervisi petugas amat
menentukan tingkat keberhasilan program. Oleh karena itu, supervisi
secara berkala perlu dilakukan. Bila memungkinkan, supervisi ke
bawah sebaiknya dikembangkan menjadi suatu sistem penilaian yang
utuh. Forum komunikasi Forum komunikasi antara petugas lintas
program dan sektor di tingkat kabupaten, maupun kecamatan
merupakan wahana pemantauan yang baik. Pada forum ini dapat
dibahas rencana supervisi terpadu, hasil supervisi dari petugas yang

turun ke lapangan, sekaligus dapat membahas upaya untuk


memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemui di lapangan. Di
lapangan atau desa, forum komunikasi ini juga perlu dibentuk sebagai
wadah berkumpulnya pelaksana pembangunan desa dengan toloh
masyarakat baik formal maupun non formal. Dalam forum ini
pelaksana pembangunan desa dapat menyampaikan pelaksanaan
rencana kegiatan yang telah disusun, hambatan-hambatan serta
keberhasilan yang telah dicapai. Forum ini sekaligus sebagai wadah
untuk pemecahan masalah, menyempurnakan rencana yang disusun
dan lain-lain sehingga dapat berfungsi untuk pemantauan dan
penilaian oleh masyarakat sendiri. Menunjukkan film-film
pembangunan kesehatan untuk memotivasi pelaksana pembangunan
desa dan masyarakat. Kunjungan tamu dari luar Kegiatan ini dapat
merangsang masyarakat untuk membenahi desanya karena akan
kedatangan tamu, namun harus dijaga jangan sampai terlalu sering,
bisa membosankan dan mengganggu kegiatan masyarakat. Wisata
karya ke tempat lain yang lebih maju Kegiatan ini dapat memperluas
wawasan, dan memotivasi masyarakat untuk lebih maju. Perlombaanperlombaan desa sehat secara teratur. Penerbitan majalah dinding
buatan sendiri yang memuat antara lain : Kegiatan-kegiatan di desa
bersangkutan, cara pencegahan penyakit yang sedang berjangkit,
misalnya muntah berak, atau demam berdarah, pengalaman pelaksana
pembangunan desa, dll Pengembangan kegiatan pemberdayaan
masyarakat Pengembangan dilakukan apabila kegiatan di wilayah uji
coba telah seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan kegiatan
perluasan atau pengembangan ke daerah terutama di wilayah
sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan adalah: Pertama-tama wilayah
uji coba menyiapkan dokumentasi kegiatan serta hasil yang diperoleh
Selanjutnya mengundang tokoh masyarakat yang ada di wilayah
sekitar daerah uji coba untuk mengikuti pertemuan serta melakukan
peninjauan di wilayah yang sudah berhasil. Pada acara pertemuan
para tamu ditunjukkan dokumentasi (slide, film atau foto) yang telah
berhasil beserta gambaran proses kegiatannya. Pada akhir pertemuan
atau kunjungan dilakukan pembahasan kemungkinan menerapkan
kegiatan serupa di wilayah sekitarnya. Pengembangan kegiatan
pemberdayaan ada dua macam yaitu: pengembangan daerah dan
pengembangan program. Dalam pengembangan kegiatan ke daerah
lain harus dicegah adanya penjiplakan, namun harus berdasarkan
kebutuhan, kemampuan serta karakteristik wilayah tersebut. e.
Indikator keberhasilan 1. Adanya petugas kesehatan yang mampu
melakukan upaya gerakan pemberdayaan 2. Adanya sarana yang
mendukung kegiatan gerakan pemberdayaan kesehatan 3. Adanya
forum komunikasi yang menjadi wadah kemitraan/ partisipasi
masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan (PHBS) 4. Adanya
kader yang mampu menjadi fasilitator kesehatan di desa 5. Adanya

data hasil SMD 6. Adanya rancangan kegiatan pembangunan kesehatan


(PHBS) di desa hasil MMD 7. Adanya kegiatan gerakan pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan 8. Adanya dokumentasi proses dan
hasil kegiatan 9. Adanya rencana tindak lanjut atau kegiatan yang
berkesinambungan 10. Adanya dukungan sumberdaya maupun
kebijakan dari pengambil keputusan maupun lintas sektor terkait. BAB
III Kesimpulan Oleh karena konsep perubahan yang terjadi pada
individu dan masyarakat juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun
perubahahn organisasi, dan politik bahkan faktor ekonomi, maka
lingkungan yang mendukung perubahan prilaku menjadi penting. Oleh
karena itu, advokasi sebagai salah satu strategi promosi kesehatan
untuk mendukung perubahan perilaku individu maupun masyarakat
menjadi penting. Advokasi pada hakekatnya adalah bekerja dengan
dan organisasi untuk membuat suatu perubahan, suatu proses dimana
orang terlibat dalam proses pembuatan keputusan yang mempengaruhi
kehidupan mereka. Dengan demikian, advokasi menjadi suatu
pengetahuan maupun keterampilan yang akan sangat membantu bagi
mereka yang berkecimpung dalam bidang ksehatan
masyarakat.karenamasalah ksehatan perlu juga memberoleh perahtian
dari para pembuat keputusan terkait diluar bidang ksehatan, maka
advokasi masalah kesehatan sendiri bagi hal layak di luar kesehatan
juga menjadi salah satu tugas yang harus dilakukan dalam bidang
promosi kesehatan. Kemitraan dapat disimpulkan berhasil jika
banyaknya mitra yang terlibat, sumberdaya (3M) tersedia (input),
pertemuan-pertemuan, lokakarya, kesepakatan bersama, seminat
(proses), terbentuknya jaringan kerja, tersusunnya program dan
pelaksanaan kegiatan bersama (output), membaiknya indikator derajat
kesehatan (outcome). 1. Dalam melakukan gerakan pemberdayaan
terlebih dahulu kegiatan harus difokuskan pada upaya pemberdayaan
petugas agar siap dan mampu berperan secara tepat dalam
membangun masyarakat. 2. Mengembangkan masyarakat itu sendiri
agar siap dan mampu berpartisipasi, memecahkan masalah yang
dihadapinya secara mandiri. 3. Setelah kegiatan di masyarakat
berlangsung, tidak berarti pemberdayaan petugas sudah berakhir,
namun interaksi timbal balik antara petugas dan masyarakat masih
terus berlangsung. Artinya, masih banyak tatangan maupun
permasalahan yang bervariasi harus dihadapi oleh petugas dalam
melestarikan maupun mengembangkan kegiatan yang telah dibangun.
Untuk itu proses pemberdayaan petugas harus terus dilakukan,
sehingga tetap semangat dan mampu berperan dengan tepat dalam
membantu masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Notoatmodjo,suekidjo
prof Dr.2008.promosi kesehatan dan perilaku;Rineka cipta:Jakarta.
Puji wahyunigsih,heni dkk.2009.dasar dasar ilmu kesehatan
masyarakat dalam kebidanan.fitramaya; Jogjakarta. Iqbal Mubarak
wahit.2012.ilmu kesehatan masyarakat:konsep dan aplikasi dalam

kebidanan.salemba medika.jakarta. Syafrudin.dkk.2009.buku ajar ilmu


kesehatan masyarakat untuk mahasiswa kebidanan. Soal : 1. Apa yang
di maksud dengan kemitraan? Kemitraan adalah Adalah suatu
kerjasama formal antara individu-individu,kelompok-kelompok,aau
organisasi-organisasi unuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu.
Dalan kerjasama tersebut ada kesepakatan tentang komitmen dan
harapan masing-masing,tentang peninjauan kembali terhadsp
kesepaakatan yang telah dibuat dan saling berbagi,baik dalam resiko
maupun dalan keuntungan yang diperoleh. 2. Berikut adalah prinsip
kemitraan. Yang bukan merupakan prinsip kemitraan adalah a. Saling
menguntungkan (mutual benefit) b. Pendekatan berorientasi hasil c.
ketertutupan d. Kesetaraan.