Anda di halaman 1dari 11

Diare

A. Pengertian
Diare merupakan penyakit yang lazim ditemukan pada masa balita. Diare merukan
suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan
yang terjadi berupa peningkatan volume, keenceran, dan frekuensi dengan atau tanpa
lendir darah, seperti lebih dari tiga kali sehari pada neunatus lebih dari empat kali sehari
(Hidayat,2008)
Diare merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu
hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih (Maryani,2010).
Diare dapat terjadi dengan dua macam mekanisme. Yang pertama disebut diare
sekretorik, yaitu usus mensekresikan cairan secara berlebihan akibat kerusakan dinding
usus. Kerusakan dinding usus ini dapat dapat terjadi akibat penempelan virus, bakteri
jahat, atau parasit pada dinding usus. Yang kedua disebut sebagai diare osmotik, dimana
tidak terjadi penyerapan air dalam usus, sehingga cairan yang masuk dalam tubuh melalui
saluran pencernaan keluar begitu saja begitu sajs bersama tinja (Assiddiqi,2009).
B. Etiologi
Tubuh balita masih sangat rentan terhadap unsur asing karena balita belum memiliki
sistem kekebalan tubuh yang memadai. Sehingga, jika anggota keluarga terutama ibu
tidak hati-hati dengan kebersihan diri sendiri, secara tidak langsung dapat memberikan
media penyakit pada tubuh balita, Misalnya saja, setelah kerja seharian ibu lupa mencuci
tangan dan langsung menimang balita, secara tidak langsung kuman atau apapun yang
menempel pada tangan ibu akan berpindah pada tubuh bayi. Tangan ibu mengandung
kuman atau bakteri, maka balita akan mudah terinfeksi suatu penyakit (Sarasvati,2010).
Menurut Sarasvati(2010), banyak hal yang dapat menyebabkan diare, di bawah ini
akan dijelaskan penyebab diare, yaitu :
a. Infeksi virus
Virus yang paling banyak menimbulkan diare adalah rotavirus. Infeksi rotavirus
ditemukan pada anak sekitar 60% dan merupakan penyebab diare berair (watery
diarrhea) yang sering kali dikaitkan dengan dehidrasi.
b. Infeksi bateri
Bakteri seperti shigella, vibrio cholera, salmonella (non thypoid), campylobacter
jejuni maupun esherichia coli bisa merupakan penyebab diare pada balita
c. Parasit
Infeksi akibat parasit juga dapat menyebabkan diare. Penyakit giardiasis
misalnya penyakit ini disebabkan parasit mikroskopik yang hidup dalam usus.
d. Antibiotik
Jika balita mengalami diare selama pemakaian antibiotik, mungkin hal ini
berhubungan pengobatan yang sedang dijalaninya. Antibiotik bisa saja membunuh
bakteri baik dalam usus selama pengobatan. Konsultasikan pada dokter mengenai hal
ini. Namun jangan hentikan pengobatan pada anak sampai dokter memberikan
persetujuan.
e. Makan dan minuman
Terlalu banyak jus, terutama jus buah yang mengandung sorbitol dan kandungan
fruksosa yang tinggi, atau terlalu banyak minuman manis dapat membuat perut balita
kaget dan menyebabkan diare.

f.

Alergi makanan
Alergi makanan merupakan reaksi imun tubuh terhadap makanan yang masuk.
Alergi makanan dapat menyebabkan berbagai reaksi dalam waktu singkat maupun
setelah beberapa jam, salah satunya adalah reaksi yang menyebabkan diare.
g. Intoleransi makanan
Berbeda dengan alergi makanan, inoleransi makanan tidak dipengaruhi oleh
sistem imun. Contohnya intoleransi makanan adalah intoleransi laktosa. Balita yang
mengalami intoleransi laktosa, artinya balita tersebut tidak cukup memproduksi
lactase, suatu enxim yang dibutuhkan mencerna laktosa (yaitu gula dalam susu sapi
dan produk susu lain).
A.

Tanda dan gejala diare


Gejala diare adalah tinja encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang
terkadang disertai beberapa hal berikut :
a. Muntah
b. Badan lesu atau lemah
c. Panas
d. Tidak nafsu makan
e. Darah dan lendir dalam kotoran
f. Cengeng
g. Gelisah
h. Suhu meningkat
i. Tinja cair, dan lendir terkadang bercampur darah. Lama-kelamaan, tinja
berwarna hijau dan asam
j. Anus lecet
k. Dehidrasi. Jika menjadi dehidrasi berat, akan terjadi volume darah berkurang,
nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah turun, kesadaran
menurun, dan diakhiri dengan shook
l. Berat badan turun
m. Tuogor kulit menurun
n. Mata dan ubun-ubun cekung
o. Selaput lendir, serta mulut dan kulit menjadi kering

B. Klasifikasi
Berdasarkan lamanya, diare dibagi menjadi tiga yaitu diare akut, diare persisten dan
diare kronis. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu, diare
persisten berlangsung selama dua sampai empat minggu, dan diare kronis berlangsung
lebih dari empat minggu (Sofwan,2010).
C. Penatalaksanaan
Menurut sofwan (2010), sampai saat ini para ahli dan dokter anak di seluruh dunia
masih mencari dan melakukan penelitian tentang penanganan diare pada balita yang
paling optimal. Di Indonesia dikenal dengan lintas diare (5 langkah tuntas diare). 5
pedoman tersebut adalah :
a. Berikan oralit formula baru
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memperoleh formula oralit dan

b.

c.

d.

e.

telah terbukti bahwa oralit dapat menurunkan angka kematian akibat dehidrasi.
Oralit ini sangat berperan penting dalam mengatasi kehilangan cairan dan
elektrolit tubuh. Karena oralit juga mengandung elektrolit yang hilang bersama
keluarnya tinja (Maryunani, 2010).
Berikan zinc selama 10 hari berturut-turut
Zinc adalah zat gizi mikro yang ada di dalam tubuh dan berguna untuk
menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak. Zinc akan ikut terbuang atau keluar
dari dalam tubuh pada saat balita diare, sehingga mengakibatkan jumlah zinc
dalam tubuh berkurang.
Teruskan ASI - makan
Pemberian ASI untuk balita tetap diteruskan pada saat diare, begitu juga
dengan pemberian makanan sehari-hari pada balita. ASI tidak menyebabkan
diare, justru dapat membantu mencegah diare. Makanan sehari-hari tetap
dilanjutkan dan cobalah makanan yang berkuah, seperti sup, sereal, dan kuah
sayur-sayuran. Selain digunakan untuk energi makanan dan ASI akan menambah
jumlah cairan yang ke dalam tubuh sehingga meminimalkan kemungkinan
terjadinya dehidrasi. Pemberian susu formula juga dapat dilanjutkan selama
diare (Sofwan, 2010).
Antibiotik
Cobalah untuk tidak memberikan antibiotik sembarangan pada saat balita
diare. Banyak orang tua yang langsung memberikan antibiotik ketika balita
terkena diare.Terkadang, setelah diberikan antibiotika diare semakin bertambah
parah. Seharusnya sebagai orang tua lebih berhati-hati dalam memberikan
pengobatan pada balita. Di dunia medis dikenal istilah antibiotic associated
diarrhea atau diare yang disebabkan karena pemberian antibiotika (Sofwan,
2010).
Nasihat untuk ibu dan keluarga
Pada langkah ke lima ini tidak termasuk ke dalam konteks penanganan
diare, melainkan lebih kepada edukasi kepada orang tua mengenai perlunya
kewaspadaan bila terjadi hal-hal yang lebi serius terhadap diare yang dialami
balita. Langkah ini diberikan oleh para praktisi kesehatan kepada orangtua agar
selalu memantau keadaan balita dan bila terjadi hal-hal yang lebih serius agar
segera dibawa ke dokter. Sekalipun diare yang tergolong ringan, tetapi pada
beberapa keadaan kesehatan balita dapat memburuk dan bahkan membahayakan
jiwa. Dokter dan praktisi kesehatan lainnyaperlu mengedukasi para orang tua
mengenai cara pembuatan dan pemberian oralit, zinc dan informasi lain seputar
masalah diare akut (Sofwan, 2010).
Menurut Aden (2010), penanganan pertama diare pada bayi dan balita di
bagi menjadi tiga, yaitu:
1. Makan dan Minum
Untuk bayi dan balita masih diberikan ASI, teruskan minum ASI. Bagi
anak yang sudah tidak minum ASI, makan dan minum seperti biasa untuk
menggantikan cairan tubuh yang hilang
2. Garam Oralit
Berikan oralit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang, perlu

3.

diperhatikan bagi orangtua mengenai cara pemberian oralit yang benar.


Caranya adalah minum segelas oralit sedikit demi sedikit, dua sampai tiga
teguk, kemudian berhenti selama tiga menit. Hal ini harus diulangi terus
menerus sampai satu gelas oralit habis. Minum satu gelas dapat memicu
muntah dan buang air besar.
Diare dapat diobati dengan garam ORALIT yang tujuannya untuk
mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh sebagai akibat diare .
Minumkanlah cairan oralit sebanyak mungkin penderita mau 1 bungkus
kecil oralit dilarutkan ke dalam satu gelas air masak (200cc). Kalau oralit
tidak ada buat lah larutan garam gula. Ambillah air putih (masak) satu gelas
masukkan dua sensok teh peres gula pasir, dan seujung sendok teh garam
dapur. Diaduk rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin yang
meminum. Bila diare tak terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali
bawalah segera ke Puskesmas.
Periksakan ke dokter
Segera periksakan anak ke dokter atau tenaga kesehatan lainnya bila
diare lebih dari 12 jam atau bila bayi tidak mengompol dalam waktu 8 jam,
suhu badan lebih dari 390C, terdapat darah dalam tinjanya, mulutnya kering
atau menangis tanpa air mata dan luar biasa mengantuk dan tidak ada
respon. Anak di bawa ke dokter atau tenaga kesehatan lainnya bila
mengalami salah satu atau lebih tanda-tanda seperti buang air besar cair
lebih sering, muntah berulang-ulang dalam jumlah yang sangat banyak,
mengalami rasa haus yang nyata, tidak mau makan dan minum, demam
tinggi, tinja berdarah dan tidak membaik dalam tiga hari.
Menurut Depkes RI (2013), empat aturan perawatan dirumah yaitu beri
cairan tambahan, beri tablet zinc, lanjutkan pemberian makan, kapan harus
kembali.
1.

Beri cairan tambahan(sebanyak anak mau)


a. Jelaskan kepada ibu:
1. Pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan
tambahan yang utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap
kali pemberian.
2. Jika anak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit atau air matang
sebagai tambahan
3. Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri satu atau lebih
cairan berikut ini : oralit, cairan makanan(kuah sayur, air tajin) atau air
matang.

b.

Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika :


1. Anak telah diobati dengan rencana terapi b atau c dalam
kunjungan ini
2. Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah
parah
Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit

c. Beri ibu 6 bungkus oralit(200ml) untuk digunakan dirumah


d. Tunjukan kepada ibu berapa banyak cairan termasuk oralit yang
harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairannya sehari-hari:
1) < 2 tahun 50 sampai 100 ml setiap kali bab
2) > 2 tahun 100 sampai 200 ml setiap kali bab
Katakan kepada ibu :
a.
b.
c.

Agar meminumkan sedikit-sedikt tetapi sering dari


mangkuk/cangkir/gelas.
Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi dengan
lebih lambat.
Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

2. Beri tablet zinc


Pada anak berumur 2 bulan ke atas, beri tablet zinc selama 10 hari dengan
dosis :
a. Umur < 6 bulan : 0,5 tablet (10 mg) per hari
b. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari
3. Lanjutkan pemberian makan / ASI

OBSTIPASI
1. Definisi Obstipasi
Secara bahasa, obstipasi berasal dari bahasa Latin, yakni ob, yang berarti
in the way= pejalanan, dan stipare yang berarti to compress= menekan. Secara
istilah, obstipasi adalah bentuk konstipasi parah biasanya disebabkan oleh
terhalangnya pergerakan feses dalam usus ( adanya obstruksi usus ), singkatnya
obstipasi adalah penimbangan feces yang keras akibat penyakit atau obstruksi
saluran cerna atau bisa didefinisikan sebagai tidak adanya pengeluaran tinja
selama tiga hari.
Lebih dari 90% bayi baru lahir mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama,
sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama
kelahiran, jika hal ini tidak terjadi, maka harus difikirkan adanya kemungkinan
obstipasi. Tetapi diingat bahwa ketidakteraturan defekasi bukanlah suatu
obstipasi. Bayi yang menyusu pada ibunya dapat terjadi obstipasi tanpa defeksasi
selama 5- 7 hari dan tidak menunjukan adanya gangguan yang kemudian akan
mengeluarkan tinja dalam jumlah yang banyak ketika defeksasi.
2. Etiologi
Obstipasi pada anak dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
o Kebiasaan makan
Obstipasi dapat timbul bila feses terlalu kecil untuk membangkitkan
keinginan buang air besar. Keadaan ini terjadi akibat dari
kelaparan,dehidrasi,dan
mengkonsumsi
makanan
yang
kurang
mengandung selulosa.
o Hipotiroidisme
Obstipasi merupakan gejala dari dua keadaan, yaitu kreatinisme dan
myodem yang menyebabkann tidak cukupnya ekskresi hormon tiroid
sehingga semua proses metabolisme berkurang.
o Keadaan-keadaan mental
faktor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya obstipasi,
terutama depresi berat yang tidak mempedulikan keinginannya untuk
buang air besar. Biasanya terjadi pada anak usia 1-2 tahun. Jika pada anak
usia 1-2 tahun pernah mengalami buang air besar yang keras dan terasa
nyeri maka mereka cenderung tidk mau buang air besar untuk beberapa
hari, bahkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudahnya karena
takut kembali mengalami nyeri. Dengan bertahannya fese dalam beberapa
hari atau minggu atau bulan, maka akan mengakibatkan kotoran menjadi
keras dan lebih terasa nyeri,sehingga anak menjadi semakin malas buang
air besar. Kondisi anak dengan keterbelakangan mental juga merupakan
penyebab terjadinya obstipasi karena anak sulit dilatih untuk buang air
besar.
o Penyakit organik
Obstipas bisa terjadi berganti-ganti dengan diare pada kasus karsinoma

kolon dan divertikulitis. Obstipasi ini teradi bila terasa nyeri saat buang air
besar dan sengaja dihindari seperti pada fistula ani atau wasir yang
mengalami trombosis.
o Kelainan kongenital
Adanya penyakit seperti atresia, stenosis, megakolon aganlionik
kongenital, obstruksi bolus usus ileus mekonium, atau sumbatan
mekonium. Hal ini dicurigai terjadi pada neonatus yang tidak
mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama.
o Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah diet yang salah, tidak mengkonsumsi makanan
yang mengandung serat selulosa sehingga bisa mendorong terjadinya
peristaltik atau pada anak setelah sakit atau sedang sakit,ketika anak masih
kekurangan cairan.

3. Tanda dan gejala Obstipasi


Ada beberapa tanda dan gejala terjadinya obstipasi pada neonatus dan bayi.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pada neonatus tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama, pada
bayi jika tidak mengeluarkan feses dalam 3 hari atau lebih.
b. Terdapat luka pada anus
c. Sering menagis
d. Susah tidur
e. Gelisah
f. Perut kembung
g. Kadang- kadang muntah
h. Feses besar dan tidak dapat digerakan oleh rectum
4. Patofisiologi dan patogenesis
Pada keadaan normal sebagian besar rektum dalam keadaan kosong kecuali bila
adanya refleks masa dari kolon yang mendorong feses kedalam rektum yag
terjadi sekali atau dua kali sehari. Hal tersebut memberi stimulasi pada arkus
aferen dari refleks defekasi. Dengan adanya stimulus pada arkus aferen tersebut
akan menyebabkan kontraksi otot dinding abdomen sehingga terjadi defekasi.
Mekanisme usus yang normal terjadi atas 3 faktor, yaitu sebagai berikut.
o Asupan cairan adekurat
o Kegiatan fisik dan mental
o Jumlah asupan makanan berserat
Dalam keadaan normal, ketika bahan makanan yang akan dicerna memasuki
kolon, air, dan elektrolit diabsorbsi membran penyerapan. Penyerapan tersebut
berakibat pada perubahan bentuk feses, dari bentuk cair menjadi bahan yang
lunak dan berbentuk. Ketika feses mulai melewati rektum, feses menekan dinding
rektum dan merangsang untuk defekasi. Apabila anak tidak mengkonsumsi cairan
secara adekurat, produk dari pencernaan lebih kering dan padat, serta tidak dapat
dengan segera digerakkan oleh gerakan peristaltik menuju rektum, sehingga

penyerapan terjadi terus menerus dan feses menjadi semakin kering, padat dan
susah dikeluarkan, serta menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit ini dapat
menyebabkan anak malas dan tidak mau buang air besar dan akan menyebabkan
kemungkinan perkembangan luka. Proses dapat terjadi bila anak kurang
beraktifitas, menurunnya peristaltik dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan sisa
metabolisme berjalan lambat dan yang kemungkinan akan terjadi penyerapan air
yang berlebihan.
Bahan makanan berserat sangat dibutuhkan untuk merangsang peristaltik usus
dan pergerakan normal dari metabolisme dalam saluran pencernaan menuju ke
saluran yang lebih berat. Sumbatan dalam usus juga menyebabkan obstipasi.
5. Jenis- jenis obstipasi
Secara umum, jenis obstipasi dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
a. Obstipasi obstruksi total. obstipasi ini memiliki ciri tidak keluarnya feses
atau flatus dan pada pemeriksaan colok dubur didapat rectum yang
kosong, kecuali jika obstruksi terdapat pada rectum.
b. Obstipasi obstruksi parsial. Obtipasi ini memiliki ciri pasien tidak dapat
buang air besar selama beberapa hari, tetapi kemudian dapat
mengeluarkan feses disetai gas. Keadaan obstruksi parsial kurang darurat
daripada obstruksi total.
6. Diagnosis Obstipasi
Secara umum, obstipasi dapat didiagnosis melalui beberapa cara. Di antaranya
adalah sebagai berikut:
a. Anamnesis
Riwayat penyakit difokuskan pada gagal untuk mengeluarkan feses
maupun gas. Selain itu juga perlu untuk menentukan apakah termasuk
obstruksi total atau partial. Anamnesis ditujukan untuk menggali lebih
dalam riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat menstimulasi
terjadinya obstipasi.
Selain itu, cari juga apakah ada kelainan usus sebelumnya , nyeri pada
perut , dan masalah sistemik lain yang penting. Sebagai contoh, riwayat
adanya penurunan berat badan yang kronis dan feses yang bercampur darh
kemungkinan akibat obstruksi neoplasma.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
abdomen standar seperti inspeksi, auskultasi, perkusi, dan palpasi untuk
melihat apakah ada massa abdomen, nyeri abdomen, dan distensi kolon.
Obstruksi usus pada fase lanjut tidak terdengar bising usus. Pemeriksan
region femoral dan inguinal untuk melihat apakah ada hernia atau tidak.
Obstruksi kolon bisa akibat hernia inguinal kolon sigmoid. Pemeriksaan
rectal tussae ( colok dubur ). Untuk mengidentifikasi kelainan rectum yang
mungkin menyebabkan obstruksi dan memberikan gambaran tentang isi
rectum.
c. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:

1) Labolatorium ( feses rutin, khusus )


2) Radiologi (foto polos, kontras dengan enema )
3) Manometri
4) USG
d. Pencitraan dengan CT Scan, USG, X rays dengan atau Tampa Bahan
Kontras.
Pencitraan untuk melihat ada atau tidaknya dilatasi kolon. Dilatasi
kolon tampa udara menandakan obstruksi total, dan dilatasi kolon dengan
terdapat udar menandakan partial obstruksi parsial. Pencitraan ini dapat
digunakan untuk menentukan letak obstruksi dan penyebab obstruksi.
Labolatorium seperti pemeriksaan elektrolit darah ( mengetahui
dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit), hematokrit ( apakah ada
anemia yang dihubungkan dengan perdarahan usus, misalnya akibat
neoplasma), dan hitung leukosit ( mengetahui infeksi usus ). Endoskopi
untuk melihat bagian dalam kolon dan menentukan sebab obstipasi.
7. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita obstipasi adalah sebagai berikut :
a) Perdarahan
b) Ulserasi
c) Obstruksi parsial
d) Diare intermiten
e) Distensi kolon akan menghilang jika sensasi regangan rectum yang
mengawali proses defekasi.
8. Penanganan Obstipasi
Untuk penanganan obstipasi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.
Diantaranya sebagai berikut:
a. Perawatan medis, meliputi resusitasi untuk mengoreksi cairan dan elektrolit
tubuh, nasogratisdecompression pada obstruksi parah untuk mencegah muntah
dan aspirasi, dan pengobatan lain untuk mencegah semakin parahnya sakit.
b. Operasi, operasi dilakukan untuk mengatasi obstruksi sesuai dengan penyebab
obstruksi dan untk mencegah perforasi usus akibat tekanan tinggi. Obstipasi
obstruksi total bersifat sangat urgen untuk dilakukan tindakan segera. Sebab,
jika terlambat dilakukan dapat mengakibatkan perforasi usus karena
peningkatan tekanan feses yang besar.
c. Diet. Pada obstruksi total, dianjurkan tidak makan apapun. Sedangkan, pada
obstruksi parsial dapat diberikan makanan cair dan obat- obatan.

9. Penatalaksanaan Obstipasi
Adapun penatalaksanaan obstipasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a) Mencari penyebab
b) Menegakan kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan
memperhatikan gizi, tambakan cairan, dan kondisi psikis.

c) Pengosongan rectum dilakukan jika tidak ada kemajuan setelah


dianjurkan untuk menegakan kembali kebiasaan defekasi. Pengosongan
rectum biasa dengan disimpaksi digital, enema minyak zaitun, dan
laksativa.
d) Usahankan diet pada ibu dan bayi yang cukup mengandung makanan
yang banyak serat, buah- buahan dan sayur- sayuran.
e) Pemberian laktasi hanya merupakan tindakan hanya bila diperlukan saja.
f) Peningkatan intake cairan.
g) Bila diduga terdapat penyakit birscprung dapat dilakukan tes tekanan
usus.
h) Banyak minum.
i) Makan makanan yang tinggi serat ( sayur dan buah ).
j) Latihan .
k) Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi.
l) ASI lebih baik daripada susu formula.
m) Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi.
n) Perawatan kulit peranal.

MAKALAH
DIARE DAN OBSTIPASI