Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

MEMBACA, MEMAHAMI DAN MENULIS KEDALAM TULISAN ILMIAH MENGENAI


:
A. HIPOTERMI DAN HIPERTERMI
1. Jelaskan pengertian hipertermi dan hipotermi ?
Jawab:
a.

Hipotermi pada neonatus adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan suhu

tubuh yang disebabkan oleh berbagai keadaan terutama karena tingginya konsumsi
oksigen dan penurunan suhu ruangan. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal
sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan bayi baru lahir terutama
bagi bayi prematur.
Pengaturan suhu tubuh tergantung pada faktor penghasil panas dan
pengeluarannya, sedang produksi panas sangat tergantung pada oksidasi biologis dan
aktifitas metabolisme dari sel-sel tubuh waktu istirahat (Lubis, 2007).
Suhu normal adalah suhu tubuh yang menjamin kebutuhan oksigen bayi secara
individual (dapat terpenuhi dengan suhu bayi stabil dengan suhu aksila antara 36,50 C
37,50 C (Affandi, 2007).
Hipotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan
kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot
yang belum cukup memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf
yang mengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding
dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas (Surasmi, 2006).

Untuk mengukur hipotermi diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat


mengukur suhu hingga 250
Hipotermi dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan mengakibatkan
terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan kematian (Saifuddin, 2006).
Menurut diagnosis banding pada suhu tubuh hipotermi ada dua yakni : hipotermi
sedang 320 C 36,40 C dan suhu tubuh kurang dari 320 C disebut hipotermi berat
(Subekti, 2008).
Hipotermia adalah turunmya suhu tubuh bayi dibawah 30 (Abdul Saifuddin, 2002).
Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas. (Patricia A. 2005). Hipotermia
adalah suhu rektal bayi dibawah 350C. (Hellen, 1999). Hipotermi pada BBL adalah suhu di
bawah 36,5 C, yang terbagi atas : hipotermi ringan (cold stres) yaitu suhu antara 36-36,5 C,
hipotermi sedang yaitu antara 32-36C, dan hipotermi berat yaitu suhu tubuh <32 C.
(Yunanto, 2008:40).
b.

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhui oleh
panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik), Sengatan panas (heat stroke) per
definisi adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40 derajat celcius disertai kulit
panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma
yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan
fisik yang berat. Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini
terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya
panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.
2. Bagaimana mekanisme terjadinya hipotermi dan hipertermi ?
Jawab:
a.

Hipotermi pada bayi baru lahir timbul karena adanya penurunan suhu tubuh yang
dapat terjadi melalui cara hipoksemin yaitu kadar O2 dalam darah.

1)

Evaporasi adalah kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban yang


melekat pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera dikeringkan. Contoh : air
ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan serta bayi segera
dimandikan.

2) Konduksi adalah kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak langsung
antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti : meja, tempat tidur
atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap
panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan di atas
benda tersebut.
3) Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar
udara sekitar yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika konveksi
aliran udara dan kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin
ruangan.
4) Radiasi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan di
dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi
karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas tubuh bayi (Saifuddin, 2002).
b.

Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan karena:


1) Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma
lahir dan obat-obatan
2) Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.
3) Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan
produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.
4) Latihan / gerakan yang berlebihan.

3. Jelaskan tanda dan gejala hipotermi dan hipertermi ?


Jawab:
A. Hipotermi
1.

Hipotermi sedang (stres dingin) :

a.

Aktifitas berkurang, letargis.

b.

Tangisan lemah.

c.

Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata).

d.

Kemampuan mengisap lemah.

e.

Kaki teraba dingin.

2. Hipotermi lanjut :
a. Bibir dan kuku kebiruan.
b. Ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
c. Pernapasan lambat dan tak teratur.
d. Bagian tubuh lainnya pucat.
e. Bunyi jantung lambat.
f. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung kaki dan
tangan (Sarwono, 2005).
B. Hipertermi
Tanda dan Gejala meliputi
a.

Suhu badan tinggi >37,5 C

b.

Tanda dehidrasi (elastisitas kuli menurun, mata dan ubun-ubun


besar cekung, lidah dan membran mukosa kering).

c.

Terasa kehausan

d. Anoreksia (tidak selera makan)


e.

Denyut jantung > 160 kali/menit

f.

Frekuensi nafas > 60 kali/menit

g.

Letargi

4. Apakah penyebab hipotermi dan hipertermi ?


A. Hipotermi dapat disebabkan oleh :
a.

Kehilangan panas yang berlebihan seperti lingkungan atau cuaca dingin


basah atau bayi telanjang.

b.

Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir relatif besar sehingga
penguapannya bertambah.

c.

.Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas tubuhnya masih


rendah.

d.

Otot bayi masih lemah (Manuaba, 2007)

B. Hipertermi
Sebenarnya demam merupakan proses mekanisme tubuh yang sehat ketika
melawan penyakit. Demam terjadi karena tubuh sedang melakukan perlawanan terhadap
adanya gangguan, baik infeksi maupun gangguan yang lainnya. Semua bayi demam berusia
kurang dari 28 hari harus mendapatkan evaluasi lengkap untuk kemungkinan sepsis.
Berdasarkan pengalaman dengan lebih dari 1000 bayi demam berusia 60 hari atau kurang, 436
bayi berada pada usia 30 hari atau kurang (142 berusia 14 hari atau kurang) dan 227
memenuhi kriteria yang dipertimbangkan sehingga mengelompokkan mereka sebagai beresiko
rendah untuk mengalami infeksi bakteri serius. Hanya 1 dari 227 bayi berusia kurang dari 30
hari yang memenuhi kriteria resiko rendah yang menderita infeksi bakteri serius (Rudolf,
2006, hlm. 585). Menurut Suriadi (2006, hlm. 63) demam sering dikaitkan dengan adanya
gangguan pada hipotalamus oleh karena
adanya infeksi, alergi, endotoxin, atau tumor.
5. Bagaimana penanganan dan pencegahan hipotermi dan hipertermia ?
A. Penanganan dan pencegahan Hipotermi adalah
a.

Segera menghangatkan bayi di dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu.

b.

Menghangatkan bayi melalui panas tubuh ibu dan Bayi diletakkan telungkup di dada ibu
agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi. Untuk menjaga agar bayi tetap hangat,
tubuh ibu dan bayi harus berada dalam satu pakaian. Sebaiknya ibu menggunakan pakaian
longgar berkancing depan.

c.

Bila tubuh bayi masih dingin dapat juga menggunakan selimut atau kain hangat yang
disetrika terlebih dahulu, yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukanlah
berulang kali sampai tubuh bayi hangat (Saifuddin, 2006, hlm.373).

d.

Selalu menjaga kehangatan bayi, bungkus bayi dengan kain kering kemudian diselimuti
dan pakaikan topi agar terhindar dari kehilangan panas.

e.

Beri ASI sesering mungkin, bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras sebagai
salah satu alternatif lainnya agar bayi tidak kekurangan cairan atau dehidrasi.

f.

Pantau terus suhu tubuh bayi setiap jam sampai normal. 7) Ibu harus selalu mengamati
tanda kegawatan pada bayi, bila terlihat bayi sakit berat segera bawa ketempat pelayan
kesehatan (Syafuddin, 2002, hlm. M-122)

Sedangakan pencegahan hipotermi adalah sebagai berikut :


a.

Keringkan bayi dengan seksama. Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir
untuk mencegah kehilangan panas

disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban

pada tubuh bayi. Keringkan bayi

dengan handuk atau kain yang telah

disiapkan di atas perut ibu.


b.

Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, serta segera mengganti
handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban.

c.

Selimuti bagian kepala. Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti
setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan
bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.

d.

Tempatkan bayi pada ruangan yang panas . Suhu ruangan atau kamar hendaknya
dengan suhu 280 C 300 C untuk
radiasi.

mengurangi kehilangan panas karena

e.

Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Pelukan ibu pada tubuh
bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas.
Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir. Pemberian ASI
lebih baik ketimbang glukosa karena ASI

dapat mempertahankan kadar gula

darah.
f.

Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir. Karena bayi baru
lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak
berpakaian) sebelum melakukan penimbangan terlebih dahulu selimuti bayi
dengan kain atau selimut bersih dan kering (Affandi, 2007).

B. Penanganan dan pencegahan hipertermi dapat dilakukan sebagai berikut


1) Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar berkisar 26 O C28C.
2). Tanggalkan seluruh pakaian dan jangan menggunakan selimut.
3) Kompres dengan cara mencelup handuk kecil ke air hangat terlebih dahulu,
tambahkan kehangatan air jika suhu tubuh bayi

semakin tinggi. Dengan

demikian perbedaan air kompres dengan suhu tubuh tidak terlalu berbeda.
Jika air kompres terlalu dingin, hal ini justru akan mengerutkanpembuluh
darah bayi akibatnya panas tubuh tidak mau keluar. Bayi jadi semakin
menggigil untuk mempertahankan suhu tubuhnya.
4) Memberi ASI sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin, masuknya cairan
yang banyak kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk urine, merupakan salah
satu cara untuk menurunkan suhu tubuh. Tanda-tanda bahaya demam pada
bayi yang perlu diwaspadai dan harus segera mendapat dari petugas kesehatan
yaitu jika bayi mengalami salah satu atau beberapa gejala berikut: bernafas
cepat secara tidak normal, sulit bernafas atau nafasnya bersuara, mengantuk
tidak normal, rewel yang tidak biasa, menolak minuman, muntah terus
menerus, suhu tubuh di atas 39C (Syaffudin, 2006, hlm.377) .
Sedangkan pencegahan pada pasien hipertermi sebagai berikut :

kesehatan lingkungan.

Penyediaan air minum yang memenuhi syarat.

Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.

Pemberantasan lalat.

Pembuangan sampah pada tempatnya.

Pendidikan kesehatan pada masyarakat.

Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.

Makan makanan yang bersih dan sehat

Jangan biasakan anak jajan diluar

B. TETANUS NEONATURUM
6. Pengertian tetanus neonaturum ?
Jawab :
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia di bawah 28 hari (Stoll, 2007).
Tetanus adalah suatu penyakit toksemik akut yang disebabkan oleh Clostridium
tetani, dengan tanda utama kekakuan otot (spasme), tanpa disertai gangguan
kesadaran (Ismoedijanto, 2006). Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus
yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh Clostridium tetani yaitu
bakteria yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat
(Saifuddin, 2006)

7. Berapakah insiden tetanus neonaturum ?


Jawab :

Kebanyakan tetanus neonatorum terdapat pada bayi yang baru lahir,


Neonatorum yang tidak dirawat, angka mendekati 100%. Angka kematian
kasus Tetanus Neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia
bervariasi dengan kisaran 10,8 55%. (Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2006)

8. Bagaimanakah mekanisme terjainya tetanus neonaturum ?


Jawab :
Tetanus disebabkan oleh eksotoksin Clostridium tetani, bakteri bersifat obligat anaerob.
Bakteri ini terdapat di mana-mana, mampu bertahan di berbagai lingkungan ekstrim dalam
periode lama karena sporanya sangat kuat. Clostridium tetani telah diisolasi dari tanah, debu
jalan, feses manusia

dan binatang. Bakteri tersebut biasanya

memasuki tubuh setelah

kontaminasi pada abrasi kulit, luka tusuk minor, atau ujung potongan umbilikus pada
neonatus; pada 20% kasus, mungkin tidak ditemukan tempat masuknya. Bakteri juga dapat
masuk melalui ulkus kulit, abses, gangren, luka bakar, infeksi gigi, tindik telinga, injeksi atau
setelah pembedahan abdominal/pelvis, persalinan dan aborsi. Jika organisme ini berada pada
lingkungan anaerob yang sesuai untuk pertumbuhan sporanya, akan berkembang biak dan
menghasilkan toksin tetanospasmin dan tetanolysin. Tetanospasmin adalah neurotoksin poten
yang bertanggungjawab terhadap manifestasi klinis tetanus, sedangkan tetanolysin sedikit
memiliki efek klinis. Terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan penyebaran toksin ke
susunan saraf pusat: (1) Toksin diabsorpsi di neuromuscular junction, kemudian
bermigrasmelalui jaringan perineural ke susunan saraf pusat, (2) Toksin melalui pembuluh
limfe dan darah ke susunan saraf pusat. Masih belum jelas mana yang lebih penting, mungkin
keduanya terlibatPada mekanisme pertama, toksin yang berikatan pada neuromuscular
junction lebih memilih menyebar melalui saraf motorik, selanjutnya secara transinaptik ke
saraf motorik dan otonom yang berdekatan, kemudian ditransport secara retrograd menuju
sistem saraf pusat.1,3 Tetanospasmin yang merupakan zinc dependent endopeptidase
memecah vesicle associated membrane protein II (VAMP II atau synaptobrevin) pada suatu
ikatan peptida tunggal. Molekul ini penting untuk pelepasanneurotransmiter di sinaps,
sehingga pemeecahan ini mengganggu transmisi sinaps. Toksin awalnya mempengaruhi jalur
inhibisimencegah pelepasan glisin dan -amino butyric acid (GABA). Pada saat interneuron
menghambat motor neuron alpha juga terkena pengaruhnya, terjadi kegagalan menghambat
refl eks motorik sehingga muncul aktivitas saraf motorik tak terkendali, mengakibatkan

peningkatan tonus dan rigiditas otot berupa spasme otot yang tiba-tiba dan potensial merusak.
Hal ini merupakan karakteristik tetanus. Otot wajah

terkena paling awal karena jalur

axonalnya pendek, sedangkan neuron-neuron simpatis terkena paling akhir, mungkin akibat
aksi toksin di batang otak.
9. Jelaskan tanda dan gejala tetanus neonaturum ?
Jawab :
Neonatus yang terinfeksi Clostridium tetani masih menunjukkan perilaku seperti menangis
dan menyusui seperti bayi yang normal pada dua hari yang pertama. Pada hari ke-3, gejalagejala tetanus mula kelihatan. Masa inkubasi tetanus umumnya antara 3 12 hari, namun
dapat mecapai 1 2 hari dan kadang-kadang lama melebihi satu bulan; makin pendek masa
inkubasi makin buruk prognosis. Terdapat hubungan antara jarak tempat masuk kuman
Clostridium tetani dengan susunan saraf pusat, serta interval antara terjadinya luka dengan
permulaan penyakit; semakin jauh tempat invasi, semakin panjang masa inkubasi. Gejala
klinis yang sering dijumpai pada tetanus neonatorum adalah:
a.

Terjadinya kekakuan otot rahang sehingga penderita sukar membuka mulut.


Kekakuan otot pada leher lebih kuat akan menarik mulut kebawah, sehingga
mulut sedikit ternganga. Kadang-kadang dapat dijumpai mulut mecucu seperti
mulut ikan dan kekakuan pada mulut sehingga bayi tidak dapat menetek (Chin,
2007).

b.

Terjadi kekakuan otot mimik muka dimana dahi bayi kelihatan mengerut, mata
bayi agak tertutup, dan sudut mulut bayi tertarik ke samping dan ke bawah.

c.

Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur,


bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Jika dibiarkan secara berterusan
tanpa rawatan, bisa terjadi fraktur tulang vertebra.

d.

Kekakuan pada otot dinding perut menyebabkan dinding perut teraba seperti
papan. Selain otot dinding perut, otot penyangga rongga dada (toraks) juga
menjadi kaku sehingga penderita merasakan kesulitan untuk bernapas dan batuk.

10. Apakah penyebab tetanus neonaturum ?


Jawab :
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, berukuran 2-5 x 0,4-0,5
milimikron yang hidup tanpa oksigen (anaerob), dan membentuk spora. Spora dewasa
mempunyai bagian yang berbentuk bulat yang letaknya di ujung, dan memberi
gambaran penabuh genderang (drum stick) (Bleck, 2006). Spora ini mampu bertahan

hidup dalam lingkungan panas, antiseptik, dan di jaringan tubuh. Spora ini juga bisa
bertahan hidup beberapa bulan bahkan bertahun. (Ritarwan, 2004). Bakteria yang
berbentuk batang ini sering terdapat dalam kotoran hewan dan manusia, dan bisa
terkena luka melalui debu atau tanah yang terkontaminasi (Arnon, 2007). Clostridium
tetani merupakan bakteria Gram positif dan dapat menghasilkan eksotoksin yang
bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) dapat menyebabkan kekejangan pada
otot (Suraatmaja, 2007).

11. Bagaimana pencegahan dan penanganan tetanus neonaturum ?


Pencegahannya adalah sebagai berikut
Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulangan artinya dia
mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka sama seperti
orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Tidak terbentuknya kekebalan pada penderita
setelah ia sembuh dikarenakan toksin yang masuk ke dalam tubuh tidak sanggup untuk
merangsang pembentukkan antitoksin ( kaena tetanospamin sangat poten dan toksisitasnya
bisa sangat cepat, walaupun dalam konsentrasi yang minimal, yang mana hal ini tidak dalam
konsentrasi yang adekuat untuk merangsang pembentukan kekebalan). (2)

Vaksinasi adalah cara pencegahan terbaik terhadap tetanus. Komite Penasehat untuk
Praktik Imunisasi (ACIP) merekomendasikan bahwa semua anak menerima serangkaian rutin
dari 5 dosis difteri dan vaksin tetanus pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan, dan 4-6 tahun. Dosis
booster difteri dan tetanus toxoid harus diberikan dimulai pada usia 11-12 tahun (minimal 5
tahun sejak dosis terakhir) dan diulangi setiap 10 tahun sesudahnya. Saat ini, DTaP dan DT
harus digunakan pada orang kurang dari tujuh tahun, sedangkan Td diberikan kepada mereka
yang berusia tujuh tahun atau lebih. Jadwal catch-up imunisasi Td bagi mereka dimulai pada
usia tujuh tahun atau lebih terdiri dari tiga dosis. Dosis kedua biasanya diberikan 1-2 bulan
setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis kedua. Aselular
formulasi vaksin pertusis bagi remaja dan orang dewasa yang berlisensi dan dikombinasikan
dengan difteri dan tetanus-toxoid. Jadwal yang disarankan untuk Tdap belum ditentukan,
tetapi vaksin ini harus diterima dalam kondisi yang tepat. (1,9).

Untuk pencegahan tetanus neonatorum, langkah-langkah pencegahan, selain imunisasi


ibu, adalah program imunisasi untuk gadis remaja dan wanita usia subur serta pelatihan yang
tepat bidan dalam rekomendasi untuk imunisasi dan teknik aseptik dan pengendalian
infeksi. Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi
tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Strategi yang dilakukan
untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang

aman dan bersih; 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata; dan 3)
penyelenggaraan surveilans. Beberapa permasalahanimunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada
wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal, pencatatan yang dimulai
dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam, dan cakupan
imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4. Cakupan imunisasi TT2 selama
tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan, bahkan cenderung menurun. Namun sejak
dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+, dari 26% pada tahun 2007
menjadi 42,9% pada tahun 2008, kemudian meningkat lagi menjadi 62,52% pada tahun 2009
(Kemenkes RI. 2009). (3)

Data dari WHO menunjukkan bahwa, dari tahun ke tahun cakupan imunisasi DTP3
mengalami kenaikan. Semakin tingginya cakupan imunisasi, baik imunisasi DTP3 maupun
TT2, menunjukkan penurunan pada terjadinya kasus tetanus, tetanus neonatorum.
Penangannya adalah sebagai berikut :
Penatalaksanaan medis empat pokok dasar tata laksana medik : debridement, pemberian
antibiotik, menghentikan kejang, serta imunisasi pasif dan aktif, yang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
a.

Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam
perbandingan 4 : 1 selama 48-72 jam selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat.
Jika pasien telah dirawat lebih dari 24 jam atau pasien sering kejang atau apnea, diberikan
larutan glukosa 10% dan natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4 : 1 (jika fasilitas
ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu). Bila setelah 72 jam bayi belum mungkin
diberi minum peroral/sonde, melalui infus diberikan tambahan protein dan kalium.

b.

Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian
diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam
cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang masih sering timbul, boleh ditambah
diazepam lagi 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 24 jam berikutnya boleh
diberikan tembahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya
menjadi 15 mg/kgBB/hari. Setelah keadaan klinis membaik, diazepam diberikan peroral
dan diurunkan secara bertahap. Pada pasien dengan hiperbilirubinemia berat atau bila
makin berat, diazepam diberikan per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan
secara intravena.

c.

ATS 10.000 U/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM. Perinfus diberikan
20.000 U sekaligus.

d.

Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, intravena selama 10 hari. Bila pasien
menjadi sepsis pengobatan seperti pasien lainnya. Bila pungsi lumbal tidak dapat
dilakukan pengobatan seperti yang diberikan pada pasien meningitis bakterialis.

e.
f.

Tali pusat dibersihkan/kompres dengan alcohol 70%/Betadine 10%.


Perhatikan jalan napas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.

12. Bagaimana prognosisnya ?


Jawab:
Tetanus neonatorum mempunyai angka kematian 66%, pada usia 10-19 tahun,
angka kematiannya antara 10-20% sedangkan penderita dengan usia > 50 tahun angka
kematiannya mencapai 70%. Penderita dengan undernutrisi mempunyai prognosis 2
kali lebih jelek dari yang mempunyai gizi baik. Tetanus lokal mempunyai prognosis
yang lebih baik dari tetanus umum.
Sistem Skoring

Skor 1

Skor 2

<>

> 7 hari

Masa inkubasi
Awitan penyakit
Tempat masuk

<>
Tali pusat, uterus,

> 48 jam
Selain tempat tersebut

fraktur terbuka,
postoperatif, bekas
suntikan IM
Spasme
Panas badan (per

(+)

(-)

> 38,4 0C (> 40 0C)

< 38,4 0C ( < 40 0C)

rektal)
Takikardia dewasa
Neonatus

> 120 x/menit

<>

> 150 x/menit

<>

Dikutip dari Habermann, 1978, Bleck, 1991

Tabel klasifikasi untuk prognosis Tetanus


TINGKAT

SKOR

PROGNOSIS

Ringan

0-1

<>

Sedang

2-3

10-20

Berat

2030

Sangat berat

5-6

>6

Dikutip dari Bleck, 1991