Anda di halaman 1dari 8

A.

Latar Belakang
Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar dan konsistensi
feses menjadi cair. Dikatakan diare apabila frekuensi buang air besar lebih
dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair. Diare dibedakan menjadi 2
berdasarkan waktu serangan (onset), yaitu diare akut (<2 minggu) dan diare
kronik (>2 minggu).
Menurut Suharyono (2003), penyebab diare berkisar 70% sampai 90%
sudah dapat diketahui dengan pasti, dimana penyebab diare ini dapat dibagi
menjadi 2 yaitu:
a. Penyebab tidak langsung
Penyebab tidak langsung atau faktor-faktor yang mempermudah atau
mempercepat terjadinya diare seperti, keadaan gizi, hygiene dan sanitasi,
social budaya, kepadatan penduduk, social ekonomi dan factor-faktor lain.
b. Penyebab langsung
Termasuk dalam penyebab langsung antara lain infeksi bakteri virus dan
parasit, malabsorbi, alergi, keracunan bahan kimia maupun keracunan oleh
racun yang diproduksi oleh jasad renik, ikan, bah dan sayur-sayuran
ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi 2
golongan yaitu ,Suharyono, (2003):
1. Diare sekresi
a. Disebabkan oleh infeksi dari golongan bakteri seperti Shingella,
Salmonella, E.coli, Golongan Vibrio, Bacillus Cereus, Clostridium,
Golongan virus seperti: Protozoa, Entamoeba histolicia, Giardia
lamblia, Cacing perut, Ascaris, Jamur.
b. Hiperperistaltik usus halus yang berasal dari bahan-bahan makanan,
kimia misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalu
asam, gangguan psikik, gangguan syaraf, hawa dingin, alergi.
c. Defisiensi imun yaitu kekurangan imun terutama IgA yang
mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri atau flora usus
dan jamur.

2. Diare osmotic yaitu malabsorbi makanan, kekurangan kalori protein


dan berat badan lahir rendah.
Kuman penyebab diare ditularkan melalui fecal-oral antara lain
melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung
dengan tinja penderita, Depkes, (2000).
Setiap tahun kasus tenang penyakit diare semakin meningkat. Angka
kesakitan dan kematian masih terus bertambah. Kurangnya pemahaman
masyarakat tentang diare menimbulkan rasa ketakutan berlebihan terhadap
diare. Selain itu, belum optimalnya peran serta masyarakat dalam pencegahan
serta pengendaliannya. Tidak sedikit anggota masyarakat yang menderita
sakit perut yang mungkin tidak disebabkan Diare menjadi ketakutan
berlebihan sehingga minta rawat inap di rumah sakit. Di samping itu,
masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan benar tentang
pencegahan dan pengendalian vektor Diare. Akibatnya, peran serta
masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang.
Sering di masyarakat, masih banyak yang tidak peduli terhadap asupan makan
makanan yang mereka konsumsi yang pada akhirnya menimbulkan diare.
Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan
kesehatan yang berorientasi pada penyampaian informasi tentang kesehatan
guna penanaman pemahaman tentang kesehatan sehingga tumbuh kesadaran
untuk hidup sehat. Salah satu tujuan dan untuk melakukan promosi kesehatan
yang diselenggarakan, mendukung tumbuhnya gerakan hidup sehat di
masyarakat, serta meningkatkan mutu layanan kesehatan yang dapat
memberikan kepuasan pada masyarakat.

B. Tujuan
1. Tujuan umum yaitu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang

pentingnya pencegahan penyakit diare untuk mewujudkan perilaku hidup


sehat bagi masyarakat.
2. Tujuan khusus :

a. Masyarakat mampu mencegah timbulnya penyakit diare.


b. Meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.
c. Masyarakat dapat mengetahui pentingnya kebersihan makanan yang
akan dikonsumsi
d. Masyarakat ikut berperan aktif dalam upaya kegiatan kesehatan
C. Sasaran promosi kesehatan
a. Tatanan rumah tangga

Sasaran di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara


keseluruhan di desa X, yang terbagi dalam :
1. Sasaran Primer
Adalah sasaran utama

dalam rumah tangga yang akan dirubah

perilakunya atau anggota keluarga yang bermasalah.


2. Sasaran Sekunder
Adalah sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam keluarga
yang bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang tua, tokoh
keluarga, kader tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan
sector terkait.
3. Sasaran tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam
menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk
tercapainya promosi kesehatan misal, kepala desa, lurah, camat, kepala
Puskesmas, guru, tokoh masyarakat dan sebagainya.
b. Sumber daya yang potensial.

Tokoh kunci di masyarakat dapat menjadi mitra dalam pemberdayaan


masyarakat adalah ketua RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader
kesehatan dan tokoh pemuda.

D. Pesan
Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke dalam ungkapan atau kata
yang sesuai untuk khalayak sasaran. Pesan dapan berupa himbauan rasional,
moral, emosional, ganjaran dan motivasional dan pesan terebut dapat
diberikan secara langsung ataupun melalui Metode Promosi Kesehatan.
E. Metode Promosi
Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik
Komunikasi, Sasaran yang dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi.
1. Berdasarkan Teknik Komunikasi
a. Metode penyuluhan langsung.

Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka
dengan sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah,
pertemuan diskusi (FGD), pertemuan di balai desa, pertemuan di
Puskesmas, dll.
b. Metode yang tidak langsung.

Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap
muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan
perantara (media). Umpamanya publikasi dalam bentuk media cetak,
melalui pertunjukan film, dsb
2. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai
a. Pendekatan PERORANGAN

Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun


tidak langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain :
kunjungan rumah, hubungan telepon, dan lain-lain
b. Pendekatan KELOMPOK

Dalam

pendekatan

ini

petugas

promosi

berhubungan

dengan

sekolompok sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam


ketegori ini antara lain: Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok,
Pertemuan FGD, dan lain-lain
c. Pendekatan MASAL

Petugas Promosi Kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus


kepada sasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk
dalam golongan ini adalah Pertemuan umum, pertunjukan kesenian,
Penyebaran tulisan/poster/media cetak lainnya, Pemutaran film, dl
3. Berdasarkan Indera Penerima
a. Metode MELIHAT/MEMPERHATIKAN.

Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti
Penempelan Poster, Pemasangan Gambar/Photo, Pemasangan Koran
dinding, Pemutaran Film dll.
b. Metode PENDENGARAN.

Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera


pendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll
c. Metode KOMBINASI.

Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium,


diraba dan dicoba)
F. Media Promosi Kesehatan
Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan
sebagai alat bantu untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar,
diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi.
Media atau alat peraga dapat dibagi dalam 4 kelompok besar :
1. Benda asli, yaitu benda yang sesungguhnya baik hidup maupun mati.

Merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah serta cepat dikenal,
mempunyai bentuk serta ukuran yang tepat. Tetapi alat peraga ini
kelemahannya tidak selalu mudah dibawa ke mana-mana sebagai alat
bantu mengajar. Termasuk dalam macam alat peraga ini antara lain :
Benda sesungguhnya, misalnya tinja di kebun, lalat di atas tinja, dsb
Spesimen, yaitu benda sesungguhnya yang telah diawetkan seperti
cacing dalam botol pengawet, dll
Sample yaitu contoh benda sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti
oralit, dll

2. Benda tiruan, yang ukurannya lain dari benda sesungguhnya. Benda

tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam promosi
kesehatan. Hal ini dikarena menggunakan benda asli tidak memungkinkan,
misal ukuran benda asli yang terlalu besar, terlalu berat, dll. Benda tiruan
dapat dibuat dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen,
plastik dan lain-lain.
3. Gambar/Media grafis, seperti poster, leaflet, gambar karikatur, lukisan,

dll.
a. Poster Adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar-gambar
dengan sedikit kata-kata. Kata-kata dalam poster harus jelas artinya,
tepat pesannya dan dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang lebih
6 meter. Poster biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah
dilihat dan banyak dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir
jalan, papan pengumuman, dan lain-lain. Gambar dalam poster dapat
berupa lukisan, ilustrasi, kartun, gambar atau photo. Poster terutama
dibuat untuk mempengaruhi orang banyak, memberikan pesan singkat.
Karena itu cara pembuatannya harus menarik, sederhana dan hanya
berisikan satu ide atau satu kenyataan saja. Poster yang baik adalah
poster yang mempunyai daya tinggal lama dalam ingatan orang yang
melihatnya serta dapat mendorong untuk bertindak.
b. Leaflet adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimatkalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar
yang sederhana. Ada beberapa yang disajikan secara berlipat. Leaflet
digunakan untuk memberikan keterangan singkat tentan suatu masalah,
misalnya deskripsi pengolahan air di tingkat rumah tangga, deskripsi
tentang diare dan pencegahannya, dan lain-lain. Leaflet dapat diberikan
atau disebarkan pada saat pertemuan-pertemuan dilakukan seperti
pertemuan FGD, pertemuan Posyandu, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Leaflet dapat dibuat sendiri dengan perbanyakan sederhana seperti di
photo copy.
4. Gambar alat optik. seperti photo, slide, film, dll

a. Photo

Sebagai bahan untuk alat peraga, photo digunakan dalam bentuk :


1) Album,

yaitu

merupakan

foto-foto

yang

isinya

berurutan,

menggambarkan suatu cerita, kegiatan dan lain-lain. Dikumpulkan


dalam sebuah album. Album ini bisa dibawa dan ditunjukan kepada
masyarakat sesuai dengan topik yang sedang di diskusikan. Misalnya
album photo yang berisi kegiatan-kegiatan suatu desa untuk merubah
kebiasaan BABnya menjadi di jamban dengan CLTS sampai
mendapat pengakuan resmi dari Bupati.
2) Dokumentasi lepasan. Yaitu photo-photo yang berdiri sendiri dan
tidak disimpan dalam bentuk album. Menggambarkan satu pokok
persoalan atau titik perhatian. Photo ini digunakan biasanya untuk
bahan brosur, leaflet, dll
b. Slide

Slide pada umumnya digunakan dengan sasaran kelompok atau grup.


Slide ini sangat effektif untuk membahas suatu topic tertentu, dan
peserta dapat mencermati setiap materi dengan cara seksama, karena
slide sifatnya dapat diulang-ulang
c. Film

Film lebih kearah sasaran secara masal, sifatnya menghibur namun


bernuansa edikatif.
G. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara terus menerus dan kontinyu
untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan (target) program promosi hygiene
sanitasi dan perubahan perilaku, seperti:
Mengetahui Kemajuan Perubahan Secara Fisik dengan menggunakan peta
sosial,
Apakah ada perubahan tempat-tempat yang semua digunakan untuk buang
air besar (seperti di sungai, hutan, kebun, dan lain-lain) sekarang masih
digunakan untuk buang air besar.

Apakah ada tempat-tempat untuk membuang kotoran bayi-balita, sekarang


masih terjadi.
Apakah ada penambahan jumlah sarana jamban keluarga, jamban sekolah,
tempat cuci tangan di sekolah.
Apakah di jamban ada perubahan tentang penyediaan air dan sabun untuk
cuci tangan.
H. Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi
Penyusunan Rencana pelaksanaan dan Evaluasi tentang kapan pelaksanaan
dan evaluasi akan dilaksanakan, dimana, sasaran serta siapa yang akan
melakukan pelaksanaan dan evaluasi.
I.

Sumber:
1. STBM (Sanitasi Berbasis Masyarakat), Pansimas; Strategi Pemicuan

Masyarakat (www.pamsimas.org)