Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM URINARI

KASUS IV : HIPOSPADIA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan pada Sistem Urinari

OLEH :
Syifa Nashuha

220110120025 (Chair)

Dinda Piranti Arumsari

220110120047 (Scriber 1)

Siti Sandra Liani

220110120015 (Scriber 2)

Irvan Rafani Akhyar

220110120089

Dini Aprilia

220110120082

Nurul Azmi Nabilah

220110120108

Lia Dahlia

220110120034

Amanda Seviana

220110120081

Randi Febriana

220110120095

Janna Nahdya Nurrozi

220110120110

Aisya Arrasyid May Lanni

220110120139

Amelia Kristianti

220110120150

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya penulis diberikan kesempatan untuk menyelesaikan
makalah ini. Makalah yang membahas tentang Hipospadia ini disusun untuk
memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standar proses pembelajaran pada
mata kuliah Keperawatan pada Sistem Urinari.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Etika Emaliyawati, S.Kep., Ners., M.Kep. selaku koordinator dosen mata kuliah
Keperawatan pada Sistem Urinari.
2. Desy Indra Yani, S.Kep., Ners., MNS. selaku pembimbing kelas tutorial 12 SGD
pada mata kuliah keperawatan pada system urinary.
3. Orang tua tercinta yang selalu memberikan doa restu dan dukungan dalam proses
pembelajaran di Fakultas Keperawatan.
4. Teman-teman kelas tutorial 12 SGD yang telah bekerja sama dalam proses
penyusunan makalah ini.
5. Pihak lain yang tidak dapat penulis kemukakan satu per satu, terima kasih atas
dukungannya, Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam proses
pembelajaran. Saran dan kritik dari semua pihak juga penulis harapkan demi
perbaikan di kemudian hari.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Bandung, 26 Sep. 15

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
A.

Latar Belakang................................................................................................1

B.

Tujuan Penulisan.............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................3
A.

Definisi............................................................................................................3

B.

Etiologi............................................................................................................3

C.

Manifestasi Klinis...........................................................................................6

D.

Pemeriksaan Penunjang..................................................................................7

E.

Klasifikasi........................................................................................................8

F.

Penatalaksanaan...............................................................................................9

G.

Patofisiologi..................................................................................................11

BAB III ANALISIS KASUS.......................................................................................12


A.

Kasus.............................................................................................................12

B.

Pengkajian.....................................................................................................12

BAB IV PRINSIP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS...............................15


A.

Analisa Data..................................................................................................15

B.

Diagnosa Keperawatan.................................................................................15

C.

Intervensi Keperawatan................................................................................16

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................19


A.

Kesimpulan...................................................................................................19

B.

Saran.............................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipospadia merupakan kelainan perkembangan uretra anterior dimana
muara uretra terletak ektopik pada bagian ventral penis proksimal hingga glans
penis. Muara uretra dapat pula terletak antara skrotum atau perineum, dan
semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami
pemendekan dan membentuk curvature yang disebut chordee (Prada, 2015).
Kelainan hipospadia, akan sangat mengganggu tumbuh kembang anak
jika tidak dikoreksi selama masa toilet training. Anak harus BAK secara jongkok
dan terdapat gangguan pada pancaran urinnya. Ketika anak tumbuh dewasa anak
akan mengalami gangguan pada fungsi reproduksinya, karena pada klien dengan
chordee yang parah tidak dapat melakukan ereksi saat berhubungan seksual
(Horton, P., & C., 1990).
Selain dampak fisik, psikologi anak pun akan terganggu dengan adanya
perbedaan alat vital miliknya dengan anak lainnya. Oleh karena itu, kelainan
Hipospadia penting untuk diketahui sejak dini agar penatalaksanaan koreksi
kelainan dilaksanakan secara maksimal dengan meminimalkan dampak fisik dan
psikologis pada anak dan keluarga.
Pada perawatan anak dengan Hipospadia diperlukan kontribusi yang
maksimal dari pihak keluarga. Edukasi pre-post operasi sangat wajib
disampaikan kepada keluarga agar keluarga mengetahui hal-hal yang dapat
memperbaiki atau memperburuk keadaan klien. Maka dari itu, penting bagi
perawat mengetahui konsep penyakit, patofisiologi, dan perawatan pada klien
dengan Hipospadia.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas makalah pada mata kuliah Keperawatan pada
Sistem Urinari.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa-mahasiswi dapat mengerti dan memahami tentang :

a. Konsep dasar penyakit hipospadia (definisi, etiologi, manifestasi


klinis,

komplikasi,

klasifikasi,

pemeriksaan

diagnostik,

dan

penatalaksanaan)
b. Patofisiologi
c. Asuhan keperawatan pada klien dengan hipospadia

d. BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
e. Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa kelainan letak lubang
uretra pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009).
f. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan kongenital dimana meatus
uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari
tempatnya yang normal (ujung glans penis) (Mansjoer, 2000).
g. Prevalensi hipospadia sekitar 0,3 - 0,8 %, menempati frekuensi paling
banyak di antara kelainan kongenital malformasi genitalia eksternal pria. Terjadi
pada 3,2 dari 1000 kelahiran bayi laki-laki. Hipospadia terjadi kira-kira 1 dari
250 anak laki-laki yang lahir di Amerika Serikat. Di beberapa negara insidensi
hipospadia mungkin meningkat tetapi terlihat agak menetap, 0,26 dari 1000
kelahiran hidup di Meksiko dan Skandinavia serta 2,11 tiap 1000 kelahiran hidup
di Hungaria. Menurut studi yang dilakukan di Amerika Serikat hipospadia
sebagian besar pada anak kulit putih.

B. Etiologi
h. Hipospadia merupakan hasil dari fusi yang tidak lengkap dari lipatan
uretra terjadi pada usia kehamilan pada minggu ke 8 dan ke 14. Diferensiasi
seksual laki-laki pada umumnya tergantung pada hormone testosteron,
dihydrotestosteron, dan ekspresi reseptor androgen oleh sel target. Gangguan
dalam keseimbangan sistem endokrin baik faktor-faktor endogen atau eksogen
dapat menyebabkan hipospadia. Indikasi untuk beberapa faktor risiko lain juga
telah dilaporkan. Namun, etiologi hipospadia masih belum diketahui. (Brouwers,
2006).
i. Berikut adalah beberapa faktor yang dianggap paling berpengaruh
menurut para ahli (IKAPI, 1997):

a. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone


j.

Hormone yang dimaksud adalah hormone androgen yang mengatur

organogenesis kelamin (pria) atau bisa juga karena reseptor hormone


androgennya sendiri didalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi
apabila resepyornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek
yang semestinya. Atau enzim ya yang berperan dalam sintesis hormone
androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
b. Faktor genetik
k.

Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya karena

mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
dari gen tersebut tidak terjadi.
l.

Usia ibu saat melahirkan dapat menjadikan salah satu faktor resiko

terjadinya hipospadia. Korelasi antara usia ibu yang tua dapat meningkatkan
kejadian hipospadia dan lebih ditandai dengan bentuk dari cacat lahir. (Fisch,
2001)
c. Lingkungan
m.

Lingkungan yang biasanya menjadi penyebab adalah polutan dan zat

yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Selain itu,


kontaminasi lingkungan juga dapat mengintervensi jalur androgen yang
normal dan mengganggu sinyal seluler. Beberapa bahan yang mengandung
aktivitas ekstrogen, seperti pada insektisida untuk tanaman, estrogen alami
pada tumbuhan, produk-produk plastik, produk farmasi, bahan logam pada
industri makanan yang bagian dalamnya dilapisi oleh bahan plastic yang
mengandung substansi estrogen. Substansi estrogen juga dapat ditemukan
pada air laut dan air segar. Kontaminasi estrogen dapat mempengaruhi fungsi
reproduksi dan kesehatan (Baskin, 2000).
n.

o. Hipospadia sering disertai kelainan penyerta yang biasanya terjadi


bersamaan pada penderita hipospadia. Kelainan yang sering menyertia
hipospadia adalah :
a. Undescensus testikulorum (tidak turunnya testis ke skrotum)
b. Hidrokel
c. Mikophalus / mikropenis
d. Interseksualitas
p.
q. Selain itu, terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
kelainan kongenital sistem urogenital pada neonatus yaitu:
r.
1) Infeksi intrauterin
s.
Ketika infeksi-infeksi seperti virus (rubella, cytomegalovirus, herpes
simpleks, varisela-zoster), sifilis dan toksoplasmosis, menyerang ibu hamil,
dapat menyebabkan kerusakan pada saluran urinarius. Infeksi pada awal
kehamilan dapat menyebabkan denervasi struktur janin dan mengakibatkan
lahir cacat, sebagai akibat dari sifat neurotropik organisme.
2) Obat-obatan
t.
Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada
trimester pertama kehamilan diduga sangat erat hubungannya dengan
terjadinya kelainan kongenital pada bayinya.
3) Usia ibu
u.
Usia ibu dapat menjadi indikator faktor biologis intrinsik dan riwayat
reproduksi sebelumnya (termasuk paritas) atau faktor ekstrinsik, seperti
pendidikan, gizi status atau pengaruh sosial dan perilaku. Jika risiko usia ibu
terkait dengan faktor-faktor ekstrinsik daripada faktor biologis intrinsik,
mereka diharapkan untuk dapat merubah baik geografis dan waktu. Risiko
dapat berhubungan dengan paparan saat ini atau masa lalu. Ibu lanjut usia
mungkin juga dikaitkan dengan risiko diferensial peningkatan keguguran
janin yang terkena.
4) Gizi ibu
v.
Malnutrisi menyeluruh pada ibu tampaknya menyebabkan retardasi
pertumbuhan intrauterin dan sedikit bukti menunjukkan bahwa malnutrisi
berat pada ibu dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan permanen pada
sejumlah keturunan. Ibu yang vegetarian selama kehamilan memiliki risiko
lima kali yang lebih besar melahirkan anak laki-laki dengan hipospadia atau
kelainan pada penis.
5

5) Riwayat obstetrik
w.
Seorang anak yang dilahirkan dari ibu yang mempunyai siklus
menstruasi yang memanjang (>1 minggu), berisiko menderita kelainan
kongenital sistem urogenital. Begitu pula dengan anak yang dilahirkan dari
ibu yang memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Dan seorang anak
yang ibunya memiliki riwayat obstetrik buruk, yaitu pada kehamilan
sebelumnya mengalami keguguran, lahir mati, kematian perinatal, kelahiran
prematur dan lahir cacat akibat asfiksia neonatal, berisiko menderita
kelainan kongenital sistem urogenital dibandingkan yang tidak memiliki
riwayat obstetrik buruk. Temuan ini mengindikasikan bahwa siklus
menstruasi ibu dan riwayat obstetrik buruk juga merupakan faktor risiko
kelainan kongenital sistem urogenital.
6) Penyakit yang di derita ibu
x.
Meskipun tidak selalu harus berasal dari lingkungan, faktor yang
mengubah metabolisme ibu atau yang mempengaruhi potensi reproduksi
perempuan dapat dianggap mengubah lingkungan janin intrauterin.
7) Prematur
y.
Menurut WHO 1961, bahwa usia hamil sebagai kriteria untuk bayi
prematur adalah yang lahir sebelum 37 minggu dengan berat lahir dibawah
2500 gram. pada bayi lahir kurang bulan/preterm/prematur pematangan
organ-organ belum sempurna, sehingga tingkat kecacatan dan kematian saat
lahir tinggi.
8) Mutasi gen
z.
Mutasi gen memainkan peran penting dalam perkembangan urogenital
dan gonad.
9) Herediter
aa. Jika salah satusaudara kandung mengalami hipospadia, risiko kejadian
berulang pada keluarga tersebut adalah 12%. Jika bapak dan anak lakilakinya terkena, maka risiko untuk anak laki-laki berikutnya adalah 25%.
(Heffner, 2006)

C. Manifestasi Klinis
ab.Menurut Muslihatum (2010), tanda dan gejala yang biasanya di
timbulkan antara lain :
1. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis.
2. Penis tampak seperti kerudung karena kelainan pada kulit di depan penis.
3. Ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri, sehingga
anak harus berkemih dengan posisi duduk
6

4. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian
bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
5. Preputium tidak ada di bagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis
6. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar
(Lissauer, 2006).
7. Kulit penis bagian bawah sangat tipis
8. Timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis
9. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok
10. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)
11. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal
12. Ketidaknyamanan anak saat BAK karena adanya tahanan pada ujung uretra
eksterna.

D. Pemeriksaan Penunjang
ac.Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi.
Kadang-kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound
prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat
teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir
ad.Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan
kesulitan untuk mengarahkan pancaran urin. Chordee dapat menyebabkan batang
penis melengkung ke ventral yang dapa mengganggu hubungan seksual.
ae. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu (Fawzy, 2015):
1. Uretoskopi dan sitoskopi untuk memastikan organ-organ seks internal
terbentuk secara normal.
2. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya
abnormalitas kongenital pada gijal dan ureter.
3. Dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadia
sering disertai kelainan pada ginjal.
4. Rontgen
7

5. BNO-IVP

E. Klasifikasi

af.
ag.
ah. Ada beberapa type hipospadia :
1) Hipospadia type Perineal, lubang kencing berada diantara anus dan buah zakar
(skrotum)
2) Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan buah
zakar (skrotum)
3) Hipospadia type Peno Scrotal , lubang kencing terletak di antara buah zakar
(skrotum) dan batang penis
4) Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing berada dibawah pangkal
penis
5) Hipospadia type Mediana (Penil), lubang kencing berada di bawah bagian
tengah dari batang penis
6) Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah bagian
ujung batang penis
7) Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus coronarius
penis (cekungan kepala penis)
8) Hipospadia type Glanular, lubang kencing sudah berada pada kepala penis
hanya letaknya masih berada di bawah kepala penisnya
ai. Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus :
1. Tipe sederhana/Tipe anterior
8

aj. Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glanular dan coronal. Pada
tipe ini, meatus terletak pada pangkal glans penis. Secara klinis,
kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu
tindakan. Nila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau
meatotomi
2. Tipe penil/Tipe Middle
ak. Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan peneescrotal. Pada tipe ini, meatus terlatak antara glands penis dan krotum.
Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit
prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke
bawah atau gland penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini,
diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit
di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak
dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk
tindakan bedah selanjutnya.
3. Tipe Posterior
al. Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini,
umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan
skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak
turun (Markum, 1991).

F. Penatalaksanaan
am.

Tujuan

utama

dari

penatalaksanaan

bedah

hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus


dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat
dengan normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan
dapat melakukan coitus normal.
an.

Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum

operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi


karena

kulit

depan

penis

digunakan

untuk

pembedahan

nantinya.
ao.

Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang

umumnya terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

a. Operasi

Hipospadia

Satu

Tahap

(One

Stage

Urethroplasty)
ap.

Adalah teknik operasi sederhana yang sering

digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe


distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle.
Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk
kelainan

yang

berat.

Sehingga

banyak

dokter

lebih

memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia


proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih
berat,

maka

one

stageurethroplasty

nyaris

dapat

dilakukan. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti


dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang
berat,

globuler

glans

yang

bengkok

kearah

ventral

(bawah) dengan dorsal; skin hood dan propenil bifid


scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air
seninya

lebih

ke

arah

proksimal (jauh dari tempat

semestinya ) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok


dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di
tarik pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra
(saluran kencing). Kelainan yang seperti ini biasanya harus
dilakukan 2 tahap.
b. Operasi Hipospadia Dua Tahap
aq. Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan
tunelling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi
meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya
lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal),
memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup
bagian
ventral/bawah
penis.
Tahap
selanjutnya
(tahap kedua) dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran
kencing buatan/uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan
menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap
10

maupun dua tahap dapat dilakukan


kelainan yang dialami oleh pasien.

sesuai

dengan

11

G. Patofisiologi

12

BAB III

ANALISIS KASUS
A. Kasus

13

Anak A, laki-laki, usia 4 tahun, dirawat di runag bedah anak. Saat ini
klien memasuki hari ketiga post operasi urethroplasty. Operasi ini merupakan
operasi kedua, enam bulan sebelumnya klien menjalani operasi chordectomy.
Orangtua mengatakan sejak lahir penis anak terlihat bengkok, anak BAK secara
jongkok, BAK tidak memancar. Ibu mengatakan sebelum hamil anak A, ibu
sering mengalami gangguan menstruasi dan mendapat terapi hormon estrogen,
dan baru menyadari dirinya hamil anak A setelah kehamilannya berusia 2 bulan.
Sebelum dilakukan operasi, klien menjalani pemeriksaan urografi yang
menunjukkan klien menderita hipospadia tipe penil dengan chordee.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan kesadaran kompos mentis, HR
100x/menit, RR 24x/menit, dan suhu 37,5C. Saat dikaji klien mengeluh nyeri
pada penisnya. Penis tampak kemerahan dan sudah disunat, terpasang stent dan
kateter. Klien BAK melalui kateter, namun terlihat kateter sedikit rembes dan
kulit di sekitar paha agak memerah. Saat ini klien dilakukan perawatan kateter
dan mendapat terapi:
a.
b.
c.
d.

Ceftriaxone (IV) 2x1gr


Ketorolac (drip) 3x25mg
Ranitidine (IV) 2x25mg
RL 1600cc/24 jam

B. Pengkajian
1. Identitas
Nama : An. A
Umur : 4 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan: pada orang tua yang biasanya berpendidikan rendah.
Pekerjaan: pada orang tua yang tergolong berpenghasilan rendah
Diagnosa medis: Hipospadia.
2. Keluhan Utama
Orang tua pasien mengatakan sejak lahir penis anak terlihat bengkok.
3. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang:
Anak BAK secara jongkok, BAK tidak memancar.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Adanya riwayat ibu pada saat kehamilan, ibu sering mengalami gangguan
menstruasi dan mendapatkan terapi hormon estrogen.
Riwayat Kesehatan Keluarga: 14

4. Pola-Pola Fungsi Kesehatan


a. Pola nyeri/kenyamanan
Pada umumnya pasien tidak mengalami gangguan kenyamanan dan tidak
mengalami nyeri.
b. Pola nutrisi dan metabolism
Pada umumnya pasien hipospadia nutrisi cairan dan elektrolit dalam
tubuhnya tidak mengalami gangguan.
c. Pola aktivitas
Aktifitas pasien hipospadia tidak ada masalah.
d. Pola eliminasi
Pada saat BAK ibu mengatakan anak harus jongkok karena pancaran kencing
pada saat BAK tidak lurus dan biasanya kearah bawah, menyebar dan
mengalir melalui batang penis.
e. Pola tidur dan istirahat
Pada umumnya pasien dengan hipospadia tidak mengalami gangguan atau
tidak ada masalah dalam istirahat dan tidurnya.
f. Pola sensori dan kognitif
Secara fisik daya penciuman, perasa, peraba dan daya penglihatan pada
pasien hipospadia adalan normal, secara mental kemungkinan tidak
ditemukan adanya gangguan.
g. Pola persepsi diri
Adanya rasa malu pada orang tua kalau anaknya mempunyai kelainan. Pada
pasien sendiri apabila sudah dewasa juga akan merasa malu dan kurang
percaya diri atas kondisi kelainan yang dialaminya.
h. Pola hubungan dan peran
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal
dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama
sakit.
i. Pola seksual
Adanya kelainan pada alat kelamin terutama pada penis pasien akan
membuat pasien mengalami gangguan pada saat berhubungan seksual karena
15

penis yang tidak bisa ereksi.


j. Pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua pasien akan mengalami stress pada kondisi anaknya yang
mengalami kelainan.
k. Pola higiene.
Pada umumnya pola hygiene pasien tidak ada masalah.
5. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran

: Compos Mentis

RR

: 24x/menit

HR

: 100x/menit

Suhu

: 37,5C

16

BAB IV
PRINSIP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS
A. Analisa Data
No
1

Data yang Menyimpang


DS:

Etiologi
Luka insisi uretoplasty

Masalah
Nyeri

Klien mengatakan nyeri


pada penis
DO:
HR 100x/menit
RR 24x/menit
2

DS:

Resiko tinggi
Luka Pembedahan

DO:

infeksi

Suhu 37,5C
3

DS:
DO:

Kontaminasi

Gangguan

pemasangan kateter

intergritas kulit.

Penis tampak kemerahan.


Kulit sekitar paha agak
merah.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi uretoplasty ditandai dengan
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka pembedahan
3. Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan kontaminasi pemasangan
kateter

17

C. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. Nyeri
berhubungan
dengan
luka
insisi
uretoplasty
Definisi :
Sensori
yang
tidak
menyenang-kan
dan
pengalaman emosional yang
muncul secara aktual atau
potensial kerusakan jaringan
atau menggambarkan adanya
kerusa-kan (Asosiasi Studi
Nyeri Internasional): serangan
menda-dak
atau
pelan
intensitasnya
dari
ringan
sampai berat yang dapat
diantisipasi dengan akhir yang
dapat diprediksi dan dengan
durasi kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
- Laporan secara verbal atau
non verbal
- Fakta dari observasi
- Posisi
antalgic
untuk
menghindari nyeri
- Gerakan melindungi
- Tingkah laku berhati-hati
- Muka topeng
- Gangguan tidur (mata sayu,
tampak capek, sulit atau
gerakan
kacau,
menyeringai)
- Terfokus pada diri sendiri

RENCANA KEPERAWATAN
TUJUAN DAN
INTERVENSI
KRITERIA HASIL
NOC :
Pain Management
a.
Pain
Lakukan pengkajian nyeri secara
Level,
komprehensif termasuk lokasi,
b.
pain
karakteristik, durasi, frekuensi,
control,
kualitas dan faktor presipitasi
c.
comfort
Observasi reaksi nonverbal dari
level
ketidaknyamanan
Setelah
dilakukan Gunakan
teknik
komunikasi
tinfakan keperawatan
terapeutik
untuk
mengetahui
selama . Pasien tidak
pengalaman nyeri pasien
mengalami
nyeri, Kaji kultur yang mempengaruhi
dengan kriteria hasil:
respon nyeri

Mamp
Evaluasi pengalaman nyeri masa
u mengontrol nyeri
lampau
(tahu
penyebab Evaluasi bersama pasien dan tim
nyeri,
mampu
kesehatan
lain
tentang
menggunakan
ketidakefektifan kontrol nyeri masa
tehnik
lampau
nonfarmakologi
Bantu pasien dan keluarga untuk
untuk mengurangi
mencari dan menemukan dukungan
nyeri,
mencari
Kontrol lingkungan yang dapat
bantuan)
mempengaruhi nyeri seperti suhu

Melap
ruangan,
pencahayaan
dan
orkan bahwa nyeri
kebisingan
berkurang dengan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
menggunakan
Pilih dan lakukan penanganan nyeri
manajemen nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan

Mamp
inter personal)
u mengenali nyeri

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk


(skala, intensitas,
menentukan intervensi
frekuensi dan tanda
Ajarkan
tentang
teknik
non
nyeri)
farmakologi

Menya
takan rasa nyaman Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
setelah
nyeri

18

Fokus
menyempit
berkurang
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
(penurunan persepsi waktu,
Tanda
Tingkatkan istirahat
kerusakan proses berpikir,
vital dalam rentang Kolaborasikan dengan dokter jika
penurunan interaksi dengan
normal
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
orang dan lingkungan)

Tidak
berhasil
- Tingkah laku distraksi,
mengalami
Monitor penerimaan pasien tentang
contoh
:
jalan-jalan,
gangguan tidur
manajemen nyeri
menemui
orang
lain
dan/atau aktivitas, aktivitas
Analgesic Administration
berulang-ulang)
Tentukan
lokasi,
karakteristik,
- Respon autonom (seperti
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
diaphoresis,
perubahan
pemberian obat
tekanan darah, perubahan
Cek instruksi dokter tentang jenis
nafas, nadi dan dilatasi
obat, dosis, dan frekuensi
pupil)
Cek riwayat alergi
- Perubahan autonomic dalam
Pilih analgesik yang diperlukan atau
tonus otot (mungkin dalam
kombinasi dari analgesik ketika
rentang dari lemah ke kaku)
pemberian lebih dari satu
- Tingkah laku ekspresif

Tentukan
pilihan
analgesik
(contoh : gelisah, merintih,
tergantung tipe dan beratnya nyeri
menangis, waspada, iritabel,

Tentukan analgesik pilihan, rute


nafas
panjang/berkeluh
pemberian, dan dosis optimal
kesah)

Pilih rute pemberian secara IV, IM


- Perubahan dalam nafsu
untuk pengobatan nyeri secara
makan dan minum
teratur
Monitor vital sign sebelum dan
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia,
sesudah
pemberian
analgesik
fisik, psikologis)
pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda
dan gejala (efek samping)
2. Risiko infeksi
berhubungan dengan
Luka Pembedahan
Faktor-faktor risiko:
1.
erusakan jaringan dan
peningkatan paparan

NOC :
1 Immune Status
2 Knowledge :
Infection control
3 Risk control
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
K selama pasien
tidak mengalami
infeksi dengan kriteria

NIC :
1 Pertahankan teknik aseptif
2 Batasi pengunjung bila perlu
3 Cuci tangan setiap sebelum dan
sesudah tindakan keperawatan
4 Gunakan baju, sarung tangan sebagai
alat pelindung
5 Ganti letak IV perifer dan dressing
sesuai dengan petunjuk umum
6 Gunakan kateter intermiten untuk

19

lingkungan

hasil:
menurunkan infeksi kandung kencing
M a. Klien bebas dari
7 Tingkatkan intake nutrisi
alnutrisi
tanda dan gejala
8 Berikan terapi antibiotik
3.
P
infeksi
9 Monitor tanda dan gejala infeksi
eningkatan paparan
b. Menunjukkan
sistemik dan lokal
lingkungan patogen
kemampuan untuk
10 Pertahankan teknik isolasi k/p
4.
I
mencegah
11 Inspeksi kulit dan membran mukosa
monusupresi
timbulnya infeksi
terhadap kemerahan, panas, drainase
5.
T c. Jumlah leukosit
12 Monitor adanya luka
idak adekuat pertahanan
dalam batas normal 13 Dorong masukan cairan
sekunder (penurunan Hb,
d. Menunjukkan
14 Dorong istirahat
Leukopenia, penekanan
perilaku hidup
15 Ajarkan pasien dan keluarga tanda
respon inflamasi)
sehat
dan gejala infeksi
6.
P e. Status imun,
16 Kaji suhu badan pada pasien
enyakit kronik
gastrointestinal,
neutropenia setiap 4 jam
7.
I
genitourinaria
munosupresi
dalam batas normal
8.
M
alnutrisi
9.
P
ertahan primer tidak
adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan, gangguan
peristaltik)
NOC:
NIC:
3. Gangguan integritas kulit a. Kulit normal tidak
Pertahankan masukan cairan yang
b.d kontaminasi
adekuat (2500ml/hari kecuali jika ada
terlihat rusak
pemasangan kateter
kontraindikasi)
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan Cuci area yang kemerahan dengan
lembut menggunakan sabun ringan
selama pasien
(pH yg sesuai), bilaslah seluruh area
tidak gangguan
dengan bersih untuk menghilangkan
integritas kulit dengan
sabun lalu keringkan.
kriteria hasil:
Kolaborasi : Pemberian obat topical
Kemerahan pada kulit
untuk mencegah kulit iritasi.
paha berkurang
2.

20

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa kelainan letak lubang
uretra pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009). Ada beberapa
faktor yang dianggap paling berpengaruh dalam proses terjadinya hipospadia,
yaitu: (1) Gangguan dan ketidakseimbangan hormone, karena reseptor hormone
androgen didalam tubuh kurang atau tidak ada.; (2) Faktor genetik, karena
gagalnya sintesis androgen akibat mutase gen.; dan (3) Lingkungan, yang
biasanya menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang
dapat mengakibatkan mutasi.
Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia
adalah memperbaiki penis menjadi lurus dengan meatus uretra
di tempat yang normal atau dekat dengan normal sehingga
aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus
normal. Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum
operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi
karena

kulit

depan

penis

digunakan

untuk

pembedahan

nantinya.
Perawat

berfokus

pada

perawatan

pre

hingga

post

operasi, evaluasi keberhasilan pembedahan serta perawatan


luka. Discharge planning kepada orang tua dilakukan dengan
mengedukasi perawatan luka post operasi dan pemantauan
tanda kemungkinan tanda infeksi serta evaluasi hasil operasi
dengan mengevaluasi BAK anak.

B. Saran
Sebagai seorang perawat harus mempunyai pengetahuan luas dan skill
yang mumpuni untuk dapat melakukan perawatan pada klien dengan hipospadia.
21

Perawat dituntut untuk melakukan tindakan profesional dengan evidence based


practice
sehingga
ketepatan
perawatan
yang
diberikan
dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, perawat atau mahasiswa keperawatan
diwajibkan memperluas pengetahuan dan melatih keterampilannya dalam
merawat klien dengan hipospadia.

DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: ECG.
Fawzy, A. (2015). Bedah Plastik. Dipetik September 19, 2015, dari Kelainan Penis
pada Anak: Hipospadia: http://www.bedah-plastik.com/hypospadia.html
Horton, H., P., C., & C., G. (1990). Hypospadias: when baby boys need surgery.
Journal Article - CEU, 48-52.
IKAPI, A. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Lissauer, T. (2006). Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Markum, A. H. (1991). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Muslihatum, W. N. (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Prada, W. D. (2015). HUBUNGAN INSIDEN FISTULA URETROKUTANEUS
DENGAN TIPE HIPOSPADIA PASCA OPERASI URETROPLASTI. JOM
FK, 1.

22