Anda di halaman 1dari 9

PERCOBAAN P-2

VIBRASI dan JENIS KERUSAKAN POMPA AIR


1. LATAR BELAKANG
Dewasa ini perkembangan ilmu getaran sangatlah luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari
bidang kedokteran, pendidikan, bahkan industri. Dalam sebuah insudtri misalnya, telah memerlukan
adanya ilmu getaran agar dapat diketahui tingkat kerusakan suatu instrument di industri tersebut. Apabila
getaran yang dihasilkan melebihi batas yang diperbolehkan, maka dapat mengganggu lingkungan sekitar
dan membahayakan proses yang sedang berlangsung. Dengan adanya ilmu getaran yang mempelajari
mengenai kerusakan suatu peralatan, maka hal tersebut dapat diminimalisir atau bahkan diatasi.
Langkah yang dilakukan untuk mengatasi masalah kebisingan pada suatu peralatan, memerlukan
adanya sebuah analisa yang dapat mendeteksi getaran tersebut. Tingkat kerusakan suatu oerakatan dapat
dilihat pada getaran yang terjadi pada alat tersebut..
Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum mengenai getaran dan jenis kerusakan, khususnya pada
pompa air agar mahasiswa mempunyai dan mengerti mengenai ketrampilan khusus untuk menganalisa
jenis kerusakan yang terjadi pada pompa air.

2. TUJUAN
Mengetahui frekuensi pompa
Mengetahui jenis kerusakan pompa dengan menganalisa frekuensi pompa air.
3. DASAR TEORI
3.1

PENGERTIAN GETARAN
Getaran merupakan gerakan bolak balik melewati titik setimbang. Model sederhana dari getaran
dapat digambarkan sebagai sebuah pegas yang bergerak naik turun melewati titik setimbangnya
(Gambar2.1)[1]

Gambar 2.1 Model Getaran Sederhana[1]

Gerak tersebut merupakan gerak periodik dan harmonik, di mana hubungan antara simpangannya
(X) dengan massa (m) dan waktu (t) dapat dilihat dalam persamaan sinus:
X = X0 sin.t.........................................................................2.1
Selain simpangan (displacement) ada dua besaran lainnya yang digunakan untuk menganalis
vibrasi, yakni kecepatan (velocity) dan percepatan (acceleration).
V=

dX
=X 0 cos t ............................................................2.2
dt

V=

dV
=X 0 sin t .............................................................2.3
dt

Bentuk gelombang dari ketiga komponen besaran vibrasi tersebut dapat ditunjukkan oleh Gambar
2.2 di mana simpangan menunjukkan kurva sinus, kecepatan menunjukkan kurva cosinus, dan percepatan
kembali menunjukkan kurva sinus.

Gambar 2.2 Waveform Simpangan, Kecepatan, dan


Percepatan[1]
Tiga terminologi utama untuk menggambarkan sinyal vibrasi adalah amplitudo, frekuensi, dan
phase. Amplitudo merupakan simpangan maksimum getaran, pada Gambar 2.2 disimbolkan dengan X 0.
Amplitudo diukur dengan tiga cara, displacement (mills, micron), velocity (ips,mm/s), dan acceleration
(g, mm/s2, inch/s2). Frekuensi merupakan banyaknya getaran yang terjadi dalam satu satuan waktu
(sekon/detik). Satuan frekuensi adalah Hz, cps, cpm, dan RPM. Phase adalah perbedaan posisi dari
vibrasi sebuah titik relatif terhadap titik referensi yang diam atau relatif terhadap titik lain yang bergetar
(Raharjo Dwi, 2006).

Gambar 2.3 Waveform Simpangan, Kecepatan, dan


Pengukuran
Percepatan[1]
Secara umum
pengukuran dapat digambarkan dalam blok diagram sebagai berikut:
3.2

Vibrasi
sistem

Gambar 2.4 Diagram Blok Pengukuran


Pada pengukuran vibrasi sinyal input berupa getaran mekanik diubah oleh tranduser menjadi
sinyal tegangan kemudian ditransmisikan ke elemen pengkondisi sinyal, diproses oleh elemen pemroses
sinyal, dan akhirnya ditampilkan dalam bentuk data angka maupun grafik (spektrum, waveform, dan
trend).
Sesuai dengan tiga besaran pada vibrasi maka tranduser yang digunakan dalam pengukuran vibrasi
adalah accelerometer, yaitu tranduser yang paling sering dipakai karena fleksibilitasnya dan range
frekuensinya tinggi, biasanya berupa piezolelectric yang terdiri dari kristal dan massa penekan kristal.
Ketika terjadi vibrasi maka terjadi penekanan dan kristal akan membangkitkan muatan listrik yang
kemudian diamplifikasi sehingga sinyal vibrasi terbaca.

Gambar 2.5 Accelerometer

3.3

Pengambilan Data Menggunakan Accelerometer


Tranduser getaran dipasang pada bagian-bagian mesin yang cukup kaku untuk menghindari efek
resonansi lokal bagian tersebut. Pengambilan data-data dengan alat tranduser tersebut harus terlebih
dahulu mengetahui bagianmana dari mesin tersebut yang paling tepat untuk pengukuran vibrasi. Tempat
yang paling tepat tersebut adalah pada tempat yang dekat dengan sumber vibrasi, misalnya pada

kerusakan bearing maka penempatan tranduser diletakkan pada bearing caps (rumah bearing).
Pengambilan data vibrasi dilakukan dengan dua posisi yaitu dengan posisi axial dan posisi radial.
Pengambilan data secara axial adalah menempatkan alat tranduser pada arah axial atau searah dengan
poros. Cara radial sendiri terbagi menjadi 2 cara, yaitu:

Horizontal: pengukuran secara horizontal dengan cara meletakkan alat tranduser secara horizontal
misalnya pada bagian atas pompa. Dari pengukuran ini dapat diketahui amplitudo yang paling
tinggi.

Vertikal: pengambilan data secara vertikal adalah dengan menempatkan alat tranduser pada posisi
vertikal atau berbanding 90 dengan arah horizontal pada pompa.

Pengambilan data pada tiga sumbu berfungsi untuk melihat kondisi vibrasi pada masing-masing
sumbu, karena di setiap sumbu mempunyai vibrasi yang berbeda. Pada setiap kondisi mesin dapat
ditentukan karakteristik kerusakan dengan melihat sinyal vibrasi dari masing-masing sumbu pengukuran.

3.4

Analisa Vibrasi dengan FFT


Analisa fourier terbagi atas dua yakni deret fourier untuk sinyal periodik dan trasformasi fourier
untuk sinyal aperiodik. Setiap sinyal periodik dapat dinyatakan oleh jumlahan atas komponen-komponen
sinyal sinusoidal dengan frekuensi berbeda (distinct). Jika ada sebuah fungsi f(t) yang kontinyu periodik
dengan periode T, bernilai tunggal terbatas dalam suatu interval terbatas, memiliki diskontinyuitas yang
terbatas jumlahnya dalam interval tersebut dan dapat diintegralkan secara mutlak, maka f(t) dapat
dinyatakan dengan deret fourier. Dengan menggunakan software komputer, komputasi FFT menjadi lebih
mudah dan cepat. Contoh sederhana FFT pada matlab sebuah fungsi f(t) dari time domain menjadi
frequency domain diperlihatkan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.6 Hasil FFT dari Data Vibrasi (Simulasi Matlab)


FFT merupakan elemen pemrosesan sinyal pada pengukuran vibrasi. Pada pengukuran vibrasi ada
empat tahapan untuk merubah sinyal vibrasi menjadi spektrumnya. Algoritma FFT untuk analisa vibrasi
tersebut adalah sebagai berikut:

Pengambilan data vibrasi dari tranduser yang dihubungkan dengan sistem akuisisi.
Sistem akuisisi menghasilkan spektrum yang menunjukkan perbandingan waktu dengan
percepatan.
Hasil spektrum diolah menggunakan software lain dengan menggunakan Fast Fourrier
Transform.

Hasil pengolahan menggunakan FFT akan berupa grafik perbandingan frekuensi dengan
amplitudo yang menunjukkan jenis kerusakan dan tingkat kerusakan mesin.

Ada beberapa parameter pemrosesan sinyal pada FFT yang perlu diketahui untuk menjamin
kesuksesan analisa vibrasi. Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut pengambilan data bisa lebih
cepat dan akurat. Parameter-parameter FFT tersebut adalah sebagai berikut:

Fmax: Frekuensi maksimum atau frequency range menunjukkan bandwith frekuensi yangakan
ditampilkan pada spektrum.

Number & Tipe of Averages: Karena vibrasi tidak bisa lepas dari gangguan/random noise, maka
diperlukan beberapa kali pengambilan data dan kemudian merata-ratakannya. Number of
averages menyatakan berapa kali data diambil.

Number of Lines: Parameter ini mendefinisikan jumlah resolusi garis untuk perhitungan FFT.
Resolusi frekuensi menentukan seberapa dekat dua puncak frekuensi dibedakan sebagai puncak
yang terpisah. Ketika frekuensi maksimum semakin tinggi, jumlah resolusi garis juga harus
bertambah supaya menjaga resolusi tetap sama.

3.5

Diagnosa Kerusakan Mesin Melalui Spectrum Analysis


Setiap bagian dari pompa atau mesin berputar mempunyai tingkat vibrasi yang berbeda tergantung
pada letaknya dan gaya yang diterima. Tingkat vibrasi inilah yang bisa dijadikan sebagai pendeteksi
keadaan dari suatu kondisi mesin apakah ada kerusakan atau tidak. Kerusakan umum yang biasa terjadi
pada pompa dan mesin-mesin berputar adalah ketidak-seimbangan atau unbalance, misalingment,
kerusakan bearing, dan mechanical loosenes. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat dideteksi dari
spektrum vibrasi. Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi pada mesin berputar yaitu:
3.5.1 Unbalance
Unbalance adalah kondisi di mana pusat massa tidak sesumbu dengan sumbu rotasi sehingga rotor
mengalami gaya vibrasi terhadap bearing yang menghasilkan gaya sentrifugal. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya unbalance yakni kesalahan saat proses pemesinan dan assembly, eksentrisitas
komponen, adanya kotoran saat pengecoran, korosi dan keausan, distorsi geometri karena beban termal
dan beban mekanik, serta penumpukan material. Karakteristik dari unbalance ini dapat diketehui dengan
adanya amplitudo yang tinggi pada 1xRPM, seperti yang ditunjukkan Gambar 2.10. Tetapi, adanya
amplitudo pada 1xRPM tidak selalu unbalance, tanda lainnya adalah rasio amplitudo antara pengukuran
arah horizontal dan vertikal kecil (H/V<3). Ketika pada kondisi dominan unbalance, maka getaran radial
(Horizontal dan Vertikal) akan secara normal jauh lebih tinggi dibandingkan axial. Pada pompa normal,
getaran horizontal lebih tinggi dari vertikal. Amplitudo di 1x RPM secara normal 80% dari amplitudo
keseluruhan ketika masalah dipastikan unbalance.

Gambar 2.7 Spektrum Vibrasi Unbalance[1]


Resonansi kadangkadang dapat memperbesar efek dari unbalance. Unbalance juga dapat memberi
kontribusi terbesar pada loosness (aus). Ketika unbalance lebih dominan daripada masalah yang lain,
beda fase antara horizontal dan vertikal sekitar 90 (30) pada bearing yang sama. Unbalance pada
motor biasanya tetap dan fase yang berulang di arah radial.
3.5.2 Misalingment
Ketidaklurusan (misalignment) terjadi ketika frekuensi shaft yang berputar satu kali putaran atau
dapat juga terjadi dua dan tiga kali putaran. Normalnya disebabkan adanya getaran yang tinggi pada axial
dan radial, tetapi tidak selalu tinggi pada axial saja, khususnya saat kondisi parallel offset lebih
mendominasi dibandingkan angular misalignment. Menghasilkan getaran lebih besar dari keadaan normal
di 2xRPM di mana dapat terjadi bukan hanya di arah axial tapi juga di radial.
Jika misalignment menjadi semakin buruk hal ini dapat disebabkan besarnya nilai harmonik di
mana akan menghasilkan spektrum nampak seperti masalah looseness.Untuk misalignment parah,
pengukuran radial (horizontal dan vertikal) perbedaan fase terdapat pada 0 atau 180 (30) antara sisi
dalam dan sisi luar bearing. Kebanyakan dari waktu, perbedaan fase horizontal mendekati 180
pergeseran fase dibandingkan dengan perbedaan fase vertikal.

Gambar 2.8 SpektrumVibrasi Misalignment[1]


Misalignment yang terjadi pada mesin berputar yaitu:

Angular Misaligment

Gambar 2.9 Angular Misalignment[2]


Getaran axial tinggi, terutama pada 1x, 2x, dan 3x RPM, satu dari puncak ini (peak) kadang-kadang
lebih dominan daripada yang lain. Umumnya amplitudo antara 2x atau 3x RPM mencapai kir-kira 30
50% dari 1xRPM di arah axial. Indikasi terbaik adalah perbedaan fase 180 bersebrangan kopling di arah
axial. Dari kerusakan ini kemungkinan juga mengindikasikan adanya masalah kopling. Angular
misalignment kemungkinan terdapat pada 1x RPM harmonik, seperti juga mechanical looseness
(kelonggaran mekanik) gerakan harmonik ganda ini tidak selalu mengeluarkan suara gaduh pada spektra.

Parallel Misalignment

Gambar 2.10 Parallel Misalignment[2]


Shaft pada paralel misalignment terlihat offset. Misalignment ini mempunyai kesamaan gejala pada
getaran angular, tetapi menunjukan tingginya getaran radial di mana mencapai fase 180 bersebrangan
dengan kopling, amplitudo di 2xRPM lebih besar daripada di 1x. Amplitudo tidak selalu berada pada 1x,
2x, atau 3x yang lebih dominan, tetapi ketinggian relative di 1x di mana selalu diindikasi pada tipe
kopling dan konstruksi. Ketika kedua arah angular dan arah radial menjadi semakin tinggi, keduanya
dapat menciptakan tingginya peak amplitudo jauh lebih tinggi dari harmoninya (4x-8x) atau ketika
rangkaian frekuensi harmonik tinggi serupa dengan mechanical looseness.
Tipe kopling dan material akan membawa pengaruh yang besar pada spektrum ketika gejala
misalignment ada, hal ini tidak ada pengaruh pada peningkatan suara gaduh.

Bearing Misalignment

Untuk kerusakan ini getaran axial terjadi pada 1x dan 2x RPM, fase axial terjadi di empat bagian
dengan sudut 90 satu sama lain juga akan terjadi pergeseran sudut 90 dari point ke point selanjutnya.
Untuk meluruskan kopling atau membalance rotor tidak akan memecahkan masalah, cara yang paling
efektif adalah bearing harus diganti dan pasang bearing yang tepat (diameter inner bearing harus
simetris). Titik 1, 2, 3, dan 4 merupakan pengukuran axial, titik tersebut harus 90 terpisah satu sama lain.

Gambar 2.11 Bearing Misalignment[2]


3.5.3 Kerusakan Bearing
Kerusakan bearing (defective antifriction bearing) mempunyai ciri yaitu mempunyai puncak
(peak) tinggi beberapa kali RPM, 1x, 2x, 3x, 4x, ..., 10x. Vibrasi akan timbul jika bearing sudah parah.
Pada spektrum akan tampak impact (tubrukan) beberapa frekuensi dengan amplitudo tinggi seperti
ditunjukkan Gambar 2.11.

Gambar 2.12 Spektrum Kerusakan Bearing


3.5.4 Loosenes
Tidak rapat (mechanical looseness) terjadi pada frekuensi dua kali putaran, penyebabnya terjadi
karena perubahan keseimbangan dan alignment. Biasanya terjadi pada arah axial dan kejadiannya sering
bersamaan dengan unbalance dan misalignment Karakteristik loosness dapat diketahui pada spektrum
dengan adanya beberapa amplitudo tinggi khususnya pada 1x RPM, 1,5x RPM, dan harmonik seperti
yang terlihat pada Gambar 2.16. Looseness biasanya disebabkan oleh structural looseness dari tumpuan
mesin, pondasi, baut yang kendor, dan deteriorated grouting.

Gambar 2.13 Spektrum Vibrasi Looseness [1]

4. PERCOBAAN

4.1

Alat Dan Bahan


Peralatan yang akan digunakan dalam percobaan sebagai berikut.
5 buah pompa air
Laptop dengan SoftwareSound and Vibration Assistant dan MatLab
DAQ National Instrument
Stroboscop
Accelerometer

4.2

PROSEDUR PERCOBAAN
Prosedur yang digunakan untuk percobaan kali ini sebagai berikut:
1. Sambungkan accelerometer ke DAQ
2. Tempelkan accelerometer pada mesin pompa yang akan diukur. Dengan 2 tipe posisi, yaitu :
Axial

Radial (posisi Horizontal dan Vertikal)

3. Ambil data dari DAQ.


4. Arahkan dan dinyalakan stroboscop pada As pompa yang telah ditandai,putar knop stroboscop
sehingga terlihat bahwa As tidak berputar (stasioner) dan catat angka yang ditunjukkan
stroboscop. Mulai proses data logger.
5. Ulangi urutan no 1 s/d 4 dengan mengganti pompa air lain. Pompa yang digunakan yaitu pompa
1,2,3,4, dan 6.
6. Buat grafik perbandingan hasil monitoring vibrasi dari tiap pompa dengan menggunakan FFT
pada program MATLAB.