Anda di halaman 1dari 5

24013030 Irma Astria Lahengko

Pendahuluan
Teknologi ada untuk mempermudah manusia dalam melakukan berbagai aktivitasnya. Tidak
hanya itu, penciptaan dan pengembangan teknologi merupakan suatu tindakan yang didasari oleh
ide dan mimpi manusia untuk dapat melakukan hal-hal yang dianggap berada diluar kemampuan
batas fisiknya sendiri. Disaat daya dukung makhluk hidup mempunyai limit dalam menempuh
jarak perjalanan tertentu dengan menggunakan kaki, kendaraan bermotor hadir menawarkan
jarak tempuh yang lebih besar dengan waktu pencapaian yang jauh lebih cepat dibandingkan
ketika ditempuh dengan menggunakan kaki. Bayangkan saat ini begitu banyak waktu tersisa
yang dimiliki sehingga beragam kegiatan dapat diselesaikan dalam sehari karena pemangkasan
jarak tempuh yang meningkatkan mobilitas manusia berkat teknologi moda transportasi tersebut.
Perbedaan yang cukup signifikan jika melihat kembali manusia di jaman dahulu harus
menempuh perjalanan jauh yang melelahkan serta butuh waktu berhari-hari untuk sampai
ketempat tujuan.
Dari transformasi baru kemudahan dibidang transportasi kemudian lahirlah teknologi yang juga
bertujuan untuk dapat memperkecil jarak antara satu dengan yang lainnya melalui media
berbentuk perangkat keras maupun lunak. Contoh yang mudah kita temukan ialah telpon
genggam dan internet, yang kemudian memunculkan istilah world is flat now. Artinya, segala
bentuk informasi bisa digapai dari segala penjuru dunia ditempat orang itu berpijak tanpa perlu
memakan waktu yang lama, perjalanan jauh (perpindahan tempat), dan biaya ekstra. Semua
dengan mudah dapat kita peroleh tanpa ada lagi penghalang batas dan waktu. Jika dahulu kedua
fungsi komunikasi dan informasi yang ditawarkan tadi berada dalam media yang berbeda, maka
sekarang tidaklah demikian. Penggabungan keduanya dalam satu perangkat bukan hal yang sulit
untuk ditemui di era digital ini mengingat aktivitas manusia yang semakin padat serta sarat
komunikasi yang berperan dalam pengambilan keputusan dan juga karena munculnya isu
lingkungan untuk penghematan sumber daya alam (mis: buku dalam bentuk aplikasi sehingga
tidak membutuhkan kertas dan tenaga untuk menjinjing). Secara tak sadar, semua urusan
kehidupan menjadi tergabung di dalam satu perangkat yang disebut gadget. Selain mudah
dibawa, isi dan tampilan yang trendi membuat kebanyakan orang dewasa ini kian berlomba
untuk memilikinya. Media sosial dan informasi, penunjuk arah dan waktu, buku dan
dokumentasi, adalah perangkat lunak yang wajib ada.

24013030 Irma Astria Lahengko

Kitab suci elektronik: Membantu atau mengganggu kah?


Di sini saya akan coba membahas penggunaan gadget yang menurut saya semakin marak terlihat
digunakan tidak hanya dikeseharian hidup saat bekerja tetapi juga merambat pada hal
peribadatan. Bagi kita umat yang beragama tentu gadget yang dimiliki harus semakin
mendekatkan kepada Sang Pencipta. Pengetahuan kita bertambah dengan kemudahan informasi
dari gadget tersebut. Bagi umat islam misalnya, mushaf Quran atau tasbih untuk menunjang
ibadah telah berada dalam smartphone. Tidak hanya itu, aplikasi Android religi iQuran
dilengkapi dengan huruf Arab serta terjemahan tiap ayatnya, mempermudah membaca Al-Quran
melalui Android. Ada pula aplikasi seperti aplikasi Android doa-doa Islami, Aplikasi Android
Islami Adzan, Qiblat dan Quran, ada juga aplikasi Android Islami hitung Zakat untuk
menghitung zakat, disebut Kalkulator Zakat. Aplikasi Zakat ini berguna untuk menghitung
berapa zakat yang harus dikeluarkan dari harta yang dimiliki, zakat profesi dan zakat untuk
usaha agar mudah dihitung melalui aplikasi Android Kalkulator Zakat. Android merupakan salah
satu OS yang sangat digandrungi saat ini dengan berbagai tipe dan merk gadget juga didukung
vendor pengembang.
Ketika hampir semua perangkat lunak sumber informasi dipasangkan pada gadget yang multi
fungsi ini, alkitab elektronik pun tidak luput dari perhatian umat nasrani. Wajib rasanya untuk
menginstal aplikasi tersebut di gadget (HP/I-Pad/Tablet) milik masing-masing, apalagi
disediakan secara gratis dan tidak perlu repot-repot untuk membawanya, mengingat bentuk dan
bobot alkitab versi lengkap dalam bentuk buku alias tergabung satu dengan daftar nyanyian
kidung jemaat tidak dapat dikatakan ringan (kalaupun ada yang kecil dan mudah ditenteng, itu
alkitab yang hanya terdiri dari perjanjian baru dan dua bab perjanjian lama). Jika sebelumnya
alkitab digunakan pada saat-saat tertentu maka sekarang akses penuh diberikan dengan adanya ebible kapan dan dimana saja. Memang seperti kedua sisi mata uang logam, dampak positif dan
negatif selalu beriringan dengan perkembangan teknologi dan tidak dapat kita pisahkan. Tadi
telah kita ketahui bersama bahwa manfaat baik yang dirasakan secara langsung dengan lahirnya
aplikasi untuk beribadah tentu sangat menolong dari segi biaya, tenaga, dan ukuran. Maka
sekarang mari kita lihat sisi buruknya penyertaan android atau gadget ini saar beribadah ataupun
waktu khusus untuk berelasi dengan Yang Maha Kuasa. Saya tidak sedang mengungkapkan sikap
pesimis karena adanya aplikasi kitab suci di smartphone melainkan lebih merupakan suatu

24013030 Irma Astria Lahengko

pemikiran bahwa adanya ketiadaan momen kekhusus-an kita dengan sang pencipta karena
perhatian yang tersita oleh informasi serta kondisi sekitar dihasilkan oleh gadget ini.
Dibawah ini merupakan beberapa gambar yang saya potret mengenai penggunaan e-bible (atau
bahkan mungkin fungsi lainnya) melalui gadget saat beribadah di Manado.

Suasana peribadahan yang saya ambil untuk dijadikan sebuah pengamatan di atas ialah suasana
kebaktian di gereja, berhubung saya sendiri adalah nasrani yang secara langsung melihat

24013030 Irma Astria Lahengko

penggunaan gadget selama beribadah telah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Yang
mencolok adalah ketika awal tujuan kita datang untuk memuliakan Tuhan terkesampingkan oleh
notifikasi pihak ketiga dari luar yang bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan saat
teduh bersama-Nya. Perlu kita ingat kembali bahwa e-bible bukan inti dari gadget atau
smartphone, ini hanyalah salah satu aplikasi yang dipasangkan sehingga fungsi komunikasi dan
sumber informasi lain tetaplah mendominasi. Alih-alih kusyuk membaca firman, datangnya
pemberitahuan masuk SMS-FB-Twitter-WA dan masih banyak lagi akhirnya mengganggu
konsentrasi untuk beribadah, belum lagi isi pesan terkandung di dalam yang berpotensi
mengubah suasana hati. Tidak jarang kita lupa bahwa sekian jam dan hari yang dihabiskan untuk
bekerja tetap tak dirasakan cukup sehingga penggunaan waktu berdialog dengan Dia terpangkas
bahkan saat ibadah yang durasinya sekitar 1,5 sampai 2 jam saja lewat alarm gadget.
Saya mengenang kembali kalau dulu alkitab umumnya ditiap keluarga kristen sangat dijaga
seperti sebuah harta yang eksistensinya dibedakan dengan benda-benda lain. Yang
dipermasalahkan bukanlah soal apakah alkitab harus berbentuk buku melainkan esensi dari
alkitab itu sendiri. Bagi umat nasrani, ini adalah paparan firman Tuhan. Selain itu tak dapat
dipungkiri kalau sebagian besar hamba Tuhan di gereja Indonesia sudah pasti mempunyai eBible dan bahkan beberapa di antaranya berkhotbah dengan menggunakan gadget, bukannya
Alkitab. Karena itu penting untuk disadari penggunaan gadget seyogianya mempertimbangkan
hal-hal berikut:
1. Untuk umat nasrani, apakah rekan di samping menjadi terganggu ketika kita menggunakan eBible saat beribadah? karena tidak semua orang di gereja dan pelayan firman merasa nyaman
bahwa ada anggota gerejanya yang membaca Alkitab dengan cara membuka e-Bible. Bisa jadi
pemikiran yang didapat adalah saat menggunakan gadget, bukannya aplikasi kitab suci yang kita
buka melainkan SMS atau permainan, dan orang sekitar akan menganggap kita tidak serius saat
beribadah.
2. Apakah kita dapat menjamin bahwa kita tidak akan bermain-main dengan gadget kita setelah
membuka aplikasi kitab suci atau dalam hal ini e-Bible? Seperti yang sudah dikatakan
sebelumnya, multifungsi dari gadget itu sendiri dengan mudah dapat menghalangi fokus kita saat
beribadah. Apalagi kalau khotbah yang kita dengar dirasa tidak menarik, tergoda untuk bermain
gadget kerap kali terjadi.

24013030 Irma Astria Lahengko

3. Apakah mulai muncul perasaan enggan membawa kitab suci, atau lebih buruknya
meremehkannya karena dirasa versi gratis dan soft mudah untuk didapat? Secara pribadi, saya
bukan orang yang menolak adanya e-Bible. Tetapi misalkan karena penggunaan e-Bible di
ibadah ujung-ujungnya tergoda untuk bermain dengan HP dan tidak fokus selama ibadah, bahkan
lebih buruknya esensi dari alkitab itu sendiri perlahan memudar, maka membawa Alkitab untuk
beribadah adalah pilihan yang lebih bijak menurut saya.
Kesimpulan
Oleh sebab itu perlu diingat bahwa pada hakikatnya ini merupakan alat bagi setiap insan di muka
bumi agar mudah mencapai tujuan yang dimiliki dalam waktu yang relative singkat, maka
sungguh tidak tepat jika alat ini mulai menjadi pembatas ruang gerak manusia untuk
berinteraksi dengan sesama apalagi dengan penciptanya. Teknologi itu ada untuk manusia, bukan
sebaliknya, yang menghadirkan konsekuensi-konsekuensi positif dan negatif. Pilihan berada di
tangan kita, setiap kubu menawarkan harga pengorbanan untuk keputusan-keputusan yang
diambil. Antara teknologi tiada batas atau membangun kembali relasi dengan Tuhan.
Pertanyaannya adalah, pilihan manakah yang akan ditempuh?