Anda di halaman 1dari 47

C A S E P R E S E N TAT I O N

OD Very Severe Non Proliferative Diabetic


Retinopathy+ Clinical Significant Macular
Edema
OS Vitreous Hemorrhage

Nama :
Siti Azureen Bt Abdul Halim
C 111 10 884
Pembimbing:
dr. Sitti Fitriani
Supervisor :
dr. Suliati P. Amir, Sp.M, M. Med EA

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny.L
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir
: 05-08-1965
Umur
: 51 tahun
Agama
: Islam
Suku/Bangsa
: Bugis/Indonesia
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Dusun Tarailu
No. Register
: 053612
Tgl pemeriksaan : 26 Januari 2016
Rumah sakit
: Poli Mata RSUH

Anamnesis
KU : Penglihatan kabur pada kedua mata
AT : Dialami sejak 1 tahun yang lalu dan secara
perlahan-lahan dirasakan semakin lama semakin
memberat terutama 5 hari terakhir Awalnya pasien
merasakan seperti melihat ada bintik-bintik gelap/garisgaris hitam pada mata bagian atas dan bawah, pasien
merasa seperti ada yang menghalangi matanya. Pasien
sangat kesulitan melihat jarak jauh maupun dekat. Riwayat
penglihatan seperti cahaya tidak pernah. Riwayat diabetes
melitus ada sejak lebih dari 5 tahun yang lalu dan berobat
tidak teratur .
Riwayat nyeri pada mata tidak ada, riwayat silau tidak ada,
riwayat trauma tidak ada. Riwayat nyeri kepala tidak ada,
riwayat demam tidak ada. Riwayat penyakit tekanan darah
tinggi disangkal, riwayat alergi tidak ada, riwayat memakai
kacamata tidak ada, riwayat pengobatan sebelumnya ada
dan dikatakan terdapat gangguan saraf mata dan pasien di
rujuk ke poli RSUH, riwayat penyakit sama dalam keluarga
tidak ada

Foto Klinis Pasien

OD

OS

Tekanan Darah : 120/80


mmHg
Nadi
: 88 x/mnt
Pernapasan : 20 x/mnt
T emperatur
: 36,8 C

Sakit Sedang/ Gizi Cukup/ Compos


Mentis

Tanda
Vital
Status
General
is

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan oftalmologi
No

Inspeksi

OD

OS

1.

Palpebra

Edema (-)

Edema (-)

2.

Aparatus lakrimal

Lakrimasi (-)

Lakrimasi (-)

3.

Silia

Normal

Normal

4.

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

5.

Meknisme muskuler:

Kesegala arah

Kesegala arah

6.

Kornea

Jernih

Jernih

7.

Bilik Mata Depan

Normal

Normal

8.

Iris

Coklat, kripte (+)

9.

Pupil

Bulat, sentral

Coklat, kripte
(+)
Bulat, sentral

10.

Lensa

Jernih

Jernih

Palpasi
No

Pemeriksaan

OD

OS

1.

Tensi Okuler

Tn

Tn

2.

Nyeri tekan

(-)

(-)

3.

Massa tumor

(-)

(-)

4.

Glandula
pre-aurikuler

Tidak ada
pembesaran

Tidak ada
pembesaran

Tonometri (NCT)
TOD : 15 mmHg
TOS : 17 mmHg
Pemeriksaan
Visus :
VOD : 20/70
VOS : 1/60

Campus visual
Tidak dilakukan pemeriksaan

Color sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

Light sense
Tidak dilakukan pemeriksaan

Slit Lamp
SLOD : konjungtiva hiperemis (-), kornea
jernih, BMD kesan normal, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+),
lensa Jernih.
SLOS : konjungtiva hiperemis (-), kornea
jernih, BMD kesan normal, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, sentral, RC (+),
lensa Jernih.

Penyinaran oblik
PEMERIKSAAN

OD

OS

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Kornea

jernih

jernih

BMD

Kesan normal

Kesan normal

Iris

Coklat, kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, sentral, RC

Bulat, sentral, RC

(+)

(+)

Jernih

Jernih

Lensa

FOTO FUNDUS INDIREK

?
FOD: Refleks fundus (+), papil N.II batas tegas, CDR 0,3, A:V = 2:3 ,
makula : tampak hard eksudat (+), retina perifer tampak IRMA, bot
dot hemoragik disemua kuadran, hard eksudat (+), refleks fovea (+)
tampak suram, retina tampak terangkat.
FOS: Refleks fundus (-), detail lain sulit dievaluasi, terhalang oleh
perdarahan vitreus.

FOTO FUNDUS

FOD: Refleks fundus (+), papil N.II batas tegas, CDR 0,3, A:V =
2:3 , makula : tampak hard eksudat (+), retina perifer tampak
IRMA, bot dot hemoragik disemua kuadran, hard eksudat (+),
refleks fovea tampak suram.

RESUME
Seorang Perempuan 51 tahun datang ke poli
mata RS UNHAS dengan keluhan penglihatan
kabur pada kedua mata dialami sejak 1 tahun
yang lalu dan dirasakan memburuk 5 hari
terakhir. Awalnya pasien mengeluh seperti
melihat ada bintik-bintik gelap/garis-garis hitam
pada mata bagian atas dan bawah. Riwayat
diabetes mellitus (+) diketahui sejak lebih dari 5
tahun berobat tidak teratur, Riwayat pemakaian
kacamata (-). Dari pemeriksaan fisik didapatkan
pasien sakit sedang, gizi kurang, composmentis
dengan tanda vital dalam batas normal. Dari
pemeriksaan oftalmologi, Visus VOD : 20/70,
VOS : 1/60. Segmen anterior dalam batas
normal. TODS dalam batas normal. Penyinaran

RESUME
Dari pemeriksaan foto funduskopi indirek
didapatkan :
FOD: Refleks fundus (+), papil N.II batas tegas,
CDR 0,3, A:V = 2:3 , makula : tampak hard
eksudat (+), retina perifer tampak IRMA, bot dot
hemoragik disemua kuadran, hard eksudat (+),
refleks fovea (+) tampak suram, retina tampak
terangkat.
FOS: Refleks fundus (-), detail lain sulit
dievaluasi, terhalang oleh perdarahan vitreus.
Dari pemeriksaan foto funduskopi didapatkan :
FOD: Refleks fundus (+), papil N.II batas tegas,
CDR 0,3, A:V = 2:3 , makula : tampak hard

DIAGNOSIS
OD Very Severe Non Proliferative Diabetic
Retinophaty + Clinical Significant Macular
Edema
OS Vitreous Hemorrhage

PENATALAKSANAAN
Regulasi ketat gula darah
Laser Fotokoagulasi OD
Observasi OS

PROGNOSIS
Quo ad Vitam
: Bonam
Quo ad Visam : Dubia et Bonam
Quo as Sanationam : Dubia et Bonam
Quo ad Comesticam : Bonam

RETINOPATI
DIABETIK
I
S
I
N
I
F
DE
Suatu mikroangiopati
progresif yang ditandai oleh
lesi/kerusakan dan
sumbatan pembuluhpembuluh darah kecil pada
penderita DM

Anatomi mata

Lapisan retina

Funduskopi normal

Retina Normal. Makula lutea terletak 3-4 mm kearah


temporal dan sedikit dibawah disk optik, Diameter
vena 1,5 kali lebih besar dari arteri.

Epidemiologi
DM 25 kali lebih beresiko mengalami kebutaan > Non

Diabetes
Di Inggris merupakan penyebab kebutaan nomor 4
Di Amerika terdapat kebutaan 5.000 orang pertahun
akibat retinopati diabetik.

FAKTOR RESIKO
Riwayat DM
lama

Jenis
Kelamin

Kontrol
gula yang
buruk

Hipertensi

Kehamilan

Nefropati

Obesitas,
merokok,
dll

GEJALA KLINIS

Awa
Al
Asimptomatik
24

Lanj
Lut
floaters
blurred vision
gangguan visus
progresif.

Akhi
Ar

Gangguan
penglihatan

Sudden loss
vision

PATOFISIOLOGI

Hiperglike
mia

Perubahan
Fisiologi
dan
biokimia

Kerusakan
Endotel

Adhesi platelet
Agregasi eritrosit
Abnormalitas lipid serum,
Fibrinolisis yang tidak sempurna,
Abnormalitas serum dan viskositas darah.
Faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF)

25

KERUSAKAN ENDOTEL

Mikroaneuris
ma

Permeabilita
s kapiler
meningkat

Neovaskulari
sasi dan
jaringan
fibrosa

Oklusi p.d

Kontraksi
jaringan
fibrous dan
jaringan
vitreus

PATOGENESIS

Oklusi Mikrovaskular pada Retinopati Diabetik

KLASIFIKASI DIABETIK
RETINOPATI
Non-proliferatif diabetic retinopathy (NPDR)
Proliferatif diabetic retinopathy (PDR)
Diabetic maculopathy
Advanced diabetic eye disease (ADED)

NPDR DAN PDR

30

KLASIFIKASI NPDR

Mild NPDR

Moderate NPDR

Severe NPDR

Very Severe NPDR

CSME

KLASIFIKASI PDR

Early PDR

High Risk PDR

NVD dan NVE

Neovaskularisasi

Gambaran funduskopi
NPDR

PDR

Mikroaneurisma (+)

Mikroaneurisma (+)

Perdarahan intraretina (+)

Perdarahan intraretina (+)

Hard eksudat (+)

Hard eksudat (+)

Oedem retina(+)

Oedem retina (+)

Cotton Wool Spots(+)

Cotton Wool Spots(+)

IRMA (+)

IRMA(+)

Neovaskularisasi (-)

Neovaskularisasi (+)

Perdarahan Vitreous (-)

Perdarahan Vitreous (+)

Pelepasan
traksi (-)

retina

secara Pelepasan
traksi (+)

retina

secara

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Foto Fundus

FA

DIAGNOSIS BANDING
Ocular ischemic syndrome : dapat terjadi

unilateral. Arteri retina mengecil, perdarahan


retina iskemik khas pada pertengahan retina
perifer (mid-peripheral).
Hypertensive retinopathy : perdarahan
retina
superfisial
dan
flame-shaped,
khususnya pada polus posterior. Hal ini
tergantung pada beratnya hipertensi, soft
exudate dan papil edema dapat terlihat.

SKRINING DIABETIK RETINOPATI


Jenis Diabetik
Retinopati
Normal/ Minimal NPDR
Mild to Moderate NPDR
Severe NPDR
Early PDR
High Risk PDR

Interval
Disertai CSME

Pemeriksaan yang
disarankan (Bulan)

Tidak ada

12

Tidak ada

6-12

Ada

2-4

Tidak ada

2-4

Ada

2-4

Tidak ada

2-4

Ada

2-4

Tidak ada

2-4

Ada

2-4

PENATALAKSANAAN
1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan rutin pada ahli mata


Kontrol gula darah.
Injeksi anti VEGF: Bevacizumab ( avastin, lucentis)
Fotokoagulasi
Vitrektomi

TEKNIK FOTOKOAGULASI
Teknik Scatter

Teknik fokal fotokoagulasi

Grid Fotokoagulasi

Indikasi :
diabetik
proliferatif
Retinopati
dengan high risk
Neovaskularisasi pada iris
Pasien yang jarang mengontrol
retinopatinya
operasi
katarak/
Sebelum
capsulotomi
Gangguan ginjal
Ibu hamil
Indikasi :
Edema makula
Ditujukan pada mikroaneurisma atau
lesi mikrovaskular di tengah cincin
hard exudates yang terletak 5003000 m dari tengah fovea.
Indikasi :
Edema makula

Penggunaan sinar laser dimana


pembakaran dengan bentuk kisikisi diarahkan pada daerah
edema yang difus.

VITRECTOMY
Indikasi dilakukan vitrektomi:
Perdarahan vitreus berat dan tidak menghilang (>3 bulan).
Ablasio retina tipe traksi melibatkan atau mengancam makula.
Ablsio retina tipe campura (traksi dan rhegmatogenosa)
Edema makula difus yang disertai traksi posterior hyaloidal.
Perdarah vitreus signifikan yang rekuren walaupun telah di

lakukan Fotokoagulasi Panretinal.


Proliferasi fibrovaskular.
Proliferasi fibrovaskular hyaloidal anterior.
Red blood cell- induced (erythroclastic) glaucoma dan ghostcell glaucoma.
Neurovaskularisasi segmen anterior dengan opasitas media
yang menghalangi fotokoagulasi dilakukan.
Perdarahan premakula hyaloidal yang tebal.

Komplikasi

44

Ruberosis Iridis

Perdarahan vitreus

Neovascular
Glaucoma

Tractional Ablasio
Retina

PROGNOSIS

Kontrol optimum glukosa darah (HbA1c < 7%)

dan
hipertensi dapat mempertahankan atau menunda retinopati.
Tanpa pengobatan, Detachment retinal tractional dan edema
macula dapat menyebabkan kegagalan visual yang berat
atau kebutaan
The Diabetic Retinopathy Study menemukan bahwa scatter
laser panretinal photocoagulation yang adekuat dapat
menurunkan resiko penurunan penglihatan yang parah
(<5/200) hingga lebih dari 50%.

TERIMA KASIH

Questions
1. Kapan pasien DM kt periksa mata?
2. Bagaimana dengan visus pasca

operative?
3. Kapan fotokoagulasi?
4. Pada pendarahan vitreus kapan dilakukan
vitrectomy?