Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PREPARATION FOR POTENTIALLY THREATENING CLINICAL PROCEDURES


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut Universitas
Padjadjaran

AGAM FERRY
167121140003

PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut adalah kesehatan yang masih belum banyak
mendapat perhatian lebih di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah masih
minimnya informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut yang didapat
masyarakat, mulai dari cara menjaga kebersihan mulut dan menjaga kesehatan
gigi dan mulut yang baik, hingga penyakit-penyakit mulut yang bisa mengenai
gigi dan mulut.Padahal, penyakit gigi dan mulut yang terjadi karena kurang
baiknya

kesadaran

untuk

menjaga

kesehatan

gigi

dan

mulut

dapat

menimbulkan hal yang sangat serius, mulai dari kesulitan bicara, kesulitan
makan hingga kematian.
Penyakit mulut memiliki banyak variasi. Mulai dari keluhan-keluhan akibat
sakit gigi yang disebabkan oleh gigi yang berlubang, kesulitan makan dan bicara
akibat sariawan di mulut dan pipi sampai penyakit mulut yang serius, seperti
kanker mulut.
Kanker mulut terjadi pada jaringan lunak yang terdapat di mulut. Jaringanjaringan lunak tersebut meliputi bibir, pipi, gusi, langit-langit dan lidah. Dalam
keadaan normal, mukosa atau jaringan lunak mulut ini digambarkan dengan
kata lembut, elastis, lembab dan atau merah muda. Jika mukosa mulut
tidak dapat digambarkan dengan kata-kata tersebut, dapat dipastikan terjadi
keadaan patologis atau ketidaknormalan akibat penyakit pada mukosa mulut
tersebut.
Kanker

mulut

memerlukan

tindakan

invasif

yang

berpotensi

membahayakan jiwa. Padahal, deteksi dini kanker mulut dan penangan yang
tepat dapat mengurangi kemungkinan penanganan yang berbahaya ini

LATAR BELAKANG MASALAH


Kanker mulut adalah masalah yang sangat serius di bidang kedokteran
gigi dan mulut. Menurut National Cancer Institut Amerika, terjadi 41 ribu kasus
yang menyebabkan 8 ribu orang meninggal setiap tahunnya. Salah satu
penyebab tingginya kasus kanker mulut adalah rendahnya kesadaran dan
pengetahuan pasien terhadap bahaya dan gejala kanker

mulut. Penyebab

lainnya, karena pasien kanker mulut umumnya datang dengan keadaan


keganasan yang telah lanjut atau tahapan yang sangat kronis. Penyebab lainnya
adalah kurangnya deteksi dini atau penegakan diagnosa dari kanker mulut.

Deteksi atau diagnosis kanker mulut umumnya dilakukan setelah muncul


gejala atau tanda yang mengarah ke kanker. Pasien baru datang setelah gejala
muncul jelas, dan bukan di awal gejala muncul. Tenaga kesehatan juga lebih
sering

menunggu

hingga

beberapa

kali

kunjungan

sebelum

memulai

pemeriksaan spesifik untuk kanker. Hal ini dilakukan karena dari pihak tenaga
kesehatan ingin memastikan secara pasti sebelum mengakkan diagnosis, untuk
menghindari kesalahan diagnosa dan pemberian kabar buruk ke pasien dan dari
pihak pasien karena faktor kurang informasi atau terlalu takut untuk merima
kenyataan mereka menderita kanker.
Tidak dapat dihindari kenyataan bahwa vonis menderita kanker sangat
dihindari oleh banyak orang. Penegakkan atau penetapan diagnosa kanker
menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu kepada pasien, kepada pasien, mulai
dari pengaruh fisik, pengaruh psikologis dan pengaruh emosional.

PERMASALAHAN/ PENGARUH FISIK


Pasien kanker mulut mengalami keluhan baik akibat dari penyakit
ataupun pengaruh dari perawatan kanker-terkait. Keluhan keluhan ini
dapat meningkatkan tingkat depresi, meliputi mul dan muntah, nyeri akut
dan kronis, pembesaran kelenjar, munculnya bau, gangguan penampilan
akibat ketidaksimetrisan wajah, gangguan fungsi organ dan penurunan
kesehatan tubuh secara umum.

PERMASALAHAN/ PENGARUH PSIKOLOGIS


Gangguan psikologis meliputi gejala ringan kecemasan dan depresi,
mengenai tingkat keparahan, keberhasilan operasi dan kemungkinan
kejadian kanker berulang di kemudian hari paska penanganan.

PERMASALAHAN/ PENGARUH EMOSIONAL


Permasalahan emosional terjadi karena pasien mengalami keadaan syok,
tidak dapat mengontrol emosi, marah, ketakutan hingga putus asa,
mengenai diagnosis yang diterima dan harus menjalani kanker selama

hidupnya. Pasien juga mengalami stres karena tidak dapat menjalani


aktivitas sehari-harinya seperti biasa lagi, akibat kanker yang dideritanya.
Diperlukan persiapan-persiapan oleh tenaga kesehatan untuk mengatasi
pengaruh-pengaruh pada pasien tersebut

PENANGANAN KANKER MULUT


Penanganan kanker mulut umumnya bersifat invasif, dimana tindakan
penanganan yang dilakukan dapat memperparah keadaan umum pasien.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, tindakan penanganan yang
bersifat invasif tersebut kini dibagi menjadi 2, yaitu metode invasif dan metode
invasif minimal. Selain dua pilihan tersebut, sekarang ini masyarakat Indonesia
juga menggunakan terapi alternatif yang bersifat herbal atau tradisional.
Tindakan invasif minimal sebenernya mirip dengan tindakan invasif pada
umumnya, namun dapat meminimalisasi hal-hal yang dapat memperparah
keadaan umum pasien. Sayangnya, penanganan invasif minimal belum bisa
diterapkan di Indonesia, sehingga penanganan kanker mulut di Indonesia secara
umum masih bersifat invasif. Tindakan invasif penanganan kanker mulut
diantaranya adalah kemoterapi dan bedah radioterapi.
Paradigma kata bedah masih bersifat negatif di masyarakat. Orang, yang
bahkan bukan penderita kanker mulut yang perlu menjalani tindakan tersebut,
mendengar

kata

bedah

saja

terkadang

masih

merasa

ketakutan.

Membayangkan efek kecacatan atau kehilangan yang akan dialami, prosedur


seperti di film horor, dan penerimaan sosial paska operasi cukup mengerikan
bagi beberapa orang.
Tidak dapat dipungkiri sebagian hal yang ditakutkan tersebut memang
benar. Sebagian lagi, salah. Yang belum dipahami banyak orang adalah,
tindakan bedah dapat menyelamatkan hidup penderita kanker mulut nantinya,
dengan mencegah perkembangan yang lebih menyebar atau lebih parah dari
penyakit kanker mulut.
Ketakutan-ketakutan yang muncul diatas, adalah sebagian dari contoh
pengaruh-pengaruh fisik, psikologis dan emosional yang dibahas sebelumnya.
Ketakutan-ketakutan tersebut perlu diatasi, agar pasien penderita kanker mulut
bersedia dan mau untuk menjalani tindakan invasif berkaitan dengan penyakit

yang dideritanya. Tenaga kesehatan perlu mengetahui tatalaksana persiapan


persiapan yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.
TATALAKSANA
Tatalaksana persiapan prosedur yang membahayakan jiwa dibagi menjadi
persiapan pasien dan persiapan tenaga kesehatan.

PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien meliputi permasalahan seputar fisik, psikologis dan
emosional terkait prosedur tindakan mengancam jiwa yang akan dilakukannya,
dibagi menurut masing-masing permasalahan yang dihadapi.

PERSIAPAN FISIK
Persiapan fisik disini adalah dengan menyiapkan fisik pasien (sehat)
untuk menghadapi operasi. Sesuai seperti pepatahpopuler, di dalam
tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Persiapan fisik disini meliputi
kontrol nutrisi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi pasien
menjelang operasi, memastikan istirahat yang cukup oleh pasien sebelum
tindakan operasi hingga persiapan menjelaskan kepada pasien, gangguan
atau hambatan fisik apa yang mungkin dihadapi setelah operasi.
Hal ini perlu, mengingat pasien akan mengalami kekurangan
mobilitas dan atau fungsi organ yang hilang paska dilakukannya tindakan
bedah. Pasien yang tidak dilengkapi informasi yang lengkap mengenai
kemungkinan tersebut, akan mengalami gangguan psikologis dan
gangguan emosional, yang akan dibahas selanjutnya.
Dengan memberikan informasi tersebut diharapkan pasien akan
siap dan yakin untuk melakukan operasi bedah untuk mengatasi kanker
mulut yang sedang dideritanya.

PERSIAPAN PSIKOLOGIS

Persiapan psikologis atau persiapan mental meliputi mengatasi


phobia, respon terhadap sakit, mengurangi kecemasan, konsumsi obat
dan self-concept management.
Mengatasi phobia dilakukan bila pasien memiliki riwayat phobia,
misalnya terhadap sosok dokter, bau kamar bedah hingga phobia
terhadap alat-alat kesehatan, seperti jarum bedah atau jarum suntik.
Ketakutan atau phobia terhadap hal tersebut dapat menyebabkan pasien
mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan operasi apabila tidak
dilakukan persiapan yang baik dan tepat oleh tenaga kesehatan terkait.
Tindakan yang dapat dilakukan dapat dimulai dengan memberikan
sugesti positif terhadap pasien oleh tenaga kesehatan yang langsung
bersentuhan dengan pasien, misalnya perawat atau dokter. Tetapi apabila
tidak dapat dilakukan lagi, merujuk ke profesional seputar masalah
psikologis adalah hal terbaik untuk dilakukan.
Mengatasi respon terhadap sakit dilakukan apabila pasien memiliki
ketakutan bahwa tindakan yang akan dilakukan akan menimbulkan sakit
atau rasa tidak nyaman pada saat atau paska pembedahan. Pasien perlu
diyakinkan bahwa rasa sakit mungkin akan timbul, tetapi berbeda
persepsi oleh masing-masing individual. Beberapa pasien atau individu
akan memiliki kemampuan mentoleransi rasa sakit lebih baik dari pasien
atau individu lain. Yakinkan bahwa pasien akan masuk ke kelompok yang
memiliki toleransi rasa sakit tinggi. Hal ini akan menambah kepercayaan
diri pasien untuk menghadapi tindakan operasi.

Mengurangi

kecemasan

berhubungan

dengan

dua

faktor

sebelumnya yaitu phobia dan respon terhadap sakit. Mengatasi dua hal
yang dibahas sebelumnya dengan baik atau buruk menentukan hasil
pengatasan kecemasan yang dilakukan tenaga kesehatan.
Konsumsi

obat

adalah

mengkompromisasikan

pentingnya

mengkonsumsi obat yang mungkin banyak, paska dilakukannya operasi.


Bahwa kepatuhan pasien terhadap instruksi mengkonsumsi obat
menentukan

hasil

tindakan

operasi.

Yakinkan

pasien

agar

mau

mengkonsumsi obat yang diresepkanoleh tenaga kesehatan profesional.

Terakhir, self concept management adalah mengkondisikan pasien


untuk memotivasi dan mensugesti dirinya sendiri, setelah melakukan
empat persiapan yang disebutkan sebelumnya.
PERSIAPAN EMOSIONAL
Persiapan emosional adalah persiapan yang lebih luas cakupannya,
sebab tidak hanya meliputi pasien saja, namun juga keluarga pasien.
Persiapan

emosional

menyiapkan

keluarga

untuk

memberi

dukungan kepada pasien paska tindakan operasi. Sikap apa yang


sebaiknya dilakukan dan sikap apa yang sebaiknya dihindari. Hindari
sikap yang bisa mempengaruhi dampak psikologis pasien seperti
menghina, mengejek atau bahkan mengucilkan pasien. Terima pasien
seperti sebelumnya, tanpa ada perbedaan atas kekurangan yang munkin
muncul setelah tindakan operasi.
Keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar pasien,
dipersiapkan untuk tidak terlalu stres memikirkan kekurangan pasien
nantinya. Juga siap mendukung pasien pada kehidupan sosialnya.

PERSIAPAN TENAGA KESEHATAN


Kunci dari persiapan oleh tenaga kesehatan adalah komunikasi yang
efektif. Komunikasi yang efektif dari tenaga kesehatan terhadap pasien akan
memudahkan persiapan-persiapan terkait permasalahan yang dihadapi pasien.
Komunikasi efektif diperlukan tidak hanya terhadap pasien, tetapi juga
terhadap komunitas lingkungan pasien seperti keluarga, teman ataupun rekan
kerja, karena kehidupan sosial memberi pengaruh yang sangat besar terhadap
permasalahan yang dialami pasien terkait penyakit kanker yang dideritanya,
terkait penerimaan lingkungan tersebut selama dan setelah perawatan kanker
mulut.

Persiapan yang perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan dirangkum


menjadi akronim PREPARED, yaitu:

P repare for discussion, where possible


R elate to the person
E licit patients expectations
P rovide adequate informations
A cknowledged social concern
R ealistic hope
E ncourage question and discussions
D ocumentation

Prepare for discussion, where possible


Tenaga kesehatan harus selalu siap dan kadang pro aktif untuk
mengobrol dengan pasien. Banyak berdiskusi dapat memberikan banyak
informasi kepada pasien yang mungkin salah satu dari informasi tersebut
dapat menjadikan pasien lebih siap untuk menghadapi tindakan atau
prosedur penanganan kanker mulut yang berpotensi mengancam jiwayang
akan dihadapi pasien.

Relate to the person


Tenaga kesehatan harus mampu terhubung dengan pasien dalam
arti menunjukkan rasa simpati dan empati terhadap apa yang akan
dihadapi oleh pasien selama perawatan dan penanganan kanker mulut.
Pasien yang diperhatikan akan merasa lebih tenang karena merasa ada
yang mengerti perasaannya secara lebih dekat dibandingkan anggota
keluarga yang mungkin tidak setiap saat berada di dekat pasien

Elicit patients expectation


Ketahui apa yang diinginkan pasien, dan beri penjelasan tentang
keinginan-keinginan yang diutarakan pasien. Mengenai apa yang dapat
dicapai dan apa yang tidak dapat dicapai. Beberapa pasien memiliki terlalu
banyak keinginan dan akhirnya kecewa saat mengetahui hal tersebut tidak
bisa didapatnya.

Provide adequate informations


Berikan informasi yang adekuat terhdap pasien. Hal ini didsarkan
pada scientific evidence based seputar kasus kanker yang dialami pasien.
Hindari memberi informasi yang tidak tepat, atau tidak dapat memberikan
informasi pembenar kepada pasien yang memiliki informasi pembanding
yang telah ketinggalan.

Acknowledged social concern


Pengaruh sosial memberi dampak yang sangat besar terhadap
pasien. Tenaga kesehatan harus memberi dorongan semangat dan
meyakinkan pasien bahwa kehidupan sosialnya tidak akan banyak
terganggu. Masalah dengan kehidupan sosial pasti akan muncul, namun
beri pengertian kepada pasien bahwa lingkungan akan dapat menerima
pasien pada akhirnya.

Realistic hope
Jangan memberi angin kepada harapan pasien secara berlebihan.
Misalkan pasien berharap dapat pulih total pada kasus keganasan yang
sudah

lanjut.

Berikan

penjelasan

sesuai

kenyataan,

berdasarkan

pengalaman atau dasar keilmuan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan.

Encourage question and discussion

Intinya sama dengan persiapan yang pertama, dengan banyak


berkomunikasi dengan pasien.
Baik itu memancing keingintahuan pasien atau berdiskusi ringan seputar
penyakit kanker mulut yang diderita pasien dan senantiasa memberikan
informasi dapat membuat pasien lebih nyaman untuk menghadapi
prosedur atau tindakan invasif yang berpotensi mengancam jiwa yang
akan dihadapi.
Documentation
Terakhir, yang paling penting adalah mempersiapkan dokumentasi
yang lengkap dari pasien. Dokumentasi berguna untuk dijadikan
pembanding pra dan paska perawatan, sebagai bekal untuk memberi
penjelasan kepada keluarga dan kerabat pasien serta sebagai bahan
perbandingan untuk kasus serupa yang melibatkan prosedur yang sama,
sehingga tenaga kesehatan dapat lebih mempersiapkan diri untuk
menghadapi pasien dengan kasus serupa di masa yang akan datang.
Persiapan oleh tenaga kesehatan untuk mempersiapkan pasien yang
akan menjalani prosedur yang mengancam jiwa memang bukan hal yang
mudah. Namun dengan persiapan yang matang dan pengetahuan yang cukup
mengenai hal ini akan memudahkan dalam pelaksanannya.

REFERENSI

1. NATIONAL

BREAST

CANCER

CENTER,

2003,

CLINICAL

PRACTICE

GUIDELINES FOR THE PSYCHOSOCIAL CARE OF ADULTS WITH CANCER:


APPENDIX A, AUSTRALIA, NHMRC
2. CLAYTON,

ET.

AL.,

2007,

CLINICAL

PRACTICE

GUIDELINES

FOR

COMMUNICATING PROGNOSIS AND END-OF-LIFE ISSUES WITH ADULTS IN


THE ADVANCED STAGES OF A LIFE-LIMITING ILLNESS, AND THEIR
CAREGIVERS, MED J AUST 2007; 186 (12): 77.AUSTRALIA
3. PREPARING WOMEN FOR POTENTIALLY THREATENING PROCEDURES AND
TREATMENT, Psychological Clinical Practice Guidelines (1999), pp.23-24,
Table

2.5,

p.24,

DIAKSES

TANGGAL

15

SEPTEMBER

2014

>

http://www.breastservices.lmha.com.au/guidelines/preparationtreatment.
pdf