Anda di halaman 1dari 16

ZAT ADITIF DAN ZAT ADIKTIF

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Narkotika, Bahan Terlarang dan Psikotropika
yang dibina oleh Ibu Novida Pratiwi, S.Si., M.Sc

Oleh

Arini Roichatul Jannah

(130351603596)

Dewi Mustikasari

(130351615571)

Siti Khoirun Ervin N.

(130351603597)

Off A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Januari 2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara mengenai narkoba, sering terdengar beberapa akronim yang
berkaitan dengan hal tersebut, misalnya : NAZA (Narkotika dan Zat Aditif),
NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Akronim NAPZA mempunyai
arti lebih lengkap dibanding yang pertama, yaitu merupakan bahan, zat atau obat
jika masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau
susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan
fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan
(dependensi) terhadap NAPZA.
Zat aditif dan zat adiktif banyak tersebar dalam kehidupan sehari-hari di
lingkungan masyarakat terutama para remaja. Zat aditif yang ada pada makanan
tidak selalu secara sengaja ditambahkan untuk tujuan tertentu. Namun, ada juga
zat aditif yang diperoleh secara tidak sengaja muncul pada makanan. Zat aditif
tersebut biasanya muncul pada proses pengolahan makanan. Secara keseluruhan,
penggunaan zat - zat aditif untuk campuran makanan dapat berdampak positif dan
negatif. Lain halnya dengan zat adiktif yang secara sengaja dikonsumsi
masyarakat untuk kepentingan medis maupun penyalahgunaan oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab.
Kepedulian terhadap bahaya bahan kimia dalam makanan yang sengaja
dikonsumsi sering terlupakan. Pengetahuan mengenai zat adiktif dan zat aditif
sangat penting ditanamkan pada masyarakat luas. Penggunaaan zat aditif dan zat
adiktif sering kali menimbulkan berbagai dampak negatif. Dampak yang paling
sering muncul adalah dari penggunaan bahan aditif sintetik dan adiktif karena
menggunakan bahan kimia hasil olahan industri. Dari berbagai dampak negatif
yang ditimbulkan dari penggunaan bahan aditif maupun bahan adiktif, masyarakat
perlu berhati - hati dalam penggunaan bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu,
makalah ini disusun untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai
pengertian, jenis-jenis, dan kegunaan zat aditif dan zat adiktif.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan
masalah yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengertian zat aditif dan zat adiktif?
2. Apa saja jenis-jenis zat aditif dan zat adiktif?
3. Apa saja kegunaan zat aditif dan zat adiktif dalam kehidupan sehari-hari?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan pengertian zat aditif dan zat adiktif.
2. Mendeskripsikan jenis-jenis zat aditif dan zat adiktif.
3. Mendeskripsikan kegunaan zat aditif dan zat adiktif dalam kehidupan seharihari.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Zat Aditif dan Zat Adiktif
2.1.1 Pengertian Zat Aditif
Zat aditif adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama
proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu.
Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu
dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi
yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan.
Zat aditif menurut WHO (World Health Organization) adalah zat-zat
yang ditambahkan pada makanan dalam jumlah sedikit untuk memperbaiki
warna, bentuk, cita rasa, tekstur, atau memperpanjang massa penyimpanan.
Persyaratan penambahan zat aditif dalam makanan yaitu: memperbaiki
kualitas atau gizi makanan, membuat makanan tampak lebih menarik,
meningkatkan cita rasa makanan, membuat makanan menjadi tahan lama atau
tidak cepat basi.
2.1.2 Pengertian Zat Adiktif
Zat adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat pemakainya
kecanduan (adiksi). Kecanduan adalah suatu keadaan fisik (jasmani) maupun
nonfisik (psikologis) dari seseorang yang merasa tidak normal jika tidak
menggunakan zat tertentu. Biasanya si pecandu akan menuruti keinginannya
dengan kembali mengonsumsi zat tersebut.
Menurut Undang-undang No. 23 tahun 1992 pasal 1, bahan atau zat
adiktif

adalah

bahan

yang

penggunaannya

dapat

menimbulkan

ketergantungan psikis. Menurut Dadang Hawari, zat adiktif adalah zat yang
dapat menimbulkan adiksi atau ketagihan sampai pada dependensi atau
ketergantungan.

2.2 Jenis-jenis Zat Aditif dan Zat Adiktif


2.2.1 Jenis-jenis Zat Aditif
Berdasarkan sumbernya, zat aditif dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu :
1. Zat Aditif Alami
Zat aditif alami merupakan zat aditif yang bisa diperoleh dari alam, seperti
daun salam, daun pandan, kunyit, jahe, gula aren, dan asam.
2. Zat Aditif Sintetis (Buatan)
Zat aditif sintetis merupakan zat yang dibuat dengan serangkaian proses
kimia. Zat yang diperoleh dari proses kimia ini jika dikonsumsi secara
berlebihan dapat menimbulkan efek yang negatif terhadap kesehatan
tubuh. Beberapa bahan makanan yang termasuk ke dalam zat aditif sintetis
diantaranya: formalin, Monosodium Glutamat (MSG), dan sakarin.
Biasanya, zat aditif sintetis lebih berbahaya bagi kesehatan jika
dibandingkan dengan zat aditif alami. Karena pada proses pembuatan zat
aditif sintetis memerlukan serangkaian proses kimia yang terkadang
mengalami proses kimia yang tidak sempurna sehingga dapat memberikan
dampak negatif terhadap tubuh konsumen.
Beberapa jenis zat aditif yang sering ditemukan dalam produk - produk
makanan, yaitu :
1. Pewarna
Pewarna merupakan zat yang dapat memberi warna pada makanan
dan

memberikan

tampilan

yang

menarik

dalam

penyajiannya.

Kecenderungan manusia menyukai makanan dengan tampilan yang


menarik menyebabkan banyak orang menggunakan zat aditif sebagai
pewarna makanan. Namun, terkadang ada orang yang menggunakan
pewarna yang berbahaya sebagai campuran makanan.

Ada dua jenis pewarna yang digunakan sebagai campuran


makanan, yaitu pewarna alami dan pewarna sintetik.
a. Pewarna Alami
Pewarna alami dapat diperoleh dari ekstrak tumbuh - tumbuhan.
Pewarna alami cenderung lebih aman untuk dikonsumsi karena tidak
melalui proses kimiawi. Beberapa jenis pewarna alami yang sering
digunakan sebagai campuran makanan dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Tabel 1 Pemanfaatan Zat Pewarna Alami
Nama Pewarna Alami
Beta-karoten (kuning)
Klorol (hijau)
Karamel (cokelat hitam)
Anato (oranye)

Jenis Bahan Makanan


Keju dan kacang kapri ( kalengan )
Jeli
Jem dan jamur (kalengan)
Es krim dan margarine

b. Pewarna Sintetik
Pewarna sintetik dapat diperoleh dari hasil pengolahan dalam industri
pewarna makanan. Pewarna ini berupa bahan - bahan kimia yang
merupakan hasil sintesis dilaboratorium. Banyak orang yang memiliki
kecenderungan memilih pewarna sintetik karena penggunaannya lebih
praktis dengan warna yang beragam. Penggunaan bahan pewarna sintetik
sebagai pewarna makanan dapat membahayakan bagi kesehatan. Saat ini
banyak ditemukan makanan yang menggunakan pewarna buatan yang
biasanya digunakan dalam industri tekstil. Jika seseorang sering
mengkonsumsi makanan yang dicampur dengan pewarna tersebut, zat
yang bersifat racun akan terakumulasi dalam jaringan tubuh yang pada
akhirnya dapat mengakibatkan penyakit kanker. Beberapa jenis pewarna
sintetik yang sering digunakan sebagai campuran makanan dapat dilihat
pada tabel berikut ini.

Tabel 2 Pemanfaatan Zat Pewarna Sintetik


Nama Pewarna Sintetik
Eritrosin (merah)
Kuning FCF (kuning)
Hijau FCF (hijau)
Coklat HT (cokelat)

Jenis Bahan Makanan


Es krim dan jelly
Es krim
Jem dan jamur (kalengan)
Minuman ringan

Biru Berlian (biru)

Es krim dan kapri(kalengan)

Beberapa perbedaan antara jenis pewarna sintetis dengan zat pewarna


alami yang sering digunakan sebagai campuran makanan dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 3 Perbedaan Zat Pewarna Sintetis dan Zat Pewarna Alami
Pembeda

Zat pewarna Sintetis

Zat

pewarna

Warna yang dihasilkan

Lebih cerah

alami
Lebih pudar

Variasi warna
Harga
Ketersediaan
Kestabilan

Lebih homogen
Banyak
Lebih murah
Tidak terbatas
Stabil

Tidak homogen
Sedikit
Lebih mahal
Terbatas
Kurang stabil

2. Penyedap Rasa dan Aroma serta Penguat Rasa


Pemberian penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa pada
makanan dapat memberikan aroma dan mempertegas rasa pada makanan.
Penyedap rasa ada yang bersifat alamiah dan sintetik. Penyedap rasa alami
diperoleh dari berbagai tanaman rempah - rempah, seperti kayu manis,
serai, ketumbar, jahe, merica, lada, pala, dan daun salam. Penyedap rasa
sintetik yang sering digunakan adalah Monosodium Glutamat (MSG) yang
biasanya lebih dikenal dengan nama vetsin. Penggunaan MSG masih aman
untuk dikonsumsi. Tapi, jika kita mengkonsumsinya secara berlebihan,
maka dapat menimbulkan penyakit Chinese Restaurant Syndrome yang
dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, pusing kepala, atau sesak napas.
Beberapa penyedap rasa lainnya yang sering digunakan dapat dilihat pada
tabel berikut ini.

Tabel 4 Pemanfaatan Zat Penyedap Sintetik


Nama Penyedap Sintetik
Isoamil valerat
Isoamil asetat
Isobutil propionat
Butil butirat

Jenis Bahan Makanan


Rasa apel
Rasa pisang
Rasa rum
Rasa nanas

3. Pengawet
Pengawet merupakan bahan yang sering digunakan untuk mengawetkan
makanan supaya dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Pengawet
dapat menghambat mikroorganisme untuk menguraikan makanan sehingga
tidak mudah membusuk dalam jangka waktu tertentu. Pengawet makanan
ada dua jenis, yaitu pengawet alami dan pengawet sintetik. Pengawet alami
dapat berupa gula dan garam. Sedangkan, beberapa jenis zat pengawet
sintetik pada makanan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5 Pemanfaatan Zat Pengawet Sintetik
Nama Pengawet Sintetik
Natrium nitrat

Jenis Bahan Makanan


Daging olahan

Natrium nitrit

Daging awetan dan kornet kalengan

Asam benzoat

Minuman ringan dan kecap

Asam propionate

Roti

Kalium benzoat

Kecap dan saos

4. Pemanis
Pemanis adalah zat yang ditambahkan kepada makanan atau minuman
sehingga menimbulkan rasa manis. Bahan pemanis ini terdiri dari dua jenis,
yaitu pemanis alami dan pemanis buatan. Pemanis alami disebut sukrosa yang
dapat diperoleh dari olahan gula tebu, gula aren, dan gula merah. Sedangkan,
pemanis sintetik berupa zat kimia yang dapat ditambahkan kepada makanan
untuk menimbulkan rasa manis pada makanan. Beberapa jenis pemanis
sintetik yang terdapat pada makanan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 6 Pemanfaatan Zat Pemanis Sintetik
Nama Pemanis Sintetik

Jenis Bahan Makanan

Sakarin

Permen dan es krim

Siklamat

Permen dan minuman ringan

Sorbitol

Kismis dan jeli

5. Anti Oksidan
Anti oksidan merupakan suatu zat aditif pada makanan berupa senyawa
yang mudah teroksidasi. Banyak produk makanan dalam kemasan kaleng
yang menggunakan antioksidan. Beberapa jenis zat anti oksidan yang
digunakandalam pengolahan makanan, di antaranya asam askorbat dan
butilhidroksianisol (BHA). Asam askorbat digunakan padapengolahan
daging dan buah kalengan. Sedangkan, butilhid - roksianisol (BHA)
digunakan untuk kemasan makanan.
2.2.2 Macam macam zat Adiktif
Zat adiktif ada dua golongan, yaitu zat adiktif golongan psikotropika
dan zat adiktif golongan non-psikotropika. Zat adiktif golongan psikotropika
antaralain berbagai macam obat perangsang (stimulan), obat penekan susunan
saraf pusat (depresan), dan obat halusinasi (halusinogen). Sedangkan zat
adiktif non-psikotropika antara lain minuman beralkohol, rokok, kafein, dan
inhalan.
1) Macam-macam Zat Adiktif Non-Psikotropika
Nikotin
Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran
darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru
yang mematikan. Nikotin merupakan bahan yang sangat candu, bahkan 5
hingga 10 kali lebih kuat menimbulkan efek psikoaktif pada manusia dari
pada kokain dan morfin yang jelas dilarang peredarannya. Penghentian
pemakaian nikotin pada pecandunya mungkin menghasilkan banyak
gejala yang tidak menyenangkan, termasuk mengidam nikotin, sifat lekas
marah, kegelisahan, konsentrasi buruk, lemas, tidak bersemangat,
keresahan, sakit kepala, kantuk, dan gangguan perut. Nikotin dapat

menimbulkan efek yang berlawanan, tergantung dosisnya. Pada dosis


rendah, nikotin merangsang pikiran dan meningkatkan detak jantung
serta tekanan darah. Pada dosis tingggi, nikotin akan menenangkan dan
menurunkan detak jantung. Nikotin terdapat dalam asap rokok. Asap
rokok mengandung sekitar 4.000 komponen yang berbahaya. Setiap
senyawa toksik dalam asap rokok menimbulkan akibat yang berbeda.

Gambar 1. Nikotin pada rokok


Alkohol dan Minuman Keras
Alkohol digunakan dalam pembiusan secara luas dan tertua di dunia.
Salah satu penggunaan alkohol lainnya adalah untuk mensterilkan
berbagai peralatan dalam bidang kedokteran. Jika dikonsumsi berlebihan,
akan muncul efek seperti merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri,
tanpa ada perasaa terhambat, dan menjadi lebih emosional. Akibat dari
gejala ini muncul gangguan pada fungsi fisik hingga motorik, yaitu
bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan, inkoordinasi
motorik, dan bisa sampai tidak sadarkan diri.

Gambar 2 Alkohol
Kafein
Kafein adalah alkaloida yang terdapat dalam buah tanaman kopi, biji
guarana, dan daun teh (theine). Termasuk zat adiktif yang memiliki efek
stimulasi. Zat yang terkandung dalam kopi, teh, coklat, dan cola. Kafein
memiliki efek adiktif yang jika dijabarkan memiliki pengaruh yang sama

dengan cara kerja amfetamin, kokain dan heroin, yaitu untuk


menstimulasi otak.
Ciri-ciri dari kecanduan caffeine adalah :
Perasaan mudah tersinggung
Sukar untuk konsentrasi
Munculnya rasa sakit di bagian belakang kepala
Muntah-muntah

Gambar 3 Kafein pada kopi


Inhalan
Inhalan adalah zat yang mudah menguap, dihisap untuk menghasilkan
efek

psikoaktif.

Penggunaan

inhalan

secara

berulang

dapat

mengakibatkan hambatan ritme jantung dan menyebabkan kematian


karena kadar oksigen yang rendah sehingga menyebabkan mati lemas.
Sedangkan penyalahgunaan zat ini secara regular dapat mengakibatkan
masalah serius pada organ vital termasuk otak, jantung, ginjal, dan hati.
Beberapa bahan zat yang sering disalahgunakan sebagai inhalan adalah
sebagai berikut:
1. Larutan yang mudah menguap, misalnya lem, aerosol yang terdapat
pada cat semprot, hairspray, pengharum ruangan dan deodoran.
2. Larutan gas, misalnya penghilang cat kuku, pengencer cat, type-X,
spidol, toluen murni, cairan korek api, bensin, dan pembersih
karburator.
3. Larutan pembersih, misalnya cairan dry clening, penghilang noda, dan
penghilang minyak.
4. Berupa gas, misalnya gas tertawa (nitrous oksida), butana, propana,
helium, anestesi/pembius (nitrous oksida, eter, dan kloroform).

Gambar 4 Inhalan
2) Macam-macam Zat Adiktif Psikotropika
Zat adiktif lainnya merupakan zat atau bahan kimia yang bisa membanjiri
sel saraf di otak, khususnya Reward Circuit, dengan dopamine, yaitu zat kimia
yang mengatur sifat senang, perhatian, kesadaran dan fungsi. Zat Adiktif dapat
mempengarui otak dalam berbagai cara:
Stimulant (Upper) adalah jenis zat adiktif yang merangsang fungsi tubuh
dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya
menjadi aktif, segar dan bersemangat.
Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi) dan Kokain.

Gambar 5 (a) Ekstasi, (b) Kokain


Depressant (Downer) adalah jenis zat adiktif yang berfungsi mengurangi
aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang,
tertidur, bahkan tak sadarkan diri.
Contoh: Opioda (Morfin, Heroin, Codein), Sedative (penenang), Hipnotik (obat
tidur) dan Tranquilizer (anti cemas).

Gambar 6 (a) Kodein, (b) Heroin, (c) Morfin


Hallucinogens adalah jenis zat adiktif yang dapat menimbulkan efek halusinasi
yang bersifat merubah perasaan, pikiran, dan seringkali menciptakan daya
pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu.
Contoh: Kanabis (ganja).

Gambar 7 Ganja
2.3 Kegunaan Zat Aditif dan Zat Adiktif
2.3.1 Keguanaan Zat Aditif
Beberapa fungsi dari zat aditif yang ditambahkan pada makanan di antaranya:
a) Meningkatkan kandungan gizi pada makanan.
b) Menjaga kualitas dan tekstur makanan sehingga tetap terlihat segar.
c) Menjaga agar makanan dapat tahan lama.
d) Memberikan warna pada bahan makanan sehingga terlihat menarik.
e) Memberikan rasa sedap pada makanan.
f) Memberikan aroma yang khas pada makanan.

2.3.2 Kegunaan Zat Adiktif


Zat adiktif sangat diperlukan dalam bidan kesehatan :

a) Sebagai obat anastesi/ obat bius.


b) Sebagai penghilang rasa nyeri (analgesia)
c) Mengurangi rasa tegang sebelum operasi
d) Menghilangkan refleks batuk
e) Menghilangkan rasa cemas sebelum operasi
f) Mengurangi depresi yang disebabkan oleh obat penghambat susunan
syaraf pusat/ analeptik

g) Sebagai Stimulan atau merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan


kegairahan serta kesadaran sehingga kemampuan beraktivitas akan
meningkat selama beberapa jam. Jenis zat stimulan, antara lain kafein,
kokain,

dan

amfetamin.

Contoh

zat

stimulan

disalahgunakan adalah shabu-shabu dan ekstasi.

yang

sekarang

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Zat aditif adalah zat-zat yang ditambahkan pada makanan selama proses
produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Sedangkan Zat
adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat pemakainya kecanduan (adiksi).
Kecanduan adalah suatu keadaan fisik (jasmani) maupun nonfisik (psikologis)
dari seseorang yang merasa tidak normal jika tidak menggunakan zat tertentu.
Berdasarkan sumbernya, zat aditif dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu (1) Zat Aditif Alami yaitu zat aditif yang bisa diperoleh dari alam, seperti
daun salam, daun pandan, kunyit, jahe, gula aren, dan asam dan (2) Zat Aditif
Sintetis (Buatan) yaitu zat aditif yang dibuat dengan serangkaian proses kimia
seperti formalin, Monosodium Glutamat (MSG), dan sakarin. Beberapa jenis zat
aditif yang sering ditemukan dalam produk - produk makanan, antaralain
pewarna, penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa, Pengawet, pemanis, dan
anti oksidan.
Zat adiktif dibagi menjadi dua golongan, yaitu (1) zat adiktif golongan
psikotropika antaralain berbagai macam obat perangsang (stimulan), obat penekan
susunan saraf pusat (depresan), dan obat halusinasi (halusinogen). (2) zat adiktif
non-psikotropika antara lain minuman beralkohol, rokok, kafein, dan inhalan.

Daftar Pustaka
Azmiyati, Siti Riza. 2014. Penggunaan Napza: Jurnal Kesehatan Masyarakat,
(Online), (Journal.unnes.ac.id). Diakses 23 Januari 2016
Hawari, D. (1990). Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika,
Alkohol, dan Zat Adiktif). Jakarta: FK-UI
Hidayati, Sri dkk.2009. Sains Biologi 2 SMA/MA. Jakarta: Bumi Aksara
Maulidya, Nurma. 2012. Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika dalam Bidang
Kesehatan, (Online), ( http://nurmamaulidya.blogspot.co.id/2012/03/penggunaan-zat-adiktif-danpsikotropika.html). Diakses 23 Januari 2016
Puspita, Diana. 2009. Alam Sekitar IPA Terpadu. Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
Wresniwiro. (1999). Narkoba dan Pengaruhnya. Jakarta: Widya Medika.
..