Anda di halaman 1dari 29

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Perusahaan
1. Sejarah PT. Semen Padang
PT. Semen Padang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
di lingkungan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin dan Kimia. PT.
Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia dan
merupakan salah satu Industri Kimia di Sumatera Barat yang terletak di
kelurahan Indarung Kecamatan Lubuk Kilangan yang jaraknya + 14 Km
dari Pusat Kota Padang dengan ketinggian + 200 M dari permukaan laut.
Tepatnya pada tahun 1906 seorang Ilmuwan Belanda yang bernama
Ir. Carl Christophus Lau menemukan deposit batu kapur di sekitar Bukit
Karang Putih dan Bukit Ngalau. Setelah di teliti, selain batu kapur disana
terdapat pula batu silika dan tanah liat yang mana bahan- bahan tersebut
semuanya merupakan bahan baku untuk membuat semen. Maka diajukan
proposal untuk mendirikan pabrik semen. Proposal tersebut disetujui
tanggal 18 Maret 1910.
Kemudian pabrik didirikan oleh ilmuwan Belanda dengan nama N.V.
Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij (NI-PCM). Dengan
akte notaris Johanes Pieter Smith No. 385. Menurut status pendiriannya,
perusahaan itu bertujuan untuk mengelola pabrik semen sekaligus
perdagangan semen. Menurut catatan sejarah, pabrik semen di Indarung
adalah satu-satunya di Hindia-Belanda waktu itu, bahkan sampai Indonesia

merdeka. Kantor pusatnya terletak di Prins Hendrikade 123, Amsterdam,


dan kantor cabangnya di Padang di kelola oleh Firma Geroeder Veths
Maatschappij yang sekaligus bertindak sebagai perwakilan perusahaan di
Hindia-Belanda.
Dua tahun pertama sejak berdiri merupakan tahun-tahun eksperimen,
dan produksi pertama tahun 1911 tercatat sebesar 25.000 vaten (satuan
ukuran berat semen berupa drum =170 Kg ) atau sekitar 4.250 ton setiap
bulan (+ 51.000 ton per tahun). Penampungan semen pada tahun itu masih
menggunakan drum dan baru memakai karung kertas. Uji coba mesin
pabrik dan mutu produksi terus dikontrol, karena belum sepenuhnya
memuaskan.
Kini, PT Semen Padang itu tumbuh dan berkembang. Tidak hanya
menjadi kebanggaan masyarakat Sumbar dimana tempat perusahaan itu
berdiri, akan tetapi sekaligus menjadi kebanggaan nasional. Perkembangan
ini ditandai dengan meningkatnya kapasitas produksi dari tahun ke tahun,
yaitu sebagai berikut :
a.

Tahun 1970 diadakan rehabilitas I dan dapat diselesaikan


pada tahun 1973 dengan kapasitas produksi menjadi 220.000
ton/tahun.

b.

Tahun 1973 dimulai rehabilitas II dan dapat diselesaikan

tahun 1976 sehingga kapasitas produksi menjadi 330.000 ton/tahun.


c.
Tahun 1977 dimulai proyek Indarung II dengan teknologi
pembuatan semen proses kering bekerja sama dengan F.L. Smidth dan

Co. AS (Denmark). Proyek selesai tahun 1980 kapasitas produksi


d.

660.000 ton/tahun.
Tahun 1981 dibangun dua pabrik lagi yaitu proyek
Indarung III A bekeja sama dengan Denmark dan III B bekerja sama
dengan India. Proyek Indarung III A selesai tahun 1983 dengan
kapasitas

660.000

ton/tahun

sedangkan

III

mengalami

keterlambatan dan baru bisa diselesaikan pada tahun 1987 dengan


e.

kapasitas produksi 660.000 ton/tahun.


Tahun 1991 dimulai proyek Indarung III C yang
pelaksanaannya dilakukan secara swakelola oleh pihak PT. Semen
Padang. Proyek ini selesai pada tahun 1994 yang berkapasitas
produksi 660.000 ton/tahun. Proyek III B dan III C sekarang diberi

f.

nama dengan Indarung IV berkapasitas produksi 1.260.000 ton/tahun.


Tahun 1995 dibangun Indarung V berkapasitas Produksi
5..500.000 ton/tahun.

2. Struktur Organisasi
Pertambangan PT Semen Padang memiliki struktur organisasi yang
kompleks, yang bertujuan untuk kemudahan pengawasan kegiatan industri,
baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan penambangan sesuai
dengan kompetensi yang dimiliki tenaga kerja sehingga terciptalah
kegiatan yang teratur, efisien dan menguntungkan. Adapun struktur
organisasi yang merupakan Departemen tempat penulis melakukan
kegiatan praktek lapangan industri terlampir pada lampiran II.

10

Departemen Tambang PT. Semen Padang terdiri atas biro-biro yang


mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :
a. Biro Penambangan
Biro ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
menyediakan bahan baku semen berupa batu kapur dan batu silika
sesuai dengan permintaan pabrik. Biro penambangan ini terdiri atas
tiga bidang, yaitu:
1)

Bidang Drilling, Blasting & Mining Service


Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab atas kegiatan
pemboran, peledakan dan pelayanan di tambang.

2) Bidang Loading & Hauling


Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab atas kegiatan
pemuatan dan pengangkutan batu kapur maupun batu silika. Tugas
pada bidang ini berhubung dengan Alat berat yaitu Dump Truck dan
Excavator.
3) Bidang crushing & Conveying
Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab atas kegiatan
peremukan dan transfer batu kapur maupun batu silika ke storage
sesuai dengan kebutuhan pabrik.

b. Biro Pemeliharaan Alat Tambang

11

Biro ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan


pemeliharaan dan perbaikan terhadap alat-alat tambang. Biro
pemeliharaan alat berat tambang ini terdiri atas tiga bidang yaitu:
1) Bidang pemeliharaan Crusher & Alat Transport I
Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan pemeliharaan alat-alat yang berada di tambang dan unit
crusher& belt conveyor ( tambang ) yang mengalami kerusakan.
2) Bidang Pemeliharaan Crusher & Alat Transport II
Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan pemeliharaan dan perbaikan terhadap crsuhe , belt dan
alat berat Indarung ( pabrik ) sperti craine, wheelloader, forcleap
dan sebagainya.
3) Bidang PLI dan Alat Tambang
Bidang ini bertugas dalam perawatan sistem kelistrikan dan
instrumen listrik dari alat-alat tambang yang ada di PT. Semen
Padang. Jika ada masalah tentang kelistrikannya, maka bidang ini
yang bertanggung jawab memperbaikinya.
c. Biro Pemeliharaan Alat Berat Tambang
Biro ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
memelihara alat berat tambang dan memperbaikinya jika ada
kerusakan untuk mendukung kebutuhan Departemen Tambang. Biro
pemeliharaan alat berat tambang ini terdiri atas tiga bidang yaitu:
1) Bidang Pemeliharaan Alat Berat Tambang

12

Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab atas


pemeliharaan terhadap Alat Berat Tambang yang bersift trouble
shouting.
2) Bidang Bengkel Tambang
Mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk pemeliharaan
terencana seluruh alat khusus yang sifatnya General Over Houl.
3)Bidang Pemeliharaan Listrik dan Instrumen Alat Berat Tambang
(PLIAT)
Bidang ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
melakukan pemeliharaan sistem listrik dan instrumen yang terdapat
pada alat berat tambang.
d. Biro Perencanaan , Pengembangan & Evaluasi Tambang
Biro ini bertugas untuk evaluasi pemeliharaan dan kinerja
peralatan, pengendalian & evaluasi biaya, lingkungan dan Safety.
3. Visi, Misi dan Budaya Kerja PT Semen Padang
PT Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia
dengan motto Kami telah membuat sebelum yang lain memikirkannya
memang sangat relevan. Kesuksesan PT Semen Padang terbukti dengan
pengembangan produksi dalam membangun unit pabrik baru secara
swakelola sampai kepada kemampuan rancang bangun perekayasaan
dengan aplikasi membuat peralatan pabrik.
a. Visi PT Semen Padang
"Menjadi perusahaan persemenan yang andal, unggul dan
berwawasan lingkungan di Indonesia bagian barat dan Asia Tenggara."
b. Misi PT Semen Padang

13

1) Memproduksi dan memperdagangkan semen serta produk tekait


lainnya yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan.
2) Mengembangkan SDM yang kompeten, profesional

dan

berintegritas tinggi.
3) Meningkatkan kemampuan rekayasa dan engineering untuk
mengembangkan industri semen nasional.
4) Memberdayakan, mengembangkan dan mensinergikan sumber
daya perusahaan yang berwawasan dan lingkungan.
5) Meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan

dan

memberikan yang terbaik kepada stakeholder.


c. Budaya Kerja PT Semen Padang
PT Semen Padang mempunyai nilai budaya kerja yang
diterapkan dalam perusahaannya yang dikenal dengan istilah
CHAMPS, yang terdiri dari:
1) Ciptakan visi jelas yang sinergis untuk bersaing
2) Hidupkan semangat belajar terus menerus
3) Amalkan tugas dengan akuntabilitas tinggi
4) Mantapkan usaha untuk penuhi harapan pelanggan
5) Praktekkan etika bisnis dengan integritas tinggi
6) Senantiasa tingkatkan kerjasama
4. Jam Kerja
Jam kerja perusahaan PT. Semen Padang disesuaikan dengan
jenjang pendidikan yang dimiliki. Sebagian besar karyawan yang
dipekerjakan sebagai pelaksana yang berijazah SMA atau sederjat, jam
kerjanya dikenakan jadwal shift dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Shift I

07.00 14.00

14

b. Shift II
c. Shift III

:
:

14.00 21.00
21.00 07.00

Jam kerja tersebut dilakukan dengan estimasi adanya waktu yang


hilang selama pergantian shift, sedangkan karyawan yang nonshift
mempunyai jabatan lebih tinggi, berijazah diploma 3 atau Strata 1 dengan
jam kerja 5 hari kerja dalam seminggu dengan waktu kerja dari jam 08.00
17.00.
Proses

penambangan

batu

kapur

di

PT.

Semen

Padang

membutuhkan serangkaian kegiatan seperti survey pemetaan pada


kawasan yang akan di tambang, pengeboran, peledakan, loading hoaling,
serta crushing .
Agar kegiatan penambangan berjalan lancar, maka PT. Semen
Padang melakukan kegiatan penambangan dengan tetap memperhatikan
keselamatan kerja, kondisi alat serta kondisi jalan di lokasi penambangan.

B. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi pabrik pengolahan PT. Semen Padang berada di Bukit Karang
Putih terletak disekitar Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Padang,
Propinsi Sumatera Barat + 15 Km di sebelah Timur Kota Padang (Gambar 1).
Secara geografis terletak pada 10 04 30 LS sampai 10 06 30 LS dan 1000
15 30 BT sampai 1000 10 30 BT. Berbatasan ke arah barat dengan kota
padang, ke arah Timur dengan Kabupaten Solok, ke arah Utara dengan
Kabupaten Agam dan ke arah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pesisir
Selatan. Daerah praktek lapangan industri dilalui oleh jalan utama yang

15

menghubungkan kota padang dan kota Solok. Lokasi penelitian dapat dicapai
dari kota Padang lewat jalan darat beraspal dengan kendaraan roda empat
sampai di lokasi kantor operasi tambang. Lokasi penambangan batu kapur
berada di Bukit Karang Putih yang terletak di Desa Karang Putih. Karang
Putih adalah sebuah perkampungan kecil yang terletak 2 Km di sebelah
Selatan Indarung dan terletak antara 005651,66 sampai 005750,56LS dan
10002651,76 BT sampai dengan 1000266,56 BT.
Lokasi penambangan batu kapur ini dihubungkan dengan jalan yang
telah dibeton dan dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum atau
naik kendaraan milik karyawan PT. Semen Padang.
C. Iklim dan Curah Hujan
Iklim di daerah PT. Semen Padang adalah iklim tropis yang memiliki
dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan kisaran
temperatur 27o 35o
C
Cuaca dapat mempengaruhi efektivitas kerja pada penambangan dengan
menggunakan metode tambang terbuka. Curah hujan Kota Padang bisa di
katakan rendah.Hal ini disebabkan karena letak Kota Padang di tepi pantai.

Sumber : Google
Gambar 1.Peta Sumatera Barat

16

Sumber : Google
Gambar 2. Lokasi PT Semen Padan
D. Keadaan Geologi dan Morfologi
Peta Geologi PT. Semen Padang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Sumber: PT. Semen Padang (2016)


Gambar 3. Peta geologi permukaan Bukit Karang Putih

17

Keadaan geologi daerah ini merupakan bukit yang sangat terjal dengan
sudut lereng alami mencapai 450. Bukit Karang Putih pada umumnya
ditempati oleh batu kapur (gamping) dengan terobosan batuan beku (basalt,
andesit, granit). Lapisan batu kapur terletak di atas batuan endapan vulkanik
dengan ketebalan 100 m-350 m. Di sebelah Selatan penambangan ditemukan
batuan beku basalt. Hal ini dapat diperkirakan bahwa di daerah ini juga
ekstrusi basalt (proses pembentukan dari basalt menjadi batu kapur). Ekstursi
ini yang kemudian menyebabkan terjadinya penghambluran batu kapur
menjadi karst dengan kristal-kristal yang besar-besar. Dinding-dinding bukit
batu ini memperlihatkan gejala perapuhan melalui kekar-kekar yang terdapat
di daerah tersebut yang menyebabkan rongga-rongga.
Arah Strike dan Dip bidang perlapisan yang terdapat di Bukit Karang
Putih adalah N 25/74.

E (Departemen Tambang PT. Semen

Padang). Merupakan suatu front Antiklin dengan poros perlapisan berarah


lebih kurang Timur Laut sampai Barat Daya. Lapisan tanah penutup yang
dijumpai pada lokasi penambangan terdiri dari batu kapur lapuk dan
basalt.Morfologi Bukit Karang Putih terbagi dua unit morfologi, yaitu
morfologi perbukitan terjal dan morfologi lembah. Morfologi perbukitan
terjal menempati bagian Utara Tengah, Timur dan Selatan daerah
penambangan. Mempunyai pegunungan berarah Barat-Laut Tenggara dan
Timur-Barat. Mempunyai puncak yang landai ke arah utara dan puncak yang
terjal serta ber relief kasar kearah Selatan. Morfologi ini berada pada
ketinggian antara 262-525 m diatas permukaan laut, dan dibatasi oleh lereng

18

yang terjal di bagian Utara, Barat, Timur dan Selatan dengan sudut Berkisar
antara 450-750.
Morfologi

lembah

terletak

dibagian

barat

dari

penambangan,

memanjang kearah Barat Laut-Tenggara, searah dengan pegunungan


perbukitan dan arah aliran sungai. Morfologi ini berada pada ketinggian 250400 mdpl. Umumnya ditempati oleh endapan vulkanik (tufa) dan bahan
timbunan yang beaneka ragam (daerah loading).
E. Stratigrafi dan Ganesa Bahan Galian
Tatanan Stratigrafi daerah Bukit Karang Putih tersusun oleh Lithologi
berurutan dari tua ke muda adalah batuan kersikan anggota formasi kuantan
dengan batuan gamping kristalin, berumur permokarbon, secara tidak selaras
berada diatas satuan batuan kersikan dan satuan batu gamping yang
terendapkan bersama satuan konglomerat anggota formasi Tuhur, berumur
Trias tengah akhir.
Bukit Karang Putih berumur kala miosen tengah dan intrusi batuan
beku. Di sebelah Selatan daerah Bukit Karang Putih berumur kala miosen
akhir. Secara fisik sangat mengganggu kondisi batuan yang terobosannya,
Perubahan yang paling menonjol dengan adanya intrusi ini adalah terlihatnya
perubahan batu gamping secara berangsur-angsur menjadi marmer disekitar
sumber instrusi.
Satuan batuan yang paling muda yang terdapat di Bukit Karang Putih
adalah vulkanik berumur tersier atau kuarter dan secara tidak selaras
menutupi satuan batuan lain yang ada sebelumnya.
Sedangkan terjadi secara anorganik, jenis batuan gamping yang terjadi
dalam kondisi iklim dan suasana tertentu dalam air laut atau air tawar,

19

Magnesium, lempung dan pasir merupakan

unsur pengotor pengendap

bersama-sama pada saat proses pengendapan. Keberadaan pengotor batu


gamping memberikan klasifikasi batu gamping. Apabila pengotornya
Magnesium, maka batu gamping tersebut diklasifikasikan batu dolomitan.
Begitu juga apabila pengotornya lempung maka diklasifikasikan batu
gamping lempungan, dan batu gamping pasiran apabila pengotornya pasir.
Batu gamping yang mengalami metamorfosa akan berubah
penampakannya maupun panas, sehingga batu gamping tersebut menjadi
berbaur seperti yang dijumpai pada marmer. Selain itu air tanah juga sangat
berpengaruh terhadap penghabluran kembali pada permukaan batu gamping
sehingga terbentuk hablur kalsit. Peta Topografi daerah Bukit Karang Putih
PT. Semen Padang dapat dilihat pada lampiran A.
Batugamping yang mengalami metamorfosa

akan

berubah

penampakannya maupun panas, sehingga batugamping tersebut menjadi


berbahur, seperti yang dijumpai pada marmer. Selain itu air tanah juga sangat
berpengaruh terhadap penghabluran kembali pada permukaan batugamping
sehingga terbentuk halbur kalsit. Statigrafi daerah Bukit Karang Putih PT.
Seman Padang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

20

Tebal Rata- Simbol

Pemerian

Rata (m)
0,8-3,0

Material

Sumber

Unit Batuan
Endapan

Batuan

Resen

Endapan

Bahan

0,4-2,5

Timbunan/ Urugan
Lempung Residu/ Alumina

13,6

Foil
Tufa

Al2O3
Silika
(SiO2)

Vulkanik
68,9

Tufa

Kersikan

Tektonik

Deposit

(Bahan
Batuan
Metasedimen
dan Metamorf

360

Rombakan)
Batugamping-

Kapur

>500

Marmer
Batulempung

Cao,Mgo
Silika

Tufaan

(Batuan (SiO2)

Kersikan)
Sumber : Departemen Tambang PT. Semen Padang, 2000.
Gambar 4. Stratigrafi daerah PT Semen Padang

F. Sifat-sifat dan Kualitas Batukapur


Berdasarkan hasil contoh permukaan dan inti bor dilaboratorium PT.
Semen Padang di pertengahan 2010, diketahui sifat fisik batu kapur di Daerah
Bukit Karang Putih sebagai berikut:
Warna : Putih susu/bening, abu-abu gelap sampai terang
Kekerasan

: 3-5 skala Mohs

21

Belahan

: Bentuk sempurna

Pecahan

: Kaca, bentuk earthy

Sifat dalam

: Dari yang keras, liat hingga brittle

Density

: 2,60 ton/BCM dan 1,72 ton/LCM

Kandungan :CaO : 52%, MgO : 0,44%, FeO : 0,7%, SiO : 7%, H2O : 4,4%
Sisipan

: Lempung tufaan yang berasosiasi dengan rijang

Test Compresor : Limestone : 570,4 616 kg/cm


Test Abrasive : 0,064 4,7 km/s
Cepat Rambat : 2,2 4,7 km/s
Tahanan Jenis : 460- 2000 Ohmmeter
Penggunaannya disesuaikan oleh kualitas batu kapur dan sangat
dipengaruhi oleh unsur-unsur kimia yang terkandung, terutama CaO dan
MgO.
G. Jumlah Cadangan
Berdasarkan perhitungan cadangan block model section dengan
Datamine Studio 3 dari level + 520 sampai level + 320, yang merupakan sisa
Area penambangan 206 Ha (SIPD lama) yaitu area deposit batu kapur yang
ditambang sejak tahun 1953. Dahulunya area +520 sampai +320 merupakan
batas akhir penambangan yang dilakukan kegiatan penambangan kembali
sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan cadangan batu kapur. Jumlah
cadangan mineable batu kapur yang terdapat di area X ( Pit Limit ) Bukit
Karang Putih adalah 49,9 juta ton.

22

Sebagian tanah penutupnya (over burden) adalah batu silika dan


basalt. Daerah ini mempunyai dua jenis batu kapur, yaitu Hard Lime stone
dan Sugar Lime stone.
H. Dasar Teori
1. Definisi Semen
Semen berasal dari bahasa latin caementum yang berarti bahan
perekat. Secara sederhana, definisi semen adalah bahan perekat atau lem,
yang bisa merekatkan bahan bahan material lain seperti batu bata dan
batu koral hingga bisa membentuk sebuah bangunan. Sedangkan dalam
pengertian secara umum semen diartikan sebagai bahan perekat yang
memiliki sifat mampu mengikat bahan bahan padat menjadi satu
kesatuan yang kompak dan kuat. (Bonardo Pangaribuan, Holcim)
Adapun pengertian semen portland Berdasarkan Standar Nasional
Indonesia (SNI) nomor 15-2049-2004 adalah semen hidrolisis yang
dihasilkan dengan cara menggiling terak (Clinker) portland terutama yang
terdiri dari kalsium silikat (xCaO.SiO2) yang bersifat hidrolis dan digiling
bersama sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk
kristal senyawa kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) dan boleh ditambah dengan
bahan tambahan lain (Mineral in component).
Hidrolis berarti sangat senang bereaksi dengan air, senyawa yang
bersifat hirolis akan bereaksi dengan air secara cepat. Semen portland
bersifat hidrolis karena di dalamnya terkandung kalsium silikat
(xCaO.SiO2) dan kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) yang bersifat hidrolis dan
sangat cepat bereaksi dengan air. Reaksi semen dengan air berlangsung
secara irreversibel, artinya hanya dapat terjadi satu kali dan tidak bisa
kembali lagi ke kondisi semula.

23

2. Komposisi Kimia Semen


Bahan kimia utama penyusun semen adalah kalsium silikat
(xCaO.SiO2), kalsium sulfat (CaSO4.xH2O) dan bahan tambahan lain
(Mineral in component) yang akan berperan sebagai cement filler.
Dimana mineral kalsium silikat (xCaO.SiO2) bersifat sangat hidrolis, di
dalam industri semen mineral mineral penyusun semen diistilahkan
sebagai C3S, C2S, C3A dan C4AF yang berarti :
C3S

3CaO.SiO2

C2S

2CaO.SiO2

C3A =

3CaO.Al2O3

C4AF =

4CaO.Al2O3.Fe2O3

Inilah yang membuat industri semen berbeda dengan industri kimia


pada umumnya, dimana pada industri kimia lain C dipakai untuk Carbon,
S untuk Sulfur, dan F untuk Fluoro sedangkan pada industri semen
dipakai hanya untuk kemudahan dalam pelafalan. Setiap mineral
penyusun semen tersebut, memiliki peran dan fungsi masing masing
terhadap sifat semen. Berikut fungsi dari masing masing material,

24

Persentase untuk tiap material tersebut akan berbeda tergantung


dari jenis semen yang di produksi dan kondisi operasi tiap tiap pabrik
semen yang berbeda beda, tetapi secara umum range persentase untuk
tiap material diberikan sebagai berikut,

3. Poses Produksi Semen


Gambar 4. Diagram Alir Proses Produksi PT. Semen Padang

25

Proses utama di pabrik semen terdiri dari tiga tahapan proses:


a. Proses produksi campuran bahan baku
Proses produksi campuran bahan bakumemerlukan mill tegak atau
mill jenis tabung sebagai mesin utama untuk grinding dan
pengeringan. Bahan baku yang dimasukkan terdiri dari batu kapur,
batu silika, tanah liat, slag (kerak) tembaga dengan komposisinya
masing-masing dan produknya adalah campuran bahan baku. Energi
listrik digunakan untuk grinding dan gas panas (gas buang kiln)
digunakan untuk pengeringan. Proses ini menghasilkan debu yang
ditampung dengan electrostatic precipitator.
b. Proses produksi klinker
Alat utama untuk produksi klinker adalah kiln. Proses ini terdiri
dari kalsinasi, pembentukan klinker pada temperatur 14000C dan
pendinginan. Bahan yang dimasukkan adalahcampuran bahan baku
dan batubara sebagai bahan bakar. Proses ini mengeluarkan debu
klinker yang ditampung dalam electrostatic precipitator dan udara
panas dibuang. Dari udara panas yang dibuang ini tentunya
menghasilkan gas CO2 yang berlebihan apabila bahan bakar yang
digunakan adalah batubara. Hal ini akan berdampak pada emisi gas
rumah kaca yang sangat mencemari lingkungan.
c. Proses produksi semen
Alat utama untuk produksi semen adalah mill bentuk tabung
untuk menghaluskan klinker dan gypsum. Sistem ini menggunakan
listrik untuk menjalankan alat.
Secara umum proses produksi semen terdiri dari beberapa tahapan:

26

a. Tahap penambangan bahan mentah (quarry). Bahan dasar semen


adalah batu kapur, tanah liat, pasir besi dan pasir silica. Bahan-bahan
ini ditambang dengan menggunakan alat-alat berat kemudian dikirim
ke pabrik semen.
b. Bahan mentah ini diteliti di laboratorium, kemudian dicampur dengan
proporsi yang tepat dan dimulai tahap penggilingan awal bahan
mentah dengan mesin penghancur sehingga berbentuk serbuk.
c. Bahan kemudian dipanaskan di preheater
d. Pemanasan dilanjutkan di dalam kiln sehingga bereaksi membentuk
kristal klinker
e. Kristal klinker ini kemudian didinginkan di cooler dengan bantuan
angin. Panas dari proses pendinginan ini di alirkan lagi ke preheater
untuk menghemat energi
f. Klinker ini kemudian dihaluskan lagi dalam tabung yang berputar
yang bersisi bola-bola baja sehingga menjadi serbuk semen yang
halus.
g. Klinker yang telah halus ini disimpan dalam silo (tempat
penampungan semen mirip tangki minyak pertamina)
h. Dari silo ini semen dipak dan dijual ke konsumen

27

4. Jenis - Jenis Bahan Bakar yang Digunakan di Industri Semen


Pabrik semen merupakan pabrik yang intensif dalam pemakaian
energi panas dari bahan bakar. Oleh sebab itu masalah bahan bakar dan
teknologi pembakaran merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai
baik oleh engineers proses maupun para operator kiln. Selain itu apabila
pabrik semen dapat memakai bahan bakar dengan konsumsi panas
spesifik yang cukup rendah, maka keuntungan biaya produksi dapat
diperoleh dengan pasti karena sekitar 30% biaya produksi berasal dari
biaya bahan bakar ini.
Tujuan pembakaran bahan bakar baik di kiln maupun di kalsiner
adalah untuk mengubah panas latent yang dimiliki bahan bakar menjadi
panas hasil pembakaran yang langsung dapat digunakan untuk mengubah
atau mereaksikan material baku menjadi klinker. Selain itu proses
pembakaran tidak cukup hanya bertujuan menghasilkan sejumlah energi
atau kalor yang dapat segera dimanfaatkan oleh bahan baku, tetapi masih
diperlukan untuk menghasilkan temperatur gas hasil pembakaran yang
tinggi agar proses perubahan dari material baku menjadi klinker dapat
berjalan dengan baik serta menghasilkan klinker dengan kualitas baik. Di
kiln, temperatur gas di atas 1400oC sangat diperlukan untuk proses
klinkerisasi.
Secara umum dan berdasarkan wujudnya, jenis-jenis bahan bakar
dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis yaitu bahan bakar padat, cair
dan gas. Contoh bahan bakar padat adalah batu bara, arang, kayu, pet
coke, dan lain-lain. Untuk bahan bakar cair misalnya IDO, minyak solar,

28

bensin, minyak tanah, bahan bakar sintetik, dan lain-lainnya. Sedangkan


yang wujudnya gas antara lain LPG, gas alam, dan lainnya.
a. Batubara
Batubara diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan
pada sifat-sifat dan umur terbentuknya antara lain lignit, bituminous,
anthracite, dan lain-lain. Beberapa sifat yang membedakan antara
beberapa jenis batubara tersebut antara lain diperlihatkan pada tabel 1.

29

Klasifikasi di atas didasarkan pada umur terbentuknya batubara


mulai dari yang termuda dengan kadar volatile yang tinggi, berumur
menengah seperti bituminous hingga yang paling tua yaitu anthracite
dengan kadar volatile yang rendah. Kandungan volatile ini
mempunyai pola kecenderungan yang sama dengan kadar air. Dengan
umur batubara yang lebih tua maka kandungan airnya akan semakin
sedikit dan unsur padatan lainnya semakin kompak. Namun untuk
kandungan ash (debu) dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa
kadarnya bukan merupakan fungsi dari umur batubara. Oleh sebab itu
kandungan debu perlu diketahui melalui uji laboratorium. Dari tabel 1
tersebut terlihat bahwa semakin tua umur batubara kadar elemen yang
berbentuk gas seperti hidrogen, nitrogen, dan oksigen mengecil dan
sebaliknya kadar karbonnya akan meningkat.
Apabila dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan gas,
kadar hidrogen pada batubara relatif lebih rendah (hanya berkisar
antara 2 5% H), sehingga gas hasil pembakarannya akan

30

mengandung uap air yang lebih sedikit dan perbedaan antara gross dan
net heating value adalah kecil (berkisar antara 200 300 kkal/kg).
Nilai kalor batubara sangat tergantung pada kandungan air dan debu.
Akan tetapi kadar volatile juga berpengaruh secara kompleks pada
nilai kalor ini. Karena rangkaian hidrokarbon pada batubara
menghasilkan nilai kalor yang lebih tinggi dibanding karbon bebas,
maka pada umumnya untuk batubara dengan umur menengah hingga
tua kenaikan kadar volatile akan meningkatkan nilai kalornya. Namun
untuk lignite yang memiliki kadar gas tinggi, hal sebaliknya justru
yang diperoleh karena proporsi unsur nitrogen dan oksigen dalam
volatile matter meningkat dan kedua unsur ini tidak menghasilkan
kalor pada proses pembakaran bahkan justru menurunkan temperatur
adiabatiknya.
Kadar belerang dalam batubara bervariasi tergantung pada asal
tambang batubara tersebut. Beberapa tempat mengandung kadar
sulphur rendah, namun di lain tempat bisa tinggi. Kandungan sulphur
ini sangat berpengaruh pada operasi pembakaran di kiln, mengingat
sifat-sifatnya yang kurang menguntungkan antara lain dapat
mempengaruhi fluiditas rawmix dan lainnya. Oleh karena itu biasanya
diinginkan batubara dengan kadar belerang yang rendah untuk operasi
kiln. Untuk mengetahui beberapa sifat penting yang dimiliki oleh
bahan bakar padat, khususnya batubara, perlu dilakukan beberapa
pengujian laboratorium antara lain:

31

1) Proximate analysis untuk menentukan kadar volatile matter,


moisture dan debu.
2) Ultimate analysis untuk menentukan kadar karbon, hidrogen,
belerang, nitrogen, dan oksigen. Dari hasil ultimate test ini akan
dapat diperkirakan nilai kalor dari bahan bakar.
3) Analisis kimia untuk menentukan element apa saja yang
terkandung didalam ash (debu). Apabila elemen dan kadarnya
dapat diketahui akan lebih meningkatkan presisi kita dalam
melakukan raw mix desain (akan dibahas dalam modul lain).
4) Analisis fisika untuk menentukan nilai kalor gross yang diikuti
dengan perhitungan nilaikalor netto berdasarkan kadar air yang ada
di dalam bahan bakar serta H2O yang akan dihasilkan dalam proses
pembakaran.
5) Test lainnya yang biasanya dilakukan antara lain untuk mengetahui
indeks kekerasan yang berguna pada untuk proses grinding bahan
bakar, indeks abrasi untuk keperluan perkiraan material peralatan
grinding dan transport serta perkiraan keausannya, serta kehalusan
butir hasil coal mill untuk keperluan kemudahan bahan bakar
tersebut saat dibakar.
Untuk memperoleh proses pembakaran yang baik dan api yang
cocok dengan proses pembentukan klinker di dalam kiln, kehalusan
butir batubara merupakan parameter yang penting. Pada umumnya
untuk batubara dengan kadar volatile rendah, semakin lembut ukuran
butir proses pembakaran akan berjalan lebih cepat. Namun untuk
batubara dengan kadar volatile tinggi, sebaiknya ukuran butir dibuat

32

lebih kasar untuk mengatur laju keluarnya gas dari padatan sehingga
tidak terlalu membahayakan proses pembakaran dan dapat dikontrol
dengan lebih baik. Jika keluarnya gas dari padatan terlalu cepat,
percampurannya dengan udara akan menyulitkan pengaturan proses
pembakaran seperti terjadi pada proses pembakaran bahan bakar gas.
b. Bahan bakar minyak
Bahan bakar minyak masih banyak digunakan di pabrik semen
di Indonesia walaupun bukan merupakan bahan bakar utama. Pada
umumnya bahan bakar minyak digunakan saat heating up karena
sifatnya yang mudah dibakar dan kestabilan apinya walaupun proses
pembakaran berlangsung pada kondisi lingkungan yang masih dingin
atau pada kondisi dimana terdapat problem dengan batubara. Banyak
sekali jenis bahan bakar minyak ini, misalnya IDO, HFO, dan lainlain. Contoh beberapa sifat yang dimiliki oleh bahan bakar minyak
diberikan pada tabel 2.

Kadar belerang bahan bakar minyak tergantung pada asal sumber


minyak tersebut. Kadar belerang ini bisa mencapai sekitar 4,5%. Sifat
specific gravity penting untuk minyak ini karena terkorelasi dengan
nilai kalor bahan bakar. Pada umumnya semakin tinggi nilai specific
gravity semakin rendah nilai kalornya.
c. Bahan bakar Gas

33

Bahan bakar gas, diperoleh dari berbagai sumber dalam bentuk


gas. Gas alam merupakan bahan bakar yang baik untuk proses
produksi semen karena memerlukan instalasi yang tidak rumit dan
mudah dikontrol kaena biasanya memiliki komposisi kimia yang
relatif stabil serta bersih. Problem utama dalam pembakaran bahan
bakar

gas

adalah

ledakan

(explosion)

sehingga

memerlukan

penanganan khusus untuk keamanan instalasinya. Hasil analisis


komposisi kimia gas alam secara umum diberikan pada tabel 3.

Dari tabel 3 tersebut, tampak bahwa kadar CH4 merupakan


tertinggi dan metana merupakan komponen utama gas alam dengan
kadar 80% - 95%. Biasanya dalam gas alam ini tercampur nitrogen
yang tidak menghasilkan kalor pada proses pembakaran. Pada
umumnya kandungan belerang pada gas alam sangat rendah. Selain itu
volume gas hasil pembakaran relativ tinggi karena kandungan
hidrogen yang tinggi, sehingga padas terbuang bersama exhaust gas
lebih tinggi dibanding hasil pembakaran bahan bakar lainnya. Titik
nyala gas alam cukup tinggi yaitu sekitar 600oC, sehingga
memerlukan perlakuan khusus bila digunakan untuk heating up kiln

34

karena temperatur dinding kiln belum tinggi sehingga radiasi dari


dinding untuk memanaskan bahan bakar dan udara belum cukup. Pada
umumnya kiln dengan bahan bakar gas memiliki konsumsi panas
spesifik yang relatif rendah dibanding dengan kiln berbahan bakar
selain gas karena untuk bahan bakar gas ini udara primer dapat dijaga
pada persentase yang rendah sehingga panas rekuperasi pada cooler
tinggi. Walaupun demikian udara primer tetap diperlukan khususnya
untuk mendinginkan burner. Biasanya tekanan gas yang datang ke
pabrik kita cukup tinggi sehingga perlu diturunkan sebelum dibakar.
Pada umumnya tekanan gas alam cukup untuk menghasilkan
momentum percampuran dengan udara. Di indonesia tidak banyak
pabrik yang memanfaatkan gas alam sebagai bahan bakar utamannya.
Hal ini barangkali lebih dikarenakan harganya yang relatif mahal
dibanding batubara selain tidak semua sumber gas alam berdekatan
dengan lokasi pabrik.
d. Bahan bakar alternatif
Bahan bakar alternatif adalah bahan bakar yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar alternatif di pabrik semen untuk mengurangi
konsumsi bahan bakar utama dalam rangka program penghematan
energi. Beberapa contoh bahan bakar alternatif ini antara lain pet coke,
karet, kayu, sekam padi, serbuk gergaji, cocopeat dan kertas. Bahan
bakar alternatif ini banyak digunakan oleh pabrik semen di luar
negeri. Penggunaan bahan bakar alternatif diharapkan dapat
memberikan solusi ramah lingkungan terhadap permasalahan limbah,

35

mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam tak terbarukan,


mengurangi emisi, dan peluang kegiatan ekonomi untuk masyarakat.
5. Biaya Operasional Untuk Bahan Bakar Semen
Biaya yang dikeluarkan untuk perolehan bahan bakar semen adalah
biaya yang cukup signifikan. Apabila pembakaran dilakukan dengan
menggunakan bahan bakar batubara semata, maka hal ini tentunya akan
menghabiskan biaya yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan
penggunaan bahan bakar batubara yang dicampur dengan biomassa.
Selain dapat mengurangi emisi gas CO2 dalam artian ramah lingkungan
bahan bakar ini mudah didapatkan dan tentunya dengan harga yang jauh
lebih murah.

?
I. Kerangka Konseptual

INPUT

PROSES

OUTPUT

Tahapan kegiatan.

Desain aktual
Analisis
peledakan
menggunakan
Isian bahan
Blastware
peledak per

Analisis
data
delay
menggunakan
Nilai Peak
teori scaled
Particle
distance
Velocity
Analisis ground
Jarak
Gambar 34. Kerangka Konseptual
vibration untuk
Pengukuran
mendapatkan
metode terbaik

Metode
peledakan
terbaik untuk
mengurangi
nilai getaran
Peledakan
memenuhi
standar
vibrasi yang
ada