Anda di halaman 1dari 7

96

LAMPIRAN J
PERHITUNGAN KOLAM PENGENDAPAN

Dalam merancang kolam pengendapan terdapat beberapa faktor yang harus


dipertimbangkan, antara lain ukuran dan bentuk butiran padatan, kecepatan aliran,
persen padatan, dan sebagainya. Hal ini perlu dilakukan agar kolam pengendapan
hasil rancangan dapat digunakan secara optimal.
J. 1. Ukuran partikel
Luas kolam pengendapan secara analitis dapat dihitung berdasarkan
parameter dan asumsi sebagai berikut :
a. Hukum Stokes berlaku bila persen padatan kurang dari 40%, sedangkan untuk
persen padatan lebih besar dari 40% berlaku hukum Newton.
b. Diameter partikel padatan tidak lebih dari 9 x 10-6 m, karena jika lebih besar akan
diperoleh ukuran luas kolam yang tidak memadai.
c. Kekentalan air 1,31 x 10-6 kg/m.dtk (Rijn, L.C. Van, 1985).
d. Partikel padatan dalam lumpur dari material yang sejenis.
e. Batasan ukuran partikel yang diperbolehkan keluar dari kolam pengendapan
diketahui
f. Kecepatan pengendapan partikel dianggap sama
g. Perbandingan cairan dan padatan telah ditentukan.
J.2 Bentuk kolam pengendapan
Bentuk kolam pengendapan umumnya hanya digambarkan secara sederhana,
berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal, sebenarnya bentuk kolam
pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya.
Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu
mempunyai 4 (empat) zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan
material padatan (solid particle). Empat zona tersebut adalah sebagai berikut :

97

1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk ke dalam kolam pengendapan
dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini
panjangnya 0,5 1 kali kedalaman kolam (Huisman L., 1977).
2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid) akan mengendap.
Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi
panjang zona masuk dan keluaran (Huisman L., 1977).
3) Zona endapan lumpur, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur)
mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul di dasar kolam
pengendapan.
4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini
kira-kira sama dengan kedalaman kolam pengendapan, diukur dari ujung lubang
pengeluaran (Huisman L., 1977)

A
A

A
1

Potongan A - A

A
Tampak atas

1
3
Tampak Samping

Gambar J.1
Sketsa Kolam Pengendapan

98

Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus
memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti :
a. Sebaiknya bentuk kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok (Gambar J.2), agar
kecepatan aliran lumpur relatif rendah sehingga partikel padatan cepat
mengendap.
b. Geometri kolam pengendapan harus disesuaikan dengan ukuran Back hoe yang
biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, seperti
mengeruk lumpur dalam kolam dan memperbaiki tanggul kolam.

Gambar J.2
Bentuk Kolam Pengendapan yang Memenuhi Syarat Teknis
J.3 Perhitungan Dimensi Kolam Pengendapan.
Dalam merancang kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan
tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran air tambang.
Perhitungan dimensi kolam pengendapan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu menggunakan hukum Stokes dan hukum Newton. Berdasarkan analisis lumpur
di lokasi penambangan, didapat persen solid yang terkandung dalam air adalah 6,93
%, oleh karena itu perhitungan dimensi kolam pengendapan menggunakan
pendekatan hukum Stokes.

99

Pada perhitungan ini pompa yang digunakan sejumlah 1 unit, dengan lama
pemompaan selama 12 jam/hari. Berdasarkan pengukuran di lapangan diketahui:
Debit maksimum pompa (Qpompa) = 540 m3/jam

= 0,15 m3/detik

Ukuran partikel yang keluar dari kolam (Ukur)

= 0,000002 m

Kerapatan partikel padatan (ps)

= 1345 kg/m3

Berat jenis Air (po)

= 1000 kg/m3

Kekentalan air tambang (Vis)

= 0,00000131 kg/m.dtk

Persen padatan (Sol)

= 0,0694

Persen air (Air)

= 0,9306

Berdasarkan data-data tersebut di atas, maka dapat dihitung :


Kecepatan pengendapan (Vt) =

g xd 2 s air
m/detik
18 x

9,8 x 2.10 6

2 x (1345 1000)

18 x 1,31.10 6

m/detik

= 0,0005735 m/detik.
Luas kolam pengendapan (A) =

Qtotal
Vt
0,15

= 0,0005735 m2
= 261,552 m2
Pengukuran kedalaman kolam maksimum didasarkan pada alat gali yang
digunakan untuk menggali endapan yang ada didasar kolam tersebut, alat gali yang
digunakan back hoe CAT 345 dengan spesifikasi sebagai berikut:
Kapasitas mangkok munjung

= 1,3 m3

Jangkauan kedalaman penggalian

= 7,9 m

Jangkauan gali mendatar

= 15,15 m

Sehingga ukuran kolam pengendapan :


a. Lebar kolam atas (L1)

= 20 m

b. Lebar kolam bawah (L2)

= 18 m

c. Panjang kolam atas (P)

= 40 m

100

d. Panjang Kolam Bawah (P2)

= 38 m

e. Kedalaman Kolam (h)

= 3,5 m

f. Tinggi jagaan

= 0,5 m

g. Kedalaman aliran

=3m

h. Lebar penyekat atas

= 3.5 m

i. Lebar penyekat bawah

= 5.5 m

j. Panjang penyekat atas

= 18 m

k. Panjang Penyekat bawah

= 18 m

l. Panjang penyekat bukaan

= 1.5 m

m. Lebar penyekat bukaan

= 4,5 m

n. Kedalaman penyekat bukaan

=2 m

o. Volumekolam
=

40 x 20 38 x18


x3
2

(18 x3,5) (18 x5.5)


x3 x 2 ((1.5 x 4.5 x 2) x 2)
2

= 1713 m3

Gambar J.3
Dimensi Rancangan Kolam Pengendapan

101

Waktu yang di butuhkan partikel untuk mengendap (tv) adalah


tv

h
vt

; dimana (h) sama dengan kedalaman kolam pengendapan.


3

= 0,0005735
= 5231 detik
= 87,18 menit
Partikel padatan akan mengendap dengan baik jika waktu yang dibutuhkan
material untuk keluar dari kolam pengendapan (th), tv < th.
Kecepatan air dalam kolam (vh), adalah
Qtotal
A

vh

=Lxt
= (20+18) x 3
2
= 57 m

vh

0,15
57

= 0,00263 m/detik
Sehingga (th) dapat dicari dengan rumus:
th

P
vh
40

= 0,00263
= 15209,125 detik
= 253,48 menit
Berdasarkan perhitungan di atas didapat tv < th, dengan membandingkan
waktu pengendapan dan waktu keluarnya air dan material dapat digunakan untuk
mengetahui persentase pengendapan adalah :
Persentase pengendapan

th

= th tv x100%

102

253,48

= 253,48 87,18 x100%


= 74,4 %
Dengan persentase tersebut maka material yang terlarut dalam air tidak
semuanya terendapkan. Padatan yang berhasil diendapkan hanya 74,4 % dari total
padatan yang masuk ke kolam. Padatan yang berhasil diendapkan dalam waktu
sehari dengan dengan waktu pemompaan selama 12 jam/hari :
= 0.01041 m/detik x 3600 x 12 jam x 74,4 %
= 334,6 m/hari
Waktu pengerukan

Vol. Kolam
Vol. Total padatan yang berhasil diendapkan
1713

= 334,6
= 5,12 hari
Sehingga pengerukan lumpur dari dasar kolam dapat dilakukan dengan
interval 6 hari sekali, supaya air dari kolam pengendapan menjadi bersih.