Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluhan yang sering ditemui pada penderita dengan kelainan sistem lakrimal
ialah mata kering, lakrimasi dan epifora. Sistem lakrimal berperan penting dalam
memelihara permukaan bola mata. Mata yang berair sering kali menyebabkan frustasi
baik bagi dokter maupun pasien karena kesulitan menentukan penyebab kelainan
sistem lakrimal. Gangguan pada sistem lakrimal secara umum disebabkan karena
ketidakseimbangan antar produksi dan drainase air mata. Sistem lakrimal terdiri atas
struktur yang terlibat dalam produksi dan drainase air mata. Komponen sekresi terdiri
atas kelenjar yang menghasilkan berbagai bahan cairan mata yang didistribusikan ke
permukaan mata dengan berkedip. Kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus
nasolakrimalis membentuk elemen sistem ekskresitorius yang akhirnya mengalir ke
hidung (Budiono, 2013).
Lakrimasi ialah kelebihan produksi air mata yang disebabkan oleh rangsangan
kelenjar lakrimal. Mata kering disebabkan oleh kurangnya produksi air mata.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh sikatriks yang terdapat pada konjungtiva, oleh
karena trakoma, trauma kimia, erythema mutliforme, yang menyumbat muara
kelenjar lakrimal, dan sindrom Sjogren.
Epifora adalah keadaan dimana terjadi gangguan sistem ekskresi air mata.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh kelainan posisi pungtum lakrimal, jaringan
sikratik pada pungtum, paresis atau paralisis otot orbikularis okuli yang menyebabkan
berkurangnya efek penghisapan dari kanalikuli lakrimal, benda asing dalam
kanalikuli, obstruksi duktus nasolakrimal dan sakus lakrimal.
Untuk menentukan adanya gangguan pada sistem ekskresi air mata dilakukan:
Inspeksi pada posisi pungtum, palpasi daerah sakus lakrimal apakah mengeluarkan
cairan yang bercampur nanah, irigasi melalui pungtum dan kanalikuli lakrimal, bila
cairan mencapai rongga hidung maka sistem ekskresi berfungsi baik (uji Anel), dan
probing yaitu memasukkan probe Bowman melalui jalur anatomik sistem ekskresi
lakrimal. Tindakan probing didahului oleh dilatasi pungtum dengan dilatator.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk lebih mengetahui dan menjelaskan kelainan pada mata khususnya
sistem lakrimalis
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus referat ini adalah untuk mengetahui:
a. Anatomi dan fisiologi sistem lakrimalis mata
b. Kelainan pada sistem lakrimalis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Lakrimalis

Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi


dan drainase air mata. Komponen sekresi terdiri atas kelenjar yang menghasilkan
berbagai unsur pembentuk cairan air mata. Sistem eksresi mulai pada punctum
lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior.
Cairan air mata disebarkan di atas permukaan mata oleh kedipan mata. Kompleks
lakrimalis terdiri atas glandula lakrimalis, glandula lakrimalis aksesorius, kanalikuli,
punctum lakrimalis, sakkus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis (Budiono et al,
2013).

Gambar 2.1 Anatomi Sistem Lakrimalis


1

Secara embriologis, glandula lakrimalis dan glandula lakrimalis


assessorius berkembang dari epitel konjungtiva. Sistem lakrimasi glandula
yang berupa kanalikuli, sakkus lakrimalis dan duktus nasolakrimalis juga
merupakan turunan ektoderm permukaan yang berkembang dari korda
epitel padat yang terbenam di antara prosessus maksilaris dan nasalis dari
struktur-struktur muka yang sedang berkembang. Korda ini terbentuk
salurannya sesaat sebelum lahir (Vaughan, 2012).

Duktus nasolakrimalis biasanya terbentuk salurannya pada usia 8

bulan usia janin, tapi pada umumnya penundaan dalam proses perkembangan yang
dapat mengakibatkan sisa jaringan membran atau stenosis pada setiap tingkat dalam

sistem nasolakrimal, dari kanalikuli ke ujung dari duktus nasolakrimal bawah.


Persisten membran di bagian bawah duktus nasolakrimal terjadi di hingga 70% dari
neonatus (dakriostenosis). Namun, hanya 2-4% dari bayi yang baru lahir
menunjukkan gejala klinis penyumbatan saluran nasolakrimal (Vaughan, 2012).
3
2.1.1 Sistem Sekresi Air Mata
Permukaan mata dijaga tetap lembab oleh kelenjar lakrimalis. Sekresi basal
air mata perhari diperkirakan berjumlah 0,75-1,1 gram dan cenderung menurun
seiring dengan pertambahan usia. Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar
air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis pada kuadran temporal di atas orbita.
Kelenjar yang berbentuk seperti buah kenari ini terletak didalam palpebra superior.
Setiap kelenjar ini dibagi oleh kornu lateral aponeurosis levator menjadi lobus orbita
yang lebih besar dan lobus palpebra yang lebih kecil. Setiap lobus memiliki saluran
pembuangannya tersendiri yang terdiri dari tiga sampai dua belas duktus yang
bermuara di forniks konjungtiva superior. Sekresi dari kelenjar ini dapat dipicu oleh
emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan air mata mengalir berlimpah melewati
tepian palpebra (epifora) (Budiono et al, 2013).
Persarafan pada kelenjar utama berasal dari nukleus lakrimalis pons melalui
nervus intermedius dan menempuh jalur kompleks dari cabang maksilaris nervus
trigeminus. Kelenjar lakrimal tambahan, walaupun hanya sepersepuluh dari massa
utama, mempunyai peranan penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan
kelenjar utama yang menghasilkan cairan serosa namun tidak memiliki sistem
saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva, terutama forniks
superior. Sel goblet uniseluler yang tersebar di konjungtiva menghasilkan
glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea Meibom dan Zeis di
tepian palpebra memberi substansi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah
modifikasi kelenjar keringat yang juga ikut membentuk film prekorneal. Glandula
lakrimalis terdiri dari struktur berikut :

1. Bagian orbita berbentuk kenari yang terletak di dalam fossa lakrimalis di


segmen temporal atas anterior dari orbita, dipisahkan dari bagian palpebra
oleh kornu lateralis dari muskulus levator palpebra.
2. Bagian palpebra yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal dari
forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimalis, yang bermuara
melalui kira-kira 10 lubang kecil, menghubungkan bagian orbital dan
palpebral

glandula

lakrimalis

dengan

forniks

konjungtiva

superior.

Pembuangan bagian palpebra dari kelenjar memutuskan semua saluran


penghubung dan dengan demikian mencegah kelenjar itu bersekresi. Glandula
lakrimalis assesorius (glandula Krause dan Wolfring) terletak di dalam
substansia propia di konjungtiva palpebrae (Vaughan, 2012).
2.1.2 Sistem Ekskresi Air Mata
Sistem ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup, menyebarkan air mata secara
merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi pada medial
palpebra. Setiap kali mengedip, muskulus orbicularis okuli akan menekan ampula
sehingga memendekkan kanalikuli horizontal. Dalam keadaan normal, air mata
dihasilkan sesuai dengan kecepatan penguapannya, dan itulah sebabnya hanya sedikit
yang sampai ke sistem ekskresi. Bila memenuhi sakus konjungtiva, air mata akan
masuk ke punkta sebagian karena hisapan kapiler (Wagner, 2006).
Dengan menutup mata, bagian khusus orbikularis pre-tarsal yang mengelilingi
ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Secara bersamaan, palpebra ditarik
ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis
berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif pada sakus.
Kerja pompa dinamik mengalirkan air mata ke dalam sakus, yang kemudian masuk
melalui duktus nasolakrimalis, karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan, ke
dalam meatus inferior hidung. Lipatan-lipatan mirip-katup dari epitel pelapis sakus
cenderung menghambat aliran balik air mata dan udara. Yang paling berkembang di
antara lipatan ini adalah katup Hasner di ujung distal duktus nasolakrimalis

(Sullivan, 1996). Berikut adalah ilustrasi dari sistem ekskresi air mata yang
berhubungan dengan fungsi gabungan dari muskulus orbikularis okuli dan sistem
lakrimal inferior (Wagner, 2006).

Gambar 2.2 Sistem Ekskresi Lakrimalis


2.1.3 Air Mata
Permukaan bola mata yang terpapar dengan lingkungan dijaga tetap lembab
oleh air mata. Air mata tersebut disekresikan oleh aparatus lakrimalis dan disertai
dengan mukus dan lipid oleh organ sekretori dari sel-sel pada palpebra serta
konjungtiva. Sekresi yang dihasilkan inilah yang disebut sebagai film air mata atau
film prekorneal. Analisis kimia dari air mata menunjukkan bahwa konsentrasi garam
didalamnya mirip dengan komposisi di dalam plasma darah (Budiono et al, 2013).
Selain itu, air mata mengandung lisozim yang merupakan enzim yang
memiliki aktivitas sebagai bakterisidal untuk melarutkan lapisan luar bakteria.
Walaupun air mata mengandung enzim bakteriostatik dan lisozim, menurut Sihota
(2007), hal ini tidak dianggap sebagai antimikrobial yang aktif karena dalam
mengatasi mikroorganisme tersebut, air mata lebih cenderung memiliki fungsi
mekanik yaitu membilas mikroorganisme tersebut dan produk-produk yang
dihasilkannya (Kanski, 2003).

K+, Na+, dan Cl- terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi dalam air mata dari
dalam plasma. Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan urea (0,04
mg/dL) dan perubahannya dalam konsentrasi darah akan diikuti perubahan
konsentrasi glukosa dan urea air mata. pH rata-rata air mata adalah 7,35, meski ada
variasi normal yang besar (5,20-8,35). Dalam keadaan normal, cairan air mata adalah
isotonik. Osmolalitas film air mata bervariasi dari 295 sampai 309 mosm/L
(Whitcher, 2000). Berikut adalah ilustrasi dari elektrolit, protein dan sitokin dalam
komposisi air mata (Pflugfelder, S.C., 2004).

Gambar 2.3 Komposisi Air Mata


Air mata akan disekresikan secara refleks sebagai respon dari berbagai
stimuli. Stimulus tersebut dapat berupa stimuli iritatif pada kornea, konjungtiva,
mukosa hidung, stimulus pedas yang diberikan pada mulut atau lidah, dan cahaya
terang. Selain itu, air mata juga akan keluar sebagai akibat dari muntah, batuk dan
menguap. Sekresi juga dapat terjadi karena kesedihan emosional. Kerusakan pada
nervus trigeminus akan menyebabkan refleks sekresi air mata menghilang. Hal ini
dapat dibuktikan dengan pemberian kokain pada permukaan mata menyebabkan
penghambatan

hantaran

pada

ujung

nervus

sensoris

yang

mengakibatkan

penghambatan refleks sekresi mata (bahkan ketika mata dipaparkan pada gas air mata
7

yang poten). Jalur aferen pada hal ini adalah nervus trigeminus, sedangkan eferen
oleh saraf autonom, dimana bahagian parasimpatis dari nervus fasialis yang
memberikan pengaruh motorik yang paling dominan. Oleh sebab itu, pemberian obat
yang parasimpatomimetik (seperti asetilkolin) dapat meningkatkan sekresi sedangkan
pemberian obat antikolinergik (atropin) akan menyebabkan penurunan sekresi.
Refleks sekresi air mata yang berlebihan dapat diinterpretasikan sebagai respon
darurat. Pada saat lahir, inervasi pada aparatus lakrimalis tidak selalu sempurna, hal
ini menyebabkan neonatus sering menangis tanpa sekresi air mata (Encyclopdia
Britannica, 2007).
Air mata mengalir dari lacuna lakrimalis melalui pungtum superior dan
inferior dan kanalikuli ke sakkus lakrimalis yang terletak di dalam fossa lakrimalis.
Duktus nasolakrimalis berlanjut ke bawah dari sakkus lakrimasi dan bermuara ke
dalam meatus inferior dari rongga nasal . Air mata diarahkan ke dalam pungtum oleh
isapan kapiler , gaya berat, dan berkedip. Kekuatan gabungan dari isapan kapiler
dalam kanalikuli, gaya berat, dan kerja memompa dari otot Horner yang merupakan
perluasan muskulus orbikularis okuli ke titik di belakang sakkus lakrimalis, semua
cenderung meneruskan air mata ke bawah melalui duktus nasolakrimalis ke dalam
hidung (Vaughan, 2012).
2.2 Kelainan Kongenital dan Kelainan Perkembangan Sistem Lakrimal
Atresi duktus nasolakrimal merupakan kelainan kongenital yang sering
ditemukan pada sistem lakrimal. Hampir 30% neonatus mengalami penutupan duktus
nasolakrimal pada waktu lahir. Atresi biasanya ditemukan pada mukoperiosteum
nasal dekat valvula Hasner. Atresi ini dapat bersifat sementara atau menetap setelah 3
minggu kelahiran. Terdapat penimbunan air mata dan mukus dalam sakus lakrimal,
yang ditunjukkan dengan adanya regurgitasi mukus pada penekanan daerah sakus
lakrimal.
Pemberian antibiotik lokal, masase pada pungtum ke arah sakus lakrimal, bila
tidak membaik setelah minggu ke-4, dilakukan tindakan probing dan irigasi. Pada
penderita di bawah umur 6 bulan tindakan dilakukan dengan pemberian sedativa.
Penderita di atas umur 6 bulan dengan narkosa umum. Kelainan pungtum dan
8

kanalikuli dapat terjadi bersamaan, berupa tidak adanya pungtum dan kanalikuli,
penutupan, duplikasi, dan fistulasi. Apabila tidak terdapat pungtum, dilakukan
pembukaan dengan dilatator yang runcing. Pada fistula dilakukan eksisi; dan apabila
tidak ada kanalikuli dilakukan tindakan pembedahan. Divertikel dapat timbul dari
sakus lakrimal, kanalikuli atau duktus nasolakrimal. Dari divertikel ini dapat terjadi
kantong kista yang berisi cairan dan menyerupai mukokel sakus lakrimal. Apabila
disertai infeksi, terjadi dakriosistitis, maka pengobatannya adalah ditenangkan proses
radangnya, selanjutnya dilakukan eksisi (Vaughan, 2012).
2.3 Penyakit Infeksi Sistem Lakrimal
2.3.1 Dakriosistitis akut
Dakriosistitis akut ialah peradangan supuratif sakus lakrimal disertai dengan
selulitis jaringan di atasnya. Penyebab yang mendasari adalah penyumbatan duktus
nasolakrimal, sering ditemui pada anak-anak dan orang dewasa usia diatas 40 tahun.
Peradangan berupa pembengkakan, merah dan nyeri, biasanya disertai dengan
pembengkakan kelenjar pre-aurikular, sub-mandibular serta demam ringan. Kadangkadang kelopak mata dan daerah sisi hidung membengkak. Gejala dakriosistitis akut
ialah epifora dan regurgitasi pada penekanan daerah sakus lakrimal. Pada stadium
lanjut dapat terjadi komplikasi berupa fistula. Apabila terdapat erosi kornea misalnya
karena trauma, maka erosi akan berkembang menjadi ulkus kornea. Diagnosis
banding: sinusitis etmoidal akut.
Pengobatan dakriosistitis akut dapat dilakukan dengan cara kompres hangat,
antibiotika lokal dan sistemik, insisi bila terdapat abses, tindakan pembedahan
dilakukan apabila gejala peradangan sudah dapat di atasi terlebih dahulu (Vaughan,
2012).
2.3.2 Obstruksi Sistem Ekskresi Air Mata
Obstruksi sakus lakrimal jarang ditemui, biasanya disebabkan oleh dakriolit.
Konsistensi sakus lakrimal padat. Pengobatan obstruksi sakus lakrimal dapat
dilakukan dengan cara antibiotik lokal, irigasi, dan pembedahan.
Obstruksi duktus nasolakrimal biasanya terdapat pada orang tua yang
kausanya idiopatik. Hal ini disebabkan oleh proses degenarasi mukosa dan adanya
stenosis, yang mengakibatkan epifora dan mukokel sakus lakrimal. Dakriosistitis

sering menyertai mukokel kronik. Penyumbatan pungtum dan kanalikuli biasanya


didapatkan bersamaan dengan penyakit atau kelainan konjungtiva: Sindrom Steven
Johnsons, pemfigus, trauma mekanik, trauma kimiawi atau termis. Pengobatannya
dapat dilakukan dengan cara probing dengan tuba silastik bila penyumbatan tidak
sempurna. Pembedahan bila disertai penyumbatan kanalikuli.
Kanalikulitis disebabkan oleh infeksi streptothrix (acinomices ismelii). Bila
terdapat stenosis atau obstruksi, dilakukan insisi dan dilatasi, bila hanya stenosis
dilakukan probing, dipasang tuba silastik. Bila terdapat epifora yang berat dan
penyumbatan total pada pungtum dan kanalikuli dilakukan tindakan pembedahan.
Pasien biasanya mengeluh mata agak merah dan teriritasi dengan sedikit sekret.
Punctum biasanya meninggi dan material dapat dikeluarkan melalui kanalikuli
tersebut (Budiono, 2013).
2.4 Kelainan Drainase Air Mata
Bila produksi air mata melebihi kapasitas sistem drainase, air mata yang
berlebih akan mengalir ke pipi. Ini disebabkan oleh:
1. Iritasi permukaan mata, misalnya karena benda asing pada kornea, infeksi,
atau blefaritis
2. Oklusi pada bagian manapun di sistem drainase (air mata yang berlebih
dinamakan epifora).

2.4.1 Obstruksi Drainase Air Mata (Bayi)


Sistem nasolakrimal berkembang sebagai tabung solid yang kemudian
mengalami kanalisasi dan menjadi paten tepat sebelum cukup bulan. Obstruksi
kongenital duktus sering terjadi. Ujung distal duktus nasolakrimalis bisa tetap
imperforata sehingga menyebabkan mata berair. Jika kanalikuli terobstruksi, sebagian
kumpulan air mata yang tidak mengalir dalam sakus dapat terinfeksi dan
berakumulasi sebagai mukokel atau menyebabkan dakriosistitis. Secara diagnostik
sekret dapat dikeluarkan dari pungta dengan menekan sakus lakrimalis. Namun
demikian, konjungtiva tidak mengalami inflamasi. Kebanyakan obstruksi menghilang
secara spontan pada tahun pertama kehidupan. Jika epifora terus berlangsung setelah
saat tersebut, patensi dapat dibuat dengan melewatkan satu probe melalui pungtum ke
10

duktus nasolakrimalis untuk melubangi membran yang tertutup (probing).


Dibutuhkan anestesi umum untuk prosedur ini (Budiono, 2013).

Gambar 2.4 Probing

2.4.2 Obstruksi Drainase Air Mata (Dewasa)


Sistem drainase air mata dapat tersumbat di titik manapun, meski tempat
tersering adalah duktus nasolakrimalis. Penyebabnya antara lain infeksi atau trauma
langsung dan sklerosis pada sistem nasolakrimal.
Anamnesis: pasien mengeluh mata berair, kadang disertai dengan sekret yang
lengket. Mata terlihat putih. Gejala dapat memburuk bila terkena angin atau pada
cuaca dingin. Mungkin didapatkan riwayat trauma atau infeksi sebelumnya.
Obstruksi drainase air mata pada orang dewasa mempunyai gejala yaitu,
pungtum yang mengalami stenosis dapat terlihat dengan slit lamp. Epifora jarang
terjadi jika satu pungtum terus mengalirkan air mata. Obstruksi didapat yang ada di
belakang pungtum didiagnosis dengan menyuntikkan larutan garam fisiologis ke
dalam sistem nasolakrimal dengan menggunakan kanula halus yang dimasukkan ke
dalam kanalikulus. Sistem yang paten diketahui bila pasien merasakan larutan garam
fisiologis ketika larutan tersebut mencapai faring. Jika terdapat obstruksi duktus
11

nasolakrimalis maka cairan akan mengalami regurgitasi dari pungtum yang tidak
memiliki kanulasi. Lokasi obstruksi yang tepat dikonfirmasi dengan menyuntikkan
pewarna radioopak ke dalam sistem nasolakrimal (dakriosistogram); kemudian
digunakan sinar X untuk mengikuti pasase zat pewarna melalui sistem.
Penting untuk menyingkirkan penyakit mata lainnya yang mungkin
menyebabkan mata berair seperti blefaritis. Perbaikan duktus nasolakrimalis yang
tersumbat membutuhkan pembedahan untuk menghubungkan permukaan mukosa
sakus lakrimalis ke mukosa nasal dengan menghilangkan tulang di antaranya
(dakriosistorinostomi atau DCR). Operasi ini dapat dilakukan melalui insisi pada sisi
hidung atau dengan endoskopi melalui pasase nasal sehingga menghindari terjadinya
parut pada wajah (Kanski, 2003).
Dacryolith (Sklerosis duktus lakrimalis)
Dacryoliths dalam kantung lakrimal juga dapat menyebabkan obstruksi dari
duktus nasolakrimalis. Dacryoliths terdiri dari penumpukan sel-sel epitel, lipid, dan
puing-puing amorf dengan atau tanpa kalsium. Dalam kebanyakan kasus, tidak ada
kejadian yang memicu atau kelainan yang teridentifikasi. Kadang-kadang, infeksi
Actinomyces israelii atau Spesies Candida atau penggunaan jangka panjang obat
topikal seperti epinefrin dapat menyebabkan pembentukan dari cor tersebut.
Dacryoliths dapat terbentuk pada pasien dengan sistem drainase lakrimal yang
normal. Ketika ini terjadi, pasien sering mengalami gejala intermiten, tergantung pada
lokasi dacryoliths tersebut. Dacryoliths juga memiliki kecenderungan untuk
terbentuk dengan obstruksi yang sudah ada sebelumnya. Pengaruh akut dari
dacryoliths pada duktus nasolakrimalis dapat mengakibatkan distensi kantung
lakrimal, yang dapat disertai dengan nyeri yang cukup berat. Dacryoliths dapat
dihilangkan dengan mudah tanpa kesulitan melalui DCR (Dakriosistorinostomi)
(Whitcher, 2000).

12

Gambar 2.5 Dakriosistorinostomi

2.5 Malformasi Kelopak Mata


Entropion adalah suatu keadaan dimana kelopak dan bulu mata bagian bawah
membalik ke dalam ke arah bola mata. Sedangkan ektropion adalah suatu keadaan
dimana kelopak dan bulu mata bagian bawah membalik ke arah luar. Kebanyakan
kasus entropion terjadi karena pengenduran jaringan kelopak mata sebagai akibat
proses penuaan.
Beberapa kasus terjadi karena pembentukan jaringan parut pada permukaan
dalam kelopak mata akibat luka bakar kimia dan panas, peradangan atau reaksi alergi.
Kadang entropion merupakan bawaan lahir karena kelopak mata tidak terbentuk
secara sempurna.

13

Gambar 2.6 Ektropion dan Entropion


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan kelopak mata.
Tatalaksana entropion dan ektropion harus diperbaiki melalui pembedahan sebelum
gesekan

kelopak

dan

bulu

mata

menyebabkan

kerusakan

kornea.

Pembedahan biasanya dilakukan dengan bius lokal dan penderita tidak perlu dirawat.
Dilakukan pengencangan kelopak mata. Setelah pembedahan, mata ditutup selama 24
jam dan diberi salep antibiotik selama sekitar 1 minggu (Kanski, 2003).

BAB III
RINGKASAN

1. Sistem lakrimalis mencakup struktur-struktur yang terlibat dalam produksi dan


drainase air mata.
2. Gangguan pada sistem lakrimal secara umum
ketidakseimbangan antar produksi dan drainase air mata.

disebabkan

karena

3. Penyakit sistem lakrimal yang dibagi atas: kelainan kongenital dan kelainan
perkembangan sistem lakrimal, penyakit infeksi sistem lakrimal, trauma sistem
lakrimal dan tumor sistem lakrimal.

14

DAFTAR PUSTAKA

Budiono, Sjamsu dkk. 2013. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Mata. Surabaya: Airlangga
University Press.
Kanski JJ, Bowling B. 2003. Lacrimal Drainage System. Clinical Ophtalmology.
Seventh edition. Philadelphia: Elsevier Saunders
Pflugfelder, S.C., Beuerman, R.W., Stern, M.E., 2004. Dry Eye and Ocular Surface
Disorders. New York: Marcel Dekker, Inc.
Sihota, Ramanjit and Tandon, Radhika, 2007. Diseases of the Conjunctiva. In: Sihota,
Ramanjit and Tandon, Radhika, eds. Parsons Diseases of the Eye 20th ed.
India: Elsevier, 155-6.
15

Sullivan, John H., 1996. Palpebra dan Aparatus Lakrimalis. Dalam: Suyono, Y. Joko
(ed). Oftalmologi Umum edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 91.
Vaughan dan Asburys. 2012. Apparatus Lakrimalis. Dalam: Oftalmologi Umum.
Edisi 17. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.: 89-99
Wagner, Peter and Lang, Gerhard K., 2006. Lacrimal System. In: Lang, Gerhard K.,
ed. Ophthalmology 2nd ed.: A Pocket Textbook Atlas. New York: Thieme
Stuttgart, 49-51.
Whitcher, John P., 2000. Air Mata. Dalam: Suyono, Y. Joko (ed). Oftalmologi Umum
edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 94

16