Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Revitalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti proses, cara
dan perbuatan yang menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang
terberdaya. Sebenarnya revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan menjadi
vital, sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau perlu sekali. Pengertian
melalui bahasa lainnya revitalisasi secara umum adalah usaha-usaha untuk menjadikan
sesuatu itu menjadi penting dan perlu sekali.
Revitalisasi Pancasila dapat diartikan sebagai usaha mengembalikan Pancasila
kepada subjeknya yaitu sebagai pedoman bagi para penyelenggara pemerintah untuk
merevitalisasi. Maka Pancasila perlu diajarkan dalam kaitannya dengan pembuatan atau
evaluasi atas kebijakan publik selain dibicarakan sebagai dasar negara. Panacasila dapat
dihidupkan kembali sebagai nilai-nilai dasar yang memberi orientasi dalam pembuatan
kebijakan publik yang pro terhadap aspek-aspek agama, kemanusiaan, nasionalisme,
demokrasi dan keadilan sebagaimana yang termasuk dalam Pancasila.
Aktualisasi merupakan suatu bentuk kegiatan melakukan realisasi antara
pemahaman akan nilai dan norma dengan tindakan dan perbuatan yang dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan aktualisasi Pancasila berarti penjabaran nilainilai Pancasila dalam bentuk norma-norma, serta merealisasikan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Pancasila dapat diartikan sebagai lima dasar negara Indonesia yang mempunyai
fungsi dan peranan sebagai pandangan dan pedoman hidup dalam hal sikap, tingkah
laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, seluruh warga negara Indonesia sudah
seharusnya mengetahui, mempelajari, mengembangkan, serta mengamalkannya dalam
hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Maka akan
tercipta masyarakat yang sejahtera dan damai apabila semua warga negara Indonesia
melaksanakan nilai-nilai dasar atau Pancasila yang memiliki kandungan dan keterkaitan
antara sila yang satu dengan yang lainnya sebagai sebuah satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan dikarenakan antar sila tersebut saling menjiwai satu sama lain. Jika
dimaknai secara utuh juga akan menunjang pemberdayaan Identitas Nasional. Sila
Pertama yang bermakna bangsa Indonesia beragama dan berketuhanan akan semakin
menguatkan moral masyarakat serta kehidupan yang beretika. Sila kedua dan ketiga
sebagai wujud persatuan bangsa dan kemanusiaan yang bersifat adil dan memiliki tata

kelakuan yang beradab juga otomatis akan mendorong terwujudnya masyarakat yang
beridentitas sehingga Pancasila bukanlah sesuatu yang kaku dan sakral, namun bersifat
fleksibel dan terbuka dengan hal-hal baru. Dengan demikian tanpa menghilangkan nilai
hakikatnya Pancasila menjadi tetap aktual, relevan, dan fungsional sebagai tiang-tiang
penyangga semangat ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Ironisnya bahwa ternyata banyak sekarang warga negara Indonesia sendiri lupa
dan sudah asing dengan Pancasila itu sendiri. Ini tentu menjadi tanda tanya besar
kenapa dan ada apa dengan kita sebagai anak bangsa yang justru besar dan mengalami
pasang surut masalah negara ini belum bisa mengoptimalakan tentang pengamalan
nilai-nilai Pancasila tersebut. Terutama pada saat ini banyak sekali penyelewenganpenyelewengan Pancasila terutama pada sila ke-3 Persatuan Indonesia.
Sila ke-3 Persatuan indonesia memiliki lambang Pohon beringin yang memiliki
arti bahwa pohon beringin merupakan pohon yang besar dimana banyak orang yang
bisa berteduh di bawah naungan Negara Indonesia. Selain itu, pohon beringin memiliki
sulur dan akar yang menjalar kemana-mana namun tetap berasal dari satu pohon yang
sama, seperti halnya keragaman bangsa, ras, dan agama namun tetap menyatu dibawah
nama Indonesia.
1.2.

Rumusan Masalah
Dari Latar Belakang diatas dapat dirumuskan masalah
1. Pengertian dari sila ke-3 Persatuan Indonesia?
2. Apa saja makna dari Sila ke-3 Persatuan Indonesia?
3. Apa saja nilai dari Sila ke-3 Persatuan Indonesia?
4. Sebutkan penyimpangan nilai dari Sila ke-3 Persatuan Indonesia! apa
penyebabnya?
5. Bagaimana cara merevitalisasi dan aktualisasi dari Sila ke-3 Persatuan Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia merupakan sila ke-3 dalam Pancasila dan merupakan faktor
yang dinamis dalam kehidupan bangsa Indonesia, bertujuan memajukan kesejahteraan

umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut mewujudkan ketertiban dunia
yang abadi. Dapat diketahui pula bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang
multikultural dimana terdapat banyak sekali kebudayaan, suku dan ras di dalamnya.
Semua perbedaan tersebut hanya bisa bergabung menggunakan Persatuan. Persatuan
sendiri pengertiannya adalah bergabung menjadi satu dan mutlak tidak dapat
dipisahkan, utuh, tidak terpecah belah dan mengandung arti bersatunya bermacam
corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan.
2.2. Makna dari Persatuan Indonesia
Hakikat persatuan sebagai dasar Negara ialah sifat-sifat dan keadaan Negara
harus sesuai dengan hakikat satu dalam arti mutlaknya tidak terbagi dan tidak
terpisahkan dari yang lain. Jika persatuan Indonesia dikaitkan dengan pengertian
modern saat ini, maka disebut nasionalisme. Nasionalisme adalah perasaan satu sebagai
suatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu
rasa satu yang demikian kuatnya, maka akan timbul rasa cinta dengan bangsa dan tanah
air. Akan tetapi perlu diketahui bahwa rasa cinta bangsa dan tanah air yang kita miliki
di Indonesia bukan yang menjurus kepada Chauvinisme, yaitu rasa yang mengagungkan
bangsa sendiri, dengan merendahkan bangsa lain. Dengan demikian konsekuensi atau
akibat lebih lanjut dari kedua hal tadi adalah menggalang persatuan dan kesatuan
bangsa. Hal-hal yang sifatnya tidak sejalan dengan persatuan dan kesatuan, misalnya
penonjolan atau cenderung pada kekuasaan, penonjolan atau cenderung pada keturunan,
agar tidak terwujud sebagai suatu prinsip dalam masyarakat Indonesia.
Perlu diketahui ikatan kekeluargaan, kebersamaan di Indonesia sejak dulu sampai
sekarang lebih dihormati dari pada kepentingan pribadi. Namun, tentunya semangat ini
bagi bangsa Indonesia mengalami dinamika sendiri. Pada saat ini justru nasionalisme
bangsa Indonesia, ditantang dan dalam kondisi yang agak rapuh, karena banyak elemen
bangsa yang lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada
kepentingan nangsa dan negara.
Pancasila sebagai salah satu alat untuk pemersatu bangsa Indonesia, maka kita
harus jaga kebersamaan, hal ini dengan mengamalkan sila-sila Pancasila, terutama sila
ketiga Persatuan Indonesia yang mempunyai makna untuk persatuan bangsa
Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia kita harus bersatu untuk kesatuan bangsa
Indonesia yang merupakan negara dengan berbeda bangsa, ras dan agama. Dimana
dalam sila ini sangat tercermin dari adanya sikap untuk saling menghargai dan

menghormati sesama warga negara, yang akhirnya menuju pada persatuan dan
kesatuan. karena itu hakikat sila ini ialah sifat-sifat keadaan yang sesuai dengan hakikat
satu. hakikat satu ialah mandiri yang terpisahkan dan terbedakan dari yang lain (dalam
buku Pemikiran Tentang Filsafat Pancasila; Dra. Hartati Soesmasdi).
2.3.

Nilai-nilai dari Persatuan Indonesia


Nilai Persatuan Indonesia mengandung arti ke arah bersatu dalam kebulatan
rakyat untuk membina Nasionalisme dalam negara. Nilai Persatuan Indonesia yang
demikian ini merupakan suatu proses utnuk menuju terwujudnya Nasionalisme. Dengan
modal dasar nilai persatuan, semua warga negara Indonesi baik yang asli maupun yang
keturunan asing dan dari macam-macam suku bangsa dapat menjalin kerja sama yang
erat dalam wujud gotong royong, kebersamaan.
Dalam nilai Persatuan terkandung adanya perbedaan-perbedaan yang biasa terjadi
didalam kehidupan masyarakat dan bangsa baik itu perbedaan bahsa, kebudayaan, datistiadat, agama maupun suku. Perbedaan-perbedaan itu jangan dijadikan alasan untuk
berselisih, tetapi justru menjadi daya tarik ke arah kerja sama, ke arah yang lebih
harmonis. Hal ini sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang
keberadaannya berdasarkan pada PP No.66 Tahun 1951, mengandung arti beraneka
tetapi satu (Ensiklopedia Umum, 1977). Semboyan tersebut menurut Supomo,
menggambarkan gagasan dasar yaitu menghubungkan daerah-daerah dan suku-suku
bangsa di seluruh Nusantara menjadi Kesatuan Raya (ST Munadjat D, 1928).
Lengkapnya Bhinneka Tunggal Ika berbunyi Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharmma
Mangrva. Hal tersebut merupakan kondisi dan tujuan kehidupan yang ideal dan
lingkungan masyarakat yang majemuk.Adapun nilai-nilai dari sila ke-3 Persatuan
Indonesia, adalah :
a.
b.
c.
d.

Nasionalisme.
Cinta bangsa dan tanah air.
Menggalang persatuan dan kesatuan bangsa.
Menghilangkan penonjolan atau kecenderungan pada kekuatan atau kekuasaan,

keturunan, dan perbedaan warna kulit.


e. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.
f. Menjamin penududuk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah
menurut agamanya.
g. Tidak memaksa warga negara untuk beragama.
h. Menjamin berkembangnya dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.

i. Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi di tekankan dalam beribadah
j.
k.
l.
m.

menurut agamanyamasing-masing.
Menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.
Rela berkorban demi bangsa dan negara.
Berbangga sebagai bagian dari Indonesia.
Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka
Tunggal Ika.
Dalam membangun kebersamaan sebagai wujud dari nilai-nilai Persatuan diatas

itu antar elemen yang terlibat didalamnya, satu sama lain saling membutuhkan, saling
ketergantunga, saling memberi gilirannya dan menciptakan kehidupan selaras, serasi
dan seimban. Kehidupan demikian ini sebagai dambaan atau cita-cita bangsa Indonesia,
seperti yang diutarakan oleh para Fouding Fathers.
2.4. Penyimpangan dari sila ke-3 Persatuan Indonesia
Bukti-bukti dari pelanggaran sila ke-3 Persatuan Indonesia, adalah :
a. Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pertama kali di deklarasikan pada 4
Desember 1976. Dimana gerakan ini mengusung nasionalisme Aceh secara jelas.
Nasionalisme yang dibangun sebagai pembela dengan nasionalisme Indonesia yang
sebelumnya telah ada.
b. Organisasi Papua Merdeka (OPM)
Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah sebuah gerakan nasionalis didirikn
tahun 1965 yang bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian barat
dari pemerintahan Indonesia. Sebelum era reformasi, provinsi yang sekarang terdiri
atas Papua dan papua Barat ini dipanggil dengan Irian Jaya.
Organisasi Papua Merdeka (OPM) merasa bahwa mereka tidak memiliki
hubungan sejarah dengan bagian Indonesia yang lain maupun negara-negara asia
lainnya. Penyatuan wilayah ini ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) sejak tahun 1969 merupakan sebuah perjanjian antara Belanda dengan
Indonesia dimana pihak Belanda menyerahkan wilayah tersebut yang selama ini
dikuasainya kepada bekas jajahannya yang merdeka, Indonesia. Perjanjian tersebut
oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dianggap sebagai penyerahan dari tangan
satu penjajah kepada yang lain.
c. Lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosae), yang
sebelum merdeka bernama Timor Timur, adalah sebuah negara kecil di sebelah
utara Australia dan bagian Timur dari Pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini

juga meliputi Pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-ambeno di
Timor Barat.
Sebagai sebuah negara sempalan Indonesia, Timor Leste secara resmi
merdeka tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketika
menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis Timor
Leste sebagai nama resmi dari nama mereka.
d. Suku Dayak dengan suku Madura
Penduduk asli Kalimantan Barat adalah suku Dayak yang hidup sebagai
petani dan nelayan selain suku asli suku lainnya yang juga telah masuk ke bumi
Kalimantan adalah Melayu, Cina, Madura, Bugis, Minang dan Batak.
Dalam berkomunikasi penduduk yang heterogen ini menggunakan bahasa
Indonesia atau Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi kebanyakan dari mereka
menngunakan bahasa daerah masing-masing. Sehingga dapat menimbulkan
kesalahpahaman di antara mereka.
Dari beberapa kasus atau penyimpangan dari sila ke-3 tentang Persatuan
Indonesia di atas maka kami akan memfokuskan pada kasus Bentrok antar suku
Dayak dengan suku Madura.
Bentrok suku Dayak dan suku Madura terjadi karena adanya kesalah pahaman
dalam berkomunikasi. Terlebih jika umumnya orang Madura berbicara dengan orang
Dayak, gaya komunikasi orang Madura yang keras di tangkap oleh orang Dayak
sebagai kesombongan dan kekasaran.
Kebudayaan yang berbeda seringkali dijadikan dasar penyebab timbulnya suatu
konflik pada masyarakat yang berbeda sosial budaya. Demikian juga yang terjadi pada
konflik Dayak dan Madura yang terjadi pada tahun 1996 yaitu terjadinya kasus
Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang (sebelum pertengahan tahun 1999 termasuk
Kabupaten Sambas), di Kalimantan Barat.
Orang Dayak yang ramah dan lembut merasa tidak nyaman dengan karakter
orang Madura yang tidak menghormati dan menghargai orang Dayak sebagai penduduk
lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi
orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka
pertahankan. Seringkali mereka terkena tipudaya masyarakat pendatang khususnya
orang Madura menimbulkan setimen sendiri bagi orang Dayak yang menganggap
mereka sebagai penjarah tanah mereka. Ditambah lagi dengan keberhasilan dan kerja
keras orang Madura mengelola tanah dan menjadikan mereka sukses dalam bisnis
pertanian.
Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi merupakan dasar dari munculnya suatu
konflik-konflik. Masyarakat Dayak juga yang mempunyai suatu ciri yang dominan

dalam mata pencarian yaitu kebanyakan bergantung pada kehidupan bertani atau
berladang. Dengan masuknya perusahaan kayu besar yang menggunduli kayu-kayu
yang bernilai, sangatlah mendesak keberadaannya dalam bidang perekonomian.
Perkebunan kelapa sawit yang menggantikannya lebih memilih orang pendatang
sebagai pekerja daripada orang Dayak. Hal yang demikian menyebabkan masyarakat
adat merasa terpinggirkan atau tertinggalkan dalam kegiatan perekonomian penting di
daerahnya mereka sendiri. Perilaku orang Madura terhadap orang Dayak dan
keserakahan mereka yang telah menguras dan merusak alamnya menjadi salah satu
dasar pemicu timbulnya konflik di antara mereka.
Ketidakcocokan di antara karakter mereka menjadikan hubungan kedua etnis ini
mudah menjadi suatu konflik. Ditambah lagi dengan tidak adanya pemahaman dari
kedua etnis terhadap latar belakang sosial budaya masing-masing etnis. Kecurigaan dan
kebencian membuat hubungan keduanya menjadi tegang dan tidak harmonis.
Ketidakadilan juga dirasakan oleh masyarakat Dayak terhadap aparat keamanan
yang tidak berlaku adil terhadap orang Madura yang melakukan pelanggaran hukum.
Permintaan mereka untuk menghukum orang Madura yang melakukan pelanggaran
hukum tidak diperhatikan oleh aparat penegak hukum. Hal ini pada akhirnya orang
Dayak melakukan kekerasan langsung terhadap orang Madura, yaitu dengan
penghancuran dan pembakaran pemukiman orang Madura.
Konflik sendiri memiliki arti hubungan antar dua pihak atau lebih (individu atau
kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
Kekerasan adalah tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang
menyebabkan kerusakan secara fisik, mental sosial atau lingkungan dan atau
menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.
Dari definisi diatas, dapat dikatakan bahwa antara konflik dengan kekerasan
bagaikan dua sisi mata pedang yang terpisahkan satu dengan yang lainnya manakala
konflik yang terjadi tidak segera diselesaikan sebagaimana mestinya, sehinga
menimbulkan kekerasan yang dapat merusak secara material maupun immaterial.
Konflik juga dapat diartikan sebagai suatu kenyataan yang tidak terhindarkan jika
pihak-pihak yang bertentangan tidak memiliki pemahaman yang terhadap satu sama
lain dan tujuan serta kebutuhan mereka tidak dapat sejalan lagi. Perbedaan pendapat
yang terjadi di antara keduanya pada dasarnya adalah hal yang alami, namun jika tidak
terkendali akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan yang merusak kedua belah pihak.
Jika konflik yang menyebabkan timbulnya kekerasan dapat diselesaikan tanpa
melakukan kekerasan dan memberikan suatu rasa damai dan aman pada masyarakat

sekitarnya. Sebalinya, jika diselesaikan juga denga kekerasan yang membabibuta akan
menyebabkan timbulnya rasa takut, tidak aman, kepanikan bagi orang sekitarnya,
khususnya bagian dari masyarakat yang bertikai. Permasalahn baru juga akan timbul
dari penyelesaian dengan jalan kekerasan.
Peristiwa yang memicu tragedi sampit Dayak dan Madura.
Sebelum peristiwa berdarah meledak di Sampit, pertikaian antara suku Dayak dan
suku Madura telah lama terjadi, Entah apa penyebab awalnya, yang jelas suku Dayak
dapat hidup berdampingan dengan damai bersama suku lain tapi tidak dengan suku
Madura. Bahkan keturunan suku terdekat dari suku Dayak pun (Banjar), kaget melihat
keberingasan mereka dalam Tragedi Sampit.
Menengok kembali peristiwa lama yang mungkin termasuk pemicu terjadinya
Tragedi sadis di Sampit :
a. Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak dapat perlakuan tindakan
asusila. Terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan
perdamaian menurut hukum adat.
b. Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak,
pelakunya tidak tertangka, pengusutan atau penyelesaian secara hukum tidak ada.
c. Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis
Dayak di bunuh. Perkelahian antara satu orang Dayak yang di keroyok oleh 30
orang Madura. Terhadap pembunuhan warga Kasongan bernama Pulau yag
beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan
perdamaian. Dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku
pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh kedua
belah pihak, isisnya antara lain menyatakana apabila orang Madura mengulangi
perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalimantan Tengah.
d. Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak dapat perlakukan tindakan
asusila di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam dan sadis oleh orang
Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.
e. Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh
orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang
Madura mati semua. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri
menggunakan ilmu bela diri, dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya dan
tindakan hukum terhadap orang Dayah adalah dihukum berat.
f. Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang
anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura tukang
jualan sate. Si belia dayak mati secara mengenaskan, tubuhnya terdapat lebih dari
30 tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak

muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur, Si korban Waldi hanya
kebetulan lewat di tempat kejadian saja.
g. Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh empat orang Madura
hingga meninggal, pelakunya belum dapat ditankap karena melarikan diri, kasus
ini pun tidak ada penyelesaian secara hukum.
h. Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (Ketertiban Umum)
dibacok oleh orang Madura, pelakunya ditahan di Polresta Palangka Raya, namun
besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntut agar temannya tersebut
di

bebaskan

tanpa

tuntutan.

ternyata

pihak

Polresta

Palangka

raya

membebaskannya tanpa tuntutan hukum.


i. Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi seorang Dayak dikeroyok oleh
beberapa orang suku Madura karena masalah sengketa tanah. Dua orang Dayak
dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua. Sedangkan pembunuhnya lolos,
malahan orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat
kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhna yang melarikan diri itu.
j. Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan arut Utara, kabupaten Kotawaringin
Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura. Gara-gara suku Madura
memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak sedang menambang emas.
Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada kedua belah pihak, tanpa
penyelesaian hukum.
k. Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami istri bernam
iba oleh 3 orang Madura. Pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris
Sylvanus, Palangka raya. Biaya operasi dan perawatan di tanggung oleh Pemda
Kalimantan Tengah. namun para pembacok tidak ditangkap dan katanya sudah
pulang ke Pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura memasuki rumah
keluarga Iba dengan dalih minta di beri minuman air, karena katanya mereka haus,
sewaktu Iba menuangkan air di gelas, mereka membacoknya, saat istri Iba mau
membela, namun Iba juga di tikan. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita
mau membalas dendam tapi, salah orang.
l. Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu keluarga Dayak mati di bantai
oleh orang Madura, pelaku pembataian lari tanpa penyelesaian hukum.
m. Tahun 2000, di Palangka Raya, satu orang suku Dayak di bunuh oleh pengeroyok
suku Madura di depan gedung Gereja Immanuel, Jalan Bangka. para pelaku lari
tanpa menjalani proses hukum.
n. Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi
pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh

suku Madura, para pelaku kabur, tidak tertangkap, karena lagi-lagi sudah lari ke
Pulau Madura. proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampakna belum
mampu menyelesaikannya.
o. Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh
karena dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.
p. Tahun 2001, di Palngka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh
diserang oleh suku Madura. Belum terhitung kasus warga Madura di bagian
Kalimantan Barat.
2.5. Revitalisasi dan Aktualisasi Pada Sila ke-3 Persatuan Indonesia
a. Revitalisasi Pada sila ke-3 Persatuan Indonesia
Agar warga negara Indonesia dapat mewujudkan sila ke-3 yang bebunyi
Persatuan Indonesia maka haruslah ada rasa toleransi diantara setiap warga
masyarakat di Indonesia. Sikap dan rasa toleransi inilah yang membawa sebuah
negara menjadi sejahtera dan damai. Dalam kenyataanya sangatlah berbeda dengan
harapan yang diinginkan. Banyak orang yang sudah merasa benar meskipun belum
tentu benar. Jadi kalau begitu semua hal tersebut berasal dari dalam diri sendiri.
Menyatukan banyak orang yang memiliki latar belakang dan sifat yang
beragam untuk meraih persatuan. Memiliki perasaan senasib, serasa, sependeritaan
pun dapat mempererat persatuan. Dengan kesamaan rasa orang akan berfikir orang
lain adalah bagian dari hidupnya dan muncul rasa untuk saling menolong.
Persatuan juga akan muncul jika kita memiliki rasa saling memiliki,
contohnya saja kita merasa memiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apabila
negara kita direbut atau diancam pastinya sebagai warga negara tidak diterima dan
akan bersatu melawannya.
Dengan mempertahankan Persatuan Indonesia pepatah mengatakan, Bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh. Oleh karena itu, yang perlu kita tegakkan dan
lakukan adalah :
1. Meningkatkan semangat kekeluargaan, gotong royong, dan musyawarah.
2. Meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia dalam berbagai aspek
kehidupan.
3. Meningkatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
b. Mengaktualisasikan sila ke-3 Persatuan Indonesia
Perwujudan dari sila ke-3 dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, contohnya :
1. Di Daerah Ibukota Jakarta ada tempat ibadah yaitu Masjid Istiqlal dan
Gereja Katedral yang letaknya beresebelahan dengan adanya sila ke-3

yang berbunyi Persatuan Indonesia, namun kedua tempat ibadah


tersebut tidak mengalami terjadinya bentrok antar agama. Dengan kata
lain sikap antar agama tersebut sikapnya sangat patut dicontoh karena
dengan sikap saling toleransi atau menghargai satu sama lain maka akan
terciptalah kedamaian dan kesejahteraan dan meningktkan semangat
Bhinneka Tunggal Ika.
2. Dari kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara dengan bertempat tinggal dan memiliki tetangga yang berbeda
suku tidak akan terjadi bentrok apabila sudah merasa satu keluarga
sehingga akan timbul rasa saling tolong menolong satu sama lain.
3. Dengan mendengarkan pendapat orang lain maka orang lain akan merasa
dihargai sehingga rasa nyaman antara satu sama lain dapat mewujudkan
sikap dari sila ke-3 yang berbunyi Persatuan Indonesia.
4. Mengutamakan kepentingan banyak pihak di bandingkan kepentingan
sendiri maka akan membina hubungan baik dan rasa rela berkorban
dengan melawan rasa egois. Sikap tersebut sangat patut di contoh karena
sudah melawan rasa egois diri sendiri.

BAB III
PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan
Persatuan sangatlah penting bagi sebuah negara yang ingin sejahtera. Dengan
persatuan pula sebuah negara bahkan bisa bersatu dengan negara lain. Persatuan juga
akan mewujudkan kerjasama yang baik diantara orang didalamnya. Walaupun ada
penyimpangan-penyimpangan dari Pancasila terutama sila ke-3 namun tidak
menyurutkan rasa persatuan di negara Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan
tersebut sebenarnya dapat di atasi dengan Pancasila itu sendiri.
Ingatlah semboyan negara Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika yang
mengandung arti meskipun berbeda tetapi kita tetap satu. Satu nusa, satu negara, satu
bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
3.2. Saran
Untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dan mewujudkan sila ke-3
yang berbunyi Persatuan Indonesia

dapat memupuk rasa toleransi, cinta, dan

kekeluargaan kepada negara Indonesia, dengan saling mengingatkan satu sama lain dan
bekerja sama demi kemajuan bangsa Indonesia.