Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika kita mengkaji ilmu hadis atau lebih dikenal dengan nama ilmu
musthalahul hadits, maka kita mendapati bahwa bagian terpenting yang
menjadi objek kajian dalam disiplin ilmu ini adalah meneliti otentisitas
suatu hadits. Karenanya, dalam sudut pandang ini secara praktis ilmu
hadits (ulumul hadits) sesungguhnya sudah dikenal semenjak Nabi
Muhammad saw. masih hidup. Tentu saja cakupan kajiannya masih sangat
terbatas karena semua masalah yang timbul masih dapat dengan mudah
dikembalikan langsung kepada Nabi saw untuk diselidiki kembali
kebenarannya.
Berbeda dengan perkembangan berikutnya, setelah Nabi saw wafat,
ilmu hadits mengalami perkembangan baru. Dengan semakin jauhnya
umat islam dari masa Nabi saw memunculkan ilmu yang secara khusus
meneliti para pembawa berita atau periwayat hadits.
Kesulitan memahami pengetahuan hadits dan ilmu hadits tidak jarang
menjadikan seorang yang mengkaji ajaran islam bersikap enggan bahkan
mengenyampingkan hadits. Sikap yang demikian itu sangat berbahaya
karena dapat menjerumuskan yang bersangkutan meninggalkan atau
mengingkari hadits Nabi.
Makalah yang kami susun ini membahas salah satu ilmu hadits yaitu
takhrij hadits yang di dalamnya diuraikan tentang metode dan langkah
langkah mengkaji sebuah hadits agar diketahui kekuatan sanadnya dan
kualitas hadits itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami kembangkan dalam penyusunan
makalah ini adalah :
1. Apa pengertian Takhrij hadits ?

2. Bagaimana realisasi dari Takhrij hadits?


3. Mengapa Takhrij hadits itu muncul?
a. Apa tujuan dan manfaat Takhrij hadits?
b. Kitab apa saja yang diperlukan dalam Takhrij hadits?
c. Bagaimana cara pelaksanaan dan metode Takhrij hadits?
C. Tujuan Penyusunan Makalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian Takhrij hadits.
2. Mengetahui realisasi dari Takhrij hadits
3. Mengetahui sebab munculnya Takhrij hadits
a. Mengetahui tujuan dan manfaat Takhrij hadits
b. Mengetahui Kitab-kitab yang diperlukan dalam Takhrij
hadits
c. Mengetahui cara pelaksanaan dan metode Takhrij hadits

4. BAB II
5. PEMBAHASAN
A Pengertian Takhrij Hadits
Ada beberapa pendapat yang mengutarakan tentang pengertian takhrij
hadits, baik secara bahasa maupun secara istilah. Pengertian-pengertian
tersebut memiliki beberapa perbedaan akan tetapi makna dan maksud dari
pengertian tersebut sama.
1. Pengertian Menurut Bahasa
6. Takhrij

menurut

bahasa,

berarti

istinbat

(mengeluarkan), tadrib (memperdalam) dan taujih


(menampakan).1 Takhrij hadits adalah merupakan
bagian dari kegiatan penelitian hadits. Takhrij berasal
dari kata khara-ja, yaitu ikhraj dan istikhraj, yang
penggunaannya sedikit berbeda antara yang satu
dengan yang lainnnya.
7. Menurut Muhamad Ahmad

dan

Mudzaik

(2004)

pengertian takhrij hadits adalah berasal dari kata

adalah bentuk masdar fiil madi (





) yang secara bahasa berarti mengeluarkan



sesuatu dari tempat. 2
8. Pengertian takhrij menurut ahli hadist memiliki tiga
macam pengertian :3
a. Usaha mencari sanad hadis yang terdapat dalam kitab hadis
karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat
dalam kitab tersebut. Usaha semacam ini dinamakan juga
istikhraj.
1 Endang Soetari, Ilmu Hadis Kajian dan Dirayah (Bandung, Mimbar
Pustaka,2005) halaman 154
2 Maslani dan Ratu Suntiah, Ikhtisar Ulumul Hadis (Bandung,Sega Arsy,
2010) halaman. 96
3 Ibid

b. Suatu keterangan bahwa hadis yang dinukilkan ke dalam kitab


susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan
nama penyusunnya.
c. Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang tidak
diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.
9.
2. Pengertian Secara Terminologi
10.

Secara terminologi, takhrij berarti :

.11


,




,
12.

mengembalikan

(menelsuri

kembali

ke

asalnya) hadits-hadits yang terdapat didalam berbagai


kitab yang tidak memakai sanad kepada kitab-kitab
musnad, baik disertai dengan pembicaraan tentang
status hadits-hadits tersebut dari segi sahih atau dhaif,
ditolak

atau

diterima,

dan

penjelasan

tentang

kemungkinan illat yang ada padanya, atau hanya


sekedar mengembalikannya kepada kitab-kitab asal
(sumber)-nya.4
13.
Al-Thahan,

setelah

menyebutkan

beberapa

macam pengertian takhrij di kalangan ulama hadis,


menyimpulkan sebagai berikut :


.14



15.

menunjukan atau mengemukakan letak asal hadis pada

sumbernya yang asli yang di dalamnya dikemukakan hadis itu secara

4 Sohari Sahrani, Ulumul Hadis. (Bogor : Ghalia Indonesia, 2015) hal


185-187

lengkap

dengan

sanadnya

masingmasing,

kemudian

manakala

diperlukan, dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.5


16.

Para

ulama

ahli

hadis

dalam

hal

ini

mengemukakan beberapa definisi, yaitu :


a. Arti takhrij sama dengan al-Ikhraj yaitu Ibraz al-Hadis li anNas bi Dzikri Mahrajih ( mengungkapkan atau mengeluarkan
hadis kepada orang lain dengan menyebutkan para perawi yang
berada dalam rangkai sanadnya sebagai yang mengeluarkan
hadis ).
b. Kata takhrij berarti ikhraj al-Ahadis min Buthuni al-Kutub wa
Riwayatuh (mengeluarkan sejumlah hadis dari kandungan
kitab-kitabnya dan meriwayatkannya kembali).
c. Kata takhrij berarti Ad-Dalalah ala Mashadir al-Hadis alAshliyah wa Azzuhu ilaihi ( petunjuk yang menjelaskan kepada
sumber-sumber asal hadis).6
17. Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
takhrij hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis sebagai
sumber nya yang asli yang di dalamnya dikemukakan secara
lengkap matan dan sanad-nya.

5 Sohari Sahrani, Op.Cit.hal 187


6 Maslani, Op.Cit. hal 96 - 97

B Sebab Munculnya Takhrij Hadits


Pada mulanya, menurut Al-Thahan, ilmu takhrij al-hadis tidak dibutuhkan
oleh para ulama dan peneliti hadis karena Penguasaan para ulama dahulu
terhadap sumber-sumber hadis begitu luas sehingga jika disebutkan suatu
hadis mereka tidak merasa kesulitan untuk mengetahui sumber hadis tersebut.
Ketika semangat belajar mulai melelah, mereka kesulitan untuk mengetahui
tempattempat hadis yang dijadikan rujukan para penulis ilmu syari.
Sebagian ulama bangkit dan memperlihatkan hadishadis yang ada pada
sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab hadis yang asli,
menjelaskan metodenya, dan menerapkan kualitasnya, apakah hadis tersebut
shahih atau daif, lalu munculah apa yang dinamakan dengan kutub at takhrij
(buku buku takhrij).7
Yang pertama muncul adalah karya Al Khatib Al Baghdadi (w.463 H),
namun yang terkenal adalah Takhrij Al Fawaid Al Mutakhabah Al Shihah wa
Al Gharaib karya Syarif Abi Al Qasim Al Husaini, Takhrij Al Fawaid Al
Mutakhabah Al Shihah wa Al Gharaib karya Abi Al Qasim Al Muhammad
Ibnu Musa Al Hazimi Al Syafii (w.584H). kitab Al-Muhdzdzab sendiri adalah
kitab fiqih madzhab syafiI yang disusun oleh Abu Ishaq Al-Syirazi.8
Selain itu, terdapat pula alasan lain diadakannya ilmu Takhrij Hadits dari
sudut pandang yang berbeda, diantaranya :9
1. Politik
18.

Pengelolaan politik yang terjadi pada masa

sahabat, setelah terjadinya perang jamal dan perang


siffin yang menyebabkan umat islam terpecah-pecah.
Sehingga mereka mendatangkan beberapa hujjah
7 Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis. (Bandung: Pustaka
Setia 2013) hal. 192
8 Sohari Sahrani, Op.Cit hal 189
9 Maslani, Op.Cit. hal 101 - 104

untuk

mendukungnya

dan

untuk

kepentingan

golongannya masing-masing.
19.
Yang mula-mula melakukan pekerjaan sesat ini
adalah golongan syiah. Mulai saat itu, terdapat
hadits-hadits yang shahih dan hadits-hadits yang
palsu. Cara-cara ulama dalam menjaga hadits, yaitu
dengan

adanya

keharusan

menyebutkan

sanad,

mengadakan perlawatan mencari hadits dan berhatihati dalam menerimanya, mengadakan penelitian
terhadap orang-orang yang diduga sering membuat
hadits palsu dan memerangi mereka, menjelaskan
keadaan

perawi

dan

menetapkan

kaidah-kaidah

untuk dapat mengetahui hadits-hadits palsu.


2. Ekonomi
20.

Pada tahapan selanjutnya haditspun dijadikan

sebagai rekayasa dalam proses perdagangan atau


pun perekonomian secara keseluruhan. Karena ingin
mendapat keuntungan yang berlebih, para saudagar
mulai memalsukan hadits untuk kepentingan pribadi
atau kelompoknya.

Dengan melakukan demikian

secara tidak langsung mereka itu telah mendzalimi


para pembeli dan itu merupakan suatu tindakan
kejahatan.
3. Sosial
21.

Dampak sosial yang terjadi dengan beredarnya

hadits-hadits palsu, menyebabkan terjadinya banyak


pertentangan dikalangan umat yang pada akhirnya
memicu

konflik

atau

sampai

menimbulkan

peperangan.
22.
Selain itu, dengan banyak beredar haditshadits palsu memberikan peluang kepada kaum yang
lebih kuat untuk bertindak semena-mena terhadap
kaum yang lemah.
7

23.

Oleh karena itu, dirancanglah suatu ilmu untuk

menyeleksi hadits-hadits yang beredar pada waktu


itu, yang bertujuan untuk meminimalisir dampak dari
beredarnya hadits palsu (Maudlu).

a) Tujuan Dan Manfaat Takhrij Hadits


Takhrij hadis bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang
ditakhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya
hadis-hadis tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadishadis yang pengutipannya memerhatikan kaidahkaidah ulumul hadis
yang berlaku sehingga hadis tersebut menjadi jelas, baik asal usul
maupun kualitasnya10. Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi
tujuan takhrij, yaitu :
1. Untuk mengetahui sumber dari suatu hadis
2. Mengetahui kualitas dari suatu hadis apakah dapat diterima
(shahih atau hasan ) atau di tolak (dhaif).11
Disamping tujuan yang telah dipaparkan diatas, takhrij hadis juga
memiliki banyak manfaat diantaranya :
1. Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu
hadis yang sedang menjadi topik kajian.
2. Dapat

diketahui

kuat

dan

tidaknya

periwayatan

akan

menambah kekuatan riwayat. Sebaliknya, tanpa dukungan


periwayatan lain, kekuatan periwayatan tidak bertambah.
3. Dapat ditemukan status hadis shahih lidzatihi atau sahih
lighairihi, hasan lidzatihi atau hasan lighairihi. Demikian juga,
akan dapat diketahui istilah hadis mutawatir, masyhur, aziz, dan
gharibnya.

10 Agus Solahudin, Op. Cit. halaman 191


11 Sohari Sahrani, Op.Cit. hal 190

4. Memberikan

kemudahan

bagi

orang

yang

hendak

mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadis tersebut adalah


maqbul ( dapat diterima). Sebaliknya, orang tidak akan
mengamalkannya apabila mengetahui bawha hadis tersebut
mardud (ditolak).
5. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis dalah benarbenar
berasal dari Rasulullah SAW yang harus diikuti karena adanya
buktibukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut, baik
dari segi sanad maupum matan.12
b) Kitab Kitab Yang Diperlukan Dalam Mentakhrij Hadits
1. Hidayatul Bari Ila Tartibi Ahadisil Bukhari
24.

Penyusun kitab ini adalah Abdurrahman Ambar

Al-Misri At-Tahtawi. Kitab ini disusun khusus untuk


mencari hadits-hadits yang termuat dalam Shahih AlBukhari. Lafadz-lafadz hadits disusun menurut aturan
urutan huruf abjad arab. Namun hadits-hadits yang
dikemukakan secara berulang dalam Shahih Bukhari
tidak dimuat secara berulang dalam kamus di atas.
Dengan demikian perbedaan lafadz dalam matan
hadits riwayat Al-Bukhari tidak dapat diketahui oleh
kamus tersebut.
2. Mujam Al-Fazi wala siyyama al-garibu minha atau Fihris Litartibi
Ahadisi Sahihi Muslim
25.

Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni

juz kelima dari kitab Shahih Muslim yang disunting


oleh Muhammad Abdul Baqi. Juz lima ini merupakan
kamus terhadap juz ke I-IV yang berisi :
a. Daftar urutan judul kitab serta nomor hadits dan juz yang
memuatnya.
12 Agus Solahudin, Op. Cit. halaman 191 - 192

10

b. Daftar nama para sahabat nabi yang meriwayatkan hadits


yang termuat dalam Shahih Muslim.
c. Daftar awal matan hadits dalam bentuk sabda yang tersusun
menurut abjad serta diterangkan nomor-nomor hadits yang
diriwayatkan oleh bukhari, bila kebetulan hadits tersebut
diriwayatkan oleh Bukhari.
3. Miftahus Shahihain
26.

Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin

Mustafa Al-Tauqiyah. Kitab ini dapat digunakan untuk


mencari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan diriwayatkan oleh muslim. Akan tetapi haditshadits yang dimuat dalam kitab ini hanyalah haditshadits yang berupa sabda (qauliyah) saja. Haditshadits tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal
matan hadits.
4. Al-Bugyatu Fi Tartibi Ahadasi Al-hilyah
27.

Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-

Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq Al-Qammari.


Kitab hadits tersebut memuat dan menerangkan
hadits-hadits yang tercantum dalam kitab yang
disusun oleh Abu Nuaim Al-Asabuni (w.430 H) yang
berjudul Hilyatul Auliyai Wababaqatul Asfiyai.
5. Al-Jamius Sagir
28.

Kitab

ini

disusun

oleh

imam

Jalaludin

Abdurrohman As-Suyuti (w 91 H). kitab kamus hadits


tersebut

memuat

hadits-hadits

yang

terhimpun

dalam kitab himpunan kutipan hadits yang disusun


oleh As-Suyuti.
6. Al-Mujam Al-Mufahras Li Al-Fazil Hadits Nabawi
29.
Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari
kalangan orientalis. Diantara anggota tim yang paling
aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr.

11

Arnold John Wensinck (w 1939 M), seorang profesor


bahasa-bahasa
Universitas
dimaksudkan

Smit,

Leiden,
untuk

termasuk

bahasa

negeri

Belanda.

mencari

hadits

arab
Kitab

di
ini

berdasarkan

petunjuk lafal matan hadits. Berbagai lafal yang


disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada
di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadits.
Dengan demikian, kitab Mujam mampu memberikan
informasi kepada pencari matan dan sanad hadits
asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu
telah diketahuinya. Kitab Mujam ini terdiri dari tujuh
juz dan dapat digunakan untuk mencari hadits-hadits
yang terdapat dalam Sembilan kitab hadits, yaitu :
Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud,
Sunan Turmuji, Sunan Nasai, Sunan Ibn Majjah, Sunan
Daromi, Muwatta Malik dan Musnad Ahmad.13
c) Metode dan Langkah Langkah Takhrij
30.

Untuk mencari suatu teks matan hadis tidaklah semudah

kita mencari ayat al-Quran hal ini disebabkan karena teks matan hadis
bertebaran dalam beberapa kitab yang memiliki versi yang berbedabeda, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan
Nasai, Sunan Abu Sunan Dawud, Sunan Ibnu Majah dan lain-lain.
31.

Takhrij (menelusuri keberadaan suatu teks matan hadis)

dapat ditempuh melalui 5 (lima) cara, yaitu


32.

Secara garis besar, ada tiga cara men-takhrij hadits (

takhrijul hadits) dengan menggunakan kitab-kitab sebagai mana telah


disebutkan diatas. Adapun tiga macam cara takhrijul hadits, yaitu :
1. Metode Takhrij Hadis Menurut Lafazh Pertama
13 Muhammad Ahmad, Ulumul Hadis. (Bandung: Pustaka Setia 2004).
Hal 132-135

12

33.

Metode Takhrij Hadis menurut Lafazh Pertama,

yaitu suatu metode yang berdasarkan pada lafazh


petama matan hadis, sesuai dengan urutan hurufhuruf hijaiyah dan alfabetis, sehingga metode ini
mempermudah pencarian hadis yang dimaksud.
34.
Adapun kitab-kitab yang menggunakan metode
ini diantaranya kitab Al-Fami As-Shaghir fi Ahadis alBasyir An-Nazir, yang disusun oleh Jalaluddin Abu
Fadhil Abd ar-Rohman Ibnu Abi Bakar Muhammad AlKhudri As-Suyuthi. Dalam bab ini, hadis-hadis disusun
berdasarkan

urutan

huruf

hijaiyah

sehingga

pencarian hadis yang dimaksud sangat mudah. Di


dalamnya dimuat petunjuk para mukharij hadis yang
bersangkutan

(dalam

mashdar

Al-ashli)

dan

pernyataan kualitas hadis yang bersangkutan.14


35.
Umpamanya, apabila akan men-takhrij hadis
yang berbunyi :


37.

.36

Maka langkah yang akan ditempuh dalam

penerapan metode ini adalah menentukan urutan


huruf haruf yang terdapat pada lafadz pertamanya,
dan begitu juga lafadz lafadz selanjutnya.

Lafadz pertama dari hadis di atas dimulai dengan huruf mim,


maka dibuka kitabkitab hadis yang disusun berdasarkan

metode ini pada bab mim.


Kemudian huruf kedua setelah mim yaitu nun.

Berikutnya mencari hurufhuruf selanjutnya, yaitu ghain, syin,


dan nun. Demikianlah seterusnya, mencari huruf-huruf hijaiyah
pada lafal-lafal matan hadits tersebut.15

14 Ibid. hal 196


15 Sohari Sahrani, Op.Cit. hal 197

13

38.

Diantara kitab kitab yang menggunakan

metode ini adalah sebagai berikut :


a. AlJamial asShagir min Hadits Al basyrin al-Nadzir,
karangan Al-suyuthi (w.911 H).
b. AlFath al-Kabir fi Dhamm al-Ziyadat ila al-JamialShagir, juga karangan Al-Suyuthi.
c. Jamal-Jawami aw al-Jamial-Kabir, juga karangan AlSuyuthi.
2. Metode Takhrij Menurut Lafazh-Lafazh yang Terdapat dalam
Hadis
39.

Metode takhrij menurut lafadz-lapadz yang

terdapat dalam hadis yaitu suatu metode yang


berlandaskan pada kata-kata yang terdapat dalam
matan hadis, baik berupa kata benda maupun kata
kerja. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf,
tetapi yang dicantumkan adalah bagian hadisnya
sehingga

pencarian

hadis-hadis

yang

dimaksud

dapat diperoleh lebih cepat. Kitab yang berdasarkan


metode ini diantaranya kitab Al-Mujam Al-Mufahras li
Al-fazh

Al-Hadis

A.J.Wensink

dan

An-Nabawi,

yang

kawan-kawan,

disusun

yang

oleh

kemudian

diterjemahkan oleh Muhammad Fuad Abd Al-Baqi.


Kitab

ini,

sebelumnya,

sebagaimana

yang

mengumpulkan

telah

dijelaskan

hadits-hadits

yang

terdapat didalam Sembilan kitab induk hadits, yaitu:


(1) Shahih Bukhari, (2) Shahih Muslim, (3) Sunan AtTirmidzi, (4) Sunan Abu Daud, (5) Sunan An-Nasai,
(6) Sunan Ibn Majjah, (7) Sunan Ad-Darimi, (8)

40.

Muawwatha Malik, dan (9) Musnad Ahmad.16


Umpamanya, pencarian hadis sebagai berikut :

16 Agus Solahudin, Op. Cit. hal 198

14



42.

.41

Dalam Pencarian hadits ini pada dasarnya

dapat ditelusuri melalui kata kata Naha, () (


) , atau mutabariyani (
Thaam () , yukal (

) . Akan tetapi, dari sekian kata yang
digunakan lebih dianjurkan untuk menggunakan kata
al-mutabariyani, karena kata tersebut jarang adanya.
Menurut penelitian para ulama hadis, penggunaan
kata tabara di dalam kitab induk hadis (hanya
berjumlah Sembilan) hanya dua kali.17
3.

Mencari Hadis Berdasarkan Tema

43.

Upaya

mencari

hadis

terkadang

tidak

didasarkan pada lafadz matan (materi) hadis, tetapi


didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan
hadis berdasarkan topik masalah sangat menolong
pengkaji hadis yang ingin memahami petunjukpetunjuk hadis dalam segala konteknya.
44.
Pencarian matan hadis berdasarkan
masalah

tertentu

dapat

ditempuh

dengan

topik
cara

membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadis,


namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukan
teks hadis menurut para periwayatnya masingmasing. untuk memahami topik tentang petunjuk
hadis diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadis
menurut

periwaayatnya

masing-masing.

Dengan

bantuan kamus hadis tertentu, pengkaji teks dan


konteks

hadis

menurut

riwayat

dari

berbagai

periwayat akan mudah dilakukan salah satu kamus


hadisnya adalah kitab Miftahu Al-Qunuz As-Sunnah

17 Sohari, Op.Cit. Hal 196

15

(untuk empat belas kitab hadis dan tarikh nabi. 18


Sebagai contoh adalah hadis di bawah ini.


.45





46.

Islam dibagun atas lima (fondasi), yaitu kesaksian bahwa

tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rosululloh,
mendirikan

salat,

membayarkan

zakat,

mempuasakan

bulan

Ramadhan, dan menunaikan haji bagi yang telah mampu.


47.

Hadits diatas mengandung beberapa tema,

yaitu iman, tauhid, salat, zakat, puasa, dan haji.


Berdasarkan tema tersebut, maka hadits di atas
harus dicari di dalam kitab-kitab hadits di bawah
tema-tema itu dari keterangan di atas, jelas bahwa
takhrij dengan metode ini sangat tergantung pada
pengenalan terhadap tema hadits sehingga apabila
tema dari suatu hadits tidak diketahui, maka akan
sulitlah

untuk

melakukan

takhrij

dengan

menggunakan metode ini.19


4. Berdasarkan Periwayat Sahabat
48.Cara ini digunakan apabila ada nama sahabat yang
disebutkan dalam hadis yang hendak ditelusuri. Cara ini tidak dapat
digunakan, apabila didalamnya tidak menyebutkan nama sahabat.
49.Penelusuran hadis dengan cara ini menggunakan tiga (ada
yang mengatakan dua) macam kitab hadis, yaitu :

18 Agus Solahudin, Op.Cit. Hal 199


19 Sohari, Op.Cit. hal 201

16

1) Kitab Musnad (kitab yang disusun secara hijaiyah berdasarkan


nama dari kalangan sahabat), seperti Musnad Ahmad ibnu Hanbal,
Musnad Abu Bakar ibnu Zubair al-Humaidi dll20
2) Kitab Mujam (kitab yang disusun secara hijaiyah berdasarkan
nama sahabat, guru-guru, atau negeri para perawinya) seperti
Mujam al-Kabir, Mujam al-Ausath, Mujam as-Shaghir karya atThabrani, Mujam as-Shahabat karya Ahmad ibn Ali al-Hamdani
dan Abu Yala Ahmad Al-Mushili.21
3) Kitab Athraf (kitab yang memuat bagian-bagian awal (athraf)
matan hadis dari kitab-kitab tertentu secara hijaiyah berdasarkan
nama perawi paling atas), seperti Athraf As-Shahihaini karya Abu
Masud ibn Ibrahim ibn Muhammad ad-Dimasyqi.22
5. Menggunakan fasilitas komputer (al-Hasib al-Aly)23
50.Melakukan takhrij hadis secara manual adalah sangat baik,
namun demikian dengan cara itu membutuhkan waktu yang relative
lama. Untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadi, jasa
computer dengan program Mausuah al-Hadis al-Syarif al-Kutub alTisah dapat digunakan. Program ini merupakan software komputer
yang tersimpan dalam compact disk read only memory (CD-ROM)
yang diproduksi oleh Sakhr tahun 1991 edisi 1 .2.
51.Program ini memuat seluruh hadis yang terdapat dalam 9
kitab hadis (al-kutub al tisah) yaitu: sahih al-Bukhari, Sahih Muslim,
Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibn
Majah, Musnad Ahman ibn Hanbal, Muwatta Malik dan Sunan alDarimi lengkap dengan sanad dan matannya. Disamping itu, program
20 Ibid. hlm.39. Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 106

21 Mahmud Thahhan. Ibid. hlm. 45


22 Ibid. hlm.47. Abu Muhammad Al-Mahdi. Op.cit. hlm. 107
23 Ibid. hlm. 49-50

17

ini juga mengandung data-data tentang biografi daftar guru dan murid
Al-Jarh wa Al-Tadil, dan semua periwayat hadis dan yang ada
didalam al-kutub al-tisah. Program ini juga dapat menampilkan
skema sanad, baik satu jalur maupun semua jalur periwayatannya.
52.Secara umum, penelitian hadis yang bisa dilakukan melalui
CD program tersebut mencakup lima aspek yaitu:
1. Takhrij al-Hadis (pelacakan hadis pada 9 kitab hadis lengkap
dengan sanad dan matannya.
2. Itibar sanad, yaitu pembeberan seluruh jalur sanad pada sebuah
hadis atau berita dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana
tingkat hadis tersebut ditinjau dari aspek kualitas rawinya.
3. Naqd al-sanad, yaitu kritik sanad atau tinjauan aspekkualitas dan
persambungan (ittisal) mata rantai sanad yang dimiliki oleh suatu
hadis, guna mengetahui sisi kualitas hadis dilihat dari aspek wurud
al-hadis.
4. Naqd al-Matan, yaitu kritik matan atau tinjauan redaksional
maupun substansial dari sebuah berita atau hadis yang telah
diketahui secara pasti orsinalitas dan otentisitas hadis tersebut
dalam tinjauan sanad.
5. Natjiah, yaitu kesimpulan akhir dari sebuah penelitian tentang
hadis tertentu baik nilai sanad maupun nilai matannya.
53.

Dari kelima aspek diatas, hanya tiga yang dapat diakses

secara lengkap dan jelas melalui program CD hadis. Sementara dua


aspek yang lain membutuhkan perangkat yang lain diluar CD hadis,
yaitu kekuatan analisis peneliti dalam meneliti hadis baik dari aspek
tersurat: maupun tersirat dari hadis yang diteliti.
54.

Disamping itu, tentunya kemampuan peneliti dalam

menerapkan berbagai kaidah yang berlaku dalam penelitian hadis.


Kedua aspek ini adalah naqd al-matan dan natijah. Sementara tiga
aspek yang dimungkinkan penelitiannya secara cepat dan lengkap
melalui CD hadis adalah takhrij al-hadis, Itibar al-sanad dan naqd alsanad.

18

55.

Untuk menelusuri dan mencari hadis dengan program ini

ada 8 cara yang bisa ditempuh, yaitu:


1. Dengan memilih lafadz yang terdapat dalam daftar lafadz yang
2.
3.
4.
5.
6.
7.

sesuai dengan hadis yang dicari


Dengan mengetik salah satu lafaz dalam matan hadis.
Berdasarkan tema hadis.
Berdasarkan nomor urut hadis.
Berdasarkan pada periwayat hadis.
Berdasarkan aspek tertentu pada hadis.
Berdasarkan takhrij hadis.

19

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1.

Takhrij menurut bahasa, berarti istinbat (mengeluarkan), tadrib (memperdalam) dan


taujih (menampakan). Sedangkan menurut istilah adalah



menunjukan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli yang di
dalamnya dikemukakan hadis itu secara lengkap dengan sanadnya masing masing,
kemudian manakala diperlukan, dijelaskan kualitas hadis yang bersangkutan.
2. Kitab Ilmu Takhrij hadis yang pertama muncul adalah karya Al Khatib Al Baghdadi
(w.463 H), namun yang terkenal adalah Takhrij Al Fawaid Al Mutakhabah Al Shihah wa
Al Gharaib karya Syarif Abi Al Qasim Al Husaini, Takhrij Al Fawaid Al Mutakhabah Al
Shihah wa Al Gharaib karya Abi Al Qasim Al Muhammad Ibnu Musa Al Hazimi Al
Syafii (w.584H). kitab Al-Muhdzdzab sendiri adalah kitab fiqih madzhab syafiI yang
disusun oleh Abu Ishaq Al-Syirazi Munculnya ilmu takhrij hadis dilatar belakangi oleh
beberapa faktor, yaitu :
a. Politik,
b. Ekonomi, dan
c. Sosial.
3. Ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu :
a) Untuk mengetahui sumber dari suatu hadis.
b) Mengetahui kualitas dari suatu hadis apakah dapat diterima (shahih atau
hasan ) atau di tolak (dhaif).
Takhrij hadis juga memiliki banyak faedah diantaranya :
a) Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadis yang sedang
menjadi topik kajian.
b) Dapat diketahui kuat dan tidaknya periwayatan akan menambah kekuatan
riwayat.
20

c) Dapat ditemukan status hadis shahih lidzatihi atau sahih ligairihi, hasan
lidzatihi atau hasan ligoirihi.
d) Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah
mengetahui bahwa hadis tersebut adalah maqbul ( dapat diterima).
e) Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis dalah benar benar berasal dari
Rosulullah SAW yang harus diikuti karena adanya bukti bukti yang kuat
tentang kebenaran hadis tersebut, baik dari segi sanad maupum matan.
4. Kitab kitab yang diperlukan dalam mentakhrij hadis
a) Hidayatul Bari Ila Tartibi Ahadisil Bukhari.
b) Mujam Al-Fazi wala siyyama al-garibu minha atau Fihris Litartibi Ahadisi
Sahihi Muslim.
c) Miftahus Shahihain.
d) Al-Bugyatu Fi Tartibi Ahadasi Al-hilyah.
e) Al-Jamius Sagir.
f) Al-Mujam Al-Mufahras Li Al-Fazil Hadits Nabawi.
2.c Metode takhrij diantaranya :
a) Metode Takhrij Hadis menurut Lafazh Pertama.
b) Metode Takhrij Menurut Lafazh-Lafazh yang terdapat dalam hadis.
c) Mencari Hadis Berdasarkan Tema.
5. Dalam mentakrij hadits pada era globalisasi ini dapat menggunakan teknologi sebagai
metodenya. Salah satunya dengan komputer. Cara ini sangat efektif untuk menelusuri
hadits, karena dengan menggunakan komputer kita tidak perlu repot-repot membuka
kitab akan tetapi kita tinggal mengetik apa saja yang terdapat dalam hadits yang hendak
ditelusuri; nama sahabat, kata yang terdapat dalam hadits tersebut, perawi dan lain
sebagainya. Maka secara otomatis komputer akan menampilkan objek yang kita cari
secara detail dari seluruh kitab (kitab hadits maupun yang lain) yang memuat kata yang
kita masukan, halaman dan juz dll.
B. Saran
Demikian makalah ini kami susun semoga bisa memberikan pemahaman tentang takhrij
hadits, sehingga pembaca dapat membedakan kualitas hadits, dan tidak terjebak dengan haditshadits Dhaif atau bahkan hadits-hadits palsu. Seorang mahasiswa selayaknya mampu
memberikan argumen atau dalil yang kuat dalam setiap yang didasari oleh Al-quran dan haditshadits.

21

DAFTAR PUSTAKA

A.Hassan Qadir. (2007). Ilmu Musthalah Hadits. Bandung: CV. Penerbit DIPONEGORO
Abu Muhammad Al-Mahdi. Tt. Tahriq Takhrij Hadits Rasulillah saw. Kairo :Dar al-Itisham.
Ahmad Muhammad, Mudzakir. (2004). Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia
Ash-Shiddieqy Hasby. (1991). Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: PT. Bulan Bintang
Ash-Shiddieqy Hasby Muhammad Teungku. (2009). Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits.
Semarang: Pustaka Rizki Putra
Herdi, Asep. (2010). Ilmu Hadits. Bandung: CV. Insan Mandiri
Mahmud Thahhan. 1991. Ushul at-Takhrij wa Dirasah al-Asanid. Riyad : Maktabah al-Maarif.
Maslani, Suntiah Ratu. (2010). Ikhtisar Ulumul Hadits. Bandung: SEGA ASRY
Sahrani Sohari.(2015). Ulumul Hadits. Bogor: Ghalia Indonesia
Soetari Endang. (2008). Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Bandung: CV. Mimbar
Pustaka
Solahudin Agus, Suyadi Agus. (2008). Ulumul Hadits. Bandung : Pustaka Setia

22

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK 8


METODE TAKHRIJ HADIS
Moderator dan pemateri ke-1 : Hesti Handayani

(1132070033)

Pemateri ke-2

: Ana Nuryanti

(1132070006)

Pemateri ke-3

: Ginanjar Restu Utami

(1132070028)

Pertanyaan
Jawaban
1. ..
1. (Ginanjar Restu Utami)
Apakah ada kriteria-kriteria khusus
Dari yang kelompok kami ketahui,
bagi seorang pen-takhrij hadits?

sebenarnya tidak ada kriteria khusus


bagi seorang pen-takhrij, akan tetapi
selama seseorang itu mampu dan tahu
bagaimana metode atau tata cara
mentakhrij, maka seseorag itu bisa
mentakhrij.
Dan karena takhrij itu bisa dikatakan
merupakan

sebah

penelitian,

yang

artinya dapat dilakukan oleh semua


orang, jadi untuk mentakhrij juga dapat

yang

dilakukan oleh semua orang.


2. (Ana Nuryanti)
Dari beberapa sumber yang telah

disarankan itu merupakan kitab yang

didapatkan sebagai bahan referensi,

berisi hadits-hadits asli atau hadits yang

menurut kelompok kami, buku-buku

merupakah hasil dari takhrij hadits?

yang

2. Haidar
Apakah

sumber

buku-buku

disebutkan/disarankan

dalam

makalah ini merupakan kitab-kitab


yang berisi hadits-hadits asli, yang
dapat dijadikan sebagai bahan rujukan
bagi seseorang yang ingin mentakhrij
3. Furi Chorina Agustin
Takhrij hadis memberikan manfaat

hadits.
3. (Hesti Handayani)
Manfaat dari takhrij hadis terhadap

yang sangat banyak sekali. Dengan

perbendaharaan-pembendaharaan sunah

adanya takhrij kita dapat sampai kepada

nabi diantaranya:
Takhrij
memperkenalkan

sumber23

perbendaharaan-perbendaharaan

sumber Hadits, kitab-kitab asal dimana

Sunnah Nabi. Tanpa keberadaan Takhrij

suatu hadits berada beserta ulama yang

seseorang tidak mungkin akan dapat


mengungkapnya. Apa saja manfaat

meriwayatkannya.
Takhrij
dapat

menambah

perbendaharaan sanad Hadits-Hadist

takhrij hadis tersebut ?

melalui kitab-kitab yang ditunjukinya,


semakin banyak kitab-kitab asal yang
memuat suatu hadist, semakin banyak
pula perbendaharaan sanad yang kita

miliki.
Takhrij dapat memperjelas keadaan
sanad. Demikian pula dapat diketahui
apakah suatu status riwayat tersebut
shahih, dhaif dsb.

24