Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KIMIA ORGANIK (KI-2051)

UJI TRITERPEN DAN STEROID SERTA UJI ALKALOID


Tanggal Percobaan : 28 November 2013
Tanggal Pengumpulan : 4 Desember 2013
Disusun oleh :
Asisten :
Ismail / 10510033

PROGRAM STUDI KIMIA FMIPA


LABORATORIUM KIMIA ORGANIK
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2013

PERCOBAAN 8 DAN 9
UJI TRITERPEN DAN STEROID DAN UJI ALKALOID
I.

Tujuan
Menentukan adanya senyawa triterpen dan steroid pada sampel

Rhoeodiscolor sp. dan Bungur sp.


Menentukan adanya senyawa alkaloid pada sampel Lagerstroemia
loudonii dan juga tingkat kemurniannya

II.

Teori Dasar
Terpen merupakan suatu senyawa hidrokarbon yang sering disebut
juga sebagai isoprenoid. Salah satu senyawa yang merupakan turunan dari
terpenoid adalah Triterpenoid. Triterpenoid merupakan suatu senyawa yang
kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis
diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena, senyawa ini tidak
berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan bersifat optis aktif.
Sementara steroid merupakan suatu golongan terpenoid yang mengandung inti
tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin siklopentana. Contoh steroid yaitu
zoosterol, fitosterol, mikosterol, dan marinesterol. Senyawa steroid memiliki
kerangka dasar triterpena asiklik. Steroid umum digunakan sebagai obat
semacam doping di dunia olahraga.
Alkaloid adalah senyawa nitrogen organik, lazimnya bagian cincin
heterosiklik, bersufat basa, sering bersifat optis aktif dan kebanyakan
berbentuk kristal. Alkaloid biasa ditemukan pada hampir semua jenis
tumbuhan yang ada. Umunya, Alkaloid dapat digolongkan sebagai berikut :
Alkaloid sejati, Pseudoalkaloid, dan Protalkaloid. Alkaloid sejati adalah
senyawa yang mengandung nitrogen pada struktur heterosiklik, struktur
kompleks, distribusi terbatas yang menurut beberapa ahli hanya ada pada
tumbuhan. Alkaloid sejati ditemukan dalam bentuk garamnya dan dibentuk
dari asam amino sebagai bahan dasar biosintesis. Sementara Pseudoalkaloid

memiliki sifat seperti alkaloid sejati tetapi tidak diturunkan dari asam amino.
Protoalkaloid adalah senyawa amin sederhana dengan nitrogen tidak berada
pada cincin heterosiklik. Alkaloid memiliki fungsi yaitu sebagai metabolit
sekunder yang berguna melindungi tanaman dari predator, sebagai metabolit
akhir yaitu limbah yang tidak berfungsi sebagai substansi simpanan atau
sebagai regulator pertumbuhan. Selain pada tumbuhan, alkaloid juga
ditemukan pada bakteri. Sementara pada fungi, terdapat alkaloid psilosin dari
jamur halusinogen. Alkaloid jarang ditemukan pada tumbuhan berbiji terbuka
(gymnospermae) atau tumbuhan paku (pteridophyta).
III.

Data Pengamatan
Berikut adalah data hasil pengamatan percobaan uji triterpen dan
steroid serta uji alkaloid :
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan

Uji

Percobaan
Liebermann-

Foto
Atas

Burchard

Keterangan
:
sampel

Rhoeodiscolor
negatif

sp.,

mengandung

triterpen dan steroid


Bawah
:
sampel
Bungur

sp.,

positif

mengandung triterpen
dan steroid
Gambar 3.1 Uji LiebermannBurchard

Uji Busa

Uji

Busa

hanya

didapatkan

pada

sampel
Bungur

tanaman
sp.,

pada

sampel Rhoeodiscolor
sp. tidak didapatkan

Gambar 3.2 Uji Busa

karena

tidak

ada

sampel

yang

larut

dalam eter. Busa yang


dihasilkan setinggi 5
cm
Sampel

Uji Alkaloid

yang

adalah

diuji
sampel

Lagerstroemia
loudonii, kiri uji meyer
dan

kanan

uji

dragendolff. Hasil +2
positif alkaloid
Gambar 3.3 Uji Alkaloid

Hasil perhitungan Rf :
Uji Triterpen dan Steroid :
Sampel Rhoeodiscolor sp. : 0,9
Sampel Bungur sp. : 0,75
Uji Alkaloid :
Sampel A (Lagerstroemia loudonii) : 0,425
Sampel B : 0,325
Sampel yang disediakan : 0,575
IV.

Pembahasan

Pengujian pertama adalah uji Liebermann-Burchard. Sampel yang


diuji adalah sampel dari Rhoeodiscolor sp. dan Bungur sp. Sampel
Rhoeodiscolor sp. ditempatkan dibagian atas pelat tetes dan Bungur sp.
ditempatkan dibagian bawah pelat tetes. Hasil dari uji coba LiebermannBurchard adalah sampel Rhoeodiscolor sp. memiliki warna awal hijau dan
berubah menjadi warna cokelat setelah diuji coba lalu kemudian didiamkan
dan Bungur sp. memiliki warna awal biru tua lalu kemudian menjadi biru
kehijauan setelah diuji coba kemudian didiamkan. Dari kedua uji coba
tersebut pada sampel Rhoeodiscolor sp. tidak didapatkan hasil warna yang
menandakan adanya triterpen dan steroid namun pada sampel Bungur sp.
didapat hasil mengandung triterpen dan steroid. Dalam uji coba ini reagen
yang digunakan merupakan campuran asam asetat dengan asam sulfat pekat,
dimana asam asetat anhidrat digunakan untuk mempermudah terbentuknya
turunan asetil dari steroid dalam kloroform. Kloroform digunakan karena
senyawa ini larut didalam pelarut dan tidak memiliki molekul air. Adanya
molekul air pada uji coba akan membuat reaksi tidak akan berlangsung. Asam
asetat anhidrat juga digunakan untuk pengondisian suasana asam. Saponin
hanya akan terbentuk dari turunan triterpen dan steroid. Untuk uji coba
sampel Bungur sp., saponin ditemukan dari hasil uji busa. Dari hasil uji busa
didapat busa setingi 5 cm, yang menandakan pada Bungur sp. terdapat
kandungan saponin dalam jumlah tertentu. Pengujian busa didasarkan pada
sifat saponin yang bersifat ampifilik dan akan terdispersi pada lipida cair
membentuk misel dengan ekor hidrofilik yang bersinggungan dengan medium
cair. Misel tersebut dapat mengandung ribuan molekul lipida. Untuk uji
Kromatografi lapis tipis atau KLT, uji coba digunakan untuk mengetahui
tingkat kemurnian dari sampel. didapat hasil Rf pada uji coba sampel
Rhoeodiscolor sp. sebesar 0,9 dan pada Bungur sp. sebesar 0,75.
Uji coba berikutnya adalah uji coba alkaloid. Untuk uji coba alkaloid
reagen yang digunakan adalah reagen Meyer dan Dragendolff. Reagen Meyer

dan Dragendolff digunakan untuk mengetahui adanya kandungan alkaloid


pada sampel. Pada reagen meyer hasil positif ditunjukkan apabila warna
sampel berubah menjadi keruh sementara pada uji Dragendolff hasil positif
didapatkan apabila terdapat endapan jingga yang tampak seperti noda pada
tabung reaksi. Dari hasil uji coba didapatkan pada sampel A yaitu sampel
Lagerstroemia loudonii didapatkan warna oranye sedikit keruh pada uji
Meyer dan pada uji Dragendolff didapatkan endapan berwarna oranye agak
sedikit gelap. Adanya endapan pada uji coba Dragendolff menandakan bahwa
sampel A yaitu sampel Lagerstroemia loudonii memiliki kandungan alkaloid.
Kemurnian kandungan alkaloid dilihat dari hasil Rf yang didapatkan. Hasil Rf
pada sampel Lagerstroemia loudonii sebesar 0,425, dibandingkan dengan Rf
pada sampel kontrol yang disediakan yang bernilai 0,575 menandakan bahwa
tingkat kemurnian alkaloid sampel Lagerstroemia loudonii tidaklah murni
tetapi masih positif mengandung alkaloid.
V.

Kesimpulan
Pada sampel Rhoeodiscolor sp. tidak mengandung triterpen dan
steroid dikarenakan pada uji coba tidak didapatkan warna biru yang

menandakan positif mengandung senyawa triterpen dan steroid


Pada sampel Bungur sp. positif mengandung triterpen dan steroid
dikarenakan pada uji coba didapatkan warna biru yang menandakan

positif mengandung senyawa triterpen dan steroid


Pada sampel Lagerstroemia loudonii positif mengandung alkaloid
dikarenakan pada uji coba Dragendolff didapatkan endapan berwarna
jingga yang menandakan positif mengandung senyawa alkaloid,
namun kandungan alkaloid yang dikandung tidak murni dikarenakan
perbedaan hasil Rf dari sampel Lagerstroemia loudonii yang bernilai
0,425 dibandingkan dengan sampel kontrol yang memiliki Rf senilai
0,575.

VI.

Daftar Pustaka

Brady, Russel, Hollum. 2000. Chemistry : Matter and Its Changes.


New York : John Wiley & Sons.
Harvey,

David.

2009.

Analytical

Chemistry

2.0.

McGraw-

Hill Companies, p. 599-605.


Mayo,

D.W.,

Pike,

R.M.,

Trumper,

P.K.,

Microscale

Organic Laboratory, 3rd edition, JohnWiley & Sons,New York, 1994 , p. 233240
Pasto, D., Johnson, C., Miller, M., Experiments and Techniques in
Organic Chemistry,Prentice Hall Inc.,New Jersey, 1992, p 150-176