Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa lima tahun pertama (masa balita) adalah periode penting dalam tumbuh
kembang anak dan merupakan masa yang akan menentukan pertumbuhan fisik, psikis
maupun intelengensinya (Sulistijani & Herlianty, 2001).Menurut Depkes (2013) balita
merupakan kelompok yang paling rawan terhadap terjadinya kekurangan gizi. Kurang
gizi pada masa balita dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang secara fisik,
mental, sosial, dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai anak
menjadi dewasa. Kekurangan gizi juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan badan,
keterlambatan perkembangan otak, dan dapat pula terjadinya penurunan atau rendahnya
daya tahan terhadap penyakit infeksi.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang
dicanang pemerintah dalam bidang kesehatan 2015-2019 telah ditetapkan salah satu
sasaran pembangunan yang akan dicapai adalah menurunkan prevalensi gizi kurangburuk dari 19,6% menjadi 17% dan balita pendek dari 32,9% menjadi 28%. Untuk
mencapai RPJMN tersebut, dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat telah
ditetapkan menjadi 8 indikator kerja, yaitu: (1) balita ditimbang berat badannya; (2)
balita gizi buruk mendapat perawatan; (3) balita 6-59 bulan mendapatkan vitamin A; (4)
bayi usia 0-6 bulan mendapatkan ASI eksklusif; (5) ibu hamil mendapatkan 90 tablet fe;
(6) rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium; (7) kabupaten/kota melaksankan
surveilens gizi; (8) penyediaan stok makanan pendamping air susu ibu untuk daerah
bencana.
Jumlah balita gizi kurang-buruk menurut hasil Riskesdas 2013 masih 19,6%
(target RPJMN sebesar 15% pada tahun 2014) dan terjadi peningkatan jika dibandingkan
2010 (17,9%). Menurut hasil dari Riskesdas 2013 di Indonesia propinsi yang paling
banyak terdapat kasus gizi kurang-buruk (1) Nusa Tenggara Timur (33,0%); (2) Papua
Barat (30,9%); (3) Sulawesi Barat (29,1%) dan propinsi dengan kasus gizi kurang-buruk
paling rendah (1) Bali (13,2%); (2) DKI Jakarta (14,0%); (3) Bangka Belitung (15,1%).
Untuk propinsi Kalimantan Timur kasus gizi kurang-buruk sekitar 16,6% dengan jumlah
perkiraan 72.533 balita dari total estimasi jumlah balita 437.067. Sedangkan di Kutai
Kartanegara pada 2014 kasus gizi kurang-buruk sekitar 16,05% dan balita pendek
24,03%.

Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki luas wilayah 27.263,10 km2 terdiri
dari 18 wilayah kecamatan dan 237 desa atau kelurahan dengan pertumbuhan penduduk
3,92% per tahun. Penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara mencapai 870.306 jiwa (April
2014). Samboja merupakan salah satu kecamatan yang terletak di wilayah pesisir
Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah mencapai 1045,90 km2 dengan
jumlah penduduk mencapai 74.402 jiwa (kepadatan 71 jiwa/km2). Kecamatan Samboja
terdiri dari 23 kelurahan dan memiliki 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Samboja dan
Puskesmas Sungai Merdeka. Puskesmas Samboja memiliki 9 wilayah kerja: Kel. Sei
Seluang, Kel. Wonotirto, Kel. Karya Jaya, Kel. Margomulyo, Kel. Argosari, Kel.
Ambarawang Darat, Kel. Ambarawang Laut, Kel. Selok Api Darat, Kel. Selok Api laut.
Pada tahun 2015 jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Samboja adalah 17.295
jiwa, terdiri dari berbagai suku dengan mata pencaharian sebagai petani (88%). Tingkat
pendidikan penduduk rata-rata adalah lulusan SMP / sederajat dan sudah mendapatkan
sarana informasi dan komunikasi melalui T.V., radio, surat kabar, pos surat, telepon
selular.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin mengetahui jumlah dan
persebaran balita dengan gizi kurang-buruk di wilayah kerja Puskesmas Samboja.

C. Tujuan
Tujuan mini proyek ini adalah untuk mengetahui jumlah dan persebaran balita
dengan gizi kurang-buruk di wilayah kerja Puskesmas Samboja.

D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan ini adalah:

1. Manfaat teoritis
Memberi informasi mengenai jumlah dan persebaran balita dengan gizi kurangburuk pada wilayah kerja Puskesmas Samboja
2. Manfaat aplikatif
Memberikan informasi yang berguna bagi pasa stakeholder dan instansi terkait
untuk dapat memabil tindakan lebih lanjut demi menangani permasalahan balita
gizi kurang-buruk di wilayah kerja Puskesmas Samboja pada khususnya