Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KEPERAWATAN DASAR

Pemeriksaan Leher

Disusun oleh :
1. DIALIEN CAHYA RAHMADAN (15100017)
2. ELVYDA ADE FITRIA (15100029)
3. ICA ARISANDI (15100037)
4. SINDY DWI AGUSTIN (15100075)

STIKes SATRIA BHAKTI NGANJUK


DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN OLAHRAGA KABUPATEN
NGANJUK
TAHUN 2015-2016

PEMERIKSAAN FISIK
LEHER

Leher dibagi oleh muskulus sternokleidomastoideus menjadi trigonum anterior atau


medial dan trigonum posterior atau lateral. Sternokleidomastoideus adalah otot kuat yang
berfungsi mengangkat sternum selama respirasi. Sternokleidomastoideus memiliki dua kaput:
kaput sternal berasal dari manubrium sterni, sementara kaput klavikula muncul pada ujung
sternum dari klavikula. Kedua kaput menyatu dan berinsersi pada aspek lateral dari prosesus
mastoideus. Sternokleidomastoideus dipersarafi oleh nervus spinalis asessorius, atau saraf
kranial kesebelas.
Anterior terhadap muskulus sternokleidomastoideus terdapat trigonum anterior. Batas
inferior trigonum anterior adalah klavikula dan batas anterior adalah garis tengah. Trigonum
anterior terdiri dari kelenjar tiroid, laring, dan faring. Trigonum anterior juga terdiri dari
kelenjar limfe, kelenjar submandibula, dan lemak.
Kelenjar tiroid membungkus trakea bagian atas dan terdiri atas dua lobus yang dihubungkan
oleh isthmus, merupakan kelenjar endokrin terbesar dalam tubuh. Bila dilihat dari depan,
tiroid berbentuk kupu-kupu dan membungkus laring dan trakea bagian anterior dan lateral.
Ismus tiroid melintang trakea tepat di bawah tulang rawan krikoid dari laring. Lobus
lateral meluas sepanjang salah satu sisi laring, sampai setinggi pertengahan tulang rawan
tiroid dari laring. Fungsi kelenjar tiroid ialah menghasilkan hormon tiroid sesuai kebutuhan
tubuh. Muskulus sternokleidomastoideus menutupi vagina karotis. Vagina karotis terletak
lateral terhadap laring. Sarung ini mengandung arteri karotis komunis, vena jugularis interna,
dan nervus vagus.
Posterior terhadap sternokleidomastoideus terdapat trigonum posterior. Daerah ini dibatasi
oleh muskulus trapezius di posterior, dan oleh klavikula di interior. Trigonum posterior juga
kelenjar limfe.
Diperkirakan bahwa leher mengandung lebih dari 75 kelenjar limfe pada setiap sisinya.
Untaian kelenjar limfe ini dinamai sesuai dengan letaknya. Dimulai dari posterior terdapat
untaian oksipital, aurikularis posterior, servikalis posterior, servikalis superfisialis dan
profunda (dekat muskulus sternokleidomastoideus), tonsilaris, submaksilaris, submentalis
(pada ujung rahang dekat garis tengah), aurikularis anterior, dan supraklavikularis (diatas
klavikula). Mengetahui jalannya drainase limfatik ini penting, karena adanya pembesaran
kelenjar limfe dapat menunjukkan adanya penyakit di daerah yang mencurahkan limfenya

kesitu.
INSPEKSI
Periksa leher terhadap kemungkinan asimetri. Minta pasien menjulurkan lehernya. Cari
adanya luka parut, asimetri, atau massa. Tiroid normal hampir tidak tampak. Persilahkan
pasien untuk menelan, sambil mengamati gerak naik tiroid. Pembesaran tiroid secara difus
seringkali menyebabkan pembesaran leher secara merata. Amati pasien dengan tiromegali
difusa, yakni pada pasien yang menderita penyakit Grave dengan proptosis bilateral.
Apakah tampak benjolan-benjolan pada leher? Seorang pasien dengan massa nodular pada
leher akibat goiter multinodular akan tampak benjolan pada lehernya yakni pembesaran
kelenjar tiroid. Apakah tampak bendungan vena superfisial? Bendungan vena di leher penting
untuk dinilai, karena mungkin berhubungan dengan goiter.
PALPASI
Palpasi kelenjar tiroid
Terdapat dua cara palpasi kelenjar tiroid. Cara anterior dilakukan dengan pasien dan
pemeriksa duduk berhadapan. Dengan memfleksi leher pasien atau memutar dagu sedikit ke
kanan, pemeriksa dapat merelaksasi muskulus sternokleidomastoideus pada sisi itu, sehingga
memudahkan pemeriksaan. Tangan kanan pemeriksa menggeser laring ke kanan dan selama
menelan, lobus tiroid kanan yang tergeser dipalpasi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan
kiri. Setelah memeriksa lobus kanan, laring digeser ke kiri dan lobus kiri dievaluasi melalui
cara serupa dengan tangan sebelah.
Kemudian, pemeriksa harus berdiri di belakang pasien untuk meraba tiroid melalui cara
posterior. Pada cara posterior ini, pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada leher pasien,
yang posisi lehernya sedikit ekstensi. Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong trakea
ke kanan. Pasien diminta menelan sementara tangan kanan pemeriksa meraba tulang rawan
tiroid. Saat pasien menelan, tangan kanan pemeriksa meraba kelenjar tiroid berlatar-belakang
muskulus sternokleidomastoideus. Pasien diminta sekali lagi untuk menelan saat trakea
terdorong ke kiri, dan pemeriksa meraba kelenjar tiroid berlatar-belakang muskulus
sternokleidomastoideus kiri dengan tangan kiri. Segelas air akan memudahkan pasien untuk
menelan. Meskipun kedua cara palpasi itu dikerjakan, pemeriksa jarang dapat meraba
kelenjar tiroid dalam keadaan normal.
Konsistensi kelenjar harus dinilai. Kelenjar tiroid normal mempunyai konsistensi mirip

jaringan otot. Keadaan padat keras terdapat pada kanker atau luka parut. Lunak, atau mirip
spons seringkali dijumpai pada goiter toksik. Nyeri tekan pada kelenjar tiroid terdapat pada
infeksi akut atau perdarahan ke dalam kelenjar.
Jika tiroid membesar, harus pula dilakukan auskultasi. Bagian corong stetoskop diletakkan di
atas lobus tiroid untuk mendengar adanya bruit (bising yang terdengar bila terjadi percepatan
aliran dalam pembuluh darah). Terdapatnya bruit tiroid sistolik atau to-and-fro, terutama jika
terdengar di atas polus superior, menunjukkan adanya aliran darah yang abnormal besar dan
sangat mungkin terdapat pada goiter toksik.
Palpasi kelenjar supraklavikularis
Palpasi adanya kelenjar supraklavikularis mengakhiri pemeriksaan leher. Pemeriksa berdiri di
belakang pasien dan meletakkan jari-jarinya ke dalam fossa supraklavikularis medialis, di
bawah klavikula dan di samping muskulus sternokleidomastoideus. Pasien diminta menarik
napas yang dalam sewaktu pemeriksa menekan ke dalam dan di belakang klavikula. Setiap
kelenjar supraklavikularis yang membesar akan teraba sewaktu pasien menarik napas.
PEMERIKSAAN TRAKEA
Evaluasi posisi trakea
Posisi trakea dapat ditentukan dengan meletakkan jari telunjuk kanan di incisura suprasternal
dan menggerakannya sedikit ke lateral untuk meraba lokasi trakea. Teknik ini diulangi,
dengan menggerakkan jari dari incisura suprasternal ke sisi lain. Ruang di antara trakea dan
klavikula harus sama. Pergeseran mediatinum dapat memindahkan trakea ke satu sisi.
Pemeriksaan mobilitas trakea
Gerakan trakea ke atas dipakai untuk menentukan apakah trakea terfiksasi pada mediastinum.
Teknik ini disebut tarikan trakea. Kepala pasien harus agak di fleksikan dan tangan kiri anda
harus menyokong bagian belakang kepala pasien. Tangan kanan harus diletakkan sejajar
dengan trakea dengan telapak tangan menghadap keluar. Jari tengah dimasukkan ke dalam
ruang krikotiroid, dan laring didorong ke atas. Laring dan trakea biasanya bergerak kira-kira
1-2cm. Setelah menggerakan laring ke atas, secara perlahan-lahan turunkan sebelum
melepaskan jari-jari anda. Jangan melepaskannya secara tiba-tiba dari posisinya di bagian
atas. Trakea yang terfiksasi menunjukkan fiksasi mediastinal, yang dapat terjadi pada
neoplasma atau tuberkulosis. Anda harus berhati-hati untuk tidak meletakkan jari-jari yang
memeriksa secara horizontal, mendorong ke belakang, atau menjatuhkan trakea. Tindakan-

tindakan ini dapat menimbulkan perasaan tidak enak pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/281346973/PEMERIKSAAN-FISIK-LEHER

16 Sep 2015 - PEMERIKSAAN FISIK. LEHER Leher