Anda di halaman 1dari 9

KELOMPOK 5

Satriyo Restu Adhi

(1505101302)

Dewi Dahliani

(150510130246)

Febry Fitriani Parlina

(150510130248)

Riri Fanti Nurani

(150510130249)

Rianti Anggitasari

(150510130257)

- Pertanian yang holistik


- Mendukung dan mempercepat biodiversiti
- Sesuai standar yang ditetapkan
(IFOAM, 2008)

Tujuan
- Optimalisasi penyediaan produk pertanian
- Tidak merusak lingkungan

Di Indonesia

Revolusi pertanian gelombang pertama


Pertanian tradisional dan alami
Revolusi pertanian gelombang kedua
Revolusi hijau

Di Dunia

Gambar 1. Perkembangan Luas Pertanian Organik Dunia 1999-2009

Studi Kasus :
Penguatan Kelembagaan Pemasaran Beras Organik dalam Meningkatkan Kesejahteraan
Petani di Kabupaten Sragen oleh Dr. Jangkung Hayoko Mulyo, dkk

Hasil :

Pemasaran beras organik melalui kelompok tani didistribusikan ke pedagang


pengecer dipasarkan di Pasar Sragen
Strategi Pemasaran :
1). Memperluas mitra petani/kelompok tani;
2). Memperluas mitra pemasaran;
3). Meningkatkan promosi dan propaganda pada konsumen yang berpotensial;
4). Penjajagan ekspor.

Tujuan dan fungsi


a. Bukti telah menerapkan sistem pertanian organik
b. Jaminan mutu produk hasil pertanian yang aman dan ramah lingkungan
c. Bukti tertulis telah lulus uji sertifikasi tanaman organik
d. Pelaku usaha memiliki hak menempelkan label organik pada kemasan produk

Manfaat
1. Jaminan telah tersertifikasi dan memenuhi nasional (SNI 6729:2013) dan internasional
(Codex & IFOAM).
2. Melindungi konsumen dan produsen dari manipulasi atau penipuan.
3. Menjamin praktek perdagangan yang etis dan adil.
4. Mendorong meraih akses pasar baik di dalam maupun di luar negeri.

Go Organik Indonesia telah diluncurkan sejak tahun 2010 untuk mendukung


Indonesia sebagai produsen pertanian organik utama dunia.

Kriteria Sertifikasi
Produk Pertanian
Organik

Sertifikasi lokal pangsa dalam negeri


Sertifikasi internasional pangsa ekspor

Syarat pendaftaran sertifikasi organik


1. Memiliki prosedur dan formulir tertulis.
2. Mengetahui resiko dan waktu pemeriksaan yang rawan pelanggaran.
3. Memiliki sebuah standar kelompok.
4. Memiliki dokumen yang efektif tentang prosedur inspeksi internal lahan, persetujuan
internal dan aturan tentang pelanggaran.
5. Memiliki pengurus dan struktur organisasi yang jelas.
6. Menjamin adanya pelatihan bagi petani dan pengurus internal control system (ICS).
7. Mampu menangani/mengawasi kontrol aliran produk organik.

Peraturan pemerintah

Peraturan

Menteri

Pertanian

Nomor

70/PERMENTAN/sr.140/10/2011

tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati Dan Pembenah Tanah.

Peraturan

Menteri

Pertanian

Republik

Indonesia

64/PERMENTAN/ot.140/5/2013 tentang Sistem Pertanian Organik.

nomor