Anda di halaman 1dari 17

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MIND

MAPPING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA


MATA PELAJARAN KONSTRUKSI BANGUNAN SISWA KELAS X TGB
SMKN 3 SURABAYA

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh :
Taufik Ainurrohman
12050534004

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
S1 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
2015
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan kejuruan dewasa ini berkembang semakin pesat,
seiiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kemajuan
teknologi dapat membuat proses dan model pembelajaran menjadi
mudah untuk dikembangkan. Sedangkan, ilmu pengetahuan membuat
proses dan model pembelajaran lebih interaktif dalam penerapannya.
Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu lembaga
pendidikan formal yang menyiapkan anak didik menjadi tenaga kerja
yang kompeten di bidang kejuruan dan menjadi tenaga kerja yang
profesional. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Indonesia
harus membenahi pendidikan kejuruan dari segi kurikulum, guru dan
proses pembelajaran.
Pemerintah Indonesia saat ini berupaya mengembangkan
pendidikan kejuruan dari segi kualitas guru pengajar. Dengan adanya
hal ini, seorang guru dituntut untuk bisa menguasai metode dan model
pembelajaran yang tepat untuk diterapkan di sekolah menengah
kejuruan. Metode dan model pembelajaran yang tepat membuat
proses pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan baik. Faktor
respon siswa terhadap pembelajaran merupakan alasan untuk memilih
model dan metode yang tepat dalam proses pembelajaran.
Mata pelajaran menggambar dasar teknik bangunan merupakan
salah satu pelajaran yang diberikan pada siswa teknik gambar
bangunan di SMK Negeri 3 Surabaya. Mata pelajaran menggambar
dasar teknik bangunan menekankan siswa untuk menguasai materi
mengambar detail struktur bangunan berdasarkan skala. Harapannya
siswa mampu menguasai materi menggambar dasar teknik bangunan.
Dalam hal ini, siswa masih merasa sulit dalam memahami materi
menggambar dasar teknik bangunan. Hal ini terbukti dari 34 anak
terdapat 28 anak atau sekitar 84 % tidak dapat memenuhi nilai 70
batas ketuntasan minimal. Seorang guru harus mampu menyelesaikan
masalah yang ada dalam pembelajaran dengan materi menggambar
dasar teknik bangunan. Model pembelajaran Mind Mapping merupakan
model yang cocok untuk pembelajaran tersebut.
Menurut Suwarno (2010:20), model Mind Mapping bermanfaat
sebagai teknik untuk membantu dan memahami konsep-konsep dan
menghafalkan informasinya dengan prasarana belajar. Di dalam model
Mind Mapping, siswa dapat memetakan konsep berfikir baik secara
tertulis maupun verbal dengan adanya kombinasi warna, simbol,
bentuk dan sebagainya. Menurut penelitian Suwarno (2010:85) model
pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan motivasi dan prestasi
siswa dengan peningkatan sebesar 29,14 % dari pembelajaran
sebelumnya. Jadi, penelitian ini harus dilaksanakan di sekolah

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind


Mapping dengan menggunakan macromedia director pada mata
pelajaran menggambar teknik dasar bangunan?
2. Bagaimana hasil belajar siswa kelas X TGB di SMKN 3 Surabaya
terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind
Mapping dengan menggunakan media macromedia director?
3. Bagaimanakah keefektifitasan model pembelajaran kooperatif tipe
Mind Mapping dengan menggunakan macromedia director pada
mata pelajaran menggambar teknik dasar bangunan?

C. Batasan Masalah
1.

2.

3.
4.

batasan masalah pada penelitian ini adalah :


Penelitian ini hanya dilaksanakan pada mata pelajaran
menggambar teknik dasar bangunan dengan materi menggambar
konstruksi atap berdasarkan skala.
Penelitian ini hanya menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Mind Mapping dalam menerapkan proses pembelajaran di
dalam kelas.
Penelitian ini dilakukan di kelas X TGB SMKN 3 Surabaya dengan
menggunakan dua kelas , yaitu kelas X TGB 1 dan kelas X TGB 2.
Penelitian ini diarahkan pada hasil belajar siswa dalam
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping di
kelas X TGB SMKN 3 Surabaya.

D.Tujuan Penelitian
ini
1.

2.

3.

Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas


adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Mind Mapping di kelas X TGB SMKN 3 Surabaya pada mata
pelajaran menggambar teknik dasar bangunan.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran
menggambar teknik dasar bangunan siswa kelas X TGB SMKN 3
Surabaya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Mind Mapping.
Untuk mengetahui efektifitasan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Mind Mapping di kelas X TGB SMKN 3 Surabaya pada
mata pelajaran menggambar teknik dasar bangunan.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat praktis
a. Bagi siswa

Siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami


materi, bekerja kelompok dan kemampuan berkomunikasi.
b. Bagi guru
Penelitian
ini
dapat
dimanfaatkan
sebagai
tambahan
pengetahuan dalam mengembangkan pembelajaran di dalam
kelas. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi
tentang model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan
hasil belajar siswa.
c. Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan
mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping dan
dapat dijadikan sumber referensi bagi penelitian sejenis yang
lebih lanjut.
2. Manfaat teoritis
Penelitian
ini
dapat
bermanfaat
sebagai
ilmu
untuk
mengembangkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Mind Mapping di sekolah dan sebagai pustaka bagi penelitian
selanjutnya.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Slavin (2008 : 103) mendifinisikan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk
membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari materi pelajaran.

Pembelajaran kooperatif merupakan solusi bagi seorang guru untuk


mengembangkan pembelajaran yang menarik di dalam kelas. Dengan
pembelajaran yang menarik, siswa lebih mudah dalam menguasai materi
yang diberikan oleh seorang guru.
Di dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam
kelompok-kelompok kecil saling membantu dalam menguasai materi.
Kelas dikelompokkan berdasarkan siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang dan rendah. Siswa tetap berada dalam kelompoknya
selama beberapa minggu. Mereka diajar keterampilan-keterampilan
khusus yaitu keterampilan kooperatif, agar dapat bekerja sama dengan
baik di dalam kelompoknya, menjadi pendengar yang aktif, memberikan
penjelasan kepada teman kelompoknya, mendorong berpartisipasi,
berdiskusi dan sejenisnya. Selama kerja kelompok, kerja anggota
kelompok adalah saling bekerjasama untuk mencapai ketuntasan materi
(Slavin dalam Suwarno, 2010 : 33).
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning menurut Slavin
(2005:4-8) merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana
siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari
berbagai tingkat prestasi, jenis kelamin, dan latar belakang etnik yang
berbeda untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari
materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat
saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi untuk
mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup
kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cooperative learning
lebih dari sekedar belajar kelompok karena dalam model pembelajaran ini
harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga
memungkinkan terjadi interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan
yang bersifat interdependensi efektif antara anggota kelompok.
Menurut Kusaeri dalam Suwarno (2010:33) dalam pembelajaran
kooperatif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk
mempelajari materi akademik dan keterampilan kooperatif antar siswa.
Metode ini dapat meningkatkan motivasi siswa secara umum dan
memudahkan interaksi antar siswa secara khusus. Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak
positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, dan dalam proses
pembelajaran siswa pandai membantu siswa yang memiliki kemampuan
kurang.
Secara umum, model pembelajaran kooperatif adalah sebuah strategi
pembelajaran dimana siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Cara
yang digunakan adalah membentuk sebuah kelompok kecil yang memiliki
perbedaan latar belakang dan siswa bekerjasama dalam memecahkan
masalah dalam sebuah materi pembelajaran bersama kelompok kecilnya.
Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa yang memiliki

kemampuan kurang untuk lebih mudah dalam memhami pembelajaran di


dalam kelas.

B. Pembelajaran Mind Mapping


Menurut Agus Suparjono dalam Suwarno (2010:38), pembelajaran
Mind Mapping yang merupakan pengembangan dari pembelajaran
kooperatif yang menguatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik
terhadap bahan-bahan yang telah dibacanya adalah model pembelajaran
Mind Mapping. Menurut Agus Suparjono (2010:106), hal-hal yang perlu
dipersiapkan adalah potongan-potongan kartu-kartu yang bertuliskan
konsep-konsep utama. Konsep tersebut memuat materi yang akan
disampaikan oleh seorang guru dalam pembelajaran di dalam kelas.
Selanjutnya guru membagikan potongan-potongan kartu yang
bertuliskan konsep utama kepada peserta didik untuk mencoba beberapa
kali membuat suatu peta yang menggambarkan hubungan antar konsep.
Peserta didik dapat membuat garis penghubung antar konsep-konsep,
dengan harapan peserta didik dapat menjelaskan hubungan antar
konsep. Kalimat-kalimat itu menunjukkan asumsi yang dibangun peserta
didik dalam menjelaskan antar konsep.
Dalam pembelajaran Mind Mapping dalam kegiatan akhir guru
mengumpulkan konsep-konsep yang telah dibuat oleh siswa dan guru
menampilkan suatu konsep yang telah dibuat. Hasil pekerjaan siswa
dikumpulkan kemudian diadakan koreksi atau evaluasi terhadap kartukartu konsep dengan presentasi dari kelompok. Pada akhir pembelajaran
siswa diajak untuk merumuskan beberapa kesimpulan terhadap materi
yang dipelajari.
Secara berurutan, lankah-langkah model pembelajarn Mind Mapping
adalah sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.
Guru mengemukakan konsep /permasalahan yang akan
ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan yang
mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4.
Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban
hasil diskusi
5.
Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil
diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai
kebutuhan guru
6.
Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat
kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang
disediakan guru

C. Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam Ratna Sari (2010:32), hasil
belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa

dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat
sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada
jenis-jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru,
hasil belajar merupakan saat terselesainya bahan pelajaran.
Benyamin Bloom (Nana Sudjana, 2009:22) mengklasifikasikan
kemampuan belajar menjadi tiga kategori, yaiti :
1. Ranah kognitif, meliput kemampuan intelektual yang terdiri dari
pengetahuan/ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan
evaluasi.
2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan minat yang terdiri
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan
internalisasi.
3. Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar yang berupa
keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri atas gerakan
reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual,
keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek dan
gerakan ekspensif dan interpretative.
Faktor-faktor yang menetukan pencapaian hasil belajar menurut
Dalyono (Ratna Sari, 2010:32) adalah sebagai berikut :
1. Faktor internal (yang berasal dari dalam diri)
a. Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap
kemampuan belajar. Bila seseorang selalu tidak sehat, sakit kepala,
demam, pilek, batuk dan sebagainya, dapat mengakibatkan tidak
bergairah untuk belajar.
b. Minat dan motivasi
Sebagaimana halnya dengan intelegensi dan bakat, maka minat
dan motivasi adalah dua aspek psikis yang juga besar pengaruhnya
terhadap pencapaian prestasi belajar.
c. Cara belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil
belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan factor
fisiologis, psikologia dan ilmu kesehatan, akan memperoleh hasil
yang kurang memuaskan.
2. Factor eksternal (yang berasal dari luar diri)
a. Keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu dan anak-anak seta family yang menjadi
penghuni rumah. Factor orang tua sangat besar pengaruhnya
terhadap keberhasilan anak dalam belajar.
b. Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat
keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajarnya,

kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan


fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah murid
perkelas, pelaksanaan tata tertib sekolah dan sebagainya, semua iti
turut mempengaruhi keberhasilan belajar anak.
c. Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila di
sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orangorang berpendidikan, terutama anak-anak rata-rata bersekolah
tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat
belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan banyak
anak-anak yang nakal, tidak bersekolah dan pengangguran, hal ini
akan mengurangi semangat belajar atau dapat dikatakan tidak
menunjang sehingga motivasi belajar berkurang.
d. Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal juga sangat penting dalam
mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan, bangunan
rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.

D.Macromedia Director
Perkembangan teknologi saat ini semakin pesat. Proses pembelajaran
yang dulunya hanya menggunakan metode pembelajaran langsung, saat
ini sudah banyak inovasi dalam menerapkan model pembelajaran di
dalam kelas. Macromedia director merupakan salah satu inovasi
teknologo yang dapat memudahkan kita memahami materi. Macromedia
director merupakan media interaktif berupa slide yang dapat
menampilkan banyak animasi dalam penerapannya. Sama halnya dengan
aplikasi Microsoft Power Point, Macromedia director dapat digunakan
sebagai media presentasi.

E. Menggambar Teknik Dasar Bangunan


Menggambar teknik dasar bangunan merupakan mata pelajaran yang
diajar di sekolah kejuruan jurusan teknik gambar bangunan. Banyak
materi yang dipelajari pada mata pelajaran menggambar teknik dasar
bangunan. Meggambar struktur atap beserta skalanya merupakan salah
satu materi yang diajarkan pada materi menggambar teknik dasar
bangunan. Siswa diupayakan mampu memahami mata pelajaran ini,
karena mata pelajaran ini berisi bekal untuk siswa dalam dunia pekerjaan
proyek.

F. Kerangka Berfikir
Kondisi awal

Siswa : kurang efektif


dalam mengikuti pelajaran
menggambar teknik dasar

Guru : belum menggunakan


model pembelajaran Mind
Mapping

Hasil belajar masih rendah

Tindakan

Menggunakan Model Pembelajaran


Mind Mapping
Pelaksanaan
Perencanaan

Siklus 1

Pengamatan

Belum selesai

Refleksi

Selesai

Pelaksanaan
Perencanaan

Siklus 2

Pengamatan

Belum selesai

Refleksi

Selesai

Siklus
selanjutnya

Model pembelajaran Mind Mapping


dapat meningkatkan hasil belajar siswa

Gambar 2.1 : Kerangka berfikir

G.Hipotesis
Berdasakan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, maka
hipotesisnya adalah :
1. Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping
dalam mata pelajaran menggambar teknik dasar bangunan dapat
meningkatkan efektifitas siswa kelas X TGB SMKN 3 Surabaya.

2. Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping


dalam mata pelajaran menggambar teknik dasar bangunan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas XTGB SMKN 3 Surabaya.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas bekerjasama dengan
guru yang menggunakan data pengamatan langsung terhadaap jalannya
proses pembelajaran. Penelitian tindakan kelas merupakan proses
pengkajian melalui system bersiklus dari berbagai kegiatan pembelajaran.
Adapun prosedur penelitian yang dipilih yaitu menggunakan model spiral

dari Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus,
dengan berbagai kemungkinan perubahan yang dianggap perlu. Setiap
siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Pelaksanaan

Perencanaan

Siklus 1

Pengamatan

Refleksi

Pelaksanaan

2
Pengamatan
Perencanaan
Gambar
3.1 : Model spiral Siklus
dari Kemmis
dan Mc
Taggart

Langkah-langkah pada siklus Kemmis


dan Mc Taggart di atas yaitu
Refleksi
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Perencanaan tindakan (planning)


Pelaksanaan tindakan (acting)
Pengamatan (observing)
Refleksi (reflecting)

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini bertempat di SMK Negeri 3
Surabaya. Dengan alasan karena praktek mengajar berada pada SMK
Negeri 3 Surabaya. Selain itu, dapat memudahkan akses penelitian ini.
SMK Negeri 3 Surabaya merupakan sekolah yang memiliki jurusan
teknik gambar bangunan (TGB).
2. Waktu penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan selama 1 bulan yaitu


tanggal 27 Juli sampai 29 Agustus 2015 semester I tahun ajaran
2015/2016. Dengan alasan karena waktu tersebut merupakan waktu
peneliti melaksanakan praktik mengajar.

C. Subjek Penelitian
dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas
X Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 3 Surabaya. Dengan jumlah siswa
sebanyak 30 orang.

D.Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 2 siklus dalam
penelitiannya. Pada kegiatan siklus akan dilakukan sesuai dengan tahaptahap sebagai berikut:
1. Rencana tindakan siklus I
a. Perencanaan
1) Melakukan observasi awal untuk mengidentifikasi masalah dan
analisi masalah melalui wawancara dengan guru bidang studi.
2) Berkolaborasi dengan guru menentukan tindakan perbaikan
yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping.
3) Menyusun silabus, RPP, dan scenario pembelajaran atau rencana
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Mind
Mapping.
4) Menyiapkan alat evaluasi berupa soal pretes dan postes beserta
kisi-kisinya.
5) Menyusun lembar observasi.
b. Pelaksanaan tindakan
1) Tahap awal pembelajaran:
a) Guru mengucapkan salam
b) Guru mengkondisikan siswa
c) Guru mengecek kehadiran siswa

2) Tahap inti pembelajaran


a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b) Guru mengemukakan konsep /permasalahan yang akan
ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan
yang mempunyai alternatif jawaban
c) Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
d) Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban
hasil diskusi
e) Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca
hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan
mengelompokkan sesuai kebutuhan guru

f) Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat


kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai
konsep yang disediakan guru
3) Tahap akhir pembelajaran
Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan pada inti
pembelajaran. Pertemuan berikutnya guru melakukan evaluasi
individual siswa dengan mengadakan tes kemampuan kognitif.
c. Observasi
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan
tindakan berlangsung. Observasi ini dilakukan oleh peneliti yaitu
dengan mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru dalam
pembelajaran menggambar teknik dasar bangunan dari awal
pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Hal ini dimaksudkan
untuk mengetahui aktivitas siswa dan kinerja guru sudah sesuai
dengan apa yang tercantum dalam lembar observasi atau tidak.
Sehingga hasil observasi dapat diperbaiki pada siklus berikutnya.
d. Refleksi
1) Mengecek kelengkapan data yang terjaring selama proses
tindakan
2) Mendiskusikan dan mengumpulkan data antara guru, peneliti
dan kepala sekolah berupa hasil nilai siswa, hasil pengamatan,
cacatan lapangan dan lain-lain.
3) Menyusun rencana tindakan berikutnya yang dirumuskan dalam
scenario pembelajaran dengan berdasar pada analisa data dari
proses tindakan sebelumnya untuk memperbaiki siklus
pembelajaran sebelumnya.
2. Rencana tindakan siklus II
a. Perencanaan
1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang ada pada siklus
I
2) Menentukan indicator keberhasilan pencapaian hasil belajar.
b. Pelaksanaan
1) Tahap awal pembelajaran:
a) Guru mengucapkan salam
b) Guru mengkondisikan siswa
c) Guru mengecek kehadiran siswa
2) Tahap inti pembelajaran
a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b) Guru mengemukakan konsep /permasalahan yang akan
ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan
yang mempunyai alternatif jawaban
c) Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang

d) Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban


hasil diskusi
e) Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca
hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan
mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
f) Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat
kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai
konsep yang disediakan guru
g) Tahap akhir pembelajaran
3) Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan pada inti
pembelajaran. Pertemuan berikutnya guru melakukan evaluasi
individual siswa dengan mengadakan tes kemampuan kognitif.
c. Observasi
Melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan
dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selam
pelaksanaan tindakan berlangsung. Menilai hasil tindakan sesuai
dengan format yang sudah dikembangkan.
d. Refleksi
1) Melakukan evaluasi pada siklus II berdasarkan data yang
terkumpul
2) Mendiskusikan hasil pengamatan dan hasil evaluasi untuk
mendapat kesimpulan diharapkan akhir siklus II ini Mind Mapping
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
menggambar teknik dasar bangunan.

E. Teknik Pengumpulan Data


1. Metode observasi
Pengumpulan data melalui observasi dilakukan sendiri oleh peneliti
pada kelas yang dijadikan sampel untuk mendapatkan gambaran
secara langsung kegiatan belajar siswa di dalam kelas.
2. Cacatan lapangan
Cacatan lapangan digunakan untuk mencatat temuan selama
pembelajaran yang diperoleh peneliti yang tidak teramati dalam
lembar observasi. Bentuk temuan ini berupa aktivitas siswa dan
permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode untuk memperoleh atau
mengetahui sesuatu dengan buku-buku, arsip yang berhubungan
dengan yang diteliti.

F. Instrumen Pengumpulan Data


1. Pedoman observasi
Observasi dilakukan dengan mengumpulkan data melalui
pengamatan
langsung
teerhadap
objek
penelitian
untuk
mendapatkan gambaran yang kemudian mengadakan pencatatan
atas data.
2. Pedoman wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan peneliti untuk
memperoleh informasi dari terwawancara. Yang terwawancara
adalah guru dan siswa.
3. Tes
Tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui kemampuan
siswa dalam memahami materi pembelajaran. Tes yang dilakukan
berupa tes tertulis menggunakan butir soal.

G.Analisis Data
Data kuantitatif yang berupa angka (nilai) dianalisis secara
sederhana yaitu analisis data dilakukan dengan cara kuantitatif. Untuk
itu, penilaian terhadap aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar
peserta didik, digunakan teknik penskoran skala likert, sebagai berikut:
skor 5 adalah kategori sangat baik (SB), skor 4 kategori baik (B), skor 3
kategori cukup baik (CB), skor 2 kategori kurang baik (KB), dan skor 1
kategori tidak baik (TB).
Penilaian= skor perolehan/total skor100%

Untuk mengukur hasil belajar siswa melalui tes formatif yang


diberikan di akhir siklus, bertujuan untuk mengetahui tingkat
penguasaan peserta didik terhadap suatu evaluasi yang diberikan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Tingkat penguasaan (P) = S/M 100%
Keterangan :
P = tingkat penguasaan peserta didik (persentase penguasaan)
S = skor yang diperoleh peserta didik dalam menjawab soal
(memecahkan masalah)
SM = skor maksimal yang bisa diperoleh peserta didik jika
menjawab benar semua soal.

Daftar Pustaka
Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Ragil Kurniawan, Fajar. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
TAI Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Rencana Anggaran
Biaya. JKPTB Vol 2 Nomor2: hal. 07-13
Ratna Sari, Anggita. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based
Instruction Sebagai Upaya Untuk Peningkatan Hasil Belajar Statika
Pada Siswa Kelas X Teknik Konstruksi Kayu SMKN 2 Surakarta. Skripsi
tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Robert E. Slavin. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa media
Sukarnyana I Wayan, penelitian tindakan kelas : bahan penataran untuk
instruktur, Jakarta, Depdiknas, 2002, hlm 30.
Suwarno. 2010. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar
dengan Model Pendekatan Mind Mapping Pada Mata Pelajaran
Menggambar Teknik Dasar Bangunan Kelas X TGB SMKN 5 Surakarta.
Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.