Anda di halaman 1dari 3

DINKES

KAB.KLUNGKUNG

SPO
UPT.PUSKESMAS
BANJARANGKAN II

PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

POLIP HIDUNG
NO. DOKUMEN:
REVISI:
HALAMAN:
75/SPO/PUSK.BAII/V/2012 00
1/2
TANGGAL TERBIT:
DITETAPKAN OLEH
PLT.KEPALA UPT PUSKESMAS BA.II
1 MEI 2012

dr.Ida Ayu Ketut Sri Handayani


NIP.19790810 2006 04 2 017
Polip hidung adalah pengertian morfologis (bentuk) yang berarti
penonjolan mukosa kavum timpani nasi yang panjang dan bertangkai.
Polip bukan neoplasma, tetapi pseudotumor.
Patofisiologi
Penyebab pasti belum diketahui. Yang masih dianggap sebagai faktor
penyebab adalah alergi dan radang kronik yang berlangsung lama dan
berulang-ulang, menimbulkan hambatan aliran kembali cairan interstisial
dan seterusnya secara berturut-turut timbul udim, penonjolan mukosa,
panjang dan bertangkai, maka terbentuklah polip. Karena konka nasi
inferior dan septum nasi mengandung banyak jaringan ikat padat, maka
polip jarang ditemui pada organ-organ tersebut. Stroma mengandung
jaringan ikat yang terenggang oleh cairan interstisial, mengandung banyak
saluran limfe yang melebar, tetapi miskin (sedikit) pembuluh darah dan
limfosit, sel plasma dan eosinofil dalam jumlah yang bervariasi.
Polip hidung dibedakan:
- Multipel, sering dijumpai, biasanya berasal dari sel-sel etmoid;
- Soliter berasal dari sinus maksilaris dan tumbuh ke arah koane (polip
koanal)
Polip lebih banyak ditemui pada laki-laki daripada perempuan, banyak
pada usia muda dan jarang pada anak-anak.
Gejala klinik
- Rinorea/pilek yang terus menerus, secret mucus. Pilek bertambah
hebat dan secret menjadi encer kalau penderita terserang rhinitis
akut atau serangan alergi;
- Buntu hidung, bias parsial atau total tergantung besar atau
banyaknya polip;
- Gejala-gejala lain adalah akibat buntu hidung, misalnya: suara
bindeng,karies gigi, batuk, sakit kepala.
Semua gejala-gejala ini bertambah secara lambat tetapi progresif.
Sebagai acuan / pedoman penanganan otitis media polip hidung
Pelayanan medis kasus polip hidung dilaksanakan oleh Dokter Umum.

POLIP HIDUNG
UPT. PUSKESMAS
BANJARANGKAN II

NO DOKUMEN:
REVISI:
75/SPO/PUSK.BAII/V/2012 00

HALAMAN:
2/2

TANGGAL TERBIT :
1 MEI 2012
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
PROSEDUR

Diagnosis
1. Anamnesis yang cermat dan teliti.
2. Pemeriksaan fisik
Infeksi : dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama pada
polip yang berasal dari sel-sel etmoid;
Rinoskopi anterior: tampak secret mucus dan polip multiple
atau soliter polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi
inferior, yakni dengan cara memasukkan kapas yang sedang
dibasahi dengan larutan Efedrin 1% (vasokomotriktor),
konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan
mengecil sedangkan polip tidak akan mengecil;
Rinoskopi posterior: kadang-kadangg dapat dijumpai polip
koanal
3. Pemeriksaan tambahan
Tes alergi (lihat rhinitis alergi) bila diperlukan;
Bila diperlukan dapat dibuat untuk rujukan X-foto sinus
posisi water.
Terapi
Terapi kausal belum ada
Yang dilakukan adalah :
Untuk Rencana Ekstrasi polip (paliatif) dilakukan rujukan ke
Pol.THT RSU Klungkung
Terapi dari sudut alergi kalau ada latar belakang alergi (lihat
rhinitis alergi);

UNIT TERKAIT

Unit Balai Pengobatan