Anda di halaman 1dari 7

Kurva pH (Titrasi)

Titik ekivalen suatu titrasi


Ketika kamu menyelesaikan sebuah titrasi asam-basa yang sederhana, kamu
menggunakan suatu indikator untuk memberitahukanmu ketika kamu memiliki perbandingan
yang tepat dari asam dan basa yang dicampurkan untuk saling "menetralkan" satu sama lain.
Ketika terjadi perubahan warna indikator, keadaan ini sering digambarkan sebagai titik akhir
titrasi.
Pada dunia nyata, perubahan warna terjadi ketika kamu mencampurkan dua larutan
secara bersamaan pada perbandingan persamaan yang tepat. Pencampuran tersebut dikenal
dengan titik ekivalen.
Sebagai contoh, jika anda mentitrasi larutan natrium hidroksida dengan asam
hidroklorida, antara konsentrasi 1 mol dm-3, 25 cm3 larutan natrium hidroksida akan tepat sama
dengan volume dari asam karena keduanya bereaksi 1 : 1 sesuai dengan persamaan.
Ini adalah pemisalan yang khas, hal ini juga dapat disebut dengan titik netral titrasi,
karena larutan natrium klorida memiliki pH 7.
Tetapi hal ini tidak perlu benar untuk semua garam yang mungkin anda dapatkan.
Sebagai contoh, jika anda mentitrasi larutan amonia dengan asam hidroklorida, anda akan
memperoleh amonium klorida yang terbentuk. Ion amonium sedikit bersifat asam, dan karena itu
amonium klorida murni memiliki pH sedikit asam.
Hal itu berarti bahwa pada titik ekivalen (titik dimana anda memiliki campuran larutan
dengan perbandingan yang benar berdasarkan pada persamaan), larutan tidak benar-benar netral.
Penggunaan istilah "titik netral" pada konteks ini akan sedikit membingungkan.
Demikian pula halnya, jika anda mentitrasi larutan natrium hidroksida dengan asam
etanoat, pada titik ekivalen natrium etanoat murni yang terbentuk memiliki pH sedikit basa
karena ion etanoat bersifat sedikit basa.
Ringkasan:

Istilah "titik netral" sebaiknya dihindari.

Istilah "titik ekivalen" berarti bahwa larutan telah tercampur dengan perbandingan
yang tepat sesuai dengan persamaan.

The term "titik akhir" adalah ketika indikator berubah warna. Seperti yang akan
anda lihat pada bagian indikator, istilah ini tidak persis sama dengan titik ekivalen.
Kurva pH sederhana
Semua kurva titrasi berikut berdasarkan pada asam dan basa yang memiliki konsentrasi 1
mol dm-3. Pada tiap kasus, anda memulainya dengan 25 cm 3 dengan salah satu larutan pada labu,
dan larutan yang lainnya pada buret.
Meskipun biasanya anda mengalirkan asam dari buret pada basa yang ada dalam labu,
anda mungkin perlu mengetahui tentang kurva titirasi untuk penambahan tersebut dalam cara
yang lain sepanjang hal itu memungkinkan. Kurva versi alternatif telah digambarkan pada
sebagian besar kasus.

Kurva titrasi untuk asam kuat vs basa kuat


Kita akan menganmbil asam hidroklorida dan natrium hidroksida sebagai asam kuat dan
basa kuat.
Mengalirkan asam pada basa

anda dapat melihat bahwa pH hanya menurun dalam jumlah yang sangat sedikit sekali
sampai mendekati titik ekivalen. Kemudian kurva tersebu melonjak turun dengan sangat curam.
Jika anda menghitung harganya, penurunan pH terjadi dari 11.3 ketika anda menambahkan 24.9
cm3 sampai 2.7 ketika anda menambahkan 25.1 cm3.
Mengalirkan basa pada asam
Kurva ini sama dengan kurva sebelumnya terkecuali, tentunya, dimulai dengan pH
rendah dan meningkat seiring dengan penambahan larutan natriun hidroksida yang anda lakukan.

Sekali lagi, pH tidak berubah drastis sampai anda mendekati titik ekivalen. Kemudian
kurva tersebut meningkat dengan sangat tajam.

Kurva titrasi untuk asam kuat vs basa lemah


Kali ini kita akan menggunakan asam hidroklorida sebagai asam kuat dan larutan amonia
sebagai basa lemah.
Mengalirkan asam pada basa

Karena anda memiliki basa lemah, permulaan kurva sangat jelas berbeda. Bagaimanapun,
sekali anda mendapatkan kelebihan asam, kurva pada dasarnya sama seperti sebelumnya.
Pada bagian permulaan kurva, pH menurun dengan cepat seiring dengan penambahan
asam, tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat kecuraman yang berkurang. Hal ini
karena terbentuk larutan penyangga sebagai akibat dari kelebihan amonia dan pembentukan
amonium klorida.
Harus diperhatikan bahwa titik ekivalen sekarang sedikit bersifat asam (sedikit lebih kecil
daripada pH 5), karena amonium klorida murni tidak netral. Karena itu, titik ekivalen tetap turun
sedikit curam pada kurva. Hal itu akan menjadi sangat penting dalam pemilihan indikator yang
tepat.
Mengalirkan basa pada asam
Pada bagian permulaan titrasi ini, anda memiliki kelebihan asam hidroklorida. Bentuk
kurva akan sama dengan ketika anda memiliki kelebihan asam pada permulaan titrasi yang
menggunakan larutan natrium hidroksida pada asam.
Ini hanya terjadi setelah titik ekivalen yang mana menjadi sesuatu yang berbeda.
Larutan penyangga yang terbentuk mengandung kelebihan amonia dan amonium klorida.
Larutan penyangga ini menahan kenaikan pH yang sangat besar tidak akan terjadi kenaikan
yang sangat besar lagi. Karena amonia hanya basa lemah.

Kurva titirasi untuk asam lemah vs basa kuat


Kita akan mengambil asam etanoat dan natrium hidroksida sebagai asam lemah dan basa
kuat.
Mengalirkan asam pada basa
Untuk bagian pertama dari gambar, anda memiliki kelebihan natrium hidroksida. Kurva
akan tepat sama dengan ketika anda menambahkan asam hidroklorida pada natrium hidroksida.
Sekali saja ada kelebihan asam, maka akan terjadi suatu hal yang berbeda.

Setelah titik ekivalen anda memiliki larutan penyangga yang mengandung natrium
etanoat dan asam etanoat. Larutan penyangga ini menahan penurunan pH yang drastis.
Mengalirkan alkali pada asam

Permulaan gambar menunjukkan kenaikan pH yang relatif cepat tetapi mereda seiring
dengan pembentukan larutan penyangga yang mengandung asam etanoat dan natrium etanoat.
Setelah melewati titik ekivalen (ketika terjadi kelebihan natrium hidroksida) kurva sama seperti
pada bagian akhir gambar HCl-NaOH.

Kurva titrasi untuk asam lemah vs basa lemah


Contoh yang biasa untuk kurva titrasi asam lemah dan basa lemah adalah asam etanoat
dan amonia.
Hal ini juga terjadi karena keduanya bersifat lemah pada kasus tersebut, titik ekivalen
kira-kira terletak pada pH 7.
Mengalirkan asam pada basa
Gambar ini hanyalah penggabungan gambar yang telah anda lihat. Sebelum titik ekivalen
sama seperti kasus amonia HCl. Setelah titik ekivalen seperti bagian akhir kurva asam etanoat
NaOH.

Perhatian bahwa kurva tersebut sedikit tidak curam pada gambar ini. Malahan, terdapat
sesuatu yang dikenal dengan "titik infleksi". Kecuraman yang berkurang berarti bahwa sulit
melakukan titrasi antara asam lemah vs basa lemah.
Ringkasan kurva yang penting
Normalnya anda melakukan titrasi dengan menambahkan asam pada basa. Berikut ini
adalah versi turunan gambar yang digambarkan di atas, karena itu anda dapat melihatnya secara
keseluruhan.

Kurva titirasi yang lebih rumit


Penambahan asam hidroklorida pada larutan natrium karbonat
Persamaan keseluruhan untuk reaksi antara larutan natrium karbonat dan asam kloroda
encer adalah:
Jika anda memiliki dua larutan yang memiliki konsentrasi yang sama, anda akan
menggunakan dua kali volume asam klorida untuk mencapai titk ekivalen karena rasio 1 : 2
pada persamaan.
Andaikata anda memulainya dengan 25 cm 3 larutan natrium karbonat, dan kedua larutan
memiliki konsentrasi yang sama sebesar 1 mol dm -3. Hal itu berarti bahwa anda akan mengira
enurunan yang curam pada kurva titrasi setelah anda menambahkan 50 cm 3 asam. Gambar yang
sebenarnya akan terlihat seperti ini:

Gambarnya lebih rumit dibandingkan dengan gambar yang dapat anda fikirkan dan
sesuatu yang aneh terjadi selama titrasi.
anda mengira bahwa karbonat menghasilkan karbon dioksida ketika anda menambahkan
asam kepadanya, tetapi pada bagian permulaan titrasi, hal itu tidak memberikan karbon dioksida
secara keseluruhan.
Kemudian segera setelah anda mendapatkan titik setengah titrasi tiba-tiba banyak
sekali dihasilkan karbon dioksida.
Gambar menunjukkan dua titik akhir titik akhir yang satu terletak pada pH 8.3 (lebih
sedikit dibandingkan titik infleksi), dan titik akhir yang kedua terletak pada sekitar pH 3.7.
Reaksi yang terjadi dapat dilihat dengan jelas terjadi pada dua bagian yang berbeda.
Pada bagian pertama, seluruh bagian A pada diagram, natrium karbonat bereaksi dengan
asam menghasilkan natrium hidrogenkarbonat:
Anda dapat melihat bahwa reaksi yang terjadi tidak menghasilkan sedikit pun karbon
dioksida.
Pada bagian yang kedua, natrium hidrogenkarbonat yang dihasilkan bereaksi dengan
asam menghasilkan CO2 dalam jumlah yang banyak.
Reaksi tersebut berakhir pada bagian B pada gambar.
Hal ini memungkinkan untuk mengambil kedua titik akhir tersebut melalui pemilihan
indikator dengan hati-hati. Bagian ini dijelaskan pada halaman terpisah yang menjelaskan
tentang indikator.

Penambahan natrium hidroksida pada asam etanadioat encer


Asam etanadioat lebih dahulu dikenal dengan asam oksalat. Asam etanadioat adalah
asam diprotik, yang berarti bahwa asam etanadioat memberikan 2 proton (ion hidrogen) pada
basa. Asam yang lain yang dapat memberikan satu proton (seperti HCl) dikenal dengan asam
monopritik.

Reaksi dengan natrium hidrosida mengambil dua tahapan karena satu ion hidrogen lebih
mudah dihilangkan dibandingkan dengan ion hidrogen yang lainnya. Kedua reaksi tersebut
berturut-turut adalah:

Jika anda mengalirkan larutan natrium hidroksida pada larutan asam, kurva pH
menunjukkan titik akhir antara kedua reaksi tersebut.

Kurva berlaku untuk reaksi antara natrium hidroksida dan larutan asam etanadioat yang
memiliki konsentrasi sebanding.