Anda di halaman 1dari 4

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

RUMAH SAKIT LAVALETTE


2015

STATUS KONVULSI/ EPILEPTIKUS


1. Pengertian (Definisi)

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan Fisik

Aktivitas
bangkitan
terus-menerus
yang
berlangsung selama 30 menit atau lebih dan
selama 30 menit atau lebih tidak terdapat
pemulihan kesadaran.
Kejang atau bangkitan
adalah suatu keadaan akibat gangguan fungsi
otak secara intermiten yang disebabkan oleh
lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan di
neuron-neuron
secara
paroksismal
dan
disebabkan oleh berbagai etiologi.
Tanyakan mengenai deskripsi kejang, keadaan
preiktal, iktal, dan postiktal. Apakah terdapat
deviasi gaze, kelonjotan, automatisme, dan
gangguan kesadaran. Tanyakan mengenai lama
kejang konvulsi dan postiktal atau kejang
nonkonvulsi. Tanyakan mengenai riwayat epilepsi,
faktor risiko epilepsi (cedera kepala yang disertai
hilangnya kesadaran, meningitis, ensefalitis,
kejang demam), riwayat hipoglikemia pada
diabetes, riwayat lesi struktural otak (stroke,
tumor, perdarahan subdural). Bila merupakan
pasien epilepsi tanyakan jenis obat dan riwayat
ketidakpatuhan minum obat. Ditanyakan pula
mengenai riwayat kebiasaan pada pasien apakah
terdapat
penyalahgunaan
obat-obatan
(barbiturat, benzodiazepin, opioid, alkohol).
1.

2.

Pemeriksaan fisik umum


Mencari
tanda-tanda
gangguan
yang
berhubungan
dengan
epilepsi
seperti
trauma kepala, infeksi telinga atau sinus,
gangguan kongenital, gangguan neurologi
fokal atau difus, kecanduan alkohol/ obat
terlarang dan kanker
Pemeriksaanfisikneurologik :
a. Kesadaran
b. Fungsi luhur (berbahasa, memori)
c. Tanda rangsang meningeal
d. Saraf wajah
e. Motoris
f. Sensoris
g. Autonom

4. Kriteria Diagnosis
5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding

h. Reflek (fisiologis, patologis)


Biasanya kesadaran pasien akan pulih bertahap
setelah gambaran motorik kejang menghilang.
Cari gejala-gejala lainnya seperti gejala negatif
(koma,letargi, konfusi, afasia, amnesia) dan
gejala positif (automatisme, mengedip, agitasi).
Lihat apakah terdapat defisit neurologik fokal
pada pasien.
a. Bangkitan terus menerus terjadi lebih dari 30
menit
b. Tidak sadar diantara bangkitan
Status Epileptikus
1. Encephalitis
2. Heatstroke
3. Hypernatremia in Emergency Medicine
4. Hyperosmolar Hyperglycemic Nonketotic
Coma
5. Hypocalcemia in Emergency Medicine
6. Hipoglikemia
7. Hiponatremia
8. Neuroleptic Malignant Syndrome
9. Uremic Encephalopathy
10. Withdrawal Syndromes

7. PemeriksaanPenunjan
g

8. Terapi

Pemeriksaan electro-encephalography
(EEG)
2.
Pemeriksaan pencitraan otak (brain
imaging): CT scan, MRI.
3.
Pemeriksaan laboratorium: Pemriksaan
hematologik (mencakup hb, leukosit,
hematokrit, trombosit, apusan darah tepi,
elektrolit Na/K/Mg/Ca, kadar gula, fungsi
hati, ureum, kreatinin) & pemeriksaan kadar
OAE.
Stadium I (0-10 menit)
1. Memperbaiki fungsi kardio-respirasi
2. Memperbaiki jalan nafas, pemberian oksigen,
resusitasi bila perlu
Stadium II (1-60 menit)
1. Pemeriksaan status neurologik
2. Pengukuran tekanan darah, nadi dan suhu
3. Monitor status metabolik, AGD dan status
hematologi
4. Pemeriksaan EKG
5. Memasang infus pada pembuluh darah
besar dengan Nacl 0,9%. Bila akan
1.

9. Edukasi
10. Prognosis

digunakan 2 macam OAE pakai 2 jalur infus.


6. Mengambil 50-100 cc darah untuk
pemeriksaan laboratorium (AGD, glukosa,
fungsi ginjal dan hati, kalsium, magnesium,
pemeriksaan lengkap hematologi, waktu
pembekuan dan kadar AED), pemeriksaan
lain sesuai dengan klinik.
7. Pemberian OAE emergensi: Diazepam 0,2
mg/kg dengan kecepatan pemberian 5
mg/menit IV dapat diulang bila kejang
masih berlangsung setelah 5 menit.
8. Memasukkan 50 cc glukosa 50% pada
keadaan hipoglikemia
9. Pemberian thiamin 250 mg intravena pada
penyandang alkoholisme
10. Menangani asidosis dengan bikarbonat.
Stadium III (0-60/90 menit)
1. Menentukan etiologi
2. Bila kejang berlangsung terus setelah
pemberian lorazepam/ diazepam, beri
fenitoin iv 15-20 mg/kg dengan kecepatan
50 mg/menit (monitor tekanan darah dan
EKG pada saat pemberian). Bila kejang
masih berlangsung dapat diberi fenibarbital
20 mg/kgbb dengan kecepatan 50-75
mg/menit (monitor respirasi pada saat
pemberian). Dapat diulang 5-10 mg/kgBB.
3. Memulai terapi vasopresor (dopamin) bila
diperlukan
4. Mengoreksi komplikasi
Stadium IV (30-90 menit)
1. Bila kejang tetap tidak teratasi selama 30
60 menit, pindahkan penyandang epilepsi
ke ICU, beri propofol (2 mg/kgBB bolus iv,
diulang bila perlu) atau midazolam (0,1
mg/kgbb dengan kecepatan pemberian 4
mg/menit) atau tiopentone (100-250 mg
bolus iv pemberian 4 mg/menit) atau
tiopentone (100-250 mg bolus iv pemberian
20 menit, dilanjutkan dengan bolus 50 mg
setiap 2-3 menit), dilanjutkan sampai 12-24
jam setelah bangkitan klinik atau bangkitan
EEG terakhir, lalu dilakukan tapering off.
2. Memonitor bangkitan dan EEG, tekanan
intracranial, memulai pemberian OAE dosis
rumatan
1.
Minum obat epilepsi secara teratur
2.
Kontrol rutin klinik saraf
Ad vitam
: dubia ad bonam

Ad sanationam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat Evidens
IV
C
12. Tingkat Rekomendasi
13. PenelaahKritis
a.
Dr. Bambang Budiarso, Sp. S (K)
2.
Dr. Widodo Mardi SantosoSp.S
3.
Dr. Machlusil Husna, Sp. S
Angka
mortalitas dari status epileptikus/konvulsi
14. IndikatorMedis
adalah sebesar 13% pada dewasa muda, 38%
pada usia lanjut, dan lebih dari 50% pada
penderita lebih dari 80 tahun.
- Keadaan umum baik
15. Indikator KRS
- Bebas kejang
- Penyakit yang mendasari telah teratasai
16. Kepustakaan
1. Kelompok Studi Epilepsi Perdossi. 2012.
Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Jakarta:
Perdossi Bagian Neurologi FKUI/RSCM.
2. Indonesian Neurological Association. 2012.
Status Epileptikus, Advanced Neurology Life
Support. Jakarta: Pokdi Neuro Intensif
Perdossi.
3. Samuels MA. 2004. Manual of Neurologic
Terapheutics. Seventh edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.