Anda di halaman 1dari 36

Case Report Session

Traffic Accident

Nama DM:
Aina Ullafa
Andry Dwi Heryadi
Debi Lailatul Rahmi
Indana Zulfa
Lukmanul Hakim
Sri Ummi Kalsum DJ. M.
Yossey Pratiwi
Yudianto

Dokter Pembimbing:
Dr. Naomi Yosiati, Sp.F
KEPANITERAAN KLINIK STASE FORENSIK
RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Penulis sampaikan karena dengan rahmat
dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Tugas ini
penulis susun untuk memenuhi tugas pada kepaniteraan klinik stase forensik di Rumah Sakit
Hasan Sadikin, Bandung.
Terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu tersusunnya
laporan ini terutama tim dokter pembimbing forensik dan teman-teman sejawat koas forensik
lainnya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, sekarang maupun masa yang
akan datang.

Bandung, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
BAB I....................................................................................................................................1
IDENTITAS PASIEN.............................................................................................................1
PEMERIKSAAN FISIK........................................................................................................1
KESIMPULAN......................................................................................................................6
BAB II...................................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................................7
KECELAKAAN LALU LINTAS..........................................................................................7
DEFINISI...........................................................................................................................7
KLASIFIKASI (1)................................................................................................................8
PERATURAN DAN UNDANG-UNDANG (1)................................................................10
FAKTOR-FAKTOR KECELAKAAN (1)..........................................................................19
UPAYA KESELAMATAN LALU LINTAS.....................................................................24
PASAL-PASAL LALU LINTAS.........................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................33

BAB I
IDENTITAS PASIEN
I. Identitas
Nomor visum
Nama
Tempat Tgl Lahir
Jenis kelamin
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Alamat

: Tu.02.02/B31.2/066/II/2015
: Tita Rosita
: Bandung/14-5-1996
: Perempuan
: Indonesia
: Swasta
: Kp. Cicaheum Rt.004/005 Desa Cimenyan Kec. Cimenyan
Kab. Bandung

PEMERIKSAAN FISIK
II. Pemeriksaan Luar
1.1 Tutup/bungkus mayat dari luar ke dalam:
a. Terdapat sebuah kain, bahan katun, warna putih, motif polos, ukuran
268 cm x 182 cm, pada hampir seluruh lapang kain terdapat bercak
kemerahan.
b. Terdapat satu helai koran Pikiran Rakyat, ukuran 57 cm x 66 cm, pada
hampir seluruh lapang koran terdapat bercak kemerahan.
1.2 Label mayat: tidak ada
1.3 Benda disamping mayat: tidak ada
1.4 Perhiasan yang dipakai mayat:
a. Terdapat satu buah bulu mata palsu menempel di mata kanan, warna
hitam, bahan sintetis, bulu mata tampak tebal, ukuran 4 cm x 2 cm.
b. Terdapat satu buah lensa kontak menempel di mata kanan, warna hitam,
motif matahari, diameter 2 cm.
c. Terdapat satu buah anting pada telinga kiri, warna putih, bahan stanlis,
motif mahkota, ukuran 2 cm x 1 cm.
d. Terdapat gelang yang melingkari pergelangan tangan kanan, warna
hitam, bahan karet, dengan tulisan XTC Indonesia disertai gambar 2
ekor lebah, ukuran 6,5 cm x 1 cm, gelang dapat dibuka menjadi ukuran
8 cm x 1 cm.
1.5 Kaku mayat terdapat pada seluruh tubuh, belum lengkap, mudah dilawan.
Lebam mayat terdapat pada tengkuk dan punggung, warna keunguan, hilang
pada penekanan.
1.6 Pemeriksaan mayat

1.7

1.8

1.9

Mayat adalah seorang perempuan, berusia sekitar 19 tahun, ras melayu,


warna kulit sawo matang, gizi kurang, panjang badan 151 cm, berat badan
62 kg.
Mayat menggunakan pakaian:
a. Terdapat satu buah blazer, warna hijau toska, tanpa merk, bahan katun,
motif polos, ukuran 55 cm x 44 cm, pada hampir seluruh permukaan
blazer terdapat bercak kemerahan.
b. Terdapat satu buah baju, bahan kaos, warna hitam, tanpa merk, tidak
bermotif, ukuran 32 cm x 73 cm, dengan 2 tali ukuran 20 cm x 0,5 cm.
Pada hampir seluruh permukaan baju terdapat bercak kemerahan.
c. Terdapat celana panjang dalam keadaan terkancing, bahan jeans, warna
hitam, tanpa merk, ukuran 89 cm x 30 cm. Pada bagian depan kanan
dan kiri terdapat saku bobok, isi kosong. Pada bagian belakang kanan
dan kiri terdapat saku tempel, isi kosong. Pada hampir seluruh
permukaan celana terdapat banyak robekan yang compang-camping.
Pada hampir seluruh permukaan celana terdapat bercak putih dan
kecokelatan
d. Terdapat sebuah bra ber spon, warna hitam, motif polkadot warna putih,
tanpa merk, ukuran 31 cm, dengan tali menyilang X, motif kupu-kupu
di bagian tali belakang. Pada hampir seluruh permukaan bra terdapat
bercak kemerahan.
e. Terdapat celana dalam bahan tule, warna biru tua, motif renda, tanpa
merk, transparan, terdapat pita di bagian depan, ukuran 22 cm x 20 cm.
Identifikasi khusus:
a. Pada lengan kanan bawah, tepat pada garis tengah belakang, 5,5 cm dari
bawah siku, terdapat tato, yang bertuliskan Techa, ukuran 11 cm x 5,5
cm, dengan tinta hitam.
b. Pada dada sebelah kanan, 1 cm dari garis tengah, 6 cm di bawah puncak
bahu terdapat tato, bergambar bunga mawar, dengan tinta warna merah,
hitam, dan hijau, ukuran 9 cm x 7,3 cm.
c. Pada tungkai kanan bawah, tepat pada garis tengah depan, 15 cm di
bawah lutut, terdapat tato, bergambar bunga mawar dengan daun,
dengan tinta warna merah, hijau dan coklat, ukuran 18 cm x 14 cm.
Rambut-rambut:
- Rambut kepala lurus berwarna hitam kemerahan, pangkal rambut warna
hitam, panjang rata-rata 38 cm.
- Alis mata berwarna hitam, tumbuh lebat, panjang rata-rata 1 cm.
- Bulu mata berwarna hitam, tumbuh lebat, panjang rata-rata 0,7 cm.
- Rambut kemaluan bewarna hitam, tumbuh lebat, panjang rata-rata 6 cm.
- Rambut pada kedua tungkai kanan dan kiri berwarna hitam, tumbuh
lebat, panjang rata-rata 2 cm.

1.10 Kepala
- Kepala berbentuk asimetris
- Mata kanan terbuka 0,3 cm dan mata kiri terbuka 0,3 cm.
- Selaput kelopak mata kanan dan kiri tampak pucat.
- Selaput bola mata kanan dan kiri jernih.
- Selaput bening mata kanan dan kiri bening.
- Tirai mata kanan dan kiri berwarna hitam kecoklatan.
- Teleng mata kanan dan kiri bulat, diameter kanan dan kiri nol koma
enam sentimeter.
1.11 Hidung simetris, dari lubang hidung kanan dan kiri keluar cairan berwarna
kemerahan.
- Kedua telinga simetris, dari lubang telinga kanan keluar cairan merah
kehitaman dan kiri tidak ada kelainan.
- Mulut tertutup, tidak ada kelainan.
- Bibir berwarna pucat, tebal bibir atas 0,9 cm dan bibir bawah 1,1 cm.
- Lidah tampak pucat, tidak menjulur dan tidak tergigit.
- Gigi geligi berjumlah 27 buah, pada gigi terpasang kawat gigi. Pada
tulang rahang tidak ada kelainan.
- Pada rahang kanan atas, tidak terdapat kelainan.
- Pada rahang kanan bawah, gigi geraham besar pertama dan ketiga tidak
ada.
- Pada rahang kiri atas, tidak terdapat kelainan.
- Pada rahang kiri bawah, gigi geraham pertama, kedua dan ketiga tidak
ada.
- Kuku tangan dan kaki tampak pucat.
1.12 Lubang kemaluan dan lubang pelepasan tidak terdapat kelainan.
1.13 Luka-luka
a. Kepala dan leher
- Pada dahi, tepat pada garis tengah, 2,3 cm diatas alis, terdapat luka
terbuka, ukuran 6 cm x 2 cm, bentuk tidak teratur, batas tegas, tepi tidak
rata, sudut tumpul, kedalaman luka 0,9 cm, dasar tulang dahi, terdapat
jembatan jaringan, terdapat resapan darah, warna kemerahan.
-

Pada dahi tepat pada garis tengah, 4 cm diatas alis, terdapat luka lecet
ukuran 6,5 cm x 1 cm, bentuk teratur, batas tidak tegas, tepi tidak rata,
warna cokelat.

Pada kelopak mata kiri, 2 cm dari sudut luar mata, 0,5 cm di bawah alis,
terdapat luka memar ukuran 2,5 cm x 1 cm, bentuk tidak rata, batas
tidak tegas, warna keunguan.

Tepat pada pangkal hidung, tepat pada garis tengah, terdapat luka
memar, ukuran 1 cm x 0,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas,
warna keunguan.

Pada pipi kiri, 4 cm dari garis tengah, 5 cm di bawah alis, terdapat luka
lecet, ukuran 0,9 cm x 0,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tegas, warna
merah kecoklatan.

Pada pipi kanan, 4 cm dari garis tengah, 5 cm di bawah alis, terdapat


luka memar, ukuran 1 cm x 0,8 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak
tegas, warna keunguan.

Pada dagu, 2 cm dari garis tengah ke kiri, 2 cm di bawah bibir, terdapat


derik tulang ukuran 2 cm x 1 cm.

Pada leher tidak terdapat kelainan.

b. Batang tubuh
- Pada dada sebelah kanan, 5 cm dari garis tengah, 4 cm di bawah puncak
bahu, terdapat luka lecet ukuran 2,7 cm x 0,2 cm, bentuk tidak teratur,
batas tegas, warna kemerahan.
- Pada punggung sebelah kiri, 7 cm dari garis tengah, 22 cm di bawah
puncak bahu, terdapat sekumpulan luka lecet, ukuran luas 6 cm x 5 cm,
ukuran terbesar 7 cm dan 9 cm, ukuran terkecil 1,5 cm x 0,2 cm, ukuran
terbesar 6 cm x 0,2 cm, bentuk garis sejajar dengan jarak diantaranya
0,8 cm, batas tegas, warna merah keunguan.
- Pada panggul kanan, 10 cm dari garis tengah ke kanan, 6 cm dari lipat
paha terdapat luka lecet, ukuran 1 cm x 2 cm, bentuk tidak teratur, batas
tegas, warna kemerahan.
- Pada panggul kiri 4 cm dari garis tengah ke kiri, 2 cm dari lipat paha
terdapat sekumpulan luka lecet, luas ukuran 3 cm x 3 cm, ukuran
terbesar 1 cm x 0,4 cm, ukuran terkecil 0,4 cm x 0,3 cm, bentuk tidak
teratur, batas tegas, warna kemerahan.
c. Lengan dan tangan kanan
Pada lengan kanan atas sisi depan, tepat pada garis tengah depan, 12 cm
dibawah puncak bahu, terdapat luka memar, ukuran 5 cm x 5 cm, bentuk
tidak teratur, batas tidak tegas, warna kebiruan.
d. Lengan dan tangan kiri
-

Pada lengan kiri bawah sisi belakang, tepat pada garis tengah, 8 cm dari
pergelangan tangan, terdapat luka memar, ukuran 3,5 cm x 2,5 cm,
bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, warna keunguan.

Pada punggung tangan kiri, tepat pada garis tengah, 1cm dari
pergelangan tangan, terdapat luka lecet, ukuran 2,5 cm x 2,5 cm, bentuk
tidak teratur, batas tegas, warna kemerahan.

Pada jari telunjuk, tepat di garis tengah, 1,5 cm dari pangkal jari,
terdapat luka memar, ukuran 1 cm x 1 cm, bentuk tidak teratur, batas
tidak tegas, warna kehitaman.

Pada jari telunjuk, tepat di garis tengah, 4 cm dari pangkal jari, terdapat
luka memar, ukuran 0,5 cm x 1 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak
tegas, warna kehitaman.

Pada jari tengah, tepat di garis tengah, 0,5 cm dari pangkal jari, terdapat
luka memar, ukuran 2 cm x 0,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak
tegas, warna kehitaman.

Pada jari manis, melebihi garis tengah, 0,5 cm ke kanan, terdapat luka
memar, ukuran 0,5 cm x 2,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tidak tegas,
warna kehitaman.

Pada jari manis bagian bawah kuku, tepat di garis tengah, 1,5 cm dari
ujung kuku, terdapat luka lecet, ukuran 0,3 cm x 0,5 cm, bentuk teratur,
batas tegas, warna kehitaman.

e. Tungkai dan kaki kanan:


- Pada tungkai kanan atas sisi dalam, 15 cm dari garis tengah ke kiri, 25
cm di atas lutut, terdapat luka lecet, ukuran 8 cm x 1,8 cm, bentuk tidak
teratur, batas tegas, warna merah kehitaman.

Pada tungkai kanan atas sisi depan, 5 cm dari garis tengah ke kiri, 17
cm di atas lutut, terdapat luka lecet, ukuran 1 cm x 0,5 cm, bentuk tidak
teratur, batas tegas, warna merah kehitaman.

Pada tungkai kanan atas sisi depan, 4 cm dari garis tengah ke kiri, 1 cm
di atas lutut, terdapat luka terbuka, ukuran 2 cm x 1,5 cm, bentuk tidak
teratur, batas tegas, tepi tidak rata, sudut tumpul, kedalaman 2,5 cm,
dasar tulang, terdapat jembatan jaringan, terdapat resapan darah, warna
merah.
- Seluruh kuku jari kaki memakai cat kuku warna merah marun.
f. Tungkai dan kaki kiri:
- Pada tungkai kiri atas sisi dalam, 3,5 cm dari garis tengah ke kanan, 16
cm di atas lutut, terdapat luka terbuka, ukuran 9 cm x 6 cm, bentuk
tidak teratur, batas tegas, tepi tidak rata, sudut tumpul, kedalaman 2,5
cm, dasar otot, terdapat jembatan jaringan, terdapat resapan darah,
warna kemerahan.
-

Pada tungkai kiri sisi depan tepat pada lutut, terdapat sekumpulan luka
lecet, ukuran luas 11 cm x 8 cm, ukuran terbesar 3 cm x 2 cm, ukuran

terkecil 0,3 cm x 0,4 cm, bentuk tidak teratur, batas tegas, warna
kemerahan.
-

Pada tungkai bawah kiri sisi dalam 4 cm dari lutut, 5 cm dari garis
tengah depan, terdapat luka terbuka, ukuran 5 cm x 2 cm, bentuk
teratur, batas tegas, tepi tidak rata, sudut tumpul, kedalaman 1,5 cm,
dasar lemak, terdapat jembatan jaringan, terdapat resapan darah, warna
kemerahan.

Pada tungkai bawah kiri sisi dalam, 3 cm dari pergelangan kaki kiri, 3
cm dari garis tengah depan, terdapat luka lecet, ukuran 0,5 cm x 0,5 cm,
bentuk teratur, batas tegas, warna kehitaman.

g. Bokong
Pada bokong, tepat di garis tengah, terdapat sekumpulan luka lecet, ukuran
luas 9,5 cm x 8,5 cm, ukuran terbesar 5 cm x 2 cm, ukuran terkecil 3 cm x
2,5 cm, bentuk tidak teratur, batas tegas, warna pucat.

KESIMPULAN
a.

Telah dilakukan pemeriksaan luar terhadap seorang mayat perempuan,


berusia sekitar 19 tahun, ras Melayu, warna kulit sawo matang, panjang badan

b.

151 cm, berat badan 62 kg.


Terdapat luka terbuka pada dahi, tungkai kanan atas, dan tungkai bawah

kiri, akibat trauma tumpul.


c.
Terdapat luka lecet pada dahi, pipi kiri, dada sebelah kanan, punggung
sebelah kiri, panggul kanan, panggul kiri, punggung tangan kiri, jari manis
tangan kiri, tungkai kanan atas, lutut kiri,tungkai bawah kiri, dan bokong,
akibat trauma tumpul.
d.
Terdapat luka memar pada kelopak mata kiri, pangkal hidung, pipi kanan,
lengan kanan atas, lengan kiri bawah, dan jari-jari tangan kiri, akibat trauma
tumpul.
e. Terdapat derik tulang pada dagu, akibat trauma tumpul.
f.
Tedapat cairan merah kehitaman keluar dari lubang telinga kanan.
g.
Sebab kematian pasti tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan
pemeriksaan dalam (otopsi) jenazah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KECELAKAAN LALU LINTAS


DEFINISI
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, mengungkapkan kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di
jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan dengan
atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau
kerugian harta benda. (1)
Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian, yang tidak diduga
sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan benda, luka, atau kematian. (2)
Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian pada lalu lintas jalan yang sedikitnya
melibatkan satu kendaraan yang menyebabkan cedera atau kerusakan atau
kerugian pada pemiliknya (korban) (WHO, 1984).
Adapun pengertian lain yaitu, kecelakaan lalu lintas ialah setiap kecelakaan
kendaraan bermotor yang terjadi di jalan raya. Pengertian ini diambil dari definisi
A motor vehicle traffic accident. Non motor vehicle traffic accident iaalah setiap
kecelakaan yang terjadi di jalan raya, yang melibatkan pemakaian jalan untuk
transportasi atau untuk mengadakan perjalanan dengan kendaraan yang bukan
kendaraan bermotor. (2)
Dengan demikian kecelakaan yang terjadi bukan di jalan raya (jalan umum)
seperti kecelakaan dalam kompleks bukanlah termasuk kategori kecelakaan lalu
lintas. Demikian pula dengan kendaraan yang berjalan diatas rel tidak dimasukkan
ke dalam pengertian kendaraan bermotor pada kecelakaan lalu lintas. (2)
Kecelakaan tidak hanya trauma, cedera, ataupun kecacatan tetapi juga
kematian. Kasus kecelakaan sulit diminimalisasi dan cenderung meningkat seiring
pertambahan panjang jalan dan banyaknya pergerakan dari kendaraan. Dari
beberapa definisi kecelakaan lalu lintas dapat disimpulkan bahwa kecelakaan lalu

lintas merupakan suatu peristiwa pada lalu lintas jalan yang tidak diduga dan tidak
diinginkan yang sulit diprediksi kapan dan dimana terjadinya, sedikitnya
melibatkan satu kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang
menyebabkan cedera, trauma, kecacatan, kematian dan/atau kerugian harta benda
pada pemiliknya (korban).
Tujuan utama dalam penyidikan kasus kecelakaan lalu lintas adalah untuk
pencegahan terjadinya kecelakaan dimasa mendatang. Masalah hukuman seperti
dimaksud dalam KUHP BAB XXI perihal menyebabkan masalah sekunder. (2)
KLASIFIKASI (1)
1. Penggolongan Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Undang-undang
Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan pada pasal
229, karakteristik kecelakaan lalu lintas dapat dibagi kedalam 3 golongan,
yaitu:
1) Kecelakaan Lalu Lintas ringan, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan
kerusakan kendaraan dan/atau barang.

2) Kecelakaan Lalu Lintas sedang, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan


luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang.

3) Kecelakaan Lalu Lintas berat, yaitu kecelakaan yang mengakibatkan


korban meninggal dunia atau luka berat.

2. Jenis Kecelakaan Lalu Lintas Karakteristik kecelakaan lalu lintas menurut


Dephub RI (2006) dapat dibagi menjadi beberapa jenis tabrakan, yaitu:
1). Angle (Ra), tabrakan antara kendaraan yang bergerak pada arah yang
berbeda, namun bukan dari arah berlawanan.

2). Rear-End (Re), kendaran menabrak dari belakang kendaraan lain yang
bergerak searah.
3) Sideswape (Ss), kendaraan yang bergerak menabrak kendaraan lain dari
samping ketika berjalan pada arah yang sama, atau pada arah yang
berlawanan.
4) Head-On (Ho), tabrakan antara yang berjalanan pada arah yang
berlawanan (tidak sideswape).
5) Backing, tabrakan secara mundur.

3.

Dampak Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Peraturan Pemerintah


Nomor 43 tahun 1993 tentang Prasarana Jalan Raya dan Lalu Lintas,
dampak kecelakaan lalu lintas dapat diklasifikasi berdasarkan kondisi
korban menjadi tiga, yaitu:
a. Meninggal dunia adalah korban kecelakaan yang dipastikan meninggal
dunia sebagai akibat kecelakaan lalu lintas dalam jangka waktu paling
lama 30 hari setelah kecelakaan tersebut.

b. Luka berat adalah korban kecelakaan yang karena luka-lukanya


menderita cacat tetap atau harus dirawat inap di rumah sakit dalam jangka
waktu lebih Universitas Sumatera Utara dari 30 hari sejak terjadi
kecelakaan. Suatu kejadian digolongkan sebagai cacat tetap jika sesuatu
anggota badan hilang atau tidak dapat digunakan sama sekali dan tidak
dapat sembuh atau pulih untuk selama-lamanya.
c. Luka ringan adalah korban kecelakaan yang mengalami luka-luka yang
tidak memerlukan rawat inap atau harus dirawat inap di rumah sakit dari
30 hari.

PERATURAN DAN UNDANG-UNDANG (1)


Peraturan dan Perundang-undangan Lalu Lintas Undang-undang Nomor
22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya merupakan produk
hukum yang menjadi acuan utama yang mengatur aspek-aspek mengenai lalu
lintas dan angkutan jalan di Indonesia. Undang-undang ini merupakan
penyempurnaan dari undang-undang sebelumnya yaitu Undang-undang Nomor 14
tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya yang sudah sudah tidak
sesuai lagi dengan kondisi, perubahan lingkungan strategis, dan kebutuhan
penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan saat ini sehingga perlu diganti
dengan undang-undang yang baru.
Setelah undang-undang mengenai lalu lintas dan angkutan jalan yang lama
diterbitkan kemudian diterbitkan 4 (empat) Peraturan Pemerintah (PP), yaitu: PP
No. 41/1993 tentang Transportasi Jalan Raya, PP No. 42/1993 tentang
Pemeriksaan Kendaraan Bermotor, PP No. 43/1993 tentang Prasarana Jalan Raya
dan Lalu Lintas, PP No. 44/1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi. Lalu
dibuatlah pedoman teknis untuk mendukung penerapan Peraturan Pemerintah (PP)
diatas yang diterbitkan dalam bentuk Keputusan Menteri (KepMen). Beberapa
contohnya KepMen tersebut, yaitu: KepMen No. 60/1993 tentang Marka
Universitas Sumatera Utara Jalan, KepMen No. 61/1993 tentang Rambu-rambu
Jalan, KepMen No. 62/1993 tentang Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, KepMen
No. 65/1993 tentang Fasilitas Pendukung Kegiatan Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan (Kemenhub RI, 2011).
Sepeda Motor Dan Sepeda (1)
Sepeda Motor Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 22 Tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, sepeda motor adalah kendaraan
bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa
kereta samping atau kendaraan bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah.
Pengendara sepeda motor harus mematuhi hukum yang sama dengan pengemudi
mobil yaitu yang tercantum pada Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu

10

Lintas dan Angkutan Jalan, yang diatur dalam undang-undang tersebut antara lain
adalah:
a. Setiap pengendara sepeda motor di jalan harus memiliki Surat Izin
Mengemudi

untuk

sepeda

motor

yang

mampu

mengemudikan

kendaraannya dengan wajar.


b. Pengendara sepeda motor wajib mengutamakan keselamatan pejalan
kaki.
c. Mengetahui tata cara berlalu lintas di jalan.
d. Sepeda motor hanya diperuntukkan hanya untuk dua orang.
e. Sepeda motor yang digunakan dijalan memenuhi persyaratan teknis dan
laik jalan.
f. Pengemudi dan penumpang wajib menggunakan helm yang telah
direkomendasikan keselamatannya dan terpasang dengan benar.
Sepeda motor memiliki standar-standar yang wajib dipenuhi kelengkapan
dari kendaraan tersebut yang di atur dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun
1994 tentang Kendaraan dan Pengemudi. Standar mengenai kendaraan bermotor
jenis sepeda motor yang diatur PP No. 44 Tahun 1994 adalah sebagai berikut:
1. Lampu-lampu dan alat pemantul cahaya (Pasal 41-64). Sepeda motor
dengan atau tanpa lampu samping harus dilengkap dengan lampu-lampu
dan pemantul cahaya yang meliputi lampu utama dekat, lampu utama jauh,
lampung penunjuk arah, satu lampu posisi depan dan belakang, satu lampu
rem, satu lampu penerangan tanda nomor kendaraan di bagian belakang,
satu pemantulan cahaya berwarna merah yang tidak berbentuk segitiga.
Lampu penunjuk arah berjumlah genap dengan sinar kelap-kelip berwarna
kuning tua dan dapat dilihat pada waktu siang maupun malam hari oleh
pemakai jalan lainnya. Lampu penunjuk arah dipasang sejajar di sisi kiri
dan sisi kanan bagian muka dan bagian belakang sepeda motor.
2. Komponen pendukung (Pasal 70-79). Komponen pendukung kendaraan
bermotor terdiri dari pengatur kecepatan, kaca spion, klakson dan
sepakbor. Kaca spion sepeda motor sekurang-kurangnya berjumlah satu

11

buah. Kaca spion terbuat dari kaca atau bahan menyerupai kaca yang tidak
merugah jarak dan bentuk orang dan/atau barang yang dapat dilihat.
Jenis Sepeda Motor Sepeda motor dapat diklasifikasikan berdasarkan
tujuan penggunaannya menjadi 4 (empat) jenis sepeda motor (Dephub RI, 2006),
yaitu:
1) Sepeda motor harian. Sepeda motor ini didesain untuk berjalan di jalan
raya. Bannya dibuat agar mampu menapak dengan baik di jalan raya. Dan
jenis sepeda motor inilah yang paling banyak digunakan masyarakat
Indonesia.
2) Sepeda motor trail. Sepeda motor ini biasanya digunakan untuk
berkendara di jalan aspal dan non aspal. Sepeda motor ini dilengkapi
dengan lampu sehingga dapat digunakan di jalan raya.
3) Sepeda motor off-road. Sepeda motor ini di desain untuk kegiatan
rekreasi seperti motokros dan bertualang. Jenis ini tidak dapat digunakan
di jalan raya, biasanya tidak dilengkapi dengan surat dan lampu serta
lampu indikator/sein.
4) Sepeda motor roda tiga. Jenis ini lebih kepada sepeda motor dengan tiga
roda, tetapi bukan sepeda motor dengan tambahan kereta tempel di bagian
sisinya.
Alat Pelindung Diri Pengendara Sepeda Motor Untuk mengendarai
kendaraan bermotor jenis sepeda motor juga diperlukan alat pelindung diri (APD)
sepeda motor bagi pengendara sepeda motor yang gunanya untuk meningkatkan
keamanan dalam mengendarai sepeda motor, berikut adalah tata cara bersepeda
motor yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Dephub RI, 2004):
a. Helm.
Helm merupakan alat pelindung diri yang paling utama dan wajib dipakai
oleh pengendara maupun penumpang sepeda motor yang dapat Universitas
Sumatera Utara mengurangi luka serius yang mungkin timbul apabila terjadi
kecelakaan lalu lintas. UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

12

Jalan menyebutkan bahwa pengendara dan penumpang sepeda motor wajib


menggunakan helm standar nasional Indonesia (SNI). Jenis helm berstandar
nasional Indonesia yang dapat melindungi pengendara sepeda motor dan disetujui
oleh pihak kepolisian lalu lintas terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Helm yang menutup keseluruhan wajah (full face), helm ini
merupakan helm yang memenuhi standar keselamatan bagi pengendara
sepeda motor karena memiliki tingkat keamanan yang tinggi.
2) Helm yang menutup wajah (three-quarter open face), helm ini
hampir serupa dengan helm full face, namun memiliki perbedaan pada
dagu pengendara tidak tertutup. Helm ini tidak menutup sempurna seperti
helm full face dan memiliki tingkat keamanan sedikit lebih rendah
dibawah helm jenis full face.
b. Pelindung mata dan wajah.
Mata dan wajah membutuhkan perlindungan dari angin, debu, hujan,
binatang kecil dan bebatuan, pelindung wajah dapat memberi perlindungan dari
hal tersebut. Pelindung mata dan wajah harus memenuhi standar yang berlaku,
tidak tergores, tidak membatasi jarak atau sudut pandang pengendara, dan dapat
diikat erat agar tidak bergeser.
c. Sarung tangan.
Sarung tangan berfungsi untuk mengurangi efek langsung angin maupun
kondisi cuaca ketika berkendara dan meminimalkan dampak cedera pada saat
terjadi kecelakaan lalu lintas. Penahan benturan, goresan, dan berbahan yang kuat
merupakan standar dari sarung tangan untuk mengendarai sepeda motor. Sarung
tangan juga harus nyaman ketika digunakan dan memberi kemampuan
menggenggam setang dengan baik.
d. Jaket.
Jaket merupakan pakaian pelindung pengendara sepeda motor ketika
terjadi kecelakaan lalu lintas, selain itu jaket juga berfungsi untuk membantu

13

pengendara sepeda motor menghadapi kondisi cuaca ketika berkendara. Jaket


yang baik adalah tidak mudah sobek dan menggelembung ketika dipakai
berkendara, jaket harus menutupi seluruh lengan dan melekat erat pada leher,
pergelangan tangan, dan pinggang pada saat berkendara. Selain itu, warna jaket
harus terang agar dapat terlihat oleh pengendara lain ketika malam hari.
e. Sepatu
Sepatu berfungsi untuk melindungi pergelangan kaki. Sepatu dapat
mengurangi efek langsung ke arah kaki pada pengendara sepeda motor ketika
terjadi kecelakaan lalu lintas. Sepatu harus didesain untuk berkendara sepeda
motor dan terbuat dari kulit atau bahan sintetis kuat lainnya. Dapat melindungi
pergelangan kaki, memiliki alas sepatu yang mampu menapak dengan baik dan
memiliki bagian yang diperkuat sebagai perlindungan tambahan. Sepatu tidak
boleh memiliki anting-anting, tali-tali atau sisi yang elastis, karena dapat
menimbulkan masalah bagi pengendara dan dapat menyangkut pada motor atau
pada saat kecelakaan.
Pemeriksaan Sebelum Berkendara Pemeriksaan sebelum berkendara
sangat penting untung menjadi perhatian sebelum berkendara, agar terhindar dari
kondisi tak aman (unsafe condition) dalam berkendara. Berikut adalah hal-hal
yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan sebelum berkendara:
1) Alat kendali.
a. Rem, periksa rem depan dan belakang secara bersamaan. Tiap rem
harus dapat menghentikan kendaraan dengan baik ketika melaju.
b. Kopling dan gas, kedua alat harus berfungsi dengan halus. Gas harus
segera berbalik ketika telah dilepaskan.
c. Kabel-kabel, pastikan semua kabel dan tali dalam kondisi baik,
berfungsi secara halus dan tidak terdapat kabel yang kusut dan dalam
keadaan terurai.
2) Ban.

14

a. Tekanan, periksa tekanan ban (khususnya saat ketika kondisi ban


masih

dingin)

karena

berpengaruh

pada

pengendalian

dalam

berkendara.
b. Tapak ban, ban dengan permukaan yang tidak rata merupakan hal
yang dapat membahayakan saat berkendara, khususnya pada saat
melintas di jalan yang licin. Tapak ban harus memiliki alur kedalaman
sedikitnya 1mm. Tiap ban memiliki indikator tapak ban. Sisi ban tidak
boleh memiliki lebar lebih dari tapak ban. Jika ban mulai tidak rata,
harus lebih hati-hati dalam berkendara.
c. Kerusakan, periksa apakah terdapat pecahan pada tapak ban, paku,
ataupun potongan benda tajam lainnya. Bahkan sebuah lubang kecil
sangatlah berbahaya.
3) Lampu dan sein. Pastikan bahwa semua lampu utama dan sein dalam
keadaan bersih dan dapat bekerja dengan baik.
4) Spion. Bersihkan dan setel posisi spion sebelum mulai berkendara.
Sangat berbahaya jika menyetel spion sepeda motor pada saat
berkendara. Spion harus disetel agar dapat melihat area di belakang.
Dan juga harus dapat melihat lajur di sebelah dan di belakang pada kaca
spion.
4) Rantai Periksa rantai sepeda motor apakah telah dilumasi dan
setelannya telah tepat. Baca buku manual kendaraan untuk
mengetahui perawatan mengenai rantai. Sepeda motor harus
dilengkapi dengan pelindung rantai agar pakaian tidak tersangkut pada
rantai terkecuali rantai sudah tertutup oleh rangka.
Meskipun sepeda motor lebih sedikit dari kendaraan roda empat, terutama
di negara-negara maju, tingkat cedera dan kematian di antara pengendara sepeda
motor jauh lebih tinggi daripada pengendara mobil. Misalnya, di Inggris dan
Wales pada tahun 1989 ada yang lebih banyak kematian di antara pengendara

15

sepeda motor laki-laki antara usia 16 dan 24 daripada pengendara mobil (343
dibandingkan dengan 323) meskipun rasio sepeda motor dibandingkan mobil
sangat kecil di Inggris. Pada kelompok 25-44 usia, 192 pengendara sepeda motor
meninggal dibandingkan dengan 381 pengendara mobil. (3)
Kedua ekstremitas tubuh paling mengalami keparahan pada kecelakaan
sepeda motor, meskipun Larsen dan Hardt-Madsen melakukan analisis di
Denmark pada tahun 1988 juga menunjukkan tingkat cedera yang tinggi untuk
dada dan perut. (3)

Karena pengendara pasti jatuh ke tanah, umumnya cedera kepala dan


sering parah, menyebabkan 80 persen dari kematian menurut Bothwell
(1962). Meskipun helm kecelakaan yang wajib di sebagian besar negara,
dampak keparahan sering mengalahkan efek perlindungan helm.
Dampak dari permukaan jalan atau kendaraan lain berkecepatan tinggi
menyebabkan patah tulang tengkorak di bagian kepala, tapi sering
temporoparietal. Sebuah komplikasi umum adalah patah tulang tengkorak
basal, terutama fraktur 'engsel'. Retak melintang di dasar tengkorak,
melintasi dasar petrosa atau di belakang sayap besar dari tulang sphenoid
melalui fossa hipofisis ke sisi yang berlawanan, juga telah disebut 'fraktur
pengendara sepeda motor'.
Jenis lain adalah fraktur cincin di sekitar foramen magnum di fossa
posterior disebabkan oleh dampak pada puncak kepala. Leher mengalami
keparahan cukup sering dan Mant menemukan fraktur tulang belakang
leher di atas seperempat serinya. Kerusakan otak bisa berat, bahkan
dengan helm. Memar kortikal dan laserasi, kadang-kadang contrecoup,
mungkin cukup besar untuk menyebabkan jaringan otak untuk menolak
patah tulang tengkorak. Dalam seri Mant untuk pengendara sepeda motor,
60 persen memiliki patah tulang tengkorak dan hampir 80 persen
mengalami kerusakan otak.

16

Kaki sering cedera, baik oleh dampak utama dengan kendaraan lain atau
struktur jalan, atau terperangkap oleh bagian dari kerangka sepeda motor.
Laserasi, gesekan luka bakar dan patah tulang yang umumnya terjadi.
Mant mencatat patah tulang kaki atau panggul di 55 persen dari kasus.

Setiap bagian tubuh dapat mengalami keparahan cedera, tapi kurang sering
daripada ekstremitas. Jatuh dari kendaraan, terutama pada kecepatan, dapat
menyebabkan patah tulang rusuk dan kerusakan visceral, terutama ruptur
hati dan limpa.

Cedera umum dengan sepeda motor adalah kejadian 'Tailgating', di mana


pengendara mendorong ke belakang truk sehingga motor lewat di
bawahnya, tapi dampaknya kepala pengendara sepeda motor pada papan
belakang. Pemenggalan kepala dapat terjadi dalam kasus-kasus yang
ekstrim, tapi kepala dan leher luka parah hampir tak terelakkan. Truk di
banyak negara sekarang harus memiliki bar yang kuat dipasang di bagian
belakang untuk mencegah hal ini, yang mungkin juga terjadi untuk
kendaraan bermotor, bagian belakang truk menabrak kaca depan dan sopir.
Helm pengaman bertindak baik dengan menyediakan penghalang kaku

terhadap dampak, yang sebagian bergantung pada shock menyerap bantalan dalam
helm dan dengan menyediakan permukaan halus, yang dirancang untuk selip di
seluruh permukaan jalan, sehingga memperpanjang jarak berhenti dan waktu
untuk mengurangi gaya G deselerasi. Kekuatan ini dirancang untuk menjadi
terbatas untuk mengendalikan laju perlambatan namun dampak besar terlihat pada
kecepatan tinggi helm dapat ditembus atau kepala dan otak rusak oleh transmisi
benda tumpul. Kecelakaan-bar adalah ukuran keamanan lain pada sepeda motor,
yang dilengkapi di depan mesin untuk proyek di setiap sisi dan melindungi kaki
jika kendaraan jatuh menimpa. Kecuali sangat kuat, namun, bar tersebut bisa
manjadi perangkap kaki jika mereka membungkuk ke belakang sebagai dampak.

17

Penyebab Kecelakaan Sepeda Motor (4)


Kebanyakan cedera pengendara sepeda motor disebabkan oleh jatuh dari
kendaraan ke jalan. Banyak cedera dapat dikurangi atau dicegah dengan memakai
pakaian pelindung yang cocok dan helm. Lecet yang disebabkan oleh kontak
dengan permukaan jalan hampir semua terjadi setelah sebuah kecepatan, dan luka
pada tungkai, dada dan tulang belakang terjadi sangat sering karena kontak
dengan benda lain atau kendaraan, keterlibatan dengan sepeda motor atau kontak
langsung dengan jalan (Gambar 14.8). Meskipun pengenalan wajib mengenakan
helm di Inggris, cedera kepala adalah masih penyebab umum dari morbiditas dan
mortalitas. Di negara di mana tidak ada persyaratan wajib untuk helm sepeda
motor, kejadian tersebut secara substansial meningkat. Cedera lebih unik terjadi
dari 'Tail-gating', di mana pengendara sepeda motor berkendara di bawah bagian
belakang truk, menyebabkan cedera kepala berat atau bahkan pemenggalan
kepala. Cedera ini telah berkurang di kehadiran bar di sisi dan belakang truk untuk
mencegah kedua sepeda dan mobil yang lewat di bawah kendaraan.

18

FAKTOR-FAKTOR KECELAKAAN (1)


Kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Indonesia pada tahun 2004
yaitu sebesar 54,8%. Mengendarai sepeda motor membutuhkan keterampilan yang
memerlukan latihan selama bertahun-tahun dan praktek dengan menggunakan
teknik berkendara yang tepat. Pengendara pemula memiliki peluang tiga kali lebih
besar dalam terlibat kecelakaan daripada pengendara yang telah mahir. Lebih dari
27,1% kecelakaan pada tahun 2004 melibatkan anak muda dan pengendara
pemula dengan usia antara 16-25 tahun (Dephub, 2006).
Menurut Warpani (2002), penyebab kecelakaan lalu lintas dapat
dikelompokkan dalam empat unsur, yakni: manusia, kendaraan, jalan, dan
lingkungan. Sedangkan dasar teori kecelakaan lalu lintas ada pada model Matriks
Haddon yang merupakan suatu model konseptual yang mengaplikasikan prinsipprinsip kesehatan masyarakat untuk masalah kecelakaan lalu lintas. Konsep ini
dikembangkan oleh Dr William Haddon Jr lebih dari 35 tahun yang lalu
(Wikipedia, 2009).
Penerapan permodelan kecelakaan lalu lintas dibagi menjadi tiga fase
waktu, yaitu sebelum kecelakaan (pre-crash), saat kecelakaan (crash), dan setelah
kecelakaan (post-crash). Konsep inilah yang digunakan untuk menilai cidera
(Oneil, 2002).
1. Faktor Manusia
Manusia

sebagai

pengendara

memiliki

faktor-faktor

yang

mempengaruhi dalam berkendara, yaitu faktor psikologis dan faktor


fisiologis. Keduanya adalah faktor dominan yang mempengaruhi manusia
dalam berkendara di jalan raya. Faktor psikologis dapat berupa mental,
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sedangkan faktor fisiologis
mencakup penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, kelelahan, dan
sistem syaraf. Perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi antara faktor
lingkungan, kendaraan, dan manusia itu sendiri. Lalu kombinasi dari
faktor fisiologis dan faktor psikologis menimbulkan reaksi dan aksi, yaitu
timbulnya respon berkendara dari pengendara terhadap ransangan dari

19

lingkungannya

berkendara.

Karakteristik

dari

pengendara

yang

berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas, yaitu:


a. Usia
Orang yang berusia tua atau diatas 30 tahun biasanya lebih
memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi dalam berkendara
daripada orang yang berusia muda, alasannya karena orang
yang berusia tua lebih banyak memiliki pengalaman dalam
berkendara dan lebih bijak dalam berkendara dibanding dengan
yang berusia muda yang terkadang menggebu-gebu dan
tergesa-gesa dalam berkendara. Lebih dari 27,1% kecelakaan
pada tahun 2004 melibatkan anak muda dan pengendara
pemula dengan usia antara 16-25 tahun (Dephub RI, 2006).
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko lebih tinggi mengalami
kecelakaan lalu lintas dan angka kematiannya lebih tinggi
dibandingkan jenis kelamin perempuan. Hal ini dikarenakan
mobilitas jenis kelamin laki-laki lebih tinggi daripada jenis
kelamin perempuan di jalan raya dalam berkendara. Selain itu
jumlah pengguna sepeda motor lebih tinggi pada jenis kelamin
lakilaki daripada jenis kelamin perempuan.
c. Perilaku Faktor
Perilaku juga mempunyai peranan penting dalam menentukan
terjadinya kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda
motor. Dimana pada pengendara yang berperilaku tidak baik
ketika berkendara juga mempengaruhi keselamatan pengendara
tersebut, seperti tidak memakai helm atau tidak memakai helm
yang sesuai standar yang di anjurkan, tidak tertib ketika

20

berkendara dengan melanggar rambu lalu lintas dan marka


jalan.
d. Kepemilikan SIM
SIM merupakan suatu tanda bukti bahwa pengendara sudah
layak berkendara di jalan raya, terkhususnya SIM C yang wajib
dimiliki pengendara sepeda motor. Surat izin mengemudi ini
berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang.
Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas pada
pengendara sepeda motor adalah:
a. Lengah
Lengah adalah salah satu faktor penyebab yang berasal dari manusia
dikarenakan pengemudi melakukan hal atau kegiatan lain ketika
mengemudi, sehingga perhatiannya tidak fokus ketika berkendara.
Lengah yang terjadi dapat berasal dari lingkungan ataupun perilaku
pengemudi ketika berkendara, seperti pandangan tidak fokus atau
berbincang di jalan raya sehingga tidak dapat mengantisipasi dalam
menghadapi situasi lalu lintas dan tidak memperhatikan lingkungan
sekitar yang dapat berubah mendadak.
b. Mengantuk
Mengantuk dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas pada
pengendara sepeda motor karena pengemudi kehilangan daya reaksi
dan konsentrasi akibat kurang istirahat (tidur) dan/atau sudah
mengemudikan kendaraan lebih dari 5 jam tanpa istirahat (Warpani,
2002). Ciri-ciri pengemudi yang mengantuk adalah sering menguap,
perih pada mata, lambat dalam bereaksi, berhalusinasi, dan pandangan
kosong.

21

c. Lelah
Faktor kelelahan merupakan salah satu faktor penyebab kecelakaan,
kelelahan

dapat

mengurangi

kemampuan

pengemudi

dalam

mengantisipasi keadaan lalu lintas dan mengurangi konsentrasi dalam


berkendara. Sumamur (2009) mengungkapkan, kata lelah (fatigue)
menunjukkan keadaan tubuh fisik dan mental yang berbeda, tetapi
semuanya berakibat kepada penurunan daya kerja dan berkurangnya
ketahanan tubuh. Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1993 pada pasal
240 menyebutkan pembatasan lamanya waktu mengemudi, akan tetapi
pelanggaran masih sering terjadi.
d. Mabuk
Mabuk yang disebabkan alkohol memiliki peranan penting terhadap
terjadinya kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor. Oleh
karena itu, pengendara dilarang mengkonsumsi alkohol sebelum
berkendara atau tubuhnya mengandung alkohol ketika ingin
berkendara. Alkohol dan berkendara merupakan kombinasi yang fatal.
e. Tidak tertib
Tidak tertibnya pengendara itu dapat disebabkan oleh perilaku
berkendara yang buruk dan kesadaran akan berlalu lintas dengan
benar yang rendah, seperti melanggar marka atau rambu lalu lintas,
mendahului kendaraan lain melalui jalur kiri, dan sebagainya. Data
menunjukkan lebih dari 90% faktor utama penyebab kecelakaan lalu
lintas adalah manusia, yang sangat berkaitan erat dengan perilaku
manusia dalam tertib dan disiplin berlalu lintas di jalan (Dephub RI,
2008).
f. Kecepatan tinggi
Kecepatan merupakan hal yang dapat dikontrol pengendara sesuai
keinginannya, akan tetapi perilaku dari pengendara sering kali

22

membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Faktor tersebutlah


yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, karena
terkadang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa
menghiraukan jarak kendaraan dengan depan ataupun samping. Jarak
yang aman antara kendaraan yang dikemudikan dengan kendaraan
yang ada di depan adalah selang waktu 2 detik, jarak itulah yang dapat
ditoleril agar pengendara dapat mengerem kendaraannya dengan baik.

23

UPAYA KESELAMATAN LALU LINTAS


Upaya Keselamatan Lalu lintas Usaha dalam rangka mewujudkan
keselamatan jalan raya merupakan tanggung jawab bersama antara pengguna jalan
dan aparatur negara yang berkompeten terhadap penanganan jalan raya baik yang
bertanggung jawab terhadap pengadaan dan pemeliharaan infra dan supra struktur,
sarana dan prasarana jalan maupun pengaturan dan penegakkan hukumnya. Hal
ini bertujuan untuk tetap terpelihara serta terjaganya situasi jalan raya yang terarah
dan nyaman. Sopan santun dan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku merupakan suatu hal yang paling penting guna
terwujudnya keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas, sesuai
dengan sistem perpolisian modern menempatkan masyarakat sebagai subjek
dalam menjaga keselamatan pribadinya akan berdampak terhadap keselamatan
maupun keteraturan bagi pengguana jalan lainnya. Untuk mewujudkan hal
tersebut perlu dilakukan beberapa perumusan dalam bentuk 5 (lima) strategi
penanganannya, berupa :
1. Engineering Wujud strategi yang dilakukan melalui serangkaian
kegiatan pengamatan, penelitian dan penyelidikan terhadap faktor
penyebab gangguan/hambatan keamanan, keselamatan, ketertiban dan
kelancaran lalu lintas serta memberikan saran-saran berupa langkahlangkah perbaikan dan penanggulangan serta pengembangannya kepada
instansi-instansi yang berhubungan dengan permasalahan lalu lintas.
2. Education Segala kegiatan yang meliputi segala sesuatu untuk
menumbuhkan pengertian, dukungan dan pengikutsertaan masyarakat
secara aktif dalam usaha menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban
dan kelancaran berlalu lintas dengan sasaran masyarakat terorganisir dan
masyarakat tidak terorganisir sehingga menimbulkan kesadaran secara
personal tanpa harus diawasi oleh petugas.

24

3. Enforcement Merupakan segala bentuk kegiatan dan tindakan dari polri


dibidang lalu lintas agar undang-undang atau ketentuan perundangundangan lalu lintas lainnya ditaati oleh semua para pemakai jalan dalam
usaha menciptakan kenyaman dan keselamatan berlalu lintas.
4. Encouragement , dapat diartikan sebagai desakan atau pengobar
semangat. Bahwa untuk mewujudkan kenyamanan dan keselamatan
berlalu lintas juga dipengaruhi oleh faktor individu setiap pemakai jalan,
dimana kecerdasan intelektual individu / kemampuan memotivasi dalam
diri guna menumbuhkan kesadaran dalam dirinya untuk beretika dalam
berlalu lintas dengan benar sangat dibutuhkan untuk mewujudkan hal
tersebut. Menumbuhkan motivasi dalam diri bisa dipengaruhi oleh faktor
internal (kesadaran diri seseorang) maupun eksternal (lingkungan
sekitarnya). Selain dari pada itu desakan semangat untuk menciptakan
situasi lau lintas harus dimiliki oleh semua stake holder yang berada pada
struktur pemerintahan maupun non pemerintah yang berkompeten dalam
bidang lalu lintas sehingga semua komponen yang berkepentingan serta
pengguna jalan secara bersama memiliki motivasi dan harapan yang sama
dengan mengaplikasikannya didalam aksi nyata pada kehidupan berlalu
lintas di jalan raya.
5. Emergency, Preparedness and response Kesiapan dalam tanggap
darurat dalam menghadapi suatu permasalahan lalu lintas harus menjadi
prioritas utama dalam upaya penanganannya, kesiapan seluruh komponen
stake holder bidang lalu lintas senantiasa mempersiapkan diri baik sumber
daya manusia, sarana dan prasarana serta hal lainnya dalam menghadapi
situasi yang mungkin terjadi, pemberdayaan kemajuan informasi dan
teknologi sangat bermanfaat sebagai pemantau lalu lintas jalan raya
disamping keberadaan petugas dilapangan.

25

PASAL-PASAL LALU LINTAS


Dalam KUHP, pasal yang dapat digunakan untuk menjerat pengemudi kendaraan
bermotor yang mengakibatkan kematian dalam kecelakaan lalu lintas adalah Pasal
359 KUHP, yang berbunyi:
Pasal 359
Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain
mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun.
Kemudian terdapat peraturan perundang-undangan yang lebih khusus mengatur
lebih khusus, rinci dan tegas lagi tentang berlalu-lintas di jalan raya/tol dan
kecelakaan lalu lintas, termasuk mengatur tentang kelalaian/kealpaan didalam
mengemudikan kendaraan hingga menyebabkan luka-luka dan kematian, yaitu
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(UU LLAJ), Di dalam UU LLAJ tersebut, pasal-pasal yang dapat digunakan
untuk menjerat pengemudi kendaraanyang karena kelalaiannya mengakibatkan
luka-lua dan kematian bagi orang lain adalah diatur dalam Pasal 310 ayat (1), (2),
(3) dan (4) UU LLAJ, yang berbunyi:
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena
kelalaiannya

mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan

Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2),
dipidana dengan pidana penjara paling lama enam bulan dan/atau denda paling
banyak Rp1 juta.
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena
kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan
dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau
denda paling banyak Rp2 juta.

26

(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena


kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara
paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp10 juta.
(4) Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara
paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp12 juta.
Unsur-unsur pidana yang terkandung dan harus terpenuhi dalam aturan Pasal 310
ayat (4) UU LLAJ antara lain:
(1) Setiap orang;
(2) Mengemudikan kendaraan bermotor;
(3) Karena lalai; dan
(4) Mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
Atas ke-empat unsur dalam Pasal 310 UU LLAJ tersebut, umumnya unsur
ke (3) yang lebih memerlukan waktu agar dapat terbukti. Melalui penyidikan,
aparat penegak hukum, dalam hal ini pihak kepolisian hendaklah harus
membuktikan adanya unsur kelalaian itu.
Atas kedua aturan tersebut atas apabila apabila dalam kasus kecelakaan tersebut
mengakibatkan kematian bagi seseorang. Maka menurut Hukum yang harus
dikenakan bagi pengemudi kendaraan tersebut adalah jeratan pidana yang diatur
dalam UU LJAJ, dalam Hal ini sesuai dengan ketentuan yang mengacu pada Pasal
63 ayat (2) KUHP menyebutkan bahwa:
Pasal 63 ayat (2)
Jika suatu perbuatan masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur
pula dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah
yang diterapkan.
Acuan dalam Pasal 63 ayat (2) KUHP tersebut, karena kasus kecelakaan lalu
lintas yang mengakibatkan kematian telah diatur dalam UU LLAJ sebagai

27

peraturan yang bersifat khusus, maka penuntut umum dalam surat dakwaannya
dan Majelis Hakim dalam mengadili dengan menerapkan ketentuan dalam Pasal
310 ayat (4) UU LLAJ dengan ancaman pidana maksimum 6 (enam) tahun, dan
bukan Pasal 359 dalam KUHP.
Lain lagi jika dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi, pengemudi
tersebut

mengemudikan

kendaraan

dalam

kondisi

tertentu

yang

bisa

membahayakan orang lain, ancaman hukuman pidananya lebih tinggi apabila


korbannya meninggal dunia, yaitu ancaman hukumannya 12 tahun penjara.
Secara lengkap diatur ketentuan pasal 311 UU LLAJ, yang berbunyi:
Pasal 311
(1) Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor
dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00
(empat juta rupiah).
(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan
dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak
Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah).
(4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10

28

(sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta
rupiah).
(5) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan
orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama
12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat
juta rupiah).
Unsur-unsur pidana yang terkandung dan harus terpenuhi dalam aturan
Pasal 311 ayat (5) UU LLAJ antara lain:
(1) Setiap orang;
(2) Mengemudikan kendaraan bermotor;
(3)Dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau
keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang
(4) Mengakibatkan orang lain meninggal dunia.
Dalam ketentuan Pasal 311 UU LLAJ ayat (1), (2), (3), (4) dan (5)
sebenarnya serupa dengan Pasal 310 UULLAJ, akan tetapi yang membedakan
dalam pasal 311 UU LLAJ ini adalah terdapatnya unsur kesengajaan pengemudi
yang mengemudikan kendaraan dengan cara atau keadaan yang membahayakan
bagi nyawa atau barang. Hal inilah yang menyebabkan hukuman pidana dalam
pasal 311 UU LLAJ lebih berat jika dibandingkan dengan Pasal 310 UU LLAJ.
Sebagai tambahan informasi, jika dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi,
pengemudi kendaraan yang menabrak tidak mempunyai Surat Izin Mengemudi
(SIM) yang dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan, maka
kemudian dapat ditambahkan pengenaan terhadap pasal 281 UU LLAJ, yang
berbunyi:
Pasal 281
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak
memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat

29

(1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau
denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).
Untuk memperjelas pasal diatas, bunyi Pasal 77 ayat (1) UU LLAJ tersebut
adalah:
Pasal 77 ayat (1)
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib
memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor
yang dikemudikan

KONTROVERSI PENERAPAN HUKUM PIDANA DALAM KASUS


KECELAKAAN LALU LINTAS
Pasal 235 ayat (1) UU LLAJ yang berbunyi:
Pasal 235 ayat (1)
Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 229 ayat (1) huruf c, Pengemudi, pemilik, dan/atau
Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada ahli waris
korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak
menggugurkan

tuntutan

perkara

pidana

Dalam pasal tersebut diatas ditegaskkan khususnya pada perkataan tidak


menggugurkan tuntutan perkara pidana. Artinya adalah walaupun pengemudi
kendaraan sebagai pihak penabrak telah memberikan pembayaran sejumlah uang
atau santunan oleh pihak penabrak kepada korban sebagai penggantian biaya
pengobatan di rumah sakit atau memberikan biaya santunan bagi korban yang
telah meninggal dunia kepada pihak korban/keluarga korban tetapi tetaplah tidak
menggugurkan tuntutan perkara pidana tersebut, atau dengan kata lain proses
hukum harus tetap dilanjutkan. Hal inilah yang perlu disampaikan karena belum
banyak orang yang tahu atas aturan tersebut.

30

Jika dikaitkan dengan kasus kecelakaan lalu lintas sebagaimana tersebut di atas,
baik kecelakaan lalu lintas ringan, sedang maupun berat adalah termasuk tindak
pidana. Hal ini berdasarkan pada ketentuan dalam Pasal 230 UU LLAJ yang
berbunyi:
Pasal 230
Perkara Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diproses dengan acara peradilan pidana sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

kecelakaan lalu lintas tersebut mengakibatkan meninggalnya pejalan kaki.


Dengan demikian, berlakulah ketentuan Pasal 310 ayat (4) UU LLAJ;
Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
Denda yang dimaksudkan dalam pasal tersebut bukanlah jumlah ganti rugi
yang diperoleh oleh keluarga/ahli waris korban, melainkan denda sebagai
sanksi pidana yang harus dibayarkan kepada negara dalam hal ini diwakili
oleh pengadilan, sebagai hukuman atas tindak pidana tertentu.
Untuk ahli waris korban, Pasal 235 UU LLLAJ menentukan bahwa jika
korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas baik kecelakaan lalu
lintas ringan, sedang maupun berat, pihak yang menyebabkan kecelakaan
wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya
pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan
tuntutan perkara pidana.

31

Jumlah ganti kerugian yang harus dibayarkan oleh pihak yang menyebabkan
terjadinya kecelakaan ditentukan berdasarkan putusan pengadilan (lihat Pasal
236 ayat [1] UU LLAJ).

32

DAFTAR PUSTAKA

1. UU no 29 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Indonesia,


Undang Undang Republik.
2. Idries, Abdul Mun'im and Tjiptomartono, Agung Legowo. Penerapan Ilmu
Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto, 2011.
3. Saukko, Pekka and Knight, Bernard. Knight's Forensic Pathology third
edition.
4. Payne-James, Jason, et al., et al. Simpson's Forensic Medicine. UK : Hodder
& Stoughton Ltd, 2011.

33