Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

Kejang Demam Simpleks

Pembimbing: Dr. Lilis ,Sp.A


Oleh:
Yossey Pratiwi (2010730168)

KEPANITERAAN KLINIK STASE PEDIATRI RSIJ PONDOK KOPI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat yang sangat luas kepada
kita semua. Atas pertolongan dan kekuasaan-Nya yang begitu sempurna, penulis dapat
menyelesaikan tugas kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak ini. Shalawat serta salam juga
penulis haturkan ke junjungan besar Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat
manusia dari zaman Jahilliyah menuju zaman yang penuh cahaya bagi umat yang
bertaqwa kepada-Nya.
Penulis menyadari ketidaksempurnaan tugas laporan kasus ini. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan saran, kritik, dan koreksi untuk perbaikan penyajian
laporan kasus ini. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi khalayak.

Jakarta, November 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR2
DAFTAR ISI3
I. LAPORAN KASUS
II. TINJAUAN PUSTAKA13
2.1 Kejang Demam..................................................................................................................
2.1.1 Definisi
2.1.2 Klasifikasi.................................................................................................................
2.1.3. Etiologi14
2.1.4. Faktor Risiko...........................................................................................................
2.1.5. Patofisiologi15
2.1.6. Manifestasi Klinis15
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang19
2.1.8. Diagnosa Banding....................................................................................................
2.1.9. Komplikasi21
2.1.10 Penatalaksanaan1
DAFTAR PUSTAKA24

LAPORAN KASUS STATUS BANGSAL


I. IDENTITAS
Nama

: An. R.E.J

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Tempat/tanggal lahi

: Jakarta, 28 oktober 2013

Umur

: 1 tahun, 10 hari

Nama ayah

: Tn. R.A

Umur

: 35 tahun

Pekerjaan ayah

: Karyawan

Pendidikan

: SMA

Nama ibu

: Ny. E

Umur

: 37 tahun

Pekerjaan ibu

: Karyawati

Pendidikan

: D3

Alamat

: Jl. Komarudin 1, RT.19, RW. 05

Masuk RS/Pukul

: Kamis, 06 november 2014 (20.00 WIB) UGD

Diagnosa

: F.C ( Febris Convulsif)

II. ANAMNESA (Alloanamnesa dengan ibu pasien pada hari jumat, 07 November
2014- 08.00 WIB)
Keluhan Utama
Kejang 5 menit sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
Riwayat Penyakit Sekarang
14 jam SMRS OS mengalami demam tinggi (suhu 38 oC),2 jam SMRS Os sempat
dibawa ke klinik terdekat, dan diberi obat Samol untuk menurunkan panas,tetapi
panasnya tidak turun, di perjalanan pulang kerumah, Os tiba-tiba mengalami kejang,
kejang muncul tiba-tiba, awalnya kaki dan tangan kaku kemudian klojotan disertai bibir
pucat dan mata mendelik ke atas. Os langsung segera dibawa ke UGD RSIJ Pondok
kopi, dan diberi cairan saat di UGD, Kejang terjadi 5 menit kemudian berhenti
sendiri. Setelah kejang, os sadar dan menangis dan dirawat. Batuk dan pilek disangkal.
Gangguan BAK dan BAB (mencret / susah BAB) juga disangkal. Os tidak mengalami

penurunan nafsu makan, Os mengalami muntah 1 kali saat diberi obat penurun panas,
muntahnya berisi makanan dan sedikit.
Riwayat Penyakit Dahulu+ Riwayat Pengobatan dan Alergi

Riwayat kejang disangkal


Riwayat alergi disangkal

Riwayat Penyakit pada Keluarga

Kakak Os pernah mengalami kejang dikarenakan kejang demam saat usia 5 tahun.

Dan kejang tidak berulang lagi sampai sekarang. Kakak Os sekang usianya 9 tahun.
Tidak ada riwayat alergi di keluarga

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Ibu rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter (8 kali) tanpa keluhan. Persalinan
dengan cara SC ditolong dokter (karena ibu Os tidak kuat saat pembukaan ke 4). Bayi
cukup bulan, langsung menangis dan tidak terdapat cacat bawaan dengan berat lahir
3800gr, panjang badan 48 cm.
Riwayat Tumbuh Kembang

Motorik kasar: Usia 3 bulan mengangkat kepala, usia 6 bulan anak mulai
merangkak dan duduk, usia 11 bulan anak sudah mulai berjalan. Saat ini anak

sangat aktif bergerak.


Motorik halus: Usia 3 bulan sudah memegang gerincingan. Saat ini anak sudah

mampu menggenggam dengan kuat.


Bicara: Usia 3 bulan mulai mengoceh. Saat ini anak sudah dapat mengucapkan 2-3

kata seperti mama, papa, mamam, kakak, nenek,susu).


Sosial: Anak mulai mengenal wajah orangtuanya dan tersenyum usia 3 bulan. Saat
ini anak aktif bermain dengan teman sebaya dan orang di rumah.

Riwayat Makanan
5

ASI diberikan dari OS lahir hingga usia 3 bulan, dikarena ASI sedikit, dan usia 3 bulan
6 bulan di tambah susu formula 5-6 botol kecil 50 ml per hari. Usia 6 bulan keatas
anak mendapat makanan tambahan berupa 1 mangkuk kecil bubur beras merah 2 x
sehari ditambahn susu formula 2-3 botol per hari. Saat ini, anak diberi makan 1 porsi
berisi 1 centong nasi yang dilemberikin dengan lauk 1 telur goreng atau 1/2 potong
ayam goreng,kadang diberi sop ayam, dan buah- buahan, seperti pisang 3 potong kecil
sekali sehari, bauh pepaya, apel, anggur, anak makan 3 x sehari. Os agak kurang
makan tetapi kuat minum susu.
Kesan: kualitas kurang baik, kuantitas tidak seimbang.
Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi

Jumlah
BCG
1x
DPT
3x
Polio
4x
Hepatitis B
3x
Campak
1x
Kesan: Imunisasi dasar (PPI) lengkap

Usia
0 bln dengan skar 4 mm
2 bln/ 4 bln/ 6 bln
0 bln/ 2 bln/ 4 bln/ 6 bln
0 bln/ 1bln/ 6bln
9 bln

Anamnesis Sistem:
SSP

:Saat kejang kaki dan tangan kaku kemudian klojotan yang


berlangsung selama 5 menit kemudian berhenti sendiri. Setelah
kejang, os sadar dan menangis

Mata

: mata merah (-), mata berair (+), nyeri pada mata (-)

THT

: gangguan pendengaran (-), riwayat keluar cairan dari telinga (-)

Kardiovaskular

: berdebar-debar (-)

Respirasi

: batuk (-), pilek (-).

Gastrointestinal

: gangguan BAB disangkal

Urogenital

: Ganggaun BAK disangkal

Endokrin

: pembesaran kelenjar di leher (-), kelainan genital disangkal

Muskuloskeletal

:gangguan gerak (-), nyeri tekan (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK (Dilakukan pada jumat, 07 November 2014- 08.23 WIB)

Kesan Umum : nampak sakit sedang


Tanda vital
1. Suhu

: 38 0 C (aksila)

2. Nadi

: 82 kali/menit, teratur, teraba kuat, isi cukup

3. Nafas

: 42 kali/menit, teratur, abdominal

4. Tekanan darah: tidak dilakukan


Status Gizi
1. Tinggi badan : 71 cm
2. Berat badan : 10 kg
3. index Quatelet (BB/TB2) : 19,9
4. Lingkar kepala: 46 cm (Normal - Nellhaus)
5. Lingkar lengan atas: 14 cm (Normal- Frisancho)
BB/U = 10/10,5 kg x 100%
= 95 % (Normal- WHO 2006)
TB/U = 71/76 cm x 100%
= 93 % (Normal- WHO 2006)
BB/TB = 10/71 x 100%
= 140% (Normal- WHO 2006)
Kesimpulan status gizi : Gizi baik berdasarkan data antropometrik.

Pemeriksaan Khusus
Kulit

: petekie (-), purpura (-).


7

Kepala dan leher


1. Bentuk

: Normocephal

2. UUB

: sudah menutup

3. Rambut

: Hitam, tidak mudah dicabut, distribusi rata

4. Mata

: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor.

5. Hidung

: sekret -/-, epistaksis -/-.

6. Mulut

: Mukosa bibir sianosis (-), lidah kotor (-), tonsil bengkak (-)

7. Gigi

: Tidak karies gigi. Tidak ginggivitis

8. Faring

: Hiperemis (-). Tidak edema

9. Telinga

: Normotia. Tidak tampak sekret. Tidak nyeri tekan

10. Leher

: Kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid tidak membesar

Dada
1. Inspeksi

: Bentuk dada simetris, retraksi (-)

2. Palpasi

: Tidak ada fraktur costae. Tidak nyeri tekan.

3. Auskultasi : Jantung: Bising jantung 1, 2 murni. Gallop (-), Murmur (-)


Paru : vesikular di seluruh lapang paru, rongki(-), wheezing (-)
Abdomen
1. Inspeksi

: datar, tidak tampak venektasi

2. Auskultasi : Peristaltik usus baik, terdengar 10x/menit.


3. Perkusi

: Timpani seluruh lapang abdomen

4. Palpasi

: Nyeri tekan (-) seluruh lapang abdomen. Nyeri lepas (-). Hepar

dan lien tidak membesar


Ekstremitas
1. Akral

: hangat

2. Otot

: Tidak atrofi. Tidak hipertrofi

3. Tulang

: Tidak fraktur. Tidak kifosis. Tidak lordosis. Tidak skoliosis

4. Sendi

: Tidak edema, tidak ada gangguan pergerakan sendi.

Gerakan
Tonus
Trofi

Tungkai kanan
Aktif
Kuat(skor 5)
_

Tungkai kiri
Aktif
Kuat(skor 5)
_
8

Lengan kanan
Aktif
Kuat(skor 5)
_

Lengan kiri
Aktif
Kuat(skor 5)
_

Klonus
_
_
_
Refleks fisiologis
+
+
+
Refleks patologis
_
_
_
Meningeal sign
_
_
_
Sensibilitas
+
+
+
Meningeal Sign: Kaku kuduk (-), Brudzinki I (-), Brudzinki II (-), Kernig

_
+
_
_
+
Sign (-),

Lasegue sign (-)


Genitalia

: Laki-laki, kelainan genital (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG:


Tanggal 06 november 2014
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Normal

Hemaglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Pemeriksaan
Basofil
Eosinofil
Neutrofil
Lymposite
Monocyte

10.6
7.0
L 32
264
Hasil
0.3
L 0.3
62.7
22.0
H 14.7

mg/dL
10^3/uL
%
10^3/uL
Satuan
%
%
%
%
%

10.5 13.5
6.0 15.0
36 44
200 475
Normal
0.0 1.0
1.0 3.0
37.0 72.0
20.0 70.0
1.0 11.0

V. RESUME
Anak laki-laki 1 tahun 10 hari demam tinggi 14 jam SMRS, kejang 5 menit SMRS.
Kejang (+) 5 menit tonik-klonik, berhenti sendiri, setelah di tangani di UGD,
setelah kejang anak sadar (+), menagis (+). Dari pemeriksaan fisik: kesadaran
komposmentis, suhu 38,OC (aksila), HR= 82x/menit, RR= 42x/ menit, meningeal
sign (-).
Status gizi baik (menurut data antropometrik), tumbuh kembang sesuai usia
(berdasarkan Danver Development screening test), imunisasi dasar lengkap.
IV. DIAGNOSIS KERJA
9

Kejang demam simpleks


V. TERAPI
1. Paracetamol syrup 10-15 mg/kgBB/hari = 100-150 mg/hari
2. Diazepam oral 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam (3 mg) atau diazepam rectal 0.5
mg/kgBB setiap 8 jam (5 mg diberikan jika suhu >38.5C)
3. Infus KAEN-3A dimana kebutuhan cairan
Makrodrip= 1000cc x 20 tetes = 14 tetes/ menit
24x 60
4. Terapi Non-medikamentosa:
- Banyak minum air putih
- Berikan gizi seimbang (menu makan bervariasi)
5. Kebutuhan kalori usia 1 th-3th= 100 kkal, BBI= 10,2 kg
= 100x 10,2= 1020 kkal/hari makanan biasa
Karbohidrat= 60% x 1020= 612 kkal/hari
Protein = 25%x 1020= 255 kkal/hari
Lemak= 15%x 1020= 153 kkal/hari

VI. KOMUNIKASI DAN EDUKASI


-

Menjelaskan kepada orang tua bahwa kejang demam dapat terjadi berulang hingga
usia 6 tahun sehingga ibu harus sedia termometer, obat penurun panas, dan obat anti
kejang di rumah serta dibawa jika bepergian.
- Jika kejang terjadi di rumah:
Pakaian ketat dibuka
Posisi kepala dimiringkan untuk mencegah cairan masuk ke jalan napas
Menjaga jalan napas agar oksigenasi cukup
Jangan menahan kejang dengan paksaan.

VII. PROGNOSIS
Quo ad Vitam

: bonam

Quo ad Fungtionam

: bonam

Quo ad Sanactionam

: bonam

10

CATATAN PERKEMBANGAN PENYAKIT


08 november 2014 (08:30 WIB)
S : demam naik turun, Kejang (-),nafsu makan menurun. Minum susu masih mau,
makan agak kurang.
O: Kesadaran= composmentis, KU= sakit sedang, Suhu= 37,20C (aksila), RR=
26x/menit, HR= 98x/menit. auskultasi vesikular di seluruh lapang paru.
konjungtiva anemis(-), turgor kulit kembali cepat, akral hangat, RCT < 2 detik.
A: Riwayat kejang demam sederhana
P : - Paracetamol syrup 100-150 mg/hari
- Observasi tanda-tanda dehidrasi dan kejang
- Kompres hangat bila suhu naik
- banyak minum
9 november 2014 (08:00 WIB)
S : Kejang (-),demam (-), sudah mau makan,Minum susu masih mau,
O: Kesadaran= composmentis, KU= sakit sedang, Suhu= 36,60C (aksila),
RR=28x/menit, HR= 97x/menit. Auskultasi vesikular di seluruh lapang paru. Air
mata (+), mukosa mulut kering(-), konjungtiva anemis(-), turgor kulit kembali
cepat, akral hangat, RCT < 2 detik.
A: Riwayat kejang demam sederhana dan tidak ada kejang berulang
P : - Observasi tanda-tanda dehidrasi dan kejang
- banyak minum
- istirahat yang cukup
10 november 2014 (08:00 WIB)
S : Kejang (-),demam (-), sudah mau makan,Minum susu masih mau,
O: Kesadaran= composmentis, KU= sakit sedang, Suhu= 36,50C (aksila),
RR=28x/menit, HR= 100x/menit. Auskultasi vesikular di seluruh lapang paru. Air
mata (+), mukosa mulut kering(-), konjungtiva anemis(-), turgor kulit kembali
cepat, akral hangat, RCT < 2 detik.
A: Riwayat kejang demam sederhana dan tidak ada kejang berulang
11

P : - Observasi tanda-tanda dehidrasi dan kejang


- banyak minum
- istirahat yang cukup
- berikan obat persedian dirumah

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kejang Demam
2.1.1 Definisi (1)
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 38 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam
kembali tidak termasuk kejang demam.
Bila anak yang berusia kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, epilepsy yang
kebetulan terjadi bersama demam.
2.1.2 Klasifikasi (1)
1. Kejang demam sederhana ( Simple Febrile Seizure )
2. Kejang demam kompleks ( Complex Febrile Seizure )
* Kejang Demam Sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, umum tonik dan
atau klonik, umumnya akan berhenti sendiri, tanpa gerakan fokal atau berulang dalam
waktu kurang dari 24 jam.
* Kejang Demam Kompleks
Kejang demam dengan ciri ( salah satu dibawah ini ) :
1. Kejang lamanya > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial; satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
12

3. Berulang lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam


Insiden
Kejang demam terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Usia puncak
terjadinya kejang demam adalah antara 14 sampai 18 bulan. Dapat terjadi pada semua
ras, anak laki laki insiden terjadinya kejang demam lebih tinggi dari anak perempuan.
Dan insiden terjadinya kejang demam adalah 2 %. (2)
Etiologi dan pathogenesis tidak diketahui dengan pasti tetapi faktor genetik
berpengaruh dalam meningkatkan terjadinya kejang demam. Insiden terjadinya kejang
demam pada anak yang orang tuanya pernah mengalami kejang demam adalah 8 22 %
dan jika saudaranya mengalami kejang demam insidennya adalah 9 17 %.

(2)

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kromosom 19p dan 8q13 21 telah
dipetakan sebagai kromosom yang berhubungan dengan terjadinya kejang demam. Di
negara Amerika, antara 2 % - 5 % anak anak menderita kejang demam pada usia 5
tahun. Satu pertiga dari pasien ini akan mengalami rekurensi. Di Eropa barat diperoleh
data statistik yang serupa dengan di Amerika, sedangkan insiden di negara lain cukup
bervariasi, yaitu India 5 10 %, Jepang 8,8 %, Guam 14 %, Hong Kong 0,35 %, dan
Cina 0,5 1,5 %. (3)
2.1.3 Etiologi
Hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti penyebab terjadinya kejang
demam. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernapasan atas, radang telinga
tengah, infeksi saluran cerna dan saluran kemih. (3)
2.1.4. Faktor Resiko
Faktor resiko yang dapat menyebabkan kejang demam adalah (3)
1. Riwayat keluarga, dalam keluarga ada yang menderita kejang demam
2. Suhu tubuh yang tinggi
3. Terjadi hambatan dalam perkembangan anak
4. Anak pernah mengalami kejang demam pada usia > 28 hari ( kejang yang
membutuhkan perawatan perinatal )

13

5. Dengan adanya minimal 2 faktor resiko diatas dapat meningkatkan probabilitas


terjadinya kejang demam. Probabilitas kejang demam yang akan terjadi pertama
kali adalah 30 %
6. Ibu yang mengkonsumsi alkohol dan merokok saat masa kehamilan akan
memiliki resiko 2 kali lebih tinggi dari yang tidak
Satu pertiga dari jumlah anak anak yang pernah memiilki riwayat kejang demam
akan dapat menderita kejang demam berulang. Yang masih menjadi dilema adalah karena
tidak ada data yang mendukung teori bahwa peningkatan suhu dapat menyebabkan
kejang demam. (3)
Kejang demam akan terjadi kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko yang
dapat menyebabkan kejang demam berulang adalah (1)
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Usia kurang dari 15 bulan
3. Temperatur yang rendah saat kejang
4. Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulang 80%, sedangkan bila tidak
terdapat faktor tersebut hanya 10 - 15 % kemungkinan berulang. Kemungkinan berulang
paling besar adalah tahun pertama. (1)
Berdasarkan penelitian terhadap 55 pasien, 29 pasien anak laki laki (53 %) dan
26 pasien anak perempuan (47 %), diperoleh bahwa 8 pasien mengalami kejang berulang
kembali sebanyak satu kali. Suhu yang terukur antara 38 38,5 C (7 dari 25 pasien,
28%), riwayat epilepsi dalam keluarga (2 dari 2 pasien, 100%) berhubungan dengan
rekurensi terjadinya kejang demam kompleks. (3)
2.1.5 Patofisiologi (3)
Sel dikelilingi oleh suatu membran sel yang terdiri dari permukaan dalam adalah
lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron
dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui ion Natrium
(Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel
neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka
terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk
14

menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NaK-ATPase yang terdapat pada permukaan sel.

Gambar 1. (1). Pada fase istirahat, Ion Na+ ada di ekstra sel dan Ion K+ ada di intra sel.
Membran sel bagian dalam bersifat lebih negatif daripada ekstra sel, (2). Pada fase
depolarisasi, pintu ion chanel jadi terbuka, Ion Na+ masuk ke intra sel, tapi membran sel
bagian dalam masih tetap negatif. (3). Karena Ion Na+ masuk

terus menerus

membran sel bagian dalam menjadi lebih positif, dan potensial membran sudah melewati
ambang maka terjadilah potensial aksi. (4). Setelah potensial aksi mencapai ambang
batas, maka Ion Na+ keluar ke ekstra sel potensial membran kembali ke posisi semula.

15

(5). Setelah itu terjadilah hiperpolarisasi, dimana Ion K+ ikut keluar ke ekstra sel, setelah
itu kemnbali ke posisi istirahat.
Melalui gambar 1, dapat dijelaskan bahwa kejang dapat terjadi jika pompa
Ion Natrium Kalium terus terjadi dan melampaui ambang batas atas potensial aksi.

Gambar 2. Neurotransmitter. Neurotransmitter neurotransmitter yang dilepaskan ini


dapat merubah polarisasi membran sel postsinaptik. Diantara neurotransmitter
neurotransmitter tersebut ada yang mempermudah pelepasan muatan listrik dengan
menurunkan potensial aksi.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Jadi pada kenaikan suhu
dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran sel tadi,
dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik demikian besarnya
sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan
bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai
ambang kejang yang berbeda.

16

Neurotransmitter dalam jumlah besar

KEJANG
Sel tetangga

K+

Na+

Postsinaps
Gambar 3. Post sinaps : terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan
dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui
membran sel tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik
demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang.

17

Gambar 4. Mekanisme terjadinya kejang demam


Kejang demam terjadi pada anak berusia muda, saat ambang batas terjadinya
kejang masih rendah. Saat ini pula anak anak mudah sekali mengalami infeksi seperti
infeksi saluran pernapasan atas, otitis media, sindroma virus, dan menyebabkan respon
berupa peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Pada penelitian dengan menggunakan
binatang percobaan ditemukan bahwa pirogen endogen, salah satunya yaitu interleukin 1
dapat meningkatkan aktivitas neuron, dan dapat menghubungkan antara demam dengan
terjadinya kejang. Penelitian sebelumnya yang juga mendukung adalah bahwa cytokin
yang teraktivasi dapat menyebabkan terjadinya kejang demam.
2.1.6 Manifestasi Klinik (4)
Kejang demam sederhana berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara
cepat mencapai 39 C. Kejangnya bersifat umum, tonik klonik dan berlangsung sekitar 10
menit, kemudian diikuti periode postictal berupa perubahan kesadaran.
Didiagnosa sebagai kejang demam kompleks jika lamanya kejang lebih dari 15
menit, kejangnya berulang di hari yang sama, atau timbulnya aktivitas kejang fokal.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
18

Anak yang menderita kejang demam sebaiknya dilakukan pemeriksaan


penunjang. Pemeriksaan rutin berupa elektrolit serum, glucosa darah, calsium, foto
retgen tulang, dan pencitraan otak dapat membantu menegakkan diagnosis. Peningkatan
leukosit sampai diatas 20.000/L dapat berhubungan dengan terjadinya bacteriemia.
Pemeriksaan darah lengkap dan kultur darah adalah pemeriksaan yang tepat untuk
membantu diagnosa. Diagnosis meningitis harus disingkirkan, karena pasien dengan
meningitis purulenta (meningitis bacterial) juga dapat ditemukan demam dan kejang.
Tanda dari meningitis adalah fontanel yang menonjol, kaku kuduk, stupor, dan iritabilitas.
Tanda dari meningitis ini selalu dapat tidak ditemukan, terutama pada anak yang berusia
kurang dari 18 bulan. (1)
Pemeriksaan EEG (Elektroencephalografy) yang dilakukan diantara dua serangan
kejang tidak ditemukan kelainan, terutama jika diperiksa pada hari ke 8 ke 10 setelah
kejang. (1)
Setelah demam reda dan kejangnya teratasi, perlu dipertimbangkan apakah
dilakukan lumbal pungsi atau tidak untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
meningitis purulenta. Semakin muda usia pasien semakin penting lumbal pungsi, karena
tidak banyak yang dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik untuk mendiagnosa
meningitis. Lumbal pungsi sebaiknya dilakukan pada anak yang berusia lebih muda dari
2 tahun, masa penyembuhannya lama, dan tidak ditemukannya penyebab kejang
demamnya. (1) Resiko terjadinya meningitis purulenta adalah 0.6 6,7%. (2)
Lumbal pungsi sangat dianjurkan untuk dilakukan pada pasien yang berusia
kurang dari 12 bulan, karena gejala meningitis purulenta minimal atau sama sekali tidak
ada pada usia ini. Lumbal pungsi dapat dipetimbangkan untuk dilakukan pada pasien
yang berusia 12 18 bulan. Dan lumbal pungsi tidak rutin dilakukan pada pasien berusia
diatas 18 bulan, pada usia ini tergantung penemuan klinis meningitis purulenta. (2)
2.1.8 Diagnosis Banding (2)
Diagnosis banding kejang demam adalah
* Epilepsi
Kejang terjadi karena lepas muatan listrik yang berlebihan di sel
neuron syaraf pusat.
19

Manifestasi klinik :
Tidak

ada

maupun

tidak

diawali

dengan

demam,

kejang

dapat

tonik/klonik/absensce, setelah kejang terjadi penurunan kesadaran, tidak disertai


dengan infeksi lain.
Pemeriksaan penunjang :
Dengan EEG ditemukan abnormalitas gelombang otak
* Meningitis/Ensepalitis
Manifestasi klinis yang ditemukan :
Panas, gangguan kesadaran, kejang, muntah-muntah, kaku kuduk (+)
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan LCS ditemukan warnanya keruh, tekanannya meningkat, bakteri
yang meningkat, protein meningkat, glukosa menurun, sel limfosit meningkat.

2.1.9 Komplikasi
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam dan kematian sampai saat
ini belum pernah dilaporkan. (1)
Tiga sampai enam persen anak anak yang mengalami kejang demam akan
mengalami epilepsi. Kejang demam kompleks dan kelainan struktural otak berkaitan
dengan peningkatan resiko terjadinya epilepsi. (5)
2.1.10 Penatalaksanaan Kejang (1)
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan bila datang berobat kejangnya
sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang, obat yang paling cepat
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3 0,5 mg/kg perlahan lahan dengan kecepatan 1 2 mg/menit atau
dalam waktu lebih dari 2 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah
diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5 0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5
mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat

20

badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia
3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun.
Kejang yang belum berhenti dengan diazepam rektal masih dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.
Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dan
disini dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3 0,5 mg/kg.
Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis
awal 10 20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit.
Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4 8 mg/kg/hari, yaitu 12 jam setelah dosis
awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang
intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis
kejang demamnya dan faktor resikonya, apakah kejang demam sederhana atau kompleks.

Pemberian obat saat demam (1)


*Antipiretik
Antipiretik dianjurkan diberi pada saat demam, walaupun tidak ditemukan bukti
bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam. Dosis
asetaminofen yang digunakan berkisar 10 15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan
tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5 10 mg/kg/kali, 3 4 kali sehari
Acetaminofen dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari
18 bulan, meskipun jarang. Paracetamol 10 mg/kg sama efektifnya dengan ibuprofen 5
mg/kg dalam menurunkan suhu tubuh.
*Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan resiko berulangnya kejang, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5
mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38,5 C.
Dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabakan ataksia, iritabel dan sedasi
yang cukup berat pada 25 39 % kasus.
21

Fenobarbital, karbamazepin, fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk


mencegah kejang demam.
Pemberian obat rumatan (1)
Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam
menurunkan resiko berulang kejang.
Dengan meningkatnya pengetahuan tentang kejang demam `benign` dan efek
samping penggunaan obat terhadap kognitif dan perilaku, profilaksis terus menerus
diberikan dalam jangka pendek, kecuali pada kasus yang sangat selektif. Pemakaian
fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar (40
50 %). Obat pilihan saat ini adalah asam valproat meskipun dapat menyebabkan hepatitis
namun insidennya kecil.
Dosis asam valproat 15 40 mg/kg/hari dalam 2 3 dosis, fenobarbital 3 4
mg/kg/hari dalam 1 2 dosis.

Algoritma pengobatan medikamentosa saat terjadi kejang demam. (1)


1. 5-15 menit

Kejang
perhatikan jalan
pernapasan

nafas,

kebutuhan

O 2 bantuan

Bila kejang menetap dalam 3-5 menit :


Diazepam rektal
< 10 kg : 5 mg
> 10 kg : 10 mg
atau
Diazepam IV (0,2-0,5 mg/kg/dosis.
Dapat diberikan 2 kali dosis dengan interval
5-10 menit
2. 15-20 menit
(pencarian akses vena dan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi )

Kejang (-)

Kejang (+)

Fenitoin IV (15-20mg/kg) diencerkan


22
dengan NaC1 0,9% diberikan selama 20
menitatau

dengan

kecepatan

50

3. > 30 menit : status konvulsivus

Kejang (-)

Kejang (+)

Dosis pemeliharaan fenitoin IV5-7 mg/kg

Fenobarbital IM
10-20 mg/kg

diberikan 12 jam kemudian

Kejang (+)

Kejang (-)

Dosis pemeliharaan fenobarbital IM


5-7

mg/kg

diberikan

12

Perawatan Ruang Intensif

jam

kemudian

DAFTAR PUSTAKA
1. Ismail Sofyan, Taslim S Soetomenggolo, Bistok Saing, dkk. Konsensus
Penanganan Kejang Demam. Indonesia: Badan Penerbit IDAI; 2005. P. 1-23
2. Baumann

Robert.

Febrile

Seizures.

Diakses

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1176205-overview pada tanggal Juli 20,


2014.
3. Tenjani

Noorudin

R.

Pediatrics,

Febrile

Seizures.

Diakses

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/801500-overview pada tanggal November


1, 2006.
4. Johnston Michael V. Nelson Textbook of Pediatrics 17th ed. United States:
Saunders; 2004. P. 1283-7
5. Schwartz M. William. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG; 2005. P. 101-9
23

24