Anda di halaman 1dari 4

DINKES

KAB.KLUNGKUNG

OTITIS MEDIA KRONIK DAN MASTOIDITIS KRONIK


NO. DOKUMEN:
REVISI:
HALAMAN:
71/SPO/PUSK.BAII/V/2012 00
1/3
TANGGAL TERBIT:
DITETAPKAN OLEH
PLT.KEPALA UPT PUSKESMAS BA.II
1 MEI 2012

SPO
UPT.PUSKESMAS
BANJARANGKAN II

PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

dr.Ida Ayu Ketut Sri Handayani


NIP.19790810 2006 04 2 017
Otitis media kronik adalah keradangan kronik yang mengenai mukosa
dan struktur tulang dalam kavum timpani dan tulang mastoid.
Etiologi
Kuman aerob:
Positif Gram: S.Pyogenes, S.Albus.
Negatif Gram: Proteus spp, Psudomonas spp, E.coli.
Kuman anaerob : Bakteorides spp.
Patofisiologis
Otitis media kronik dan mastoiditis kronik timbul dari infeksi yang
berulang dari otitis media akut.
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang:
Eksogen: infeksi dari luar melalui perforasi m.timpani;
Rinogen: dari penyakit di rongga hidung dan sekitarnya;
Endogen : alergi, Diabetes melitus, TBC paru
Penyulit
Abses retro aurikula;
Paresis / paralisis syaraf fasialis;
Labirintis;
Komplikasi intrakranial:
- Meningitis;
- Abses ekstradural;
- Abses otak
Sebagai acuan / pedoman penanganan otitis media kronik di UPT
Puskesmas Banjarangkan II
Pelayanan medis kasus otitis media kronik dan mastoiditis dilaksanakan
oleh Dokter umum

PROSEDUR

Diagnosis
1. Anamnesis:
- Otorea terus-menerus/kumat-kumatan lebih dari 6-8 minggu;
- Pendengaran menurun.
2. Pemeriksaan
a. Tipe tubotimpanal (hipertrofi, benigna);
- Perforasi sentral;
- Mukosa menebal;
- Audiogram: tuli konduktif dengan air-bone gap sebesar kl
30 DB
- X-foto mastoid: sklerotik
b. Tipe degeneratif
- Perforasi sentral besar;
- Granulasi / polip pada mukosa kavum timpani;
- Audiogram: tuli konduktif/campuran dengan penurunan 5060 Db
- X-foto: sklerotik
OTITIS MEDIA KRONIK DAN MASTOIDITIS KRONIK

UPT PUSKESMAS
NO DOKUMEN:
REVISI
BANJARANGKAN II 71/SPO/PUSK.BAII/V/2012 00
Tanggal Terbit :
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR

1 MEI 2012

HAL:
2/3

PROSEDUR

c. Tipe metaplastik (antikoantral, maligna)


- Perforasi atik/marginal;
- Terdapat kolesteatom;
- Destruksi tulang pada margotimpani;
- Audiogram : tuli konduktif/campuran dengan penurunan 30
dB atau Lebih;
- X-foto mastoid : sklerotik/rongga
Pemeriksaan tambahan: Pembuatan audiogram dan X-foto mastoid
(seperti di atas)
Terapi
1. Tipe tubotimpanal stadium aktif:
Antibiotik : ampisillin /Amoksilin, (3-4 x 500 mg oral), atau
Klindamisin (3 x 150-300 mg oral) per hari selama 5 7 hari;
Pengobatan sumber infeksi di rongga hidung dan sekitarnya;
Perawatan local dengan Perhidrol 3% dan tetes telinga 9
(Kloramfenikol 1 2 %)
Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi.
Pada stadium tenang (kering) dilakukan Miringoplastik.
2. Tipe degeneratif
Atikoantrotomi;
Timpanoplastik
3. Tipe metaplastik/campuran
Mastoidektomi radikal;
Mastoidektomi radikal dan rekonstruksi
Untuk OMK dengan penyulit
Abses retroaurikuler
1. Insisi abses
2. Antibiotik: Penisilin Prokain 2 x 300-600 mg i.v/hari, atau 3 x 150
300 mg oral, selama 10 hari
3. Mastoidektomi radikal urgen
Paresis/Paralysis syaraf fasialis
1. Menentukan lokasi lesi:
- Dengan tes Schirmer supra/infra ganglion
- Refleks stapedeus: Positif lesi dibawah N.Stapedeus
Negatif lesi diatasnya
- Tes pengecapan pada lidah:
Positif Lesi dibawah korda timpani
Negatif Lesi diatasnya
2. Mastoidektomi urgen dan dekompresi syaraf fasialis Rehabilitasi
OTITIS MEDIA KRONIK DAN MASTOIDITIS KRONIK

UPT PUSKESMAS
NO DOKUMEN:
REVISI
BANJARANGKAN II 71/SPO/PUSK.BAII/V/2012 00
Tanggal Terbit :
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR

1 MEI 2012

HAL:
3/3

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Labirintitis
1. Tes fistel
2. Mastoidektomi urgen
Meningitis
1. Perawatan bersama dengan bagian saraf
2. Antibiotik:
- Ampisilin 6 x 2-3 G/hari i.v ditambah
- Kloramfenikol 4 x 1 G atau setriakson 1-2 G/hari i.v
3. Bila meningitis sudah tenang segera dilakukan Mastoidektomi
Radikal.
Abses ektradural/Abses otak
1. Antibiotik: Ampisilin 4-6 x 2-3 G/hari i.v ditambah
Metronidazol 3 x 500 mg Sup/hari
2. Perawatan bersama dengan bagian bedah syaraf
3. Drainase abses oleh bagian bedah syaraf.
4. Bila sudah tenang dilakukan mastoidektomi radikal
Dokter dan perawat di unit pengobatan