Anda di halaman 1dari 6

A.

ORDE LAMA (1950 1965 )


1. Demokrasi Liberal (1950 1959)
Dalam sistem demokrasi ini presiden hanya bertindak sebagai kepala negara.
Presiden hanya berhak mengatur formatur pembentukan kabinet. Oleh karena
itu, tanggung jawab pemerintah ada pada kabinet. Presiden tidak boleh
bertindak sewenang-wenang. Adapun kepala pemerintahan dipegang oleh
perdana menteri.Dalam sistem demokrasi ini, partai-partai besar seperti
Masyumi,Pni,dan PKI mempunyai partisipasi yang besar dalam pemerintahan.
Dibentuklah kabinet-kabinet yang bertanggung jawab kepada parlemen (DPR )
yang merupakan kekuatan-kekuatan partai besar berdasarkan UUDS 1950.
Kabinet yang pertama kali terbentuk pada tanggal 6 september 1950 adalah
kabinet Natsir. Sebagai formatur ditunjuk Mohammad Natsir sebagai ketua
Masyumi yang menjadi partai politik terbesar saat itu. Program kerja Kabinet
Natsir pada masa pemerintahannya secara garis besar sebagai berikut ;
a. Menyelenggarakan pemilu untuk konstituante dalam waktu singkat.
b. Memajukan perekonomian, keeshatan dan kecerdasan rakyat.
c.
Menyempurnakan organisasi pemerintahan dan militer.
d. Memperjuangkan soal Irian Barat tahun 1950.
e.
Memulihkan keamanan dan ketertiban.
Hal itu menentang sistem politik yang telah berlaku sebelumnya, bahwa
presiden seharusnya memiliki sikap politik yang sealiran dengan parlemen.
Secara berturut-turut setelah kejatuhan kabinet Natsir, selama berlakunya
sistem Demokrasi Liberal, presiden membentuk kabinet-kabinet baru hingga
tahun 1959.
Pada masa Demokrasi Liberal ini juga berhasil menyelenggarakan pemilu I yang
dilakukan pada 29 september 1955 dengan agenda pemilihan 272 anggota DPR
yang di lantik pada 20 Maret 1956. Pemilu pertama tersebut juga telah berhasil
badan konstituante. Selanjutnya badan konstituante memiliki tugas untuk
merumuskan UUD baru. Dalam badan konstituante sendiri, terdiri berbagai
macam partai, dengan dominasi partai-partai besar seperti NU,PKI,Masyumi dan
PNI. Dari nama lembaga tersebut dapatlah diketahui bahwa lembaga tersebut
bertugas untuk menyusun konstitusi. Konstituante melaksanakan tugasnya
ditengah konflik berkepanjangan yang muncul diantara pejabat militer,
pergolakan daerah melawan pusat dan kondisi ekonomi tak menentu.
2. Demokrasi Terpimpin (1959 1965)
a.
Sistem politik Demokrasi Terpimpin
Pergantian dan berbagai respon dari dari daerah dalam kurun waktu tersebut
memaksa untuk dilakukannya revisi terhadap sistem pemerintahan. Ir.Soekarno
selaku presiden memperkenalkan konsep kepemimpinan baru yang dinamakan
demokrasi terpimpin. Tonggak bersejarah di berlakukannya sistem demokrasi
terpimpin adalah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Dalam Demokrasi Liberal, parlemen memiliki kewenangan yang terbesar
terhadap pemerintahan dan pengambilan keputusan negara.
Dengan diberlakukannya Dekrit Presiden 1959 terjadi pergantian kabinet dari
Kabinet Karya (pimpinan Ir.Djuanda) yang dibubarkan pada 10 juli 1959 dan
digantikan dengan pembentukan Kabinet Kerja yang dipimpin oleh Ir.Soekarno
sebagai perdana menteri dan Ir.Djuanda sebagai menteri pertama.
Perkembangan dalam sistem pemerintahan selanjutnya adalah pernetapan
GBHN pertama. Institusi negara selanjutnya adalah mengitegrasikan sejumlah
badan eksekutif seperti MPRS, DPRS, DPA, Depernas, dan Front Nasional dengan
tugas sebgai menteri dan ikut serta dalam sidang-sidang kabinet tertentu yang
selanjutnya ikut merumuskan kebijaksanaan pemerintahan dalam lembaga
masing-masing.

Dalam Demokrasi Terpimpin presiden mendapat dukungan dari tiga kekuatan


besar yaitu Nasionalis, Agama dan Komunis. Ketiganya menjadi kekuatan
presiden dalam mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan mutlak presiden
pada masa itu telah menjadikan jabatan tersebut sebagai pusat legitimasi yang
penting bagi lainnya. Presiden sebagai penentu kebijakan utama terhadap
masalah-masalah dalam negeri maupun luar negeri .
b. Gerakan 30 September 1965
Salah satu momen sejarah yang mungkin paling membekas dalam perjalanan
sejarah Indonesia adalah Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa
tersebut sampai saat ini masih menimbulkan kontrofersi dalam pengungkapan
fakta yang sebenarnya. Berbagai versi tentang gerakan 30 S tersebut telah
dikemukakan diantaranya;
Angkatan Bersenjata dan Presiden seumur hidupberdasarkan konsep Demokrasi
Terpimpin. Cara penggulingan tahun 1965 tersebut adalah dengan menyatukan
sejumlah organisasi onderbouw yang masih tersisa pascaperistiwa 1948.
Dampak G 30 S dan Proses Peralihan Kekuasaan Politik. Adapun dampak dari
peristiwa G 30 S adalah :
1. Demostrasi menentang PKI
Penyelesaian aspek politik terhadap para pelaku G 30 S 1965/PKI akan di
putuskan dalam sidang Kabinet Dwikora tanggal 6 Oktober 1965 dan belum
terlihat adanyaa tanda-tanda akan dilaksanakan. Berbagai aksi digelar untuk
menuntut pemeritah agar segera menyelesaikan masalah tersebut dengan
seadil-adilnya. Aksi dipelopori oleh kesatuan aksi pemuda-pemuda dan pelajarpelajar Indonesia seperti KAPPI,KAMI dan KAPI. Mucul pula kasi yang dilakukan
oleh KABI,KAWI yang membulatkan tekad dalam Front Pancasila.
2. Mayjen Soeharto menjadi Pangad
Sementara itu untuk mengisi kekosongan pimpinan AD, pada tanggal 14 oktober
1965 Panglima Kostrad/Pangkopkamtib Mayjen Soeharto diangkat menjadi
Menteri/Panglima AD. Bersamakan itu diadakan tindakan-tindakan pembersihan
terhadap unsur-unsur PKI dan ormasnya.
3. Kedaan ekonomi yang buruk
Sementara itu kedaan ekonomi semakin memburuk. Pada saat itu politik sebagai
panglima, akibatnya masalah lain terabaikan. Akibatnya di daerah muncul
berbagai gejolak sosial yang pada puncaknya menimbulakan pemberontakan.
4. Tri Tuntutan Rakyat
Pada tanggal 12 januari 1966 berbagai kesatuan aksi yang tergabung dalam
Front Pancasila tersebut berkumpul di halaman gedung DPR-GR untuk
mengajukan Tritura yang isinya :
a. Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.
b. Pembersihan kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI.
c. Penurunan harga barang-barang.
Aksi Tritura berlangsung selama 60 hari sampai dikeluarkannya surat perintah 11
Maret 1966.
5. Kabinet seratus menteri
Pada tanggal 21 februari 1966 presiden Soekarno mengumumkan perubahan
kabinet
9 (reshuffle). Kabinet baru ini diberi nama kabinet Dwikora yang disempurnakan.
Adapun proses peraliahan kekuasaan politik dari orde lama ke orde baru adalah
sebagai berikut ;
a)
Tanggal 16 Oktober 1966 Mayjen Soeharto telah dilantik menjadi Menteri
Panglima Angkatan Darat dan dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal.
b)
Keberanian KAMI dan KAPPI terutam karena merasa mendapat
perlindungan dari AD. Kesempatan ini digunakan oleh Mayjen Soeharto uintuk

menawarkan jasa baik demi pulihnya kemacetan roda pemerintahan dapat


diakhiri.
c)
Pada tanggal 7 februari 1967, jenderal Soeharto menerima surat rahasia
dari Presiden melalui perantara Hardi S.H. Pada surat tersebut di lampiri sebuah
konsep surat penugasan mengenai pimpinan pemerintahan sehari-hari kepada
pemegang Supersemar.
d)
Pada 8 Februari 1967 oleh Jenderal Soeharto konsep tersebut dibicarakan
bersama empat panglima angkatan bersenjata.
B. ORDE BARU
1. Lahirnya Orde Baru
Akibat adanya pemberontakan Gerakan 30 September timbullah reaksi dari
berbagai Parpol,Ormas,Mahasiswa dan kalangan pelajar. Pada tanggal 8 Oktober
1965 partai politik seperti IPTKI, NU, Partai Kristen Indonesia, dan organisasi
massa lainnya melakukan apel kebulatan tekad untuk mengamankan Pancasila
dan menuntut pembubaran PKI serta ormas-ormasnya. Pada tanggal 23 Oktober
1965 parpol yang anti komunis membentuk Front Pancasila dan diikuti oleh
pembentukan KAMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ), KAPI ( Ksatuan Aksi
Pelajar Indonesia ), dan lain-lain
2. Kebijakan Politik Orde Baru
Rezim Orde Baru memiliki kekuasaan penuh mengendalikan kehidupan politik
masa itu. Kebijakan politik yang diterapkan dalam masa Orde Baru dapat dilihat
dari awal lahirnya Orde Baru. Pemberangusan hak-hak berpolitik bagi eks
anggota PKI dan keluarganya, merupakan salah satu kebijakan yang
mengundang kontroversi dari masyarakat. Menjelang dilaksanakannya pemilu
pada tahun 197, jumlah partai yang menjadi peserta, tidak sebanyak partai
politik di tahun 1955. Dari hasil pemilu tersebut para wakil-wakil partai
menduduki 360 kursi ditambah 100 kursi lagi yang anggota-anggotanya diangkat
oleh Presiden sehingga anggota DPR berjumlah 460 orang. Dari susunan kursi
DPR yang semacam ini maka DPR selalu mendukung kebijakan yang diambil oleh
pemerintah. Untuk pemiliu-pemilu selanjutnyatahun 1977,1982,1987,1992,
hingga 1997 pemerintah menyederhanakan jumlah partai politik yang ada. Hal
ini dilakukan sesuai dengan Undang-Undang nomor 3 tahun 1975 . Partai
Persatuan Pembangunan merupakan fusi dari partai-partai islam seperti NU,
Parmusi, PSSI, dan PERTI. Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia adalah fusi dari
PNI, Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo, hanya Golkar yang tidak
mempunyai fusi partai manapun.
3. Menguatnya Peran Negara dan Dampaknya
Pemegang pemerintahan di Orde Baru adalah kalangan militer. Kekuasaan
sentralistik yang digunakan oleh pemerintah Orde Baru menunjukkan berbagai
akibatnya di akhir pemerintahan Orde Baru. Kekuasaan militer hampir di seluruh
bidang pembangunan. Presiden Soeharto dan rezimnya menyadari bahwa,
kemenangan mereka dapat tercapai antara lain berkat dukungan tokoh-tokoh
islam termasuk ormas-ormasnya simpatisan masyumi. Tetapi ketika muncul
tuntutan dari tokoh-tokoh masyumi yang baru bebas dari tahanan rezim Orde
Lama, untuk merehabilitasi partainya, Soeharto tegas menolak dengan alasan
yuridis, ketatanegaraan, dan psikologi . Bahkan Soeharto dengan nada yang
agak marah, mengaskan, Ia menolak setiap keagamaan dan akan menindak
setiap usaha eksploitasi masalah agama untuk maksud-maksud kegiatan politik
yang tidak pada tempatnya. Dalam kata lain, pemerintahan Orde Baru yang
didominasi militer tidak menyukai kebangkitan politik islam.
4. Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru.
Pemerintah Orde Baru selama 32 tahun, ternyata tidak konsisten dan konsekuen
terhadap tekad awalnyamuncul Orde Baru. Pada awalnya Orde Baru bertekad
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam

tatanan bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air. Latar belakang munculnya


tuntutan Soeharto agar mundur dari jabatannya atau yang menjadi titik awal
berakhirnya Orde Baru.
Adanya krisis politik di mana setahun sebelum pemilu 1997, kehidupan
politik Indonesia mulai memanas.
Adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan Juli 1997.
Sebenarnya krisis ini juga terjadi dibeberapa negara di Asia namun Indonesialah
yang merasakan dampak yang paling buruk.
Adanya krisis Sosial, bersamaan dengan krisis ekonomi kekerasan di
masyarakat semakin meningkat.
Pelaksanaan hukum di masa Orde Baru terdapat banyak ketidakadilan
Kronologi jatuhnya pemerintahan Orde Baru berawal dari terpilihnya kembali
Soeharto sebagai presiden melalui sidang umum MPR yang berlangsung tanggal
1 11 Maret 1998, ternyata tidak menimbulkan dampak positif yang berarti bagi
upaya pemulihan kondisi ekonomi bangsa justeru memperparah gejolak krisis.
Keberhasilan Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan
ekonomi, harus diakui sebagai suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Di
tambah dengan meningkatnya sarana dan prasarana fisik infrastruktur yang
dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Namun, keberhasilan ekonomi maupun infrastruktur Orde Baru kurang diimbangi
dengan pembangunan mental ( character building ) para pelaksana
pemerintahan (birokrat), aparat keamanan maupun pelaku ekonomi
(pengusaha / konglomerat). Kalimaksnya, pada pertengahan tahun 1997,
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya (bagi penguasa,
aparat dan penguasa)
Faktor Penyebab Munculnya Reformasi
Banyak hal yang mendorong timbulnya reformasi pada masa pemerintahan Orde
Baru, terutama terletak pada ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan
hukum. Tekad Orde Baru pada awal kemunculannya pada tahun 1966 adalah
akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam
tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1. Krisis Politik
Demokrasi yang tidak dilaksanakan dengan semestinya akan menimbulkan
permasalahan
politik. Dalam UUD 1945 Pasal 2 telah disebutkan bahwa Kedaulatan adalah
ditangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR. Pada dasarnya secara
de jore (secara hukum) kedaulatan rakyat tersebut dilakukan oleh MPR sebagai
wakil-wakil dari rakyat, tetapi secara de facto (dalam kenyataannya) anggota
MPR sudah diatur dan direkayasa, sehingga sebagian besar anggota MPR itu
diangkat berdasarkan ikatan kekeluargaan (nepotisme). Keadaan seperti ini
mengakibatkan munculnya rasa tidak percaya kepada institusi pemerintah, DPR,
dan MPR. Ketidak percayaan itulah yang menimbulkan munculnya gerakan
reformasi. Gerakan reformasi menuntut untuk dilakukan reformasi total di segala
bidang, termasuk keanggotaan DPR dam MPR yang dipandang sarat dengan
nuansa KKN.Gerakan reformasi juga menuntut agar dilakukan pembaharuan
terhadap lima paket undang-undang politik yang dianggap menjadi sumber
ketidakadilan, di antaranya :

UU No. 1 Tahun 1985 tentang Pemilihan Umum

UU No. 2 Tahun 1985 tentang Susunan, Kedudukan, Tugas dan


Wewenang DPR / MPR

UU No. 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya.

UU No. 5 Tahun 1985 tentang Referendum

UU No. 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa.

Krisis politik sebagai faktor penyebab terjadinya gerakan reformasi itu, bukan
hanya menyangkut masalah sekitar konflik PDI saja, tetapi masyarakat menuntut
adanya reformasi baik didalam kehidupan masyarakat, maupun pemerintahan
Indonesia. Di dalam kehidupan politik, masyarakat beranggapan bahwa tekanan
pemerintah pada pihak oposisi sangat besar, terutama terlihat pada perlakuan
keras terhadap setiap orang atau kelompok yang menentang atau memberikan
kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil atau dilakukan oleh pemerintah.
Selain itu, masyarakat juga menuntut agar di tetapkan tentang pembatasan
masa jabatan Presiden.
Pemilihan umum tahun 1997 ditandai dengan kemenangan Golkar secara
mutlak. Golkar yang meraih kemenangan mutlak memberi dukungan terhadap
pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden dalam Sidang Umum MPR tahun
1998 2003. Sedangkan di kalangan masyarakat yang dimotori oleh para
mahasiswa berkembang arus yang sangat kuat untuk menolak kembali
pencalonan Soeharto sebagai Presiden.
2. Krisis Hukum
Pelaksanaan hukum pada masa pemerintahan Orde Baru terdapat banyak
ketidakadilan. Sejak munculnya gerakan reformasi yang dimotori oleh kalangan
mahasiswa, masalah hukum juga menjadi salah satu tuntutannya. Masyarakat
menghendaki adanya reformasi di bidang hukum agar dapat mendudukkan
masalah-masalah hukum pada kedudukan atau posisi yang sebenarnya.
3. Krisis Ekonomi
Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945 Pemerintah Orde Baru mempunyai tujuan
menjadikan Negara Republik Indonesia sebagai Negara industri, namun tidak
mempertimbangkan kondisi riil di masyarakat. Masyarakat Indonesia merupakan
sebuah masyarakat agrasis dan tingkat pendidikan yang masih rendah.
Sementara itu, pengaturan perekonomian pada masa pemerintahan Orde Baru
sudah jauh menyimpang dari sistem perekonomian Pancasila. Dalam Pasal 33
UUD 1945 tercantum bahwa dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh
semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota
masyarakat. Sebaliknya, sistem ekonomi yang berkembang pada masa
pemerintahan Orde Baru adalah sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh
para konglomerat dengan berbagai bentuk monopoli, oligopoly, dan diwarnai
dengan korupsi dan kolusi.
Politik sentralisasi ini juga dapat dilihat dari pola pemberitaan pers yang bersifat
Jakarta-sentris, karena pemberitaan yang berasala dari Jakarta selalu menjadi
berita utama. Namun peristiwa yang terjadi di daerah yang kurang kaitannya
dengan kepentingan pusat biasanya kalah bersaing dengan berita-barita yang
terjadi di Jakarta dalam merebut ruang, halaman, walaupun yang memberitakan
itu pers daerah.
4. Krisis Kepercayaan
Demontrasi di lakukan oleh para mahasiswa bertambah gencar setelah
pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos Elang Mulia
Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan. Tragedi
Trisakti itu telah mendorong munculnya solidaritas dari kalangan kampus dan
masyarakat yang menantang kebijakan pemerintahan yang dipandang tidak
demokratis dan tidak merakyat.Soeharto kembali ke Indonesia, namun tuntutan
dari masyarakat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri semakin banyak
disampaikan. Rencana kunjungan mahasiswa ke Gedung. DPR / MPR untuk
melakukan dialog dengan para pimpinan DPR / MPR akhirnya berubah menjadi
mimbar bebas dan mereka memilih untuk tetap tinggal di gedung wakil rakyat
tersebut sebelum tuntutan reformasi total di penuhinya Maka pada tanggal 18
Mei 1998 pimpinan DPR/MPR mengeluarkan pernyataan agar Presiden Soeharto
mengundurkan diri. Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto

menyatakan mengundurkan diri/berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia


dan menyerahkan Jabatan Presiden kepada Wakil Presiden Republik Indonesia,
B.J. Habibie dan langsung diambil sumpahnya oleh Mahkamah Agung sebagai
Presiden Republik Indonesia yang baru di Istana.