Anda di halaman 1dari 25

4

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu


Didit Setiawan, Muhidi dan Saihul Anwar (2013) telah melakukan

penelitian mengenai Analisis Sistem Pengendalian Banjir Sungai Pangkalan


kabupaten Indramayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan upaya
pemecahan masalah yang dihadapi sehubungan dengan genangan banjir yang
terjadi di Sungai Pangkalan yang selama ini belum bisa tertangani dengan baik.
Dalam penelitian ini analisis dilakukan pada daerah rawan bencana banjir yaitu
disepanjang alur Sungai Pangkalan bagian hilir serta di lokasi pertemuan titik
pertemuan anak Sungai Pangkalan yaitu Desa Tegal Bedug dan Desa Pengauban.
Pada Sungai Pangkalan ini pengembangan system pengendalian banjir yang
direncanakan berupa pembuatan tanggul di sepanjang alur sungai Pangkalan
bagian hilir dan pembuatan system drainase polder pada daerah rawan banjir
dimana daerah tersebut sulit mengalirkan air dengan sistem gravitasi. Dari hasil
perhitungan yang dilakukan didapat

bahwa kapasitas tanggul rencana dapat

menampung dan mengalirkan debit banjir rencana dengan baik. Selain itu pada
system drainase polder berdasarkan hasil perhitungan, untuk mengalirkan debit
limpasan diperlukan pompa dengan kapasitas 5m3/detik.
Istiarto dan Gurawan Djati Wibowo (2007) dalam jurnalnya yang berjudul
Sistem Pengendalian Banjir Kali Juana telah melakukan penelitian yang
bertujuan untuk meneliti beberapa alternatif system pengendalian banjir Kali
Juana yang mungkin dilakukan. Banjir di kali Juana disebabkan karena curah
hujan yang tinggi (kala ulang 2 tahun sebesar 137mm/hari), kemiringan sungai
sangat kecil (0,00005-0,00008). Dari analisis penyebab banjir dominan Kali Juana
ini dapat disusun konsep strategi pengendalian banjir Kali Juana, sehingga
didapatkan strategi pengendalian banjir yang cukup mantap. Perencanaan banjir
dapat dilakukan dengan 2 cara,yaitu dengan analisis frekuensi data banjir
maksimum tercatat, atau perancangan dari analisis data hujan maksimum,
kemudian ditransformasikan ke banjir rancangan dengan model hidograf satuan
sintetis. Hidograf satuan yang digunakan untuk analisis banjir rancangan pada
studi ini adalah hidograf satuan sintetik Gama I. untuk mensimulasikan penjalaran
banjir di sungai, digunakan perangkat lunak HEC RAS 3.11. dari hasil analisis

Universitas Sriwijaya

5
perancangan banjir berdasarkan dengan Summary of Flood Control Criteria and
Guidelines (WSTCF,1993) ditetapkan bahwa untuk pengendalian banjir Kali Juana
(asli) memakai debit banjir dengan kala ulang 25 tahun. Akan tetapi dengan
kompleknya anak-anak sungai yang berjumlah 26 sungai dan saluran drain, maka
ditetapkan bahwa debit perancangan anak-anak sungai Juana Adalah debit kala
ulang 2 tahun. System pengendalian banjir Kali Juana yang paling baik yaitu ada
3 alternatif dengan cara normalisasi sungai, tanggul, dan kolam retensi banjir.

2.2

Banjir
Menurut SK SNI M-18-1989-F (1989) dalam (Suparta (2004) dijelaskan

bahwa Banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur
sungai atau saluran. Aliran yang dimaksud disini adalah aliran air yang sumbernya
bisa dari mana aja. Dan air itu ngeluyur keluar dari sungai atau saluran karena
sungai atau salurannya sudah melebihi kapasitasnya. Kondisi inilah yang disebut
banjir. Adapun penyebab banjir adalah sebagai berikut :
1) Kapasitas tampang sungai berkurang
a. Pendangkalan dasar sungai oleh sedimentasi
b. Penciutan alur sungai atau bantaran karena hambatan di alur (misal
bangunan) atau hambatan di bantaran (permukiman)
c. Hambatan atau penutupan muara sungai yang disebabkan pasir di muara
dan pasang air laut
2) Peningkatan debit sungai
a. hujan bertambah besar atau lama yang disebabkan perubahan klimatologis
yang mengakibatkan peningkatan intensitas hujan
b. respon DAS terhadap hujan berubah dikarenakan peningkatan volume
aliran permukaan dan hujan bertambah cepat sampai ke sungai
3) Perubahan tata guna lahan di DAS
a. Dataran banjir berkurang , contohnya kawasan retensi banjir berubah
fungsi
b. Land subsidence yaitu penurunan muka tanah
4) Bencana alam
a. Erupsi gunung vulkanik yang menyebabkan peningkatan debit sedimen
b. Tsunami yaitu gelombang dan pasang air laut

Universitas Sriwijaya

6
c. Tanah longsor yang menyebabkan suplai sedimen yang besar dalam waktu
singkat
5) Kegagalan fungsi bangunan pengendali banjir sungai
a. Tanggul atau bendungan jebol
b. Pintu air tak berfungsi
c. Pompa air macet
2.2.1

Pencegahan dan Penanggulangan Banjir


Ada dua jenis banjir, yakni banjir daerah hulu dan banjir daerah hilir, yang

pencegahan dan penanggulangannya tentu berbeda. Selama ini pedoman dasar


yang dipergunakan untuk pengelolaan air, yaitu air hujan yang jatuh ke
permukaan tanah yang penting dapat dialirkan menuju saluran, parit, sungai kecil,
sungai besar dan seterusnya akhirnya ke laut. Pedoman ini harus diganti dengan
mengusahakan agar air hujan sebanyak mungkin diresapkan ke dalam tanah dan
sedikit mungkin mengalir di permukaan tanah.
Yang kedua adalah pembuangan. Air yang mengalir di permukaan harus
dibuang ke laut. Kalau debitnya amat besar, saluran alam (sungai) yang ada bisa
kewalahan. Untuk itu, ada beberapa teknologi untuk mengatasinya:
1) Membuat setu (danau penampungan). Ini teknologi yang paling sederhana,
namun boros ruang. Di zaman Belanda, ada ratusan setu di Jakarta dan
Bogor. Ada setu yang aslinya rawa-rawa, ada pula yang memang dibuat.
Sekarang setu-setu itu banyak yang diurug jadi perumahan. Alasannya untuk
mengatasi ledakan penduduk, sekaligus mengusir sarang nyamuk malaria atau
demam berdarah. Sayang fungsi anti banjirnya tidak diganti. Idealnya, kalau
diurug, maka harus ada teknologi penggantinya, misalnya yang berikut ini.
2) Sodetan adalah menghubungkan dua sungai atau lebih dengan kanal buatan,
untuk mendistribusikan debit berlebih di satu sungai ke sungai yang lain.
3) Pompanisasi, ini termasuk upaya pembuangan modern, perlu energi ekstra.
Negeri Belanda saat ini termasuk negara yang unggul dalam hal
mengeringkan laut dengan pompanisasi dan tanggul. Sebagian besar
Amsterdam sekarang ini lebih rendah tujuh meter dari permukaan laut, tetapi

Universitas Sriwijaya

7
berkat sistem pompa yang cukup, sudah 40 tahun lebih tidak ada banjir.
Pompa-pompa modern dilengkapi pula dengan sensor hujan atau air pasang,
sehingga bekerja otomatis ketika dibutuhkan.
4) Tanggul, ini untuk membendung agar air sungai tidak meluap ke sekitarnya,
yang barangkali elevasinya lebih rendah dari air ketika tinggi. Hal yang sama
dilakukan untuk air pasang laut. Karena air tinggi tidak tiap hari, maka setiap
tanggul pasti harus ada pintu air.
5) Bendungan (dam) Bendungan digunakan untuk menampung dan mengelola
distribusi aliran sungai. Pengendalian diarahkan untuk mengatur debit air
sungai disebelah hilir bendungan.
6) Kolam Penampungan (retention basin) Kolam penampungan (retention basin)
berfungsi untuk menyimpan sementara volume air banjir sehingga puncak
banjir dapat dikurangi dan dilepaskan kembali pada saat air surut. Wilayah
yang digunakan untuk kolam penampungan biasanya didaerah dataran rendah.
7) Saluran By pass Saluran bay pass adalah saluran yang digunakan untuk
mengalihkan sebagian atau seluruh aliran air banjir dalam rangka mengurangi
debit banjir pada daerah yang dilindungi.
8) Sistem pengerukan sungai/normalisasi sungai Sistem pengerukan atau
pengerukan saluran adalah bertujuan memperbesar kapasitas tampung sungai
dan memperlancar aliran. Normalisasi diantaranya mencakup kegiatan
melebarkan sungai, mengarahkan alur sungai dan memperdalam sungai
(pengerukan).
9) Flood way (Kanal Banjir). Bangunan pengendali banjir yang berfungsi untuk
mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang
masuk ke wilayah pemukiman. Umumnya kanal merupakan bagian dari aliran
sungai dengan pelebaran atau pendalaman pada bagian tertentu.

2.3

Intensitas Curah Hujan

Universitas Sriwijaya

8
Perhitungan debit banjir dengan metode rasional memerlukan data
intensitas curah hujan. Intensitas hujan adalah jumlah hujan yang dinyatakan
dalam tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan waktu. Besarnya intensitas
hujan berbeda-beda, tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi
kejadiannya. Ketiga hal ini dijadikan pertimbangan dalam membuat lengkung IDF
(Intensity-Duration-frequency). Lengkung IDF ini digukanan dalam metode
rasional untuk menentukan intensitas curah hujan rata-rata dari waktu konsentrasi
yang dipilih. Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data
hujan baik secara statik maupun secara empiris (Drainase Perkotaan, 1990, h. 11).
Intensitas curah hujan (I) dalam rumus rasional dapat dihitung dengan
rumus :
R 24 24
I=
24 t c

2/ 3

( )

(II.1)

Dimana :
I

= intensitas hujan rencana (mm)


R24 = tinggi hujan harian maksimum atau hujan rencana (mm)
tc

=durasi hujan atau waktu kosentrasi (jam)

Hujan rencana (XT) adalah hujan dengan periode ulang tertentu (T) yang
diperkirakan akan terjadi disuatu daerah pengaliran. Periode ulang adalah waktu
hipotetik dimana suatu kejadian dengan nilai tertentu, hujan rencana misalnya
akan disamai atau dilampaui 1 kali dalam jangka waktu hipotetik. Hal ini tidak
berarti bahwa hujan rencana akan berulang secara teratur setiap periode ulang
tersebut
2.4

(I Made Kamiana, 2011, h. 13)

Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan air untuk mengalir dari

titik terjauh daerah tangkapan hujan ke saluran keluar (outlet) atau waktu yang
dibutuhkan air dari awal curah hujan sampai terkumpul serentak mengalir ke
saluran keluar.

Universitas Sriwijaya

9
Waktu konsentrasi ( t c =t o +t d ) terdiri dari :
a) Inlet time ( t o , waktu yang diperlukan oleh air untu mengalir dimuka
tanah menuju saluran drainase.
b) Conduct time ( t d , waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir di
sepanjang saluran.
Salah satu metode untuk memperkirakan waktu konsentrasi adalah rumus yang
dikembangkan oleh Kirpich (1940) yang dapat ditulis sebagai berikut :

tc

0,87 x L2
1000 xS
=

(II.2)

Dimana :

2.5

tc

= waktu kosentrasi (jam)

= panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik yang ditinjau (Km)

= kemiringan rata-rata lintasan air (m)


Limpasan
Limpasan permukaan merupakan air hujan yangtidak dapat ditahan oleh

tanah, vegetasi atau cekungan dan akhirnya mengalir langsung ke sungai atau laut.
Besarnya nilai aliran permukaan sangat menentukan besarnya tingkat kerusakan
akibat erosi maupun banjir. Besarnya nilai aliran permukaan dipengaruhi oleh
curah hujan, vegetasi (penutup lahan), adanya bangunan penyimpan air dan faktor
lainnya. Menurut Suripin (2004), faktor-faktor yangmempengaruhi limpasan
dibagi dalam 2 kelompok, yakni faktor meteorologi dan karakteristik daerah
tangkapan saluran atau daerah aliran sungai (DAS).
Koefisien limpasan ditetapkan sebagai rasio kecepatan maksimum pada
aliran air dari daerah tangkapan hujan. Koefisien ini merupakan nilai banding
antara bagian hujan yang membentuk limpasan langsung dengan hujan total yang
terjadi. Nilai Ctergantung pada beberapa karakteristik dari daerah tangkapan
hujan, yang termasuk didalamnya :

Universitas Sriwijaya

10
a) Relief atau kelandaian daerah tangkapan
b) Karakteristik daerah, seperti perlindungan vegetasi, tipe tanah dan daerah
kedap air
c) Storage atau karakteristik detention lainnya.

Tabel II.1. Koefisien pengaliran (C)

Sumber : I Made Kamiana (2011)


2.6

Analisis Frekuensi

Universitas Sriwijaya

11
Analisis

frekuensi

adalah

suatu

analisis

data

hidrologi

dengan

menggunakan statistika yang bertujuan untuk memprediksi suatu besaran hujan


atau debit dengan masa ulang tertentu. Frekuensi hujan adalah besarnya
kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau dilampaui. Sedangkan, kala ulang
(return period) diartikan sebagai waktu dimana hujan atau debit dengan suatu
besaran tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu tertentu.
Dalam melakukan analisis hidrologi sering dihadapkan pada kejadiankejadian ekstrim seperti banjir dan kekeringan. Tujuan dari analisis frekuensi data
hidrologi adalah mencari hubungan besarnya antara besarnya kejadian ekstrim
terhadap frekuensi kejadian dengan menggunakan distribusi probabilitas.
Analisis frekuensi dapat diterapkan untuk data debit sungai atau data
hujan. Data yang digunakan adalah data debit atau hujan maksimum tahunan,
yaitu data terbesar yang terjadi selama satu tahun, yang terukur selama beberapa
tahun. (Bambang Triadmodjo,2006).
Ada 4 macam sebaran data statistik dan yang lazim digunakan dalam
analisa frekuensi yaitu (1) Metode Distribusi Normal, (2) Metode Log Normal, (3)
Metode Distribusi Log Pearson Type III dan (4) Metode Distribusi Gumbel.
Masing-masing distribusi memiliki sifat-sifat khas sehingga setiap data
hidrologi harus diuji kesesuaiannya dengan sifat statistic masing-masing distribusi
tersebut. Pemilihan distribusi yang tidak benar dapat mengandung kesalahan yang
cukup besar, baik overestimated maupun underestimated. Dengan demikian,
jelas bahwa pengambilan salah satu sebaran data statistic secara sembarang untuk
analisis tanpa pengujian data hidrologi sangat tidak dianjurkan. (Sri Harto 1993)
Dalam statistik dikenal beberapa parameter berkaitan dengan analisis data
meliputi : 1) Nilai rata-rata (mean), 2) Simpangan baku, 3) Koefisien variasi, 4)
Koefiien Skewness, 5) Koefisien Kurtosis.

1) Nilai Rata-Rata (

1
X = X i
n n1

(II.3)

dengan :
X
: curah hujan rata-rata (mm)
n

: jumlah data

Universitas Sriwijaya

12
Xi

: curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)

2) Simpangan Baku (S)


S=

2
1
X i X )
(

n1 i=1

(II.4)

dengan :
S
: simpangan baku (standar deviasi)
X
: curah hujan rata-rata (mm)
Xi
: curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)

3) Koefisien Varian (Cv)


S
Cv=

X
(II.5)
dengan :
S
: simpangan baku (standar deviasi)
X
: curah hujan rata-rata (mm)
Cv

: koefisien varian

4) Koefisien Skewness (Cs)


n

n ( X i X )
Cs=

i1

( n1 )( n2 ) S

(II.6)

dengan :
S
: simpangan baku (standar deviasi)
X
: curah hujan rata-rata (mm)
Xi
: curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)
Cs

: koefisien skewness

5) Koefisien Kurtosis (Ck)


n
Ck=

( X i X )4
i1

( n1 ) ( n2 ) (n3) S 4

(II.7)
dengan :
S
: simpangan baku (standar deviasi)
X
: curah hujan rata-rata (mm)

Universitas Sriwijaya

13
Xi
Ck

: curah hujan di stasiun hujan ke i (mm)


: koefisien kurtosis

Adapun sebaran data statistic yang biasanya digunakan dalam analisa


frekuensi yaitu sebagai berikut (Suripin, 2004):

1) Distribusi Normal
X T = X + K T S
(II.8)
dengan :
XT

perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T-

tahunan

X
S
KT

: nilai rata-rata hitung variat


: deviasi standar nilai variat
: faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode
ulang dan tipe

model mtematik distribusi peluang yang

digunakan untuk analisis peluang


2) Distribusi Log-Normal
Y T =Y + K T S
dengan :
YT

(II.9)

: perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang Ttahunan

Y
S

KT

: nilai rata-rata hitung variat


: deviasi standar nilai variat
: faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode
ulang dan tipe model mtematik distribusi peluang yang digunakan
untuk analisis peluang

3) Distribusi Log-Person Tipe III


n

log X i

log X = i1

(II.10)

Universitas Sriwijaya

14

X
log X ilog

(II.11)

i1

S=
X
log X ilog

(II.12)

i1

G=
log X T = X + K . S

(II.13)

dengan :
XT
: perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang Ttahun

log X
S
K
G

: nilai rata-rata dalam harga logaritmik


: deviasi standar dalam harga logaritmik
: faktor frekuensi dari Log-Pearson Tipe III
: koefisien kemencengan dari Log-Pearson Tipe III

4) Distribusi Gumbel
X = X + K . S

K=

(II.14)

Y tr Y n
Sn

Y tr =ln ln

(II.15)
T r1
Tr

(II.16)
dengan :

Universitas Sriwijaya

15
X

: perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan priode ulang Ttahunan

: harga rata-rata sampel


: standar deviasi sampel
: reduced mean yang tergantung pada jumlah data
: reduced standart deviation yang juga tergantung pada jumlah data
: reuced variate

S
Yn
Sn
Ytr

Penentuan jenis distribusi probabilitas yang sesuai dengan data dilakukan


dengan mencocokkan parameter data tersebut dengan syarat masing-masing jenis
distribusi seperti pada table berikut :

Tabel II.2. Persyaratan Parameter Statistik Suatu Distribusi

Sumber : Bambang,T (2008)


2.7

Uji Distribusi Probabilitas


Diperlukan penguji parameter untuk menguji kecocokan distribusi

frekuensi sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat
menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut. Pengujian parameter
yang sering dipakai adalah sebagai berikut :
a. Metode Chi-Kuadrat
Rumus yang digunakan dalam metode chi-kuadrat adalah sebagai berikut :
(O f . E f )2
x2 =
Ef
i=1
n

(II.17)

Universitas Sriwijaya

16

Dimana :
x2

= parameter chi-kuadrat yang dihitung

Of

= frekuensi yang diamati pada kelas yang sama

Ef

= frekuensi yang diharapkan sesuai dengan pembagian kelasnya

= jumlah sub kelompok

Derajat nyata atau derajat kepercayaan () tertentu yang sering diambil adalah
5%. Derajat kepercayaan dihitung dengan rumus :
Dk

= K (p+1)

(II.18)

= 1 + 3,3 Log n

(II.19)

Dimana :
Dk

= derajat kepercayaan

= banyak parameter, untuk chi-kuadrat adalah 2

= jumlah kelas distribusi

= banyak data
Distribusi probabilitas yang dipakai adalah distribusi yang mempunyai

simpangan maksimum terkecil dan lebih kecil dari simpangan kritis, dirumuskan
sebagai berikut :
x2 < x2cr

(II.20)

Dimana :
x2

= parameter chi-kuadrat terhitung

x2

= parameter chi-kuadrat kritis

b. Metode Sminor-Kolmogorof
Pengujian distribusi dengan Metode Sminor-Kolmogorof ini dilakukan
melalui beberapa tahapan berikut ini :
1) Urutkan data (Xi) dari besar ke kecil.

Universitas Sriwijaya

17
2) Tentukan peluang empiris masing-masing data yang sudah diurut tersebut
P(Xi) dengan rumus Weibull :

P(Xi)

n+1
i

(II.21)
Dimana :
n

jumlah data

nomor urut data

3) Tentukan peluang teoritis masing-masing data yang sudah diurut tersebut


P(Xi) berdasarkan persamaan distribusi probabilitas yang dipilih.
4) Hitung selisih (Pi) antara peluang empiris dan teoritis untuk setiap data
yang sudah diurut :
(Pi)

= P(Xi) P(Xi)

(II.22)

5) Tentukan apakah Pi < P kritis, jika tidak artinya distribusi probabilitas


yang dipilih tidak dapat diterima, demikian sebaliknya.
6) P kritis dilihat pada tabel 2.5
Tabel II.3. Nilai P kritis Sminor-Kolmogorof

Sumber : I Made Kamiana (2011)

Universitas Sriwijaya

18
2.8

Hidrograf
Hidrograf adalah kurva yang memberi hubungan antara parameter aliran

dan waktu. Parameter tersebut bisa berupa kedalaman aliran (elevasi muka air)
atau debit aliran, sehingga terdapat dua macam hidrograf yaitu hidrograf muka air
dan hidrograf debit. Hidrograf muka air dapat ditransformasikan menjadi
hidrograf debit dengan menggunakan metode rating curve. Untuk selanjutnya
yang dimaksud dengan hidrograf adalah hidrograf debit, kecuali apabila
dinyatakan lain.

D eb it (m/s )

10

0
0

10
15
Waktu (jam)

20

25

Gambar II.1 Hidrograf


Sumber : Rekayasa Hidrologi, Sarino
2.9

Debit Rencana
Debit rencana adalah debit

dengan periode ulang tertentu yang

diperkirakan akan melalui suatu sungai atau bangunan air lainnya. Periode ulang
adalah waktu hipotetik dimana suatu kejadian dengan nilai tertentu, hujan rencana
misalnya akan disamai atau dilampaui 1 kali dalam jangka waktu hipotetik. Hal
ini tidak berarti bahwa hujan rencana akan berulang secara teratur setiap periode
ulang tersebut

(I Made Kamiana, 2011, h. 7)

Penetapan maisng-masing metode dalam perhitungan debit rencana, secara


umum bergantung pada ketersediaan data (I Made Kamiana, 2011, h. 7). Data
yang dimaksud antara lain data hujan, karakteristik daerah aliran, dan data debit.
Ditinjau dari ketersediaan data hujan, karakteristik daerah aliran dan data debit,
terdapat 6 kelompok metode perhitungan debit rencana, yaitu) :
1. Metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir.
Metode ini dipergunakan apabila data debit tersedia cukup panjang (>20

Universitas Sriwijaya

19
tahun), sehingga analisisnya dapat dilakukan dengan distribusi probabilitas,
baik secara analisis maupun grafis. Contoh distribusi probabilitas yang dipakai
yaitu distribusi probabilitas gumbel, log person, log normal dll.
2. Metode analisis regional
Apabila data debit yang tersedia < 20 tahun dan > 10 tahun maka debit
rencana dapat dihitung dengan metode analisis regional. Data debit yang
dimaksud didapat dari berbagai daerah pengaliran tetapi masih satu regional.
3. Metode puncak banjir diatas ambang.
Metode ini digunakan apabila data debit yang tersedia antara 3-10 tahun.
Metode ini berdasarkan pengambilan puncak banjir dalam selang 1 tahun di
atas ambang tertentu dan hanya cocok untuk data yang didapat dari pos duga
air otomatik.
4. Metode Empiris
Metode ini dipergunakan apabila data hujan dan karakteristik daerah aliran
tersedia. Contoh metode yang termasuk dalam kelompok metode ini adalah :
a) Metode rasional
b) Metode weduwen
c) Metode haspers
d) Metode Melchior
e) Metode hidrograf satuan
5. Metode analisis regresi
Metode ini menggunakan persamaan- persamaan regresi yang dihasilkan
Institute of Hydrology (LoH) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Pengairan, yaitu didapat dari data hujan dan karakteristik daerah pengairan
sungai (DPS), selanjutnya untuk banjir dengan periode ulang tertentu
digunakan lengkung analisis regional.
6. Model Matematika
Metode ini dipergunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih
panjang daripada pengamatan data debit, selanjutnya untuk memperpanjang
data aliran yang ada digunakan model matematika kemudian besar debit banjir
rencana dihtung dengan analisis frekuensi atau menggunakan distribusi
probabilitas, contohnya: Gumbel, Log pearson dan log normal.

Universitas Sriwijaya

20

2.9.1

Metode Rasional
Metode rasional adalah metode lama yang masih digunakan hingga

sekarang untuk memperkirakan debit puncak (peak discharge)


Rumus yang dipakai dalam menghitung debit puncak limpasan dengan rumus
umum Metode Rasional, dirumuskan sebagai berikut :
Q

0,278 x C x I x A

debit puncak limpasan permukaan (m3/det)

angka pengaliran (tabel 2.6)

luasan daerah pengaliran (Km2)

intensitas curah hujan (mm/jam)

(II.23)

Dimana :

Metode Rasional diatas dikembangkan berdasarkan beberapa asumsi


sebagai berikut :
a) Hujan yang terjadi mempunyai intensitas seragam dan merata di seluruh
daerah pengairan selama paling sedikit sama dengan waktu kosentrasi (t c)
daerah pengaliran.
b) Periode ulang debit sama dengan periode ulang hujan.
c) Koefisien pengaliran dari daerah pengaliran yang sama adalah tetap untuk
berbagai periode ulang.
Jika persamaan (2.19) dipergunakan untuk menghitung debit rencana
dengan berbagai periode ulang maka notasinya dapat ditulis sebagai berikut :
QT

= 0,278 x C x IT x A

(II.24)

Dimana :
QT =

debit puncak limpasan permukaan dengan periode ulang T tahun (m3/det)

C =

angka pengaliran (tabel 2.6)

A =

luas daerah pengaliran (Km2)

Universitas Sriwijaya

21
IT =

intensitas curah hujan dengan periode ulang T tahun (mm/jam)


Arti rumus ini dapat segera diketahui yakni jika terjadi curah hujan

selama 1 jam dengan intensitas 1mm/jam dalam daerah seluas 1 km 2, maka debit
banjir sebesar 0,2778 m3/det dan melimpas selama 1 jam (Sudarsono dan
Takeda,2003)
2.9.2

Hidrograf Satuan Sintetis


Di daerah di mana data hidrologi tidak tersedia untuk menurunkan

hidrograf satuan, maka dibuat hidrograf satuan sintetis yang didasarkan pada
karakteristik fisik dari DAS. Berikut ini diberikan beberapa metode yang biasa
digunakan.
Metoda hidrograf satuan sintetis yang saat ini umum digunakan di
Indonesia antara lain adalah metoda Snyder, SCS, Nakayasu, GAMA-1, HSS
dan Limantara. Metoda Snyder, SCS, Nakayasu dikembangkan diluar negeri,
sedang metoda perhitungan hidrograf satuan sintetis yang pertama dikembangkan
di Indonesia adalah metoda HSS Gama-1 yang dikembangkan di Universitas
Gajah Mada (Harto, 1993). Selanjutnya dikembangkan metode HSS di
Institut Teknologi 10 November (Lasidi et.al, 2003) dan HSS Limantara di
Universitas Brawijaya (Lily, 2008). Setiap metoda hidrograf memiliki parameter
dan karakteristik masing-masing sehingga setiap metoda tidak bisa terapkan di
setiap daerah di dunia.
1) HSS Metode Nakayasu
Hidrograf satuan sintetis Nakayasu dikembangkan berdasarkan beberapa
sungai di Jepang (Soemarto, 1987 dalam Triatmodjo, 2008). Bentuk dari HSS
Nakayasu diberikan oleh Gambar II.7 dengan persamaan-persamaan berikut :
Q p=

A
1
3,6 0,3T p +T 0,3

(II.25)

T p =t g +0,8 T r
T g=0,4 +0,058 L

(II.26)
untuk L > 15 km

(II.27)

Universitas Sriwijaya

22

t g=0,21 L

0,7

untuk L < 15 km

(II.28)

T 0,3 = t g

(II.29)

t r=0,5 t g sampai t g

(II.30)

dengan :
Qp

: debit puncak banjir


: luas DAS (km2)

A
Re

: curah hujan efektif (1 mm)

Tp

: waktu dari permulaan banjir sampai puncak hidrograf (jam)

T 0,3 : waktu puncak banjir sampai 0,3 kali debit puncak (jam)

tg

: waktu konstentrasi (jam)

Tr

: satuan waktu dari curah hujan (jam)

: koefisien karakeristik DAS biasanya diambil 2.


: panjang sungai utama (km)

Bentuk dari hidrograf satuan diberikan oleh persamaan :


a. Pada kurva naik (0 < t < T p )
t
Qt =Q p
Tp

2,4

( )

(II.31)

b. Pada kurva turun ( T p <t <T p+ T 0,3 )


Q r=Q p 0,3(t T )/T
p

0,3

(II.32)

c. Pada kurva turun ( T p +T 0,3 <t <T p +T 0,3 +1,5 T 0,3 )


Qt =Q p 0,3[(

tT p )+ ( 0,5T 0,3 )] /(1,5 T 0,3 )

(II.33)

d. Pada kurva turun ( t>T p +T 0,3 >1,5 T 0,3 )


[( tT p )+( 1,5T 0,3 )] /(2T 0,3)

Qt =Q p 0,3

(II.34)

Universitas Sriwijaya

23

Gambar II.2. Hidrograf satuan sintetis Nakayasu (Triatmodjo, 2008)


2) HSS Metode Gama I
Hidrograf satuan sintetis Gama I dikembangkan oleh Sri Harto (1993,2000)
berdasarkan perilaku hidrologis 30 DAS di Pulau Jawa. Meskipun diturunkan dari
data DAS di Pulau Jawa, ternyata hidrograf satuan sintetis Gama I juga berfungsi
baik untuk berbagai daerah lain di Indonesia (Triatmodjo, 2008)
HSS Gama I terdiri dari tiga bagian pokok yaitu sisi naik (resing limb),
puncak (crest) dan sisi turun / resesi ( recession limb). Pada Gambar II.8 adalah
HSS Gama I. Dalam gambar tersebut tampak ada patahan pada sisi resisi. Hal ini
disebabkan

sisi

resesi

mengikuti

persamaan

eksponensial

yang

tidak

memungkinkan debit sama dengan nol. Meskipun pengaruhnya sangat kecil


namun harrus diperhitungkan mengingat bahwa volume hidrograf satuan harus
tetap satu.

Gambar II.3. Hidrograf satuan Sintetik Gama I (Triatmodjo, 2008)

Universitas Sriwijaya

24
HSS Gama I terdiri dari empat variabel utama, yaitu waktu naik (time of
rise TR), debit puncak (Qp), waktu dasar (TB) dan sisi resesi yang ditentukan
oleh nilai koefisien tampungan (K) yang mengikuti dari persamaan berikut:
t / K

Qt =Q p . e

(II.35)

dengan :
Qt

3
: debit pada jam ke t ( m /d )

Qp

3
: debit puncak ( m /d )

: waktu dari saat terjadinya debit puncak (jam)

: koefisien tampungan (jam)

Persamaan-persamaan yang akan digunakan dalam HSS Gama I :


a. Waktu puncak HSS Gama I (TR)
3
L
TR=0,43
+ 1,0665+1,2775
100 SF

(II.36)

b. Debit puncak banjir (QP)


QP=0,1836 A0,5886 TR0,4008 JN 0,2381

(II.37)

c. Waktu dasar (TP)


TP=27,4132 TR 0,1457 S0,0986 SN 0,7344 RUA 0,2574

(II.38)

d. Koefisien resesi (K)


K=0,5617 A 0,1798 S0,1446 SF1,0897 D 0,0452

(II.39)

e. Aliran dasar (QB)


0,6444
0,9430
QB=0,4715 A
D

(II.40)

dengan :
A

: luas DAS (km2)

: panjang sungai utama (km)

: kemiringan dasar sungai

SF

: faktor sumber, perbaningan antara jumlah panjang sungai tingkat satu


dengan jumlah panjang sungai semua tingkat

SN

: frekuensi sumber, perbandingan antara jumlah pangsa sungai tingat satu


dengan jumlah pangsa sungai semua tingkat

Universitas Sriwijaya

25
WF

: faktor lebar, perbandingan antara lebar DAS yang diukur di titik sungai
yang berjarak 0,75 L dengan lebar DAS yang diukur di sungai yang
berjarak 0,25 L dari stasiun hidrometri (Gambar II.9).

JN

: jumlah pertemuan sungai

SIM

: faktor simetri, hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan luas DAS
sebelah hulu (RUA)

RUA

: luas DAS sebelah hulu, perbandingan antara luas DAS yang diukur di
hulu garis yang ditarik tegak lurus garis hubung antara stasiun hidrometri
dengan titik berat DAS, melalui titik tersebut (Gambar II.10).

: kerapatan jaringan kuras, jumlah panjang sungai semua tingkat tiap


satuan luas DAS.

Gambar II.4. Sketsa penetapan WF (Triatmodjo, 2008)

Universitas Sriwijaya

26
Gambar II.5. Sketsa penetapan RUA (Triatmodjo, 2008)
Persamaan tambahan yang terkait dengan HSS Gama I adalah indeks
infiltrasi atau indeks. Besarnya indeks dapat dihitung dengan persamaan:
=10,49033,859 . 106 A 2+1,6958 . 1013

A
SN

( )

(II.41)

dengan :

: indeks infiltrasi (mm/jam)

: luas DAS (km2)

SN

: frekuensi sumber

3) HSS Metode SCS (Soil Conservation Service)


SCS menggunakan hidrograf tak berdimensi yang dikembangkan dari
analisis sejumlah besar hidroraf satuan dari data lapangan dengan berbagai ukuran
DAS dan lokasi berbeda.
Ordinat hidroraf satuan untuk periode waktu berbeda dapat diperoleh dari
tabel berikut, dengan nilai (Gupta, 1989 dalam Triatmodjo, 2008):

Q p=

0,208 A
Pr
(II.42)

t
Pr= r + t p
2

(II.43)

Tabel II.5. Hidrograf satuan metode SCS


t /Pr

Q/Q p

t /Pr

Q/Q p

t /Pr

Q/Q p

0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7

0
0,015
0,075
0,160
0,280
0,430
0,600
0,770

1,0
1,1
1,2
1,3
1,4
1,5
1,6
1,8

1,000
0,980
0,920
0,840
0,750
0,660
0,560
0,420

2,4
2,6
2,8
3,0
3,5
4,0
4,5
5,0

0,180
0,130
0,098
0,075
0,036
0,018
0,009
0,004

Universitas Sriwijaya

27
0,8
0,9

0,890
0,970

2,0
2,2

0,320
0,240

The Soil Consrvation Service (SCS, 1972 dalam Chow, 1988) telah
mengembangkan metode untuk menghitung hujan efektif dari hujan deras, dalam
bentuk persamaan sebagai berikut (Triatmodjo, 2008):
2

Pe =

( P0,2 S)
P+ 0,8 S

(II.44)

dengan :
Pe

: kedalaman hujan efektif (mm)

: kedalaman hujan (mm)

: retensi potensial maksimum air oleh tanah, yang sebgian besar adalah
karena infiltrasi (mm)

Retensi potensial maksimum memiliki persamaan :


S=

25400
254
CN

(II.45)

dengan :
CN

: karakteristik DAS

2.10

Analisis Profil Aliran


Elevasi muka air pada alur sungai perlu dianalisis untuk mengetahui pada

bagian (section) manakah terjadi luapan pada alur sungai, sehingga dapat
ditentukan dimensi untuk perbaikan saluran.
Sebagai alat bantu untuk menganalisa profil muka air digunakan program
HEC-RAS versi 4.1.1. program ini didesain untuk mampu melakukan perhitungan
hodrolika satu dimensi pada suatu sistem sungai alami maupun saluran buatan.
Input data dari program HEC-RAS adalah:
1) Peta Topografi
2) Potongan melintang saluran/sungai
3) Debit banjir rencana
Output dari program HEC-RAS adalah :
1) Kondidi eksisting
2) Dimensi rencana saluran

Universitas Sriwijaya

28

HEC-RAS juga memiliki kemampuan untuk melakukan simulasi


perhitungan profil muka air pada struktur bangunan air, seperti jembatan, pintu
air, bendung, dan lain- lain.

Universitas Sriwijaya