Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Kelenjar Prostat merupakan salah satu organ urogenital pria yang menapak usia
lanjut1yang paling sering berkembang menjadi tumor jinak atau ganas. Kelenjar prostat
adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak disebelah inferior buli-buli dan
membungkus uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars
prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli. Benign prostatic
hyperplasia sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel
stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat. Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami oleh
sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria
berusia di atas 80 tahun. Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang
menjengkelkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Keadaan ini akibat dari pembesaran
kelenjar prostat atau benign prostate enlargement (BPE) yang menyebabkan terjadinya
obstruksi pada leher buli-buli dan uretra atau dikenal sebagai bladder outlet obstruction
(BOO). Obstruksi yang khusus disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat disebut sebagai
benign prostate obstruction (BPO)1,5. Obstruksi ini lama kelamaan dapat menimbulkan
perubahan struk-tur buli-buli maupun ginjal sehingga menye-babkan komplikasi.

KASUS
A. Identitas pasien :
Nama

: Tn. AQ

Usia

: 75 tahun

Jenis kelamin

: laki laki

Status

: menikah

Alamat

No RM

: 381607

Tgl MRS

: 24 November 2013

B. Auto Anamnesis :
Keluhan Utama :
Sulit BAK sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Os datang ke RSUD cianjur dengan keluhan sulit BAK sejak 1 minggu yang lalu, Os
merasa selama 1 minggu terahir ini BAK tidak puas dan saat BAK harus di sertai dengan
mengejan, terkadang bahkan di sertai dengan keluhan nyeri, beberapa kali pasien juga
mengeluh sering mengulang BAK namun tetap sedikit keluar hingga sering merasa perutnya
kencang. Pancaran BAK juga di rasa melemah, Os sering mengeluh selalu ingin BAK, tapi
sulit untuk dikeluarkan. Pasien mengatakan BAK berwarna kuning jernih, darah(-), batu(-),
pasir(-). Demam (-),BAB lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat sulit BAK sebelumnya disangkal


Riwayat BAK keluar batu/keluar batu dari liang BAK di sangkal
BAK berpasir disangkal
Timbul benjolan di selangkangan dan di buah zakar di sangkal
Riwayat BAK keluar darah di sangkal
Riwayat kencing nanah di sangkal
Riwayat trauma hingga tidak bisa BAK dan tidak bisa berjalan di sangkal
Riwayat hipertensi (-)

Riwayat Penyakit keluarga :

DM (tidak tahu)
Hipertensi (tidak tahu)
Asma (tidak tahu)
Ada yang sakit seperti ini di sangkal

Riwayat Psikososial:
Merokok (+)
Minum alcohol (-)
Berhubungan sex bebas (tidak di tanya)
Riwayat Pengobatan :

OS belum pernah berobat kemanapun sebelumnya

Riwayat Alergi :

Obat (-)
Makanan(-)
Minuman(-)
Suhu(-)
Udara(-)
Bulu binatang(-)

C. Pemeriksaan fisik :
3

Kesadaran : E =4, V =5, M =6, GCS = 15


Keadaan Umum : sakit sedang
Tanda tanda vital :
- TD : 120 /100 mmhg
- Suhu : 36,3 0C
- Nadi : 88 x/ menit
- RR : 20 x/ menit

Status generalis

Paru

Kepala : normochepal
Mata : konjungtiva Anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), refleks cahaya

(+/+), pupil isokor


Hidung : sekret (-), darah (-)
Mulut : lidah kotor (-), tremor (-), mukosa kering (-)
Telinga : sekret (-/-), darah (-/-),gangguan pendengaran (+)
Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tyroid (-)

I : pergerakan dada simetris, retraksi (-/-)


P : nyeri tekan (-), Vokal fremitus kiri dan kana sama
P : Sonor pada kedua lapang paru
A : vesicular (+/+), ronki -/- ekspirasi, wheezing -/-

I : ictus cordis terlihat (-)


P : Teraba ictus cordis di ICS V linea mid clavicula sinistra
P : Tidak di lakukan
A: Bunyi jantung I dan II murni reguler, murmur (-), gallop (-)

Jantung :

Abdomen :

I : Supel, distesi abdomen(-)


A : BU (+) normal
P : nyeri tekan (+) di suprapubis, nyeri lepas (+), Hepatomegali (-),

splenomegali (-), CVA (-), Ballotemen sign (-),blast (penuh)


P : timpani diseluruh kuadran abdomen

Ekstremitas :

Atas : akral hangat (+/+), RCT < 2 detik, udem (-), pucat (-).
Bawah : akral hangat (+/+), RCT < 2 detik, udem (-), pucat (-).

Rectal Touce :

Tonus sfingter ani baik


Ampula recti licin, tidak berbenjol - benjol
Prostat (pada jam 12) : Permukaan rata (licin)
o Pembesaran 5 cm
o Konsistensi Kenyal
o Nyeri Tekan (-)
o Sulkus dari kedua bagian prostat sulit dinilai
o Handscoon : Feses (+), darah (-), Lendir (-).

RESUME
Os datang ke RSUD cianjur dengan keluhan sulit BAK sejak 1 minggu yang lalu, Os
merasa selama 1 minggu terahir ini BAK tidak puas dan saat BAK harus di sertai dengan
mengejan, terkadang bahkan di sertai dengan keluhan nyeri, beberapa kali pasien juga
mengeluh sering mengulang BAK namun tetap sedikit keluar hingga sering merasa perutnya
kencang. Pancaran BAK juga di rasa melemah, Os sering mengeluh selalu ingin BAK, tapi
sulit untuk dikeluarkan.

Prostat (pada jam 12) : Permukaan rata (licin)


o Pembesaran 5 cm
o Konsistensi Kenyal
5

o Nyeri Tekan (-)


o Sulkus dari kedua bagian prostat sulit dinilai
o Handscoon : Feses (+), darah (-), Lendir (-)
Diagnosa Banding :

Retensio Urine e.c BPH


Retensio urine e.c striktur uretra
Retensio urine e.c Ca Prostat

Rencana Pemeriksaan :

USG lower abdomen


Ureum,Creatinin,Hb
PSA

Hasil Pemeriksaan yang di dapatkan


USG Lower abdomen :

Prostat ukuran 35,9 gr Prostat membesar

Pemeriksaan Lab:
Ureum
Kreatinin

26,7mg %
0,9 mg %

10-50
01

SGOT
SGPT
HBsHg

26,7 mg%
15nmg%
-

<40
< 42
Non reaktif

DIAGNOSA KERJA
Retensio Urin e.c BPH
PENATALAKSANAAN

Penggunaan Kateter urin di lanjutkan dengan,


Operasi open protactomi
6

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
A. Embriologi prostat
Prostat berkembang sebagai multipel padat yang tumbuh dari epitelhium uretra atas dan
bawah dari pintu masuk saluran duktus mesonephric. Bagian yang simpel dari tubulus ini
mulai berkembang dari menjadi 5 bagian pada saat terakhir minggu ke 11 dan selesai pada
minggu ke 16. Mereka bercabang-cabang hingga berakhir dengan suatu sistem pembuangan
kompleks yang terdiri dari differensiansi sel mesenchymal disekitar segmen dari sinus
urogenital. Sel mesenchymal ini mulai berkembang lagi disekitar tubulus mulai dari 16
minggu dan menjadi lebih ke perifer untuk membentuk kapsul prostatik. Pada umur 22
minggu sel stroma muskular berkembang secara bertahap dan proses ini berlanjut terus
meningkat hingga kelahiran.
Dari 5 bagian kumpulan sel-sel epitel, terbentuk 5 lobus; anterior, posterior, median dan
2 lobus lateral. Awalnya, lobus-lobus ini terpisah satu sama lain, namun nanti mereka akan
7

bertemu tanpa ada septum pembatas diantara mereka. Tubulus dari masing-masing lobus
tidak berikatan dengan yang lainnya tapi berdampingan satu sama lain. Tubulus lobus
anterior mulai berkembang secara simultan dibandingkan dengan lobus yang lain. Meskipun
di tahap awal tubulus lobus anterior besar dan menunjukkan banyak percabangan, nantinya
banyak dari percabangan itu akan menghilang. Mereka berlanjut untuk mengecil, jadi pada
saat kelahiran mereka menunjukkan tidak mempunyai lumen dan terlihat sebagai epitelial
embrionik solid yang kecil. Dengan kontras, tubulus dari lobus posterior terdapat beberapa
yang berkembang jadi besar dengan percabangan yang ekstensive. Tubulus-tubulus ini,
sebagaimana mereka tumbuh, lobus posterior berekstensi berkembang ke lobus median dan
lobus lateral dan membentuk bagian posterior dari kelenjar prostat, yang dapat dirasakan
melalui rektal.

B. ANATOMI PROSTAT
Gambar 1: Embriologi
1. Anatomi
prostat

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di depan
rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri dengan ukuran 4 x
3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Kelenjar ini terdiri atas jaringan
fibromuskuler dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona, yaitu zona
perifer, zona sentral, zona transisional, zona preprostatik sfingter dan zona anterior (McNeal
1970). Secara histopatologik kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan stroma.
Komponen stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblas, pembuluh darah, saraf, dan jaringan
penyanggah yang lain.
Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fibrosa yang
merupakan bagian lapisan visceral fascia pelvis. Prostat yang berbentuk kerucut mempunyai
basis prostatae yang terletak di superior dan berhadapan dengan collum vesicae dan apex
prostatae yang terletak di inferior dan berhadapan dengan diaphragm urogenitale. Kedua
8

ductus ejaculatorius menembus bagian atas facies posterior prostatae untuk bermuara ke
urethra pars prostatica pada pinggir lateral utriculus prostaticus.

Ureter

Vas

urethr

gambar 1 : anatomi prostat

Prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars


prostatica. Prostat mempunyai panjang kurang lebih 3 cm dan terletak di antara collum
vesicae di atas dan diaphragm urogenitale di bawah.3
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan
ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior
untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume
cairan prostat merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat.2,4
Prostat mendapatkan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus
prostatikus. Pleksus prostatikus (pleksus pelvikus) menerima masukan serabut parasimpatik
dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2 ). Stimulus parasimpatik
meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik
menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat dan
leher buli-buli. Di tempat-tempat itu banyak terdapat reseptor adrenergik-. Rangsangan
simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot polos tersebut.4
Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat
membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.
9

Gambar 2 : bagian sekitar prostat

Tabel 1 : Perbatasan prostat3


Superior

Basis prostatae berhubungan dengan collum vesicae

Inferior

Apex prostatae terletak pada fascies superior diaphragm urogenitale

Anterior

Facies anterior prostatae berbatasan dengan symphysis pubica,

posterior

Facies posterior prostatae berhubungan erat dengan facies anterior ampulla recti

Lateral

fascies lateralis prostatae difiksasi oleh serabut anterior musculus levator ani

2. Struktur Prostat
Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot polos dan
jaringan ikat, dan ductusnya bermuara ke urethra pars prostatica.
Prostat secara tidak sempurna terbagi menjadi lima lobus. Lobus anterior terletak di
depan urethra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus medius atau lobus medianus
adalah kelenjar berbentuk baji yang terletak di antara urethra dan ductus ejaculatorius.
10

Permukaan atas lobus medius berhubungan dengan trigonum vesicae, bagian ini mengandung
banyak kelenjar. Lobus posterior terletak di belakang urethra dan di bawah ductus
ejaculatorius, juga mengandung kelenjar. Lobus prostatae dextra dan sinistra terletak di
samping urethra dan dipisahkan satu dengan yang lain oleh alur vertical dangkal yang
terdapat pada fascies posterior prostatae. Lobus lateralis mengandung banyak kelenjar.3

Gambar 3 : gambaran dalam prostat


3. Fungsi Prostat
Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti susu yang mengandung asam
sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan pada semen pada waktu ejakulasi. Bila otot
polos pada capsula dan stroma berkontraksi , secret yang berasal dari banyak kelenjar diperas
masuk ke urethra pars prostatica. Sekret prostat bersifat alkalis dan membantu menetralkan
suasana asam di dalam vagina.3
4. Vascularisasi
Arteriae, Cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media.
Vena, Vena membentuk plexus venosus prostaticus, yang terletak di antara capsula
prostatica dan selubung fibrosa. Plexus venosus prostaticus menampung darah dari vena
11

dorsalis profunda penis dan sejumlah venae vesicales, selanjutnya bermuara ke vena iliaca
interna.3
Aliran Limfe, Pembuluh limf dari prostate mengalirkan cairan limf ke nodi iliaci interni.
Persarafan, Persarafan prostat berasal dari plexus hypogastricus inferior. Saraf simpatis
merangsang otot polos prostat saat ejakulasi.3
5. Histologi
Kelenjar prostat merupakan suatu organ campuran yang terdiri atas berbagai unsure
glandular dan non glandular. Setiap zona glandular memiliki fitur arsitektur dan stroma yang
spesifik. Telah ditemukan lima daerah/zona tertentu yang berbeda secara histology maupun
biologi, yaitu :
a. Zona Anterior
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma fibromuskular.
Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
b. Zona Perifer
Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat. Zona
ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma prostat terbanyak.
c. Zona Sentralis
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulotarius, sesuai dengan lobus tengah
meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap inflamasi. Zona
pusat relative tahan terhadap kanker dan penyakit lainnya.
d. Zona transisional
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar
preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi
dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign prostat
hyperplasia (BPH)
e. Kelenjar-kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dari duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif tersebar
sepanjang segmen uretra proksimal
Dalam semua zona, baik saluran dan asinus , dipisahkan oleh epitel sekresi. Dalam
setiap zona, terdapat lapisan sel basal di bawah lapisan sekretori, serta diselingi sel-sel
endokrin-parakrin.5

12

Gambar

4 : bagian

bagian zona

prostat

2. BPH (benign Prostat Hiperplasia)

13

2.1. Definisi
Benign prostat hiperplasia (BPH), juga dikenal sebagai benign prostatic hypertrophy,
adalah diagnosis histologis ditandai oleh proliferasi dari elemen seluler prostat. Terjadi
Akumulasi Seluler dan pembesaran kelenjar yang mungkin ditimbulkan akibat proliferasi
epitel dan stroma, gangguan program kematian sel (apoptosis), atau keduanya.7
2.2. Epidemiologi
BPH merupakan tumor jinak yang paling sering pada laki-laki dan insidennya
berdasarkan dari umur. Prevalensi dari hasil studi otopsi BPH menunjukkan peningkatan kirakira sebanyak 20% pada pria dengan umur 41-50 tahun, menjadi 50 % pada pria dengan umur
51-60 tahun dan menjadi > dari 90% pada pria > dari 80 tahun(Berry et al, 1984). 1,2 Walaupun
bukti klinis dari penyakit lebih jarang muncul, gejala dari obstruksi prostat juga berhubungan
dengan umur. Pada umur 55 tahun, kira-kira sebanyak 25% pria mengeluhkan gejala voiding
symptoms. Pada umur 75 tahun, 50% dari pria mengeluhkan penurunan dari pancaran dan
jumlah dari pembuangan urin. Faktor resiko dari BPH masih belum terlalu dimengerti.
Beberapa hasil studi menyebutkan predisposisi genetik dan beberapa studi lainny memberi
perhatian pada perbedaan ras. Kira-kira 50% dari pria dibawah umur 60 tahun yang telah
menjalani operasi pembedahan BPH mungkin memiliki suatu bentuk genetika dari penyakit.
Bentuk ini paling banyak merupakan bentuk autosomal dominan trait(Sanda et al, 1994).2,4
2.3. Etiologi
Hingga sekarang, masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hyperplasia
prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hyperplasia prostate rat kaitannya
dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging.4
Hingga sekarang etiologi dari BPH masih belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa
penelitian secara laboratorium maupun klinik menyebutkan bahwa terdapat 2 faktor yang erat
kaitannya dengan BPH yaitu; peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging
(menjadi tua) (McConnell, 1995).
timbulnya

hiperplasia

prsostat

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab


adalah

1)

teori

dihidrotestoteron,

2)

adanya

ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron, 3) interaksi antara sel stroma dan sel
epitel prostat, 4) berkurangnya kematian sel (apoptosis) dan 5) teori stem sel.4
1. Teori Dihidrostestosteron
14

Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron didalan sel prostat oleh enzim
5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk berikatan dengan
reseptor androgen (RA) yang membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya
terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada
berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan
kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-reduktase dan
jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada
BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan
dengan prostat normal.
2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen
relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosteron relatif meningkat. Telah
diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel
kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormon androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat(apoptosis). Hasil akhir
dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat
rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang
lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar.
3. Interaksi sel stroma dan sel epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat
secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui mediator (grwoth factor) tertentu.
Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis
suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakrin
dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan
terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel prostat (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik
untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh
sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada jaringan normal,
terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi
15

pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru
dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang
mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi
meningkat sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat.
5. Teori Sel Stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru.
Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu suatu sel yang mempunyai
kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada
keberadaan hormon androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang
terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada
BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang
berlebihan sel stroma maupun sel epitel.
2.4. Patofisiologi Hiperplasia Prostat
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan
menghambat aliran urin. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal.Untuk
dapat mengeluarkan urin, vesika urinaria harus berkontraksi lebih kuat guna melawan
tahanan itu.Kontraksi yang terus menerus itu meneybabkan perubahan anatomi dari vesika
urinaria berupa hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan divertikel
vesika urinaria.
Perubaha struktur ini yang dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih
sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala
prostatimus.
Tekanan intravesikal yang tinggi akan diteruskan keseluruh bagian vesika urinaria dan
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urin dari vesika urinaria ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter.
Keadaan ini jika dibiarkan berlangsung lama akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis
bahkan dapat menyebabkan gagal ginjal.
Patomekanisme
Hiperplasia prostat

16

Tekanan
Penyempitan
intravesikal
lumen
uretra posterior

Vesika urinary

Ginjal dan ureter

Hipertropi otot
detrusor
Trabekulasi
Selula
Divertikel bulibuli

Refluks vesiko
ureter
Hidroureter
Hidronefrosis
Pionefrosis
pilonefritis
Gagal ginjal

2.5. Gambaran Klinis


Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan diluar
saluran kemih.
17

1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah


Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruksi dan gejala
iritatif :

Obstruksi
Hesitansi
Pancaran miksi lemah
Intermitensi
Miksi tidak lampias
Menetes setelah miksi

Iritasi
Frekuensi
Nokturi
Urgensi
Disuri

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah,
beberapa ahli /organisasi urologi membuat system skoring yang secara subyektif dapat diisi
dan dihitung sendiri oleh pasien.System skoring yang dianjurkar oleh organisasi kesehatan
dunia (WHO) adalah Skor Internasional Gejala Prostat atau I-PSS (International Prostatic
Symptom Score).
System skoring I-PSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan
miksi (LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien.Setiap
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai dari 0 sampai dengan 5,
sedangkan keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7.
Dari skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu :
Ringan : skor 0-7
Sedang : skor 8-19
Berat : skor 20-35

SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS)


Untuk petanyaan nomor 1 hingga 6, jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut:
0 = Tidak pernah
3 = Kurang lebih separuh dari kejadian
1= Kurang dari sekali 5 kali kejadian
4 = Lebih dari separuh kejadian
2= Kurang dari separuh kejadian
5 = Hampir selalu
Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah anda
1. Merasakan masih terdapat sisa urin sehabis kencing ?
3
2. Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing ?
3
3. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan
18

berkali-kali ?
3
4. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing ?
3
5. Merasakan pancaran urin yang lemah ?
3
6. Harus mengejan dalam memulai kencing ?
3
Untuk pertanyaan nomor 7, jawablah dengan skor seperti dibawah ini :
0 = Tidak pernah
3 = Tiga kali
1 = Satu kali
4 = Empat kali
2 = Dua kali
5 = Lima kali
7. Dalam satu bulan terakhir berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing ?
3
TOTAL SKOR (S) = 21
Pertanyaan nomor 8 adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan gejala di atas : jawablah
dengan:
1.) Sangat senang 2.)Senang 3.) Puas 4.) Campuran antara puas dan tidak puas
5.) Sangat tidak puas 6.) Tidak bahagia 7.) Buruk sekali
8. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup ini ?
Kesimpulan : S____, L____, Q____, R_____, V_____
( skor I-PSS, L : Kualitas hidup, Q : Pancaran urin dalam ml/detik, R : Sisa urin, V : Volume
prostat )
Timbulnya LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk mengeluarkan
urin. Pada suatu saat otot buli-buli akan mengalami kepayahan (fatique) sehingga jatuh
dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut.
Timbulnya dekompensasi buli-buli biasanya didahului oleh beberapa factor pencetus antara
lain:

Volume buli-buli tiba-tiba terisi penuh yaitu pad cuaca dingin, menahan kencing
terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretic

(alcohol,kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan.


Masa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau
mengalami infeksi prostat akut.

19

Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot-otot


detrusor atau yang dapat mempersempit leher buli-buli, antara lain obat-obatan
golongan antikolinergik atau alfa adrenergik.

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas


Keluhan akibat penyulit hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala
obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan dipinggang (yang merupakan tanda dari
hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.
3. Gejala diluar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh hernia inguinalis atau
hemoroid.timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan. Timbulnya kedua penyakit
ini

karena

sering

mengejan

saaat

miksi

sehingga

mengakibatkan

peningkatan

intraabdominal.
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh dan teraba masa
kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urin.Kadang-kadang didapatkan urin yang
selalu menetes tanpa disadari oleh pasien dan keadaan ini merupakan pertanda dari
inkotinensi paradoksa.
Pada colok dubur diperhatikan : (1) tonus sfingter ani/reflex bulbo kavernosus untuk
menyingkirkan adanya kelainan buli-buli nerogen, (2) mukosa rectum, dan (3) keadaan
prostat, antara lain : kemungkinan adanya nodul, krepitasi, konsistensi prostat, simetri antar
lobus dan batas prostat.
Colok dubur pada pembesaran prostat benigna menunjukan konsistensi kenyal seperti
meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul, sedangkan
pada karsinoma prostat, konsistensi keras/teraba nodul dan mungkin diantara lobus prostat
tidak simetris
2.6. Diagnosis Banding
Kondisi obstruksi dari saluran kemih bagian bawah seperi striktur uretra, contracture
leher buli-buli, batu buli-buli atau karsinoma prostat (CaP) harus ditunjukkan saat melakukan
evaluasi laki-laki dengan kecurigaan BPH. Riwayat melakukan tindakan pada saluran kemih,
radang atau trauma harus ditanyakan untuk menyingkirkan kemungkinan striktur uretra atau
contrrcture leher buli-buli. Hematuria dan nyeri biasanya berhubungan dengan batu buli-buli.
CaP mungkin dideteksi saat melakukan pemeriksaan DRE atau elevasi dari kadar penanda
tumor PSA. Infeksi saluran kemih bisa mirip gejalanya seperti pada iritatif BPH, bisa
diidentifikasi dengan pemeriksaan urinalisa dan kultur urin; bagaimanapun juga infeksi
saluran kemih bisa juga sebagai komplikasi dari BPH.4
20

2.7. Pemeriksaan Penunjang


2.7.1. Laboratorium
Sedimen urine diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau
inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman
yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa
antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas, sedangkan gula darah dimaksudkan untuk ,mencari kemungkinan
adanya penyakit diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli
(buli-buli neurogenik).4
2.7.2. Pencitraan
Foto polos abdomen berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya
batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh
terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Pemeriksaan IVP dapat
menerangkan kemungkinan adanya: (1) kelainan pada ginjal maupun ureter berupa
hidroureter atau hidronefrosis, (2) memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan
oleh adanya indentasi prostat/filling defect (pendesakan buli-bli oleh kelenjar prostat) atau
ureter disebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish dan (3) penyulit yng
terjadi pada buli-buli yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi buli-buli.
Pemeriksaan ini sekarang tidak direkomendasikan pada BPH.1,4
2.8.Terapi
Ada beberapa pilihan terapi BPH, dimana terapi spesifik dapat diberikan untuk pasien
kelompok tertentu. Untuk pasien dengan gejala ringan (symptom score 0-7), dapat dengan
hanya dilakukan watchful waiting. Terapi paling akhir yang dilakukan adalah operasi.
Indikasi absolute dilakukan operasi adalah :
a. Retensi urin berulang (berat), yaitu retensi urin yang gagal dengan pemasangan
kateter urin sedikitnya satu kali
b. Infeksi saluran kencing berulang
c. Gross hematuria berulang
21

d. Batu buli-buli
e. Insufisiensi ginjal
2.8.1.Watchful waiting
Wathchful waiting Dilakukan apabila:

IPSS < 8
residual urne < 50 cc
pst voiding residual urine, yaitu menentukan berapa sisa urin dalam kandung
kemih setelah mikturisi. Normalnya urin residu sekitar 0,09 2,24 ml. Cara

pengukuran PVR dapat invasive (kateter) atau non invasive (USG).8


Q max (pancaran maksimum) > 15 cc / sec
volume prostat < 20 cc

2.8.2. Medikamentosa
a . Penghambat Alpha (Alpha Blocker)
Kandung kemih dan prostat pria memiliki receptor alfa 1- adrenoreseptor. Pemblokiran
terhadapa receptor ini menyebabkan relaksasi otot polos kandung kemih dan prostat,
sehingga memungkinkan urin untuk mengalir. Jenis obat ini bisa dilihat ditabel. Obat yang
selektif terhadap receptor alfa-1 memiliki efek samping yang lebih ringan, antara lain
hipotensi ortostatik, sakit kepala, pusing, lelah, dan rhinitis.9
b. Terapi farmako lainnya yaitu dengan Penghambat 5- Reduktase (5-Reductase
inhibitors). Cara kerja obat golongan ini adalah dengan memblok perubahan testoteron
menjadi dehidrostetoteron. Pemberian obat ini selama 6 bulan terbukti mengurangi ukuran
prostat sebesar 20% sera gejala lainnya. Contoh obatnya adalah Finastride. Efek sampingnya
adalah menurunkan libido, impotensi, serta menurunkan volume ejakulasi. Obat lainnya
adalah dutasteride, efek sampingnya sama dengan finastride kecuali ginekomastia.9

22

Tabel 2 : jenis obat alpha-blokers dan 5 alpha- reductase inhibitors

c. Terapi kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5- Reduktase
memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya
ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi kombinasi
sedang diteliti lebih lanjut.4
d. Fitoterapi
Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk
tujuan medis. Fitoterapi paling umum untuk BPH adalah

palmetto (Serenoa repens),

African plumb (pygeum africanum), dan South African Star Grass (Hypoxis rooperi).
Saw Palmetto adalah Phytotherapy paling sering digunakan untuk LUT. Permixon, sebuah
liposterolic ekstrak repens S. (diekstraksi dari kelapa muda di bagian tenggara Amerika
Serikat dan Hindia Barat) adalah persiapan yang paling banyak dipelajari. Secara tepatnya
mekanisme kerja repens S. masih belum jelas. Namun, penelitian baru menunjukkan
kontraksi

epitel,

mekanisme

aksi,

terutama
namun

di

perubahan

zona

transisi,

volume

prostat

menunjukkan
atau

kemungkinan

PSA belum

diamati.

Tersedia informasi tentang saw palmetto ekstrak terdiri sebagian besar dari dalam percobaan
in vitro dan penelitian di Eropa, yang banyak telah membatasi nilai seperti dicatat oleh
23

peneliti. Keterbatasan serupa telah diamati dalam beberapa studi menilai bentuk lain terapi
alternatif. Tidak ada data dari yang dirancang dengan baik, jangka panjang, acak, penelitian
plasebo-terkontrol untuk menunjukkan bahwa terapi alternatif memiliki efek pada jangka
panjang hasil atau perkembangan penyakit.

2.8.3.Operasi Konvensional
A. Transurethral resection of the prostate (TURP)
Saat ini tindakan TURP merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan diseluruh
dunia. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans uretra dengan mempergunakan cairan irigan
(pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah.
Cairan yang diperguankan adalah berupa larutan non ionik, yang dimaksudkan agar tidak
terjadi hantaran listrik pada saat operasi.Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup
murah adalah H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian aquades adalah cairan ini bersifat hipotonik sehingga cairan ini dapat
masuk kedalam sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka saat
reseksi.Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relative atau gejala
intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TURP.Sindroma ini ditandai dengan pasien yang
mulai gelisah, kesadaran somnolen, tekanan darah meningkat, dan terdapat bradikardi.
Jika tidak segera diatasi, pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam
koma dan meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP ini adalah sebesar 0,99%.
Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TURP dipakai cairan non ionik yang lain
tetapi harganya lebih mahal daripada aquades antarala lain adalah cairan glisin, membatasi
jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam, dan memasang sistostomi suprapubik untuk
mengurangi tekanan air pada buli-buli selama reseksi prostat.

Penyulit pada TURP

24

Selama operasi
Perdarahan
Sindrom TURP
Perforasi

Pasca bedah dini


Perdarahan
Infeksi lokal
Infeksi sistemik

Pasca bedah lanjut


Inkotinensi
Disfunggsi ereksi
Ejakulasi retrograd
Stiktura uretra
Pada hyperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang umurnya masih

muda dilakukan insisi kelenjar prostat atau TUIP (Transurethral incision of the prostate) aatau
insisi leher buli-buli atau BNI (bladder neck incision).
Jika dibandingkan sengan pembedahan terbuka, TURP mempunyai beberapa keuntungan,
antara lain: (1) tidak meninggalkan luka atau bekas sayatan, (2) lama operasi lebih singkat,
dan (3) waktu tinggal diruumah sakit lebih singkat.

Tinadakan invasif minimal


Selain tindakan invasif yang telah disebutkan diatas, saat ini sedang dikembangkan
tindakan invassif minimal dan terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko
tinggi terhadap pembedahan. Tindakan invasif minimal itu antara lain :

Pemanasan prostat dengan memakai energimikro atau TUMT (Transurethral


microwave thermotheraphy) yaitu dengan memasukan kateter yang telah diberi
electrode dan diharapkan jaringan prostat menjadi lembek. Alat yang dipakai antara

lain adalah Prostatron.


Dilatasi dengan balon atau TUBD (Transhurethral balloon dilatation)
TUNA : Transurethtral Needle Ablation
25

Pemasangan stent uretra atau prostacath yang dipasangkan pada uretra prostatika
supaya uretra prostatika selalu terbuka.
Meskipun sudah banyak modalitas yang telah diketemukan untuk mengobati
pembesaran prostat, sampai saat ini terapi yang memberikan hasil paling memuaskan
adalah TUR Pr B. Transurethral incision of the prostate
Pasien dengan gejala sedang dan berat, prostat yang kecil sering terjadi hyperplasia

komisura posterior (menaikan leher buli-buli). Pasien dengan keadaan ini lebih-lebih
mendapat keuntungan dengan insisi prostat. Prosedur ini lebih cepat dan kurang menyakitkan
dibandingkan TURP. Retrograde ejakulasi terjadi pada 25% pasien
C. Open simple prostatectomy
Jika prostat terlalu besar untuk dikeluarkan dengan endoskopi, maka enukleasi terbuka
diperlukan. Kelenjar lebih dari 100 gram biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan
enukleasi. Open prostatectomy juga dilakukan pada BPH dengan divertikulum buli-buli, batu
buli-buli dan pada posisi litotomi tidak memungkinkan. Open prostatectomy dapat dilakukan
dengan pendekatan suprapubik atau retropubik.
D. Transuretral needle ablation of the prostate
Transuretral needle ablation of the prostate menggunakan kateter khusus yang
dimasukan melalui uretra.
E. High Intensity Focused Ultrasound
High Intensity Focused Ultrasound berarti melakukan ablasi jaringan dengan panas.
Ultrasound probe ditempatkan pada rectum.

REFFERENSI

4. Schwartz.Manual of Surgery,in Urology, Benign Prostatic Hyperplasia.Mc Graw Hills


Companies. 2006. Pg. 1061

26

5. Schwartz. Principles of surgery. Ninth edition. Mc Graw Hills Companies.2006. pg


2856
6. Hanno M Philip. Clinical manual of urologi. Mc Graw Hills Companies.2001. pg .
437-469
7. Snell, Richard S. Clinical Anatomy For Medical Students 6th edition in cavitas Pelvis
Part II.Lippincot William & Wilkins Inc. 2006. USA. Pg.350-352.

27