Anda di halaman 1dari 13

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah ini berisi tentang


Peranan Pers dan Kode Etik Jurnalistik
Yang diketahui dan Disahkan pada:

Hari

Tanggal :
Tempat : MA DARUL HUDA

Oleh
Guru Pengajar Pendidikan Kewarganegaraan

M. MAKMUR HAMZAH,S.Pd

.1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah tentang peranan pers di Indonesia.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Hormat Kami

Tim Penyusun

.2

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................
1.3 Tujuan .......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Fungsi Pers ................................................................................................
2.2 Perkembangan Pers di Indonesia ..............................................................
2.3 Kode Etik Jurnalistik ................................................................................
2.4 Penyimpangan Kode Etik Jurnalistik ........................................................
2.5 Upaya Pemerintah Dalam Mengendalikan Kebebasan Pers .....................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...............................................................................................
3.2 Kritik dan Saran.........................................................................................
3.3 Daftar Pustaka ...........................................................................................

.1
.2
.3
.3
.4
.4
.5
.6
.8
.9
11
13
13
13

.3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara Umum, Pengertian Jurnalistik adalah proses, teknik dan ilmu
pengumpulan, penulisan, penyuntingan dan publikasi berita. Jurnalistik atau
Kewartawanan berasal dari kata Journal yang berarti catatan harian atau catatan
mengenai kejadian sehari-hari, atau diartikan dengan surat kabar. Kata Journal
berasal dari bahasa Latin dari kata Diurnalis, yang berarti orang yang melakukan
pekerjaan jurnalistik. Jadi Secara Etiomologis (asal Usul Kata/istilah kata),
jurnalistik adalah laporan tentang peristiwa sehari-hari yang saat ini kita kenal
dengan istilah "berita" (news). Sedangkan secara singkat/sederhana adalah
kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Sedangkan menurut Kamus, Pengertian jurnalistik adalah kegiatan untuk
menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah, atau berkala
lainnya. Menurut Lesikom Kominikasi, pengertian jurnalistik adalah pekerjaan
mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan berita dan karangan
untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya misalnya radio dan televisi..

Pengertian Jurnalistik Menurut Para Ahli

F.Fraser Bond: Pengertian jurnalistik menurut F.Fraser Bond adalah segala


bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada
kelompok pemerhati.

M.Ridwan: Menurutnya, pengertian Jurnalistik adalah suatu kepandaian


praktis mengumpulkan, mengedit berita untuk pemberitaan dalam surat kabar,
majalah, atau terbitan terbitan berkala lainnya.

Adinegoro: Pengertian Jurnalistik menurut Adinegoro adalah semacam


kepandaian karang mengarang yang pokoknya memberi perkabaran pada
masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya.

Summanang: Menurunya, pengertian jurnalistik adalah segala sesuatu yang


menyangkut kewartawanan.

Onong U. Efendi: Jurnalistik adalah teknik mengelola berita sejak dari


mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak.

Amar dan Sumadiria: Pengertian Jurnalistik adalah kegiatan


mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluasluasnya/

.4

Erik Hodgins (Redeaktur Majalah Time): Menurutnya pengertian


jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar,
seksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan.

A.W. Widjaya: Pengertian Jurnalistik menurut A.W. Wijaya merupakan suatu


kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun
alasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual
dan factual dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Roland E. Wolseley: Menurunya, Pengertian Jurnalistik adalah


pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi
umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat
dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di
stasiun siaran.

Ensiklopedia Indonesia: jurnalistik adalah bidang profesi yang


mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan
sehari-hari secara teratur, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan
yang ada.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah fungsi pers ?
2. Bagaimana perkembangan pers di Indonesia ?
3. Apa sajakah kode etik jurnalistik?
4. Bagaimana bentuk penyimpanagan kode etik jurnalistik?
5. Apakah manfaat media massa untuk masyarakat?
6. Bagaimana dampak dari penyalahgunaan kebebasan pers?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan berbagai fungsi pers dikehidupan.
2. Mendeskripsikan tentang alur perkembangan pers di Indonesia.
3. Menyebutkan dan menjelaskan kode etik pers Indonesia.
4. Menggambarkan hal-hal penyimpangan yang dilakukan oknum pers.
5. Menjelaskan kegunaan dalam bermasyarakat
6. Menjelaskan dampak yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan kebebasan
pers.

.5

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fungsi Pers
Fungsi dan Peranan Pers, Pers adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
media massa untuk mengumpulkan , mengelola , dan menerbitkan informasi.
Fungsi pers dalam kehidupan sehari - hari adalah sebagai media informasi ,
media hiburan , media pendidikan , media kontrol , dan sebagai lembaga
ekonomi. Dalam sumber lain disebutkan fungsi pers adalah mat dan telinga,
perberi isyarat pemberi tanda-tanda dini, pembentuk opini dan pengarah agenda
ke depan.
Fungsi Pers di Indonesia:
1. Pers Sebagai Media Informasi
Fungi Pers sebagai media informasi berfungsi untuk memenuhi hak
masyarakat untuk mengetahui informasi yang ada. Setiap informasi yang
diterbitkan pers harus bersifat asli , obyektif , dan harus dikelola sesuai
peraturan perundangan Pers.
2. Pers Sebagai Media Hiburan
Pers sebagai media hiburan berfungsi sebagai memberikan hiburan kepada
masyarakat berupa cerpen , gambar karikatur , cerita bergambar. Selain itu ,
pers juga bisa menayangkan aktivitas - aktivitas terkini tentang artis - artis.
Dalam memberikan hiburan , pers harus sesuai dengan fungsi pancasila dan
norma - norma yang berlaku.
3. Pers Sebagai Media Pendidikan
Pers sebagai media pendidikan berfungsi untuk menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan masyarakat. Dalam hal ini , pers menyediakan artikel artikel yang bersifat mendidik. Artikel berisi tentang ilmu pengetahuan baik
ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial. Artikel yang
disajikan juga harus bersifat menarik agar menarik untuk dibaca.
4. Pers Sebagai Media Kontrol
Pers sebagai media kontrol berfungsi untuk melakukan kontrol oleh rakyat
terhadap pemerintah. Kontrol yang dimaksud adalah kontrol sosial , kontrol
tanggung jawab , kontrol suport , dan kontrol partisipasi.

5. Pers Sebagai Lembaga Ekonomi


Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga ekonomi , pers bertujuan
untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan menyerap tenaga kerja. Hal ini
diharapkan bisa mengurangi tingkat penggangguran.
.6

Dalam kehidupan di Indonesia , pers yang berlaku adalah Sistem Pers


Pancasila. Pers Pancasila ini memiliki peranan yang sangat penting.

2.2 Perkembangan pers di Indonesia


Tahap Tahap Perkembangan PERS di Indonesia
1. Masa Penjajahan
Pada masa penjajahan, surat kabar yang dikeluarkan oleh bangsa Indonesia
berfungsi sebagai alat perjuangan pers yang menyuarakan kepedihan
penderitaan dan merupakan refleksi dari isi hati bangsa yang terjajah.
a. Masa Pendudukan Belanda
Pada tahun 1615 atas perintah Jan Pieterzoon Coen, yang kemudian
pada tahun 1619 menjadi Gubernur Jenderal VOC, diterbitkan Memories
der Nouvelles, yang ditulis dengan tangan. Dengan demikian, dapatlah
dikatakan bahwa surat kabar pertama di Indonesia ialah suatu penerbitan
pemerintah VOC.
Pada Maret 1688, tiba mesin cetak pertama di Indonesia dari negeri
Belanda. Atas intruksi pemerintah, diterbitkan surat kabar tercetak pertama
dan dalam nomor perkenalannya dimuat ketentuan-ketentuan perjanjian
antara Belanda dengan Sultan Makassar. Setelah surat kabar pertama
kemudian terbitlah surat kabar yang diusahakan oleh pemilik percetakanpercetakan di beberapa tempat di Jawa. Surat kabar tersebut lebih
berbentuk koran iklan
Ciri-Ciri pers pada masa belanda :
Dibatasi dan Diancam dengan Kitab Undang- Undang Hukum Pidana
Persbreidel Ordonantie
Haatzai Artikelen
Kontrol yang Keras Terhadap Pers
b. Masa Pendudukan Jepang
Pada masa ini, surat kabar-surat kabar Indonesia yang semula
berusaha dan berdiri sendiri dipaksa bergabung menjadi satu, dan segala
bidang usahanya disesuaikan dengan rencana-rencana serta tujuan-tujuan
tentara Jepang untuk memenangkan apa yang mereka namakan Dai Toa
Senso atau Perang Asia Timur Raya. Dengan demikian, di zaman
pendudukan Jepang pers merupakan alat Jepang. Kabar-kabar dan
karangan-karangan yang dimuat hanyalah pro-Jepang semata.
Ciri-Ciri Pers pada Masa Jepang :
Penekanan Terhadap Pers Indonesia
Bersifat fasis memanfaatkan instrumen untuk menegakan kekusaan
pemerintahannya
c. Masa Revolusi Fisik
Peranan yang telah dilakukan oleh pers kita di saat-saat proklamasi
kemerdekaan dicetuskan, dengan sendirinya sejalan dengan perjuangan
rakyat Indonesia. Bahkan tidak sedikit dari para wartawan yang langsung
turut serta dalam usaha-usaha proklamasi. Semboyan Sekali Merdeka
Tetap Merdeka menjadi pegangan teguh bagi para wartawan.
Periode tahun 1945 sampai 1949 yang biasa dinamakan periode revolusi
fisik, membawa coraknya tersendiri dalam sifat dan fungsi pers kita.
Dalam periode ini pers kita dapat digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu
pertama, pers yang terbit dan diusahakan di daerah yang dikuasai oleh
pendudukan sekutu, kemudian Belanda, dan kedua pers yang terbit

.7

diusahakan di daerah yang dikuasai oleh RI yang kemudian turut


bergerilya. Ciri-Ciri Pers Masa Revolusi:
Hubungan Pemerintah dan Pers Terjalin Baik
Pers Harus Menjaga Kepentingan Publik
Pembatasan Pers
2. Masa Revolusi (17 Agustus 1945-1949)
Pada masa itu pers dibagi menjadi 2 golongan yaitu pers yang diterbitkan
dan di usahakan oleh tentara pendudukan sekutu dan belanda yang selajutnya
dinamakan Pers NIKA. Pers yang diterbitkan dan diusahakan oleh bangsa
Indonesia yang dinamakan Pers Republik.
3. Masa Demokrasi Liberal (1949-1959)
Pers Nasional saat itu sesuai dengan alam liberal yang sangat menikmati
kebebasan Pers. Fungsi Pers pada masa ini adalah sebagai perjuangan
kelompok partai atau aliran politik. Dalam aksi-aksi ini peranan yang telah
dilakukan oleh pers republik sangat besar. Republik Indonesia Serikat yang
tidak sesuai dengan keinginan rakyat akhirnya bubar dengan terbentuknya
kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950.
Pada masa ini untuk memperoleh pengaruh dan dukungan pendapat umum,
pers kita yang pada umumnya mewakili aliran-aliran politik yang saling
bertentangan, menyalahgunakan kebebasan pers (freedom of the press), yang
kadang-kadang melampaui batas-batas kesopanan.
Ciri-Ciiri per Masa Demokrasi Liberal
Memberi Perlindungan yang Keras Terhadap Pers Namun dalam
Prakteknya Tidak
Pembatasan Terhadap Pers
Adanya Tindakan Antipers
4. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966)
Pada masa ini, pers menganut konsep Otoriter Pers di beri tugas
menggerakkan aksi-aksi masa yang revolusioner dengan jalan memberikan
penerangan membangkitkan jiwa dan kehendak masa agar mendukung
pelaksanaan manipol dan ketetapan pemerintah lainya.
Periode yang terjadi pada masa demokrasi terpimpin sering disebut
sebagai zaman Orde Lama. Periode ini terjadi saat terbentuknya Kabinet
Kerja yang dipimpin oleh Presiden Soekarno, sebagai tindak lanjut
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga meletusnya Gerakan 30
September 1965.
Ciri-Ciri Pers Masa Demokrasi Terpimpin:
Tidak Adanya Kebebasan Pers
Adanya Ketegasan Terhadap Pers
Pemerintah Mengontrol Setiap Kegiatan Pers
5. Orde Baru (1966-21 Mei 1998)
Pers masa orde baru di kenal dengan istilah Pers Pancasila dan di
tandai dengan di keluarkannya undang-undang pokok Pers no 11 tahun 1966.
Ketika alam Orde Baru ditandai dengan kegiatan pembangunan di segala
bidang, kehidupan pers kita pun mengalami perubahan dengan sendirinya
karena pers mencerminkan situasi dan kondisi dari kehidupan masyarakat di
mana pers itu bergerak. Pers sebagai sarana penerangan/komunikasi
merupakan salah satu alat yang vital dalam proses pembangunan.
Pada masa Orde Baru, ternyata tidak berarti kehidupan pers mengalami
kebebasan yang sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat. Terjadinya
pembredelan pers pada masa-masa ini menjadi penghalang bagi rakyat untuk
menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak asasinya dalam

.8

kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ciri-Ciri Pers


Masa Orde Baru:
Kebebasan Terhadap Pers
Pers Masa itu Sangat Buram
Berkembangnya Dunia Pers

6. Masa Reformasi (21 Mei 1998-sekarang)


Di Era Reformasi, pemerintah mengeluarkan berbagai undang-undang
yang benar-benar menjamin kebebasan Pers. Salah satu jasa pemerintahan
B.J. Habibie pasca Orde Baru yang harus disyukuri ialah pers yang bebas.
Pemerintahan Presiden Habibie mempunyai andil besar dalam melepaskan
kebebasan pers, sekalipun barangkali kebebasan pers ikut merugikan
posisinya sebagai presiden. Ciri-Ciri Pers Masa Reformasi:
Kebebasan Mengeluarkan Pendapat (Pers adalah Hak Asasi Manusia)
Wartawan Mempunyai Hak Tolak
Penerbit Wajib Memiliki SIUPP
Perusahaan Pers Tidak Lagi Melibatkan Diri ke Departemen Penerangan
untuk Mendapat SIUPP
2.3 Kode Etik Jurnalistik
Aliansi Jurnalis Independen percaya bahwa kemerdekaan pers dan hak
publik atas informasi merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Dalam
menegakkan kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik atas informasi,
anggota AJI wajib mematuhi Kode Etik sebagai berikut :
1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang
benar.
1 Jurnalis selalu menguji informasi dan hanya melaporkan fakta dan pendapat
yang jelas sumbernya.
1 Jurnalis tidak mencampuradukkan fakta dan opini.
1 Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang berkaitan dengan
kepentingan publik.
1 Jurnalis memberikan tempat bagi pihak yang tidak memiliki kemampuan
dan kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka.
1 Jurnalis mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan
dalam peliputan, pemberitaan serta kritik dan komentar.
1 Jurnalis menolak segala bentuk campur tangan pihak manapun yang
menghambat kebebasan pers dan independensi ruang berita.
1 Jurnalis menghindari konflik kepentingan.
1 Jurnalis menolak segala bentuk suap.
1 Jurnalis menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh
berita, gambar, dan dokumen.
1 Jurnalis segera meralat atau mencabut berita yang diketahuinya keliru atau
tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada publik.
1 Jurnalis melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi secara proporsional.
1 Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk
mencari keuntungan pribadi.
1 Jurnalis tidak menjiplak.
1 Jurnalis menolak praktik-praktik pelanggaran etika oleh jurnalis lainnya.

.9

1
1
1
1
1

Jurnalis menolak kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi,


dalam masalah suku, ras, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa,
agama, pandangan politik, orang berkebutuhan khusus atau latar belakang
sosial lainnya.
Jurnalis menghormati hak narasumber untuk memberikan informasi latar
belakang, off the record, dan embargo.
Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas
korban kejahatan seksual, dan pelaku serta korban tindak pidana di bawah
umur.
Jurnalis menghormati privasi, kecuali untuk kepentingan publik.
Jurnalis tidak menyajikan berita atau karya jurnalistik dengan mengumbar
kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik dan psikologis serta
kejahatan seksual.
Jurnalis menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, tidak beritikad buruk,
menghindari fitnah, pencemaran nama dan pembunuhan karakter.

2.4 Penyimpanagan kode etik jurnalistik


1. Sumber Imajiner
Sumber berita dalam liputan pers harus jelas dan tidak boleh fiktif.
Satu harian di Medan melaporkan bahwa dalam suatu kasus dugaan korupsi di
Partai Golkar Sumatera Utara, Kepolisian Daerah Sumut telah mengeluarkan
Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3). Menurut harian ini, sumber
berita adalah Komisaris Besar A. Nainggolan dari Hubungan Masyarakat Polda
Sumut yang diumumkan dalam sebuah konferensi pers. Ternyata pertemuan itu
tidak pernah ada. Begitu pula petugas humas yang dimaksud itu juga tidak
pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu. Dengan kata lain, sumber beritanya
fiktif. Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik yang dilakukan oleh wartawan harian
ini karena telah membuat berita dengan sumber imajiner alias tidak ada atau
fiktif.
2. Identitas dan Foto Korban Susila Anak-Anak Dimuat
Sesuai dengan asas moralitas, menurut Kode Etik Jurnalistik, masa
depan anak-anak harus dilindungi. Oleh karena itu, jika ada anak di bawah umur,
baik sebagai pelaku maupun korban kejahatan kesusilaan, identitasnya harus
dilindungi. Masih di Medan, satu harian lainnya menemukan adanya pencabulan
atau pelecehan seksual oleh seorang pejabat setempat terhadap seorang anak di
bawah umur. Koran ini sampai tiga kali berturut-turut menurunkan berita
tersebut. Di judul berita pun nama korban susila di bawah umur itu disebut
dengan jelas. Tidak hanya itu. Selain memuat identitas berupa nama korban, foto
korban pun terpampang dengan jelas dan menonjol karena ingin membuktikan
bahwa kejadian itu memang benar. Pemuatan nama dan pemasangan foto korban
susila di bawah umur inilah yang melanggar Kode Etik Jurnalistik.
3. Membocorkan Identitas Narasumber
Dalam kasus tertentu wartawan mempunyai Hak Tolak, yakni hak
untuk tidak mengungkapkan identitas narasumber. Hak ini dipakai karena pada
satu sisi pers membutuhkan informasi dari narasumber yang ada, tetapi pada sisi
lain keselamatan narasumber (dan juga mungkin keluarganya) dapat terancam
kalau informasi itu disiarkan. Untuk menghadapi keadaan seperti itulah maka
.10

kemudian ada Hak Tolak. Pers dapat meminta informasi dari narasumber, tetapi
narasumber dapat pula meminta kepada wartawan agar identitasnya tidak
disebutkan. Kalau ada yang menanyakan sumber informasi ini, pers berhak
menolak menyebutkannya. Inilah yang dimaksud dengan Hak Tolak. Sekali pers
memakai Hak Tolak, maka pers wajib untuk terus melindungi indentitas
narasumbernya. Dalam keadaan ini seluruh tanggung jawab terhadap isi
informasi beralih kepada pers. Pers yang membocorkan identitas narasumber
yang dilindungi Hak Tolak melanggar hukum dan kode etik sekaligus. Tetapi,
dalam praktik, karena takut akan ancaman atau tidak mengerti makna
kerahasiaan di balik Hak Tolak, masih ada terbitan yang membocorkan identitas
narasumber yang seharusnya dirahasiakan, baik yang dilakukan secara terbuka
maupun secara diam-diam.
4. Sumber Berita Tidak Jelas
Dalam liputan pers, sumber berita harus jelas. Ketika pesawat Adam
Air jatuh di laut Majene, Sulawesi Barat, pada Januari 2007, hampir semua pers
melakukan kesalahan fatal. Hanya beberapa jam setelah pesawat itu jatuh,
sebagian besar pers mewartakan bahwa pesawat tersebut jatuh di daerah tertentu.
Tak hanya itu, ada pula pers yang langsung memberitakan bahwa rangka
pesawat telah ditemukan. Lebih dahsyat lagi sampai ada yang memberitakan
bahwa sembilan korban ditemukan masih hidup. Ini luar biasa. Kenapa?
Karena setelah setahun peristiwa itu terjadi, ternyata semua berita tentang di
mana jatuhnya pesawat itu dan jumlah korban yang hidup sama sekali tidak
benar. Di mana pesawat jatuh pun tidak diketahui. Nasib korban juga tidak
diketahui. Tetapi, saat itu ada pers yang sampai berani mengatakan bahwa para
korban sedang dievakuasi. Black box pesawat ini baru ditemukan setahun
kemudian di bawah kedalaman 2.000 meter laut. Itu pun setelah ada pencarian
khusus dengan bantuan Amerika Serikat. Pelanggaran kode etik yang dilakukan
di sini adalah karena pers yang memberitakan kasus ini tidak mengecek lebih
dahulu dari mana asal usul sumber berita itu. Ketika dimintai konfirmasinya, dari
mana sumber berita ituyang mempunyai data yang keliru, ternyata sumber
berita tersebut imajiner alias tidak jelas. Pelanggaran kedua, tidak pernah ada
permintaan maaf dari pers terhadap peristiwa ini. Padahal, menurut Kode Etik
Jurnalistik, apabila pers mengetahui bahwa berita yang disiarkannya keliru,
maka mereka harus segera meralat dan meminta maaf.
5. Wawancara Fiktif
Untuk mengejar eksklusivitas, ada wartawan yang akhirnya melakukan
kesalahan fatal. Untuk membuktikan kehebatannya, sebagian wartawan sampai
menipu masyarakat dengan wawancara yang sebenarnya tidak pernah ada alias
fiktif. Satu harian di Jakarta memuat wawancara dengan seorang tokoh dalam
bentuk tanya jawab yang cukup panjang. Setelah dimuat, barulah diketahui
bahwa narasumber wawancara itu sebenarnya sudah meninggal dua tahun
sebelum laporan ini disiarkan. Dengan kata lain, wawancara tersebut fiktif alias
tidak
pernah
dilakukan
dengan
narasumber
yang
sebenarnya.
Jelas ini merupakan pelanggaran berat terhadap Kode Etik Jurnalistik karena
melakukan pemberitaan bohong. Tetapi, harian tersebut tidak pernah meminta
maaf.

.11

2.5 UPAYA PEMERINTAH DALAM MENGENDALIKAN


KEBEBASAN PERS
Upaya pemerintah dalam mengendalikan kebebasan pers pada
masa orde baru, pengawas kebebasan pers pemerintah
mengadakan sensor sebelum disiarkan atau sebelum
diterbitkan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan
maka pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan, antara
lain:
UUD 1945
Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi
Manusia
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
UU No. 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan menyampaikan
pendapat dimuka umum
UU No. 40 tahun 1999 tentang pers,
UU No. 40 tahun 2000 tentang pers Nasional
UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran
Dengan adanya batasan batasan tersebut diharapkan pers
dapat melakukan hal-hal yang dapat
meningkatkanperkembangan masyarakat indonesia
diantaranya:
. Memberikan hiburan sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat
Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat
. Menghindari terjadinya gangguan stabilitas yang menyangkut
SARA
Melindungi hak-hak pribadi agar golongan minoritas tidak
tertindas oleh golongan mayoritas.

.12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pers adalah alat memancarkan dan menyebarkan informasi, berita,
gagasan, pikiran, atau perasaan seseorang atau sekelompok orang kepada orang
lain. Pers mempunyai dua sisi kedudukan, yaitu: pertama ia merupakan medium
komunikasi yang tertua di dunia, dan kedua, pers sebagai lembaga masyarakat
atau institusi sosial merupakan bagian integral dari masyarakat, dan bukan
merupakan unsur yang asing dan terpisah daripadanya. Dan sebagai lembaga
masyarakat ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga- lembaga
masyarakat lainnya.
Sedangkan manfaat pers bagi masyarakat adalah sebagai penyalur
aspirasi rakyat,sebagai alat untuk kritik, saran, dan pengawasan,
serta media untuk pendidikan karena bebas menyebarkan iptek.

3.2 Saran dan Kritik


Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
poko bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahnnya, karena terbatas pengetahuan dan kurangnya rujukan yang
berhubungan dengan judul makalah ini.
Penulis berharap para pembanca bias memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi kesempurnannya makalah ini dan penulisan
makalah di kemudihan hari.
Semoga makalah in berguna bagi penulis khususnya pada para pembaca
pada umunnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://arlunswiss.blogspot.co.id/2013/12/kebebasan-pers-dandampak.html
http://aji.or.id/read/kode-etik.html
http://candycoffin.blogspot.co.id/2015/03/fungsi-dan-peranan-pers-diindonesia.html

.13