Anda di halaman 1dari 8

1.

Ligamen periodontal
Ligamen periodontal merupakan jaringan yang melekatkan gigi ke tulang alveolar.
Ligamen ini berhubungan dengan jaringan ikat gingiva melalui saluran vaskuler di dalam
tulang.
Serat ligamen periodontal terdiri dari 6 jenis, yaitu :
1. Serat transeptal ( transeptal group)
Serat transseptal berada sepanjang interproximal di atas puncak tulang alveolar
dan tertanam dalam sementum gigi yang berdekatan. Serat ini dapat dianggap
sebagai bagian dari gingiva karena tidak memiliki bagian osseous.
2. Alveolar crest group
Alveolar crest fibers menempel pada sementum apical dari cementoenamel
junction, turun dan masuk ke dalam tulang alveolar.
3. Serat horizontal (Horizontal group)
Serat horizontal menempel pada cementum apical menuju serat alveolar crest dan
berjalan secara perpendicular dari akar gigi menuju tulang alveolar.
4. Serat oblik (Oblique group)
Serat oblik merupakan sebagian besar serat dalam ligamentum periodontal,
berjalan dari cementum pada arah oblik masuk ke dalam tulang secara koroner.
5. Apical group
Menyebar dari cementum sekitar apeks akar menuju tulang, membentuk dasar
socket.
6. Interradicular fibers
Serat interadikular hanya ditemukan antara akar-akar pada gigi dengan
multiradiks, seperti mular. Mereka juga menempel dari cementum dan masuk
disekitar tulang alveolar.

Keterangan :
A) Transseptal
(B) Alveolar crest
(C) Horizontal
(D) Oblique
(E) Apical
(F) Interradicular.

Gambar 1. Ligamen Periodontal


Caranza and George W. Bernard. The Tooth-Supporting Structures. USA : W.B
saunders Company. 2002. 36-37
2. Gingiva
Secara anatomi gingival terbagi atas gingival marginal, attached gingival dan daerah
interdental.
1. gingival marginal
Marginal gingiva merupakan bagian tepi gingiva yang mengelilingi gigi. Pada 50%
kasus, batas marginal gingiva dengan attached gingiva ditandai dengan adanya lekukan
dangkal yang disebut free gingival groove. Marginal gingiva umumnya memiliki lebar
1mm, yang membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva.
2. Attached gingiva
Attached gingiva merupakan kelanjutan dari marginal gingiva. Jaringan padat ini terikat
kuat dengan periosteum tulang alveolar dibawahnya.

3. Interdental gingiva
Interdental gingiva mewakili gingival embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal
dibawah tempat berkontaknya gigi. Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau
berbentuk seperti lembah.
Di antara marginal gingiva dan gigi terdapat ruang sempit di sekeliling gigi yang disebut
sulcus gingival. Kedalaman dari sulcus gingival dibatasi oleh attached gingival yang
berukuran normal rata-rata 1,8 mm.
Gambaran gingiva normal
1. Warna
Gingiva normal umumnya memiliki warna yang disebut "coral pink."
2. Ukuran
ukuran gingiva disesuaikan dengan jumlah total sebagian besar elemen seluler dan
antar sel serta pasokan darah.. Perubahan dalam ukuran merupakan gambaran
umun dari penyakit gingival.
3. Kontur
Kontur atau bentuk dari gingival bervariasi sesuai dengan bentuk gigi dan
lengkungan rahang.
4. Konsistensi
Gingiva dengan konsistensi padat dan terikat erat pada tulang yang mendasarinya.

Gambar 2. Gingiva

Caranza and Maria E. The Gingiva. USA : W.B saunders Company. 2002.16-31
3. Mekanisme pertahanan gingiva
Jaringan gingiva mendapat iritasi mekanis dan bakteri secara terus menerus. Oleh
karena itu saliva, permukaan epitel, dan tahap awal dari respon inflamasi membuat
gingiva resisten terhadap segala jenis iritan tersebut.
a. Cairan Sulkuler.

Komposisinya bisa terdiri dari spesifik antibodi, antigen, enzim dan elemen
seluler.
b. Permeabilitas

Junctional

epithelium

dan

sulkuler

epithelium.

Squier dan Johnson telah melaporkan mekanisme penetrasi yang melalui suatu
epitel yang utuh .Perpindahan antar sel dari molekul-molekul dan ion sepanjang
ruang antar sel tampak sebagai mekanisme yang memungkinkan.Substansi yang
berpindah ini tidak melewati membran sel.
c. Saliva

Saliva mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan rongga
mulut seperti fungsi lubrikasi, aliran saliva yang memberi efek self cleansing
dalam rongga mulut,serta adanya berbagai substansi anti bakteri.
Seperti cairan sulkuler gingival ,saliva terdiri dari antibodi yang bersifat reaktif
terhadap flora normal dalam rongga mulut.Walaupun didalam saliva juga
ditemukan Imunoglobin G dan IgM, tapi jenis imunoglobin yang terbanyak
adalah imunoglobin A, sedangkan IgG prevalensinya lebih banyak pada cairan
sulkuler gingival. Kelenjar saliva mayor dan minor berperan pada sekresi IgA,
disamping memproduksi IgG dan IgM dalam jumlah yang kecil.
Caranza and Jamie B. Defense mechanisms of the Gingiva . USA : W.B saunders
Company. 2002.254-260

4. Papilla Lidah
Terdapat empat jenis papila terdapat pada permukaan dorsal lidah, yaitu:
1.

Papila fungiformis
Jumlahnya tidak sebanyak papila filiformis, berbentuk seperti jamur, kecil dan
sedikit menonjol, tampak jelas pada tepi lateral. Letaknya tersebar diantara

2.

deretan papilla filiformis dan jumlahnya makin banyak kearah ujung lidah.
Papila filiformis
Papila filiformis merupakan papila yang terbanyak dan menutupi dua pertiga
permukaan

anterior lidah. Sesuai namanya, fili yang berarti benang, papila

filiformis ini membentuk tonjolan-tonjolan kecil berbentuk kerucut seperti benang


halus, langsing, tingginya 2-3 mm dan bewarna keputihan, akibat tebalnya epitel
bertanduk, dan mempunyai tonjolan berambut. Umumnya tersusun dalam barisanbarisan sejajar dengan sulkus terminalis. Bagian tengahnya terdiri atas jaringan
3.

ikat lamina propria. Jaringan ikat tersebut juga membentuk papil sekunder.
Papila Foliata
Papila ini susah untuk diidentifikasi atau dikenali, berbentuk seperti daun yang
menonjol dan terdapat pada daerah dasar lidah. Berbentuk lipatan-lipatan mirip

daun, dengan kuncup kecap didalam epitel lekukan yang terdapat didalam lipatan.
4.
Papila Sirkumvalata
Berukuran besar, letaknya melingkar dikelilingi oleh fissur, berjumlah 10 hingga
12 dan terletak berderet tepat di depan sulkus terminalis. Tiap papila bergaris
tengah 2 mm dan sedikit menonjol di atas permukaan dan dibatasi oleh suatu
sulkus dengan banyak kuncup kecap pada epitel dinding lateralnya.

Gambar 3. Papilla lidah


5. Fungsi Mukosa
5. Tulang alveolar
Tulang alveolar merupakan

bagian dari tulang maxila dan mandibula yang

membentuk dan mendukung soket gigi (alveoli). Tulang alveolar terbentuk pada saat gigi
erupsi untuk menyediakan perlekatan tulang pada ligamen periodontal. Tulang alveolar
dapat dibagi menjadi daerah yang terpisah dari basis anatomi, tetapi fungsinya
merupakan satu kesatuan dengan semua bagian yang saling berhubungan diantara
jaringan pendukung gigi.

Tulang alveolar terdiri dari :


1. Keping kortikal eksternal yang dibentuk oleh tulang Haver's dan lamella tulang
compact. Keping kortikal eksternal menutupi tulang alveolar dan lebih tipis pada
bagian facial. Keping kortikal eksternal berjalan miring ke arah koronal untuk

bergabung dengan tulang alveolar sejati dan membentuk dinding alveolar dengan
ketebalan sekitar 0,1 - 0,4 mm. Dinding alveolar dilalui oleh pembuluh darah dan
pembuluh lymph serta saraf yang masuk ke dalam ruang periodontal melalui sejumlah
kanal kecil.
2. Dinding soket yang tipis pada bagian dalam tulang compact disebut alveolar bone
proper yang terlihat seperti lamina dura pada gambaran radiografis.
3. Trabekula cancellous berada diantara dua lapisan tulang compact yang berfungsi
sebagian pendukung tulang alveolar.

Gambar 4. Struktur Tulang Alveolar


Ketinggian dan kepadatan tulang alveolar diatur secara seimbang oleh faktor lokal
dan sistemik antara pembentukan tulang dan resorpsi tulang,. Apabila terjadi resorpsi
maka pembentukan ketinggian tulang, kepadatan atau keduanya menjadi berkurang.
Resorpsi tulang adalah proses morfologi kompleks yang berhubungan dengan adanya
erosi pada permukaan tulang dan osteoklas. Osteoklas berasal dari jaringan

hematopoietik dan terbentuk dari penyatuan sel mononuclear. Ketika osteoklas aktif,
terjadi penambahan enzim hidrolitik yang akan disekresikan pada daerah border. Enzim
ini merusak bagian organik tulang. Aktivitas osteoklas dan morfologi daerah border
dapat dimodifikasi dan diregulasi oleh hormon seperti parathormone dan calcitonin yang
mempunyai reseptor pada membran osteoklas.
Mekanisme lain dari resorpsi tulang terdiri dari kumpulan lingkungan yang bersifat asam
pada permukaan tulang yang akan mengakibatkan hilangnya komponen mineral tulang.
Hal ini dapat ditimbulkan oleh kondisi yang berbeda diantaranya terdapat pompa proton
melalui membran sel osteoklas, tumor tulang, atau tekanan lokal keluar melalui aktivitas
sekretori dari osteoklas
Ten Cate (1994) menjelaskankan urutan terjadinya proses resorpsi sebagai berikut :
1. Perlekatan osteoklas pada permukaan tulang yang termineralisasi.
2. Pembentukan penutup lingkungan asam melalui aksi pompa proton, dimana
tulang terdemineralisasi dan terbukanya matriks organik.
3. Degradasi rnatriks organik yang telah terbuka dengan unsur pokok asam amino
oleh aksi enzim yang dikeluarkan, seperti asam fosfat dan cathepsine.
4. Penghancuran ion mineral dan asam amino di dalam osteoklas

Caranza and Maria E. The Tooth- Supporting Structures. USA : W.B saunders
Company. 2002.45-50.