Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pelayanan kesehatan merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam sebuah
individu atau kelompok dalam sebuah organisasi, bertujuan untuk memelihara atau
menjaga kesehatan dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan juga menyembuhkan
penyakit, serta mengembalikan kesehatan sebuah individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat. Depkes RI (2009) pun mengungkapkan pendapatnya seputar pengertian
pelayanan kesehatan, yaitu setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,
keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat. Pelayanan kesehatan diberikan mulai
dari layanan kesehatan primer sampai lanjutan dalan hal ini rumah sakit.1
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah
pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.2
Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan
medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. Para
petugas kesehatan bertugas di unit gawat darurat 24 jam sehari. Semua pasien yang
masuk ke rumah sakit harus melewati UGD kemudian dilihat dalam hal
kegawatdaruratan pasien yang akan dilayani sesuai urutan prioritas gawat
daruratnya.2,3
Sebagai tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat yang bekerja di unit
gawat darurat sangat beresiko tinggi tertularnya penyakit. Tenaga kesehatan di unit
gawat darurat merupakan lini terdepan yang 24 jam berinteraksi dengan pasien dalam
memberikan pelayanan kesehatan (Elvia, 2013). Penularan penyakit dapat melalui
udara, cairan tubuh seperti muntah, air seni bahkan lewat peralatan medis yang
digunakan.4
Infeksi nosokomial atau yang kini dikenal dengan Healthcare Associated
Infections (HAIs) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting.
Infeksi nosokomial berhubungan dengan peningkatan angka kesakitan dan kematian,
peningkatan

lama perawatan, peningkatan


1

biaya kesehatan akibat

lamanya

perawatan, diagnosis dan pengobatan. Selain itu, tingginya kejadian infeksi


nosokomial menimbulkan citra buruk sebuah rumah sakit dan penurunan jumlah
konsumen. Dampak buruk infeksi nosokomial tidak hanya itu, tetapi juga membawa
dampak hukum, dimana terjadi

tuntutan pengadilan yang membawa kerugian

material dan immaterial.5


Journal of Hospital Infection 2008 melaporkan, lebih dari 1,4 juta pasien di
seluruh dunia, baik di negara berkembang dan negara maju, menderita penyakit yang
disebabkan infeksi terkait perawatan di rumah sakit. Secara umum di seluruh dunia, 510 persen pasien mengalami infeksi nosokomial, dengan prevalensi rata-rata 20
hingga 30 persen pada pasien yang masuk ke bangsal ICU.6
Di perkirakan pada tahun 2010 telah terjadi penularan Hepatitis B (39%),
Hepatitis C (40%), dan HIV (5%) pada tenaga kesehatan diseluruh dunia. Sejumlah
studi menunjukkan 17,6 % perawat yang mendapatkan infeksi di Rumah Sakit, di
Maroko 50% di dapat dibagian ruang gawat darurat. International Council of Nurse
(2005) melaporkan bahwa sekitar 19-35% semua kematian pegawai kesehatan
pemerintah di Afrika disebabkan oleh HIV/AIDS.5,6
Secara global, lebih dari 35 juta petugas kesehatan menghadapi risiko
perkutan akibat terkena benda tajam yang terkontaminasi. Tingginya prevalensi
penyakit seperti HIV/AIDS, Hepatitis tipe B dan TB Paru serta penyakit menular
lainnya berarti meningkat pula risiko tenaga kesehatan yang dapat tertular penyakitpenyakit infeksi, khususnya bila kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh tidak
dilaksanakan terhadap semua pasien.6
Karena itulah pengendalian infeksi di rumah sakit sangat krusial, mengingat
dampak dari infeksi terkait perawatan di rumah sakit berimplikasi pada perpanjangan
masa

rawat

inap,

kelumpuhan

jangka

panjang,

meningkatnya

resistensi

mikroorganisme terhadap antimikroba, beban finansial tambahan yang cukup besar


bagi pasien dan keluarganya, serta meningkatnya jumlah kematian.7
Berdasarkan pengamatan oleh otoritas kesehatan publik, kepatuhan dalam
menjalankan kebersihan tangan oleh tenaga kesehatan hanya sekitar 30-50 %.
Permasalahan ini merupakan isu yang harus dihadapi dan ditangani oleh fasilitasfasilitas kesehatan di manapun, termasuk di Indonesia. Kemampuan untuk mencegah
2

transmisi infeksi di rumah sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan
pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu.7
Penggunaan APD merupakan salah satu bagian dari usaha tenaga kesehatan
untuk menyediakan lingkungan yang bebas dari infeksi sekaligus sebagai upaya
perlindungan diri dan pasien terhadap penularan penyakit. Seorang tenaga kesehatan
diharapkan mempunyai motivasi untuk berperilaku mencegah terjadinya infeksi
nosokomial. Penyusunan prosedur tetap atau standart operasional prosedur yang
mengatur tentang APD di rumah sakit,

akan mengurangi risiko seorang tenaga

kesehatan tertular oleh penyakit sehingga keselamatan kerja akan lebih terjamin dan
pemberian pelayanan akan lebih bermutu karena dilakukan sesuai standart operasional
yang ada selain itu juga dapat memberikan sanksi tegas bagi mereka yang tidak patuh
terhadap kebijakan yang ditetapkan.5,6
Di rumah sakit Sam Ratulangi berdasarkan pengalaman yang terjadi peneliti
bersama tenaga medis lainnya pernah kontak dengan pasien infeksi. Kejadian ini
membuat semua petugas kesehatan yang bertugas saat pasien tersebut masuk unit
gawat darurat dan selama pasien mendapat perawat di rawat inap harus vaksinasi.
Semuanya berjumlah hampir 50 orang petugas kesehatan meliputi dokter, perawat
maupun mahasiswa perawat. Selain itu, fasilitas-fasilitas penunjang seperti handwrab
tidak ada, air terkadang mati, tempat sampah non medis dan medis tidak memadai,
bahkan tempat jarum bekas dan benda tajam lainnya juga belum memadai. Di ugd
peneliti melihat ada beberapa petugas kesehatan yang belum menggunakan Alat
Pelindung Diri belum sesuai dengan ketentuan penggunaan APD namun tidak pernah
dilaporkan mengenai dengan jelas mengenai angka kejadian infeksi yang pernah
terjadi pada petugas kesehatan. Berdasarkan masalah diatas penulis ingin mengambil
residensi tentang penatalaksanaan Program Pengedalian Infeksi khususnya di unit
gawat darurat.
1.2

Tujuan
Untuk mengetahui gambaran pencegahan dan pengendalian infeksi di unit gawat
darurat RSUD Sam Ratulangi Tondano.

1.3
1.3.1

Manfaat
Bagi mahasiswa
- Menambah pengetahuan dan pengalaman tentang program pengendalian dan
pencegahan infeksi di unit gawat darurat di RSUD Sam Ratulangi Tondano

Memberikan pemahaman kepada petugas kesehatan tentang pentingnya


pengendalian dan pencegahan infeksi melalui penggunaan APD maupun

1.3.2

program cuci tangan.


Bagi Rumah sakit
Membantu rumah sakit dalam program pengendalian dan pencegahan infeksi di unit

1.3.3

gawat darurat di RSUD Sam Ratulangi Tondano


Bagi Institusi pendidikan
Menjadi umpan balik pengembangan materi kurikulum dan metode pembelajaran.

BAB II
4

TINJAUAN PUSTAKA
1

GAWAT DARURAT
A. Pengertian Gawat Darurat
Menurut Azrul (1997) yang dimaksud gawat darurat (emergency care) adalah bagian
dari pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk
menyelamatkan kehidupannya (life saving).
Instalasi gawat darurat adalah salah satu sumber utama pelayanan kesehatan di rumah
sakit. Ada beberapa hal yang membuat situasi di IGD menjadi khas, diantaranya adalah
pasien yang perlu penanganan cepat walaupun riwayat kesehatannya belum jelas.
Maksud dari pelayanan rawat darurat adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang
dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk menyelamatkan kehidupannya. Unit
kesehatan

yang

menyelenggarakan

pelayanan

rawat

darurat

disebut

dengan

nama Instalasi Gawat Darurat (IGD). Tergantung dari kemampuan yang dimiliki,
keberadaan IGD dapat beraneka macam. Namun yang lazim ditemukan adalah yang
tergabung dalam rumah sakit.
Meskipun telah majunya sistem rumah sakit yang dianut oleh suatu negara bukan
berarti tiap rumah sakit memiliki kemampuan mengelola IGD sendiri. Penyebab utama
kesulitan untuk mengelola IGD adalah karena IGD merupakan salah satu dari unit
kesehatan yang paling padat modal, padat karya, serta padat teknologi.
IRD yaitu suatu tempat / unit pelayanan dirumah sakit yang memiliki tim kerja
dengan kemampuan khusus dan peralatan yang memebrikan pelayanan pasien gawat
darurat yang terorganisir. Instalasi pelayanan pertama bagi pasien yang datang ke rumah
sakit terutama dalam hal kedaruratan berdasrkan kriteria standart baku.
B.

Kegiatan IGD
Instalasi Gawat Darurat yang merupakan suatu bentuk penanganan kegawatdaruratan

memiliki berbagai macam kegiatan. Menurut Flynn (1962) dalam Azrul (1997) kegiatan IGD
secara umum dapat dibedakan sebagai berikut:
a.

Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.


Kegiatan utama yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat. Sayangnya jenis pelayanan kedokteran yang bersifat khas
seing disalah gunakan. Pelayanan gawat darurat yang sebenarnya bertujuan untuk
menyelamatkan kehidupan penderita (live saving), sering dimanfaatkan hanya untuk
5

memperoleh pelayanan pertolongan pertama (first aid) dan bahkan pelayanan rawat
jalan (ambulatory care)
b.

Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan


pelayanan rawat inap intensif.
Kegiatan kedua yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan
pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan intensif.
Pada dasarnya pelayanan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat darurat, yakni
dengan merujuk kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat untuk memperoleh
pelayanan rawat inap intensif.

c.

Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.


Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan
informasi medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan
anggota masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis darurat
(emergency medical questions).

C.

Disiplin Pelayanan
Disiplin pelayanan adalah suatu aturan yang berkaitan dengan cara memilih anggota

antrian yang akan dilayani lebih dahulu. Disiplin yang biasa digunakan adalah (Subagyo,
1993) :
1. FCFS

: First Come-First Served (pertama masuk, pertama dilayani)

2. LCFS

: Last Come-First Served (terakhir masuk, pertama dilayani)

3. SIRO

: Service In Random Order (pelayanan dengan urutan acak)

4. Emergency First

: Kondisi berbahaya yang didahulukan.

Dalam hal kegawatdaruratan pasien yang datang ke IRD akan dilayani sesuai urutan
prioritas yang ditunjukan dengan labelisasi warna ,yaitu :
a. Biru

: Gawat darurat,resusitasi segera yaitu Untuk penderita sangat gawat/ ancaman

nyawa.
b. Merah : Gawat darurat,harus MRS yaitu untuk penderita gawat darurat (kondisi stabil /
tidak membahayakan nyawa )
c. Kuning : Gawat darurat ,bisa MRS /Rawat jalan yaitu Untuk penderita darurat, tetapi
tidak gawat
d. Hijau : Gawat tidak darurat,dengan penanganan bisa rawat jalan yaitu Untuk bukan
penderita gawat.
e. Hitam : Meninggal dunia
6

Prioritas dari warna-warna tersebut, yaitu :


1. Biru :

a)

Henti jantung yang kritis

b) Henti nafas yang kritis


c)

Trauma kepala yang kritis

d) Perdarahan yang kritis


2. Merah :

a)

Sumbatan jalan nafas atau distress nafas

b) Luka tusuk
c)

Penurunan tekanan darah

d) Perdarahan pembuluh nadi


e)

Problem kejiwaan

f)

Luka bakar derajat II >25 % tidak mengenai dada dan muka

g) Diare dengan dehidrasi


h) Patah tulang
3. Kuning :

a)

Lecet luas

b) Diare non dehidrasi


4. Hijau :

c)

Luka bakar derajat I dan derajat II > 20 %

a)

Gegar otak ringan

b) Luka bakar derajat I


Gawat

: Suatu keadaan yang mengancam nyawa pasien

Darurat

: Suatu keadaan yang segera memerlukan pertolongan

Saat tiba di IRD pasien biasanya menjalani pemilahan terlebih dahulu anamnesis
untuk membantu menentukan sifat dan keparahan penyakitnya. Penderita yang kena penyakit
serius biasanya lebih sering mendapat visite lebih sering oleh dokter daripada mereka yang
penyakitnya tidak begitu parah . Setelah penaksiran dan penanganan awal pasien bisa dirujuk
ke Rumah sakit distabilkan dan dipindahkan ke rumah sakit lain karena berbagai alasan atau
dikeluarkan. Kebanyakan IRD buka 24 jam ,meski pada malam hari jumlah staf yang ada
akan lebih sedikit.
D.

Tujuan ird

1.

Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat

2.

Menerima rujukan pasien atau mengirim pasien

3.

Melakukan

penanggulangan

korban

musibah

terjadi dalam maupun diluar rumah sakit

masal

dan

bencana

yang

4.

Suatu IRD harus mampu memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi pada masyarakat
dengan problem medis akut

E.

Kriteria ird

1. IRD harus buka 24 jam


2. IRD juga harus memiliki penderita penderita false emergency (korban yang
memerlukan tindakan medis tetapi tidak segera),tetapi tidak boleh memggangu /
mengurangi mutu pelayanan penderita- penderita gawat darurat.
3. IRD sebaiknya hanya melakukan primary care sedangkan definitive care dilakukan
ditempat lain dengan cara kerjasama yang baik
4. IRD harus meningkatkan mutu personalia maupun masyarakat sekitarnya dalam
penanggulangan penderita gawat darurat (PPGD)
5. IRD harus melakukan riset guna meningkatkan mutu / kualitas pelayanan kesehatan
masyarakat sekitarnya.
G.

Kemampuan tenaga perawat ird


Sesuai dengan pedoman kerja perawat,Depkes 1999
1.

Mampu mengenal klasifikasi dan labelisasi pasien

2.

Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas,gagal jantung, kejang, koma,


perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah panggul dan kasus
ortopedi.

H.

3.

Mampu melaksanakan pencatatan dan pelaporan Askep

4.

Mampu berkomunikasi :intern dan ekstern

Sarana dan prasarana fisik ruangan yang diperlukan di ird


Ketentuan umum fisik bangunan :

1.

Harus mudah dijangkau oleh masyarakat

2.

Harus mempunyai pintu masuk dan keluar yang berbeda (Alur masuk kendaraan
/pasien tidak sama dengan alur keluar)

3.

Harus memiliki ruang dekontaminasi (dengan fasilitas shawer) yang terletak antara
ruang triage (ruang penerimaan pasien) dengan ruang tindakan

4. Ambulans / kendaraan yang membawa pasien harus dapat sampai di depan pintu
5.

Ruang triage harus dapat memuat minimal 2 brankar

I.

Prinsip penanggulangan penderita gawat darurat


Ada beberapa istilah yang digunakan dalam unit gawat darurat berdasarkan Prioritas
Perawatannya, antara lain :
a.

Gawat Darurat (P1)


Keadaaan yang mengancam nyawa/adanya gangguan ABC dan perlu tindakan
segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran , trauma mayor dengan
perdarahan hebat

b.

Gawat Tidak Darurat (P2)


Keadaan mengangancam nyawa tetepi tidak memerlukan tindakan darurat. Setelah
dilakukan resusitasi maka ditindak lanjuti oleh dokter specialis. Misalnya : pasien
kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainya.

c.

Darurat Tidak Gawat (P3)


Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan darurat. Pasien
sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung diberikan terapi definitif. Untuk
tindak lanjut dapat ke poliklinik, misalnya: laserasi, fraktur minor/tertutup,sistitis,
otitis media dan lainya.

d.

Tidak Gawat Tidak Darurat


Keaadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan gawat.
Gejala dan tanda klinis ringan/asimptomatis. Misalnya penyakit kulit, batuk, flu, dan
sebagainya (ENA, 2001;Iyer, 2004)

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


PPI di RS merupakan suatu upaya kegiatan untuk meminimalkan atau mencegah

terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung dan masyarakat sekitar RS. Ditinjau dari
asal didapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas (community acquired infection) atau
9

berasal dari lingkungan RS (hospital acquired infection) yg sebelumnya lebih dikenal dengan
istilah infeksi nosokomial.
Tujuan pengorganisasian program PPI adalah mengidentifikasi dan menurunkan risiko
infeksi yg didapat dan ditularkan diantara pasien, staf, tenaga profesional kesehatan, tenaga
kontrak, tenaga sukarela, mahasiswa dan pengunjung.
Standar PPI menunjuk satu atau lebih individu mengawasi seluruh kegiatan PPI.
Individu tersebut kompeten dalam praktek PPI

yang diperolehnya melalui pendidikan,

pelatihan, pengalaman atau sertifikasi. Hal ini dikenal dengan istilah Infection Controling
Nurse atau Infection Prevention and Controling Nurse (ICN/IPCN).
ICN (infection control nurse)/IPCN (Infection prevention and control nurse), bekerja
purna waktu dengan ratio 1 IPCN untuk tiap 100 150 tempat tidur di rumah sakit. Dalam
bekerja IPCN dapat dibantu beberapa IPCLN (Infection prevention and control link nurse)
dari tiap unit, terutama yg berisiko terjadinya infeksi.
Kriteria IPCN adalah :

Perawat dng pendidikan min D 3 & memiliki sertifikasi

pelatihan PPI/IPCN

Memiliki komitmen di bidang PPI

Memiliki pengalaman sebagai Ka ruangan atau setara

Memiliki kemampuan leadership, inovatif dan confident

Bekerja purna waktu

Tugas & tanggung jawab PPI mengacu pada buku pedoman manajerial PPI & fas
yankes lainnya
Ada penetapan mekanisme koordinasi untuk seluruh kegiatan PPI yang melibatkan

dokter, perawat dan tenaga lainnya sesuai ukuran dan kompleksitas rumah sakit. Untuk itulah
dibentuk Komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi. Komite ini memliki tugas untuk
menetapan mekanisme untuk koordinasi program pencegahan dan pengendalian infeksi yang
melibatkan dokter, perawat, profesional PPI, urusan rumah tangga (housekeeping) serta
tenaga lainnya sesuai ukuran dan kompleksitas rumah sakit.
Susunan Komite PPI
1. Ketua sebaiknya dokter (IPCO/Infection Prvention and Control Officer)
2. Sekretaris sebaiknya IPCN
Anggota :
3. Dokter wakil dari tiap SMF
4. Dokter ahli epidemiologi
10

5. Dokter Mikrobiologi/Patologi klinik


6. Petugas Lab
7. Petugas farmasi

Pembuatan
Program PPI

8. Perawat PPI/IPCN
9. Petugas CSSD
10. Petugas Laundry
11. Petugas IPSRS/Maintenance
12. Petugas Sanitasi
13. Petugas House keeping
14. Petugas K-3 RS
15. Petugas Kamar Jenazah
Kebijakan managemen untuk PPI
a. Kebijakan kewaspadaan isolasi
-

Kebersihan tangan
Penggunaan APD
Peralatan perawatan pasien
Pengendalian lingkungan
Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
Kesehatan karyawan/perlindungan petugas kesehatan
Penempatan pasien.
Hygiene respirasi/etika batuk
Praktik menyuntik yang aman
Isolasi dengan dugaan emerging disease

b. Kebijakan tentang pengembagan SDM PPI


c. Kebijakan tentang pengadaan bahan dan alat yg melibatkan
Tim PPI kadaluwarsa, single use -- reuse
d. Kebijakan tentang penggunaan antibiotik yg rasional
e. Kebijakan pelaksanaan surveilans
f. Kebijakan tentang pemeliharaan fisik dan sarana yg melibatkan Tim PPI termasuk
Kebijakan renovasi bagunan
g. Kebijakan tentang kesehatan karyawan
h. Kebijakan penanganan KLB
i. Kebijakan penempatan pasien
j. Kebijakan upaya pencegahan infeksi ILO, IADP, ISK, Pneumoni
k. Kebijakan tentang penerapan buku pedoman manajerial dan buku pedoman
pencegahan dan pengendalian infeksi RS
11

Kebijakan teknis :
1. SPO kebersihan tangan
2. SPO penggunaan APD
3. SPO penggunaan peralatan perawatan pasien
4. SPO Pengendalian kesehatan lingkungan Penangan limbah infeksius dan non
infeksius ; benda tajam & jarum, darah dan komponen darah
5. SPO pemrosesan peralatan pasien & penatalaksanaan linen dan laundry
6. SPO kesehatan karyawan/perlindungan petugas kesehatan
7. SPO penempatan pasien
8. SPO hygiene respirasi/etika batuk
9. SPO praktik menyuntik yg aman
10. SPO praktik untuk lumbal punksi
11. SPO tentang pencegahan dan pengendalian IAD, ISK, HAP, VAP, IDO, flebitis dan
dekubitus
12. SPO tentang isolasi (airborne, contact dan droplet)
13. SPO Kebersihan Tangan, Tertusuk Jarum
14. SPO tentang skrining dan penanganan MRSA
15. SPO Surveillance dan KLB
16. SPO single use reuse
17. SPO penanganan makanan
18. SPO pengambilan spesimen

BAB III
GAMBARAN UMUM RSUD SAM RATULANGI TONDANO
A. Keadaan Geografis
Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano merupakan rumah sakit tipe
12

C dan menempati areal seluas 14.000 m . Berikut ini merupakan data dasar RSUD DR. Sam
Ratulangi Tondano :
a. Kepemilikan

: Pemerintah Daerah kabupaten Minahasa

b. Luas bangunan

: 6155 M

c. Jumlah tempat tidur

: 122 TT

d. Listrik PLN

: 82,5 KVA

Genset

: 40 KVA

e. IPAL

: 12,4 m x 7,5 m

f. Batas batas areal

Sebelah Utara

: perumahan penduduk Kel.Luaan, Kec. Tondano Timur

Sebelah Selatan

: perumahan penduduk Kel. Ranowangko, Kec. Tondano


Timur

Sebelah Barat

: Jl. Suprapto, Kel.Luaan, Kec. Tondano Timur

Sebelah Timur

: Sungai Tondano

Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:50.000, lembar 2417-23 Manado terbitan badan
Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (1991)
Gambar 1. Lokasi RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano
Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano terletak di Ibu Kota
Kabupaten Minahasa. Jarak dari pusat kota Tondano ke RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano
sekitar 1.5 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor (mobil, motor) maupun
kendaraan tradisional (bendi). RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano merupakan rumah sakit
rujukan dari 21 Puskesmas dan dokter keluarga yang ada di Kabupaten Minahasa, yaitu :
1

Puskesmas Koya
13

Puskesmas Papakelan

Puskesmas Tonsea Lama

Puskesmas Tanawangko

Puskesmas Tateli

Puskesmas Pineleng

Puskesmas Tombulu

Puskesmas Remboken

Puskesmas Kakas

10 Puskesmas Wolaang
11 Puskesmas Manembo
12 Puskesmas Walantakan
13 Puskesmas Tompaso
14 Puskesmas Kawangkoan
15 Puskesmas Sonder
16 Puskesmas Tandengan
17 Puskesmas Kombi
18 Puskesmas Seretan
19 Puskesmas Lolah
20 Puskesmas Tumaratas
21 Puskesmas Kakas Barat
B. Sejarah RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano
Belum ada data yang detail mengenai asal usul berdirinya RSUD DR. Sam Ratulangi
Tondano, tetapi dapat digambarkan secara singkat, sebelum Perang Dunia II (PD II) rumah
sakit ini masih dibawah pengeloaan gereja dan berstatus swasta dengan nama Rumah Sakit
Bethesda Tondano.
Pada tahun 1942-1945 di bawah kekuasaan Jepang rumah sakit ini dikelola langsung
oleh tentara Jepang. Kemudian pada tahun 1945-1948 beralih di bawah pengelolaan
pemerintah Belanda yang berstatus tidak jelas. Pada tahun 1949 Pemerintah Daerah tingkat II
Minahasa mengelola rumah sakit ini dengan status belum ada ketentuan dan pada tahun 1978
ditetapkan dan diganti namanya menjadi RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano.
Berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Minahasa No.32 Tahun 1978 dan
SK Menkes No.303/Menkes/SK/IV/Tahun 1987 serta Keputusan Bupati Kepala Daerah
14

Tingkat II Minahasa No.92 Tanggal 30 November 1988 RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano,
ditetapkan sebagai rumah sakit tipe C dengan nomor kode 71.03.015 yang menjadi salah satu
rumah sakit rujukan di Kabupaten Minahasa.
Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano telah melalui beberapa kali
kepemimpinan direktur sejak tahun 1975. Adapun nama-nama direktur di RSUD DR. Sam
Ratulangi Tondano sejak tahun 1975 sampai sekarang ialah:
Tabel 1. Nama Direktur dan Tahun Kepeminpinan
No.

Nama Direktur

Tahun

dr. Fredy Wulur

1975-1980

dr. Verna Mandang

1980-1985

dr. YTU Liogu

1985-1993

dr. Agustine Sumarauw

1993-2001

dr. H. Simanjuntak

2001-2003

dr. Maryani Suronoto, M.Biomed

2003-sekarang

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian


C. Visi dan Misi
Rumah Sakit Umum Daerah DR. Sam Ratulangi Tondano telah lulus Akreditasi pada
Desember 2010 dengan 5 jenis kategori pelayanan yaitu Pelayanan Medis, Pelayanan
Keperawatan, Pelayanan Unit Gawat Darurat, Pelayanan Rekam Medis dan Pelayanan
Administrasi. Adapun Visi dan misi yang menjadi pedoman dalam pelayanan kesehatan di
RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano ialah :
Visi : Terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima, terjangkau dan berdaya saing di RSUD
DR. Sam Ratulangi Tondano pada tahun 2013.
Misi : 1. Meningkatkan pelayanan kesehatan melalui peningkatan pelayanan medik, non
medik, pelayanan penunjang medik, pelayanan asuhan keperawatan dan
pelayanan rujukan.
2

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di RSUD DR. Sam Ratulangi


Tondano dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan.
15

Maklumat/Janji

Kepuasan Anda Prioritas Kami

Motto

Senyum, Mutu, Aman, Responsif, Terpercaya

D Struktur Orgaisasi
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Nomor 4 tahun 2008 tentang
struktur organisasi RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano, diatur sebagai berikut :
1

Direktur Rumah Sakit

Kepala Bagian Tata Usaha

Kasubag Program Keuangan dan Pelaporan

Kasubag Kepegawaian

Kasubag Umum dan Perlengkapan

Kepala Bidang Pelayanan Medis

Kepala Seksi Pelayanan Medis I

Kepala Seksi Pelayanan Medis II

Kepala Bidang Keperawatan

Kepala Seksi Keperawatan I

Kepala Seksi Keperawatan II

Kepala Bidang Penunjang Medis

Kepala Seksi Penunjang Medis I

Kepala Seksi Penunjang Medis I

E. Ketenagaan
RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano memiliki 276 orang pegawai terdiri dari 164
orang PNS dan 112 orang tenaga honorer dengan berbagai kualifikasi pendidikan baik di
bidang kesehatan maupun non kesehatan/administrasi. Adapun seluruh sumber daya manusia
yang dimiliki pada tahun 2014 ialah sebagai berikut:
Tabel 2. Pejabat Struktural

1.

Eselon III b

Mengikuti Diklatpim
II
III
IV
1
-

2.

Eselon III a

No.

Pejabat Struktural

Jumlah

16

3.

Eselon IV a
Jumlah

14

Sumber: Sub Bagian Kepegawaian


Di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano terdapat 14 orang pejabat struktural yaitu
kepala rumah sakit, kepala bidang/bagian dan kepala seksi tertentu. Pejabat struktural dengan
pangkat Eselon IIIb ialah Direktur rumah sakit, Pejabat struktural dengan pangkat Eselon
IIIa terdiri dari 4 orang yaitu Kepala Bidang Tata Usaha, Kepala Bidang Medis, Kepala
Bidang Keperawatan dan Kepala Bidang Penunjang Medis. Pejabat struktural dengan
pangkat IVa terdiri dari 5 orang yaitu Kepala Sub Bagian Keuangan dan Pelaporan, Kepala
Sub Bagian Kepegawaian, Kepala Sub Bagian Umum, Kepala Seksi Keperawatan I dan
Kepala Seksi Penunjang Medis I. Dari 10 orang pejabat struktural, 3 orang (30%) telah
mengikiti Diklatpim.
Tabel 3. Tenaga Dokter
Status
No.
1.

Tenaga Dokter
Dokter Spesialis Penyakit

Kontrak Honor
/Part
time
2
-

PNS

PTT

Jenis
Kelamin
L
P Jumlah
1

Dalam
2.

Dokter Spesialis ObstetriGinekologi

3.

Dokter Spesialis Anak

4.

Dokter Spesialis Bedah

5.

Dokter Spesialis Radiologi

6.

Dokter Spesialis Anastesi

7.

Dokter Spesialis

Rehabilitasi Medik
8.

Dokter Spesialis Mata

9.

Dokter Spesialis Kulit dan

Kelamin
10. Dokter Spesialis Patologi
Klinik
17

11. Dokter Umum

12

14

20

12. Dokter Gigi

16

12

10

28

38

Total
Sumber : Sub Bagian Kepegawaian

Jumlah total dokter ialah 38 orang, dokter umum berjumlah 20 orang sebagian besar
berstatus PNS, sementara yang lainnya merupakan dokter PTT (2 orang), part time (2 orang)
dan honorer (4 orang). Dokter spesialis yaitu 14 orang terdiri dari 2 orang PNS Kabupaten
Minahasa dan yang lainnya merupakan dokter kontrak (PNS pusat/non PNS) yang
keahliannya sangat dibutuhkan untuk optimalisasi pelayanan kesehatan paripurna di RSUD
DR. Sam Ratulangi Tondano.
Tabel 4. Tenaga Perawat dan Bidan

1.

Ners

Status
PNS
Honor
12
8

2.

S1 Keperawatan

21

21

25

3.

DIII Keperawatan

31

45

16

60

76

4.

SPK

10

11

5.

DIII Perawat Gigi

6.

SPRG

7.

DIV Kebidanan

8.

DIII Kebidanan

11

11

9.

DI Kebidanan

89

65

26

128

154

No.

Tenaga Perawat/Bidan

Total

Jenis Kelamin
L
P
4
16

Jumlah
20

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian


Total tenaga perawat dan bidan berjumlah 154 orang, terdiri dari 89 orang PNS dan
65 orang honorer. Dengan jumlah tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan tenaga perawat
baik baik di ruang rawat inap maupun rawat jalan. Harapan kedepan, jumlah tenaga perawat
PNS akan bertambah mengingat tenaga perawat honorer yang masih cukup banyak yaitu 65
orang.
Tabel 5. Tenaga Farmasi
No.

Tenaga Farmasi

Status
PNS
Honor
18

Jenis Kelamin
L
P

Jumlah

1.

Apoteker

2.

S1 Farmasi

3.

DIII Farmasi

4.

SMF

10

Total
Sumber : Sub Bagian Kepegawaian

Tenaga farmasi berjumlah 10 orang dengan status PNS terdiri dari Apoteker, Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi dan Sekolah Menengah Farmasi. Jumlah ini belum memenuhi
kebutuhan akan tenaga farmasi, karena data dari Sub Bagian Kepegawaian menunjukan
masih dibutuhkan 3 orang tenaga farmasi.
Tabel 6. Tenaga Gizi
Status
No.

Tenaga Gizi

1.

DIII Gizi

2.

SPAG
Total

Jenis Kelamin

Jumlah

PNS
2

Honor
1

L
1

P
2

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian


Tenaga gizi yang ada berjumlah 3 orang dengan status PNS dan 1 orang honorer,
terdiri dari Ahli Madya Gizi dan Sekolah Ahli Gizi. Adapun pelayanan yang diberikan
melingkupi konsultasi pasien rawat jalan, asuhan gizi pasien rawat inap dan logistik. Jumlah
tenaga gizi yang dibutuhkan menurut Sub Bagian Kepegawaian ialah 4 orang.
Tabel 7. Tenaga Fisioterapi
Status
No.

Tenaga Fisioterapi

Jenis Kelamin

Jumlah

1.

DIV Fisioterapi

PNS
4

Honor
-

L
1

P
3

2.

DIII Fisioterapi

Total
Sumber : Sub Bagian Kepegawaian

Jumlah tenaga fisioterapi ialah 9 orang terdiri dari 7 orang PNS dan 2 orang honorer.
Pelayanan yang diberikan terdiri dari rawat jalan dan rawat inap. Namun karena pada bagian
19

lain seperti Rekam Medik (karcis) dan Instalasi Farmasi masih membutuhkan
tenaga, maka 2 orang tenaga honorer diperbantukan pada masing-masing bagian tersebut.
Dengan demikian tenaga Fisioterapis yang ada sudah memenuhi kebutuhan.
Tabel 8. Tenaga Kesehatan Masyarakat
Tenaga Kesehatan
No.

Status

Jenis Kelamin

Jumlah

1.

Masyarakat
S1 Kesehatan Masyarakat

PNS
2

Honor
-

L
1

P
1

2.

DIII Kesehatan Lingkungan

3.

SPPH

Total
Sumber : Sub Bagian Kepegawaian

Tenaga Kesehatan Masyarakat atau tenaga kemasyarakatan berjumlah 8 orang dengan


status PNS, terdiri dari SKM 2 orang dan SPPH 1 orang dengan jabatan struktural dan 5
orang Sanitarian (DIII Kesehatan Lingkungan dan SPPH) dengan jabatan fungsional. Dari 5
orang tenaga fungsional, 1 orang (SPPH) diperbantukan di Instalasi Farmasi dan 1 orang
(SPPH) lagi diperbantukan sebagai petugas verifikator JKN/BPJS.
Tabel 9. Tenaga Analis dan Rekam Medis
Tenaga Analis Kesehatan
No.
1.

dan Perekam Medis


D III Analis Kesehatan

2.

SMAK (Analis Kesehatan)


Total

Status

Jenis Kalamin

Jumlah

PNS
-

Honor
5

L
1

P
4

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian


Jumlah tenaga Analis Kesehatan (Laboratorium) ialah 4 orang terdiri dari 1 orang
PNS dan 5 orang honorer. Dengan jumlah tersebut diharapkan telah memenuhi kebutuhan
tenaga analis di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano.
Tabel 10. Tenaga Perekam Medis dan Paramedis Teknologi Transfusi Darah

1.

Tenaga Analis Kesehatan


dan Perekam Medis
DIII Rekam Medis

2.

DI Paramedis Teknologi

No.

Status
PNS
Honor
1
-

Transfusi Darah
20

Jenis Kelamin
L
P
1
1

Jumlah
1
1

Total

Sumber : Sub Bagian Kepegawaian


Tenaga Perekam Medis dan Paramedis Teknologi Transfusi Darah berjumlah
masing-masing 1 orang. Berdasarkan data dari Sub Bagian Kepegawaian dibutuhkan 4 orang
tenaga Perekam Medis untuk mengoptimalkan pelayanan Rekam Medis pasien rawat jalan
maupun rawat inap di RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano.
Tabel 11. Tenaga Non Kesehatan
Status
No.

Tenaga Non Kesehatan

Jenis Kelamin

Jumlah

PNS
2

Honor
-

L
1

P
1

1.

Sarjana Sosial

2.

Sarjana Ilmu Pemerintahan

3.

Sarjana Ekonomi

10

4.

Master Science

5.

Sarjana Teknik Mesin

6.

Sarjana Teknik Informatika

7.

Sarjana Pendidikan

8.

D1 Teknik Informatika

9.

SMA/sederajat

16

24

16

24

40

10. SMP

11. SD/SR

29

33

25

37

62

Total
Sumber : Sub Bagian Kepegawaian

Tenaga Non Kesehatan terdiri dari PNS 29 orang dan honorer 33 orang dengan
jenjang pendidikan yang berfariasi. Jumlah total tenaga Non Kesehatan ialah 62 orang dan
terbagi sebagai tenaga administrasi perkantoran, tenaga sekuriti, tenaga sopir kendaraan
dinas/operasional, tenaga juru masak dan tenaga wash/loundry. Menurut Sub Bagian
Kepegawaian jumlah tersebut telah cukup memenuhi kebutuhan tenaga non kesehatan di
RSUD DR. Sam Ratulangi Tondano.
F Fasilitas Pelayanan
a. Pelayanan Rawat Inap
1

Perawatan Penyakit Dalam


21

Perawatan Bedah

Perawatan Obstertri dan Ginekologi

Perawatan Perinatologi

Perawatan Anak

Perawatan Neurologi

ICU

VIP/VVIP

b Pelayanan Rawat Jalan


1

Poliklinik Penyakit Dalam

Poliklinik Bedah

Poliklinik Obstetri dan Ginekologi

Poliklinik Anak

Poliklinik Imunisasi dan Tumbuh Kembang

Poliklinik Mata

Poliklinik Gigi

Poliklinik Fisioterapi

Poliklinik Kulit dan Kelamin

10 Poliklinik TB
11 Poliklinik Jantung
12 Poliklinik Neurologi
13 Unit Gawat Darurat (UGD)
c

Instalasi Penunjang
1

Instalasi Kamar Operasi

Instalasi Laboratorium

Instalasi Radiologi

Instalasi Gizi

Instalasi Farmasi

Instalasi Pengelola Sarana dan Prasarana Rumah Sakit (IPSRS)

Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS)

22

BAB IV
GAMBARAN PELAYANAN PPI DI RSUD TONDANO
Dalam rangka melindungi pasien, pengunjung dan petugas terhadap penularan infeksi
di rumah sakit maka RSUD Sam Ratulangi Tondano melaksanakan Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi. Tidak hanya untuk melindungi pasien, pengunjung maupun petugas
kesehatan hal ini dilakukan sebagai salah satu bagian pelayanan rumah sakit guna menjamin
mutu pelayanan. Pelayanan pengendalian dan pencegahan infeksi harus mendukung
pelayanan di rumah sakit secara keseluruhan. PPI termasuk dalam penilaian akreditasi rumah
sakit versi 2012.
Agar pelaksanaan PPI berjalan baik direktur membentuk Komite PPI serta Tim PPI.
Komite ini bertanggungjawab langsung kepada direktur yantg diketuai oleh dokter spesialis.
Agar kegiatan ini berjalan lancar maka RSUD Sam Ratulangi Tondano memiliki 1 IPCN
(Infection Prevention Controling Nurse). Hal ini sesuai karena rumah sakit memiliki 128
tempat tidur sesuai dengan jumlah tempat tidur 100-150 maka memiliki 1 IPCN. IPCN
purnawaktu bertugas mengawasi seluruh kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi
disemua unit yang ada. IPCN dibantu oleh IPCLN (Infection Prevention Controling Link
Nurse) dan IPCLS (Infection Prevention Controling Link Staff) sebagai pelaksana harian atau
penghubung masing-masing unit.
Kewaspadaan standar diterapkan secara menyeluruh disemua area rumah sakit dengan
mengukur resiko yang dihadapi pada setiap situasi dan aktifitas pelayanan sesuai panduan
PPI RSUD Sam Ratulangi Tondano.
Untuk itu rumah sakit mengeluarkan kebijakan komite PPI melalui pembuatan standar
pelayanan operasional. Standar pelayanan operasional (SPO) berlaku di semua unit rumah
sakit. SPO ini mengacu pada standar akreditasi rumah sakit 2012. Standar Pelayanan
Operasional rumah sakit, yaitu :
1

SPO Kebersihan Tangan


23

2
3
4

SPO Penggunaan APD


SPO penggunaan peralatan perawatan pasien
SPO Pengendalian Kesehatan Lingkungan (Penanganan limbah infkesius dan

noninfeksius; benda tajam dan jarum; darah dan komponen darah)


5 SPO pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen dan laundry
6 SPO kesehatan karyawan atau perlindungan petugas kesehatan
7 SPO Penempatan Pasien
8 SPO Hygiene Respirasi/Etika Batuk
9 SPO praktik menyuntik yang aman
10 SPO praktik untuk lumbal pungsi
11 SPO tentang pencegahan dan pengendalian IAD, ISK, HAP, VAP, IDO, flebitis dan
12
13
14
15
16
17
18

dekubitus
SPO tentang isolasi (airbone, contact, dan droplet)
SPO Kebersihan Tangan, Tertusuk jarum
SPO tentang skrining dan penanganan MRSA
SPO surveillance dan KLB
SPO single use reuse
SPO penanganan makanan
SPO pengambilan spesimen
Dari sekian banyak SPO yang ada baru 6 SPO yang dikeluarkan dan disosialisasikan
kepada seluruh petugas rumah sakit. SPO yang ada antara lain :
1
2
3
4
5
6

Pencegahan infeksi melalui teknik mencuci tangan dengan air mengalir


Pencegahan infeksi memalui teknik mencuci tangan dengan handwrab
Penggunaan alat pelindung diri
Praktek menyuntik aman
Etika batuk
pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen dan laundry

24

BAB V
IDENTIFIKASI MASALAH
5.1

Metode Identifikasi
Identifikasi masalah dilakukan melalui:
1

Wawancara mendalam (indepth interview) dengan TIM PPI, IPCN, kepala ruangan,

perawat di ruangan gawat darurat RSUD Sam Ratulangi Tondano


Melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas yang ada di ruangan gawat

darurat RSUD Sam Ratulangi Tondano


Masalah masalah yang timbul antara lain:
1 Petugas kesehatan belum terbiasa menggunakan APD saat melayani pasien.
Kalaupun ada hanya pada kasus-kasus penyakit tertentu seperti batuk, atau
2

menangani pasien KLL


Belum jelas SOP alur pelaporan bila ada petugas kesehatan yang kontak dengan

3
4
5
6

pasien yang terinfeksi


Pencatatan temuan belum dilakukan dengan baik
Sosialisasi tentang penggunaan APD jarang dilaksanakan
Tempat cuci tangan petugas kesehatan tergabung dengan cuci tangan pasien
Alat-alat kesehatan yang telah dibersihkan hanya diletakkan ditempat tidur yang

tak terpakai dekat tempat cuci tangan sehingga sterilisasi alat belum terjamin
Kotak tempat pembuangan jarum suntik tidak mencukupi dan dibuat seadanya

dari botol aqua atau alkohol


Sampah-sampah medis seperti APD dibuang bersamaan dengan sampah non
medis yang membuat hal ini beresiko tertular kepada petugas clining service

rumah sakit
Minimnya pemahaman dari tenaga kesehatan mengenai pentingnya penggunaan

APD
10 Belum mengikuti Akreditasi 2012
11 Air terkadang tidak jalan
12 Petugas kesehatan cenderung menggunakan alkohol untuk

hand wash

dibandingkan air mengalir atau handwrab


13 Bila ada pasien yang dicurigai infeksi, alat yang digunakan masih digunakan tanpa
dilakukan sterilisasi alat seperti tensi, termometer, stetoskop kecuali tempat tidur
14 mekanisme penyerahan linen bekas pakai belum jelas hanya dibiarkan di lantai
nanti diambil oleh petugas kebersihan yang diserahkan ke laundry
Setelah melakukan identifikasi masalah yang ada, ditentukan prioritas masalah
kemudian disusun alternative pemecahan maalah. Untuk menyusun alternative pemecahan
masalah menggunakan diagram tulang ikan (fish bone diagram).
25

MAN

METHOD

Penatalaksanaan PPI di UGD RSUD Sam Ratulangi

MONEY

MATERIAL

MAN
Petugas kesehatan belum terbiasa menggunakan

1.

APD saat melayani pasien. Kalaupun ada hanya

kesehatan yang kontak dengan pasien yang

pada kasus-kasus penyakit tertentu seperti batuk,


2

METHOD
Belum jelas SOP alur pelaporan bila ada petugas

atau menangani pasien KLL


Sampah-sampah medis seperti APD dibuang
bersamaan dengan sampah non medis yang

2.
3.

terinfeksi
Pencatatan temuan belum dilakukan dengan baik
Sosialisasi tentang penggunaan APD jarang

4.

dilaksanakan
Belum mengikuti Akreditasi 2012

1.

MATERIAL
Tempat cuci tangan petugas kesehatan tergabung

2.

dengan cuci tangan pasien


Alat-alat kesehatan yang telah dibersihkan hanya

membuat hal ini beresiko tertular kepada petugas


3

clining service rumah sakit


Minimnya pemahaman dari tenaga kesehatan

mengenai pentingnya penggunaan APD


Petugas kesehatan cenderung menggunakan
alkohol untuk hand wash dibandingkan air
mengalir atau handwrab
MONEY
1. Tidak ada ruang isolasi khusus pasien rabies atau
tetanus mengingat angka kejadian rabies sangat
tinggi di Kabupaten Minahasa

diletakkan ditempat tidur yang tak terpakai dekat


tempat cuci tangan sehingga sterilisasi alat belum
terjamin
3.

Kotak tempat pembuangan jarum suntik


tidak mencukupi dan dibuat seadanya dari

26

botol aqua atau alkohol


4.
5.

Air terkadang tidak jalan


Bila ada pasien yang dicurigai infeksi, alat yang
digunakan masih digunakan tanpa dilakukan
sterilisasi alat seperti tensi, termometer, stetoskop
kecuali tempat tidur

MATRIK PERMASALAHAN
JUMLAH
I

Daftar Masalah

Petugas kesehatan belum terbiasa


menggunakan APD saat melayani pasien.
Sampah-sampah medis seperti APD dibuang
bersamaan dengan sampah non medis

(I x T x
R)

RI

5
27

SB

PB

PC

375

650

Minimnya pemahaman dari tenaga

725

480

675

700

675

5
5

5
5

5
5

5
1

5
1

5
5

4
5

4
2

4
3

544
162

775

375

360

Air terkadang tidak jalan


Bila ada pasien yang dicurigai infeksi, alat

675

yang digunakan masih digunakan tanpa

435

kesehatan mengenai pentingnya penggunaan


APD
Petugas kesehatan cenderung menggunakan
alkohol untuk hand wash dibandingkan air
mengalir atau handwrab
Belum jelas SOP alur pelaporan bila ada
petugas kesehatan yang kontak dengan
pasien yang terinfeksi
Pencatatan temuan belum dilakukan dengan
baik
Sosialisasi tentang penggunaan APD jarang
dilaksanakan
Belum mengikuti Akreditasi 2012
Tidak ada ruang isolasi khusus
Tempat cuci tangan petugas kesehatan
tergabung dengan cuci tangan pasien
Alat-alat kesehatan yang telah dibersihkan
hanya diletakkan ditempat tidur yang tak
terpakai

Kotak tempat pembuangan jarum


suntik tidak mencukupi dan dibuat
seadanya dari botol aqua atau
alkohol

dilakukan sterilisasi alat

BAB VI
ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
Secara ringkas, masalah yang muncul, penyebab masalah dan alternative penyelesaian
malasalah dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No
1.

Masalah
Penyebab masalah
Petugas kesehatan belum Petugas kesehatan belum
terbiasa

menggunakan terbiasa menggunakan APD

Alternative pemecahan
Sosialisasi tentang PPI
Sosialisasi tentang kebijakan
RS melalui SOP penggunaan

APD saat melayani pasien.

APD, etika batuk, cuci tangan

Kalaupun ada hanya pada


28

kasus-kasus

penyakit

dsb

tertentu seperti batuk, atau


2.

menangani pasien KLL


Sampah-sampah
medis Petugas kesehatan yang
seperti

APD

Biasakan membuang sampah

medis pada tempatnya


Memberikan pemahaman

dibuang kurang memahami resiko

bersamaan dengan sampah penularan infeksi melalui

kepada petugas clining service

non medis yang membuat APD kepada orang lain

cara menangani sampah medis

hal ini beresiko tertular


kepada
3.

petugas

clining

service rumah sakit


Petugas
kesehatan -

Petugas kesehatan belum

cenderung

terbiasa mencuci tangan

mencuci tangan (Five

dengan air mengalir


Kadang air tidak berjalan

Moments)
Menyediakan handwrab

dengan baik
Tidak tersedianya
-

TIM PPI segera mengeluarkan

menggunakan

alkohol untuk hand wash


dibandingkan air mengalir

4.

Belum

jelas

handwrab
SOP alur Tim PPI rumah sakit belum

pelaporan bila ada petugas mengeluarkan SOP yang jelas


kesehatan
dengan
5.

6.

yang
pasien

SOP tentang mekanisme

kontak tentang mekanisme pelaporan


-

yang terinfeksi

Membudayakan kebiasaan

pelaporan
Salah seorang petugas UGD
dimasukan dalam Tim PPI

terinfeksi
Pencatatan temuan belum -

SOP belum ada sehingga

Pendataan harus ada formulir

dilakukan dengan baik

bila ada kejadian petugas

pelaporan sehingga mudah dicatat

kesehatan masih bingung

dan dievaluasi

ke mana harus melapor


- Petugas IPCS hanya satu
mengikuti Belum mengikuti akreditasi

Belum
Akreditasi

rumah

sakit

Sosialisasi
yang

2012

seluruh

berhubungan

komponen
dengan

akreditasi dan tingkatkan sesuai


kondisi rumah sakit sehingga siap

7.

Tempat

cuci

petugas
tergabung

tangan tempat cuci tangan gabung


kesehatan

dengan

RS siap mengikuti akreditasi


Dibuat tempat cuci tangan
terpisah dengan pasien

cuci

tangan pasien
29

8.

Alat-alat kesehatan yang Alat-alat kesehatan sehabis

Dibuat tempat terpisah untuk

telah dibersihkan hanya dicuci dibiarakan kering di

menaruh alat-alat kesehatan habis

diletakkan ditempat tidur tempat yang kurang

dicuci

yang tak terpakai dekat memenuhi standar

9.

tempat

cuci

tangan

sehingga

sterilisasi

alat

belum terjamin
Kotak tempat pembuangan Tidak ada tempat permanen
jarum

suntik

mencukupi

Dibuat tempat khusus untuk

benda tajam habis pakai


Pengelolaan benda tajam habis

tidak untuk jarum suntik maupun

dan

dibuat benda-benda tajam habis

pakai harus ditinjau kembali

seadanya dari botol aqua pakai di unit gawat darurat


10.
11.

atau alkohol
Air terkadang tidak jalan
Bila

ada

pasien

Petugas IPRS tidak berada di

tempat saat dibutuhkan


yang Sterilisasi alat-alat kesehatan

Petugas IPRS bila dihubungi

segera berada di rumah sakit


Semua alat kesehatan yang

dicurigai infeksi, alat yang yang digunakan pada pasien

digunakan pada pasien yang

digunakan

terinfeksi harus disterilisasi

masih yang pasti terinfeksi

digunakan tanpa dilakukan


-

sterilisasi alat seperti tensi,


termometer,

stetoskop

menular harus disediakan

kecuali tempat tidur


12.

terlebih dahulu baru dipakai


Pengadaan alat kesehatan
Tempat isolasi penyakit

tidak ada ruang isolasi Belum ada pengadaan

seperti rabies
Perlu dibuat ruangan khusus

khusus pasien rabies atau ruangan khusus kewaspadaan

kewaspadaan isolasi

tetanus mengingat angka isolasi


kejadian
tinggi

rabies
di

sangat

Kabupaten

Minahasa

30

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari residensi yang dilakukan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi di unit
gawat darurat RSUD Sam Ratulangi Tondano didapatkan :
-

Sosialisasi masih kurang tentang SOP PPI di Rumah Sakit


Cara pencegahan infeksi melalui penggunaan APD belum terealisasi dengan baik
dikalangan petugas kesehatan. hal ini terlihat dari petugas kesehatan masih

belum memahami dan menerapkan penggunaan APD dengan baik


Masih kurangnya budaya cuci tangan baik menggunakan air mengalir maupun

handwrab
Bila kontak dengan pasien infeksi, banyak petugas kesehatan masih bingung

tentang cara pelaporan dan


Mekanisme pencatatan kejadian masih belum jelas
Pemberian vaksin kepada petugas kesehatan diberikan setelah kejadian bukan

sebelum kejadian.
B. Saran
- Perlu dilakukan sosialisasi tentang PPI
31

Perlu dibuatnya SOP mengenai alur pelaporan dan pencatatan kejadian infeksi
Perlu dibiasakan budaya mencuci tangan maupun etika batuk
Membuat tempat yang lebih baik untuk penempatan jarum bekas, sampah medis

dan non medis


Perlu dilakukan vaksin kepada petugas kesehatan khususnya di ugd dengan
resiko terpapar yang besar seperti vaksin hepatitis ataupun rabies

DAFTAR PUSTAKA
19 Anonymous. Artikel: Pelayanan Kesehatan [online]. Diakses pada tanggal 16
November 2015. Available at:http://www.vasia.info/kesehatan
2.

Depkes. (2009). Rumah Sakit menurut UUD No 44 Tahun 2009 [online].; [diakses pada
tanggal 22 November 2015]. Available
at:http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._44_Th_2009_ttg_Rumah_Sakit.pdf

KARS. Buku Pedoman Akreditasi Rumah Sakit 2012. Pencegahan dan Pengendalian

Infeksi. Diakses 16 November 2015


Anonymous. Artikel: Instalasi Gawat Darurat [online]. Diakses pada tanggal 16

November 2015. Available at:http://www.catatanwarda.blogspot.co.id


Putra U. 2012. Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku penggunaan
alat pelindung diri pada mahasiswa profesi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas

Indonesia.
Chrysmadani. 2011. Analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat
dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri Dasar (handscoon dan masker) di Rumah Sakit

Geraha Husada Gresik.


Perwitasari. 2006. Tingkat resiko APD dan hygiene petugas di Laboratorium klinik

RSUPN Cipto Mangunkusumo.


Anonymous. 2011. Pentingnya Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit [online]. Diakses
pada

tanggal

17

November
32

2015.

Availabe

at:http://www.tribunnews.com/kesehatan/2011/12/12/pengendalian-infeksi-di-rumah9

sakit.
Hooton TM. Nosocomial urinary tract infection. In: Mandell GL, Bennet JE, Dolin R.
Mandell, Douglas,and Bennetts principles and practice of infections diseases,7 th
edition. Churcill Livingstone Elsevier, 2010 p.3725-33

LAMPIRAN

UGD

Ruangan Tindakan
Ruangan Pemeriksaan
Pasien

33

Poster
- Mencuci Tangan
- 5 saat
melakukan
praktek mencuci
tangan

Tempat Peralatan Medis

Poster-Poster

34

WC Pasien

Tempat Cuci Tangan Petugas

- Tempat jarum
bekas
- Alkohol untuk
cuci tangan
- Tempat APD :
masker dan
sarung tangan

Tempat Sampah
Medis & Non
Medis

35

Formulir
Laporan
Pajanan

Penggunaan APD untuk Pengendalian Infeksi

36

Cara Mencuci Tangan

Etika Batuk

37

Kewaspadaan Isolasi
Residensi

PENATALAKSANAAN PENGENDALIAN DAN PENCEGAHAN INFEKSI


DI UNIT GAWAT DARURAT RSUD SAM RATULANGI TONDANO

Oleh :
Lyanda Watung
14202111007
Dosen pembimbing
dr. Tommy A Soleman, MMR.

Pembimbing Lapangan :
dr. Olviane Rattu, MSi

38

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
KAJIAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2015
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN RESIDENSI
Judul

: Penatalaksanaan Program Pengendalian dan Pencegahan Infeksi di


Unit Gawat Darurat RSUD Sam Ratulangi Tondano

Nama

: Lyanda Watung

NIM

: 14202111007

Manado,

Desember

2015

Pembimbing Akademik

39

dr. Tommy A Soleman, MMR.

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penelitian
C. Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Gawat Darurat
B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
BAB III PROFIL RSUD SAM

...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................

I
Ii
1
1
3
3
5
5
10

RATULANGI TONDANO
A. Keadaan Geografis
B. Sejarah
C. Visi, Misi
D. Struktur Organisasi
E. Ketenagaan
F. Fasilitas Pelayanan
BAB IV GAMBARAN UNIT RAWAT

...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................

13
13
14
15
16
17
18

...............................................................................
...............................................................................

24
26

DARURAT DAN ALUR PELAYANAN


DAN PELAPORAN PPI RSUD SAM
RATULANGI TONDANO
BAB V IDENTIFIKASI MASALAH

40

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN


MASALAH
BAB VII PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................
...............................................................................

41

30
33
33
33
34
35