Anda di halaman 1dari 22

QADARIYAH DAN

JABARIYAH
Created By
LILIS LISNAWATI
M.ARIZAL FAHMI
NOPY MELINA K
RACHMA WIDIA UTAMI
WIDA SUSILAWATI

JABARIYA
H
BAHASA

Menurut
Al-Munjid

JABARA =
MEMAKSA

Memaksa dan
mengharuskan
melakukan sesuatu

Allah bersifat Al-Jabar (dlm bentuk


mubalaghoh) yg berarti MEMAKSA

LATAR BELAKANG TIMBULNYA


ALIRAN JABARIYAH
Jad bin Dirham
(Terbunuh 124H)

Jahm bin
Shafwan

Al-Husaih b.
Muhammad An-nazar
Jad b. Dhirar

Masyarakat Arab bersifat serba sederhana dan jauh dari


ilmu pengetahuan
Mereka terpaksa menyesuaikan hidup mereka dg kondisi
padang pasir dg panasnya yg terik serta tanah yg gunung
yg tandus
Sehingga mereka pasrah dg kondisi alam utk tidak
mengubah keadaan sekeliling sesuai keinginan

Benih-benih
Jabariyah
a.Suatu ketika, Nabi menjumpai sahabtnya
yang sedang bertengkar dalam masalah
takdir tuhan. Nabi melarang mereka untuk
memperdebatkan persoalan tersebut, agar
terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang
ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
b.Khalifah Umar bin Khatab pernah menangkap seseorang
yang ketahuan mencuri. Ketika diinterogasi, pencuri itu
berkata Tuhan telah menentukan aku mencuri
mendengar ucapan itu, Umar marah sekali dan
menganggap orang itu telah berdusta kepada Tuhan. Oleh
karena itu, Umar memberikan dua jenis hukuman pada
pencuri itu. Pertama, hukuman potong tangan karena
mencuri. Kedua, hukuman dera karena menggunakan dalil
takdir Tuhan.

Lanjutan
c. Khalifah Ali bin Abi Thalib sesuai Perang Shiffin
ditanya oleh seorang tua tentang qadhar (ketentuan)
Tuhan dan kaitannya dengan pahala dan siksa. Orang
tua itu bertanya, Apabil perjalanan (menuju Perang
Shiffin) itu terjadi dengan qadha dan qadhar Tuhan,
tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali
menjelaskan bahwa qadha dan qadhar bukanlah
paksaan Tuhan. Ada pahala dan siksa sebagai
balasan amal perbuatan manusia. Sekiranya qadha
dan qadhar itu merupakan paksaan, batallah pahala
dan siksa, gugur pulalah makna janji dan
ancaman
Tuhan, serta tidak ada celaan Allah atas pelaku
dosa dan pijiannya bagi orang-orang yang baik.

Lanjutan
d. Pada pemerintah Daulah bani Umayah,
pandangan tentang al-jabar semakin mencuat
ke permukaan. Abdullah bin Abbas, melalui
seratnya, memberikan reaksi keras kepada
penduduk Syiria yang diduga berfaham
Jabariyah.

Paparan diatas menjelaskan bahwa bibit


faham al-jabar telah muncul sejak awal
periode islam. Namun, al-jabar sebagi suatu
pola pikir atau aliran yang dianut, dipelajari
dan dikembangkan, baru terjadi pada masa
pemerintahan Daulah bani Umayah, yakni
oleh kedua tokoh yang telah disebutkan

TOKOH-TOKOH JABARIYAH
DAN DOKTRIN-DOKTRINNYA
Para pemuka Jabariyah ekstrim diantaranya sebagai
berikut:
1) Jahm bin Shofwan
Ia berasal dari Khurasan bertempat tinggal di Kuffah;
ia sseorang dai yang fasih dan lincah(orator); ia
menjabat
sebagai sekretaris Haris bin Surais, seorang
mawali yang
menentang pemerintah Bani Umayah di
Khurasan. Ia ditawan kemudian dibunuh secara politis
tanpa ada kaitannya dengan agama. Ia berjasa
menyebarkan faham Jabariyah ke berbagai tempat,
seperti Tirmida dan Balk.

pendapat Jahm yang berkaitan dengan


persoalan teologi sebagai berikut:
a. Manusia tidak mampu untuk berbuat apaapa. Ia tidak mempunyai kehendak sendiri,
dan tidak mempunyai pilihan.
b. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada
yang kekal selain Tuhan.
c. Iman adalah marifat atau membenarkan
dalam hati.
d. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah maha
suci dari segala sifat dan keserupaan
dengan manusia seperti berbicara,
mendengar, dan melihat.

2) Jad bin Dirham


Al-Jad adalah seoranga Maulana Bani Hakim,
tinggal di Damaskus. Doktrin pokok Jad secara
umum sama dengan pikiran Jahm Al-Ghuraby
menjelaskan sebagai berikut:
a) Al-Quran adalah makhluk. Oleh karena itu, dia
baru.Sesuatu yang baru tidak dapat
disifatkan kepada Allah.
b) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa
dengan mahkluk seperti berbicara, melihat,
dan mendengar.
c) Manusia terpaksa oleh Allah dalam segalagalanya.

Dibawah ini yang termasuk tokoh Jabariyah


moderat adalah sebagai berikut:
1)An-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad
an-Najjar (wafat 230 H). para pengikutnya disebut
an-Najjariyah atau al-Husainiyah. Diantara para
pendapat-pendapatnya adalah:
a. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia,
tetapi
manusia mengambil bagian atau peran
dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
Itulah yang disebut kasab dalam teori al-Asyary.
b. Tuhan tidak dapat dilihat diakhirat. Akan tetapi,
An- Najjar dapat saja memindahkan potensi hati
(marifat) pada mata hati sehingga manusia
dapat
melihat Tuhan.

2)Adh-Dhirar
Nama lengkapnya Dhirar bin Amr.
Pendapatnya bahwa manusia tidak hanya
merupakan wayang yang digerakkan dalang.
Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan
perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa
dalam melakukan perbuatannya. Dhirar juga
mengatakan bahwa perbuatan dapat
ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan,
artinya perbuatan manusia tidak hanya
ditimbulkan oleh Tuhan, tetapi juga oleh
manusia itu sendiri. Dhirar mengatakan bahwa
Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indra
keenam. Ia juga berpendapat bahwa hujjah
yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad.

SEKTE-SEKTE JABARIYAH
1)Jahmiyah
Pengikut jahm bin shafwan dan mereka adalah penganut
determinisme murni. Jahm sekata dengan Mutazilah dalam
menolak sifat-sifat Allah yang dikatakan eksternal, tetapi dia
juga menambah doktrin-doktrin lainnya diantaranya adalah:
a. Adalah haram hukumnya menerapkan suatu sifat kepada
Allah yang dapat diterapkan kepada makhluk-makhluknya
b. Allah mempunyai ilmu dan ilmunya tidak kekal dan tidak
bertempat.
c. Jika seseorang (mengatakan bahwa dia) telah mengetahui
tentang Allah, tetapi pada lahiriyahnya dia menolaknya,
maka penolakan ini tidaklah membuatnya kafir sebab
penolakannya itu menghilangkan pengetahuannya itu.

2). Najjariyah
Mereka adalah pengikut Husain bin Muhammad
l-Najjar, yang pandangan-pandangannya
kebanyakan diadopsi oleh para penganut
Mutazilah di daerah Rayy. Mereka ini terpecah
kepada berbagai sub-kelompok, seperti
Barghutsiyah, Zafaraniyah dan Mustadrikah,
tetapi mereka sependapat dengan kelompok
asalnya dalam perkara-perkara yang
fundamental. Mereka sepakat dengan
Mutazilah dalam kelompok sifat-sifat Allah,
yakni mengetahui, berkuasa, berkehendak,
hidup, mendengar dan melihat. Akan tetapi,
mereka sekata dengan Shifatiyah tentang Allah
menciptakan perbuatan-perbuatan (manusia)

3) Dhirariyah
Dhirariyah adalah pengikut Dhirar bin Amr
dan Hafsh al-Fard.
Keduanya sepakat dalam menolak sifat-sifat
Allah yang positif, dan menyatakan bahwa
Allah mengetahui dan berkuasa dalam
pengertian bahwa dia tidak bodoh dan tidak
pula imponten.
Keduanya berpendirian bahwa Allah memiliki
sesuatu quiditas yang hanya diketahui oleh
Dia sendiri.

QADARIYAH
Qadariyah berasal dari bahasa Arab, dari kata
qadara yang berarti kemampuan dan kekuatan.
Menurut pengertian terminology, Qadariyah
adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala
tindakan manusia tidak terintervensi oleh Tuhan.
Menurut aliran ini, tiap-tiap hamba Allah SWT
adalah pencipta bagi segala perbuatannya; dia
dapat berbuat segala sesuatu atau
meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.
Golongan ini disebut Qadariyah karena mereka
meniadakan qadar Allah SWT dan menetapkannya
pada manusia serta menjadikan segala perbuatan
manusia tergantung pada kehendak dan
kekuasaan manusia sendiri.

LATAR BELAKANG TIMBULNYA


ALIRAN QADARIYAH
Menurut Ahmad Amin, ada teologi yang mengatakan
bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Mabad
al-Jauhani (wafat 80 H) dan Ghailan ad-Dimasyqy. Mabad
adalah seorang tabaI yang dapat dipercaya dan pernah
berguru kepada Hasan al-Bisri. Sementara, Ghailan adalah
seorang orator berasal dari Damaskus dan ayahnya
menjadi maula Utsman bin Affan. Menurut Ibnu Nabatah
dalam Syarh al-Uyun (bulan bagi mata-mata), orang yang
mula-mula mengembangkan faham Qadariyah adalah
orang Irak yang semula beragama Nasrani kemudian
masuk Islam, dan Akhirnya menjadi Nasrani lagi. Dari
orang inilah, Mabad dan Ghailan ad-Dimasyqy mengambil
faham ini. Orang Irak yang dimaksud, sebagaimana
dikatakan Muhammad Ibn al-Auzi adalah Susan.

Mabad al-Jauhani adalah seorang tabiin. Ia


pernah belajar kepada Wasil bin Atta (imam
Mutazilah) dan Hasan al-Basri (ahli hadis
dan fikih pada periode tabiin di Basra). Ia
dihukum mati karena membawa faham
Qadariyah ini. Namun ajarannya tentang
Qadariyah tetap berkembang didunia Islam.
Ia dihukum mati oleh Khalifah Hisyam Ibn
Abdul Malik karena menganut faham
Qadariyah. Disamping sebagai penganjur
faham Qadariyah, Ghailan merupakan
pemuka Murjiah dari golongan al-Salihiah.

DOKTRIN-DOKTRIN
QADARIYAH
Dokrin faham Qadariyah berdasarkan pada
pendapat Ghailan bahwa manusia berkuasa atas
perbuatan perbuatannya. Dalam faham ini
manusia merdeka dalam tingkah langkunya. Ia
berbuat baik adalah atas kemauan dan
kehendaknya sendiri. Begitu pula, ia berbuat jahat
atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Salah
seorang pemuka Qadariyah lainnya yakni Annazam mengemukakan bahwa manusia
mempunyai daya, ia berkuasa atas segala
perbuatanya senidri.

SEKTE-SEKTE QADARIYAH
a.Qadariyah Musyrikah
Qadariyah Musyrikah adalah mereka yang
mengetahui qadha dan qadar serta mengakui
bahwa hal itu selaras dengan perintah dan
larangan.
b.Qadariyah Majusiyah
Qadariyah Majusiyah adalah mereka yang
menjadikan allah berserikat dalam penciptaanpenciptaan nya sebagaimana qadariyah
musyrikah menjadikan sekutu-sekutu bagi allah
dalam beribadah kepadanya.

c.Qadariyah Iblisyiah
Qadariyah iblisyiah adalah mereka yang
membenarkan bahwa allah merupakan
sumber terjadinya kedua perkara, akan
tetapi menurut mereka hal ini saling
berlawanan. Merekalah orang orang yang
membantah allah sebagaimana disebutkan
dalam hadis.

SEKIAN DAN TERIMA


KASIH
WASSALAMUALAIK
UM

PERTANYAAN
1. Norma: apa kaitan QS: al-rad ayat sebelas dengan
surat yasin ayat terkhir (kun fayakun)?
2. Ummu:perbedaan aliran qadariyah dan jabariyah
dalam beribadah?
3. Laksono:sesatkah aliran qadariyah dan jabariyah?