Anda di halaman 1dari 21

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
A. LATAR BELAKANG
Tubuh manusia terdiri dari berbagai system, diantaranya adalah system
kardiovaskuler. System ini menjalankan fungsinya melalui organ jantung
danpembuluh darah. Dimana organ yang memiliki peranan penting dalam hal
ini adalah jantung yang juga merupakan organ besar dalam tubuh. Fungsi utama
jantung adalah untuk memompakan darah ke seluruh tubuh dengan cara mengembang
dan menguncup yang disebabkan oleh karena adanya rangsangan yang berasal
dari susunan saraf otonom. Seperti pada organ-organ yang lain, jantung juga
dapat mengalami kelainan ataupun disfungsi. Sehingga muncullah penyakit
jantung yang dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu penyakit
jantung didapat dan penyakit jantung bawaan. Penyakit jantung bawaan
adalah kelainan struktural jantung yang kemungkinan terjadi sejak dalam
kandungan dan beberapa waktu setelah bayi dilahirkan. Salah satu jenis
penyakit jantung yang tergolong penyakit jantung bawaan adalah Ventricular
Septal Defect (VSD).
VSD adalah kelainan jantung bawaan dimana terdapat lubang
(defek/inkontinuitas) pada septum ventrikel yang terjadi karena kegagalan
fungsi septum interventrikel pada masa janin. VSD merupakan kelainan
jantung congenital tersering dengan prevalensi 20-25 % dari seluruh
prevalensi

jantung

kongenital. Septum

ventrikel

terbagi

menjadi

bagian,yaitu pars membranacea (bagian membran) dan pars muscularis


(bagian otot). Sedangkan septum muscularis dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu inlet, trabecular, dan outlet (infundibulum). VSD yang terletak di pars
membrane sering kali meluas ke bagian muscular sehingga sebagian besar ahli
menyebut VSD ini dengan istilah VSD perimembranous (PM). VSD PM

merupakan

jenis

tersering

(70%),

selanjutnya

trabecular

(5-20%),

infundibular, dan inlet.


Kejadian VSD di Amerika Serikat dan di dunia sebanding, kira-kira
satu sampai dua kasus per seribu bayi yang lahir. Riset menunjukkan bahwa prevalensi
VSD di Amerika Serikat meningkat selama tiga puluh tahun terakhir. Sebuah peningkatan
ganda terjadi pada prevalensi VSD yang dilaporkan oleh Centers for Disease Control
and Prevention dari

tahun

1968-1980. The

Baltimore-Washington

Infant

Study (BWIS) juga melaporkan sebuah peningkatan ganda pada VSD dari tahun 19811989. Riset BWIS melaporkan bahwa peningkatan ini terjadi karena makin sensitifnya
deteksi penyakit ini oleh echocardiography. Di Indonesia, khususnya di Rumah Sakit
Jantung Harapan Kita, tipe perimembranus adalah yang terbanyak ditemukan (60%), kedua
adalah subarterial (37%), dan yang terjarang adalah tipe muskuler (3%). VSD sering
ditemukan pada kelainan - kelainan kongenital lainnya, seperti Sindrom Down.
Faktor prenatal yang mungkin berhubungan dengan VSD adalah Rubella atau
infeksi virus lainnya pada ibu hamil, gizi ibu hamil yang buruk, ibu yang
alkoholik, usia ibu diatas 40 tahun, dan ibu penderita diabetes. Pencegahan
VSD dapat dilakukan pada awal masa kehamilan terutama tiga bulan pertama
dimana terjadi pembentukan organ tubuh antara lain jantung, sebaiknya ibu
tidak mengkonsumsi jamu berbahaya dan obat obat yang dijual bebas di
pasaran, menghindari minuman beralkohol, dan memperbanyak asupan
makanan bergisi terutama yang mengandung protein dan zat besi juga asam
folat tinggi. Pencegahan infeksi pada masa hamil dapat dilakukan dengan
melakukan imunisasi MMR untuk mencegah penyakit morbili (campak) dan
rubella selama hamil yang merupakan faktor risiko terjadinya VSD.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari VSD ?
2. Apa etiologi dari VSD ?
3. Bagaimana pathofisiologi VSD ?
4. Apa manisfestasi dari VSD ?
5. Komplikasi dari VSD ?
6. Pemeriksaan penunjang apa saja yang bisa di lakukan?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari VSD ?

8. ASKEP VSD ?
C. TUJUAN
1. Mampu mengetahui pengertian VSD.
2. Mampu mengetahui penyebab VSD.
3. Mampu mengetahui perjalanan VSD.
4. Mampu mengetahui gejala VSD.
5. Mampu mengetahui komplikasi VSD.
6. Mampu mengetahui pemeriksaan penunjang VSD.
7. Mampu mengetahui penatalaksanaan VSD.
D. MANFAAT
1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa tentang Ventrikel
Septum Defect
2. Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan yang tepat bagi pasien
dengan Ventrikel Septum Defect

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian VSD
VSD adalah suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara
ventrikel kiri dan ventrikel kanan.(Rita &Suriadi, 2001).
VSD adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang
memisahkan ventrikel kanan dan ventrikel kiri. (Heni dkk, 2001).
VSD adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan
dinding pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke

kanan, dan sebaliknya. Umumnya congenital dan merupakan kelainan jantung


bawaan yang paling umum ditemukan (Junadi, 1982).
Ventrikel septum defek merupakan kelainan jantung dimana terjadi
defek sekat antar ventrikel pada berbagai lokasi, dimana terjadi aliran darah
dari ventrikel kiri menuju ventrikel kanan terjadi percampuran darah arteri
dan vena tanpa sianosis. ( Sudoyo, Aru W. Ilmu Penyakit Dalam)
Ventricular septum defect (VSD) merupakan suatu keadaan adanya
lubang disekat jantung yang memisahkan ruang ventrikel (bilik) kanan dan
kiri . Lubang ini mengakibatkan kebocoran aliran darah dari bilik kiri yang
memiliki tekanan lebih besar melalui bilik kanan langsung masuk ke
pembuluh nadi paru (arteri pulmonalis).
B. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh
pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan (PJB) yaitu :
a. Faktor prenatal (faktor eksogen)
1) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubela
2) Ibu alkoholisme
3) Umur ibu lebih dari 40 tahun
4) Ibu menderita penyakit DM yang memerlukan insulin
5) Ibu meminum obat-obatan penenang
b. Faktor genetic (faktor endogen)
1) Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
2) Ayah/ibu menderita PJB
3) Kelainan kromosom misalnya sindrom down
4) Lahir dengan kelainan bawaan yang lain
Kelainan ini merupakan kelainan terbanyak, yaitu sekitar 25% dari seluruh
kelainan jantung. Dinding pemisah antara kedua ventrikel tidak tertutup
sempurna. Kelainan ini umumnya congenital, tetapi dapat pula terjadi karena
trauma. Kelainan VSD ini sering bersama-sama dengan kelainan lain
misalnya trunkus arteriosus, Tetralogi Fallot.
C. Manifestasi Klinis

a. Tanda khas adalah mur-mur pansistolik keras dan kasar, umumnya paling
jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum.
b. Beban yang terlalu berat dari ventrikel kanan menyebabkan hipertrofi dan
pembesaran jantung yang nyata.
c. Dengan meningkatnya resistensi vascular paru, sering terdapat dispneu
dan infeksi paru.
d. Mungkin terdapat tanda-tanda sianosis
e. Pertumbuhan terganggu
f. Kesulitan makan
D. Pathofisiologi
Defek septum ventricular ditandai dengan adanya hubungan septal
yang memungkinkan darah mengalir langsung antar ventrikel, biasanya dari
kiri ke kanan. Diameter defek ini bervariasi dari 0,5 3,0 cm. Perubahan
fisiologi yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tekanan lebih tinggi pada ventrikel kiri dan meningklatkan aliran darah
kaya oksigen melalui defek tersebut ke ventrikel kanan.
2. Volume darah yang meningkat dipompa ke dalam paru, yang akhirnya
dipenuhi darah, dan dapat menyebabkan naiknya tahanan vascular
pulmoner.
3. Jika tahanan pulmoner ini besar, tekanan ventrikel kanan meningkat,
menyebabkan piarau terbalik, mengalirkan darah miskin oksigen dari
ventrikel kanan ke kiri, menyebabkan sianosis.
Keseriusan gangguan ini tergantung pada ukuran dan derajat hipertensi
pulmoner. Jika anak asimptomatik, tidak diperlukan pengobatan; tetapi jika
timbul gagal jantung kronik atau anak beresiko mengalami perubahan
vascular paru atau menunjukkan adanya pirau yang hebat diindikasikan untuk
penutupan defek tersebut. Resiko bedah kira-kira 3% dan usia ideal untuk
pembedahan adalah 3 sampai 5 tahun.

E. Pathway

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah :
a. Endokarditis infektif. Penyakit yang disebabkan infeksi mikroba pada
lapisan endotel jantung ditandai oleh vegetasi yang biasanya terdapat pada
katup jantung namun dapat terjadi endokardium di tempat lain.
b. Gagal jantung kronik. Sindrom klinik yang komplek yang disertai keluhan
gagal jantung berupa sesak, fatique, baik dalam keadaan istirahat atau
latihan, edema, dan tanda objektif adanya disfungsi jantung dalam keadaan
istirahat. Tanda-tanda gagal jantung; nafas cepat, sesak nafas, retraksi,
bunyi jantung tambahan (murmur), edema tungkai, hepatomegali.
c. Obstruksi pembuluh darah pulmonal, Adanya hambatan pada PD pulmonal.

d. Syndrome eisenmenger (Terjadinya perubahan dari pirau kiri ke kanan


menjadi kanan ke kiri yang dapat menyebabkan sianosis ).
e. Terjadinya insulisiensi aorta atau stenosis pulmonary (penyempitan
pulmonal ).
f. Penyakit vascular paru progresif sebagai akibat lanjut dari syndrome
eisenmenger.
g. Radang paru-paru (pneumonia/bronkopneumonia) berulang : gejala dan
tanda berupa batuk-batuk dengan sesak nafa disertai panas tinggi.
h. Kerusakan system konduksi ventrikel.
G. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kateterisasi jantung menunjukkan adanya hubungan abnormal antar
ventrikel
b. EKG dan foto thoraks menunjukkan adanya hipertrofi ventrikel kiri
c. Hitung darah lengkap untuk uji prabedah rutin
d. Uji masa protombin (PT) dan masa tromboplastin parsial (PTT) yang
dialkukan sebelum pembedahan dapat mengungkapkan kecenderungan
perdarahan (biasanya normal)
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Umum
a. Tirah baring,
Posisi setengah duduk.Pengurangan aktivitas fisik merupakan
sandaran utama pengobatan gagal jantung dewasa, namun sukar pada
anak. Olahraga kompetitif, yang memerlukan banyak tenaga atau
isometrik harus dihindari, namun tingkat kepatuahan akan dalam hal
ini sangat rendah. Jika terjadi gagal jantung berat, aktivitas fisik harus
sangat dibatasi. Saat masa tirah baring seharian, sebaiknya
menyibukkan mereka dengan kegiatan ringan yang mereka sukai yang
dapat dikerjakan diatas tempat tidur (menghindari anak berteriakteriak tidak terkendali).
b. Penggunaan oksigen.
Penggunaan oksigen mungkin sangat membantu untuk penderita
gagal jantung dengan udem paru-paru, terutama jika terdapat pirau

dari kanan ke kiriyang mendasari dengan hipoksemia kronik.


Diberikan oksigen 30-50%dengan kelembaban tinggi supaya jalan
nafas tidak kering dan memudahkan sekresi saluran nafas keluar.
Namun, oksigen tidak mempunyai peran pada pengobatan gagal
jantung kronik.
c. Pembatasan cairan dan garam.
Dianjurkan pemberian cairan

sekitar

70-80%

(2/3)

dari

kebutuhan.Sebelum ada agen diuretik kuat, pembatasan diet natrium


memainkan peran penting dalam penatalaksanaan gagal jantung.
Makanan rendah garam hampir selalu tidak sedap, lebih baik untuk
mempertahankan diet adekuat dengan menambah dosis diuretik jika
diperlukan. Sebaiknya tidak menyarankan untuk membatasi konsumsi
air kecuali pada gagal jantung yang parah.
d. Diet makanan berkalori tinggi
Bayi yang sedang menderita gagal jantung kongestif banyak
kekurangan kalori karena kebutuhan metabolisme bertambah dan
pemasukan kalori berkurang. Oleh karena itu, perlu menambah kalori
harian. Sebaiknya memakai makanan berkalori tinggi, bukan makanan
dengan volume yang besar karena anak ini ususnya terganggu. Juga

sebaiknya makanannya dalam bentuk yang agak cair untuk membantu


ginjal mempertahankan natrium dan keseimbangan cairan yang cukup.
e. Pemantauan hemodinamik yang ketat.
Pengamatan dan pencatatan secara teratur terhadap denyut jantung,
napas, nadi, tekanan darah, berat badan, hepar, desakan vena sentralis,
kelainan paru, derajat edema, sianosis, kesadaran dan keseimbangan
asam basah.
f. Hindari faktor yang memperberat (demam, anemia, infeksi)
Peningkatan temperatur, seperti yang terjadi saat seorang
menderita demam, akan sangat meningkatkan frekuensi denyut
jantung, kadang-kadang dua kali dari frekuensi denyut normal.

Penyebab pengaruh ini kemungkinan karena panas meningkatkan


permeabilitas membran otot ion yang menghasilkan peningkatan
perangsangan sendiri. Anemia dapat memperburuk gagal jantung, jika
Hb < 7 gr % berikan transfusi PRC. Antibiotika sering diberikan
sebagai

upaya

pencegahan

terhadap

miokarditis/

endokarditis

,mengingat tingginya frekuensi ISPA (Bronkopneumoni) akibat udem


parupada bayi/ anak yg mengalami gagal jantung kiri. Pemberian
antibiotika tersebut boleh dihentikan jika udem paru sudah teratasi.
Selain itu, antibiotikaprofilaksis tersebut juga diberikan jika akan
dilakukan tindakan-tindakan khusus misalnya mencabut gigi dan
operasi. Jika seorang anak dengan gagal jantung atau kelainan jantung
akan dilakukan operasi, maka tiga hari sebelumnya diberikan
antibiotika profilaksis dan boleh dihentikan tiga harisetelah operasi.
g. Penatalaksanaan diet pada penderita yang disertai malnutrisi
Memberikan
gambaran
perbaikan
pertumbuhan
tanpa
memperburuk gagal jantung bila diberikan makanan pipa yang terusmenerus.
Karena penyebab gagal jantung begitu bervariasi pada anak, maka
sukar

untuk

membuat

generalisasi

mengenai

penatalaksanaan

medikamentosa. Walaupun demikian, dipegang beberapa prinsip


umum.
Secara farmakologis, pengobatan adalah pendekatan tiga tingkat,
yaitu:
1. Memperbaiki kinerja pompa jantung.
2. Mengendalikan retensi garam dan air yang berlebihan.
3. Mengurangi beban kerja
Pendekatan pertama adalah memperbaiki kinerja pompa dengan
menggunakan digitalis, jika gagal jantung tetap tidak terkendali maka
digunakan diuretik (pegurangan prabeban) untuk mengendalikan
retensi garam dan air yang berlebihan.

10

Jika kedua cara tersebut tidak efektif, biasanya dicoba


pengurangan beban kerja jantung dengan vasodilator sistemik
(pengurangan beban pasca). Jika pendekatan ini tidak efektif, upaya
lebih lanjut memperbaiki kinerja pompa jantung dapat dicoba dengan
agen simpatomimetik atau agen inotropik positif lain. Jika tidak ada
dari cara-cara tersebut yang efektif, mungkin diperlukan transplantasi
jantung. Untuk menilai hasilnya harus ada pencatatan yang teliti
dan berulangkali terhadap denyut jantung, napas, nadi, tekanan darah,
berat badan,hepar, desakan vena sentralis, kelainan paru, derajat
2.

edema, sianosis, dan kesadaran.


Penatalaksanaan Medis
a. Pembedahan
Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal yang belum
permanen: biasanya pada keadaan menderita gagal jantung sehingga
dalam pengobatannya menggunakan digitalis. Bila ada anemia diberi
transfusi eritrosit terhampat selanjutnya diteruskan terapi besi.
Operasi dapat ditunda sambil menunggu penutupan spontan atau bila
ada gangguan dapat dilakukan setelah berumur 6 bulan.
Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal permanen:
operasi paliatif atauoperasi koreksi total sudah tidak mungkin karena
pulmonalis mengalami arterios klerosis. Bila defek ditutup, ventrikel
kanan akan diberi beban yang berat sekali dan akhirnya akan
mengalami dekompensasi. Bila defek tidak ditutup,kelebihan tekanan
pada ventrikel kanan dapat disalurkan ke ventrikel kiri melalui defek.
1. Antibiotic profilaksis mencegah endokarditis pada tindakan
tertentu.
2. Penanganan gagal jantung jika terjadi operasi pada umur 2-5
tahun.
3. Prognosis operasi baik jika tahanan vascular paru rendah, pasien
dalam keadaan baik, BB 15 kg. Bila sudah terjadi sindrom
Eisenmenger tidak dapat dioperasi. Sindrom Eisenmenger

11

diderita pada penderita dengan VSD yang berat, yaitu ketika


tekanan ventrikel kanan sama dengan ventrikel kiri, sehingga
shuntnya sebagian atau seluruhnya telah menjadi dari kanan ke
kiri sebagai akibat terjadinya penyakit vaskuler pulmonal.
4. Penatalaksanaan Bedah: Perbaikan defek septum ventricular
Perbaikan dini lebih disukai jika defeknya besar. Bayi
dengan gagal jantung kronik mungkin memerlukan pembedahan
lengkap atau paliatif dalam bentuk pengikatan atau penyatuan
arteri pulmoner jika mereka tidak dapat distabilkan secara medis.
Karena kerusakan yang ireversibel akibat penyakit vaskular paru,
pembedahan hendaknya tidak ditunda sampai melewati usia pra
sekolah atau jika terdapat resistensi vaskular pulmoner progresif.
Dilakukan sternotomi median dan bypass kardiopulmoner,
dengan penggunaan hipotermia pada beberapa bayi. Untuk
defek membranosa pada bagian atas septum, insisi atrium kanan
memungkinkan dokter bedahnya memperbaiki defek itu dengan
bekerja

melalui

katup

trikuspid.

Jika

tidak,

diperlukan

ventrikulotomi kanan atau kiri. Umumnya Dacron atau penambal


perikard diletakkandi atas lesi, meskipun penjahitan langsung
juga dapat digunakan jika defek tersebut minimal. Pengikatan
yang dilakukan tadi diangkat dansetiap defornitas karenanya
diperbaiki.
Respon

bedah

secara hemodinamik

harus
normal,

mencakup
meskipun

jantung

yang

kerusakan

yang

disebabkan hipertensi pulmoner itu bersifat ireversibel.


I. Asuhan Keperawatan
1. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. PENGKAJIAN
a. Pengkajian Umum
1) Keluhan Utama
Keluhan orang tua pada waktu membawa anaknya ke dokter
tergantung dari jenis defek yang terjadi baik pada ventrikel maupun

12

atrium, tapi biasanya terjadi sesak, pembengkakan pada tungkai dan


berkeringat banyak.
2) Riwayat Kesehatan
i. Riwayat kesehatan sekarang
Anak mengalami sesak

nafas

berkeringat

banyak

dan

pembengkakan pada tungkai tapi biasanya tergantung pada derajat


dari defek yang terjadi.
ii. Riwayat kesehatan lalu
1. Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu
(infeksi virus Rubella), mungkin ada riwayat pengguanaan
alkohol dan obat-obatan serta penyakit DM pada ibu.
2. Intra natal
Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
iii. Riwayat Neonatus
1) Gangguan respirasi biasanya sesak, takipnea
2) Anak rewel dan kesakitan
3) Tumbuh kembang anak terhambat
4) Terdapat edema pada tungkai dan hepatomegali
5) Sosial ekonomi keluarga yang rendah.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang mengalami
kelainan defek jantung
b) Penyakit keturunan atau diwariskan
c) Penyakit congenital atau bawaan
b. System yang dikaji
1) Pola Aktivitas dan latihan
a) Keletihan/kelelahan
b) Dispnea
c) Perubahan tanda vital
d) Takipnea
e) Kehilangan tonus otot
2) Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan
i. Riwayat hipertensi
ii. Endokarditis
iii. Penyakit katup jantung.
3) Pola nutrisi dan metabolik
a) Anoreksia
b) Pembengkakan ekstremitas bawah/edema
13

4) Pola peran dan hubungan dengan sesame


a. Penurunan peran dalam aktivitas sosial dan keluarga

c. Pengkajian Fisik
1. Pengkajian Pernafasan
a)
Gambarkan bentuk dada,simetris,adanya insisi,selang di dada atau
b)

c)
d)

cuping hidung,retraksi sub sternal dan interkostal atau sub clavia.


Tentukan rata-rata pernafasan dan keteraturannya.
Auskultasi dan gambarkan bunyi nafas, kesamaan bunyi nafas,

f)

berkurangnya / tidak adanya udara nafas, stridor,crakles, wheezing.


Gambarkan adanya tangisan bila tidak di intubasi.
Bila diintubasi catat ukuran pipa endotrakeal, jenis dan setting

g)

ventilator.
Ukur saturasi oksigen dengan menggunakan oximetri pulse dan

e)

2.

penyimpangan lain.
Gambarkan penggunaan otot-otot pernafasan tambahan : gerakan

analisa gas darah.


Pengkajian Kardiovaskular
a)
Tentukan denyut jantung dan iramanya.
b)
Gambarkan bunyi jantung termasuk murmur.
c)
Tentukan poin maksimum impuls ( PMI ),poin dimana bunyi
d)

e)
f)

jantung terdengar paling keras.


Tentukan tekanan darah.Sebutkan ekstremitas yang digunakan dan
ukuran yang dipakai.Pemeriksaan tidak boleh lebih dari 1 kali.
Kaji warna kuku,membran mukosa bibir.
Gambarkan warna bayi atau anak ( mungkin dapat menunjukkan
latar belakang masalah jantung,pernafasan atau darah) Sianosis,

pucat, jaundice, mouting,


Gambarkan nadi perifer,pengisian kapiler( kurang dari 3 detik)
h)
Pastikan monitor,parameter dan alarm posisi On
Pengkajian gastrointestinal
a)
Tentukan adanya distensi abdomen, meningkatnya lingkar perut,
g)

3.

kulit yang terang (bright), adanya eritema dinding abdomen,

14

tampaknya peristaltik, bentuk usus yang dapat dilihat, status


b)

umbilikus.
Tentukan adanya tanda-tanda regurgitasi, waktu yang berhubungan
dengan pemberian makan, bila memakai NGT tentukan karakter,

jumlah residu, warna, konsisten, PH vairan lambung.


Palpasi area hati.
d)
Gambarkan bising usus,ada atau tidak ada.
e)
Gambarkan jumlah, warna, konsistensi feces.
Pengkajian genitourinari
a)
Gambarkan bentuk abnormal dari genetalia.
b)
Gambarkan jumlah ( ditentukan oleh berat badan ), PH dan berat
c)

4.

c)

5.

jenis untuk menggambarkan status cairan.


Timbang berat badan ( tindakan yang paling sering dilakukan

untuk mengkaji status cairan.


Pengkajian muskuloskeletal
a)
Gambarkan gerakan bayi : random, bertujuan, twitching, spontan,
tingkat akti fitas dengan stimulasi, evaluasi saat kehamilan dan
b)
c)

persalinan.
Gambarkan sikap dan posisi bayi/anak : fleksi atau ekstensi.
Observasi reflek moro, sucking, babinski, plantar dan reflek lain

e)

yang diharapkan.
Tentukan tingkat respon.
Gambarkan adanya perubahan pada lingkar kepala ( bila ada

f)

indikasi ) ukuran, tahanan fontanel, dan garis sutura.


Gambarkan respon pupil pada bayi yang usia kehamilannya lebih

d)

dari 32 minggu.
6.

Pengkajian kulit
a)
Gambarkan beberapa perubahan warna,daerah kemerahan,tanda
iritasi,abrasi, khususnya dimana terdapat daerah penekanan oleh
infus atau alat yang lain kontak dengan bayi/anak,juga observasi
b)
c)
d)

dan catat bahan yang digunakan untuk perawatan kulit.


Tentukan tekstur dan turgor kulit : kering,lembut, dan lain-lain.
Gambarkan adanya rash,luka kulit atau tanda lahir.
Gambarkan kateter infus dan jarum yang digunakan dan observasi
adanya tana infiltrasi.
15

e)

Gambarkan adanya infus parenteral : lokasi; arteri, vena perifer,


umbilical, sentral. Jenis infus (obat, saline, dektrose, elektrolit,

lemak, TPN).
Temperatur
a)
Gambarkan suhu kulit dan axilla.
b)
Gambarkan hubungan dengan suhu lingkungan
b. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b.d malformasi jantung
2. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal
3. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
7.

tubuh dan suplai oksigen ke sel.


4. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai
oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan pada saat
makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
6. Resiko infeksi b.d menurunnya status kesehatan
7. Perubahan peran orang tua b.d hospitalisasi anak, ke khawatiran terhadap
penyakit anak.
c. Rencana Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b.d malformasi jantung
Tujuan : Curah jantung membaik
Kriteia hasil : adanya tanda-tanda membaiknya curah jantung
Intervensi :
a. Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna
dan kehangatan kulit.
b. Tegakkan derajat sianosis (membrane mukosa, clubbing)
c. Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, takikardi, tachipnea, sesak, lelah
saat minum susu, periorbital edema, oliguria dan hepatomegali.
d. Kolaborasi untuk pemberian obat (diuretic, untuk menurunkan
afterload) sesuai indikasi
2. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal
Tujuan : Pertukaran gas membaik
Kriteria hasil : tidak adanya tanda-tanda resistensi pembuluh paru
Intervensi :
16

a. Monitor kualitas dan irama pernafasan


b. Atur posisi anak dengan posisi fowler
c. Hindari anak dari orang yang terinfeksi
d. Berikan istirahat yang cukup
e. Berikan oksigen sesuai indikasi
3. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
tubuh dan suplai oksigen ke sel.
Tujuan : Aktifitas klien terpenuhi
Kriteria hasil : Anak berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuanya
Intervensi :
a. Ijinkan anak sering istirahat dan hindarkan gangguan saat tidur
b. Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktifitas ringan
c. Bantu anak untuk memilih aktifitas yang sesuai dengan usia, kondisi
dan kemampuan anak
d. Berikan periode istirahat setelah melakukan aktifitas
e. Hindarkan suhu lingkungan terlalu panas atau dingin
f. Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan /kecemasan anak
4. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai
oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
Tujuan : Tidak terjadi perubahan pertumbuhan dan perkembangan
Kriteria hasil : Pertumbuhan anak sesuai kurva pertumbuhan BB dan TB.
Intervensi :
a. Sediakan didit yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai
pertumbuhan yang adekuat.
b. Monitor TB dan BB
c. Libatkan keluarga dalam pemberian nutrisi kepada anak
5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan pada saat
makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : Anak mempertahankan intake makanan dan minuman
Intervensi :
a. Timbang BB setiap hari dengan timbangan yang sama
b. Catat intake dan out put secara benar
c. Berikan makanan dengan porsi kecil sering

17

6.

d. Berikan minum yang banyak


Resiko infeksi b.d menurunnya status kesehatan
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi :

a. Monitor tanda tanda vital


b. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
c. Berikan istirahat yang adekuat
d. Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal
7. Perubahan peran orang tua b.d hospitalisasi anak, kekwatiran terhadap
penyakit anak.
Tujuan : Tidak terjadi perubahan peran orang tua
Kriteria hasil :
a. orang tua mengekspresikan perasaannya
b. Orang tua yakin memiliki peranan penting dalam keberhasilan
pengobatan.
Intervensi :
a. Motivasi orang tua ntuk mengekspresikan perasaannya sehubungan
b.
c.
d.
e.

dengan anaknya
Diskusikan dengan orang tua tentang rencana pengobatan
Berikan informasi yang jelas dan akurat
Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
Motivasi keluarga untuk melibatkan anggota keluarga lain dalam

perawatan anak.
d. Evaluasi
1. Curah jantung berada dalam kondisi normal.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
3. Intoleransi aktifitas bisa diatasi.
4. Tidak terjadi resiko infeksi.
5. Pertumbuhan dan perkembangan tidak terganggu.
6. Tidak terjadi ketidak efektifan pertukaran gas.
7. Orang tua tidak merasa cemas dan khawatir.

18

BAB III
PENUTUP
A. Ksimpulan
Lebih dari 90 % kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah
multifaktor. Ventrikel septum defek ditandai dengan adanya hubungan septal
yang memungkinkan darah mengalir langsung antar ventrikel, yang biasanya
dari kiri ke kanan.
Pada anak dengan ventrikel septum defek sederhana gambaran klinisnya dapat
meliputi adanya murmur, intoleransi latihan ringan, keletihan, dispnue selama
beraktivitas dan infeksi saluran nafas yang berulang ulang dan berat.
Keseriusan gangguan ini tergantung dari pada ukuran dan derajat hipertensi
pulmonar, jika anak asimptomatik masih tidak diperlukan pengobatan tetapi
jika timbul gagal jantung kronik diperlukan untuk penutupan defek atau
pembedahan.Resiko bedah kira kira 3 % idealnya pada anak umur 3 sampai
5 tahun.
B. Saran
1. Bagi Petugas Kesehatan
a. Memberikan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan respon dan
keadaan yang dialami oleh pasien
b. Selalu memperhatikan perkembangan

ilmu

pengetahuan

yang

berhubungan dengan penanganan penyakit VSD


2. Bagi Mahasiswa
a. Mempelajari lebih dalam tentang VSD
b. Melakukan dan mengembangkan penelitian tentang penanganan pada
penderita VSD
3. Bagi Masyarakat
a. Menjaga pola makan agar sehat
b. Tanggap terhadap gejala yang muncul pada diri sendiri dan orang lain
yang berada di sekitar agar tidak terlambat ditangani.

19

c.

Segera konsultasi kepada petugas kesehatan jika ada keluhan atau


keanehan pada kesehatan

Daftar Pustaka

20

Aziz Alimul. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 2. Jakarta: Salemba
Medika
Cecily & Linda. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Hidayat,Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Cetakan Ketiga.
Jakarta: Salemba Medika
Cecily, L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3. Jakarta : EGC
Judith, M, Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keparawatan dengan Intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta : EGC

21