Anda di halaman 1dari 10
COMPARATIVE STUDY OF TWO HARBOUR TUG VOITH WATER TRACTOR AND AZIMUTH STERN DRIVE TUG TECHNICALLY
COMPARATIVE STUDY OF TWO HARBOUR TUG VOITH WATER TRACTOR AND
AZIMUTH STERN DRIVE TUG TECHNICALLY AND ECONOMICALLY FOR MUARA
KARANG LNG TERMINAL
Thomas Yulius* 1 , Wasis Dwi Aryawan 2
1 Mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, ITS-Surabaya.
2 Staff Pengajar Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, ITS-Surabaya.
Abstrak
PT Nusantara Regas bermaksud untuk mengembangkan dan mengoperasikan Floating Storage and
Regasification Terminal (FSRT) yang terletak di Muara Karang, Jawa Barat, untuk memasok gas
untuk Muara Karang dan Pembangkit Listrik Tanjung Priok. Dalam rangka mendukung penanganan
kapal (berthing dan unberthing) dibutuhkan kapal tunda pelabuhan untuk membantu LNG carrier
bersandar di Floating Storage and Regasofocation Unit (FSRU). Laporan tugas akhir ini menyajikan
sebuah studi komparatif dua jenis tug yang kompeten dalam menangani LNG carrier tersebut yaitu
Azimuth Stern Drive (ASD) dan Voith Water Tractor (VWT) Terminal LNG Muara Karang. Tugas
akhir terutama didasarkan pada survei literatur yang tersedia di domain publik kemudian dilakukan
perbandingan antara data – data yang didapat, lalu diproses menggunakan metode Analytic Hierarchy
Process (AHP) dengan engineering judgement dalam menentukan tingkat kepentingan dan pemilihan
tug boat. Hasil yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah VWT lebih unggul daripada ASD pada saat
aspek performance kapal diutamakan dengan bobot masing – masing ASD sebesar 40,1% dan VWT
sebesar 59,9%. Namun, ketika aspek ekonomis diutamakan ASD lebih unggul daripada VWT dengan
bobot ASD sebesar 51,6% dan VWT sebesar 48,4%.
Kata kunci: Studi komparatif, Harbour Tug, Voith Water Tractor , Azimuth Stern Drive, Analytic
Hierarchy Process
1. PENDAHULUAN
PT Nusantara Regas bertujuan membangun dan mengoperasikan FSRT (Floating Storage and
Regasification Terminal) untuk LNG yang terletak di Muara Karang. Dalam pengoperasian FSRT
dibutuhkan tug boat dalam membantu olah gerak kapal yang hendak bersandar dan berlabuh di
terminal tersebut. Dalam pengoperasiannya perusahaan ini menginginkan sebuah tug boat yang dapat
melakukan operasi yang aman dan menjamin keselamatan dengan harga yang sepadan.
Dalam dunia perkapalan terdapat dua buah jenis tug boat berdasarkan sistem propulsinya yang
mampu bekerja dengan baik di sebuah FSRT yaitu Azimuth Stern Drive (ASD) tug and Voith-
Schneider Propeller atau Voith Water Tractor (VWT) tug.
Oleh sebab itu akan dilakukan studi perbandingan antara penggunaan ASD tug dan VWT tug dalam
aspek teknis dan aspek ekonomis untuk mengetahui jenis tug boat yang paling berkompeten saat
digunakan dalam membantu operasi FSRT tersebut.
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Gambaran Umum Tug Boat
Tugboat yang akan digunakan oleh FSRU dalam membantu berthing/unberthing kapal yang bersandar
adalah ASD (Azimuth Stern Drive) tug atau VWT (Voith Water Tractor) tug, berikut penjelasan kedua
jenis tug tersebut (Warsash Maritime Centre, 2001) :
(1). Azimuth Stern Drive (ASD) Tug
ASD tug merupakan tug dengan sistem propulsi yang dapat bergerak 360 derajat. Propulsi
utamanya terdiri dari dua unit azimuth propeller yang memiliki bentuk kort-nozzle namun
dapat bergerak 360o sehingga kapal memiliki manuver yang handal.
Tug dengan propulsi ASD memiliki cara yang sama dengan tug konvensional dalam
operasional tetapi memiliki olah gerak yang lebih baik. Tug jenis ini bisa memiliki dua towing
operasional tetapi memiliki olah gerak yang lebih baik. Tug jenis ini bisa memiliki dua towing
winch untuk melakukan towing, yaitu pada bagian haluan dan midship. ASD tug memiliki
potensi yang sangat baik dalam melakukan operasi push-pull mode.
Untuk cara operasional menggunakan bagian midship, ASD tug memiliki cara yang sama
dengan VWT namun resiko terjadi kecelakaan lebih tinggi karena dapat menyebabkan
propeller terangkat dan mengurangi kemampuan maneuver kapal. (Peels Port Group,2010)
(2). Voith Water Tractor Tug
Voith merupakan tug dengan propulsi yang berlokasi pada 0.3xLOA, karena itu disebut
sebagai tractor tug. Letak towing pada tug ini berada pada bagian stern kapal.
Dikarenakan memiliki sistem propulsi yang terletak di 0.3xLOA, saat melakukan towing
VWT tug memiliki resiko kecelakaan yang kecil dan propeller tidak akan terangkat seperti
halnya ASD tug dan tug konvensional. VWT diciptakan untuk memenuhi tujuan utama dalam
shiphandling, manuver dan keselamatan dalam operasi (Peels Port Group,2010).
Tug ini juga memiliki airfoil berupa skeg yang berada pada bagian ujung lambung sampai di
dekat propeller. Foil ini berfungsi untuk meningkatkan gaya angkat dan sangat penting dalam
menahan gaya samping saat tug melakukan berthing/unberthing. Kelemahan yang disebabkan
oleh adanya foil adalah lebih kecilnya bollard pull yang dihasilkan pada VWT tug dibanding
ASD tug saat power mesin yang diberikan sama.
2.2. Analytic Hierarchy Process (AHP)
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif. Peralatan utama
Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah suatu hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi
manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak berstruktur dipecahkan ke dalam
kelompok - kelompoknya. Kemudian kelompok - kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk
hirarki.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan proses penjabaran hirarki tujuan, yaitu:
• Pada saat penjabaran tujuan ke dalam sub tujuan, harus diperhatikan apakah setiap aspek dari
tujuan yang lebih tinggi tercakup dalam sub tujuan tersebut.
• Meskipun hal tersebut terpenuhi, perlu menghindari terjadinya pembagian yang terlampau
banyak, baik dalam arah horisontal maupun vertikal.
• Untuk itu, sebelum menetapkan suatu tujuan untuk menjabarkan hirarki tujuan yang lebih
rendah, maka dilakukan tes kepentingan, ”apakah suatu tindakan/hasil yang terbaik akan
diperoleh bila tujuan tersebut tidak dilibatkan dalam proses evaluasi?”
Tabel 2.2 Tabel penilaian AHP (Sumber : Saaty, 1990)
Intensitas
Keterangan
Penjelasan
Kepentingan
1
Kedua elemen sama
pentingnya
Dua elemen mempunyai
pengaruh yang sama
besar terhadap tujuan
Elemen yang satu sedikit
Pengalaman dan
penilaian sedikit
3
lebih penting daripada
elemen yang lainnya
menyokong satu elemen
dibandingkan elemen
lainnya
Elemen yang satu lebih
5
penting daripada yang
lainnya
Pengalaman dan
penilaian sangat kuat
menyokong satu elemen
dibandingkan elemen
lainnya Satu elemen jelas lebih 7 mutlak penting daripada elemen lainnya Satu elemen yang kuat
lainnya
Satu elemen jelas lebih
7
mutlak penting daripada
elemen lainnya
Satu elemen yang kuat
disokong dan dominan
terlihat dalam praktek
Satu elemen mutlak
9
penting daripada elemen
lainnya
Bukti yang mendukung
elemen yang satu
terhadap elemen lain
memiliki tingkat
penegasan tertinggi yang
mungkin menguatkan
2, 4, 6, 8
Nilai - nilai antara dua
nilai pertimbangan -
pertimbangan yang
berdekatan
Nilai diberikan bila ada
dua kompromi diantara
dua pilihan
3.
METODOLOGI PENELITIAN
Pengumpulan Data
Voith-Water Tractor
dan
Azimuth Stern Drive
Perbandingan
Metodologi
Manuver
Analisa Data
Bollard pull
Analisa
Data dan
Persamaan linier
Tug in wave
ventilation risk
Studi literature
Faktor Teknis
Floating debris
Studi literature
Sarat
Analisa Data
Analisa Data
Lebar
Analisa Data
Panjang
Biaya
Pembangunan
Work breakdown
structure
Faktor Ekonomis
Biaya Operasi
Analytic Hierarchy Process
3
Kesimpulan
Gambar 3.1. Flowchart Metodologi Penelitian 4. Studi Komparatif Teknis dan Ekonomis ASD dan VWT 4.1.
Gambar 3.1. Flowchart Metodologi Penelitian
4.
Studi Komparatif Teknis dan Ekonomis ASD dan VWT
4.1. Studi Komparatif Teknis
(1). Manuver
Berikut table perbandingan dan bobot pada perbandingan maneuver antara kedua jenis tug
boat :
Tabel 4.1 Perbandingan antara ASD dan VWT dan bobot ASD
ASD
VWT
Bobot [1 ‐ (rata‐ rata waktu ASD)/(rata ‐
rata waktu asd+vwt)]
Manuver 1
0.86
0.14
0.14
Manuver 2
0.76
0.24
0.24
Manuver 3
0.69
0.31
0.31
Bobot rata ‐ rata ASD
0.23
Tabel 4.2 Perbandingan antara ASD dan VWT dan bobot VWT
ASD
VWT
Bobot [1 ‐ (rata‐ rata waktu VWT)/(rata ‐
rata waktu asd+vwt)]
Manuver 1
0.86
0.14
0.86
Manuver 2
0.76
0.24
0.76
Manuver 3
0.69
0.31
0.69
Bobot rata ‐ rata VWT
0.77
(2). Bollard Pull
Berikut ini table perbandingan bollard pull kedua jenis tug pada daya tertentu dan bobot
dari kedua jenis tug tersebut :
Tabel 4.3 Perbandingan Bollard pull ASD dan VWT pada power tertentu
Bollard Pull Pada
Perbandingan BP Pada
Perbandingan
2000 hp
3000 hp
4000 hp
5000 hp
2000 hp
3000 hp
4000 hp
5000 hp
Rata ‐Rata
ASD
25
37
54
64.5
0.520833
0.528571
0.556701
0.565789
0.54
VWT
23
33
43
49.5
0.479167
0.471429
0.443299
0.434211
0.46
(3). Thrust pada saat terjadi ventilasi
Berikut perbandingan thrust antara ASD dan VWT saat terjadi ventilasi dengan
perbandingan H/D (H = tinggi ventilasi, D = tinggi propeller) :
Tabel 4.4 Perhitungan bobot pada thrust
H/D VWT ASD 0 0.50 0.50 0.1 0.74 0.26 0.2 0.85 0.15 0.3 0.86 0.14
H/D
VWT
ASD
0
0.50
0.50
0.1
0.74
0.26
0.2
0.85
0.15
0.3
0.86
0.14
0.4
0.86
0.14
0.5
0.86
0.14
0.6
0.86
0.14
0.7
0.86
0.14
0.8
0.86
0.14
0.9
1.00
0.00
Bobot
0.83
0.17
(4). Perbandingan Sarat Kapal
Berikut ini perbandingan sarat antara ASD dan VWT, dimana sarat mempengaruhi
kemungkinan kapal mengalami grounding.
Tabel 4.5 Perhitungan bobot pada penilaian sarat kapal
Sarat Kapal (m) Pada
Bobot (sarat /jumlah sarat ASD & VWT)
Bobot rata ‐ rata
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
ASD
3.26
3.50
3.78
5.24
0.44
0.43
0.42
0.52
0.45
VWT
4.20
4.63
5.14
4.88
0.56
0.57
0.58
0.48
0.55
(5). Perbandingan Lebar Kapal
Berikut ini perbandingan lebar antara ASD dan VWT :
Tabel 4.6 Perhitungan bobot pada lebar kapal
Lebar Kapal (m) Pada
Bobot (Lebar /jumlah lebarASD & VWT) pada
Bobot rata ‐ rata
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
ASD
7.60
8.50
9.70
11.18
0.46
0.46
0.46
0.50
0.47
VWT
8.77
9.92
11.33
11.00
0.54
0.54
0.54
0.50
0.53
(6). Perbandingan Panjang Kapal
Berikut ini perbandingan panjang kapal :
Tabel 4.7 Perhitungan bobot pada panjang kapal
Panjang Kapal (m) Pada
Bobot (Lebar /jumlah lebar asd & VWT)
Bobot rata ‐ rata
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
2000 BHP
3000 BHP
4000 BHP
5000 BHP
ASD
20.00
24.00
30.03
26.86
0.41
0.44
0.47
0.48
0.45
VWT
28.67
30.22
33.41
29.07
0.59
0.56
0.53
0.52
0.55
4.2. Studi Komparatif Ekonomis
Dalam faktor ekonomis diperhatikan pengeluaran biaya dalam pembangunan kapal dan
operasional kapal. Berikut perbandingan antara biaya pembangunan dan biaya operasional :
Tabel 4.8 Perhitungan bobot pada biaya pembangunan
Biaya (Rupiah) Perbandingan [1‐ (harga VWT/jumlah harga VWT dan ASD)] VWT 91,008,694,348.00 0.44 ASD
Biaya (Rupiah)
Perbandingan [1‐ (harga
VWT/jumlah harga VWT
dan ASD)]
VWT
91,008,694,348.00
0.44
ASD
71,446,294,348.00
0.56
Tabel 4.9 Perhitungan bobot pada biaya operasional
Biaya (Rupiah)
Perbandingan [1‐ (harga
VWT atau ASD /jumlah
harga VWT dan ASD)]
VWT
9,569,490,179
0.45
ASD
7,987,109,379
0.55
4.3. Analytic Hierarchy Process
1. Perbandingan Berpasangan Pada Tingkat Kriteria
Perbandingan berpasangan adalah dasar sebuah AHP, sehingga pada tahap ini dilakukan
perbandingan berpasangan antara performance, pengaruh kondisi lingkungan dan ekonomis.
Dalam penentuan niali kepentingan diberikan enam kondisi yaitu :
Tabel 4.10 Perbandingan berpasangan pada kondisi pertama (performance-lingkungan-ekonomis)
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
3
6
Kondisi lingkungan daerah operasi
1/3
1
3
Cost
1/6
1/3
1
Tabel 4.11 Perbandingan berpasangan pada kondisi kedua (performance – ekonomis – lingkungan)
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
6
3
Kondisi lingkungan daerah operasi
1/6
1
1/3
Cost
1/3
3
1
Tabel 4.12 Perbandingan berpasangan pada kondisi ketiga (lingkungan – performance – ekonomis)
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
1/3
3
Kondisi lingkungan daerah operasi
3
1
6
Cost
1/3
1/6
1
Tabel 4.13 Perbandingan berpasangan pada kondisi keempat (lingkungan – ekonomis – performance)
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
1/6
1/3
Kondisi lingkungan daerah operasi
6
1
3
Cost
3
1/3
1
Tabel 4.14 Perbandingan berpasangan pada kondisi kelima (ekonomis – performance – lingkungan)
Performance Kondisi lingkungan daerah operasi Cost Performance 1 3 1/3 Kondisi lingkungan daerah operasi 1/3
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
3
1/3
Kondisi lingkungan daerah operasi
1/3
1
1/6
Cost
3
6
1
Tabel 4.15 Perbandingan berpasangan pada kondisi keenam (ekonomis – lingkungan – performance)
Performance
Kondisi lingkungan daerah operasi
Cost
Performance
1
1/3
1/6
Kondisi lingkungan daerah operasi
3
1
1/3
Cost
6
3
1
2.
Perbandingan Berpasangan Pada Tingkat Subkriteria
Berdasarkan tingkat kepentingan yang didasarkan pada kondisi daerah operasi tug dan operasi
yang akan dilakukan oleh tug tersebut maka dilakukan perbandingan berpasangan antar
subkriteria.
Tabel 4.16 Perbandingan berpasangan pada tingkat subkriteria pada criteria performance
Manuver
Bollard pull
Thrust in waves
Manuver
1
2
3
Bollard Pull
1/2
1
3
Thrust in waves
1/3
1/3
1
Tabel 4.17 Perbandingan berpasangan pada tingkat subkriteria pada criteria faktor lingkungan
Draft
Debris
Width
Length
Draft
1
2
3
3
Debris
1/2
1
3
3
Width
1/3
1/3
1
1
Length
1/3
1/3
1
1
Tabel 4.18 Perbandingan berpasangan pada tingkat subkriteria pada criteria faktor ekonomis
Pembangunan
Operasi
Pembangunan
1
1
Operasi
1
1
(3). Hasil Analytic Hierarchy Process
Dari hasil pembobotan pada studi komparasi teknis dan ekonomis dan perbandingan berpasangan
yang telah dilakukan dapat dilakukan perhitungan bobot total pada tug. Dengan bantuan software
Expert Choice maka dilakukan perhitungan sehingga dihasilkan grafik sensitivitas seperti berikut
:
1.
Variasi pertama
Kondisi dimana performance menjadi aspek yang diutamakan kemudian aspek kondisi lingkungan menjadi aspek kedua dan
Kondisi dimana performance menjadi aspek yang diutamakan kemudian aspek kondisi
lingkungan menjadi aspek kedua dan aspek ekonomis menjadi aspek terakhir yang
diperhitungkan.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
VWT
.80
.50
.70
.60
.40
ASD
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCE
KONDISI LING
BIAYA TOTAL
OVERALL
Gambar4.1 Performance sensitivity pada variasi kesatu
Dari Gambar dapat dilihat performance sensitivity kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor kondisi lingkungan daerah
operasi. Dikarenakan faktor performance memiliki bobot tinggi maka bobot VWT tug terhadap
goal secara keseluruhan jauh lebih baik daripada ASD tug dengan nilai masing – masing
alternatif 40,1% untuk ASD tug dan 59,9% untuk VWT tug.
2. Variasi kedua
Dari Gambar dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor kondisi lingkungan daerah
operasi.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
VWT
.80
.50
.70
.60
ASD
.40
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCEPENGARUH KON
BIAYA TOTAL
OVERALL
Gambar 4.2 Performance sentivity pada variasi kedua
3. Variasi ketiga
DariGambar 4.3 dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor kondisi lingkungan daerah operasi
dimana faktor kondisi lingkungan memiliki tingkat kepentingan teritnggi.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
.80
VWT
.50
.70
ASD
.60
.40
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCE PENGARUH LIN
BIAYA TOTAL
OVERALL
Gambar 4.3 Performance sentivity pada variasi ketiga
4. Variasi keempat Dari Gambar dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang mempengaruhi.
4.
Variasi keempat
Dari Gambar dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor kondisi lingkungan daerah
operasi.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
.80
VWT
.50
.70
ASD
.60
.40
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCE
PENGARUH LIN
BIAYA TOTAL
OVERALL
Gambar 4.4 Performan sentivity pada variasi keempat
5.
Variasi kelima
Dari Gambar dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor kondisi lingkungan daerah
operasi.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
.80
ASD
.50
.70
VWT
.60
.40
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCE RISK ASSESSM
COST
OVERALL
Gambar4.5 Performance sentivity pada variasi kelima
6.
Variasi keeenam
Dari Gambar dapat dilihat performance kedua buah tug berdasarkan kriteria yang
mempengaruhi. Dapat dilihat bahwa ASD tug memiliki keunggulan pada faktor ekonomis dan
VWT memiliki keunggulan di daftor performance serta faktor Kondisi lingkungan daerah
operasi.
Crit%
Alt%
.70
.90
.60
.80
ASD
.50
.70
VWT
.60
.40
.50
.30
.40
.30
.20
.20
.10
.10
.00
.00
PERFORMANCE RISK ASSESSM
COST
OVERALL
Gambar 4.6 Performance sentivity untuk variasi keenam
3.
3.1.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pada Tugas Akhir ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain: 1. Dengan melakukan
Pada Tugas Akhir ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara lain:
1. Dengan melakukan perbandingan antara sukriteria didapatkan :
• Pada perbandingan kemampuan manuver didapat kemampuan manuver VWT lebih
baik daripada ASD.
• Pada perbandingan kemampuan bollard pull didapat bahwa kemampuan ASD 1,25
kali lebih besar daripada VWT.
• Pada perbandingan kemampuan operasi pada saat terjadi ventilasi didapat bahwa
thrust yang dihasilkan VWT lebih besar 4,68 kali daripada ASD.
• Pada perbandingan dalam resiko terkena floating debris, VWT lebih unggul daripada
ASD.
• Pada perbandingan sarat didapat bahwa VWT 1,2 kali lebih tinggi daripada ASD.
• Pada perbandingan lebar didapat bahwa VWT 1,28 kali lebih besar daripada ASD.
• Pada perbandingan panjang didapat bahwa panjang VWT 1,2 kali lebih esar daripada
ASD.
• Pada perbandingan biaya pembangunan didapat VWT 1,27 kali lebih besar daripada
ASD.
• Pada perbandingan biaya operasional didapat VWT 1,2 kali lebih daripada ASD.
2. Dengan melakukan 6 variasi kondisi pada kriteria dapat diketahui bahwa :
• Pada variasi 1, VWT memiliki keunggulan daripada ASD dengan bobot ASD sebesar
40,1% dan VWT sebesar 59,9%
• Pada variasi 2, VWT memiliki keunggulan daripada ASD dengan bobot ASD sebesar
42,2% dan VWT sebesar 57,8%
• Pada variasi 3, VWT memiliki keunggulan daripada ASD dengan bobot ASD sebesar
44,5% dan VWT sebesar 55,5%
• Pada variasi 4, bobot ASD sebesar 47,6% dan VWT sebesar 52,4%
• Pada variasi 5, ASD memiliki keunggulan daripada VWT dengan bobot ASD sebesar
50,3% dan VWT sebesar 49,7%
• Pada variasi 6, ASD memiliki keunggulan daripada VWT dengan bobot ASD sebesar
51,6% dan VWT sebesar 48,4%
3. Untuk kasus PT Nusatara Regas, dimana yang paling diutamakan adalah keselamatan dan
efisiensi saat melakukan operasi, kondisi tersebut sama dengan kondisi pada variasi pertama,
maka tug yang cocok dioperasikan di Muara Karang adalah VWT tug.
3.2. Saran
Berikut ini saran-saran dari penulis untuk pengembangan pada penelitian selanjutnya agar
mendapatkan hasil yang lebih baik, yaitu:
(1). Dalam pemilihan menggunakan AHP diharapkan dilakukan menggunakan kuisoner
bukan menggunakan engineering judgement saja dan kuisoner tersebut disebarkan kepada
para ahli yang mengetahui kedua jenis propulsi ini.
(2). Jenis tugboat yang digunakan untuk perbandingan diharapkan lebih dari dua jenis
dikarenakan saat ini sudah terdapat jenis tug boat baru yang digunakan dalam assist LNG
carrier seperti rotor tug dan azimuth tractor.
4. DAFTAR PUSTAKA
Warsash Maritime Centre. 2001. Notes on Shiphandling. Southampton : Southampton Institute.
Peel Ports Group. 2010. Towage Information for The Port of Liverpool. Liverpool : Peel
Ports Group.
Project Management Institute, Inc. 2006. Practice Standard for Work Breakdown Structure–
Second Edition. Pennsyilvania : Project Management Institute, Inc.
Division for Maritime Industry (DMI). 2005.Report : Interactive tug simulation study – first phase.
Brøndby : FORCE Technology
Jürgens, Dirk, Michael Palm. 2009. Voith Schneider Propeller - An Efficient Propulsion System for
DP Controlled Vessels. Germany : Dynamic Positioning Comittee.
Vanem, Erik, Pedro Antao, Ivan Østvik, Francisco dan Del Castillo de Comas. 2007. Analysing The
Risk of LNG Carrier Operations. Bergen : Elsevier.