Anda di halaman 1dari 18

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA

RSAU dr. M. SALAMUN

KEPUTUSAN KEPALA RSAU dr. M. SALAMUN


Nomor Kep / 45.i / VI / 2014

tentang
KEBIJAKAN DEMOSILI / DAMPAK RENOVASI
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN
KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN

Menimbang

1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu


pelayanan
RSAU dr. M. Salamun, maka
diperlukan
penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu.
2. Bahwa agar pelayanan yang bermutu di RSAU dr. M. Salamun
dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Kebijakan Demosili /
Dampak Renovasi RSAU dr.M.Salamun sebagai landasan bagi
seluruh penyelenggaraan pelayanan di RSAU dr. M. Salamun yang
ditetapkan dalam keputusan Ka RSAU dr. M. Salamun.

Mengingat

1. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


2. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
32/Menkes/2007 tentang Pedoman Infeksi di Rumah Sakit.

Nomor

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 tahun 2012 tentang


Akreditasi Rumah Sakit
6. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor
HK.02.04/I/2790/11 tanggal 1 Januari 2012 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit.
7. Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor Kep/21PKS/VII/2013 tanggal 29Juli 2013 tentang Pemberhentian dari dan
Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara.

2
MEMUTUSKAN

Menetapkan

1. Keputusan
Kepala
RSAU
dr.
M.
Salamun
tentang
Kebijakan Demosili / Dampak Renovasi RSAU dr. M. Salamun.
2. Kebijakan Demosili / Dampak Renovasi RSAU dr. M. Salamun
harus dijadikan acuan dalam menyelenggarakan pelayanan di
lingkungan RSAU dr.M.Salamun sebagaimana tercantum dalam
lampiran Keputusan ini.
3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
pada tanggal
3 Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA


RSAU dr. M. SALAMUN

Lamp. Kep. Ka RSAU dr. M. Salamun


Nomor Kep / 45.i
/ VI / 2014

Tanggal

Juni 2014

KEBIJAKAN DEMOSILI / DAMPAK RENOVASI


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr.M. SALAMUN

1. Kebijakan Umum.
a. Demolisi/ renovasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbarui,
memperbaiki atau mengganti sebagian bangunan rumah sakit untuk mencapai
kondisi yang lebih baik. Sebenarnya, ada kegiatan lain yang juga sering
dimasukkan ke dalam definisi renovasi, yaitu pengembangan. Jika masingmasing istilah ini dipisahkan, perbedaannya adalah dalam luasan bangunan fisik
rumah sakit.
b. Renovasi tidak mengubah luasan bangunan rumah sakit, sementara
pengembangan menambah luasan bangunan/ fasilitas rumah sakit. Dalam
renovasi, bangunan hanya diperbaiki dan diperbarui dengan material yang baru..
2. Kebijakan Khusus.
a. Seluruh bangunan dan fasilitas yang digunakan untuk pelayanan kesehatan,
ruangan-ruangan perawatan, poliklinik, dan semua yang berhubungan dengan
pelayanan terhadap pasien.
b. Setiap pelaksanaan renovasi ruangan/ bangunan akan direncanakan dan
dilaksanakan oleh bagian Tata Urusan Dalam (Taud).
c. Pada pelaksanaan renovasi harus diperhatikan dampak dari pekerjaan renovasi
bangunan tersebut yang mungkin terjadi meliputi polusi udara, infeksi, kebisingan,
getaran dan jika terjadi kejadian yang bersifat emergency.
d. Setiap pelaksanaan renovasi ruangan/ bangunan yang akan dilaksanakan, bagian
Taud sebagai Bagian Pelaksana membuat Nota Dinas ke Tim PPI untuk
dilaksanakan ICRA bangunan.
e. Dalam pelaksanaan demolisi / renovasi, bangunan atau fasilitas harus dalam
keadaan kosong atau tidak digunakan untuk melaksanakan pelayanan. Namun
dalam kondisi pelayanan di fasilitas atau disekitarnya tetap harus melaksanakan
pelayanan, maka harus dilaksanakan kegiatan atau tindakan agar dampak dari
demolisi tersebut dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
f. Infection Control Risk Assesessment (ICRA)

2
1) ICRA merupakan pengkajian nilai kualitatif dan kuantitatif resiko cedera atau
infeksi terkait aktifitas di fasilitas pelayanan kesehatan serta mengenali
ancaman bahaya aktivitas tersebut.
2) Kontruksi, renovasi dan demolisi akan menimbulkan debu yang
mengandung flamen-flamen jamur, seperti Aspergillus dan juga potensial
pathogen lain.
3) Cara mengidentifikasi resiko Infeksi, Identifikasi jenis aktifitas dengan
mempertimbangkan pasien, petugas kesehatan dan resiko terhadap
pengunjung.
4) Analisis Resiko, di identifikasi kemungkinan konsekuensi dari program untuk
pasien, petugas, pengunjung dan lingkungan.
a) Pre Renovasi.
(1) Sebelum renovasi ada rapat koordinasi antara bagian teknik, Tim
PPIRS ,K3RS, Unit sanitasi, dan vendor.
(2) Tim PPIRS melakukan pengkajian risiko dan membuat ijin
renovasi/demolisi.
(3) Sebelum pelaksanaan pembangunan dan renovasi bangunan Tim
PPIRS, K3RS dan Unit Sanitasi lingkungan memberikan edukasi
kepada pihak perencana dan pelaksana proyek tentang
pencegahan terjadinya penularan penyakit akibat renovasi.
(4) Selama proses pembangunan
menggunakan APD sesuai K3.

pelaksanaan

proyek

wajib

(5) Setelah pembangunan selesai Tim PPI melakukan evaluasi


kembali melalui cek list renovasi bangunan.
b) Selama Renovasi. Selama dalam proses pembangunan, Tim pengawas
proyek (Taud, Tim PPI, K3 dan Kesling) melakukan monitoring terhadap
pelaksanaan pekerjaan sesuai Surat Kesepakatan.
c) Aktifitas Kontruksi berdasarkan Tipe :
(1) Tipe Aktifitas ditentukan dengan :
(a) Banyaknya debu yang ditimbulkan.
(b) Potensi terhadap aerosol air.
(c) Lama pekerjaan kontruksi.

3
(d) Jumlah system pendingin ruangan dan ventilasi yang terpadu.
(2) Ada 4 Tipe : Tipe A, B, C dan D.
(a) Tipe A.
(a) Inspeksi dan Aktivitas non invasive.
(b) Jenis pekerjaan : mengangkat papan plavon untuk
inspeksi visual terbatas pada 1 papan per square feet.
(c) Pengecatan dll.
(b) Tipe B.
(a) Skala kecil, durasi aktivitas
menghasilkan debu minmal.

pendek

yang

dapat

(b) Jenis pekerjaan : Instalasi telepon dan kabel computer,


akses untuk ke ruangan, memotong dinding atau langit
langit dimana migrasi debu dapat dikontrol.
(c) Tipe C.
(a) Aktivitas yang menghasilkan debu dari tingkat moderat
sampai tinggi atau membutuhkan penghancuran atau
pemusnahan komponen kerangka gedung.
(b) Jenis pekerjaan : melakukan plesteran dinding untuk dicat
atau pelapisan dinding, mengangkat penutup lantai,
papan plavon, dan papan penghalang, kontruksi dinding
baru, membuat akses kerja minor, atau pekerjaan listrik di
atas plavon, aktivitas kabel mayor, pekerjaan yang tidak
bias diselesaikan dalam satu shift.
(d) Tipe D
(a) Penghancuran mayor dan proyek bangunan.
(b) Jenis pekerjaan : Aktifitas yang membutuhkan kerja shift
yang berkelanjutan, membutuhkan penghancuran besar,
pengangkatan system kabel yang lengkap, konstruksi
baru.
d) Berdasarkan Kelompok Resiko.
4

(1) Resiko Rendah : pada area kantor, non patient area.


(2) Resiko Sedang :
(a) Selasar atau halaman ruang rawat inap.
(b) Radiologi.
(c) Pendaftaran / Rekam Medik.
(d) Dapur.
(e) R. Cendrawasih.
(3) Resiko Tinggi.
(a) Poliklinik.
(b) IGD.
(c) Unit Haemodialisa.
(d) R. Perwira.
(e) R. Gelatik.
(f) R. Parkit.
(g) R. Merak.
(h) R. Kutilang.
(i) R. Merpati.
(j) VK.
(k) Laboratorium.
(l) Farmasi.
(4) Resiko Sangat Tinggi.
(a) R. Isolasi tiap ruangan rawat Inap.
(b) ICU / ICCU.
(c) CSSD.
5

(d) Kamar Bedah.


e) Level ICRA. Berdasarkan tabel antara Tipe Pekerjaan Kontruksi dan
Kelompok Resiko Bangunan.
(1) Level I.
(a) Lakukan pekerjaan dengan metode yang dapat meminimalisir
debu dari aktivitass kontruksi.
(b) Mengganti/ menggeser papan langit langit yang salah posisi.
(2) Level II.
(a) Melakukan metode yang aktif untuk
berterbangan dari tempatnya ke udara.

mencegah

debu

(b) Semprotan air ke permukaan kerja untuk mengontrol debu


pada saat memotong.
(c) Tutup pintu yang tidak dipakai dengan selotip.
(d) Memblok dan menutup ventilasi udara.
(e) Letakkan keset di pintu masuk dan keluar dari area kontruksi.
(f) Lepaskan atau lakukan isolasi system HVAC di area kerja.
(3) Level III.
(a) Jaga tekanan negative udara dalam area kerja menggunakan
HEPA yang dilengkapi dengan unit filtrasi udara.
(b) Pengiriman atau kereta, tutup rapat dengan selotip, kecuali
sudah ada penutupnya.
(4) Level IV.
(a) Jaga tekanan negative udara dalam area kerja menggunakan
HEPA yang dilengkapi dengan unit filtrasi udara.
6
(b) Tutup lubang, pipa-pipa, sambungan sambungan dan
bolongan bolongan dengan benar.

(c) Setiap petugas yang memasuki area kerja harus memakai


pelindung diri lengkap.
(d) Jangan melepaskan penghalang dari area kerja sampai
proyek selesai.

Bandung,
Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA


RSAU dr. M. SALAMUN

KEPUTUSAN KEPALA RSAU dr. M. SALAMUN


Nomor Kep /
/ VI / 2014

tentang
PANDUAN DEMOSILI / DAMPAK RENOVASI
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN
KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN

Menimbang

1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu


pelayanan
RSAU dr. M. Salamun, maka
diperlukan
penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu.
2. Bahwa agar pelayanan yang bermutu di RSAU dr. M. Salamun
dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Panduan Demosili /
Dampak Renovasi RSAU dr.M.Salamun sebagai landasan bagi
seluruh penyelenggaraan pelayanan di RSAU dr. M. Salamun yang
ditetapkan dalam keputusan Ka RSAU dr. M. Salamun.

Mengingat

1. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


2. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
32/Menkes/2007 tentang Pedoman Infeksi di Rumah Sakit.

Nomor

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 tahun 2012 tentang


Akreditasi Rumah Sakit
6. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor
HK.02.04/I/2790/11 tanggal 1 Januari 2012 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit.
7. Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor Kep/21PKS/VII/2013 tanggal 29Juli 2013 tentang Pemberhentian dari dan
Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara.
2
MEMUTUSKAN

Menetapkan

1. Keputusan
Kepala
RSAU
dr.
M.
Salamun
tentang
Panduan Demosili / Dampak Renovasi RSAU dr. M. Salamun.
2. Panduan Demosili / Dampak Renovasi RSAU dr. M. Salamun
harus dijadikan acuan dalam menyelenggarakan pelayanan di
lingkungan RSAU dr.M.Salamun sebagaimana tercantum dalam
lampiran Keputusan ini.
3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
pada tanggal
Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA


RSAU dr. M. SALAMUN

Lamp. Kep. Ka RSAU dr. M. Salamun


Nomor Kep /
/ VI / 2014

Tanggal

Juni 2014

PANDUAN DEMOSILI / DAMPAK RENOVASI


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr.M. SALAMUN
BAB I
DEFINISI

1. Demolisi/ renovasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbarui,


memperbaiki atau mengganti sebagian bangunan rumah sakit untuk mencapai kondisi
yang lebih baik. Sebenarnya, ada kegiatan lain yang juga sering dimasukkan ke dalam
definisi renovasi, yaitu pengembangan. Jika masing-masing istilah ini dipisahkan,
perbedaannya adalah dalam luasan bangunan fisik rumah sakit. Renovasi tidak
mengubah luasan bangunan rumah sakit, sementara pengembangan menambah luasan
bangunan/ fasilitas rumah sakit. Dalam renovasi, bangunan hanya diperbaiki dan
diperbarui dengan material yang baru.
2. Demolisi/ renovasi rumah sakit adalah kegiatan yang pasti akan dilaksanakan seiring
dengan usia bangunan/ fasilitas ataupun dikarenakan hal-hal lain yang menyebabkan
perlunya renovasi fasilitas pelayanan rumah sakit.
BAB II
RUANG LINGKUP

3. Ruang Lingkup dalam Panduan ini adalah :


a. Seluruh bangunan dan fasilitas yang digunakan untuk pelayanan kesehatan,
ruangan-ruangan perawatan, poliklinik, dan semua yang berhubungan dengan
pelayanan terhadap pasien.
b. Setiap pelaksanaan renovasi ruangan/ bangunan
dilaksanakan oleh bagian Tata Urusan Dalam (Taud).

akan

direncanakan

dan

c. Pada pelaksanaan renovasi harus diperhatikan dampak dari pekerjaan renovasi


bangunan tersebut yang mungkin terjadi meliputi polusi udara, infeksi, kebisingan,
getaran dan jika terjadi kejadian yang bersifat emergency.
d. Setiap pelaksanaan renovasi ruangan/ bangunan yang akan dilaksanakan, bagian
Harmat sebagai Bagian Pelaksana membuat Nota Dinas ke Tim PPI untuk
dilaksanakan ICRA bangunan.
2
BAB III

TATA LAKSANA

4. Tata Laksana Demolisi/ Renovasi. Dalam pelaksanaan demolisi / renovasi, bangunan


atau fasilitas harus dalam keadaan kosong atau tidak digunakan untuk melaksanakan
pelayanan. Namun dalam kondisi pelayanan di fasilitas atau disekitarnya tetap harus
melaksanakan pelayanan, maka harus dilaksanakan kegiatan atau tindakan agar dampak
dari demolisi tersebut dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
5. Infection Control Risk Assesessment (ICRA)
a. ICRA merupakan pengkajian nilai kualitatif dan kuantitatif resiko cedera atau infeksi
terkait aktifitas di fasilitas pelayanan kesehatan serta mengenali ancaman bahaya
aktivitas tersebut.
b. Kontruksi, renovasi dan demolisi akan menimbulkan debu yang mengandung flamenflamen jamur, seperti Aspergillus dan juga potensial pathogen lain.
c. Cara mengidentifikasi resiko Infeksi, Identifikasi jenis aktifitas dengan
mempertimbangkan pasien, petugas kesehatan dan resiko terhadap pengunjung.
d. Analisis Resiko, di identifikasi kemungkinan konsekuensi dari program untuk pasien,
petugas, pengunjung dan lingkungan.
1) Pre Renovasi.
a)

Sebelum renovasi ada rapat koordinasi antara bagian teknik, Tim PPIRS
,K3RS, Unit sanitasi, dan vendor.

b)

Tim PPIRS melakukan


renovasi/demolisi.

c)

Sebelum pelaksanaan pembangunan dan renovasi bangunan Tim PPIRS,


K3RS dan Unit Sanitasi lingkungan memberikan edukasi kepada pihak
perencana dan pelaksana proyek tentang pencegahan terjadinya penularan
penyakit akibat renovasi.

pengkajian

risiko

dan

membuat

ijin

d) Selama proses pembangunan pelaksanaan proyek wajib menggunakan APD


sesuai K3.
e) Setelah pembangunan selesai Tim PPI melakukan evaluasi kembali melalui
cek list renovasi bangunan.

2) Selama Renovasi. Selama dalam proses pembangunan, Tim pengawas proyek


(Bagian Harmat, Tim PPI, K3 dan Kesling) melakukan monitoring terhadap
pelaksanaan pekerjaan sesuai Surat Kesepakatan.
3) Aktifitas Kontruksi berdasarkan Tipe :
a) Tipe Aktifitas ditentukan dengan :
(1) Banyaknya debu yang ditimbulkan.
(2) Potensi terhadap aerosol air.
(3) Lama pekerjaan kontruksi.
(4) Jumlah system pendingin ruangan dan ventilasi yang terpadu.
b) Ada 4 Tipe : Tipe A, B, C dan D.
(1) Tipe A.
(a) Inspeksi dan Aktivitas non invasive.
(b) Jenis pekerjaan : mengangkat papan plavon untuk inspeksi visual
terbatas pada 1 papan per square feet.
(c) Pengecatan dll.
(2) Tipe B.
(a) Skala kecil, durasi aktivitas pendek yang dapat menghasilkan
debu minmal.
(b) Jenis pekerjaan : Instalasi telepon dan kabel computer, akses
untuk ke ruangan, memotong dinding atau langit langit dimana
migrasi debu dapat dikontrol.
(3) Tipe C.
(a) Aktivitas yang menghasilkan debu dari tingkat moderat sampai
tinggi atau membutuhkan penghancuran atau pemusnahan
komponen kerangka gedung.
(b) Jenis pekerjaan : melakukan plesteran dinding untuk dicat atau
pelapisan dinding, mengangkat penutup lantai, papan plavon, dan
papan penghalang, kontruksi dinding baru, membuat akses
4

kerja minor, atau pekerjaan listrik di atas plavon, aktivitas kabel


mayor, pekerjaan yang tidak bias diselesaikan dalam satu shift.
(4) Tipe D.
(a) Penghancuran mayor dan proyek bangunan.
(b) Jenis pekerjaan : Aktifitas yang membutuhkan kerja shift yang
berkelanjutan, membutuhkan penghancuran besar, pengangkatan
system kabel yang lengkap, konstruksi baru.
c) Berdasarkan Kelompok Resiko.
(1) Resiko Rendah : pada area kantor, non patient area.
(2) Resiko Sedang :
(a) Selasar atau halaman ruang rawat inap.
(b) Radiologi.
(c) Pendaftaran / Rekam Medik.
(d) Dapur.
(e) R. Cendrawasih.
(3) Resiko Tinggi.
(a) Poliklinik.
(b) IGD.
(c) Unit Haemodialisa.
(d) R. Perwira.
(e) R. Gelatik.
(f) R. Parkit.
(g) R. Merak.
(h) R. Kutilang.
(i) R. Merpati.
5

(j) VK.
(k) Laboratorium.
(l) Farmasi.
(4) Resiko Sangat Tinggi.
(a) R. Isolasi tiap ruangan rawat Inap.
(b) ICU / ICCU.
(c) R. Sterilisasi PPAS.
(d) Kamar Bedah.

d) Level ICRA. Berdasarkan tabel antara Tipe Pekerjaan Kontruksi dan


Kelompok Resiko Bangunan.
(1) Level I.
(a) Lakukan pekerjaan dengan metode yang dapat meminimalisir
debu dari aktivitass kontruksi.
(b) Mengganti/ menggeser papan langit langit yang salah posisi.
(2) Level II.
(a) Melakukan metode yang aktif untuk mencegah debu berterbangan
dari tempatnya ke udara.
(b) Semprotan air ke permukaan kerja untuk mengontrol debu pada
saat memotong.
(c) Tutup pintu yang tidak dipakai dengan selotip.
(d) Memblok dan menutup ventilasi udara.
(e) Letakkan keset di pintu masuk dan keluar dari area kontruksi.
(f) Lepaskan atau lakukan isolasi system HVAC di area kerja.
(3) Level III.
(a) Jaga tekanan negative udara dalam area kerja menggunakan
HEPA yang dilengkapi dengan unit filtrasi udara.
6

(b) Pengiriman atau kereta, tutup rapat dengan selotip, kecuali sudah
ada penutupnya.
(4) Level IV.
(a) Jaga tekanan negative udara dalam area kerja menggunakan
HEPA yang dilengkapi dengan unit filtrasi udara.
(b) Tutup lubang, pipa-pipa, sambungan sambungan dan bolongan
bolongan dengan benar.
(c) Setiap petugas yang memasuki area kerja harus memakai
pelindung diri lengkap.
(d) Jangan melepaskan penghalang dari area kerja sampai proyek
selesai.
6. Polusi Udara. Untuk mengatasi polusi udara yang diakibatkan kegiatan renovasi yang
berupa pembongkaran tembok, kupas plesteran, pengamplasan, maka harus dilakukan
penyekatan area pekerjaan dengan menggunakan triplek, terpal, seng, atau bahan-bahan
lain yang dapat mencegah debu keluar dari area demolisi/ renovasi, atau dengan cara
membasahi material yang akan dibongkar dengan air untuk mencegah debu
berterbangan. Selain untuk menanggulangi dampak yang berupa polusi udara, hal ini juga
dapat mencegah timbulnya infeksi yang disebabkan oleh debu. Adapun kandungan debu
maksimal di dalam udara ruangan dalam pengukuran debu rata-rata 8 jam adalah
0,15mg/m.
7. Kebisingan. Dengan melakukan penyekatan area demolisi/ renovasi dengan bahan yang
dapat mengurangi kebisingan yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Bahan yang
digunakan adalah partikel hardboard dilapisi lembaran sterofoam.
INDEKS KEBISINGAN MENURUT RUANGAN ATAU UNIT

N
O
1

Ruang pasien :
-

2
3
4
5
6
7
8
9

MAKSIMUM KEBISINGAN
(waktu pemaparan 8 jam, satuan dBA)

RUANGAN ATAU UNIT


Saat tidak tidur
Saat tidur

45
40
45
45
65
40
40
45
45
45

Ruang operasi, umum


Anestesi, pemulihan
Endoskopi, laboratorium
Sinar-X
Koridor
Tangga
Kantor/ lobby
Ruang alat/ gudang
7

10
11
12
13
14

Farmasi
Dapur
Ruang cuci
Ruang isolasi
Ruang poli gigi

45
78
78
40
80

8. Getaran. Apabila kegiatan demolisi/ renovasi akan menimbulkan dampak getaran yang
sangat kuat, sehingga mengganggu kenyamanan pengguna sekitarnya, maka kegiatan
pelayanan harus dipindahkan atau dihentikan sementara selama getaran tersebut timbul.
9. Kebutuhan utilisasi.
a. Kebutuhan air bersih. Kebutuhan air bersih dapat dipenuhi dengan memanfaatkan
saluran air rumah sakit yang sudah ada di area renovasi, yang menggunakan system
tangki atap dan tangki tekan.
b. Pembuangan air kotor. Pembuangan air kotor/ limbah dapat dilakukan menggunakan
saluran air kotor terdekat yang sudah ada di area rumah sakit.
c. Pembuangan sampah. Pembuangan sampah bongkaran material harus dilakukan
dengan rapi sehingga tidak mengganggu kegiatan pelayanan di unit pelayanan
sekitarnya dan tidak mengganggu keindahan lingkungan.
d. Instalasi listrik. Sumber daya listrik dapat diambil dari instalasi terdekat yang ada di

rumah sakit dengan memperhatikan segi keamanan dan kerapihan. Menggunakan


material/ bahan-bahan standard dan pengaturan kabel tidak berserakan .
10. Kejadian yang bersifat Emergency. Dilakukan sesuai dengan SPO Gawat Darurat.

BAB IV
DOKUMENTASI

11. Kelengkapan Dokumen. Selama pelaksanaan kegiatan, dilakukan pencatatan dan


pelaporan tentang kegiatan dan administrasi yang telah dilakukan. Dokumen yang harus
dikerjakan untuk kegiatan Demolisi. Dokumen yang harus dilengkapi adalah :
a. Bukti berupa foto foto pelaksanaan pembangunan di RSAU dr. M. Salamun yang
sudah melaksanakan pencegahan dari dampak Polusi udara, kebisingan, getaran,
infeksi dan kejadian yang bersifat infeksi.
b. Bukti Laporan Demosili.

Bandung, 3 Juni 2014


Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677