Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Kewajiban hukum dapat terjadi ketika seorang auditor memberikan jasa
profesional dalam bentuk apapun. Pertimbangan hukum yang ada ini terutama akan
dibatasi pada kewajiban hukum para CPA dalam kaitan dengan pelaksanaan audit
laporan keuangan. Dalam kewajiban hukum akan diawali dengan melakukan
penilaian tentang pengaruh kecenderungan lingkungan hidup terhadap profesi dewasa
ini.
Dengan adanya common law akan membantu auditor dalam menjalankan
tugas dan tanggungjawapnya sebagai seorang professional untuk melayani klien dan
orang ketiga.
Selain common lau ada juga UU Sekuritas yang akan membantu orang ketiga
untuk menuntut auditor ketika auditor melakukan kasalahan secara sengaja maupun
tidak sengaja.

1.2

RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan di bahas
dalam makalah ini, antara lain sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

1.3

Apa itu Lingkungan Hukum ?


Apa saja kewajiban menurut Common Lau ?
Apa saja Kewajiban menurut UU Sekuritas ?
Apa itu Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act (RICO) ?

TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui tentang Lingkungan Hukum
2. Untuk memahami tentang kewajiban menurut Common Lau
3. Untuk memahami tentang kewajiban menurut UU Sekuritas
4. Untuk mengetahui peran dari Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act
(RICO)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

LINGKUNGAN HUKUM
Kegagalan audit mirip dengan kecelakaan nuklir yang sangat jarang terjadi,
namun apabila terjadi dapat menimbulkan akibat yang luar biasa. Dugaan kegagalan
audit dapat berdampak buruk bagi setiap kantor akuntan.
1

Kecenderungan Litigasi di Amerika Serikat


Kecenderungan penting dimulai pada tahun 1980-an, berlanjut dalam tahun
1990-an, dan sampai pada lahirnya Private Securities Litigations Reform Act pada
tahun 1995.
Hal ini sebagian besar disebabkan oleh banyaknya laporan kegagalan bisnis
yang berakibat pada kerugian signifikan yang diderita oleh para investor dan
pembayar pajak. Naum, tidak semua kegagalan bisnis dapat dianggap sebagai akibat
kegagalan audit. Ada suatu konsepsus atau pendapat yang tumbuh di masyarakat
bahwa terjadinya kegagalan bisnis dan dugaan adanya kecurangan laporan keuangan
sangat sering diikuti dengan adanya gugatan oleh para penggugat dan para penasehat
hukumnya yang mencoba memangsa para auditor tanpa mengindahkan tingkat
kesalahannya.
Keadaan lingkungan hukum pada awal tahun 1990-an digambarkan sebagai
berikut :
Pada akhir tahun 1992, profesi akuntan menghadapi lebih dari 4000 gugatan
dengan estimasi klaim yang belum dapat diselesaikan dalam jumlah yang
cukup fantastis
Pada tahun 1992, kantor akuntan public nasional terbesar ketujuh bernama
Laventhol and Horwarth dinyatakan pailit.
Dari tahun 1993 sampai tahun 1995, biaya asuransi wajib bagi kantor akuntan
public yang tergolong dalam enam besar meningkat sampai sepuluh kali
hingga lebih dari $5000 per akuntan
Kantor-kantor akuntan public dalam berbagai ukuran mengundurkan diri dari
layanan kepada klien yang memiliki risiko audit yang tinggi dan banyak
kantor akuntan public yang lebih kecil menghentikan pelaksanaan audit secara
serentak.
Krisis yang terjadi ini tidak hanya terbatas pada profesi akuntan saja.
Kelompok konsultan hukum dan ekonomi pda tahun 1993, menunjukkan bahwa
gugatan class action tentang kecurangan (fraud) dalam bidang sekuritas yang
diterbitkan tanpa jaminan.
Tumbuhnya kesadaran akan adanya masalah pada system peradian,
mendorong terbentuknya Coalition to Eliminate Abusive Securities Suits (CEASS).
Koalisi ini terdiri dari AICPA, kantor akuntan Enam Besar, para penjamin asuransi,
lebih dari 300 perusahaan manufaktur, pengecer, dan asosiasi niaga.

Untuk meloloskan Private Securities Litigation Act tahun 1995, diperlukan


campur tangan berupa veto seorang presiden.
2.2

KEWAJIBAN MENURUT COMMON LAW


Common Law seringkali diartikan sebagai hukum yang tidak tertulis. Hukum
ini berdasarkan atas keputusan pengadilan dan bukan atas hukum yang dibuat dan
disahkan oleh pihak legislative.
Prinsip-prinsip common law ditentukan oleh kebutuhan social masyarakat.
Perubahan pada common law merupakan tanggapan atas kebutuhan masyarakat.
Dalam kasus common law, hakim memiliki fleksibilitas untuk
mempertimbangkan factor-faktor social, ekonomi, dan politik maupun yurisprudensi
yang pernah ada. Menurut common law, kewajiban hukum para CPA berkaitan luas
dengan dua pihak, yaitu para klien dan pihak ketiga.
1. Kewajiban Kepada Klien
Dengan menyetujui untuk melaksanakan jasa bagi klien, CPA berperan sebagai
kontraktor independen. Istilah hubungan pribadi dalam kontrak menunjuk pada
hubungan kontraktual yang ada antara dua atau lebih pihak yang terlibat dalam
kontrak. Ciri khas suatu perikatan audit adalah anggapan bahwa audit akan
dilakukan sesuai dengan standar professional yaitu, standar auditing yang berlaku
umum (GAAS).
1) Hukum Kontrak
Seorang auditor bertanggung jawab kepada klien atas pelanggaran kontrak
apabila ia :
Menerbitkan laporan audit standar tanpa melakukan audit sesuai dengan
GAAS
Tidak mengirimkan laporan audit sesuai dengan batas waktu yang telah
disepakati
Melanggar hubungan kerahasiaan klien.
Subrogee adalah pihak yang memperoleh hak pihak lain melalui
substitusi. Apabila terjadi pelanggaran kontrak, biasanya penggugat akan
mencari satu atau lebih jalan keluar sebagai berikut: (1) kewajiban
spesifik tergugat dalam kontrak, (2) kerugian keuangan langsung yang
terjadi akibat pelanggaran tersebut, (3) kerugian terkait dan kerugian
sebagai konsekuensi yang merupakan akbiat tidak langsung atas
pelanggaran tersebut.
2) Hukum Kerugian (Tort Law)

Tindakan merugikan adalah tindakan salah merugikan milik, badan, atau


reputasi seseorang. Tindakan merugikan dapat dilakukan berdasarkan salah
satu penyebab berikut ini:
Kelalaian yang biasa, yaitu kelalaian untuk menerapkan tingkat
kecermatan yang biasa dilakukan secara wajar oleh orang lain dalam
kondisi yang sama.
Kelalaian kotor, yaitu kelalaian untuk menerapkan tingkat kecermatan
yang paling ringan pada suatu kondisi tertentu.
Kecurangan, yaitu penipuan yang direncanakan, misalnya salah saji,
menyembunyikan atau tidak mengungkapkan fakta yang material,
sehingga dapat merugikan pihak lain.
Dalam banyak kasus, penggugat memiliki hak untuk menuntut dengan
menggunakan pasal-pasal kontrak atau menggunakan hukum kerugian.
3) Kasus-kasus yang Mengilustrasikan Kewajiban kepada Klien
Dua kasus berkaitan dengan kewajiban kepada klien akan diberikan berikut
ini. Kasus pertama berkaitan dengan kalalaian, dan yang kedua berkaitan
dengan pelanggaran kontrak. Kasus kedua adalah Fund of Funds, Ltd. V.
Arthur Andersen & Co. dalam kasus ini, penggugat menggugat auditor atas
pelanggaran

kontrak

karena

auditor

lalai

mengungkapkan

adanya

penyimpangan kepada klien sesuai dengan isi surat perikatan yang


mewajibkan auditor menyajikan secara spesifik setiap penyimpangan yang
muncul.
2. Kewajiban Kepada Pihak Ketiga
Pihak ketiga dpat didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mengetahui
tentang pihak-pihak yang ada di dalam kontrak. Menurut sudut pandang hukum,
terdapat dua kelompok pihak ketiga, yaitu: (1) pemegang hak utama dan (2)
pemegang hak lainnya. Pemegang hak utama adalah seseorang yang namanya
telah diketahui oleh seorang auditor sebelum audit dilaksanakan sebagai
penerima utama laporan auditor. Pemegang hak lainnya adalah pihak ketiga yang
namanya tidk disebutkan, seperti para kreditor, pemegang saham, dan investor
potensial.
1) Kewajiban Kepada Pemegang Hak Utama
Sebuah analisis atas keputusan tersebut menunjukkan adanya
beebrapa factor lingkungan signifikan yang secara khusus menarik dalam
pandangan lingkungan hukum yang diuraikan sebelumnya pada wal bab ini.
4

Pertama, hakim mengakui bahwa kewajiban yang diperluas atas


kelalaian biasa kepada pihak ketiga dapat meyurutkan langkah orang-orang
untuk memasuki profesi akuntan.
Kedua, ia menjadi takut bahwa gangguan lebih luas atas doktrin
hubungan pribadi dalam kontrak akan berdampak juga kepada professional
lainnya seperti para pengacara dan dokter. Ketiga, keputusan tersebut
menegaskan kembali kewajiban auditor kepada pihak ketiga atas terjadinya
kelalaian kotor atau kecurangan.
2) Kewajiban Kepada Pemegang Hak Lainnya
Faktor-faktor lingkungan berikut telah memberikan sumbangan yang
cukup berarti atas terjadinya perubahan tersebut:
Konsep kewajiban telah berubah secara lambat namun signifikan untuk
mewajibkan perlindungan pelanggan dari kesalahan pabrikan dan dari
kesalahan professional
Perusahaan bisnis dan kantor-kantor akuntan telah bertumbuh dalam
ukuran yang memungkinkan mereka memikul dengan lebih baik bentuk
tanggung jawab yang baru
Jumlah individu an kelompok yang mengandalkan laporan keuangan
yang telah diaudit telah bertumbuh dengan mantap.
3) Kasus-kasus yang Mengilustrasikan Kewajiban Kepada Pemegang Hak
Lainnya
Untuk mendukung keputusan dalam kasus Rosenblum ini, pengadilan
Negara bagian New Jersey mengutip factor-faktor kebijakan public yang
muncul dalam bagian yang dimaksudkan untuk menyerang argumentasi
hakim Cordozo yang mendukung hubungan pribadi dalam kontrak menurut
doktrin Ultramares sebagai berikut:
Tersedia jaminan bagi akuntan untuk melindungi diri dari resiko-resiko
ini,
CPA memiliki tanggung jawab moral kepada setiap pihak yang
mengandalkan CPA tersebut,
Standar yang lebih ketat akan akuntan untuk bekerja lebih baik lagi.
4) Perkembangan terakhir
Pengadilan juga menetapkan tiga criteria untuk menentukan apakah
penggugat dapat mengajukan gugatan terhadap seorang auditor atas adanya
kelalaian biasa, yaitu:

Penggugat dalam kenyataannya memang benar-benar mengandalkan


laporan auditor tersebut,
Auditor mengetahui bahwa penggugat bermaksud untuk mengandalkan
laporan tersebut,
Melalui beberapa
membuktikan

tindakan

pemahaman

yang
tentang

dilakukannya,
maksud

auditor

penggugat

dapat
dalam

mengandalkan laporan auditor.


2.3

KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS


Undang-undang sekuritas tergolong sebagai atau hukum Negara yang
ditetapkan oleh lembaga legislative pada tingkat Negara bagian atau tingkat federal.
Sebagian besar Negara bagian memiliki undang-undang pengamanan surat berharga
yang dimaksudkan untuk mengatur pnerbitan dan perdangangan sekuritas dalam suatu
Negara bagian.
Dua factor yang memberikan kontribusi pada pengungkapan yang lebih luas
pada kewajiban hukum menurut undang-undang sekuritas dibandingkan dengan
common law adalah (1) undang-undang tahun 1933 memberikan hak kepada pihak
ketiga tertentu yang namanya tidak isebutkan untuk menggugat auditor tas kelalaian
biasa (2) tuduhan kejahatan dapat dikenakan pada auditor menurut undang-undang
tahun 1933 maupun tahun 1934.
1. Securities Act Tahun 1933
Undang-undang ini dikenal sebagai kebenaran dalam undang-undang
sekuritas. Undang-undang ini dirancang untuk mengatur penawaran sekuritas
kepada public melalui pos atau melalui interstate commerce.
Dalam hal ini termasuk juga pihak ketiga yang tidak disebutkan namanya.
Tindakan ini membuat auditor harus bertanggung jawab atas kerugian yang
dialami oleh pihak ketiga akibat kelalaian biasa, maupun yang disebabkan oleh
kecurangan dan kelalaian kotor, efektif sejak tanggal laporan pendaftaran, yaitu 20
hari kerja setelah laporan tersebut diarsipkan oleh badan pengatur. Sesuai dengan
ketentuan perata dari undang-undang tahun 1933, kerugian keuangan yang dapat
diperoleh kembali oleh seorang penggugat dibatasi pada perbeaan antara (1)
jumlah yang dibayar investor untuk sekuritas tersebut, (2) harga pasar atau harga
jual pada saat gugatan diajukan.
1) Mengajukan Gugatan Menurut Undang-Undang Tahun 1933
Penggugat :

Setiap orang yang membeli atau mengakuisisi sekuritas seperti yang


diuraikan dalam laporan pendaftaran, tanpa memandang apakah ia
meruapak lien auditor atau tidak.
Harus mendasarkan gugatannya pada dugaan pemalsuan yang material
atau laporan keuangan yang menyesatkan yang ada dalam laporan
pendaftaran
Apabila pembelian sekuritas dilakukan sebelum penerbitan laporan laba
rugi yang meliputi periode setidaknya 12 bulan setelah tanggal efektif
laporan
Tidak harus membuktikan bahwa auditor telah melakukan kelalaian atau
kecurangan dalam mengesahkan laporan keuangan terkait.
Tergugat
Memiliki beban untuk menegakkan kebebasan dari kelalaian dengan cara
membuktikan bahwa ia telah melakukan investigasi yang memadai dan
sesuai dengan itu memiliki dasar yang memadai untuk percaya, dan
memang percaya bahwa laporan keuangan yang disahkan adalah benar
pada tanggal tersebut serta pada saat laporan pendaftaran menjadi efektif
Melalui pembelaan harus menunjukkan bahwa kerugian penggugat secara
keseluruhan atau sebagian disebabkan oleh hal lain di luar laporan yang
dianggap tidak benar atau menyesatkan.
2) Kasus-kasus yang Diajukan Menurut Undang-Undang Tahun 1933
Kesimpulan utama dari SAAS ini adalah bahwa pertimbangan auditor atas
kewajaran harus dapat diterapkan dalam kerangka kerja GAAP. Selain itu,
suatu SAS diterbitkan untuk memperjelas tanggung jawab auditor atas
transaksi pihak-pihak terkait.
2. Securities Exchange Act Tahun 1934
Undang-undang ini disahkan oleh kongres A.S. untuk mengatur
perdagangan sekuritas di masyarakat. Undang-undnag tahun 1934 ini mewajibkan
perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam lingkup undang-undang ini untuk
(1) mengarsipkan laporan pendaftaran apabila sekuritas tersebut diperdagangkan
secara terbuka kepada masyarakat melalui pasar bursa efek atau pasar di luar
bursa efek (2) menjaga agar arsip laporan pendaftaran tersebut tetap mutakhir
dengan cara mengarsipkan laporan tahunan, kuartalan dan informasi-informasi
lain yang berkaitan dengan SEC.
Kewajiban dalam pasal 18

Setiap orang yang akan membuat pernyataan atau menyebabkan membuat


pernyataan apapun dalam seetiap permohonan, laporan atau dokumen yang
diarsipkan menurut judul ini.. yang mana .. telah dibuat dengan tidak benar dan
menyesatkan dalam semua fakta yg material, harus bertanggung jawab kepada
setiap orang (yang tidak mengetahui bahwa laporan tersebut adalah tidak benar
atau menyesatkan), yang dengan mengandalkan laporan tersebut melakukakan
pembelian atau penjualan sekuritas pada suatu tingkat harga yang dipengaruhi
oleh laporan tersebut dan ternyata menimbulkan kerugian yang disebabkan oleh
pengandalan tersebut, kecuali bila pihak tergugat dapat membuktikan bahwa ia
telah bertindak dengan jujur dan tidak mengetahui bahwa laporan tersebut tidak
benar atau menyesatkan.
Kewajiban dari pasal 18 ini secara relative memiliki lingkup yang sempit
karena hanya berkaitan dengan laporan yang tidak benar atau menyesatkan dalam
dokumen yang diarsipkan pada SEC menurut Undang-Undang ini
Kewajiban dalam pasal 10
Dalam pasal ini, SEC mengumumkan secara resmi ketentuan 10b-5 yang
menyatakan bahwa merupakan tindakan yang tidak sah bagi setiap orang yang secara
langsung atau tidak langsung
Menggunakan setiap alat, skema, atau tipu daya untuk menggelapkan
Membuat setiap laporan yang tidak benar dari fakta
Terlibat dalam tindakan, praktik, atau usaha yang sedang berjlan sebagai
bentuk kecurangan
1) Mengajukan gugatan menurut undang-undang tahun 1934
Tergugat dalam gugatan pasal 18 harus membuktikan bahwa ia (1) telah
bertindak dengan jujur (2) tidak mengetahui tentang pernyataan yang tidak
benar atau menyesatkan.
2) Perbedaan antara undang-undang tahun 1933 dan 1934
Undang-undang tahun 1933 diterapkan pada penjualan perdana sekuritas yang
dapat terdiri dari modal saham dan obligasi kepada public oleh korporasi
penerbit, dimana undang-undang tahun 1934 diterapkan pada penjualan
perdana dan perdagangan sekuritas di bursa sekuritas nasional.
Perbedaan terletak pada (1) penggugat, (2) bukti ketergantungan untuk
mengandalkan laporan keuangan yang tidak benar, (3) kewajiban auditor atas
kelalaian biasa.
3) Kasus-kasus yang diajukan menurut undang-undang tahun 1934

Seorang auditor tidak perlu lagi bertanggung jawab kepada pihak ketiga
menurut pasal 10(b) dan peraturan 10b-5 undang-undang tahun 1934 atas
kelalaian biasa, dimana disebutkan bahwa dengan tidak adanya kesengajaan
untuk menipu atau bertindak curang, maka auditor tidak memiliki kewajiban.
Keputusan tersebut juga termasuk sebuah temuan atas perilaku ceroboh. Juri
juga berpendirian bahwa syarat adanya scienter terpenuhi melalui kecerobohan
akuntan. Disebutkan bahwa:
Salah saji ataupun pengabaian yang ceroboh
Akuntan telah bertindak memenuhi syarat sebagai scienter dalam
mengabaikan resiko yang nyata bagi FOF dengan cara memberikan
pendapat wajar tanpa pengecualian
4) Perkembangan Terakhir
Membantu dan bersekongkol berarti melibatkan secara tidak langsung atau
berperan secara tidak langsung dalam pelanggaran yang terencana. Keputusan
yang secara langsung juga melibatkan gugatan perorangan ini, tidak
menjelaskan apakah SEC dapat melanjutkan gugatan atas tindkan membantu
dan bersekongkol menurut pasal 10(b).
3. Private Securities Litigation Reform Act Tahun 1995
Undang-undang private securities litigation reform yang disahkan kongres
pada tahun 1995 dimaksudkan untuk mengurangi resiko litigasi yang ceroboh bagi
auditor, perusahaan yang menjual sekuritasnya kepada public, dan para pihak
yang berafiliasi dengan penerbit sekuritas.
1) Kewajiban Proporsional
Reform act ini memperkenalkan dan memulai suatu system kewajiban
proporsional dimana seorang tergugat yang tidak mengetahui tindak
pelanggaran atas hukum sekuritas tetap bertanggung jawab berdasarkan suatu
persentase tanggung jawab.
2) Menutup Kerugian Aktual
Reform act juga menutup kerugian actual yang timbul menurut undangundang sekuritas berdasarkan harga pembelian investor atas sebuah sekuritas
dan harga perdagangan rata-rata selama periode 90 hari setelah tanggal
informasi diterbitkan yang mengoreksi adanya salah saji dan pengabaian
dalam laporan keuangan.
3) Tanggung jawab untuk melaporkan tindakan melanggar hokum
Apabila seorang auditor menyimpulkan bahwa suatu tindakan melanggar
hukum memiliki pengaruh yang material atas laporan keuangan, sementara
manajemen senior belum mengambil langkah yang tepat, dan kegagalan
tersebut menjadi alas an penerbitan laporan yang menyimpang dari laporan
9

standar atau bahkan pengunduran diri auditor dari perikatan, maka auditor
harus segera melaporkan kesimpulan ini langsung kepada dewan direksi.
4) Perubahan lain yang diberikan oleh reform act
Reform act juga memberikan kelonggaran lain bagi profesi akuntan, UndangUndang ini:
Mewajibkan penggugat membayar imbalan dan pengeluaran yang layak
bagi penasehat hokum
Memberikan tenggang waktu untuk berusaha menyelesaikan masalah yang
ada
Membatasi kerugian akibat tindakan hukum dengan cara menghapus
kecurangan sekuritas sebagai dasar mengambil tindakan menurut
Racketeer Influenced and Corrupt Organzation Act
Perubahan tata cara bagaimana pengadilan menunjuk wakil penggugat
dalam suatu class action untuk kepentingan para investor intitusional yang
pada umumnya memiliki kepentingan keuangan terbesar dalam ganti rugi
tersebut serta untuk mengurangi adanya perlombaan menuju ruang
pengadilan oleh para penggugat professional yang pada umumnya hanya
memiliki kepentingan yang paling sedikit.
2.4

PERTIMBANGAN LAIN
1. Kewajiban menurut Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act (RICO)
RICO merupakan konsep yang menjadi bagian dari undang-undang
pengendalian kejahatan terorganisir tahun 1970 untuk menekan lajunya kejahatan
terorganisir dalam kegiatan bisnis yang sah. RICO memuat ketentuan perdata
yang memperbolehkan semua orang yang secara pribadi menjadi korban pola
kegiatan pemerasan untuk menuntut ganti rugi tiga kali lipat ditambah dengan
penggantian imbalan untuk kuasa hukum.
Para CPA seringkali menjadi tergugat berdasarkan teori bahwa keterlibatan
CPA pada penerbitan laporan keuangan yang secara material tidak benar untuk
masa minimum dua tahun dari rentang waktu sepuluh tahun dianggap termasuk
pada pola kegiatan pemerasan.
Perluasan lingkup RICO yang melibatkan perusahaan bisnis yang sah serta
perorangan yang terkait dengan perusahaan tersebut, seperti para direktur, pejabat
dan akuntan professional, telah menantang pengadilan pada beberapa kesempatan.
Dalam keputusannya,mahkamah menyatakan bahwa RICO telah
berkembang menjadi sesuatu yang sangat berbeda dengan konsep awal yang
dimaksudkan oleh para pembuatnya, namun menyimpulkan bahwa kerugian inibila ada-memang melekat dalam undang-undang tersebut sebagaimana ia tertulis,
10

dan yang dapat melakukan perbaikan atas undang-undang tersebut adalah


kongres
2. Standar professional dan keputusan hukum
AICPA telah membuat pernyataan berikut tentang pentingnya standar
professional dan kesaksian pakar yang meyakinkan tentang standar tersebut:
1) Standar komunikasi yang diperlukan diukur menurut prinsip-prinsip akuntansi
yng berlaku umum (GAAP) dan GAAS yang spesifik.
2) Para juri tidak berwewenang untuk mempertanyakan kebijaksanaan standar
professional
Sebaliknya, pendirian SEC tentang standar professional serta kesaksian
pakar dari kalangan para auditor adalah sebagai berikut :
1) Auditor memiliki kewajiban yang jauh melampaui batas GAAP dan GAAS
yang spesifik atau kebiasaan professional untuk berkomunikasi secara efektif
tentang informasi yang material
2) Apabila GAAP dan GAAS ternyata memiliki kecurangan, maka SEC tidak
ragu-ragu meminta badan yang berwewenang untuk menetapkan standar
kinerja yang berarti tanpa memperhatikan kesaksian pakar pada standar
professional.
Sedangkan Pendirian pengadilan tentang kedua hal tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Apabila profesi telah menetapkan GAAS yang spesifik untuk menghadapi
masalah yang muncul, maka tugas professional akan dibatasi pada
menyesuaikannya dengan standar.
2) Apabila penerapan standar auditing memerlukan keahlian dalam mengevaluasi
dan menguji pengendalian intern, pengambilan sampel transaksi, dan
mendapatkan bukti yang kompeten, maka kesaksian pakar akan sangat
meyakinkan.
3. Meminimalkan Risiko Litigasi
Direkomendasikan sejumlah tindak pencegahan yang perlu diambil oleh
seorang CPA untuk meminimalkan risiko terjerat dalam litigasi.
1) Menggunakan surat perikatan untuk semua jenis jasa professional
2) Melakukan investigasi yang meyeluruh atas klien prospektif
3) Lebih menekankan mutu jasa dari pada pertumbuhan
4) Mematuhi sepenuhnya ketentuan professional
5) Mengakui keterbatasan ketentuan professional
6) Menetapkan dan menjaga standar yang tinggi atas pengendalian mutu
7) Memperhatikan tindak pencegahan dalam perikatan tentang keterlibatan
klien dalam kesulitan keuangan
8) Mewaspadai risiko audit
11

BAB III
PENUTUPAN
3.1

KESIMPULAN\
Mengingat profesi akuntan publik sangat penting perannya dalam dunia bisnis
di Indonesia, maka Akuntan Publik harus selalu menjaga integritas (integrity) dan
profesionalisme melalui pelaksanaan standar dan kode etik profesi secara konsekuen
dan konsisten. Dalam setiap penugasan yang diberikan, Akuntan Publik harus selalu
bersikap independen dan menggunakan kemahiran jabatannya secara profesional (due
professional care).
Akuntan Publik dan KAP agar menghindarkan diri dari tindakan tercela,
seperti kolusi (collusion) dengan klien atau menutupi terjadinya tindak kecurangan
(fraud) yang sangat merugikan berbagai pihak. Semoga Rancangan Undang-Undang
Akuntan Publik (RUU-AP) yang telah disusun cukup lama tersebut, segera dapat
ditetapkan oleh Pemerintah beserta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi UUAP, sehingga akuntan publik memiliki landasan operasional (aspek legal) yang kuat
dan masyarakat (publik) mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan malpraktik
yang melanggar kode etik profesi

12

DAFTAR PUSTAKA
Boynton, C William, Johnson N Raymond dan Kell G. Walter, 2003. Modern Auditing, buku satu,
edisi ketujuh diterjemahkan oleh Paul A. Rajoe, dkk, Penerbit Erlangga, Jakarta.

http://ismail125cc.blogspot.co.id/2014/03/kewajiban-hukum-auditor.html

13