Anda di halaman 1dari 10

KLAIM PADA KONTRAK KERJA KONSTRUKSI DI INDONESIA DAN CARA PENYELESAIANNYA

Nengah Tela dan Nursyam Saleh


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta
Kertas kerja ini di bentangkan dalam International Conference on Construction Industry, 2124 Jun 2007, di Universitas Bung Hatta, Padang, Indonesia.
Abstrak
Didalam pelaksanaan pembinaan sering terjadi persoalan, yang mengakibatkan adanya para
pihak yang dirugikan. Kerugian-kerugian yang ditimbulkan boleh berupa uang, masa
maupun kualiti daripada hasil pekerjaan ataupun produk yang dihasilkan. Kecendrungan ini
terus terjadi di Indonesia, yang sering tidak tahu apa penyebabnya. Berdasarkan ketentuan
pembangunan, proses pembangunan melalui proses mulai dari studi, planing, sampai
kepada pembangunan di site. Jika dilihat proses pembangunan pada masing-masing
tahapan yang dilakulan sudah ada ketentuan-ketentuan yang mengatur dan sudah
semuanya dituliskan, dan disepakati secara bersama dalam kontrak. Keadaan dokumen
yang tidak jelas, kontrak yang tidak fokus dapat menimbulkan klim sehingga terjadi
sengketa. Sengketa dapat membuka peluang para pihak untuk mencari pembenaran sendiri
sehingga dapat merugikan para pihak, negara maupun pribadi sebagai pengguna maupun
pemberi jasa. Guna menghindari sengketa diperlukan dokumen yang jelas dan terinci yang
dibuat dalam dokumen kontrak, serta penyelesaian yang paling baik dalam pembangunan
jasa konstruksi adalah dengan cara mediasi.
Kata Kunci
Klaim, sengketa, kontrak kontruksi.
I.PENDAHULUAN
Ada fenomena bahwa posisi Penyelia Jasa dipandang lebih lemah daripada posisi Pengguna
Jasa. Dengan kata lain posisi Pengguna Jasa lebih dominan dari pada posisi Penyedia Jasa.
Penyedia Jasa hampir selalu harus memenuhi konsep/draf kontrak yang dibuat Pengguna
Jasa karena Pengguna Jasa selalu menempatkan dirinya lebih tinggi dari Penyelia Jasa.
Mungkin hal ini diwarisi dari pengertian bahwa dahulu Pengguna Jasa disebut Bouwheer
(Majikan Bangunan) sehingga sebagimana biasa majikan selalu lebih kuasa. Hal ini
terjadi pada masa lalu sampai sekarang. Peraturan perundang-undangan yang baku untuk
mengatur hak-hak dan kewajiban para pelaku industri jasa konstruksi sampai lahirnya
Undang-Undang No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, belum ada sehingga asas
Kebebasan Berkontrak sebagaimana diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPer) Pasal 1338 dipakai sebagai satu-satunya asas dalam penyusunan kontrak. Dengan
posisi yang lebih dominan, Pengguna Jasa lebih leluasa menyusun kontrak dan ini dapat
merugikan Penyedia Jasa (Nazarkhan Yasin, 2003).
Ketidak seimbangan antara terbatasnya pekerjaan Konstruksi/Proyek dan banyaknya

Penyedia Jasa mengakibatkan posisi tawar Penyedia Jasa sangat lemah. Dengan banyaknya
jumlah Penyedia Jasa maka Pengguna Jasa leluasa melakukan pilihan. Adanya kekhawatiran
tidak mendapatkan pekerjaan yang ditenderkan Pengguna jasa/Pemilik Proyek
menyebabkan Penyedia Jasa rela menerima Kontrak Konstruksi yang dibuat Pengguna
Jasa. Bahkan sewaktu proses tender biasanya Penyedia Jasa enggan bertanya hal-hal yang
sensitive namun penting seperti ketersediaan dana, isi kontrak, kelancaran pembayaran,
Penyedia Jasa takut pihaknya dimasukkan dalam daftar hitam.
II. SEBAB TERJADINYA KLAIM
Sesungguhnya dengan mengetahui sebab-sebab dari suatu klaim, para pihak selaku
pelaksana industri jasa konstruksi dengan pikiran jernih dapat menempatkan masalah klaim
secara wajar dan proporsional dan tak perlu merasa canggung atau alergi. Pendapat
beberapa penulis.
Prof. H. Priyatna Abdurrasyid, beberapa sebab utama terjadinya klaim: Informasi design
yang tidak tepat, Informasi design yang tidak sempurna, Investigasi lokasi yang tidak
sempurna, Reaksi klien yang lambat, Komunikasi yang buruk, Sasaran waktu yang tidak
realistis, Administrasi kontrak yang tidak sempurna, Kejadian eksternal yang tidak
terkendali, Informasi tender yang tidak lengkap, Alokasi risiko yang tidak jelas,
Keterlambatan ingkar membayar. Kebanyakan sengketa/ketidaksepakatan dibidang jasa
konstruksi pada umumnya dapat diselesaikan melalui negosiasi/mediasi diluar pengadilan
karena kontruksi merupakan kegiatan yang berkelanjutan dari awal sampai akhir. Melempar
masalah kepengadilan berarti menghentikan pembangunan untuk jangka waktu yang tidak
bisa diperhitungkan. Tapi negosiasi atau mediasi pun dapat tidak berfungsi/gagal.
Menurut Robert D. Gilbreath, sebab-sebab terjadinya klaim:
1. Pekerjaan yang cacat.
Para pengguna jasa yang tidak puas dengan apa yang dihasilkan penyedia jasa dapat
mengajukan klaim atas kerugian termasuk biaya perubahan, penggantian atau
pembongkaran pekerjaan yang cacat. Dalam banyak kejadian, pekerjaan yang tidak
diselesaikan sesuai dengan spesifikasi yang disebut dalam kontrak atau hal lain yang tidak
cocok dengan maksud yang ditetapkan. Kadang-kadang barang-barang atau jasa yang
diminta tidak sesuai dengan garansi/jaminan yang diberikan penyedia jasa atau pemasok
bahan.
2. Kelambatan yang disebabkan penyedia jasa.
Jika penyedia jasa berjanji melaksanakan pekerjaan tersebut, dalam waktu yang telah
ditetapkan, pengguna jasa dapat mengajukan klaim atas kerugian bila keterlambatan
tersebut disebabkan penyedia jasa atau dalam kejadian lain, bahkan jika keterlambatan
tersebut diluar kendali dari penyedia jasa. Jenis-jenis klaim kerugian dalam hal ini adalah
kehilangan kesempatan penggunaan dari fasilitas tersebut, pengaruh reaksi terhadap
penyedia jasa lain dan kenaikan biaya dari pekerjaan lain yang terlambat.
3. Sebagai klaim tandingan.
Para pengguna jasa yang menghadapi klaim-klaim para penyedia jasa dapat membalasnya
dengan klaim tandingan. Klaim tandingan biasanya menyerang atau berusaha

memojokan/mendiskreditkan unsure-unsur asli dari klaim penyedia jasa, dengan membuka


hal-hal yang tumpang tindih atau perangkap kerugian biaya atau menyebutkan perubahanperubahan atau pasal-pasal klaim dalam kontrak yang melarang atau modifikasi dari
tindakan-tindakan penyedia jasa dalam hal terjadinya sengketa. Kebanyakan klaim yang
ditemukan dalam proyek konstruksi datang dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa
karena satu dan lain sebab. Perubahan-perubahan tidak resmi adalah sebagai berikut:
*Kelambatan atau cacat informasi dari pengguna jasa biasanya dalam bentuk gambargambar atau spesifikasi teknis.
* Kelambatan atau cacat informasi dari bahan-bahan atau peralatan yang diserahkan
pengguna jasa.
* Perubahan-perubahan permintaan, gambar-gambar atau spesifikasi.
* Perubahan-perubahan kondisi lapangan atau kondisi lapangan yang tidak diketahui.
* Pengaruh reaksi dari pekerjaan yang tidak bersamaan.
* Larangan-larangan metode kerja tertentu termasuk kelambatan atau
percepatan pelaksanaan pekerjaan penyedia jasa.
* Kontrak yang memiliki arti mendua atau perbedaan penafsiran.
Dari uraian diatas sebab-sebab atau asal usul klaim dapat dikelompokan sebagai berikut:
Sebabsebab umum
Komunikasi antara pengguna jasa dan penyedia jasa buruk; Administrasi kontrak yang tidak
mencukupi; Sasaran waktu yang tidak terkendali; Kejadian eksternal yang tidak terkendali;
Kontrak yang artinya mendua.
Sebabsebab dari pengguna jasa
Informasi tender yang tidak lengkap/sempurna mengenai desain, bahan, spesifikasi;
Penyelidikan site yang tidak sempurna/perubahan site; Reaksi/tanggapan yang lambat;
Alokasi risiko yang tidak jelas; Kelambatan pembayaran; Larangan metode kerja tertentu.
Sebab - sebab dari penyedia jasa
Pekerjaan yang cacat/mutu pekerjaan buruk; Kelambatan penyelesaian; Klaim
tandingan/perlawanan klaim; Pekerjaan tidak sesuai spesifikasi; Bahan yang dipakai
memenuhi syarat garansi.
III. UNSUR-UNSUR KLAIM
Klaim-klaim konstruksi yang biasa muncul dan paling sering terjadi adalah klaim mengenai
waktu dan biaya sebagai akibat perubahan pekerjaan. Bila pekerjaan berubah, katakanlah
volume pekerjaan bertambah atau sifat dan jenisnya berubah, tidak terlalu sulit menghitung
berapa tambahan biaya yang diminta penyedia jasa beserta tambahan waktu.
Namun terkadang penyedia jasa, disamping mengajukan klaim yang disebut tadi, juga
mengajukan klaim sebagai dampak terhadap pekerjaan yang tidak berubah. Hal ini dapat
diterangkan sebagai berikut: suatu pekerjaan yang tidak diubah terpaksa ditunda (karena
alasan teknis pelaksanaannya dengan adanya pekerjaan lain yang berubah). Pekerjaan yang

tidak berubah tadi seharusnya dikerjakan pada musim kemarau. Oleh karena terjadi
penundaan pekerjaan ini terpaksa dilaksanakan dalam musim hujan yang mengakibatkan
menurunkan produktifitas dan perlu tambahan biaya untuk melindungi pekerjaan tersebut
dari pengaruh cuaca (hujan).
Belum lagi kemungkinan terjadinya kenaikan upah buruh karena musim hujan, tambahan
tenaga pengamanan, biaya administrasi, dan overhead.
Menurut Robert D Gilbreath, unsur-unsur klaim konstruksi tersebut adalah:
* Tambahan upah, material, peralatan, pengawasan, administrasi, overhead dan waktu.
* Pengulangan pekerjaan (bongkar/pasang).
* Penurunan prestasi kerja.
* Pengaruh iklim.
* De-mobilisasi dan Re-mobilisasi.
* Salah penempatan peralatan.
* Penumpukan bahan.
* De-efisiensi jenis pekerjaan.
1. Kategori klaim
a. Dari pengguna jasa terhadap penyedia jasa:
* Pengurangan nilai kontrak.
* Percepatan waktu penyelesaian pekerjaan
* Kompensasi atas kelalaian penyedia jasa
b. Dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa:
* Tambahan waktu pelaksanaan pekerjaan
* Tambahan kompensasi
* Tambahan konsesi atas pengurangan spesifikasi teknis atau bahan.
c. Dari Sub penyedia jasa atau pemasok bahan terhadap penyedia jasa utama
2. Jenis-jenis klaim
a. Klaim tambahan biaya dan waktu; Diantara beberapa jenis klaim, akan ditinjau 2 (dua)
jenis klaim yang sering terjadi yaitu klaim yang timbul akibat keterlambatan penyelesaian
pekerjaan. Klaim jenis ini biasanya mengenai permintaan tambahan waktu dan tambahan
biaya.
b. Klaim biaya tak langsung (Overhead); Selain itu terdapat pula jenis klaim lain sebagai
akibat kelambatan tadi, klaim atas biaya tak langsung (overhead). Penyedia jasa yang
terlambat menyelesaikan suatu pekerjaan karena sebab-sebab dari pengguna jasa,
meminta tambahan biaya overhead dengan alasan biaya ini bertambah karena pekerjaan
belum selesai.
c. Klaim tambahan waktu (tanpa tambahan biaya); Walaupun klaim kelembatan
kelihatannya sederhana saja, namun dalam kenyataannya tidak demikian. Misalnya
penyedia jasa hanya diberikan tambahan waktu pelaksanaan tanpa tambahan biaya karena
alasan-alsan tertentu.
d. Klaim kompensasi lain; Dilain kejadian penyedia jasa selain mendapatkan tambahan
waktu mendapatkan pula kompensasi lain.

Ada kalanya penyedia jasa tidak mendapatkan seluruh klaim kelambatan yang diminta
karena tidak seluruh kelambatan tersebut kesalahan pengguna jasa. Penyedia jasa juga
mempunyai andil dalam kelambatan tersebut yang terjadi secara tumpang tindih.
IV. SENGKETA KONSTRUKSI
Sengketa konstruksi adalah sengketa yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan suatu
usaha jasa konstruksi antara para pihak yang tersebut dalam suatu kontrak konstruksi yang
di dunia Barat disebut construction dispute. Sengketa konstruksi yang dimaksudkan di sini
adalah sengketa di bidang perdata yang menurut UU no.30/1999 Pasal 5 diizinkan untuk
diselesaikan melalui Arbitrase atau Jalur Alternatif Penyelesaian Sengketa. (Nazarkhan
Yasin. 2004, Mengenal Klaim Konstruksi dan Penyelesaian Sengketa Konstruksi).
Konstruksi dimaksud adalah kegiatan jasa konstruksi yang meliputi; Perencanaan,
Pelaksanaan, dan Pengawasan pekerjaan konstruksi. Undang-undang tentang Jasa
Konstruksi No.18 tahun 1999 dalam Ketentuan Umum menyebutkan bahwa Jasa Konstruksi
adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan
pekerjaan konstruksi dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
Sedangkan pengertian pekerjaan konstruksi adalah seluruh atau sebahagian rangkaian
kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup
pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing
beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.
(Undang-Undang Jasa Konstruksi No.18 tahun 1999).
Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak dilayani misalnya
keterlambatan pembayaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran
dokumen kontrak, ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak. Selain
itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna jasa ternyata tidak
melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan
dana yang cukup. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa sengketa konstruksi timbul
karena salah satu pihak telah melakukan tindakan cidera (wanprestasi atau default).
V. PENYELESAIAN SENGKETA
Sengketa konstruksi dapat diselesaikan melalui beberapa pilihan yang disepakati oleh para
pihak yaitu melalui :
* Badan Peradilan (Pengadilan);
* Arbitrase (Lembaga atau Ad Hoc);
* Alternatif Penyelesaian Sengketa (konsultasi, negosiasi, mediasi, konsilisasi).
Penyelesaian sengketa harus secara tegas dicantumkan dalam kontrak konstruksi dan
sengketa yang dimaksud adalah sengketa perdata (bukan pidana). Misalnya, pilihan
penyelesaian sengketa tercantum dalam kontrak adalah Arbitrase. Dalam hal ini pengadilan
tidak berwenang untuk mengadili sengketa tersebut sesuai Undang-Undang No.30/1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Pasal 3.

1. Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan


Penyelesaian sengketa melalu pengadilan, kurang disukai dan diminati oleh para pelaku jasa
konstruksi karena waktu penyelesaiannya terlalu lama, apalagi bila terjadi Peninjauan
Kembali. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr.Sudargo Gautama dalam bukunya Undang
Undang Arbitrase Baru, 1999 hal 2-4 sebagai berikut:
Dunia dagang, terutama Internasional selalu "takut" untuk berperkara dihadapan badanbadan peradilan. Ini berlaku untuk tiap sistem negara, baik negara yang maju maupun
masih berstatus negara berkembang. Para pedagang umumnya takut untuk berperkara
bertahun-tahun lamanya. Keadaan ini dirasakan disemua negara. Tetapi lebih-lebih lagi
dalam keadaan sistem peradilan di negara kita, berperkara bisa berlarut-larut, artinya bisa
bertahun-taun lamanya.
2. Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
Kata arbitrase berasal dari kata arbitrare (Latin), arbitrage (Belanda), arbitration (Inggris),
schiedspruch (Jerman), dan arbitrage (Peracis), yang berarti kekuasaan untuk
menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan atau damai oleh artbiter atau wasit.
Arbitrase merupakan salah satu metode penyelesaian sengketa. Sengketa yang harus
diselesaikan tersebut berasal dari sengketa atas sebuah kontrak dalam bentuk sebagai
berikut (Harahap, Yahya, Arbitrase, Pustaka Kartini, Jakarta, 1991).
a. Perbedaan penafsiran (disputes) mengenai pelaksanaan perjanjian, berupa:
* Kontroversi pendapat (controversy);
* Kesalahan pengertian (misunderstanding);
* Ketidaksepakatan (disagreement);
b. Pelanggaran perjanjian (breach of contract), termasuk di dalamnya adalah:
* Sah atau tidaknya kontrak;
* Berlaku atau tidaknya kontrak
c. Pengakhiran kontrak (termination of contract);
d. Klaim mengenai ganti rugi atas wanprestasi atau perbuatan atau melawan hukum.
Menurut Steven H. Grifis (1984), yang dimaksud dengan arbitrase adalah submission of
controversies by agreement of the parties thereto, to person chosen by themselves for
determination (suatu pengajuan sengketa, berdasarkan perjanjian antara para pihak,
kepada orang-orang yang dipilih sendiri oleh mereka untuk mendapatkan suatu keputusan).
Dalam suatu sumber yang lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan arbitrase adalah
the submission for determination of diputed matter to private unofficial persons selected in
manner provided by law or agreement (pengajuan suatu sengeketa untuk diputuskan oleh
orang-orang swasta yang tidak resmi, yang dipilih dengan cara yang ditetapkan oleh
peraturan atau oleh suatu perjanjian) (Fuady, Munir, 2000).
Sementara R. Subekti mengartikan arbitrase :
Arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para

hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati
keputusan yang diberikan oleh hakim atau para hakim yang mereka pilih atau tunjuk
tersebut (Subekti, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung, 1992).
Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut UU Arbitrase), yang dimaksud dengan arbitrase
adalah :
Cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa, vide Pasal
1 ayat (1).
Arbitrase sebagai salah satu metode penyelesaian sengketa, yang harus diselesaikan
tersebut berasal dan sengketa atas sebuah kontrak dalam bentuk sebagai berikut:
(Harahap, M. Yahya, 1991:108)
a. Perbedaan penafsiran (disputes) mengenai pelaksanaan perjanjian, berupa:
* Kontraversi pendapat (controversy);
* Kesalahan pengertian (misunderstanding);
* Ketidaksepakatan (disagreement);
b. Pelanggaran perjanjian (breach of contract). termasuk di dalamnya adalah:
* Sah atau tidaknya kontrak;
* Berlaku atau tidaknya kontrak;
c. Pengakhiran kontrak (termination of contract);
d. Klaim mengenai ganti rugi atas wanprestasi atau perbuatan atau melawan hukum.
Arbitrase merupakan suatu pengadilan swasta, yang sering juga disebut dengan pengadilan
wasit. Sehingga para arbiter dalam peradilan arbitrase berfungsi memang layaknya
seorang wasit (referee) seumpama wasit dalam suatu pertandingan bola kaki.
Yang dimaksud dengan arbitrase adalah submission of controversies, by agreement of the
parties there to, to persons chosen by themselves for determination (suatu pengajuan
sengketa, berdasarkan perjanjian antara para pihak, kepada orang-orang yang dipilih
sendiri oleh mereka untuk mendapatkan suatu keputusan) (Gills, Steven H, 1984 : 27).
Dalam suatu sumber, arbitrase dimaksudkan sebagai:
Menurut yang tertulis, ialah memeriksa sesuatu, atau mengambll keputusan mengenai
faedahnya. Proses yang oleh suatu perselisihan antara dua pihak yang bertentangan
diserahkan kepada satu pihak atau lebih yang tidak berkepentingan untuk mengadakan
pemeriksaan dan mengambil suatu keputusan terakhir. Pihak yang tidak berkepentingan,
atau arbitrator tersebut, dapat dipilih oleh pihak-pihak itu sendiri, atau boleh ditunjuk oleh
suatu badan yang lebih tinggi yang kekuasaannya diakui oleh pihak-pihak itu. Dalam
prosedur arbitration, kedua belah pihak yang bertentangan itu sebelumnya telah menyetujui
akan menerima keputusan arbitrator... (Abdurrachman, A., 1991 50).
Dalam suatu sumber yang lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan arbitrase adalah
the submission for determination of disputed matter to private unofficial persons selected ini
manner provided by law or agreement (pengajuan suatu sengketa untuk diputuskan oleh
orang-orang swasta yang tidak resmi, yang dipilih dengan cara yang ditetapkan oleh
peraturan atau oleh suatu perjanjian). (Black, Henry Campbell, 1968: 134).
Kemudian, menurut Undang-Undang Arbitrase No. 30 Tahun 1999, yang dimaksud dengan

arbitrase adalah:
Cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada
perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa (vide
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Arbitrase No. 30 Tahun 1999).
Arbitrase Lebih Disukai
Dalam Undang-Undang Arbitrase Baru 1999, dinyatakan antara lain bahwa dibandingkan
dengan berperkara biasa memalui pengadilan negeri, arbitrase lebih diutamakan oleh
pelaku bisnis internasional. Salah satu sebab adalah karena lebih cepat, murah dan
sederhana. Cepat karena dalam rangka arbitrase ditentukan, baik dalam peraturan RV
(Reglement of de Rechtsvordering, Hukum Acara Perdata) yang lama (Pasal 620, maupun
yang baru, ditentukan pada prinsipnya, putusan arbitrase ini harus dijatuhkan dalam waktu
6 (enam) bulan setelah pengangkatan arbitrase (Pasal 47 RUU).
3. Memilih Penyelesaian Sengketa Alternatif
Karena berbagai kelemahan yang melekat pada badan pengadilan dalam menyelesaikan
sengketa, baik kelemahan yang dapat diperbaiki ataupun tidak, maka banyak kalangan
yang ingin mencari cara lain atau institusi lain dalam menyelesaikan sengketa di luar badanbadan pengadilan. Dan model penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang sangat
populer adalah apa yang disebut dengan arbitrase itu.
Akan tetapi, institusi arbitrase bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan sengketa di
luar pengadian. Masih banyak alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan,
sungguhpun tidak sepopuler lembaga arbitrase.
Penyelesaian sengketa alternatif mempunyai kadar keterikatan kepada aturan main yang
bervariasi, dan yang paling kaku dalam menjalankan aturan main sampai kepada yang
paling relaks. Faktor-faktor penting yang berkaitan dengan pelaksanaan kerja penyelesai
sengketa alternatif juga mempunyai kadar yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut:
a. Apakah para pihak dapat diwakili oleh pengacaranya atau para pihak sendiri yang tampil.
b. Apakah partisipasi dalam penyelesaian sengketa alternatif tertentu wajib dilakukan oleh
para pihak atau hanya bersifat sukarela.
c. Apakah putusan dibuat oleh para pihak sendiri atau oleh pihak ketiga.
d. Apakah prosedur yang digunakan bersifat formal atau tidak formal.
e. Apakah dasar untuk menjatuhkan putusan adalah aturan hukum atau ada kriteria lain.
f. Apakah putusan dapat dieksekusi secara hukum atau tidak. (Kanowitz, Leo, 1985 6).
g. Tidak semua model penyelesaian sengketa alternatif baik untuk para pihak yang
bersengketa. Suatu penyelesaian sengketa alternatif yang baik setidak-tidaknya haruslah
memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
* Haruslah efisien dan segi waktu.
* Haruslah hemat biaya.
* Haruslah dapat diakses oleh para pihak. Misalnya tempatnya jangan terlalu jauh.
* Haruslah melindungi hak-hak dan para pihak yang bersengketa.
* Haruslah dapat menghasilkan putusan yang adil dan jujur.
* Badan atau orang yang menyelesaikan sengketa haruslah terpercaya di mata masyarakat

dan di mata para pihak yang bersengkata.


* Putusannya haruslah final dan mengikat.
* Putusannya haruslah dapat bahkan mudah dieksekusi.
* Putusannya haruslah sesuai dengan perasaan keadilan dan komuniti di mana penyelesaian
sengketa alternatif tersebut terdapat. (Kanowitz, Leo, 1985:14).
Sebagaimana diketahui bahwa masing-masing alternatif penyelesaian sengketa yang ada
nilai plus minusnya. Tabel berikut ini merupakan perbandingan sisi kuat dan sisi lemah di
antara berbagai alternatif penyelesaian sengketa, yaitu sebagai berikut:
Tabel - Sisi Kuat dan Sisi Lemah dan Berbagai Alternatif Penyelesaian Sengketa

Di samping itu, model-model alternatif penyelesaian sengketa yang bersifat campuran di


antara berbagai model, juga sering diketemukan. Misalnya apa yang disebut dengan MedArb yang merupakan bentuk kombinasi antara model mediasi dengan model arbitrase. Atau
apa yang disebut dengan Judicial Arbitration atau Court-Annexed Arbitration, yang
merupakan bentuk hibrida dan badan pengadilan dan arbitrase. Atau apa yang dikenal
dengan Concilio-Arbitration. Dalam hal ini Concilio-Arbitration merupakan hibrida antara
bentuk konsiliasi dan Arbitrase. Untuk itu, pertama sekali penyelesaian sengketa diusahakan
secara Konsiliasi. Akan tetapi, apabila tidak berhasil akan dilanjutkan ke dalam bentuk

arbitrase di mana pihak konsiliator akan berubah fungsinya menjadi arbiter.


VI. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak dilayani misalnya
keterlambatan pembayaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran
dokumen kontrak, ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak. Selain
itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna jasa ternyata tidak
melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan
dana yang cukup.
2. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase lebih disukai, dalam Undang-Undang Arbitrase
Baru 1999, dinyatakan antara lain bahwa dibandingkan dengan berperkara biasa memalui
pengadilan negeri, arbitrase lebih diutamakan oleh pelaku bisnis internasional. Salah satu
sebab adalah karena lebih cepat, murah dan sederhana.
DAFTAR PUSTAKA
Fuady, Munir. 2000. Arbitrase Nasional, Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis. Bandung :
Citra Aditya Bhakti.
Gautama Sudargo.1999. Undang-Undang Arbitrase Baru. Jakarta : PT Citra Aditya Bakti.
Harahap, M Yahya. 1999. Arbitrase. Jakarta : Pustaka Kartini.
Subekti, R.1992. Arbitrase Perdagangan. Bandung : Bina Cipta.
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa.
Undang-Undang No. 18/1999, tentang Jasa Konstruksi.
Yasin Nazarkhan. 2004. Mengenal Klaim Konstruksi & Penyelesaian Sengketa Konstruksi.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Yasin Nazarkhan. 2003. Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia. Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama