Anda di halaman 1dari 20

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA

RSAU dr. M. SALAMUN

KEPUTUSAN KEPALA RSAU dr. M. SALAMUN


Nomor Kep / 45 J / VI / 2014

tentang
KEBIJAKAN KAMAR ISOLASI
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN
KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN

Menimbang

1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu


pelayanan
RSAU dr. M. Salamun, maka
diperlukan
penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu.
2. Bahwa agar pelayanan yang bermutu di RSAU dr. M. Salamun
dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Kebijakan Kamar Isolasi
RSAU dr.M.Salamun sebagai landasan bagi seluruh penyelenggaraan
pelayanan di RSAU dr. M. Salamun yang ditetapkan dalam keputusan
Ka RSAU dr. M. Salamun.

Mengingat

1. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


2. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
32/Menkes/2007 tentang Pedoman Infeksi di Rumah Sakit.

Nomor

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 tahun 2012 tentang


Akreditasi Rumah Sakit
6. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor
HK.02.04/I/2790/11 tanggal 1 Januari 2012 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit.
7. Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor Kep/21PKS/VII/2013 tanggal 29Juli 2013 tentang Pemberhentian dari dan
Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara.

2
MEMUTUSKAN

Menetapkan

1. Keputusan
Kepala
RSAU
dr.
M.
Kebijakan Kamar Isolasi RSAU dr. M. Salamun.

Salamun

tentang

2. Kebijakan Kamar Isolasi RSAU dr. M. Salamun harus dijadikan


acuan dalam menyelenggarakan pelayanan di lingkungan RSAU
dr.M.Salamun sebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan ini.
3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
pada tanggal
03
Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA


RSAU dr. M. SALAMUN

Lamp. Kep. Ka RSAU dr. M. Salamun


Nomor Kep / 45.j / VI / 2014

Tanggal

03

Juni 2014

KEBIJAKAN KAMAR ISOLASI


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr.M. SALAMUN

1. Kebijakan Umum.
a. Ruang Isolasi merupakan ruang di rumah sakit yang khusus menjaga pasien
dengan kondisi medis tertentu yang terpisah dari pasien lain saat mereka
menerima perawatan medis (Sabra L. Katz-Wise, 2006), Ruang isolasi adalah
ruang yang digunakan untuk perawatan pasien dengan penyakit resiko yang dapat
ditularkan pada orang lain seperti penyakit-penyakit infeksi antara lain HIV/AIDS,
SARS, Flu Burung, Flu Babi, dan lain-lain (DepKes RI).
b. Ruang Isolasi adalah ruangan khusus yang terdapat di rumah sakit yang merawat
pasien dengan kondisi medis tertentu terpisah dari pasien lain ketika mereka
mendapat perawatan medis dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit atau
infeksi kepada pasien dan mengurangi risiko terhadap pemberi layanan kesehatan.
c. Ruang isolasi adalah Suatu ruangan perawatan yang mampu merawat pasien
menular agar tidak terjadi atau memutus siklus penularan penyakit melindungi
pasien dan petugas kesehatan.
2. Kebijakan Khusus.
a. Pengertian
1) Airborne transmission merupakan penyebaran partikel udara dan debu yang
mengandung agen infeksius / mikroorganisme, penanganan udara dan ventilasi
dibutuhkan untuk pencegahan transmisi udara ini,
2) Droplet transmission merupakan penyebaran titik cairan tubuh khususnya
yang dihasilkan dari proses batuk, bersin, dan berbicara dalam jarak yang
relative dekat ;sehingga tidak memerlukan ventilasi khusus untuk mencegah
penyebaran.
3) Contact transmission merupakan penyebaran yang paling penting dan paling
sering dijumpai, meliputi kontak langsung antar dua individu maupun kontak
tidak langsung melalui obyek atau benda yang terkontaminasi.
4) Blood-borne transmission merupakan penyebaran melalui kontak dengan darah
yang dapat dicegah dengan kebijakan pencegahan umum maupun standar.
2

b. Kriteria Pasien yang masuk Kamar Isolasi Airborne transmission .


Pasien dengan penyakit :
1) Diptheri untuk anak maupun dewasa.
2) Faricella: Herpes Zooster, Morbili.
3) Tuberculosis Paru.
c. Ruang Isolasi.
1) Dipasang pembuangan udara keluar dengan exhaust fan.
2) Jaga pintu tetap tertutup dan pasien tetap dalam ruangan.
3) Satu tempat tidur untuk satu kamar isolasi.
4) Bila tidak ada tempat tersendiri, tempatkan pasien dalam ruangan dengan
pasien lain yang terinfeksi mikroorganisme yang sama, dan tidak ada infeksi
lain.
d. Proteksi Bagi Petugas, Pasien dan Pengunjung.
1) Petugas (Dokter, Perawat dan Petugas lainnya yang kontak/ masuk Ruang
Isolasi).
(a) Setiap masuk ruangan isolasi harus memakai APD yang sesuai.
(b) Cuci tangan sesudah dan sebelum tindakan dan saat meninggalkan
ruangan.
2) Pasien/ Pengunjung.
(a) Pengunjung bila masuk ruang isolasi harus memakai APD yang sesuai.
(b) Sebelum dan sesudah masuk ruang isolasi pengunjung harus cuci
tangan pada tempat yang sudah disediakan.

(c) Pengunjung hanya bisa masuk saat jam kunjungan ( hanya 1 orang).
(d) Anak umur di bawah 12 tahun tidak boleh masuk ruang isolasi.

Bandung, 03 Juni 2014


Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA

RSAU dr. M. SALAMUN

KEPUTUSAN KEPALA RSAU dr. M. SALAMUN


Nomor Kep / 45 P / VI / 2014

tentang
PANDUAN KAMAR ISOLASI
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN
KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr. M. SALAMUN

Menimbang

1. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu


pelayanan
RSAU dr. M. Salamun, maka
diperlukan
penyelenggaraan
pelayanan yang bermutu.
2. Bahwa agar pelayanan yang bermutu di RSAU dr. M. Salamun
dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Panduan Kamar Isolasi
RSAU dr. M. Salamun sebagai landasan bagi seluruh
penyelenggaraan pelayanan di RSAU dr. M. Salamun yang ditetapkan
dalam keputusan Ka RSAU dr. M. Salamun.

Mengingat

1. Undang-Undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.


2. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
3. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
32/Menkes/2007 tentang Pedoman Infeksi di Rumah Sakit.

Nomor

5. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 tahun 2012 tentang


Akreditasi Rumah Sakit
6. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor
HK.02.04/I/2790/11 tanggal 1 Januari 2012 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit.
7. Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor Kep/21PKS/VII/2013 tanggal 29Juli 2013 tentang Pemberhentian dari dan
Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Udara.
2

MEMUTUSKAN

Menetapkan

1. Keputusan
Kepala
RSAU
dr.
M.
Panduan Kamar Isolasi RSAU dr. M. Salamun.

Salamun

tentang

2. Panduan Kamar Isolasi RSAU dr. M. Salamun harus dijadikan


acuan dalam menyelenggarakan pelayanan di lingkungan RSAU
dr.M.Salamun sebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan ini.
3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Bandung
pada tanggal 03
Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

DINAS KESEHATAN ANGKATAN UDARA

Lamp. Kep. Ka RSAU dr. M. Salamun

RSAU dr. M. SALAMUN

Nomor

Kep /

Tanggal

/ VI / 2014

Juni 2014

PANDUAN KAMAR ISOLASI


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA dr.M. SALAMUN
BAB I
DEFINISI

1. Ruang Isolasi merupakan ruang di rumah sakit yang khusus menjaga pasien
dengan kondisi medis tertentu yang terpisah dari pasien lain saat mereka
menerima perawatan medis (Sabra L. Katz-Wise, 2006), Ruang isolasi adalah
ruang yang digunakan untuk perawatan pasien dengan penyakit resiko yang dapat
ditularkan pada orang lain seperti penyakit-penyakit infeksi antara lain HIV/AIDS,
SARS, Flu Burung, Flu Babi, dan lain-lain (DepKes RI).
2. Ruang Isolasi adalah ruangan khusus yang terdapat di rumah sakit yang merawat
pasien dengan kondisi medis tertentu terpisah dari pasien lain ketika mereka
mendapat perawatan medis dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit atau
infeksi kepada pasien dan mengurangi risiko terhadap pemberi layanan kesehatan.

3. Ruang isolasi adalah Suatu ruangan perawatan yang mampu merawat pasien
menular agar tidak terjadi atau memutus siklus penularan penyakit melindungi
pasien dan petugas kesehatan.
BAB II
RUANG LINGKUP

4. Ruang Lingkup Kegiatan. Ruang lingkup panduan ruang isolasi ini adalah untuk
memberikan panduan Perawat di ruang isolasi guna berperan dalam pencegahan
infeksi nosokomial (baik dari pasien ke petugas maupun dari pasien ke pasien
lainnya) dan infeksi oportunistik dengan penerapan universal precaution.
Ruang Lingkup Kegiatan Ruang Isolasi meliputi :
a. Cara Penularan.
1) Airborne transmission.
2) Droplet transmission.

2
3) Contact transmission.
4) Blood-borne transmission.
b. Kriteria Pasien.
Pasien dengan penyakit.
1) Diptheri untuk anak maupun dewasa.
2) Faricella: Herpes Zooster, Morbili.
3) Tuberculosis Paru.
c. Persyaratan Ruang Isolasi.
d. Proteksi Respirasi.
e. Pengangkutan Pasien.
f. Perawatan lingkungan.

BAB III
TATA LAKSANA

5. Tata Laksana Ruang Isolasi. Pasien pasien yang memerlukan perawatan


Isolasi di RSAU dr. M. Salamun, harus memenuhi ketentuan ketentuan yang
telah ditentukan.
Ruang Isolasi diadakan (disiapkan) bertujuan untuk pencegahan infeksi (baik dari pasien
ke petugas maupun dari pasien ke pasien lain) dan infeksi oportunitis dengan penerapan
Universal Precaution.
6. Cara Penularan. Infeksi dapat menyebar dengan beberapa cara :airborne (melalui
udara), droplet (titik cairan tubuh), contact (kontak langsung), dan blood-borne
spread (melalui darah).
a. Airborne transmission merupakan penyebaran partikel udara dan debu yang
mengandung agen infeksius / mikroorganisme ;penanganan udara dan ventilasi
dibutuhkan untuk pencegahan transmisi udara ini.

b. Droplet transmission merupakan penyebaran titik cairan tubuh khususnya yang


dihasilkan dari proses batuk, bersin, dan berbicara dalam jarak yang relative dekat
sehingga tidak memerlukan ventilasi khusus untuk mencegah penyebaran.
3
c. Contact transmission merupakan penyebaran yang paling penting dan paling sering
dijumpai, meliputi kontak langsung antar dua individu maupun kontak tidak langsung
melalui obyek atau benda yang terkontaminasi.
d. Blood-borne transmission merupakan penyebaran melalui kontak dengan darah yang
dapat dicegah dengan kebijakan pencegahan umum maupun standar.
7. Kriteria Pasien. Pasien dengan penyakit.
a. Diptheri untuk anak maupun dewasa.
b. Faricella: Herpes Zooster, Morbili.
c. Tuberculosis Paru.
8. Persyaratan Ruang Isolasi.
a. Ruangan khusus/ aliran udara secara mekanik.
b. Minimal pergantian udara dua belas kali setiap jam.
c. Pembuangan (exhaust) udara keluar yang memadai
d. Jagalah agar pintu tetap tertutup dan pasien tetap dalam ruangan.
e. Bila tidak ada tempat tersendiri, tempatkan pasien dalam ruangan dengan pasien lain
yang terinfeksi mikroorganisme yang sama, dan tidak ada infeksi lain.
9. Proteksi Bagi Petugas, Pasien dan Pengunjung.
a. Petugas (Dokter, Perawat dan Petugas lainnya yang kontak/ masuk Ruang Isolasi).
1) Setiap masuk ruangan isolasi harus memakai skort dan alas kaki khusus (yang
ada di ruang isolasi).
2) Cuci tangan sesudah dan sebelum tindakan dan saat meninggalkan ruangan.
3) Pemakaian hand scoen dalam melakukan tindakan perawatan terhadap pasien.
b. Pasien/ Pengunjung.
1) Pengunjung bila masuk ruang isolasi harus memakai baju (skort) pengunjung dan
lepas sepatu/alas kaki, menggunakan alas kaki yang tersedia.

4
2) Sebelum dan sesudah masuk ruang isolasi pengunjung harus cuci tangan pada
tempat yang sudah disediakan.
3) Pengunjung hanya bisa masuk saat jam kunjungan ( hanya 1 orang).
4) Anak umur di bawah 12 tahun tidak boleh masuk ruang isolasi.
10. Pengangkutan Pasien. Batasi pemindahan atau pengangkatan pasien hanya
untuk hal-hal yang penting saja.Bila pemindahan / pengangkutan pasien memang
diperlukan, hindari penyebaran droplet nucleus dengan memberi pasien masker.
Batasi pemindahan dan transport pasien hanya untuk hal yang penting. Bila terpaksa
harus memindahkan keluar kamar, usahakan tetap melaksanakan precautions.
11. Perawatan lingkungan. Usahakan yang sering tersentuh dibersihkan setiap hari
dengan air sabun atau Clorin 1 %.di ruang perawatan pasien, peralatan disekitar
tempat tidur pasien dan permukaan.
12. Fasilitas Isolasi.
a. Akomodasi.
1) Tempat tidur tunggal dengan fasilitas cuci tangan.
2) Fasilitas toilet.
3) Cek kebersihan ruangan sebelum pasien dimasukkan.
4) Minimalisasi mebeler dan peralatan yang tidak diperlukan.
5) Terpasang ex- house fan.
b. Kelengkapan Ruang Isolasi:
1) Sabun cuci tangan.
2) Gel alcohol untuk tangan di depan kamar dan di tempat tidur.
3) Apron plastic bila diperlukan.
4) Sarung tangansekali pakai.
5) Masker / goggles(kaca mata) bila diperlukan.

6) Kantong sampah plastik kuning (medis) dan hitam (non medis).


c. Standard Precaution.
5
1) Pintu harus dalam keadaan selalu tertutup.
2) Pemakaian gel sesuai lima moment.
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah memasuki ruangan isolasi.
4) Bila melakukan prosedur invasive, lakukan tindakan antiseptic .
13. Ruang Perawatan Isolasi yang berlaku di RSAU dr. M. Salamun.
a. Ada penetapan ruang Isolasi yang6 ditetapkan di RSAU dr. M. Salamun.
b. Ruangan ruang Isolasi di dasarkan kebutuhan dan sarana yang ada.
14. Alur Pasien Ruang Isolasi.

Pasien masuk
Dari IGD/ Poliklinik

Pasien di Rawat Inap


R. Isolasi
(sesuai Kriteria)

R. Biasa

Pasien Sembuh/ pulang

Pasien Pulang

6
BAB IV
DOKUMENTASI

15.
Pendokumentasian yang dilakukan pada Ruang Isolasi, sesuai dokumentasi
Pasien Rawat Inap yang lainnya dalam Rekam Medis Pasien.

Bandung,
Juni 2014
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

dr. Didik Kestito, SpBU


Kolonel Kes NRP 512677

ALAT PELINDUNG DIRI

No. Dokumen
RSAU dr. M. SALAMUN
Jl. Ciumbuleuit No.203
BANDUNG

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit

No. Revisi

Halaman
1 dari 1

Ditetapkan oleh,
Kepala RSAU dr. M. Salamun,
dr. Didik Kestito,SpBU
Kolonel Kes NRP 512677

PENGERTIAN

APD adalah seperangkat alat yang digunakan oleh


tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian
tubuhnya dari adanya kemungkinan potensi bahaya atau
kecelakaan kerja (Budiono, 2003).

TUJUAN

Sebagai acuan bagi tenaga kerja RSAU dr. M. Salamun


agar semua pegawai dapat terlindungi dari bahaya akibat
kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja

KEBIJAKAN

Surat Keputusan Kepala RSAU dr. M. Salamun No kep/


/X/2014 tentang Kebijakan Alat Pelindung Diri di
RSAU dr. M. Salamun

PROSEDUR

1. Ganti baju petugas dengan baju kerja pada saat akan


memulai pekerjaan di tempat ganti yang telah
disediakan.
2. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah cuci tangan.
3. Ambil alat pelindung diri (sepatu boot, masker, sarung
tangan dll) dan gunakan APD tersebut secara baik dan
benar.
4. Apabila aktifitas telah selesai bersihkan kembali APD
yang telah digunakan dan simpan pada tempat yang
telah disediakan.
5. Cuci tangan dengan prosedur

UNIT TERKAIT

Seluruh Unit pelayanan di RSAU dr. M. Salamun

PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI

RSAU dr. M. SALAMUN


Jl. Ciumbuleuit No.203
BANDUNG
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

No. Dokumen

Tanggal Terbit

No. Revisi

Halaman
1 dari 2

Ditetapkan oleh,
Kepala RSAU dr. M. Salamun,
dr. Didik Kestito,SpBU
Kolonel Kes NRP 512677

Memakai seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga


kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya
dari adanya kemungkinan potensi bahaya atau
kecelakaan kerja
Sebagai acuan bagi tenaga kerja RSAU dr. M. Salamun
agar semua pegawai dapat terlindungi dari bahaya akibat
kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja
Tata laksana penggunaan APD sesuai Surat Keputusan
Kepala RSAU dr. M. Salamun No kep/
/X/2014 tentang Kebijakan Alat Pelindung Diri di
RSAU dr. M. Salamun

PROSEDUR

1. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah cuci tangan.


2. Pakai pelindung kaki :
a. Buka alas kaki yang dipakai
b. Ambil pelindung kaki dengan memegang bagian
atas.
c. Pasang pelindung kaki sepatu boot atau sandal
yang sepenuhnya menutupi bagian kaki
3. Pakai penutup kepala :
a. Ambil penutup kepala dengan memegang bagian
sisi yang bertali atau bagian belakang penutup
kepala
b. Pakaikan penutup kepala sampai semua rambut
tertutup,
c. Ikat penutup kepala yang bertali atau pastikan karet
penutup kepala tidak longgar.
d. Gunakan penutup kepala yang bersih dan menutupi
seluruh rambut
4. Pakai gaun pelindung / apron :
a. Ambil gaun pelindung / apron dengan memegang
bagian atas atau bagian leher.

MENGGUNAKAN ALAT PELINDUNG DIRI

No. Dokumen
RSAU dr. M. SALAMUN
Jl. Ciumbuleuit No.203
BANDUNG

No. Revisi

Halaman
2 dari 2

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

b. Kalungkan tali apron bagian atas atau talikan tali


apron untuk apron yang bertali ke belakang leher
c. Ikat tali apron bagian samping ke belakang
pinggang dan pastikan bagian depan dan samping
menutupi badan tidak terlipat.
5. Pakai masker :
a. Ambil masker bersih dengan memegang bagian
sisi yang bertali
b. Tempelkan pada bagian mulut dan hidung.
c. Bagian sisi atas menutupi hidung dan lekukan
kawat sesuai bentuk hidung.
d. Bagian bawah harus menutup sampai dagu.
e. Ikatkan tali masker pada bagian belakang kepala
senyaman mungkin tidak terlalu ketat dan tidak
terlalu kendur.
6. Pakai kaca mata pelindung sesuai prosedur
a. Ambil kaca mata pelindung dengan memegang
bagian sisi bertali atau tangkainya
b. Bersihkan kaca dengan tissue bila buram atau kotor
c. Pakaikan kaca mata senyaman mungkin.
7. Pakai sarung tangan :
a. Ambil sarung tangan bagian kanan tangan dengan
tangan kiri dengan cara memegang bagian dalam
sisi lengannya dan masukan tangan kanan sampai
lengan tertutup dan semua bagian sarung tangan
tidak ada yang terlipat.
b. Ambil sarung tangan bagian kiri tangan dengan
tangan kanan dengan cara memegang bagian
dalam sisi lengannya dan masukan tangan kiri
sampai lengan tertutup dan semua bagian sarung
tangan tidak ada yang terlipat.
Seluruh Unit Pelayanan RSAU dr. M. Salamun

MELEPASKAN ALAT PELINDUNG DIRI


RSAU dr. M. SALAMUN

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
1 dari 3

Jl. Ciumbuleuit No.203


BANDUNG
Tanggal Terbit

Ditetapkan oleh,
Kepala RSAU dr. M. Salamun,

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
dr. Didik Kestito,SpBU
Kolonel Kes NRP 512677
PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN

1.
2.

3.
PROSEDUR

4.

Melepas seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga


kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya.
Sebagai acuan bagi tenaga kerja RSAU dr. M. Salamun
dalam cara melepas Alat Pelindung Diri supaya terhindar
dari paparan bakteri atau cairan tubuh pasien.
Tata laksana Penggunaan APD sesuai Surat Keputusan
Kepala RSAU dr. M. Salamun No kep/
/X/2014 tentang Kebijakan Alat Pelindung Diri di
RSAU dr. M. Salamun
Tuangkan alcohol 70 % + 2 -3 cc ketelapak tangan dan
ratakan keseluruh bagian Pelindung kaki (desinfeksi).
Buka dan lepaskan pelindung kaki :
a. Pegang alas kaki kanan bagian atas kemudian
angkat kaki kanan ke atas sampai terlepas dari alas
kaki
b. Pegang alas kaki kiri bagian atas kemudian angkat
kaki kiri sampai terlepas dari alas kaki
Tuangkan alcohol 70 % + 2 -3 cc ketelapak tangan dan
ratakan keseluruh bagian sarung tangan (desinfeksi)
Buka / lepaskan sarung tangan :
a. Tarik sarung tangan kiri dengan tangan kanan dari
bagian atas sarung tangan sisi luarnya sampai
terlepas dari tangan dan genggam oleh tangan
kanan.
b. Tarik sarung tangan kanan dengan tangan kiri dari
bagian atas sarung tangan sisi dalamnya sampai
terlepas dari tangan.
c. Buang atau masukan sarung tangan ke tempat
sampah Infeksius.
d. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah.
MELEPASKAN ALAT PELINDUNG DIRI

RSAU dr. M. SALAMUN

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
2 dari 3

Jl. Ciumbuleuit No.203


BANDUNG

PROSEDUR

5. Buka / lepaskan kaca mata pelindung :


a. Pegang tangkai kaca mata dan tarik kearah depan.
b. Lap kaca menggunakan tissue dengan dibasahi
alcohol 70 %.
c. Buang tissue ke tempat sampah infeksius.
d. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah.
6. Buka / lepas masker :
a. Lepaskan ikatan simpul dibagian belakang kepala
atau karet yang melingkar di telinga..dengan kedua
tangan.
b. Pegang ujung tali atau ujung karet dengan cara
dibalik yang sebelumnya bagian sisi dalam masker
menjadi diluar dan satukan dengan tangan kanan
sementara tangan kiri memegang bagian sisi
masker yang sudah terlipat kemudian tali masker
digulung di tengah masker yang terlipat.
c. Buang masker ke tempat sampah infeksius.
d. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah.
7. Buka / lepaskan baju pelindung / apron :
a. Buka ikatan / simpul apron dari bagian belakang
pinggang dengan kedua tangan.
b. Pegang tali kanan dengan tangan kanan dan tali kiri
dengan tangan kiri kemudian satukan dengan
membalikan bagian apron yang setadinya diluar
menjadi didalam dan pegang tali apron dengan
tangan kiri.
c. Lepaskan kalung tali apron dari leher dengan
tangan kanan dan kemudian lipat apron yang sudah
terbalik
d. Simpan di tempat cucian kotor infeksius untuk di
cuci sesuai prosedur
e. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah
8. Buka / lepaskan penutup kepala :
a. Buka ikatan / simpul penutup kepala dari bagian
belakang kepala dengan kedua tangan.
b. Pegang sis penutup kepala dengan tangan kanan
dan tangan kiri memegang bagian dalam penutup
kepala kemudian tarik bagian dalam penutup kepala
sehingga terbalik dan lipat penutup kepala.

MELEPASKAN ALAT PELINDUNG DIRI

No. Dokumen
RSAU dr. M. SALAMUN
Jl. Ciumbuleuit No.203
BANDUNG

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi

Halaman
3 dari 3

c. Gulung tali dibagian tengah lipatan penutup kepala


d. Buang atau simpan di tempat cucian infeksius untuk
penutup kepala dari kain untuk di cuci sesuai
dengan prosedur.
e. Cuci tangan dengan prosedur 6 langkah.
Seluruh Unit Pelayanan RSAU dr. M. Salamun