Anda di halaman 1dari 135

ABSTRAK

OPINI PUBLIK TENTANG CITRA MAHKAMAH KONSTITUSI SEBAGAI DAMPAK BERITA SENGKETA PEMILUKADA DI MEDIA MASSA

Oleh : Jufri Ibrahim Pembimbing: Ir. Rusmadi Auza, S.Sos,M.Si

Sengketa Pemilukada merupakan kasus perselisihan dalam pemilihan umum kepala daerah yang disebabkan oleh perselisihan dalam proses penghitungan hasil suara. Mahkamah Konstitusi (MK), merupakan lembaga berwenang dalam penyelesaian sengketa pemilukada dan kinerja MK mendapatkan sorotan yang besar dari publik, hal ini disebabkan kedudukan MK sebagai lembaga peradilan yang memiliki kekuasaan tertinggi yang menentukan penyelesaian sengketa pemilukada dan keputusan yang bersifat final dan mengikat, didalam perjalannyan dalam penyelesaian sengketa pemilukada terdapat beberapa permasalahalah yang mendera MK, seperti terungkapnya kasus suap yang melibatkan ketua MK Akil Mochtar serta beberapa indikasi pelanggaran lain yang terjadi dalam pelaksanaan penyelesaian sengketa pemilukada oleh MK. Indikasi pelanggaran dalam penyelesaian sengketa pemilukada di MK menimbulkan beragam opini di masyarakat baik opini yang bersifat positif maupun negatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Opini mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Riau terhadap citra Mahkamah Konstitusi sebagai dampak berita sengketa Pemilukada di media massa, dan Mengetahui unsur-unsur pembentukan opini mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Riau tentang citra MK sebagai dampak berita sengketa pemilukada di media massa. Penelitian ini menggunakan metode deskritif kualitatif berdasarkan sumber data primer dan data skunder dan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah sepuluhorang, berdasarkan metode purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman, dimana data- data yang diperoleh kemudian diolah untuk direduksi, disajikan sehingga dihasilkan suatu kesimpulan umum. Hasil penelitian menunjukan bahwa informan yang merupakan mahasiswa jurusan ilmu hukum Universitas Riau beropini, citra mahkamah konstitusi berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui berita di media massa dengan opini baik, namun terdapat beberapa catatan yang diperoleh dalam penelitian bahwa kinerja mahkamah konstitusi perlu di tingkatkan dan mahkamah konstitusi sebaiknya hakim MK sebaiknya di isi oleh hakim yang tidak berlatar belakang politik, hal ini untuk mewujudkan lembaga mahkamah konstitusi yang berintegritas, dapat dipercaya dan netral. unsur-unsur pembentukan opini seperti berita-berita berkembang dan pengalaman masa lalu memberikan pengaruh yang besar terhadap pembentukan opini mahasiswa, mahasiswa menaruh kepercayaan terhadap keberadaan MK dan mendukung keberadaan MK berdasarkan pernyataan sikap serta persespsi positifnya terhadap kinerja MK

ABSTRACT

PUBLIC OPINION ON THE IMAGE OF THE CONSTITUTIONAL COURT DISPUTE AS THE IMPACT NEWS LOCAL ELECTIONS IN MASS MEDIA IN 2010-2013 YEARS

By : Jufri Ibrahim Counsellor: Ir. Rusmadi Auza, S.Sos,M.Si

The election disputes are disputes in the general elections of regional heads caused by disputes in the outcome of the vote counting process. The Constitutional Court or MK, an institution in charge of dispute resolution election and performance of Constitutional Courtget the s spotlighted that is greater than the public, this is due to the position of the Court as a judicial institution which has the highest power which determines the dispute settlement election and the decision is final and binding, in passage the election dispute resolution there are some problems that plagued the Court, as the unfolding bribery case involving Constitutional Court chairman Akil Mochtar as well as some indication of other violations that occur in the implementation of election dispute resolution by the Court. Indications of violations in the election dispute resolution in Constitutional Court cause a range of opinions in society, both opinions are positive or negative. The purpose of this research is to know about the student in Constitutional Law, University of Riau on the image of the Constitutional Court as a result of news disputed General Election in the mass media, and knowing the elements of opinion formation student Constitutional Law at the University of Riau on the image of the Court as a result of news disputed election in the media This study uses qualitative descriptive method based on primary data sources and secondary data and using data collection techniques of observation, interviews, and documentation. Informan in this study amounted to ten people, based on purposive method sampling. Data analysis technique using a model of interactive data analysis Miles and Huberman, where the data obtained is then processed to be reduced, served to produce a general conclusion The results showed that the informant who is a student of the science of law Riau University of opinion, the image of the constitutional court is based on the knowledge gained through the news media with opinions well, but there are some records obtained in the research that the performance of the constitutional court needs to be improved and the constitutional court should filled by judges who are not political background, it is to realize the constitutional court institutions of integrity, trustworthy and neutral. opinion-forming elements such as news develops and past experiences have a considerable influence on the formation of student opinion, student reliance on the existence of Constitutional Court and supports the existence of the Court based the statement as well as the positive perception of the performance of the Constitutional Court

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin atas segala nikmat Iman, Islam,

kesempatan, serta kekuatan yang telah diberikan Allah Subhanahuwata’ala

sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Shalawat dan salam semoga

tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Hanya dengan rahmat dan ridho-Nya

penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul :Opini Publik tentang

Citra Mahkamah Konstitusi sebagai Dampak Berita sengketa pemilukada di

Media Massa. Skripsi ini ditunjukan untuk memenuhi salah satu persyaratan

memperoleh gelar sarjana S-1 dalam bidang ilmu komunikasi.

Penghormatan dan ucapan terimakasih yang tidak terhingga penulis

haturkan kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Rudi Suprianto dan

Ibunda tersayang Fatmi (Alm) yang telah memberikan penulis kasih sayang

yang luar biasa tak terkira, motivasi yang tiada henti serta doa yang selalu

tercurah setiap waktunya kepada penulis hingga detik ini. Perjuangan

Ayahanda dan Ibunda sejak dahulu hingga saat ini menjadi motivasi terbesar

bagi penulis. Keberhasilan ini sepenuhnya penulis persembahkan kepada

kedua orang tua dan semoga saja dapat memberikan kebahagiaan dan

kebanggaan bagi mereka

Dalam penulisan ini penulis sangat menyadari bahwa tidak akan dapat

menyelesaikan skripsi ini tampa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak

baik moril maupun materil pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikaan

ucapan terimakasih terkhususnya kepada kedua orang tua saya kepada :

1.

Bapak Drs. Syfri Harto M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Riau, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis unutk

menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Riau.

  • 2. Ibu Dr . Welly Wirman S IP M.Si, ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk segera menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

  • 3. Ibu Nova Yohana, S.Sos, M.I.Kom, Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, yang telah membantu peneliti dalam urusan akademis dan urusan administrasi.

  • 4. Bapak Ir. Rusmadi Awza S.sos M.Si, selaku Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi sekaligus dosen pembimbing proposal dan skripsi ini. Terimakasih telah membantu penulis, meluangkan banyak waktu dan pikiran dan banyak membantu dalam memberikan tunjuk ajar serta motivasi sehingga penulisan skripsi ini bisa selesai dengan baik.

  • 5. Ibu Nurjanah M.Si selaku Penasehat Akademis penulis yang telah memberikan bimbingan serta motivasi selama mengikuti perkuliahan di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Riau.

  • 6. Kepada seluruh dosen penguji, terimakasih atas saran, kritik dan ilmunya demi kesempurnaan skripsi ini.

  • 7. Staf Jurusan Ilmu Komunikasi yang telah bersedia membantu dan memberikan pelayanan kelengkapan administrasi selama kuliah dan keperluan administrasi yang diperlukan penulis selama penelitian ini berlangsung.

  • 8. Ucapan terimakasih atas kasih sayang serta dukungan keluarga besar penulis adik kandung Wali Yudin, Siti Khadijah juga bulek Sari, bulek Rina, abang

Ujang, dan kakek tercinta Muhammad Noer serta sahabatku Anggara Uki

Pradana.

9. Ucapan terimakasih kepada seluruh informan penelitian yang telah

membantu dalam penelitian dan dalam melengkapi data-data bagi keperluan

penulisan skripsi ini. Terimakasi atas waktu serta keramahan yang telah

diberikan.

10. Seluruh teman-teman Ilmu Komunikasi terutama sahabat seperjuangan,

terkhusus kepada yang terkasih Anna Sherley Siregar, Nawawi, Gusra

Rianti, Heni Darliati, Yusron, Sera, Adi Setiawan, Rini, Aisyah yang telah

menemani dan mengisi hari-hari penulis dengan cerita, canda, tawa, serta

angan-angan masa depan, terima kasih telah memberikan dukungan, ide dan

mau berbagi ilmu bersama, dan serta teman-teman di luar lingkungan

perkuliahan yang telah memberikan juga sumbang berupa dukungan, ide

dan buah pikiran yang membantu penulis dalam penulisan skripsi ini. 11. Terimakasih penulis ucapkan kepada abang Lismar, Lukman Prayitno, dan

karyawan Riau Pos Grup khususnya bagian liputan untuk semangat,

nasehat, maupun dukungan moril bagi penulis, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian ini, semoga Allah SWT selalu memberikan

kesehatan dan lindungannya. 12. Sahabat, teman-teman KKN dan teman-teman Ilmu Komunikasi yang telah

memberikan dukungan, ide, dan buah pikiran yang membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini. Hanya Allah SWT yang dapat membalas seluruh

kebaikan dan jasa-jasa yang telah diberikan. 13. Kepada seluruh pihak terkait yang tidak dapat diucapkan satu persatu,

penulis mengucapkan banyak terimakasih.

5

iii
iii

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan

skripsi ini dengan sebaik-baiknya, namun penulis menyadari bahwa penulisan

skripsi ini masih jauh dari tahap kesempurnaan karena berbagai keterbatasan

yang penulis miliki. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun agar bermanfaat bagi penulis dimasa mendatang. Semoga kita semua senantiasa dipelihara dalam jalan lurus keridhaan-

Nya, atas semua yang telah diberikan oleh orangtua, sahabat dan teman-teman

semua, penulis hanya bisa mengucapkan kata “Terimakasih dan

Alhamdulilah”. Hanya doa yang dapat penulis panjatkan semoga kebaikan

yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala yang berlipat

ganda dari Allah SWT. Demikianlah, semoga Skripsi ini bermanfaat bagi kita

semua. Amin

Pekanbaru, Maret 2015

Jufri Ibrahim

DAFTAR ISI

ABSTRAK................................................................................................................i

ABSTRACT...............................................................................................................ii

KATA PENGANTAR.............................................................................................iii

DAFTAR ISI..........................................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi

DAFTAR TABEL..................................................................................................xii

BAB

I

PENDAHULUAN...................................................................................................1

  • 1.1 Latar Belakang..................................................................................................1

  • 1.2 Perumusan Masalah........................................................................................14

  • 1.3 Identifikasi Masalah........................................................................................15

  • 1.4 Tujuan Penelitian.............................................................................................15

  • 1.5 Manfaat Penelitian..........................................................................................16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................17

  • 12. Penelitian Sejenis............................................................................................17

22 .Opini Publik....................................................................................................20

  • 2.2.1 Pengertian Opini.........................................................................................

    • 2.2.1.1 Karakteristik Opini Publik................................................................21

    • 2.2.1.2 Bentuk Opini.....................................................................................22

  • 2.2.2 Pengertian Publik.......................................................................................

  • 2.2.3 Pengertian Opini Publik.............................................................................

  • 2.2.4 Pembentukan Opini Publik........................................................................

  • 2.2.5 Pengukuran Opini.......................................................................................

  • 32.

    Media Masa sebagai Media Pemberitaan......................................................35

    • 2.3.1 Televisi..............................................................................................37

    • 2.3.2 Surat Kabar.......................................................................................38

    • 2.3.3 Internet/ Media Online......................................................................39

    • 42. Citra..............................................................................................................40

    • 52. Sengketa Pemilukada....................................................................................43

    • 62. Mahkamah Konstitusi...................................................................................48

      • 2.7.1 Sejarah berdirinya Mahkamah Konstitusi..................................................

      • 2.7.2 Perkembangan Mahkamah Konstitusi di Indonesia...................................

      • 2.7.3 Kewenangan dan Kewajiban Mahkamah Konstitusi.................................

  • 72. Kerangka Pemikiran.....................................................................................51

  • BAB III METODE PENELITIAN......................................................................55

    • 3.1 Desain Penelitian.............................................................................................55

    • 3.2 Lokasi dan Jadwal Penelitian..........................................................................56

      • 3.2.1 Lokasi Penelitian........................................................................................

      • 3.2.2 Jadwal Penelitian........................................................................................

  • 3.3 Subjek dan Objek Penelitian...........................................................................57

    • 33.1. Subjek Penelitian........................................................................................

    • 33.2. Objek Penelitian.........................................................................................

  • 3.4 Jenis dan Sumber Data....................................................................................58

    • 3.4.1 Data Primer................................................................................................

    • 3.4.2 Data Sekunder............................................................................................

  • 3.5 Teknik Pengumpulan Data..............................................................................59

    • 53.1. Observasi....................................................................................................

    • 53.2. Wawancara.................................................................................................

    • 53.3. Dokumentasi..............................................................................................

  • 3.6

    Teknik Analisa Data........................................................................................62

    • 3.7 Tingkat Pemeriksaan Keabsahan Data............................................................64

      • 3.7.1 Perpanjangan Keikutsertaan.......................................................................

      • 3.7.2 Triangulasi..................................................................................................

    BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .................................67

    • 14. Sejarah Singkat Fakultas Ilmu Hukum...........................................................67

    • 24. Latar belakang berdirinya Fakultas Hukum....................................................67

    • 34. Struktur Organisasi Fakultas Ilmu Hukum.....................................................69

    • 44. Dosen-Dosen Fakultas Ilmu Hukum...............................................................69

    • 54. Jurusan Ilmu Hukum Tata Negara...................................................................70

    • 64. Visi Dan Misi Jurusan Ilmu Hukum............................................................72

    • 74. Mahasiswa Hukum Tata Negara.....................................................................73

    BAB V HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN.......................................75

    • 5.1 Hasil Penelitian...............................................................................................75

    5.1.1 Opini

    Mahasiswa

    Jurusan

    Hukum

    Tata

    Negara

    Tentang

    Citra

    Mahkamah Konstitusi Sebagai Dampak Berita Sengketa

    Pemilukada di Media Massa..................................................................

    • 5.1.1.1 Opini Positif...........................................................................................

    • 5.1.1.2 Opini Negatif.........................................................................................

      • 5.1.2 Unsur-Unsur Pembentukan Opini Mahasiswa Hukum Tata Negara Tentang Citra Mahkamah Konstitusi Sebagai Dampak Berita Sengketa Pemilukada di Media Massa..................................................

        • 5.1.2.1 Kepercayaan (Belief).............................................................................

        • 5.1.2.2 Sikap (Attitude).....................................................................................

        • 5.1.2.3 Persepsi (Perception).............................................................................

          • 5.1.3 Faktor-Faktor

    Pembentukan

    Opini

    Mahasiswa

    tentang

    Citra

    MK

    dalam Berita Sengketa Pemilukada di Media Massa............................

    151.3..

    152.3..

    Pengalaman Masa Lalu..............................................................................

    Berita-berita yang berkembang..................................................................

    • 5.2 Pembahasan Hasil Penelitian..........................................................................94

    5.2.1 Opini

    Mahasiswa

    Jurusan

    Hukum

    Tata

    Negara

    Tentang

    Citra

    Mahkamah Konstitusi Sebagai Dampak Berita Sengketa

    Pemilukada di Media Massa..................................................................

    • 5.2.1.1 Opini Positif...........................................................................................

    • 5.2.1.2 Opini Negatif.........................................................................................

    5.2.2 Unsur-Unsur Pembentukan Opini Mahasiswa Hukum Tata Negara Tentang Citra Mahkamah Konstitusi Sebagai Dampak Berita Sengketa Pemilukada di Media Massa..................................................

    • 5.2.2.1 Kepercayaan (Belief)...........................................................................

    • 5.2.2.2 Sikap (attitude),...................................................................................

    • 5.2.2.3 Persepsi (perception)...........................................................................

    5.2.3 Faktor-Faktor

    Pembentukan

    Opini

    Mahasiswa

    tentang

    Citra

    MK

    dalam Berita Sengketa Pemilukada di Media Massa..........................

    • 5.2.3.1 Pengalaman Masa Lalu........................................................................

    • 5.2.3.2 Berita-Berita Berkembang...................................................................

    BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN............................................................109

    • 6.1 Kesimpulan..............................................................................................

    • 6.2 Saran.........................................................................................................

    DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................112

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1. Proses Pembentukan Opini R.P Abelson

    Gambar 2.2 Kerangka berpikir Peneliti

    .............................................................

    63

    Gambar 3.1. Model Analisis Data Interaktif ....................................................

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1. Perbandingan Penelitian Sejenis .............................................

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • 1.1 Latar Belakang

    Proses penyelenggaraan pemilukada seringkali berujung sengketa

    pemilukada, dalam pelaksanaanya banyak terjadi sengketa pada masing-masing

    calon kepala daerah yang saling mengklaim telah memenangkan pemilukada,

    buntut dari saling klaim ini membuat proses penyelesaiannya tidak bisa dilakukan

    pada tingkat Komisi Pemilhan Umum Daerah (KPUD), yang pada akhirnya

    proses sengketa ini harus diselesaikan di meja persidangan pada lembaga

    Mahkamah Konstitusi (MK).

    Mahkamah Konstitusi adalah lembaga tinggi peradilah hukum yang

    berwenang dalam menyelesaikan perkara hukum yang berkaitan dengan konstitusi

    dan ketatanegaraan. Fungsi dan wewenang MK yang diatur dalam Pasal 24C ayat

    (1) UUD 1945 yang ditegaskan kembali dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a sampai

    dengan UU 24/2003, kewenangan Mahkamah Konstitusi adalah:

    1)

    Menguji undang-undang terhadap

    Undang-Undang

    Dasar

    Negara

    Republik Indonesia Tahun 1945.

     

    2)

    Memutus

    Sengketa

    kewenangan

    lembaga

    negara

    yang

    kewenangannya diberikan oleh UUD Negara Republik Indonesia

    Tahun 1945.

    3)

    Memutus pembubaran partai politik, dan

     

    4)

    Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

    Dengan dibentuknya Mahkamah Konstitusi diharapkan mampu menjadi

    lembaga penegak hukum yang mengawal yang menjadi benteng terakhir

    penegakan hukum dan konstitusi di Indonesia, karena Mahkamah Konstitusi

    berfungsi untuk menjamin tidak ada lagi produk hukum yang keluar dari koridor

    menanggani perkara hukum yang berkaitan dengan kepentingan dan kebijakan

    yang mambawa dampak terhadap masyarakat luas. Sejak awal didirikannya,

    Mahkamah Konstitusi diharapkan menjadi lembaga hukum yang bersih dan

    memutuskan perkara besar yang bermanfaat bagi kepentingan negara.

    Salah satu kewenangan MK yang menjadi fokus penelitian ini adalah

    wewenang MK dalam memutus dan menyelesaikan perselisihan tentang hasil

    pemilihan umum khususnya sengketa pemilihan kepala daerah atau sengketa

    pemilukada

    Kewenangan terkait memutus perselisihan hasil pemilu oleh Mahkamah

    Konstitusi semula hanya merupakan pemilihan umum presiden, DPR, DPRD dan

    DPD. Namun dalam perkembangannya kewenangan tersebut bertambah dengan

    memutus perselisihan hasil pemilukada. Pengertian “pilkada” diubah menjadi

    “pemilukada” berdasarkan Undang Nomor 22 tahun 2007 tentang

    penyelenggaraan pemilu.

    Dalam fungsi dan wewenang MK sebagai lembaga penjaga Konstitusi

    negara. Perkara sengketa Pemilukada menjadi perkara yang memiliki jumlah

    volume paling tinggi bila dibandingkan dengan fungsi utama MK sebagai

    lembaga penguji Undang- Undang dan fenomena ini membuat pergeseran fungsi

    utama MK yang bergeser dari Constitutional Court (Pengadilan Konstitusi)

    menjadi seolah-olah Election Court (Pengadilan Pemilu) karena lebih banyak

    menanggani perkara sengketa pemilukada dari pada pengujian undang undang.

    Berdasarkan catatan Komite Pemilih Indonesia (TePi) 85 persen lebih

    pemilukada berujung sengketa di MK. Berdasarkan Fakta tersebut, tidak heran

    kemudian muncul asumsi bahwa konsistensi majelis hakim MK mulai terkikis

    lantaran seorang hakim MK bisa mengelar empat hingga lima sidang perhari, dan

    bahkan pada bulan agustus 2010, MK bersidang sebanyak 221 kali, yang berarti

    dalam 1 hari MK bersidang 11 kali. intensitas persidangan seperti ini tentu

    menimbulkan pertanyaan dari segi efektifitas dan kualitas proses persidangan

    yang pada ujungnya berpengaruh pada kualitas putusan terhadap pencari keadilan

    dan dapat memperburuk citra dan Kredibilitas MK di mata Publik.

    (http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/public/content/infoumum/penelitian/pdf/1-

    Penelitian%20Efektifitas-upload.pdf/ Diakses pada tanggal 2 September 2014,

    pukul 11.00 wib).

    Catatan lain yang diperoleh peneliti melalui berbagai media massa

    nasional khususnya media online kasus sengketa pemilukada yang di selesaikan

    oleh MK setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan, dalam lima

    tahun terakhir terjadi peningkatan yang besar seperti yang di ungkapkan oleh

    Sekretaris Jenderal MK Jenedril Mahli Gaffar, menurutnya jumlah gugatan yang

    telah diverfikasi MK pada tahun 2009-2014 mencapai 702 perkara, 672

    merupakan perkara sengketa pemilukada dan 30 diantaranya adalah perkara yang

    diajukan oleh calon anggota legislatif daerah, sedangkan lima tahun lalu jumlah

    perkara hanya 628 perkara, hal ini berarti terjadi peningkatan gugatan perkara di

    MK sebanyak 74 perkara atau meningkat sekitar 12 % dibandingk pemilu Pada

    Gugatan-Sengketa-Pemilu-Meningkat . Diakses pada tanggal 8 September 2014,

    pukul 01.00 Wib). Selain besarnya beban kerja MK karena kewenangan menanggani perkara

    sengketa Pemilukada, tugas ini juga rawan terjadinya tindak pidana suap, hal ini

    bisa dipahami karena putusan MK memiliki dampak besar bagi peta politik daerah

    yang tengah mengajukan gugatannya di lembaga MK. MK dikenal sebagai

    lembaga hukum yang baik dan berkredibilitas tinggi. Sejarah pembentukan MK

    merupakan jawaban akan diperlukannya lembaga tinggi negara yang berfungsi

    dalam menyelesaikan masalah masalah hukum konstitusi yang menyangkut

    dengan masalah ketatanegaran

    MK didirikan pada tanggal 15 Oktober 2003 dan diketuai oleh Prof. Dr.

    Jimly Asshiddiqie, keberadaan MK banyak memberikan perbaikan dibidang

    penegakan hukum dan melindungi konstitusi negara. MK dikenal sebagai lembaga

    tinggi negara yang bersih dan bebas dari tindakan korupsi, hal ini disebabkan ,

    pengambilan keputusan di MK melalui proses yang diputuskan bersama oleh para

    hakim MK berdasarkan pertimbangan hukum sehingga keputusan yang di

    putuskan adalah keputusan terbaik, karena telah di putuskan melalui proses

    penilaian yang adil dan demokratis.

    Kepemimpinan MK setelah Jimly Asshiddiqie di ganti oleh Mahfud MD,

    yang sama berlatar belakang akademisi. Mahfud MD adalah guru besar

    Universitas Islam Indonesia yang juga di anggap sebagai sosok yang sangat tegas

    dan bersih dam menjalankan tugasnya sebagai ketua Mahkamah Konstitusi

    Mahfud juga berhasil membawa MK menjadi lembaga yang tidak pandang bulu

    dalam mengambil keputusan-keputusan selain itu MK juga banyak menelurkan

    kebijakan-kebijakan besar yang dianggap sangat baik bagi kepentingan publik,

    publik mencatat ada lima keputusan penting yang di keluarkan MK pada masa

    kepemimpinan Mahmud MD seperti (1) Putusan MK tentang Masa Jabatan Ketua

    KPK (2) Putusan MK Bubarkan BP Migas (3) MK Putuskan Semua Parpol Ikuti

    Verifikasi Parpol Peserta Pemilu 2014 (4) Putusan MK tentang Status Perdata

    Anak yang Lahir di Luar Nikah (5) MK Putuskan Parliamentary Threshold (PT)

    September 2014, pukul 11.00 wib)

    Setelah mundurnya Mahfud MD Pada awal tahun 2013 tepatnya pada

    Tanggal 1 April 2013, MK segera mencari penggantinya dan ditetapkanlah Dr M.

    Akil Mochtar yang dilantik pada 3 Apri 2013 pelantikan Akil mendapat sorotan

    tajam hal ini dikarenakan latar belakang Akil yang pernah menduduki jabatan

    politik sebagai anggota DPR dari salah satu partai besar di Indonesia, hal ini dapat

    menjadi masalah tersendiri terhadap kenetralan Akil dalam menjalani tugasnya

    sebagai ketua MK.

    Dugaan Publik yang meragukan kenetralan Akil Mochtar sebagai ketua

    MK yang juga pernah di ungkapkan oleh pengacara Rafly Harun yang lebih di

    kenal sebagai pengamat Hukum Tata Negara. Ia mengatakan telah terjadi praktik

    suap yang melibatkan salah satu hakim MK yang memiliki kedekatan dengan

    pihak-pihak dari salah satu partai, sehingga sangat dimungkinkan terjadinya

    praktik suap dalam memenangkan salah satu kandidat yang berperkara di MK.

    Rafly juga mengungkapkan bahwa ia melihat bahwa isu praktek suap penanganan

    sengketa Pemilukada semakin banyak beredar di masyarakat, bahkan ketika ia

    turun ke daerah ia mendengar langsung beberapa keluhan peserta pemilukada

    yang mengatakan jika ingin berurusan di MK harus menyiapkan uang hingga

    miliaran rupiah hingga ia menulis testimoninya pada harian kompas seperti

    berikut ini :

    Ada asap tentu ada api. Selentingan tentang MK yang mulai masuk

    angin kerap saya dengar. Ketika berkunjung ke Papua beberapa waktu

    lalu, saya mendengar keluhan dari peserta pertemuan bahwa pilkada

    tidak perlu lagi. Biayanya terlalu besar, baik bagi penyelenggara

    maupun kandidat. ”Setelah habis banyak dalam pilkada, nanti habis

    juga untuk bersengketa di MK. Ada yang habis Rp 10 miliar - Rp 12

    miliar untuk MK,” katanya.

    Ada juga yang bercerita tentang negosiasi yang gagal untuk memenangi perkara. Hakim, kata orang itu, meminta uang Rp 1 miliar. Pemohon, calon gubernur, hanya sanggup memberikan garansi bank senilai itu. Karena ditunggu sampai sore tidak juga cair, negosiasi gagal dan permohonan pun dicabut”.(http://nasional.kompas.com/read/2013/10/03 /0837290/Melihat.Lagi.Catatan.Refly.Harun.MK.Masih.Bersih (diakses pada 17 September 2014 pukul 20:00 wib)

    Testimoni yang pernah diungkapkan oleh Refly Harun terhadap

    kecurigaanya terhadap proses penyelesaian sengketa pemilukada di MK akhirnya

    terjawab, pada hari Rabu tanggal 2 Oktober 2013 KPK menangkap tangan ketua

    MK Akil Mochtar saat menerima suap atas kasus sengketa pemilukada Lebak

    Banten yang juga menjerat ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur Banten dan

    adiknya Tubagus Chaeri Wardana atas upaya penyuapan yang meminta untuk

    membantu pasangan Amir Hamzar yang kalah dalam pemilukada untuk diadakan

    pemungutan suara ulang (PSU) atas pemilukada yang berlangsung di Lebak

    Banten serta menganulir kemenangan pasangan Iti Oktavia Jayabaya-Ade

    Sumardi.

    JAKARTA,KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi

    memanggil mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dan

    Gubernur nonaktif Banten Atut Chosiyah sebagai saksi dalam kasus

    dugaan suap sengketa Pilkada Lebak, Banten, di MK. Keduanya

    diperiksa sebagai saksi bagi mantan kandidat dalam Pilkada Lebak

    tahun 2013, Amir Hamzah.

    "Diperiksa sebagai saksi bagi AH (Amir Hamzah)," kata Kepala Bagian

    Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha, Senin (10/11/2014).

    Selain Akil dan Atut, KPK juga memeriksa adik kandung Atut, Tubagus

    Chaeri Wardana, dan kuasa hukum Amir saat itu, Tur Andayani, sebagai

    saksi dalam kasus tersebut. Dari keempat saksi, baru Atut dan Wawan

    yang memenuhi panggilan KPK.

    Penetapan Amir dan wakilnya dalam Pilkada Lebak saat itu, Kasmin,

    sebagai tersangka merupakan pengembangan penyidikan kasus suap

    sengketa pilkada yang menjerat Akil Mochtar.

    Amir dan Kasmin diduga bersama-sama Atut dan Wawan menyuap Akil

    untuk memengaruhinya dalam memutus permohonan keberatan hasil

    Pilkada Lebak yang diajukan Amir dan Kasmin.

    Dalam Pilkada Lebak, Amir-Kasmin kalah suara dengan pesaingnya,

    pasangan Iti Oktavia Jayabaya-Ade Sumardi. Atas kekalahan itu, Amir

    mengajukan keberatan hasil Pilkada Lebak ke MK.

    Adapun Susi Tur Andayani merupakan kuasa hukum Amir-Kasmin.

    Dalam dakwaan Wawan disebutkan, Wawan diminta Atut menyediakan

    dana sebesar Rp 3 miliar sesuai permintaan Akil. Namun, Wawan hanya

    bersedia memberikan Rp 1 miliar.

    Susi kemudian mendatangi Gedung MK RI, Jakarta, setelah menerima

    uang dari Wawan melalui staf Wawan bernama Ahmad Farid Asyari.

    Saat itu, sidang pleno MK memutuskan membatalkan keputusan KPU

    Lebak tentang hasil penghitungan perolehan suara bupati dan wakil

    bupati Lebak dan memerintahkan KPU Lebak melaksanakan

    pemungutan suara ulang.

    Dalam kasus tersebut, majelis hakim Tipikor menjatuhkan vonis

    hukuman penjara seumur hidup kepada Akil karena dianggap terbukti

    menerima suap, gratifikasi, dan melakukan pencucian uang terkait

    dengan penanganan sengketa pilkada.

    Sementara itu, Atut divonis hukuman empat tahun penjara ditambah

    denda Rp 200 juta subsider lima bulan kurungan. Majelis hakim Tipikor

    juga telah menjatuhkan vonis lima tahun penjara dan denda Rp 150 juta

    subsider tiga bulan penjara terhadap Wawan dalam kasus tersebut.

    Sama seperti Wawan, Susi juga divonis lima tahun penjara dan denda

    Rp 150 juta subsider tiga bulan penjara atas perbuatannya.

    Keterlibatan Akil dalam kasus penerimaan suap ternyata tidak hanya

    terjadi dalam penangganan sengketa pemilukada di Lebak Banten, pada

    beberapa daerah juga terungkap bahwa Akil Mochtar juga telah menerima

    suap seperti kutipan berita dibawah ini

    Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar tak hanya

    terlibat kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten

    Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak,

    Banten 2013. Dia juga diduga terlibat suap sejumlah pilkada lainnya

    yang bersengketa di MK.

    Dalam berkas dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di

    Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (20/2/2014), disebutkan Calon

    Bupati incumbent Empat Lawang, Sumatera Selatan, Budi Antoni

    Aljufri menyampaikan maksudnya untuk menggugat Pilkada Empat

    Lawang kepada Muhtar Effendi. "Kemudian oleh Muhtar permohonan

    itu disampaikan ke terdakwa," ujar Jaksa Pulung Rinandoro.

    Gugatan itu kemudian didaftarkan ke MK pada 17 Juni 2013. Pada 2

    hari

    kemudian

    MK

    mengeluarkan

    Surat Keputusan Nomor

    509/TAP.MK/2013 yang menetapkan panel hakim konstitusi, yakni Akil

    Mochtar, Maria Farida Indrati, dan Anwar Usman.

    Tak beberapa lama kemudian, Muhtar menyampaikan kepada Budi

    untuk menyiapkan uang agar gugatannya itu bisa dikabulkan MK.

    Permintaan itu disanggupi oleh Budi.

    Masih pada Juni 2013, bertempat di Bank Pembangunan Daerah

    Kalimantan Barat Cabang Jakarta, melalui istrinya, Suzanna, Budi

    menyerahkan uang Rp 10 miliar untuk Akil melalui Muhtar. Oleh

    Muhtar, uang sebanyak itu dititipkan kepada Wakil Pimpinan BPKalbar

    Cabang Jakarta, Iwan Sutaryadi. Selanjutnya, Budi kembali

    menyerahkan uang melalui istrinya untuk Akil sebesar US$ 150 ribu

    dan US$ 350 ribu. Uang itu kembali diserahkan kepada Iwan atas

    perintah

    Muhtar.

    Kemudian Muhtar menyerahkan uang Rp 5 miliar dan US$ 500 ribu

    kepada Akil. Sedangkan sisanya yang Rp 5 miliar disetorkan ke

    rekening

    pribadi

    Muhtar

    di

    BPD

    Kalbar

    Cabang

    Jakarta

    atas

    persetujuan

    Akil.

    Pada 31 Juli 2013, MK melalui amar putusannya menyatakan,

    membatalkan keputusan KPU Empat Lawang yang menetapkan

    pasangan Joncik Muhammad dan Ali Halimi sebagai Bupati Empat

    Lawan terpilih periode 2013-2018. Serta membatalkan Berita Acara

    Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pilkada Kabupaten Empat

    Lawang di 38 TPS pada 10 Desa di Kecamatan Muara Pinang.

    MK juga menetapkan perolehan suara dari masing-masing pasangan

    calon dalam Pilkada Kabupaten Empat Lawang, yakni pasangan Budi

    Antoni Aljufri dan Syahril Hanafiah (nomor urut 1) sebanyak 62.051

    suara, pasangan Joncik Muhammad dan Ali Halimi (nomor urut 2)

    sebanyak 62.051 suara, dan Syamsul Bahri dan Ahmad Fahruruzam

    (nomor urut 3) sebanyak 3.456 suara. Dengan putusan itu, maka

    pasangan Budi-Syahrial keluar sebagai pemenang Pilkada Kabupaten

    Empat Lawang dan menjadi Bupati-Wakil Bupati terpilih periode 2013-

    miliar-dari-calon-bupati-empat-lawang) Diakses pada tanggal 8 Januari

    2016 Pukul 08.00 Wib

    Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar diduga

    menerima Rp 7,5 miliar dari Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.

    Uang itu diduga diberikan adik kandung Gubernur Banten Ratut Atut

    Chosiyah itu kepada Akil untuk pengurusan sengketa Pilkada Provinsi

    Banten.

    Dalam berkas dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU),

    terungkap uang itu diberikan Wawan kepada Akil secara bertahap.

    Beberapa kali uang itu ditransfer ke rekening atas nama CV Ratu

    Samangat kepada Bank Mandiri KC Pontianak Diponegoro.

    Transfer pertama, sebanyak Rp 250-500 juta dilakukan pada 31 Oktober

    2011. "Kedua, Rp 100 juta dan 150 juta pada 1 November 2011," kata

    Jaksa Ronald Ferdinand Worotikan dalam sidang perdana kasus suap

    pengurusan sengketa pilkada di MK yang melibatkan Akil di PN

    Tipikor, Jakarta, Kamis (20/2/2014).

    Ketiga, Rp 2 miliar ditransfer pada 17 November 2011. Keempat,

    transfer Rp 3 miliar pada 18 November 2011. Dan terakhir Rp 1,5

    miliar ditransfer pada 18 November 2011. Total uang dugaan suap yang

    diberikan Wawan kepada Akil sebesar Rp

    7,5 miliar.

    Uang itu diberikan berkaitan dengan Pilkada Provinsi Banten 2011 yang

    tengah berperkara di MK. Perkara sengketa pilkada itu digugat 2

    pasangan calon dan 1 bakal pasangan calon. Yakni, pasangan Wahidin

    Halim-Irna Narulita (nomor urut 2), pasangan Jazuli Juwaini dan

    Makmun Muzakki (nomor urut 3), dan pasangan Dwi Jatmiko-Tjetjep

    Mulyadinata (pasangan bakal calon).

    Ketiganya secara terpisah mengajukan gugatan terhadap keputusan

    KPU Banten yang menetapkan pasangan Ratu Atut Chosiyah-Rano

    Karno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten terpilih periode

    2011-2016.

    Dalam amar putusannya, MK menolak secara keseluruhan gugatan

    ketiga pemohon tersebut. Artinya, MK dalam putusannya mengukuhkan

    keputusan KPU Banten yang menetapkan pasangan Ratu Atut

    Chosiyah-Rano Karno sebagai gubernur dan wakil gubernur Banten

    terpilih periode 2011-2016. "Diketahui atau patut diduga uang tersebut

    diberikan Wawan. Karena kekuasaan atau kewenangan yang ada

    hubungannya dengan jabatan terdakwa, selaku hakim konstitusi pada

    MK RI yang diberikan oleh undang-undang untuk mengadili perkara

    permohonan keberatan atas hasil Pilkada Provinsi Banten 2011 di MK

    tanggal 8 Januari 2016 Pukul 09.00 Wib

    Beberapa kutipan berita diatas memberikan gambaran bahwa telah terjadi

    penyuapan dalam penangganan sengketa pemilukada di MK dan akibat

    terungkapnya kasus ini tentu membuat publik begitu terkejut, lebih lagi ini

    dilakukan oleh ketua MK sendiri, padahal sebelumnya kepercayaan publik

    terhadap para hakim konstitusi begitu tinggi karena para hakim kontitusi ini

    dipilih melalui seleksi yang sangat ketat dan sebagaian besar hakim MK adalah

    orang-orang yang sudah dikenal kredibilitasnya.

    Kejadian ini tentu membuat opini publik tentang kepercayaan kepada

    lembaga MK semakin menurun, berita ini dapat memperburuk citra lembaga

    penegak hukum di Indonesia, dengan terungkapnya kasus ini seakan-akan

    membuktikan bahwa tidak ada lembaga hukum di Indonesia yang benar-benar

    bersih dari praktik korupsi.

    Berita mengenai tertangkapnya ketua MK semakin meluas karena di

    publikasikan oleh hampir seluruh media massa, baik media cetak, online dan

    elektronik seluruh media secara masif mengabarkan peristiwa yang

    menggemparkan dan mencoreng wajah penegakan hukum di Indonesia akibatnya

    muncul suara-suara yang menginginkan adalanya perubahan secara besar-besaran

    mutlak dilakukan, bahkan ada juga beberapa kalangan masyarakat yang

    menginginkan pembubaran lembaga MK, hal ini bisa dimaklumi karena publik

    sulit kembali menaruh kepercayaan kepada MK, karena terbongkarnya kasus ini

    secara gamblang dan membuktikan bahwa tidak ada satupun lembaga peradilan

    yang bersih dari kasus korupsi parahnya lagi ini adalah perkara pemutusan hasil

    sengketa pemilukada yang berkaitan dengan keputusan dan menentukan siapa

    yang akan menjadi pemimpin di daerah tersebut.

    Dengan terungkapnya kasus suap dalam persidangan pengambilan putusan

    sengketa pemilukada di Lebak banten yang melibatkan ketua hakim MK, Akil

    Mochtar tersebut tentunya menimbulkan krisis kepercayaan terhadap kredibilitas,

    integritas dan independensi MK, krisis tersebut akan semakin menguat bila MK

    tidak segera melakukan pembenahan dan mengambil langkah- langkah yang

    progresif demi mengembalikan kepercayaan publik serta mengembalikan citra

    positif MK yang selama ini telah dibangun dengan bersusah payah.

    Terungkapnya kasus suap yang dilakukan oleh ketua MK menimbulkan

    reaksi dari berbagai elemen masyarakat, banyak pihak yang menyatakan bahwa

    sudah tidak percaya lagi akan integritas dan independensi dari lembaga

    Mahkamah Konstitusi bahkan sebagian dari mereka dengan keras menyuarakan

    agar lembaga ini dibubarkan saja , Hal ini dikarenakan sebagian besar publik

    sudah tidak percaya lagi dan mengganggap citra MK sudah benar-benar berada

    pada titik terendah, Upaya represif diambil oleh pemerintah untuk menyelamatkan

    keberadaan lembaga ini dengan mengeluarkan Perpu dan Presiden menegaskan

    bahwa KPK harus mengusut tuntas kasus ini dan mengusut siapa saja yang teribat

    dalam kasus ini agar kepercayaan publik kembali membaik.

    Besarnya perhatian publik akan kasus yang sedang menimpa MK tentunya

    akan mempengaruhi citra MK itu sendiri, berbagai kritik dan ungkapan

    kekecewaan dari berbagai kalangan masyarakat bermunculan di media massa,

    namun ada hal yang mesti publik ketahui bahwa kasus suap tersebut bukanlah

    kejahatan yang dilakukan oleh lembaga MK melainkan kesalahan yang dilakukan

    oleh oknum perseorangan dan bukanlah kejahatan yang dilakukan secara bersama-

    sama anggota hakim MK, sehingga tidak bijak untuk menghakimi dengan

    menuduh bahwa MK sebagai lembaga yang tidak dapat dipercaya. Karena masih

    banyak hakim MK lainnya yang sebenarnya tidak terlibat dalam kasus ini,

    Dengan semakin meluasnya pemberitaan tentang kasus suap yang

    melibatkan hakim MK melalui berbagai media massa, publik merasa sangat

    kecewa dengan terungkapnya kasus ini, ada beberapa pendapat yang berkembang

    dimasyarakat sebagai pihak-pihak yang merasa dirugikan atas keputusan-

    keputusan MK yang dinilai tidak memenuhi rasa keadilan, mereka menginginkan

    agar keberadaan MK dibubarkan saja, pendapat lain menginginkan agar seluruh

    Hakim Konstitusi di ganti dan dilaksanakan pemilihan hakim Konstitusi seperti

    yang baru seperti yang di sampaikan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum

    Indonesia (YLBHI) melalui pernyataan resminya yang didapat peneliti pada

    halaman website http://www.ylbhi.or.id/ berikut tuntutan yang mereka suarakan :

    • 1. Mendesak KPK untuk segera melakukan penyelidikan dan penyidikan yang berkaitan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Ketua Mahkamah Konstitusi RI untuk mengungkap pihak mana saja yang terlibat baik di internal (hakim-hakim konstitusi) maupun eksternal Mahkamah Konstitusi RI.

    • 2. Meminta seluruh Hakim Konstitusi Mahkamah Konstitusi RI masa jabatan 2013-2015 untuk mundur untuk menyelamatkan institusi mahkamah konstitusi dari ketidakpercayaan publik terhadap MK (secara luas: penegakan hukum) dan memudahkan kinerja KPK untuk menyelidiki kemungkinan keterlibatan hakim-hakim konstitusi yang lainnya

    • 3. Mendesak Presiden RI untuk secepatnya mengeluarkan Perpu, yang berisi:

    Pendapat lain yang di suarakan oleh kalangan intelektual seperti akademisi

    hingga pengamat hukum menilai kasalahan yang dilakukan oleh seseorang tidak

    seharusnya dikaitkan dengan eksistensi lembaga itu karena yang bersalah

    bukanlah lembaganya akan tetapi oknum-oknum yang terlibat di dalamnya.

    MK memiliki pekerjaan rumah yang berat untuk mengembalikan citra dan

    kepercayaan publik, yang telah dibangun sejak lama dan saat ini opini publik

    terhadap citra MK sedang dalam kondisi yang tidak baik, kepercayaan dan

    penilain publik terhadap MK semakin, Mahkamah Konstitusi dituntut mampu

    menyakinkan Publik bahwa kasus yang menimpa lembaga ini adalah sebuah

    tindakan individu, bukanlah tindakan lembaga ini, dan MK harus bisa meyakinkan

    kepada publik, bahwa ini tidak akan terjadi di kemudian hari, dan MK juga

    diharapkan mampu menjawab berbagai kritikan yang menganggap lembaga MK

    seharusnya dibubarkan dengan jawabab berupa peningkatan kinerja dan

    pengabdian dengan membuat berbagai kebijakan dan terobosan hukum yang

    bermanfaat bagi kehidupan bernegara.

    Berdasarkan uraian di atas terjadi penurunan kepercayaan publik terhadap

    lembaga MK, opini publik menjadi terpecah jika sebelumnya banyak yang

    menganggap MK sebagai lembaga yang baik dan berintegritas tinggi, tapi

    sekarang opini publik mulai terbagi bahkan tidak sedikit yang menyebut MK

    sama saja dengan lembaga penegak hukum lainnya yang tidak lepas dari adanya

    praktik korupsi dan suap.

    Masyarakat mengemukakan pendapatnya juga menentukan sikapnya

    setelah mendengar dan mendapatkan pemberitaan seputar penyelesaian sengketa

    pemilukada yang di siarkan oleh media massa, juga pemberitaan tentang kasus

    suap yang menimpa lembaga MK, sikap dan pedapat itu bisa berupa hal yang

    bersifat positif, negatif ataupun netral

    Opini publik terhadap lembaga MK berhubungan dengan bagaimana citra

    MK dimata publiknya. Menurut Huddleston dalam (Buchari Alma, 2008:55)

    memberikan definisi atau pengertian citra adalah serangkaian kepercayaan yang

    dihubungkan dengan sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat dari

    pengalaman. Citra tentang MK merupakan kepercayaan seseorang atau kelompok

    masyarakat terhadap lembaga MK, kepercayaan yang tinggi menggambarkan citra

    yang baik begitu pula sebaliknya kepercayaan yang rendah menggambarkan citra

    yang buruk terhadap lemabaga MK

    Berdasarkan pada fenomena dan masalah diatas, maka peneliti sangat

    tertarik dan mencoba mengangkat permasalahan ini untuk diteliti lebih lanjut

    dengan judul penelitian “ Opini Publik tentang Citra Mahkamah Konstitusi

    sebagai dampak Berita sengketa pemilukada di media Massa”.

    • 1.2 Perumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian

    ini adalah ”Bagaimana Opini Publik tentang citra Mahkamah Konstitusi sebagai

    dampak berita sengketa Pemilukada di media massa”?

    • 1.3 Identifikasi Masalah

    • 1 Bagaimana opini mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Riau tentang citra Mahkamah Konstitusi sebagai dampak berita sengketa Pemilukada di media massa?

    • 2 Apa saja unsur-unsur Pembentukan Opini Mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Riau tentang citra MK sebagai dampak pemberitaan di media massa ?

    • 3 Apa saja faktor- faktor pembentukan opini mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Riau tentang citra MK sebagai dampak pemberitaan di media massa?

      • 1.4 Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk :

    1. Untuk mengetahui Opini mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas

    Riau terhadap citra Mahkamah Konstitusi sebagai dampak berita

    sengketa Pemilukada di media massa.

    2.

    Untuk mengetahui unsur-unsur pembentukan opini mahasiswa Hukum

    Tata Negara Universitas Riau tentang citra MK sebagai dampak berita

    sengketa pemilukada di media massa.

    • 3. Untuk Mengetahui faktor-faktor pembentuk Opini mahasiswa tentang citra MK sebagai dampak pemberitaan sengketa pemilukada di media massa

      • 1.5 Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dijabarkan

     

    sebagai berikut :

    1.

    Segi Akademis

     

    a)

    Sebagai bahan masukan dan sumbangan pikiran bagi para pengkaji

     

    masalah Ilmu Komunikasi yang berminat meneliti masalah yang sama

    dan berbagai bahan perbandingan.

     

    b)

    Penelitian ini berguna untuk pemahaman dan pengembangan ilmiah di

     

    bidang Ilmu Komunikasi. Khususnya mengenai pemahaman tentang

    Opini Publik

    2.

    Segi Praktis :

     

    a)

    Hasil penelitian ini, penelitian ini diharapkan mampu membantu para

    dosen, mahasiswa, kalangan akedemis lainnya dalam penelitian

    selanjutnya yang berhubungan dengan opini publik.

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    • 2.1 Penelitian Sejenis

    Setelah peneliti melakukan tinjauan pustaka terdapat hasil penelitian

    terdahulu, ditemukan penelitian terdahulu yang membahas tentang opini publik

    atau pembentukan opini publik dengan menggunakan metode kualitatif dengan

    pendekatan deskriptif. Hasil pencarian peneliti mengenai penelitian terdahulu

    yang sejenis memberikan informasi mengenai pembentukan opini itu sendiri, serta

    pendekatan deskriptif dan juga sebagai bahan perbandingan dengan penelitian

    yang peneliti kerjakan.

    Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan

    deskriptif sebelumnya telah pernah dilakukan oleh Icha Marina Elliza pada tahun

    2009 dengan judul “Opini siswa SMA Negeri 3 Medan terhadap Citra KPK”

    penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimanakah opini opini siswa SMA

    N 3 Medan terhadap citra KPK. Penelitian ini menggunakan desain penelitian

    kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Untuk menjawab tujuan dari penelitian

    ini, hasil penelitian menunjukan Siswa SMA N 3 Medan beropini bahwa

    keberadaan KPK sangat penting untuk memberantas korupsi yang terjadi di

    Indonesia, namum mereka menyayangkan sikap KPK bersikap tebang pilih

    dalam memberantas korupsi. Itu sebabnya mereka menyatakan KPK kurang serius

    dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini mengakibatkan tingkat kepercayaan

    mereka bahwa KPK dapat memberantas seluruh tindak korupsi di Indonesia

    menjadi menurun. Walaupun demikian, secara keseluruhan mereka berpendapat

    bahwa KPK adalah lembaga yang baik.

    Penelitian terdahulu yang sejenis lainnya yaitu penelitian yang dilakukan

    oleh Tika Primasiwi pada tahun 2011 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

    Mendeskripsikan pembentukan opini publik tentang citra polisi sebagai dampak

    dari berita tindak kriminal yang dilakukan polisi dan diangkat di media massa.

    Hasil penelitian menunjukan. Media massa mempunyai andil dalam proses

    pembentukan opini publik meskipun efek media tidak terlampau kuat

    mempengaruhi masyarakat karena masyarakat menampung pemberitaan di media

    dan mencari tahu pendapat orang lain mengenai pemberitaan negatif di media

    massa tentang sosok polisi agar mengetahui apakah fakta yang terjadi sesuai

    dengan apa yang ada dalam pemberitaan di media massa. Setelah masyarakat

    tahu fakta yang sebenarnya,baru kemudian masyarakat membentuk persepsi yang

    mencitrakan polisi. Dari persepsi yang terbentuk dari pengalamanmaupun dari

    terpaan media massa , masyarakat akhirnya membentuk opini pribadi tentang citra

    polisi. Dari opini pribadi tersebut, maka opini seseorang akan terbagi menjadi dua,

    yaitu opini mayoritas dan opini minoritas yang berkembang menjadi opini publik

    Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian sejenis dengan Penelitian yang Dilakukan

    No

    Nama/

    Judul

    Tujuan

    Metode

     

    Universitas

    Penelitian

    Penelitian

    penelitian

    Hasil Penelitian

    / Tahun

    Icha

    Opini

     

    Tujuan dari

    Meto

    Siswa SMA N 3 Medan

    Marina

    siswa

    penelitian ini

    de

    beropini bahwa keberadaan

    Elliza

    SMA

    adalah untuk

    Penel

    KPK sangat penting untuk

    050904043

    Negeri

    mengetahui

    itian :

    memberantas korupsi yang

    3 Medan

    terhadap

    Citra

    Bagaimanakah opini opini siswa SMA N 3 Medan

    Deskr

    iptif

    Pengambila

    n sampel:

    terjadi di Indonesia, namum mereka menyayangkan sikap KPK bersikap tebang pilih dalam memberantas korupsi. Itu

    KPK

    terhadap citra

    Purposive

    sebabnya mereka menyatakan

    KPK.

    sampling

    KPK kurang serius dalam

    2

       

    Untuk

    Pengambila

    melaksanakan tugasnya. Hal ini

    lembaga yang baik.

    mengetahui

    n data :

    mengakibatkan tingkat

    agenda

    Penelitian

    kepercayaan mereka bahwa

    pemberantasan

    Kepustakaa

    KPK dapat memberantas

    korupsi di

    n, dan

    seluruh tindak korupsi di

    Indonesia di

    Observasi

    Indonesia menjadi menurun.

    kalangan

    Walaupun demikian, secara

    pelajar.

    keseluruhan mereka

    berpendapat bahwa KPK adalah

    Tika

    Pembent

    Tujuan

    Metode

    Media massa mempengaruhi

    berkembang menjadi opini publik

    Primasiwi

    ukan

    Penelitian :

    Penelitian :

    pembentukan opini publik meskipun

    (Ilmu

    Opini

    Publik

    Mendeskripsik

    an

    Kualitatif

    efek media tidak terlampau kuat

    Komunika

    mempengaruhi masyarakat karena

    si UNDIP

     

    Pengambila

    Purposive

    masyarakat menampung pemberitaan

    ( 2011)

    Tentang

    Citra

    pembentukan

    opini publik

    tentang citra

    n sampel :

    di media dan mencari tahu pendapat orang lain mengenai pemberitaan

    Polisi

    polisi sebagai

    sampling

    negatif di media massa tentang sosok

    Sebagai

    dampak dari

    polisi agar mengetahui apakah fakta

    Dampak

    berita tindak

    Pengambila

    yang terjadi sesuai dengan apa yang

    Berita

    kriminal yang

    n data :

    ada dalam pemberitaan di media

    Tindak

    Kriminal

    Polisi di

    dilakukan

    Observasi,

    massa. Setelah masyarakat tahu

    polisi dan

    Wawancara

    fakta yang sebenarnya,baru

    diangkat di

    ,

    kemudian masyarakat membentuk

    media massa.

    Dokumenta

    persepsi yang mencitrakan polisi.

    Media

    si

    Dari persepsi yang terbentuk dari

    Massa”.

    pengalamanmaupun dari terpaan

    media massa , masyarakat akhirnya membentuk opini pribadi tentang citra polisi. Dari opini pribadi tersebut, maka opini seseorang akan terbagi menjadi dua, yaitu opini mayoritas dan opini minoritas yang

    Dengan melihat diatas, maka dapat dilihat

    perbedaan penelitian sejenis

    terdahulu dan penelitian sekarang, adapun perbedaan penelitian terdahulu dan

    sekarang

    yaitu objek dan subjek yang diteliti serta hasil dari masing masing

    peneliti.

    2.2

    Opini Publik

    2.2.1Pengertian Opini

    Opini secara umum dapat berarti pendapat. Opini dapat dinyatakan secara

    aktif atau pasif, verbal (lisan) dan tulisan. Opini juga dapat dinyatakan secara

    terbuka dan melalui ungkapan kata-kata yang dapat ditafsirkan dengan jelas

    maupun melalui pilihan kata-kata yang halus atau di ungkapkan secara tidak

    langsung dan dapat diartikan konotatif atau persepsi (personal).

    Opini

    menurut

    Webster”s

    New

    Collegiate

    Dictionary

    (dalam

    Moore,

    2004:54) adalah pandangan, keputusan, atau taksiran yang terbentuk di dalam

    pikiran mengenai suatu persoalan tertentu. Opini pada prinsipnya merupakan

    ungkapan secara aktif dari publik. Opini merupakan serapan dari bahasa asing

    (Opinion) yaitu tanggapan atau jawaban terbuka terhadap suatu persoalan yang

    dinyatakan berdasarkan kata-kata (intangible), baik dalam bentuk opini tertulis

    maupun lisan. Bisa juga sebagai perilaku, sikap, tindak, pandangan dan tanggapan

    (Ruslan, 2008:65). Opini dapat juga dinyatakan melalui perilaku, mimik muka atau bahasa

    tubuh (body language) berbentuk simbol-simbol yang tertulis berupa pakaian

    yang dikenakan, makna sebuah warna dan lain sebagainya. Manurut Rajecki

    (dalam Ruslan, 2005:64-65) menyatakan bahwa dalam pembentukan opini

    dipengaruhi oleh affect, behavior, cognition dari opini perorangan kemudian dapat

    terbentuk menjadi opini publik. Opini publik berasal dari bahasa inggris, public opinion. Opini publik dalam

    bahasa Indonesia berarti “pendapat umum” opini publik menurut Leonard W. Dob

    merupakan sikap orang-orang mengenai suatu hal, dimana mereka merupakan

    anggota dari sebuah masyarakat yang sama (dalam Soemirat dan Ardianto,

    2004:103). Kasali (2008:19) mengatakan bahwa opini dapat dinyatakan melalui

    perilaku, bahasa tubuh, raut muka, simbol-simbol tertulis, pandangan sikap dan

    kesetiaan.

    • 2.2.1.1 Karakteristik Opini Publik

    Menurut Floyd Allport (dalam Arifin Anwar. 2008-64) mengumpulkan 12

    karakteristik opini publik. Secara ringkas pokok pokok karakteristik itu ialah :

    • 1. Oponi publik merupakan prilaku manusia atau individu-individu

    • 2. Dinyatakan secara verbal

    • 3. Melibatkan banyak individu

    • 4. Situasi dan objeknya dikenal secara luas

    • 5. Penting untuk orang banyak

    • 6. Pendukunganya berbuatan dan bersedia untuknya

    • 7. Disadari

    • 8. Diekspresikan

    • 9. Pendukungnya tidak harus berada pada tempat yang sama

      • 10. Bersifat menentang atau mendukung sesuatu

      • 11. Mengandung unsur-unsur pertntangan

      • 12. Efektif untuk mencapai objektivitas

    Leonard W. Doob Opini publik memiliki karakterisitik

    (dalam Olii dan

    Erlita, 2011 : 26) sebagai berikut:

    • 1. Dibuat berdasarkan fakta, bukan kata-kata

    • 2. Dapat merupakan reaksi terhadap masalah tertentu dan reaksi itu di ungkapkan.

    • 3. Masalah tersebut disepakati untuk di pecahkan.

    • 4. Dapat di kombinasi dengan kepentingan pribadi.

    • 5. Yang menjadi opini publik hanya pendapat dari mayoritas anggota masyarakat.

    • 6. Opini publik membuka kemungkinan adanya tanggapan.

    • 7. Partisipasi anggota masyarakat sebatas kepentingan mereka, terutama yang terancam.

    • 8. Memungkinkan adanya kontra opini.

    • 2.2.1.2 Bentuk Opini

    Menurut Dan Nimmo (2005:122) ada tiga bentuk opini publik, yaitu

    • 1. Opini Massa

    Pada umumnya opini massa merupakan ungkapan-ungkapan, pandangan

    yang baru dan tidak terorganisir, yang sering di timbulkan sebagai budaya

    konsensus dan disebut opini publik.

    • 2. Opini kelompok Pemberian dan penerimaan opini pribadi di dalam kelompok sosial. Setiap kelompok mempunyai publiknya sendiri, seperti kelompok pekerja, kelompok organisasi, dan lainya.

    • 3. Opini rakyat Apabila suatu di ungkapkan bukan melalui kelompok organisasi, melainkan melalui kebebasan pribadi yang reatif di dalam tempat pemberian hak suara, surat pembaca di media massa, pilihan yang di buat dalam kemauan sendiri.

    • 2.2.2 Pengertian Publik

    Pengertian Publik seperti yang dikemukakan oleh Oemi Abdurachman

    dalam bukunya Public Relation (2006:28) adalah sekelompok orang yang

    menaruh perhatian pada sesuatu hal yang mempunyai minat dan kepentingan yang

    sama. Public dapat merupakan group kecil, terdiri atas rang-orang dengan jumlah

    sedikit, juga dapat merupakan kelompok besar. Adapun terdapat beberapa

    pendapat yang berbeda dari para ahli mengenai pengertian publik (dalam

    Abdurrachman 2006:29) diantaranya sebagai berikut :

    • 1. Menurut Soerjono Soekanto SH, MA : Publik berupa kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui media komunikasi baik media komunikasi secara umum misalnya pembicaraan-pembicaraan secara pribadi, desas-desus, melalui media komunikasi massa seperti pers, radio, televisi dan sebagainya”.

    • 2. Menurut Herbert Blumer yang dikutip oleh Dr. Phill Astrid S. Susanto:

    Perkataan Publik melukiskan keompok manusia yang berkumpul secara

    spontan dengan syarat-syarat :

    • a. Dihadapi oleh suatu persoalan (issue)

    • b. Berbeda pendapatnya mengenai persoalan ini dan berusaha untuk mengatasi persoalannya.

    • c. Sebagai aktivitas mengadakan diskusi dengan mencari jalan keluar.

    2.2.3Pengertian Opini Publik

    Public opinion dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan

    “pendapat umum” defenisi opini publik dalam buku yang berjudul Public

    Opinion and Propaga nda menurut Leonard W. Doob, yaitu : "Public opinion

    refers to people's attitude on an issue they are members of the same social group.

    Artinya opini publik yang dimaksud adalah sikap orang-orang mengenai sesuatu

    soal, di mana mereka merupakan anggota dari sebuah masyarakat yang sama.

    (dalam Soemirat dan Ardianto, 2004:103).

    Dari defenisi diatas, Leonard W. Doob menyatakan beberapa hal mengenai

    opini publik berhubungan dengan sikap manusia baik secara pribadi maupun

    sebagai anggota kelompok. Opini publik dibentuk oleh sikap pribadi seseorang

    ataupun sikap kelompoknya, karena sikapnya ditentukan oleh pengalamannya,

    yaitu pengalaman dari dan dalam kelompok tersebut ( dalam Soemirat dan

    Ardianto, 2004:103).

    Jadi yang membentuk opini publik adalah sikap pribadi seseorang ataupun

    kelompoknya yang sikapnya ditentukan oleh pengalamannya baik pengalaman

    dari diri ataupun pengalaman dari kelompoknya. Selanjutnya menurut Leonard W.

    Doob memberi beberapa pedoman dalam meneliti opini publik. suatu opini publik

    dianggap kompeten atau mampu memenuhi syarat opini publik dalam arti khusus

    bila :

    • 1. Fakta yang dipakai sebagai tolak ukur perumusan opini publik, yaitu : adanya unsur penilaian baik dan buruk dari masyarakat.

    • 2. Pengguna fakta justru suatu sikap diambil karena tidak berdasarkan fakta sampai pada suatu kesimpulan untuk kesepakatan mengenai tindakan yang harus diambil untuk memecahkan suatu persoalan tertentu yang dihadapinya.

    • 3. Syarat-syarat sebagai opini publik dalam arti khas itu dapat di tinjau dari fakta-fakta, nilai-nilai,opini publik dalam kopetensinya” (dalam Ruslan, 2008:71).

    Selanjutnya Erish dan Protho menyebutkan bahwa opini publik adalah

    ekspresi sikap mengenai persoalan masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan

    bahwa opini publik mencakup tiga aspek yaitu : opini dapat dinyatakan dalam

    bentuk ekspresi, adanya persoalan yang menimbulkan pro dan kontra, dan

    merupakan suatu hal yang menyangkut kemasyarakatan (Soemirat dan Ardianto,

    2004:108).

    2.2.3.1 Istilah - Istilah Opini Publik

    Perilaku seseorang dengan sikap sangat erat kaitannya. Artinya, karena

    perilaku tersebut merupakan sesuatu yang banyak menerima pengaruh dari

    lingkungan sehari-hari. Sikap seseorang/kelompok yang dieskpresikan atau

    diperlihatkan itu tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Emori S. Bogardus

    (dalam Ruslan, 2005:68-69) membagi opini kedalam beberapa istilah yang sangat

    erat hubungannya dengan opini publik yaitu sebagai berikut :m

    1. Opini Personal (Personal Opinion) Adalah penafsiran individual mengenai

    berbagai masalah dimana terhadapnya tidak terdapat suatu pandangan yang

    sama. Ada pula yang menerangkan bahwa opini personal itu adalah suatu

    penafsiran itu terdapat kesulitan untuk memberi pembuktian atau pertentangan

    dengan segera. Dengan demikian harus kita akui bahwa opini kelompok dapat

    terjadi karena adanya opini personal dan kedua opini ini yang kemudian

    menjadi salah satu bagian dari opini publik.

    • 2. Opini Pribadi (Private Opinion) Merupakan aspek yang sangat penting bagi berkembangnya opini personal. Hal ini disebabkan opini pribadi adalah suatu bagian dari opini personal yang tidak dinyatakan. Secara jelasnya opini pribadi itu tidak dinyatakan secara terbuka karena adanya alasan-alasan tertentu tersimpan secara pribadi dalam hati sanubari orang yang bersangkutan. Apabila opini tersebut akhirnya dinyatakan hanyalah terbatas dalam lingkungan sahabat-sahabatnya yang dianggap dan dipercaya oleh yang bersangkutan atau dianggap sebagai orang yang berpihak kepadanya atau paling tidak sebagai orang yang tidak akan membocorkan opini pribadi tersebut kepada pihak luar.

    • 3. Opini Kelompok : adanya opini kelompok hanyalah dimungkinkan karena adanya opini personal. Dalam opini kelompok itu terdiri dari opini mayoritas dan minoritas.

    a.

    Opini

    Mayoritas

    : Adalah opini yang dinyatakan atau sedikitnya

    dirasakan oleh lebih dari setengah dari suatu kelompok atau lingkungan.

    Biasanya opini mayoritas ini dapat tercapai apabila digunakan dengan

    cara paksaan yang berupa sanksi-sanksi sosial tertentu di mana suatu

    kelompok sosial telah mempunyai nilai atau norma-norma kelompok

    tertentu.

    • b. Opini Minoritas : Adalah suatu konklusi yang didukung oleh kurang dari separuh jumlah anggota kelompok yang berkepentingan.

    • 4. Opini Koalisi (Coalition Opinion) yaitu opini yang terbentuk apabila Opini minoritas menggabungkan diri agar dapat mewujudkan suatu opini mayoritas.

    Opini yang demikian ini disebut opini koalisi, yang tumbuh karena adanya

    pengaruh dari luar dan memerlukan adanya perkembangan opini.

    5.

    Opini

    Konsensus

    (Consesus

    Opinion)

    merupakan

    bentuk

    opini

    yang

    mempunyai kekuatan lebih dari opini mayoritas. Dalam opini konsensus

    diwujudkan dengan proses diskusi berdasarkan pertimbangan bersama

    sehingga tercapai kata mufakat.

    • 6. Opini Umum (General Opinion) adalah Opini yang berakar kepada tradisi

    serta adat istiadat, berkembang dari dulu hingga sekarang dan telah diterima

    sebagaimana adanya tanpa kesadaran dan kritik dari generasi lama oleh

    generasi baru yang lebih muda. Opini umum merupakan iklim sosial di mana

    sebagian besar bersumber dari opini personal, opini kelompok demikian juga

    opini publik.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini termasuk dalam opini

    personal, adalah penafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana

    terhadapnya tidak terdapat suatu pandangan yang sama.

    • 2.2.3.2 Ciri-Ciri Opini Publik

    Astrid menyatakan opini publik bersifat umum dan disampaikan oleh

    kelompok (sosial) secara kolektif dan tidak permanen. Istilah “publik” mengacu

    ke kelompok manusia yang berkumpul secara spontan dengan syarat-syarat :

    • 1. Menghadapi persoalan tertentu

    • 2. Berbeda opini mengenai persoalan tertentu dan berusaha mengatasinya.

    • 3. Mencari jalan keluar melalui diskusi. (dalam Olli dan Erlita, 2011: 23)

    • 2.2.3.3 Opini Publik dan Sikap Manusia

    Astrid (1975) dalam bukunya “Pendapat Umum” meninjau opini publik

    dari segi psikologi sosial menurut Leonard W. Doob, opini publik mempunyai

    hubungan yang erat dengan sikap manusia, yaitu sikap pribadi atau sikap

    kelompok. Doob selanjutnya mengatakan bahwa opini publik adalah sikap pribadi

    seseorang ataupun kelompok. Sebagian sikap ditentukan oleh pengalaman dan

    oleh kelompoknya. William McDougall dan Otto Friedman keduanya berpendapat

    antara opini publik dan sikap pribadi manusia ada hubungan yang erat.

    Masyarakat membentuk pengalaman pribadi tiap individu. Kemudian pengalaman

    pribadi menentukan sikap dan opini individu ketika menghadapi persoalan

    tertentu. Kumpulan individu membentuk sikap dan opini publik. (dalam Olli dan

    Erlta, 2011:23).

    • 2.2.3.4 Faktor Pemicu Munculnya Opini Publik

    Bernard Hennessy (Olii, 2007: 40) mengemukakan lima faktor pemicu

    terbentuknya pendapat umum (Opini Publik):

    • 1. Adanya isu (Presence Of an Issue). Harus terdapat konsensus yang sesungguhnya, opini publik berkumpul disekitar isu tertentu.

    • 2. Ciri publik (Nature of Public) harus ada kelompok yang dikenal dan berkepentingan dengan persoalan itu.

    • 3. Pilihan yang sulit (Expression of Opinion) berbagai pernyataan bertumpuk disekitar isu tertentu. Pernyataan biasanya disampaikan melalui kata kata yang di ucapkan atau disetak dan sewaktu-waktu melalui gerak-gerik, kepala tinju, lambain tangan, dn tarikan nafas panjang.

    • 4. Pernyataan opini (Expression Of Opinion) berbagai pernyataan bertumpuk disekitar isu tertentu. Pernyataan biasanya disampaikan melalui kata-kata yang diucapkan atau dicetak dan sewaktu–waktu melalui gerak-gerik, kepalan tinju, lambaian tangan dan tarikan napas panjang

    • 5. Jumlah orang yang terlibat (Number Of Person Involved). Opini publik mensyaratkan besarnya (size) masyarakat yang menaruh perhatian terhadap

    isu tertentu. Definisi ini mempertanyakan secara baik sekali berapa jumlah

    itu dan merangkumnya ke dalam ungkapan “sejumlah orang penting”.

    Definisi

    itu

    mengesampingkan

    isu-isu

    kecil

    yang

    terkait

    dengan

    pernyataan-pernyataan individu yang tidak begitu penting.

    • 2.2.3.5 Faktor yang Mempengaruhi Opini Publik

    Faktor yang mempengaruhi opini publik :Opini publik dapat dipengaruhi

    oleh beberapa faktor, diantaranya :

    • 1 Pendidikan: Pendidikan, baik formal maupun non formal, banyak mempengaruhi dan membentuk persepsi seseorang. Orang berpendidikan cukup, memiliki sikap yang lebih mandiri ketimbang kelompok yang kurang berpendidikan. Yang terakhir cenderung mengikut.

    • 2 Kondisi Sosial

    : Masyarakat yang terdiri dari kelompok tertutup akan

    memiliki pendapat yang lebih sempit daripada kelompok masyarakat

    terbuka. Dalam masyarakat tertutup, komunikasi dengan luar sulit

    dilakukan.

    • 3 Kondisi Ekonomi

    : Masyarakat yang kebutuhan minimumnya terpenuhi dan

    masalah survive bukan lagi merupakan bahaya yang mengancam, adalah

    4

    masyarakat yang tenang dan demokratis.

    Ideologi

    : Ideologi adalah hasil kristalisasi nilai yang ada dalam masyarakat.

    Ia juga merupakan pemikiran khas suatu kelompok. Karena titik tolaknya

    adalah kepentingan ego, maka ideologi cenderung mengarah pada egoisme

    atau kelompokisme.

    :
    :
    • 5 Organisasi

    Dalam organisasi orang berinteraksi dengan orang lain dengan

    berbagai ragam kepentingan. Dalam organisasi orang dapat menyalurkan

    pendapat dan keinginannya. Karena dalam kelompok ini orang cenderung

     

    bersedia

    menyamakan

    pendapatnya,

    maka

    pendapat

    umum

    mudah

    terbentuk.

    6

    Media Massa

    : Persepsi masyarakat dapat dibentuk oleh media massa.

    Media massa dapat membentuk pendapat umum dengan cara pemberitaan

    yang sensasional dan berkesinambungan.

    • 2.2.3.6 Kekuatan Opini Publik

    Opini publik atau pendapat publik sebagai suatu kesatuan

    pernyataan tentang suatu hal yang bersifat kontroversial, merupakan suatu

    penilaian sosial atau social judgetment. Oleh karena itu maka pada

    pendapat publik melekat beberapa kekuatan yang sangat diperhatikan

    (dalam Olli dan Erlita, 2011: 52-53)

    • 1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial

    terhadap orang atau

    sekelompok orang yang terkena hukuman tersebut. Hukuman sosial

    menimpa seseorang atau sekelompok orang dalam bentuk rasa malu,

    rasa dikucilkan, rasa dijauhi, rasa rendah diri, rasa tak berarti lagi

    dalam masyarakat, menimbulkan frustasi sehingga putus asa, dan

    bahkan ada yang karena itu lalu bunuh diri atau mengundurkan diri

    dari jabatannya.

    • 2. Opini publik sebagai pendukung bagi kelangsungan berlakunya norma sopan santun dan susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang muda dengan sesamanya.

    • 3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga dan bahkan bisa juga menghancurkan suatu lembaga.

    • 4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.

    • 5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.

    2.2.4Pembentukan Opini Publik

    • 1. Perbedaan Opini Thompson (dalam Sastropoetro, 2005:132). Menyatakan ketika publik

    menghadapi isu, maka timbul perbedaan opini diantara mereka, Perbedaan opini

    muncul karena

    • a. Perbedaan pandangan terhadap fakta

    • b. Perbedaan perkiraan tentang cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan

    • c. Perbedaan motif untuk mencapai tujuan

    Sastropoetro (2005:130) opini publik dapat dikaji dari berbagai segi. Ada

    empat segi untuk mengkajinya :

    • a. Difusi, yaitu apakah opini yang timbul merupakan suara terbanyak atau hanya suara golongan tertentu

    • b. Persitence, yaitu seberapa kuat dampak dari isu tersebut

    • c. Intensitas, yaitu seberapa kuat dampak dari isu tersebut

    • d. Reasonaleness, yaitu seberapa kuat alasan kemunculan isu tertentu

    • 2. Terbentuknya publik Berbagai masalah memunculkan kelompok-kelompok di masyarakat yang

    tidak teratur yang memenuhi syarat atau ciri-ciri untuk disebut dengan publik,

    Herbert Blumer (dalam Sastropoetro, 2005: 132) mengemukakan ciri-ciri piblik :

    • a. Menghadapi isu tertentu

    • b. Terlibat ke diskusi mengenai isu tertentu

    • c. Memiliki perbedaan opini tentang cara mengatasi isu tertentu Kelompok-kelompok individu secara kebetulan bertemu mendiskusikan

    “isu” sehingga terpenuhi ciri-ciri bahwa :

    1)

    Kehadiran kelompok tidak direncanakan, tetapi merupakan respon yang

    2)

    bersifat alamiah terhadap isu tertentu. Kelompoktersebut tidak didirikan secara resmi.

    3)

    Bertemunya indiviud-individu kedalam kelompok karena spontanitas

    (dalam Sastropoetro, 2005: 132).

    • 3. Opini publik direncanakan dan tidak direncanakan Menurut Nurdin (2008: 51), opini publik timbul karena direncanakan dan

    tidak direncanakan tidak mempunyai tujuan dan target tertentu. Kehadiran sekedar

    karena ada permasalahan yang harus diketahui masyarakat dan munculnya secara

    alamiah.

    • 4. Cara kerja opini publik Menurut Panuju (2007: 47), untuk menjelaskan cara kerja opini publik

    terlebih dahulu perlu di bedakan pengertian antara opini publik dan pandangan

    umum (general opinion). Pandangan umum relatif permanen, sedangkan opini

    publik tidak bersifat permanen, sebaliknya opini publik bersifat dinamis bergeser,

    dan berubah sesuai konteksnya.

    Opini dapat dinyatakan melaui prilaku, sikap tindak mimik muka atau

    bahasa tubuh (body language) atau berbentuk simbol-simbol tertuis berupa

    pakaian yang dikenakan, makna sebuah warna. RP. Abelson (dalam Ruslan, 2005:

    65) menegaskan pernyataan tentang unsur-unsur pembentukan opini publik yaitu:

    • 1. Kepercayaan mengenai sesuatu (belief)

    • 2. Apa yang sebenarnya dirasakan dan menjadikan sikapnya (attitude)

    • 3. Persepsi (Perception), yaitu suatu proses pemberian makna yang berakar dari berbagai faktor yakni:

    a.

    Latar

    belakang

    budaya,

    kebiasaan

    dan adat istiadat yang dianut

    seseorang atau masyarakat.

    • b. Pengalaman masa lalu sekelompok/kelompok tertentu menjadi landasan atas pendapat atau pandangannya.

    • c. Nilai yang dianut (moral, etika dan keagamaan yang dianut atau nilai- nilai yang berlaku dimasyarkat).

    • d. Berita-berita dan pendapat yang berkembang yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap pandangan sesorang. Bisa diartikan berita-berita yang dipublikasikan itu dapat sebagai pembentuk opini

    masyarakat. Menurut D.W. Rajecki (dalam Ruslan, 2005: 67),

    faktor pembentukan

    opini dikenaL dengan istilah ABC’s attitude, yaitu:

    • 1. Komponen A : Afect (Perasaan)

    Komponen Affect berkaitan dengan rasa senang, suka, sayang, takut, benci, sedih dan kebanggaan hingga muak atau bosan terhadap sesuatu.

    • 2. Komponen B : Behavior (Tingkah Laku)

    Komponen behavior lebih menampilkan tingkah laku atau perilaku

    seseorang, misalnya bereaksi untuk memukul, menghancurkan, menerima, menolak, mengambil, membeli dan lainya.

    • 3. Komponen C : Cognition (Pengertian atau Nalar)

    Komponen Cognition berkaitan dengan penalaran seseorang untuk menilai sesuatu informasi, pesan, fakta dan pengertian yang berkaitan dengan pendiriannya”.

    Proses terbentuknya opini melalui beberapa tahap yang menurut

    Cultip dan center (2006, 263) ada empat tahap, yaitu :

    • 1. Ada masalah yang perlu di pecahkan sehingga orang mencari alternatif pemecahan.

    • 2. Munculnya beberapa alternatif memungkinkan terjadinya diskusi untuk memilih alternatif.

    • 3. Dalam diskusi di ambil keputusan yang melahirkan kesadaran kelompok.

    • 4. Untuk melaksanakan keputusan disusunlah program yang memerlukan dukungan yang lebih luas, selain itu, opini publik muncul karena adanya isu yang kontroversial.

    • 2.2.5 Pengukuran Opini

    Ada beberapa cara untuk mengukur opini publik antara lain Pooling,

    pengumpulan suara/pendapat masyarakat secara lisan maupun tertulis. Attitude

    Scales, menetapkan beberapa orang yang setuju dan tidak setuju mengenai

    masalah. Interview, wawancara yang bersifat umum dan terbuka. Pengukuran

    yang paling sering digunakan adalah pengukuran arah opini (dalam Ruslan, 2005:

    70).

    Pengukuran opini digunakan untuk mengukur kearah mana opini

    melangkah. Arah opini bisa dilihat dari segi positif, negatif, atau neteral maupun

    dengan rasa suku, benci, dan netral. Effendy (2003: 10) menjabarkan lebih lanjut

    mengenai arah dari opini, yaitu :

    “1. Opini positif, menyebabkan seseorang bereaksi secara

    menyenangkan terhadap orang lain, suatu kebijaksanaa/ sebuah organisasi.

    • 2. Opini netral, jika seseorang tidak memiliki opini mengenai persoalan yang mempengaruhi keadaan.

    • 3. Opini negatif, menyebabkan seseorang memberi opini yang tidak menyenangkan/beranggapan buruk, mengenai seseorang, suatu organisasi atau suatu persoalan”.

    Berdasarkan pengukuran

    arah

    opini

    diatas

    dalam

    suatu

    pemberitaan

    memiliki tiga kemungkinan arah opini yaitu mendukung, netral atau tidak

    mendukung terhadap isu.

    Kemudian menurut Leonard W.Doof, suatu opini publik yang dianggap

    kompeten atau mampu memenuhi syarat opini publik alam arti khusus, bila

    terdapat :

    “1. Fakta yang dipakai sebagai tolak ukur perumusan opini yaitu :

    adanya unsur “penilaian baik dan buruk” dari masyarakat.

    • 2. Pengguna fakta justru suatu sikap diambil karena tidak berdasarkan fakta sampai pada suatu kesimpulan atau kesepakatan mengenai tindakan yang harus diambil untuk memecahkan suatu persoalan tertentu yang dihadapinya.

    • 3. Syarat-syarat sebagai opini publik dalam arti khusus itu dapat ditinjau dari : fakta, nilai-nilai, opini publik dan kompetensinya” (dalam Ruslan, 2008: 71).

    Opini publik dapat terbentuk bila mampu memenuhi syarat dalam arti

    khusus yaitu jika memenuhi unsur penilaian baik dan buruk dari masyarakat sama

    seperti faktor affect (perasaan), penggunaan fakta yang menjadi kesimpulan dan

    nilai-nilai opini yang kompten.

    Jadi batas-batas tolak ukur opini publik tergantung dari beberapa hal yaitu:

    • 1. Tergantung pada pengetahuan dan tingkat pendidikan masing-masing pihak (publik).

    • 2. Kebijaksanaan tergantung dari penilaian dan seleksi publik terhadap fakta dan penilaiannya.

    • 3. Kenyataan bahwa setiap persoalan berkaitan dengan berbagai aspek, sehingga untuk hal-hal kompeten yang menimpa masyarakat, maka

    opini publik terdiri dari banyak orang (publik) dan sulit untuk diambil keputusan setiap acuan. 4. Tidak ada standar atau ukuran tertentu untuk menyelesaikan suatu persoalan, apalagi menyangkut masalah-masalah sosial yang mempunyai ciri kekhasannya masing-masing. Hal ini tergantung dari tingkat pengetahuan, pendidikan, pengalaman, dan kebudayaan serta nilai-nilai yang diantut oleh publik bersangkutan” (dalam Ruslan, 2008: 71-72).

    • 2.3 Media Masa sebagai Media Pemberitaan

    Menurut National Education Asociation (NEA) Media adalah

    sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi

    perangkat kerasnya. Dalam Buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006 :

    119), Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan

    dari komunikator kepada khalayak.

    Media pemberitaan merujuk ke bagian media massa yang memiliki fokus

    pada penyajian berita terbaru kepada publik, yang diantaranya adalah media cetak

    (surat kabar) majalah, media penyiaran televisi dan media berbasis internet (situs

    web/ media online).

    Dalam buku Here’s The News yang dihimpun oleh Paul De Maeseneer

    (Olii, 2007: 27), berita didefinisikan sebagai informasi baru tentang kejadian yang

    baru, penting dan bermakna (significant), yang berpengaruh pada para

    pendengarnya serta relevan dan layak dinikmati oleh mereka. Walter Lippman

    (McQuail, 1996: 190) memfokuskan hakikat berita pada proses pengumpulan

    berita, yang dipandang sebagai upaya menemukan “isyarat jelas yang objektif

    yang memberartikan suatu peristiwa.

    Defenisi lain dari berita, menurut James A. Wollert (Sumadiria, 2005: 64)

    berita merupakan apa saja yang ingin dan perlu diketahui oleh orang atau lebih

    luas lagi oleh masyarakat. Media massa memberikan informasi kepada

    masyarakat mengenai apa saja yang mereka butuhkan. Sedangkan menurut

    Assegaf (Mondry, 2008: 83).

    Berita tentang sengketa pemilukada di media massa menarik berbagai

    media untuk menyampaikan kepada publik mulai proses yang tengah di jalani

    hingga berbagai isu-isu yang mengemuka mengenai penyimpangan yang terjadi

    dalam sidang perkara sengketa pemilukada seperti putusan-putusan yang di

    anggap sarat dengan praktik suap, putusan-putusan yang banyak memunculkan

    perdebatan di kalangan publik. Sengketa pemilukada memang kerap di beritakan

    oleh media hingga kasus tertangkapnya ketua MK Akil Mochtar atas kasus

    penerimaan suap pada penyelesaian sengketa pemilukada di Lebak Banten dan

    berbagai dugaan lain membuat kemarahan bagi masyarakat, lembaga hukum ini

    menjadi sorotan oleh media karena media menganggap ini adalah kasus luar biasa

    dan masyarakat membutuhkan berita-berita tentang bagaimana akhir dari sengketa

    proses penyelesaian sengketa pemilukada di MK, karena masyarakat paham

    segala keputusan yang di putuskan oleh MK merupakan keputusan besar yang

    bersifat final dan mengikat.

    Berita penyelesaian sengketa pemilukada juga menjadi sangat penting bagi

    masyarakat karena menentukan siapakah yang akan diputuskan oleh MK

    mengenai kandidat yang berhak menjadi kepala daerah dalam sebuah proses

    Pemilukada. Pemberitaan tentang sengketa pemilukada ini menjadi salah satu

    faktor pembentukan opini masyarakat, juga sebagai faktor yang dapat

    mempengaruhi opini mayarakat yang dapat menentukan pendapat masyarakat

    bagaimana kualitas dan kinerja hakim MK dalam menyelesaiakan sengketa

    pemilukada di Indonesia.

    2.3.1

    Televisi

    Televisi adalah sebuah media telekomunikasi yang berfungsi sebagai

    penerima gambar bergerak beserta suara, televisi terbagi menjadi dua jenis yaitu

    televisi monokrom (hitam putih) dan televisi berwarna, kata televisi berasal dari

    bahasa yunani tele (jauh) vision (penglihatan) sehingga televisi dapat di artikan

    “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.

    (http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi)

    Menurut Effendy (2003:361) televisi adalah media komunikasi jarak jauh

    dengan penayangan gambar dan pendengaran suara, baik melalui kawat maupun

    elektromagnetik tanpa kawat.

    Berita tentang sengketa pemilukada banyak di siarkan oleh media televisi

    hampir seluruh media televisi baik media lokal maupun nasional menjadikan

    perjalanan sengketa pemilukada menjadi bahasan utama pemberitaan (headline).

    Seperti berita mengenai isu sengketa pemilukada di MK yang terindikasi terjadi

    praktek suap media televisi secara serta merta menjadikan topik ini menjadi

    headline news bahkan media televisi berperan besar dalam mengingatkan publik

    agar menaruh perhatian dalam mengawal proses persidangan sengketa pemilukada

    di lembaga MK.

    • 2.3.2 Surat Kabar

    Surat Kabar adalah “Media komunikasi massa yang memuat serba serbi

    pemberitaan, meliputi bidang politik, ekomomi, sosial budaya, maupun

    pertahanan dan keamanan. Fungsinya sebagai penyebar informasi pendidikan,

    menghibur, mengawasi atau mengatur massa” (Gunadi, 1998:83.)

    Adapun karakteristik dari surat kabar adalah :

    • 1. Publisitas artinya Penyebaran informasi kepada publik

    • 2. Periodesitas artinya keteraturan terbit

    • 3. Universalitas artinya menyampaikan pesan yang beragam dan dapat diakses secara umum

    • 4. Aktualitas artinya baru saja terjadi atau sedang terjadi, untuk setiap media bersifat relatif karena tergantung periodesitas media misal, surat kabar pagi, surat kabar sore.

    • 5. Terdokumentasi (bisa diarsip)

    • 6. Faktualitas (sesuai dengan fakta)

    Surat kabar (Koran/Majalah) menjadi media yang banyak di konsumsi oleh

    publik karena media ini mudah untuk mendapatkannya dan surat kabar

    menyampaikan berita secara mendalam dan komprehensif, surat kabar juga lebih

    mudah di baca oleh berbagai kalangan, tidak seperti media online yang harus

    memiliki kemampuan yang baik dalam mengadopsi teknologi informasi Pemberitaan mengenai sengketa pemilukada di MK hampir selalu menjadi

    berita utama terlebih bila didalam sengketa yang terjadi banyak ditemukan

    indikasi pelanggaran dalam pelaksanaanya pemberitaan ini memungkinkan

    munculnya reaksi dari masyarakat, karena masyarakat menganggap media sebagai

    anjing penjaga (watchdog) yang selalu melakukan pengawasan terhadap kebijakan

    pemerintah yang mengawasi setiap kebijakan atau keputusan yang akan

    berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat.

    • 2.3.3 Internet/ Media Online

    Media online menjadi salah satu janis media yang banyak di pilih

    masyarakat karena media online lebih cepat dalam penyajiannya dan media online

    sulit di kontrol oleh pemerintah sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi

    yang lebih jujur dan kritis ..

    Menurut kamus Bahasa Indonesia, pengertian media adalah semua

    peralatan yang dipergunakan orang untuk menyampaikan sesuatu /informasi

    /gagasan/ atau ide kepada orang lain. Sedangkan pengertian

    online (dari bahasa

    Inggris dan terbentuk dari dua kata yaitu

    on dan

    line) menurut Kamus Bahasa

    Inggris adalah pada jalur atau garis. Maka dapat disimpulkan bahwa pengerti

    media online

    adalah alat untuk menyampaikan informasi atau gagasan atau ide

    kepada khalayak melalui jalur atau garis yang dikenal dengan jaringan tanpa

    kabel.

    Sedangkan pendapat Vini Winarti Halim (2006: 27) mengenai media online yaitu:

    “Media online yaitu website/situs yang difungsikan sebagai media komunikasi elektronik yang tidak terikat ruang dan waktu dengan tujuan untuk memberikan informasi aktual yang dapat diakses oleh publik secara in real time”.

    Media online secara aktif memberitakan proses gugatan sengketa

    pemilukada di MK, media online banyak menjadikan berita putusan-putusan yang

    dikeluarkan MK sebagai berita utama media online juga memberitakan proses

    persidangan yang sedang berlangsung secara realtime layaknya media cetak

    media online juga menyampaikan informasi kepada khalayak secara detil hali ini

    dikarenakan media online mengetahi bahawa khalayak membutuhkan informasi

    yang konfrehensif dan aktual.

    Pemberitaan

    mengenai

    sengketa

    pemilukada

    memang mendapatkan

    perhatian yang luas dari kalangan pengguna media internet (netizen) karena setiap

    putusan yang ditetapkan memiliki dampak yang luas bagi kelangsungan hidup

    masyarakat khususnya pada konsteks kepemimpinan pada suatu daerah.

    2.4

    Citra

    Huddleston (dalam Buchari Alma, 2008:55) memberikan definisi atau

    pengertian citra adalah serangkaian kepercayaan yang dihubungkan dengan

    sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat dari pengalaman, sedangkan menurut

    Frank Jefkins (Soemirat & Adrianto, 2007:114), memberikan definisi atau

    pengertian citra sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang

    muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya,

    Frank Jefkins dalam Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2007:117), membagi

    citra dalam beberapa jenis, antara lain :

    • 1. Citra bayangan (Miror Image) Adalah citra yang melekatpada orang dalam organisasi atau anggota- anggota organisasi, biasanya adalah pemimpin dalam organisasi tersebut. Namun citra bayangan sering tidak tepatbahkan hanya ilusi dikarenakan tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahamanyang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandanganpihak-pihak luar.

    • 2. Citra yang berlaku (Current Image) Kebalikan dari citra bayangan, citra yang berlaku (current image) ini adalah citra atau pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya sesuai dengan kenyataan karena semata mata terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang biasanya serba terbatas. Biasanya pula citra ini serinng negatif citra ini sepenuhnya ditentukan oleh sedikit banyaknya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya.

    • 3. Citra yang diharapkan (Wish image)

    Citra yang diharapkan (Wish image) adalah suatu citra yang

    diinginkan oleh pihak manajemen. Citra ini juga tidak sama dengan citra

    yang sebenarnya. Biasanya citra yang diharapkan itu lebih baik atau lebih

    menyenangkan dari pada citra yang ada. Namun secara umum yang

    disebut dengan citra harapan itu memang susuatu yang berkonotasi lebih

    baik.

    • 4. Citra Perusahaan (corporate image) Citra perusahaan/organisasi adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan. Jadi bukanlah sekedar citra atas produk dan pelayanaanya. Citra perusahaan ini terbentuk dari banyak hal seperti sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan turut memikul tanggungjawab sosial dan komitmen untuk mengadakan riset.

    • 5. Citra Majemuk (multiple image) Citra majemuk adalah citra yang dimiliki oleh suatu perusahaan boleh dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimilikinya. Untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan, variasi citra harus ditekan seminimal mungkin dan citra perusahaan secara kseluruhan harus ditegakkan.

    Kesimpulan mengenai citra dari sebuah organisasi yang hendak dicapai

    humas (Public Relations) dalam Ardianto (2006:119) tidak terlepas dari

    • 1. Kualitas.

    • 2. Nilai kepercayaan yang merupakan amanat dari publik.

    • 3. Goodwill (kemauan baik) yang ditampilkan oleh lembaga/organisasi

    yang bersangkutan. Citra adalah tujuan setiap lembaga maupun perusahaan dimanapun yang

    ingin dicapai. Meskipun pengertian citra itu sendiriabstrak dan tidak dapat diukur

    secara sistematis, tetapi wujudnya dapat dirasakan dari hasil penilaian baik atau

    buruk, seperti penerimaan dan tanggapan positif maupun negatif yang datang dari

    khalayak atau publik dan masyarakat luas pada umumnya (Ardianto 2006:118)

    Penilaian baik yang didapat dari masyarakat dapat berupa dengan

    timbulnya rasa hormat kesan baik dan rasa percaya. Suatu citra yang lebih baik

    sesungguhnya dapat muncul meskipun dalam keadaan buruk atau hilangnya image

    positif akibat musibah yakni dengan cara menjelaskan secara jujur apa yang

    menjadi penyebabnya, baik itu informasi yang salah atau suatu perilaku yang

    keliru.

    • 2.5 Sengketa Pemilukada

    Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut prinsip demokrasi.

    Dengan adanya prinsip demokrasi adalah kedaulatan berada di tangan rakyat,

    dilaksanakan untuk dan atas nama rakyat.Sebagai negara yang demokratis dimana

    rakyat dituntut untuk ikut campur (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan

    pemerintahan dan negara, salah satunya adalah dalam wujud partisipasi politik.

    Partisipasi politik adalah kegiatan ikut secara aktif dalam kehidupan politik

    dengan jalan memilih pemimpin negara baik secara langsung maupun tidak

    langsung, mempengaruhi kebijakan pemerintah (Public Policy) (Miriam

    Budiarjo,1994:183)

    Di Indonesia partisipasi politik yang dapat diwujudkan oleh rakyat adalah

    melalui pemilihan umum (Pemilu) yang terbagi atas pemilu legislatif, pemilu

    kepala daerah (Pemilukada) dan pemilu Presiden (Pilpres).

    Pemilukada merupakan manifestasi demokrasi dalam rangka rekrutmen

    pemimpin di daerah dimana rakyat secara menyeluruh memiliki hak dan

    kebebasan untuk memilih calon pemimpin yang di dukungnya, sebab demokrasi

    seutuhnya adalah demokrasi manakala pemimpin-pemimpin dipilih secara

    langsung oleh rakyatnya sendiri. Pemilihan selalu menjadi tolak ukur untuk

    menentukan sebuah negara demokrasi atau tidak.

    Lahirnya UU No. 22 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilihan

    Umum, terminologi pemilihan kepala daerah dirubah menjadi pemilihan umum

    kepala daerah (Pemilukada). Bab I Pasal 1 UU No. 22 tahun 2007 mempunyai

    maksud bahwa Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah pemilu

    untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah secara langsung dalam

    Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

    Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

    Sengketa pemilukada adalah sebuah konflik yang berhubungan dengan

    proses Pemilukada terkait sengketa penghitungan hasil suara dan perkara lain

    yang terjadi dalam proses Pemilukada. Kewenangan penyelesaian sengketa

    Pemilikada juga dimuat dalam UU No. 22 Tahun 2007 yang menjelaskan MK

    sebagai lembaga yang mengatur dan memutus perselisihan hasil pemilukada, hal

    ini diperkuat oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 Perubahan menegaskan bahwa

    “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir

    yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-

    Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang

    kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran

    partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum”.

    Pemilihan umum kepala daerah mengalami perubahan jika sebelumnya

    kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD, namun sejak disahkannya UU No 32

    Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah sistem pemilihan ini berubah dari

    pemilihan oleh DPRD menjadi pemiihan langsung oleh rakyat. Tujuan utama

    pemilukada langsung adalah penguatan masyarakat dalam rangka peningkatan

    kapasitas demokrasi di tingkat daerah.

    Dalam Proses pemilihan langsung kepala daerah (Pemilukada) banyak

    terjadi kasus sengketa pemilukada dimana terdapat saling klaim antara kandidat

    calon kepala daerah terhadap putusan yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan

    Umum Daerah (KPUD), ketidakpuasan para kandidat yang bertarung membuat

    mereka mengajukan penyelesaian sengketa ini di lembaga Mahkamah Konstitusi

    sehingga perkara penyelesaian sengketa oleh MK menjadi semakin bertambah

    banyak.

    Berdasarkan data yang diperoleh penulis melalui situs media online

    (koran.tempo.co) penyelesaian sidang perkara sengketa Pemilukada di Indonesia

    mengalami peningkatan yang signifikan dalam lima tahun terakhir seperti yang di

    ungkapkan oleh Sekretaris Jenderal MK Jenedril Mahli Gaffar, menurutnya

    jumlah gugatan yang telah diverfikasi MK pada tahun 2009-2014 mencapai 702

    perkara, 672 meruapakan perkara sengketa pemilukada dan 30 diantaranya adalah

    perkara yang diajukan oleh calon anggota legislatif daerah, sedangkan lima tahun

    lalu jumlah perkara hanya 628 perkara, hal ini berarti terjadi peningkatan gugatan

    perkara di MK sebanyak 74 perkara atau meningkat sekitar 12 % dibandingkan

    pemilu pada priode sebelumnya. (http://koran.tempo.co/konten/2014/05/14/

    September 2014 pukul 23: 00 wib ).

    Pelimpahan tugas dan wewenang MK dalam penyelesaikan perkara

    Pemilukada membuat tugas dan fungsi MK semakin berat karena MK menjadi

    satu satunya lembaga yang bertanggung jawab atas setiap perselisihan sengketa

    pemilukada di seluruh daerah di Indonesia. Beban berat yang di kerjakan oleh MK

    memang mengundang keperihatinan banyak pihak karena banyaknya perkara

    yang harus diselesaikan hal ini memungkinkan banyak terjadi kesalahan maupun

    kekeliruan telebih ini merupakan perkara pemilihan umum tentunya akan ada

    banyak pihak yang akan berusaha mempengaruhi hakim MK dalam mengambil

    keputusan bisa dalam bentuk suap atau gratifikasi lainnya yang tujuannya agar

    hakim MK bertindak tidak netral dan memenangkan salah satu pasangan

    Dalam perjalananya banyak terjadi ketidakpuasan yang disuarakan oleh

    pihak pihak yang membawa kasus yang di putuskan oleh MK, Sebagain dari

    mereka adalah pihak-pihak yang menyuarakan ketidakpuasan karena dinyatakan

    kalah dalam proses pemilukada termasuk suara ketidakpuasan yang pertama kali

    didengungkan oleh Refly Harun dan beberapa pihak yang mencurigai telah terjadi

    indikasi kecurangan dalam peroses pengambilan keputusan.

    Menanggapi suara ketidakpuasan dari berbagai pihak segera di tanggapi

    oleh ketua MK saat itu Mahfud MD, bahkan Mahfud MD yang mengatakan MK

    memutuskan perkara dengan sangat hati-hati, penuh ketelitian, tidak memihak

    pada salah satu kandidat dan menjamin tidak ada praktek suap dalam setiap

    pengambilan keputusan terkait sengketa pemilukada dan ia mengatakan institusi

    1.000Persen-Bebas-Suap/ diakses pada 11 September 2014 pukul 19:45 wib)

    Respon ataupun pernyataan tentang isu itu telah dibantah dengan tegas

    oleh MK, namun suara ketidakpuasan itu tidak lantas hilang begitu saja dengan

    pernyataan yang telah dijelasakan oleh para hakim MK terlebih sesaat setelah

    mundurnya ketua MK Mahfud MD yang digantikan oleh Akil Mochtar suara

    ketidakpuasan pihak-pihak yang berperkara semakin tinggi, isu isu yang

    berkembang bahwa ada salah satu hakim MK yang meminta dan menerima suap

    dalam memutuskan perselisihan penghitungan suara pada pemilukada di berbagai

    daerah seperti kota Palembang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Gunung Mas

    Kalimantan Tengah, provinsi Papua, Lebak Banten, dan Kabupaten

    Simangulungun,bahkan seorang pengacara dan juga Pakar Hukum Tata Negara

    Refly Harun menduga bahwa telah terjadi praktek jual beli kasus dalam

    persidangan penyelesaian sengketa pemilukada diseperti yang ia tulis dalam

    kolom Opini online Kompas.com. Refly menulis ketika ia berkunjung ke Papua ia

    mendengar keluhan dari peserta pertemuan bahwa pemilukada tidak perlu lagi.

    Biayanya terlalu besar, baik bagi penyelenggara maupun kandidat. ”Setelah habis

    banyak dalam pemilukada, nanti habis juga untuk bersengketa di MK. Ada yang

    habis Rp 10 miliar-Rp 12 miliar untuk MK,” tutur salah satu peserta yang

    melakukan pertemuan dengannya.

    Penangkapan ketua MK Akil Mochtar oleh KPK atas kasus suap

    penangganan perkara sengketa pemilukada di Lebak Banten yang benar-benar

    menggegerkan rakyat Indonesia, penangkapan ini sontak menjadi berita utama di

    hampir seluruh media lokal dan nasional baik media cetak, elektronik dan media

    Online. Kasus tertangkap tangannya ketua MK Akil Mochtar seakan menjadi

    bukti shahih tidak ada lembaga hukum di Indonesia yang benar-benar bersih dari

    praktik Korupsi, bahkan karena besarnya kasus ini pemberitaan tentang

    tertangkapnya ketua MK menjadi headline media nasional hingga beberapa pekan.

    Setelah kasus suap ketua hakim MK bergulir, akan muncul berbagai opini

    dan persepsi publik tentang citra MK, atas dasar hal tersebut membuaat peneliti

    tertarik melakukan penelitiaan tentang “Pembentukan opini publik tentang citra

    MK dalam berita sengketa pemilukada di media massa”.

    • 2.6 Mahkamah Konstitusi

    2.7.1 Sejarah berdirinya Mahkamah Konstitusi

    Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga tinggi negara yang dibentuk

    berdasarkan amandemen undang-undang yang dilakukan oleh MPR pada tahun

    2001, fungsi dan peran utama MK adalah menjaga konstitusi guna tegaknya

    prinsip konstitusionalitas hukum. Demikian halnya yang melandasi negara-negara

    yang mengakomodir pembentukan MK dalam sistem ketatanegaraannya. Dalam

    rangka menjaga konstitusi, fungsi pengujian undang-undang itu tidak dapat lagi

    dihindari penerapannya dalam ketatanegaraan Indonesia sebab UUD 1945

    menegaskan bahwa anutan sistem bukan lagi supremasi parlemen (kekuasaan

    tertinggi pada parlemen) melainkan supremasi konstitusi (kekuasaan tertinggi

    pada konstitusi). Bahkan, ini juga terjadi di negara-negara lain yang sebelumnya

    menganut sistem supremasi parlemen dan kemudian berubah menjadi negara

    demokrasi. MK dibentuk dengan fungsi untuk menjamin tidak ada lagi produk

    hukum yang keluar dari koridor konstitusi sehingga hak hak konstitusional warga

    terjaga dan konstitusi itu sendiri terkawal konstitusionalnya.

    Pembentukan mahkamah konstitusi didunia sebagai lembaga yang tersendiri

    yang secara khusus melakukan pengujian terhadap produk undang-undang

    berawal dari ide Hans Kelsen (1881-1973), pakar konstitusi dan guru besar

    Hukum Publik dan Administrasi University of Vienna. Kelsen menyatakan bahwa

    pelaksanaan aturan konstitusional tentang legislasi dapat secara efektif dijamin

    hanya jika suatu organisasi selain badan legislatif yang diberikan tugas untuk

    menguji apakah suatu produk hukum itu konstitusional atau tidak, dan tidak

    memberlakukannya jika menurut organisasi ini produk dari badan legislatif

    tersebut tidak konstitusional, artinya diperlukan sebuah lembaga yang memiliki

    tugas dan fungsi untuk melakukan pengujian terhadap peraturan perundang-

    undangan yang telah di tetapkan dan dijalankan oleh peerintah, atas dasar

    pertimbangan ini menurut Kelsen, perlu dibentuk lembaga pengadilan khusus

    berupa constitutional court, atau pengawasan konstitusionalitas undang-undang

    yang dapat juga diberikan kepada pengadilan biasa. Pemikiran Kelsen mendorong

    terbentuknya Verfassungsgerichtshoft (Mahkamah Konstitusi pertama di dunia) di

    Austria yang berdiri sendiri di luar Mahkamah Agung. Inilah Mahkamah

    Konstitusi pertama di dunia

    Rumusan mengenai pembentukan Mahkamah Konstitusi dilaksanakan

    dalam Perubahan Ketiga UUD 1945. Hasil Perubahan Ketiga UUD 1945 yang

    merumuskan ketentuan mengenai lembaga yang diberi nama Mahkamah

    Konstitusi dalam Pasal 24 Ayat (2) dan Pasal 24C UUD 1945. Akhirnya sejarah

    MK dalam sistem ketatanegaraan Indonesia dimulai, tepatnya setelah disahkannya

    Perubahan Ketiga UUD 1945 dalam Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C, dan Pasal 7B

    pada 9 November 2001.

    • 2.7.2 Perkembangan Mahkamah Konstitusi di Indonesia

    Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa kedaulatan berada di

    tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD. Ini mengimplikasikan agar

    pelaksanaan kedaulatan rakyat melalui konstitusi harus dikawal dan dijaga. Harus

    diakui berbagai masalah terkait dengan konstitusi dan ketatanegaraan sejak awal

    Orde Baru telah terjadi. Carut marutnya peraturan perundangan selain didominasi

    oleh hegemoni eksekutif (pemerintah), terutama semasa Orde Barumenuntut

    keberadaan wasit konstitusi sekaligus pemutus judicial review (menguji

    bertentangan-tidaknya suatu undang-undang terhadap konstitusi). Namun,

    penguasa waktu itu hanya memberikan hak uji materiil terhadap peraturan

    perundangan di bawah undang-undang pada Mahkamah Agung. Identifikasi

    kenyataan-kenyataan semacam itu kemudian mendorong Panitia Ad Hoc I Badan

    Pekerja MPR yang menyiapkan amandemen ketiga UUD 1945 akhirnya

    menyepakati organisasi baru bernama MK.

    Mahkamah Konstitusi (MK) adalah lembaga tinggi negara yang

    memegang kekuasaan hukum bersama dengan Mahkamah Agung (MA).

    Penyusunnya adalah Presiden dan 3 orang dari MA, Mahkamah Konstitusi

    memiliki peranan, kedudukan dan fungsi yang sangat penting bagi Indonesia.

    • 2.7.3 Kewenangan dan Kewajiban Mahkamah Konstitusi

    Menurut Undang-Undang Dasar 1945, kewajiban dan kewenangan

    Mahkamah Konstitusi adalah : Berwenang mengadili pada tingkat pertama dan

    terakhir yang putusnya bersifat final untuk:

    • 1. Menguji Undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945

    • 2. Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945

    • 3. Memutuskan pembubaran partai politik, dan

    • 4. Memutuskan perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum

    • 5. Wajib memberi putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945”. (Pasal 24c ayat (1) UUD 1945).

    2.7

    Kerangka Pemikiran

    Kerangka pemikiran merupakan pemetaan (mind mapping) yang dibuat

    dalam penelitian untuk menggambarkan alur pikir penulis. Penyusunan kerangka

    pemikiran dalam penelitian ini berguna untuk memperjelas jalannya penelitian

    yang dilaksanakan. Kerangka pemikiran disusun berdasarkan konsep dari tahapan-

    tahapan penulis secara teoritis. Dalam penelitianini, kerangka berfikir yang

    disusun penulis terdiri dari teori-teori yang menjadi pokok-pokok dalam

    mendeskripsikan masalah yang diteliti dan dapat menjadi acuan untuk

    menemukan dan memecahkan masalah.

    Penelitian ini menggunakan Model pembentukan opini opini menurut R.P

    Abelson seperti yang dapat dilihat pada uraian dibawah ini

    Model pembentukan opini R.P Abelson (dalam Ruslan,2005:65)

    menegaskan pernyataan tentang unsur-unsur pembentukan opini publik yaitu:

    • 1. Kepercayaan mengenai sesuatu (belief)

    • 2. Apa yang sebenarnya dirasakan dan menjadikan sikapnya (attitude)

    • 3. Persepsi (Perception), yaitu suatu proses pemberian makna yang berakar dari berbagai faktor yakni:

      • a. Latar belakang budaya, kebiasaan dan adat istiadat yang dianut seseorang atau masyarakat.

      • b. Pengalaman masa lalu sekelompok/kelompok tertentu menjadi landasan atas pendapat atau pandangannya.

      • c. Nilai yang dianut (moral, etika dan keagamaan yang dianut atau nilai-nilai yang berlaku dimasyarkat).

      • d. Berita-berita dan pendapat yang berkembang yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap pandangan sesorang. Bisa diartikan berita-berita yang dipublikasikan itu dapat sebagai pembentuk opini masyarakat.

    Berdasarkan penjelasan konsep pembentukan teori di atas RP Abelson

    memperkenalkan model pembentukan opini seperti gambar dibawah ini.

    Gambar 2.1.

    Proses Pembentukan Opini RP Abelson

    Faktor Penentu  Latar belakang Konsensus budaya  Pengalaman masa Persepsi lalu  Nilai nilai yang
    Faktor
    Penentu
     Latar belakang
    Konsensus
    budaya
     Pengalaman masa
    Persepsi
    lalu
     Nilai nilai yang di
    Opini
    anut
     Berita yang
    berkembang
    Affect
    Proses
    (perasaan)
    Sikap Opini
    pembentukan
    Publik
    Cognition
    (pengertian)
    Behaviour
    (tingkah laku)
    (Sumber:
    dalam
    Ruslan, 2005:68)

    Pada bagian proses pembentukan opini publik menggambarkan mulai dari

    persepsi sehingga terbentuknya suatu opini publik, yaitu berakar dari latar

    belakang budaya, pengalaman masa lalu, nilai-nilai budaya yang akan melahirkan

    suatu opini publik apakah nantinya mendukung atau menentang atau berlawanan.

    Sikap merupakan apa yang dirasakan seseorang dan timbul attitude sebagai sikap

    yang tersembunyi dalam diri seseorang, dan dapat dalam bentuk simbol bahasa

    tubuh, verbal, mimik muka,serta makna dari warna yang di pakainya.

    Opini seseorang itu kemudian secara akumulatif dapat berkembang

    menjadi suatu konsensus (kesepakatan), dan ter-keristaisasi jika masyarakat dalam

    kelompok tertentu mempunya kesamaan visi, ide, nilai-nilai yang di anut, latar

    belakang dan hingga tujuan yang hendak di capai dikemudian hari akan terbentuk

    menjadi opini publik.

    Dari model tersebut dapat menghasilkan model kerangka penelitian yang

    di ingin ditemukan peneliti seperti di bawah ini

    Gambar 2.2.

    Kerangka Berfikir Peneliti

    Faktor Penentu
    Faktor Penentu

    Proses Pembentukan

    Opini Mahasiswa Pembentukan Opini Faktor-Faktor pembentuk Opini Mahasiswa Tentang Citra MK Sebagai Dampak Sengketa Mahasiswa Hukum
    Opini
    Mahasiswa
    Pembentukan
    Opini
    Faktor-Faktor
    pembentuk Opini
    Mahasiswa Tentang
    Citra MK Sebagai
    Dampak Sengketa
    Mahasiswa
    Hukum Tata
    Unsur – Unsur
    Pembentukan Opini
    tentang citra MK
    sebagai dampak
    berita sengketa
    Pemilukada di
    media massa
    Pemilukada di Media
    Massa
    Negara Tentang
    1.
    Kepercayaan
    (believe)
    1.
    Citra MK
    Berita berita yang
    ber kembang
    sebagai Dampak
    2.
    Sikap (attitude)
    2.
    Pengalaman
    Berita Sengketa
    3.
    Persepsi
    (perception)
    Masa Lalu
    Pemilukada di
    Opini Mahasiswa Hukum
    Tata Negara Tentang Citra
    MK Sebagai Dampak Berita
    Sengketa Pemilukada di
    Media Massa

    Sumber : Olahan Peneliti ,

    Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam

    penelitian mengacu pada proses pembentukan opini R.P Abelson. Maka dalam

    penelitian “Pembentukan Opini Pubik tentang citra MK sebagai dampak

    pemberitaan sengketa pemilukada di media massa” , penulis memfokuskan

    penelitian menjadi dua identifikasi yang meliputi Unsur – Unsur Pembentukan Opini

    tentang citra MK sebagai

    dampak berita sengketa Pemilukada di media massa yang

    terdiri dari kepercayaan (believe) yang memaparkan bagaimana kepercayaan

    mahasiswa terhadap MK, sikap (attitude) menjelaskan bagaimana sikap

    mahasiswa dalam menilai kienerja MK dalam menyelesaikan sengketa

    pemilukada, dan persepsi (perception) menjelaskan bagaimana persepsi

    mahasiswa menilai kinerja MK dalam menyelesaikan perkara sengketa

    pemilukada ,

    Selanjutnya adalah faktor-faktor pembentuk opini mahasiswa tentang citra

    MK sebagai dampak sengketa pemilukada di media massa yang terdiri dari

    “pengalaman masa lalu” yang menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana

    pengalaman masa lalu yang dimiliki mahasiswa yang dapat menjadi faktor

    pembentuk opini mahasiswa dalam menilai citra MK dalam menyelesaikan

    sengketa pemilukada dan selanjutnya “berita-berita yang berkembang” menjadi

    faktor pembentuk opini, hal ini dikarenakan melalui berita-berita yang

    berkembang mahasiswa mendapatkan pengetahuan berupa informasi yang berupa

    pemberitaan terkait kerja lembaga MK dalam menyelesaikan sengketa pemilukada

    di Indonesia yang pada akhirnya peneliti mendapatkan gambaran umum

    bagaimana sesungguhnya pembentukan opini mahasiswa Hukum Tata Negara

    tentang citra MK sebagai dampak berita sengketa pemilukada di media massa.

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    • 3.1 Desain Penelitian

    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

    kualitatif yang menyajikan data secara deskriptif penelitian kulitatif merupakan

    proses penelitian yang berkesinambungan sehingga tahap pengumpulan data

    dilakukan secara bersamaan selama proses penelitian (Suyanto dan Sutinah,

    2010:172).

    Tujuan dari penelitian deskriptif adalah upaya untuk mencari pemecahan

    masalah dengan menggambarkan peristiwa-peristiwa berdasarkan fakta dan bukti

    yang ada. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan suatu uraian

    mendalam tentang ucapan, tulisan, dan tingkah laku yang dapat diamati dari

    individu, kelompok, masyarakat, organisasi tertentu dalam suatu konteks setting

    tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh.

    Data kualitatif di peroleh dari hasil pengumpulan data dan informasi

    dengan menggunakan metode pengumpulan data, seperti pengamatan wawancara,

    menggambar diskusi kelompok terfokus, dan lain-lain.

    Denzin dan Lincoln (dalam Moleong, 2005:5) menyatakan bahwa:

    “penelitian kualitatif adalah penilaian yang menggunakan latar alamiah, dengan

    maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan

    melibatkan berbagai metode yang ada.” Artinya penelitian yang menggambarkan

    sesuatu sebagaimana adanya sesuai realita, sehingga untuk mendapatkan

    kesimpulan yang objektif, peneliti mencoba untuk memahami gejalanya dengan

    penginterpretasian terhadap berbagai permasalahan yang terjadi pada tiap-tiap

    situasi.

    Adapun ciri-ciri/ karakteristik yang menonjol dari penelitian kualitatif

    dapat dijarbarkan sebagai berikut :

    • 1. Tujuannya untuk melukiskan realita – realita sosial yang berhubungan dengan aspek komunikasi untuk mendapatkan kebenaran, perbandingan dan evaluasi

    • 2. Permasalahan yang telah didentifikasi/

    • 3. Instrumen penelitian dapat berupa interview (wawancara), observasi, dan dokumentasi”.

    Dalam penelitian kualitatif, penelitian ini bermaksud untuk memahami

    fenomena – fenomena tentang apa yang dialam oleh subjek penelitian misalnya

    perilaku, motivasi, tindakan dan lain – lain. Secara deskriptif dalam bentuk kata-

    kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan

    berbagai metode alamiah ( Moleong, 2005:6).

    • 3.2 Lokasi dan Jadwal Penelitian

      • 3.2.1 Lokasi Penelitian

    Berdasarkan penelitian yang ingin diteliti maka penelitian ini dilaksanakan

    di kampusUniversitas Riau yang beralamat di Jalan Patimura No 9, Gobah,

    Pekanbaru, khususnya Fakultas Hukum Universitas Riau.

    • 3.2.2 Jadwal Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu dimulai dari bulan April

    hingga Juni 2015. Tahap-tahap dalam penelitian ini seperti observasi, proses

    pengumpulan data, penyuntingan data dan pelaporan data.

    • 3.3 Subjek dan Objek Penelitian

    3.3.1 Subjek Penelitian

    Subjek Penelitian adalah penelitian yang menunjukkan kepada

    orang/individu atau kelompok yang dijadikan unit atau sasaran (kasus) yang

    diteliti (Alwasilah, 2002: 114). Teknik pengambilan informan pada penelitian ini

    ialah menggunakan Purposive, dimana yang dijadikan sebagai anggota informan

    diserahkan pada pertimbangan pengumpulan data yang berdasarkan atas

    pertimbangannya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. (Sukandarrumidi,

    2004: 65)

    Moleong (2007: 132) mendeskripsikan subjek penelitian sebagai informan,

    yang artinya orang pada latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan

    informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Sejalan dengan definisi

    tersebut, Moeliono (2003: 862) mendeskripsikan subjek penelitian sebagai orang

    yang diamati sebagai sasaran penelitian. Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini,

    maka subjek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Ilmu

    Hukum Tata Negara pada Fakultas Hukum Universitas Riau. Subjek penelitian ini

    adalah informan mahasiswa yang sedang aktif mengikuti aktivitas perkuliahan

    yakni mahasiswa angkatan 2012, 2013, dan 2014. Jumlah subjek penelitian

    ditentukan sebanyak sepuluh orang yang terdiri dari dari satu orang bupati

    mahasiswa dan sembilan informan yang dibagi menjadi masing-masing angkatan

    sebanyak tiga orang informan

    Pada penelitian ini peneliti memilih menjadikan mahasiswa Fakultas

    Hukum Universitas Riau untuk menjadi informan penelitian khususnya

    mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara hal ini dikarenakan Mahasiswa Jurusan

    Hukum Tata Negara dianggap lebih mengetahui banyak hal tentang permasalahan

    hukum khususnya mengenai Hukum Ketatanegaraan, serta permasalahan sengketa

    pemilukada yang sering menjadi pembahasan dalam pembelajaran di perkuliahan.

    Atas dasar pertimbangan tersebut mendasari pengambilan keputusan peneliti

    untuk menjadikan mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara sebagai subjek

    penelitian.

    3.3.2 Objek Penelitian

    Menurut Arikunto (2002:216) menyatakan bahwa objek adalah sesuatu

    yang melekat dan di permasalahkan. yang menjadi objek penelitian ini adalah

    Pembentukan Opini Mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Riau tentang

    citra MK sebagai dampak Berita Sengketa Pemilukada di Media Massa.

    3.4

    Jenis dan Sumber Data

    Data menurut Burhan Bungin (2005:119) adalah bahan keterangan tentang

    suatu objek penelitian yang diperoleh dilikasi peneitian, Bungin juga menjelaskan

    ada dua sumber data yaitu :

    • 3.4.1 Data Primer

    Data Primer adalah sumber data pertama dimana sebuah data akan di

    hasilkan (Bungin, 2007:129). Ada dua metode yang di gunakan dalam

    pengumpulan data primer, yaitu wawancara dan observasi (Ruslan, 2004:138).

    Peneliti memperoleh data langsung dari informan penelitian dengan cara

    melakukan wawancara dan observasi di Fakultas Hukum Universitas Riau.

    • 3.4.2 Data Sekunder

    Data Sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui

    media perantara (dihasilkan pihak lain) atau digunakan oleh lembaga lainya yang

    bukan pengolahanya, tetapi dapat dimanfaatkan dalam suatu penelitian tertentu.

    Data sekunder pada umumnya berbentuk catatan atau laporan data dokumentasi

    oleh lembaga tertentu yang di publikasikan (Ruslan, 2004: 138). Data sekunder

    dalam penelitian ini, dalam penelitian ini berupa dokumen dan refrensi serta

    pemberitaan yang di peroleh peneliti baik media elektronik maupun media online,

    dan sumber lain yang relevan dengan penelitian mengenai Pembentukan Opini

    Publik Tentang Citra Mahkamah Konstitusi Sebagai Dampak Berita Sengketa

    pemilukada Di Media Massa

    • 3.5 Teknik Pengumpulan Data

    3.5.1 Observasi

    Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan

    manusia seperti terjadi dalam kenyataan. Observasi adalah pengamatan dan

    pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada gejala yang

    tampak pada objek peneltian ( Margono 2005:158). Observasi sebagai pengumpul

    data, dapat dikatakan berfungsi ganda, sederhana dan dapat di lakukan tampa

    banyak biaya. Observasi juga sebagai eksplorasi. Artinya selain mendapat

    gambaran yang jelas, juga dapat dilakukan pengamatan dari berbagai perubahan

    yang terjadi dan tertera dalam landasan pemikiran. Dengan kata lain, observasi

    adalah kegiatan mengamati secara langsung tampa mediator, suatu objek untuk

    melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut.

    Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observsi langsung dengan

    mengamati perilaku dan kejadian serta melibatkan diri terhadap subjek penelitian

    seperti mengikuti rapat, rapat himpunan mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara,

    serta turut serta dalam diskusi organisasi ke islaman mahasiswa HTN, alasan

    peneliti menjadikan mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Riau

    sebagai subjek penelitian yang peneliti anggap adalah bagian dari publik yang

    lebih banyak mengetahui fenomena dan masalah yang sedang peneliti lakukan

    yaitu penelitian tentang Pembentukan Opini Publik tentang Citra MK sebagai

    dampak berita Sengketa Pemilukada di media Massa. Peneliti melakukan

    observasi agar memperoleh data yang relatif lebih akurat

    3.5.2Wawancara

    Wawancara

    didefenisikan

    sebagai

    suatu

    proses

    komunikasi

    interaktif

    antara dua pihak, salah satu dari dua pihak tersebut memiliki tujuan dan telah

    ditentukan sebelumnya, dan biasanya melibatkan kgiatan mengajukan dan

    menjawab pertanyaan (Stewart dan Cash 2006). sedangkan Banister (dalam

    Poerwandari, 2009) mendefenisikan wawancara sebagai percakapan dan tanya

    jawab yang di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Lebih lanjut ia

    menyatakan wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud ingin

    memperolh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang di pahami individu

    berekenaan dengan topik yang di teliti dan bermaksud melakukan eksplorasi

    terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan dengan pendekatan

    lain.

    Lincoln dan Guba (dalam Moeong, 2005) menyatakan bahwa tujuan

    diadakan wawancara adalah untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian,

    organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, merekonstruksikannya

    sebagai yang dialami dimasa lalu memproyeksikan sebagai yang diharapkan untuk

    dialami dimasa yang akan datang, memverifikasi, mengubah dan memperluas

    informasi yang diperoleh dari orang lain dan dikembangkan oleh peneliti sebagai

    pengecekan anggota.

    Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya

    jawab dengan orang yang berwenang dan berkepentingan yang dapat memberikan

    data tentang masalah yang di bahas, berupa keterangan langsung, yakni

    mahasiswa Universitas Riau Jurusan Hukum Tata Negara, ketua Himpunan

    Mahasiswa Jurusan beserta anggota pengurus.

    Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara tak berstruktur

    (unstructured interview), dan wawancara terstruktur (structured interview.)

    Wawancara tak berstruktur (unstructured interview) adalah wawancara yang bebas

    dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusus

    secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara

    yang dilakukan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan

    ditanyakan. Untuk mendapatkan gambaran permasalahan yang lebih lengkap

    maka peneliti perlu melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang mewakili

    berbagai tingkatan yang ada dalam objek. (Sugiyono,2012:74)

    Wawancara terstruktur (structured interview) adalah teknik pengumpulan

    data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tntang

    informan apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara

    pengumpul data telah menyiapkan pedoman wawancara atau instrumen wawanara

    maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape

    recorder,gambar brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan

    wawancara.

    3.5.3Dokumentasi

    Menurut Arikunto (2006:231) dokumentasi adalah mencari data mengenai

    hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

    prasasi, notulen rapat agenda dan sebagainya.

    Menurut

    Sugiyono

    (2011:329-330)

    Dokumentasi merupakan catatan

    peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau

    karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan

    misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan,

    kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa

    dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat

    berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.

    Menurut

    (Husaini

    dan

    Purnomo,

    2009:69).

    Dokumentasi adalah

    pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen Selain itu

    dokumentasi merupakan instrumen pengumpulan data yang sering digunakan

    dalam berbagai metode pengumpulan data Metode observasi dan wawancara

    sering dilengkapi dengan kegiatan penulisan dokumentasi. Dokumentasi dapat

    berupa catatan pribadi, buku harian, rekaman kaset, rekaman vidio, photo dan

    lain-lain. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan

    interprestasi data.

    • 3.6 Teknik Analisa Data

    Menurut Moleong (2005:103) mendefenisikan analisis data sebagai proses

    mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori sehingga dapat

    dirumuskan hipotesis yang di sarankan oleh data. Proses ini mencakup proses

    mengatur data, mengorganisasikan data ke dalam suatu pola kategori. Interpretasi

    data adalah memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola

    uraian, dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian (Krisyantono,

    2006:163).

    Patilima (2005: 88) mengatakan pada analisis data kualitatif kata-kata

    dibangun dari hasil wawancara atau pengamatan terhadap data yang dibutuhkan

    untuk mendeskripsikan dan dirangkum. Pada penelitian ini, penulis menggunakan

    teknik analisis data interaktif Miles dan Huberman. Dalam pengumpula data

    peneliti memulai mencari arti benda-benda, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-

    konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat dan proposisi. Melalui tekhnik

    observasi terhadap objek dan wawancara terhadap subjek penelitian sehingga

    didapatkan keterangan mengenai fenomena yang diteliti. Penyajian data adalah

    sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya

    penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

    Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara diolah kembali oleh

    peneliti yang kemudian memasuki tahp reduksi data. Reduksi data diartikan

    sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian dan penyederhanaan,

    pengabstrakan dan transformasi data yang telah di kumpulkan menjadi beberapa

    bagian dengan kebutuhan tertentu, dimana data yang diperlukan diperkuat

    sedangkan data yang tidak diperlukan dibuang saja. Setelah itu dilakukanlah

    penarikan kesimpulan, tergantung besarnya kumpulan-kumpulan catatan

    dilapangan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti dan

    tuntutan sponsor mempengaruhi tahap ini. Pembuktian kembali atau verifikasi

    dapat dilakukan untuk mencari pembenaran dan persetujuan, sehingga

    validitasnya dapat tercapai. Untuk lebih lengkapnya perhatikan gambar berikut

    Gambar 3.1.

    Model Analisis Data Interaktif

    Pengumpulan data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan/ Kesimpulan ifik i
    Pengumpulan data
    Penyajian Data
    Reduksi Data
    Penarikan/
    Kesimpulan
    ifik
    i

    Sumber : Miles & Huberman, 1992:20 (dalam Patilima, 2005:99)