Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENDEKATAN PEMBELAJARAN

KELOMPOK 3
1.
2.
3.
4.
5.

MUHAMMAD ALI HASAN


ABDUL RIFAI
SAUSAN SARIFAH
TURINAH
IRMA NUR AZIZAH

DOSEN PENGAJAR :
IBU ANASTASIA DEWI ANGGRAENI, M.Pd

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin dan kuasa-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pendekatan Pembelajaran dengan tepat waktu.
Untuk itu pada kesempatan kali ini, kami ingin mengucapkan terma kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Ibu Anastasia Dewi Anggraeni, M.Pd selaku dosen mata kuliah belajar dan pembelajaran
sekaligus pembimbing yang selalu memberikan saran serta dorongannya
2. Kedua orang tua yang selalu memberikan bantuan baik moral maupun material
3. Rekan-rekan di kelas X 1 D yang sudah bersedia membantu dan memberikan motivasi serta
semangat dalam proses penyusunan makalah ini
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, baik isi, bentuk, maupun
teknik penyajiannya. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah
ini sangat kami harapkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca sekalian.

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perilaku belajar dapat ditemukan di banyak tempat. Informasi lewat radio, TV, surat
kabar, majalah, atau internet mudah diperoleh. Meluas dan cepatnya informasi tersebut dapat
mempermudah perilaku belajar.
Dalam kegiatan belajar dan mengajar guru dihadapkan pada siswa. Jumlah siswa yang
dihadapi oleh guru-guru dalam satu kelas rata-rata terdiri dari empat puluhan orang. Hal ini
menunjukkan betapa pentingnya keterampilan mengorganisasi siswa agar belajar. Pembelajaran
juga berarti meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.
Kemampuan-kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui pengalaman belajar.
Perolehan pengalaman belajar tersebut merupakan proses yang terjadi secara deduktif, induktif,
heuristik atau proses pendekatan pembelajaran yang lain. Dengan menghadapi sejumlah
siswa/pelajar, berbagai pesan yang terkandung dalam bahan ajar, peningkatan kemampuan
pelajar, dan proses pemerolehan pengalaman, maka setiap guru memerlukan pengetahuan tentang
pendekatan pembelajaran. Suatu prasyarat teknis untuk dapat membelajarkan adalah bahwa
seorang guru sudah pernah bertindah belajar itu sendiri.

2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran itu?
2. Apa saja yang termasuk ke dalam pendekatan pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Apa itu pendekatan pembelajaran?

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, didalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoritis tertentu.
Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh seorang guru dan peserta
didik dalam mencapai suatu tujuan intruksional untuk suatu satuan instruksional. Pendekatan
pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran
ini sebagai penjelas untuk mempermudah bagi guru memberikan pembelajaran dan juga mempermudah
bagi peserta didik untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Pendekatan pembelajaran tidak harus berpatokan pada satu pendekatan tertentu saja, akan tetapi
pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam suatu perencanaan
pembelajaran
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran,
dan
b. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam proses
pembelajaran.
Fungsi pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
1. Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan
digunakan.
2. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3. Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4. Mendiagnosis masalah-masalah belajar yang timbul,
5. Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan

2. Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran


a.

Pendekatan Konsep dan Pendekatan Proses


Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan
konsep tanpa memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati bagaimana konsep itu
diperoleh. Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep
secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).. Konsep merupakan
struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu
keterampilan proses. Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil.
Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting
untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta
didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan
dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup
kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya
b. Pendekatan Deduktif dan Pendekatan Induktif
Pendekatan deduktif adalah proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus sebagai
pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum itu kedalam keadaan
khusus. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif terkadang sering disebut pembelajaran tradisional
yaitu guru memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Dalam bidang ilmu sains
dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan,
menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama siswa, dan
kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan
deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan.
Contoh pendekatan deduktif adalah sebagai berikut:
Seorang guru memberikan materi tentang volume balok kepada siswa. Pada awal pembelajaran
guru memberikan definisi dan konsep mengenai balok dan rumus volume balok. Kemudian guru
menerapkan rumus volume tersebut pada beberapa contoh soal. Selanjutnya guru memberikan
beberapa tugas kepada siswa yang sesuai contoh yang telah diberikan. Tugas ini bertujuan untuk
mengukur pemahaman siswa mengenai materi yang telah disampaikan

Pendekatan induktif dikemukakan oleh filosof Inggris Prancis Bacon (1561) yang
menghendaki agar penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit sebanyak
mungkin. Berpikir induktif adalah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus
menuju ke yang umum. Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu
menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai
sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif
merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
Contoh pendekatan induktif adalah sebagai berikut :
Seorang guru memberikan materi mengenai bangun datar persegi panjang. Diawal
pembelajaran guru menyuruh siswa untuk membuat persegi panjang dengan menggunakan
alat peraga berupa kertas. Siswa dituntut untuk membentuk kertas tersebut menjadi sebuah
bangun persegi panjang. Siswa diperintah untuk berdiskusi tentang sifat sifat bangun
persegi panjang. Kemudian pada akhir pembelajaran siswa dan guru sama sama saling
menyimpulkan mengenai sifat sifat bangun persegi panjang.
c. Pendekatan Ekspositori dan Pendekatan Heuristik
Menurut pendekatan ekspositori bahwa guru mengontrol atau menentukan suatu
penyebaran suatu ilmu pengetahuan didalam kelas peserta didik dipandang sebagai objek
yang menerima apa yang diberikan oleh guru. Dalam pendekatan ini menunjukan bahwa
guru berperan lebih aktif, lebih banyak melakukan aktivitas dibandingkan peserta didik.
Pendekatan heuristik adalah pendekatan pengajaran yang menyajikan sejumlah data
dan peserta didik diminta untuk membuat kesimpulan menggunakan data tersebut,
implementasinya dalam pengajaran menggunakan metode penemuan dan inkuiri.
d. Pendekatan Kecerdasan

Pendekatan kecerdasan merupakan suatu pendekatan dimana seorang guru harus


mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik agar dapat membantu peserta didik jika
mengalami kesulitan dalam belajar.
e. Pendekatan Konstektual
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti
apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya
nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan
suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk
menggapinya.
Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan
dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme,
bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang
penting, yaitu:
a.

Mengaitkan. adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti


konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru
dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang

sudah diketahui siswa dengan informasi baru.


b.
Mengalami. merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan
berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui

sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi
peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
c.
Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan
kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam
latihan yang realistic dan relevan.
d.
Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu
kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering
dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman
kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten
dengan dunia nyata.
e.
Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar
dengan focus pada pemahaman bukan hapalan

f. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)


Cara Belajar Siswa Aktif adalah cara mengajar dengan melibatkan aktivitas siswa
secara maksimal dalam proses belajar baik kegiatan mental intelektual, kegiatan emosional,
maupun kegiatan fisik secara terpadu. Dalam dunia pendidikan dan pengajaran CBSA bukanlah
hal yang baru. Bahkan dalam teori pengajaran, CBSA merupakan konsekuensi logis dari
pengajaran yang seharusnya. Artinya merupakan tuntunan logis dari hakikat belajar dan hakikat
mengajar seperti telah dijelaskan dalam uraian di muka. Hampir tidak pernah terjadi proses
belajar tanpa adanya keaktifan individu / siswa yang belajar. Sebagai konsep CBSA adalah suatu
proses kegiatan belajar-mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional,
sehingga subjek didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan
belajar.
Ada beberapa ciri yang harus tampak dalam proses belajar tersebut, yakni:
o Situasi kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi terkendali.
o Guru tidak mendominasi pembicaraan, tapi lebih banyak memberikan rangsangan berpikir
kepada siswa untuk memecahkan masalah.
o Guru menyediakan dan mengusahakan sumber belajar bagi siswa, bisa sumber tertulis,
sumber manusia, misalnya murid itu sendiri menjelaskan permasalahan kepada murid
lainnya.

o Kegiatan belajar siswa bervariasi, ada kegiatan yang sifatnya bersama-sama dilakukan oleh
semua siswa, ada kegiatan belajar yang dilakukan secara kelompok dalam bentuk diskusi
dan ada pula kegiatan belajar yang dilakukan secara mandiri/masing-masing.
o Hubungan guru dengan siswa sifatnya harus mencerminkan hubungkan manusia bagaikan
hubungan bapak anak,bukan hubungan pimpina dengan bawahan.
o Situasi dan kondisi kelas tidak kaku terikat dengan susunan yang mati, tapi sewaktu-waktu
diubah sesuai kebutuhan siswa.
o Belajar tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai siswa tapi juga dilihat
dan diukur dari segi proses belajar yang dilakukan siswa.
o Adanya kebenarian siswa mengajukan pendapatnya melalui pertanyaan atau pernyataan
gagasannya.
o Guru senantiasa menghargai pendapat siswa terlepas dari benar atau salah, dan tidak
diperkenankan membunuh atau mengurangi/menekan pendapat siswa di depan siswa
lainnya.
Menurut Conny Semiawan, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam usaha menciptakan
kondisi belajar supaya siswa dapat mengoptimalkan aktivitasnya dalam proses belajar mengajar,
antara lain:
Prinsip motivasi, dimana guru berperan sebagai motivator yang merangsang dan
membangkitkan motif-motif yang positif dari siswa dalam proses belajar mengajar
Prinsip latar atau konteks, yaitu prinsip keterhubungan bahan baru deng an apa yang telah
diperoleh siswa sebelumnya. Dengan perolehan yang ada inilah siswa dapat memproses
bahan baru
Prinsip Keterarahan, yaitu adanya pola pengajaran yang menghubung -hubungkan seluruh
aspek pengajaran
Prinsip belajar sambil bekerja, yaitu mengintegrasikan pengalaman dengan kegiatan fisik
dan pengalaman dengan kegiatan intelektual
Prinsip perbedaan perorangan, yaitu kenyataan bahwa ada perbedaan -perbedaan tertentu
di antara setiapa siswa, shingga mereka tidak diperlakukan secara klasikal.
Prinsip menemukan, yaitu membiarkan sendiri siswa menemukan informasi yang
dibutuhkan dengan pengarahan seperlunya dari guru
Prinsip pemecahan masalah, yaitu mengarahkan siswa untuk peka pada masalah dan
mempunyai keterampilan untuk mempu menyelesaikannya

Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk-bentuk :

Pemanfaatan waktu luang,

Pembelajaran individual,

Belajar kelompok,

Bertanya jawab,

Belajar mandiri,

Pendayagunaan lingkungan masyarakat, pengajaran unit,

Pameran/ display hasil karya siswa, dan

Mempelajari buku sumber (teks).

SIMPULAN

1. Pembelajaran adalah proses kegiatan yang dilakukan guru agar siswa belajar untuk
mencapai tujuan pembelajaran
2. Tiap pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai karakteristik tertentu, dan berbeda
antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan fungsi dan tujuan tiap pendekatan.
3. Proses pembelajaran sangat tergantung kepada tenaga pengajar yang profesional, fasilitas
yang memadai dan juga keterlibatan lingkungan dan masyarakat dalam proses

pelaksanaannya. Jika semua prinsip dan syarat proses pembelajaran sudah dipenuhi,
maka ini juga dapat memenuhi permintaan masyarakat akan dunia pendidikan. Ini bisa
terjadi jika adanya hubungan antara sekolah, lingkungan, masyarakat dan pemerintah
dalam kemajuan pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

http://maistrofisika.blogspot.com

Doantara Yasa (dalam web http://ipotes.wordpress.com )

http://www.scribd.com